Disclamer
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Canon

REVOLUSI: SEMUA TAK SAMA

©LONGLIVE AUTHOR

Semua tak sama, tak pernah sama..

Chapter 3

Keeseokan harinya Sarada terbangun masih dalam keadaan memeluk Kakashi. Ia melihat pria tua disebelahnya masih memejamkan mata. Seketika muncul perasaan bersalah. Karena dialah Kakashi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia memang selalu merepotkan. Saradapun bangkit dan berinisiatif membuatkan sarapan untuk Kakashi sebagai permintaan maafnya.

Setelah membuatkan semangkuk sup dan teh hangat ia berniat untuk kembali ke rumahnya. Tapi sebelum itu ia kembali duduk di samping Kakashi yang masih terlelap. Ia memandangnya dengan tatapan penuh rasa terima kasih. Sudah ia duga kalau hanya Kakashilah yang bisa menenangkannya. Dia datang pada orang yang tepat. Tangan Sarada terulur dan memeluk Kakashi pelan.

"Terima kasih, Kakek." bisiknya pelan. Setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan apartemen. Tanpa sepengetahuannya kalau sebenarnya Kakashi sudah bangun. Dia tersenyum di balik maskernya.

Mentari sudah bersinar terang saat Sarada sampai dirumahnya.

"Sarada? Ya ampun, darimana kau semalam? Kenapa tidak pulang? Naruto bilang seharusnya kau sudah pulang sejak kemarin." Cerca ibunya begitu ia datang. Ia menatap ibunya dengan tatapan bersalah.

"Maaf Ibu, semalam aku menginap di rumah Kakek." Jawab Sarada jujur.

"Kakashi?" Sarada mengangguk. "Kenapa?" tanya Sakura lagi.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang ingin menginnap disana." Jawab Sarada. Gadis itu beranjak pergi.

"Aku mandi dulu."

Terlihat Sasuke sedang memandanginya dari salah satu sudut ruangan. Sarada tahu kalau Ayahnya tahu ada yang salah dengannya. Ayahnya selalu bisa membaca dirinya dengan mudah seperti buku yang terbuka.

Tak butuh waktu lama untuk ia memebersihkan diri. Ia hanya menyambar beberapa roti untuk mengganjal perutnya. Ia harus segera pergi ke kantor Hokage lagi karena hari ini ada rapat penting dengan para Jounin lainnya. Ia memperhatikan kalau ternyata Ayahnya sudah tidak ada dirumah.

Ia bertemu dengan Bolt dijalan. Mereka tidak terlalu banyak berbicara selama perjalanan. Sudah ada banyak orang saat mereka sampai di kantor Hokage. Para Jounin angkatan mereka, dan juga beberapa Jounin senior. Sarada mulai mengeluarkan keringat dingin saat mengetahui kalau Ayahnya juga berada disana. Tak hanya itu, Kakashi, Konohamaru-sensei, Murai Sarutobi-sensei juga ada disana. Bolt duduk di sebelahnya.

"Baiklah, karena semuanya sudah datang kita akan mulai rapatnya sekarang. Sekarang kita akan membahas mengenai penyelenggaraan Ujian Chunin yang akan di adakan dalam waktu dekat." Naruto menatap semua orang serius.

"Tapi sebelum itu, beberapa waktu yang lalu aku menawarkan beberapa orang untuk mengikuti ujian sebagai anggota Anbu yang baru. Aku harap bisa menerima jawabannya sekarang. Siapa yang bersedia untuk mengikuti ujian untuk menjadi anggota Anbu?" tanya Naruto.

Ternyata tidak hanya Sarada yang ditawari untuk menjadi anggota Anbu yang baru. Tapi beberapa orang yang berada diruangan itu juga ditawari untuk menjadi anggota Anbu. Beberapa orang disana mengangkat tangan dengan maskud menerima tawaran tersebut. Shikadai sudah jelas menolak jadi dia tidak mengangkat tangannya. Gadis berkacamata itu tahu kalau kali ini pandangan Naruto tertuju kearahnya, karena dialah satu-satunya yang belum memberikan jawaban. Selain itu Kakashi dan Sasuke juga turut menatapnya. Menunggu jawaban dari Sarada. Lalu tak lama kemudian semua orang didalam ruangan turut memandangi Sarada.

Setelah beberapa lama, Sarada membalas pandangan Naruto. Sudah memantapkan diri dengan jawabannya.

"Maaf Tuan Hokage. Tapi aku menolak," jawab Sarada singkat. Sementara semua orang di dalam ruagan itu tidak berekasi apapun. Naruto menghela napas, dia mengerti. "...dan aku, merekomendasikan diriku sendiri untuk menjadi ketua penyelenggara Ujian Chunin kali ini."

Penuturan terakhir Sarada sukses membuat semua yang ada di dalam ruangan itu tercengang. Sarada sama sekali tidak berkedip atau mengeluarkan ekspresi lainnya. Dia hanya menatap lurus Hokage menunggu respon.

"...dan apa alasan agar aku menjadikanmu ketua penyelenggara Ujian chunin kali ini?" tanya Naruto. Sang Hokage melihat sebuah tekad kuat dari mata Sarada. Begitu juga dengan orang lain disana ikut merasakan aura yang kuat dari sang Uchiha tersebut.

"Karena aku sudah mempunyai konsep yang matang untuk Ujian Chunin kali ini. Akan kubawa besok." Jawab Sarada.

Rapat yang singkat tadi siang lumayan menegangkan. Sarada pulang sendirian setelah selesai rapat. Dia tidak pulang kerumah. Tidak berbicara pada siapun. Meski sejak tadi Bolt mencarinya, dia tetap tidak menemukannya. Ternyata Sarada sedang berada dipemakaman desa Konoha. Berdiri di depan sebuah pusara bertuliskan Uchiha Itachi. Seikat bunga lily segar tersimpan rapi diatas nisan itu.

"Halo Paman, lama tidak berjumpa denganmu." Gumam Sarada. Gadis itu tersenyum getir.

"Aku juga mencintai perdamaian Paman, jika paman membunuh semua klan uchiha untuk mencegah peperangan terjadi, aku hanya ingin melakukan hal kecil ini untuk menjaga perdamaian. Aku mempunyai caraku sendiri." Ia menunduk.

"Apa Paman akan mendukungku? Aku tahu kalau mungkin perbuatanku ini akan berpengaruh sangat besar. Bukan tidak mungkin semua orang akan membenciku? Tapi tolong, yakinkan aku kalau yang aku lakukan ini benar."

Ia mendongak, ia merasa kalau Itachi sekarang sedang berdiri dihadapannya dan sedang tersenyum padanya.

Sarada pulang dengan langkah gontai. Sasuke sudah menunggunya dirumah. Begitu ia datang Sasuke langsung meminta penjelasan dari Sarada.

"Sarada, kemarilah. Ayah ingin berbicara dengan mu." Panggil Sasuke. Sarada berjalan ke arah Sasuke dan tanpa menunggu pertanyaan dari Ayahnya, Sarada sudah angkat bicara.

"Ayah, aku tahu apa yang Ayah pikirkan. Maaf karena aku menolak untuk menjadi anggota Anbu, dan percayalah aku tidak akan berbuat macam-macam." Sasuke menatap putrinya lekat-lekat.

"Kenapa kau mengajukan diri untuk menjadi ketua penyelenggara ujian Chunin?" tanya Sasuke.

"Aku sudah bilang, karena aku sudah mempunyai konsep untuk ujian chunin kali ini. A—aku tidak bisa menjelaskanynya padamu sekarang. Percayalah padaku kali ini. Aku mohon Ayah percayalah! Aku tidak akan pernah berbohong lagi pada Ayah. Aku berjanji jika Hokage menolak konsep usulanku, aku akan mundur." Jawab Sarada penuh keyakinan.

Tidak ada alasan lagi untuk Sasuke membantah. Putrinya sudah besar. Dia akan menghentikannya jika memang harus dihentikan, tapi untuk sekarang dia akan menunggu sampai tahu apa yang direncanakan oleh Sarada.

"Semoga aku tidak salah dalam mengambil keputusan." Gumam Sasuke.

Keeseokan mereka semua berkumpul lagi di ruang Hokage untuk mendengarkan Konsep Ujian Chunin dari Sarada. Sarada membagikan kertas berisi konsep untuk Ujian Chunin. Sedangkan Sarada sendiri berdiri dihadapan meja Hokage menunggu komentar dari Naruto.

Setelah beberapa lama, bisi-bisik mulai terdengar dan itu terdengar seperti bisik-bisik sinis penolakan. Naruto sendiri sedikit mengerutkan alisnya saat membaca konsepnya. Ia melirik Ayahnya dan Kakashi. Tidak ada perbedaan ekspresi antara mereka dan Hokage juga semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

Sarada tahu konsekuensinya. Ia sudah siap. Ia sudah siap dengan cercaan, cemoohan, dan juga penolakan. Setidaknya dia sudah berusaha. Dia sudah berjanji jika Hokage tidak menyetujui konsepnya dia akan mundur. Namun saat ini dia hanya menatap lurus kedepan dengan tekad yang kuat. Ia tidak peduli saat tatapan heran dan sinis mulai tertuju padanya. Ia sudah siap.

"Ada apa ini?"

"Apa maksudnya, ujian chunin tanpa pembunuhan ?"

"Ujian bela negara?"

Naruto mendongak meminta sebuah pejelasan.

"Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Aku sudah memikirkan metode baru untuk ujian chunin ini. Aku yakin dengan ini Ujian chunin akan menjadi lebih efektif." Sarada menatap Naruto dengan penuh keyakinan.

"Ujian chunin seharusnya bisa menjadi ajang persahabatan. Namun nyatanya dari yang aku lihat bahwa peserta dari ujian chunin diperbolehkan untuk membunuh peserta yang lainnya," tangannya bergetar. Ia berusaha untuk mengacuhkan bisikan dan tatapan sinis dari orang-orang. Menyembunyikan semua emosi yang ia rasakan dibalik topeng dingin seorang Uchiha.

Kakashi menatap gadis itu. Ekspresi datarnya sama sekali tak terusik dengan semuan bisikan dan tatapan itu. Tidak ada gadis kesayangan Ayah disini. Tidak ada anak perempuan yang kemarin linglung dan mencoba mencari ketenangan dirumah kakek kesayangannya. Yang Kakashi lihat adalah seorang Kunoichi yang sedang mengusulkan sesuatu yang serius. Jika berurusan dengan negara, mereka telah memutuskan semua hubungan. Tidak peduli teman baik, tidak peduli Ayah dan anak, tidak peduli keponakan, mereka adalah ninja yang setara didalam forum.

"Tapi apa kau tahu, jika kau melakukan ini kau sudah mengubah sistem ujian chunin yang..."

"Aku tahu!" Sarada memotong ucapan Naruto. "Dengan begini aku sudah mengubah sistem yang ada, aku tahu itu! Tapi bukankah kita seharusnya mengusahakan sesuatu yang lebih baik..." Sarada masih menunjukan wajah dinginnya. Wajah dingin yang hanya dimiliki olehnya dan Ayahnya, Sasuke.

"Sarada!" Suara Sasuke bergaum di seluruh ruangan, tapi Sarada tidak memepedulikanya.

''...kita bisa membuat ujian chunin ini lebih baik. Ini hanya perubahan kecil.." sekarang nadanya terkesan lebih menantang.

"Sarada!"

"...Tuan Hokage bahkan kau tahu sendiri apa yang terjadi pada ujian chunin. Banyak shinobi yang mati bahkan sebelum mereka menjadi chunin..."

"Sarada hentikan!" Suara Sasuke semakin keras.

'...kau mengalaminya sendiri, dulu Orochimaru bisa masuk ke desa lewat ujian chunin, Ayahku menerima segel dari Orochimaru dari ujian chunin, Ibuku hampir mati diserang oleh ninja lain saat berumur dua belas tahun dalam ujian chunin. Yang perlu kita lakukan adalah membuat ujian ini menjadi lebih baik..."

"SARADA HENTIKAN!" Sarada berhenti. Ia tahu kalau Ayahnya sudah sangat marah sekarang. Napasnya terngah-engah setelah menjelaskan visinya secara panjang lebar.

"Tolong pertimbangkan," suara Sarada melemah. "Aku akan menerima segala keputusanmu, Tuan Hokage."

Setelah mengatakan itu Sarada pergi meninggalkan ruangan Hokage diikuti oleh Sasuke yang mengejarnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN SARADA?" Bentak Sasuke begitu mereka sampai dirumah. Sarada hanya diam menerima bentakan dari Ayahnya. Semua topengnya ia hilangkan di depan Ayahnya. Sekarang hanya ada seorang anak yang seang dimarahi oleh Ayahnya.

"Sasuke-kun ada apa?" Sakura yang tidak tahu apa-apa langsung panik ketika Sasuke mulai membentak Sarada.

"Apa yang kau pikirkan sampai berani membuat konsep seperti itu? Apa yang sedang kau rencanakan? Sistem ujian chunin sudah dibuat sejak lama." Ujar Sasuke, ia berjalan mondar-mandir seolah putrinya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Sarada sudah mencoba untuk merombak total sistem dan peraturan ujian chunin yang dibuat oleh tetua Konoha sejak dulu.

Sarada sendiri terdiam menunduk membiarkan Ayahnya menumpahkan semua kemarahannya. Ia sadar kalau ia sudah mempermalukan Ayahnya. Anak dari seorang ketua Anbu berani-beraninya mengubah peraturan ujian chunin. Itu adalah hal yang sangat serius. Ia juga sudah berani-beraninya mengungkit masa lalu Ayahnya.

"Ayah keputusan belum diberikan. Sudah kubilang aku akan patuh pada perintah Hokage. Kalau dia menolak usulanku aku akan mundur. Aku punya alasan Ayah." Ia berdiri dan membalas tatapan Ayahnya tajam.

"Tapi kau tidak memberi tahu Ayah!" balas Sasuke.

"Sasuke-kun ada apa ini? Sarada ada apa, Nak?" Sakura hampir menangis.

"Aku sudah memberi tahu kalian semua tadi, aku hanya ingin membuat ujian ini lebih baik. Hanya kalian saja yang belum mengerti, terlalu terpaku pada tradisi," Ia menghela napas. " Aku sudah berjanji pada Ayah kalau aku tidak akan bohong, aku tidak punya niat buruk untuk ujian ini. Aku tidak peduli para tetua Konoha akan beranggapan apa, yang pasti aku akan memperjuangkan apa yang menurutku benar! Sekarang terserah Ayah mau percaya atau tidak. Yang aku butuhkan adalah kepercayaan Ayah, hanya itu."

Setelah mengatakan itu Sarada langsung pergi keluar dari rumah. Dia butuh waktu sendirian. Tapi dia tidak tahu kalau sebenarnya Naruto berada disana mendengarkan pertengkaran mereka.

Sarada tidak tahu ia harus pergi kemana sekarang, satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah pergi ke tempat sepi dan merenung untuk kesekian kalinya tantang apa yang baru saja ia lakukan. Ia takut kalau-kalau keputusan yang ia ambil adalah sebuah kesalahan besar. Maka iapun kembali ke pemakaman desa Konoha. Mungkin berdiam diri di tempat orang yang mati adalah sesuatu yang paling tepat baginya saat ini. Maka disananalah dia. Terduduk di pusara pamannya untuk kesekian kalinya.

Dia mengusap nisan itu pelan, membersihkan beberapa rumput dan juga debu yang berada dia atas batu nisa.

"Paman, jika kau sekarang masih ada kau pasti tahu apa yang aku pikirkan."

A/N : Fic ini gimana ya jelasinnya? Ceritanya ujian chuninnya masih kayak ujian chunnin yg pertama itu loh...Yang pasti terima kasih telah membaca :) salam Author