Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe

X-MEN : THE OMEGA

©LONGLIVE AUTHOR

Berlian itu ditemukan tapi bukan dibuat, berlian tidak bisa dihancurkan jadi semestinya Intan di musnahkan.

Mutan kelas Omega telah di temukan!

Chapter 2

Sakura tidak bisa tidur malam itu. Tempat ini begitu asing baginya. Meskipun semuanya tampak baik , ia tetap tidak bisa mempercayai mereka sepenuhnya. Selama lima tahun ini ia sudah bertemu dengan banyak orang dan tidak ada satupun yang bisa ia percaya.

Sakura diam di ruang tengah sambil menatap layar TV. Ia tidak tahu betul seberapa besar kekuatannya namun yang pasti ia tahu kalau kekuatannya sangat besar karena banyak orang yang mencoba menculiknya lima tahun belakangan ini. Ia sendiri bahkan tidak tahu sudah berapa orang yang celaka karena dirinya.

"Tidak bisa tidur, eh?" terdengar sebuah suara dingin dari belakangnya. Sakura tidak menjawabnya.

"Apa kau tuli juga?" Tanya suara itu lagi. Tak lama si empunya menampakan diri. Dia pemuda yang bernama Sasuke. Dia membawa dua kaleng soda dan dia duduk disalah satu sofa. Dia melemparkan satu kaleng soda pada Sakura, namun kaleng soda itu berhenti beberapa senti sebelum mengenai wajah Sakura dan terjatuh.

Sakura tidak mengalihkan padangannya dari TV sama sekali dan dia juga tidak berbicara sama sekali.

"Tidak mau bicara, eh? lebih baik kau jangan sombong." Sasuke masih memancing Sakura agar berbicara. Sebenarnya tanpa Sakura berbicara atau menolehpun Sakura sudah tahu tujuan Sasuke hanya ingin menggodanya untuk bicara dan memancingnya agar marah.

Sakura mengedipkan matanya dan seketika chanel TV nya berpindah. Sakura masih tidak menghiraukan Sasuke. Pemuda itu mulai kesal dibuatnya. Dari awal melihat Sakura , Sasuke sudah merasa jengkel dan tidak menyukai Sakura. Ia tidak menyukainya karena Sakura sangat sombong. Entah kenapa Sasuke sejak pertama kali melihatnya langsung tidak suka padanya. Cara dia memandang, cara dia berbicara, bahkan cara dia diam pun Sasuke tidak suka. Sasuke sudah bertahun-tahu berada disini. Bertemu dengan banyak orang dan juga banyak mutan membuatnya bisa membaca ekspresi seseorang dengan mudah. Begitu juga dengan saat ini. Ia bisa dengan mudah membaca ekspresi Sakura, bahkan sebelum ia bertemu dengan Sakura. Ketika ia melihat Sakura dari layar monitor ia langsung bisa membaca ekspresinya.

Tatapannya yang dingin dan waspada seakan-akan sedang berhadapan dengan penjahat, cara bicara Sakura yang begitu angkuh, dan caranya diam seakan tidak ada orang lain disekelilingnya.

Sasuke semakin jengkel dan dia terus berbicara dalam benaknya sendiri, mungkin ia tidak sadar kalau Sakura bisa mendengarnya atau mungkin juga Sasuke sengaja. Sakura menyeringai di ujung bibirnya.

"Apa kau tidak suka dengan kehadiranku?" akhirnya Sakura angkat bicara. Air muka Sasuke berubah. Ia marah dan terkejut sekarang. Sakura menoleh padanya, menatapnya tanpa ekspresi menunggu jawaban dari Sasuke.

Tanpa sadar terbentuk sebuah listrik kecil terbentuk di tangan Sasuke. Tapi sebelum Sasuke bisa melakukan apapun sebuah kaleng soda melayang hampir menghantam wajahnya sebelum kaleng itu berhenti beberapa senti dari hidungnya. Sebuah suara pelan bahkan mungkin sebuah bisikan berdengung di kepalanya.

'Jika kau tidak suka dengan kehadiranku kau tidak perlu menganggapku, hanya itu yang perlu kau lakukan.'

Sasuke sadar betul kalau Sakura tidak menggerakkan bibirnya sedikitpun. Tapi dia yakin kalau barusan adalah suara Sakura. Sebuah seringaian terbentuk di bibir Sakura dan ia mendengus pelan sebelum ia melenggang meninggalkan Sasuke sendirian.

Kaleng soda itupun terjatuh membuat bunyi berdentang di malam yang sunyi.

Keesokan harinya mereka semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Para anggota X-men hari ini akan melakukan latihan di ruangan simulasi. Hanya ada beberapa orang disana, ternyata beberapa orang lainnya lebih suka menghabiskan paginya di tempat lain. Di ruang makan hanya ada Ino, Shikamaru, Chouji, Sai, Sasuke dan Naruto –tentunya yang tidak pernah absen kalau urusan makan. Selain itu disana juga ada Guy Sensei dan murid kesayangannya Rock Lee yang sedang menikmati sarapannya.

"Yosh, selamat pagi!" Sapa Kakashi datang memasuki ruangan sambil mengapit surat kabar.

"Ah Kakashi Sensei, selalu dengan nada yang sama." Naruto merajuk malas mendengar sapaan membosankan gurunya itu.

Mata Kakashi berpendar keseluruh ruangan seolah mencari seseorang.

"Dimana Haruno Sakura?" tanyanya. Semuanya terlihat menegang mendengar pertanyaan itu, bahkan Chouji hampir tersedak.

"Entahlah aku tidak melihatnya, kamarnya saja aku tidak tahu." Tukas Ino.

"Hmmm...Mungkin dia masih dikamarnya. Aku akan mengambilkan makanan untuknya." Kakashi meletakkan surat kabarnya dan mengambil sepotong sandwich. Semua orang yang berada di ruangan itu melongo menatap punggung Kakashi yang sedang berjalan berjalan keluar. Bahkan dia tidak menyentuh satu makananpun. Pikiran manusia itu memang tidak bisa ditebak.

Kakashi berjalan menyusuri lorong mencari-cari sebuah kamar. Sedikit sulit berjalan pagi-pagi begini karena banyak murid-murid berlarian di koridor. Ia pun berhenti di depan sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari sebuah jendela. Baru saja ia mau mengetuk pintunya seorang anak kecil dengan kacamata muncul menembus dari dinding.

"Kau mau bertemu dengannya?" tanya anak kecil itu menenteng tasnya yang penuh dengan buku.

"Ya, Udon," balas Kakashi.

"Kau tidak akan menemukannya disini, baru saja dia keluar," kata anak itu.

"Hmm..apa kau tahu kemana dia?" tanya Kakashi.

"Dia ada di balkon," jawab anak itu seraya menembus dinding dan hilang dari pandangan.

Kakashi berjalan ke sebuah balkon yang dipenuhi oleh beberapa tanaman belukar. Balkon itu langsung mengarah ke taman indah yang ada di depan sekolah itu. Sakura sedang berdiri disana memunggungi Kakashi, gadis itu memakai stelan Longpants dress berwarna biru pastel.

"Pagi yang cerah, aku selalu suka pemandangan dari atas sini," Sapa Kakashi, dia berdiri di samping Sakura. Namun gadis itu hanya menatap lurus kedepan tanpa memperhatikannya.

"Aku membawakan Sandwich untukmu. Kurasa kau harus memakannya, dan aku tidak terima penolakan," paksa Kakashi menyodorkan sandwichnya. Sakura menoleh kepadanya dan menatap sandwich yang disodorkan padanya.

"Terima kasih." Sakura menerima Sandwich itu tapi sama sekali tak memakannya.

"Bagaimana malam mu? Apa tidurmmu nyenyak?" tanya Kakashi.

"Tak pernah lebih baik," jawab Sakura singkat.

"Syukurlah jika kau merasa nyaman."

Kakashi bisa melihat dari ujung matanya kalau Sakura sangat menikmati udara pagi seakan-akan dia tidak pernah merasakannya. Dia jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali bertemu dengannya bersama Profesor Sarutobi beberapa waktu lalu.

"Kau jauh lebih tenang sekarang." Ujar Kakashi.

"Ya, kurasa begitu."

Sebenarnya Kakashi sedikit bingung karena respon singkat yang selalu di berikan Sakura.

"Peniru, eh?" Sakura bertanya.

'Ah, telekinesis.' Pikirnya. Kakashi langsung mengerti kemana arah pembicaran ini.

"Ya, aku seorang peniru."

"Bisakah kau meniruku?" tanya gadis itu tiba-tiba. Kakashi sedikit terkejut.

"Tidak," jawabnya mantap. "Tak ada sesuatu yang bisa kutiru darimu. Tak ada yang bisa kulihat untuk menirumu. Kau spesial Sakura."

"Tolong jangan menyebutku seperti itu, aku sama saja seperti yang lain. Aku tidak merasa istimewa." Mata hijaunya menerawang. Mereka terdiam agak lama dan Sakura masih mendiamkan makanannya. Kakashi menatap Sakura yang masih menikmati mentari paginya.

"Sepertinya kau sangat menikmati suasana seperti ini." Ujar Kakashi ikut merasakan atmosfer pagi yang tenang.

"Ya, jarang sekali aku menikmati pagi seindah ini. Kalaupun itu pernah mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu," ujarnya sambil sesekali menghirup napas panjang. " Apa kau tau rasanya hidup sebagai pelarian selama ini? Bersembunyi dari satu rumah ke rumah lain, satu kota ke kota lain? Sangat tidak mungkin untuk mendapatkan suasana sedamai ini dalam keadaan seperti itu."

"Aku tidak tahu bagaimana rasanya, tapi mungkin aku bisa membayangkan hidup seperti itu. Pasti itu sangat berat untukmu." Balas Kakashi.

"Ya, sangat berat." Sakura mengangguk mengiyakan.

"Hari ini, Profesor Sarutobi ingin bertemu denganmu." Kata Kakashi. Sakura menoleh memandang Kakashi, namun Kakashi hanya memandang ke arah taman. Sakura mengikuti pandangannya dan mendapati Profesor Sarutobi sedang menunggu di bawah. Terlihat jelas kalau Profesor Sarutobi sedang tersenyum kearah mereka.

Profesor Sarutobi bisa melihat Sakura berjalan mendekatinya. Sinar mentari pagi membuat rambutnya yang agak kusut itu berkilauan. Ia berjalan melewati para siswa yang sedang berlalu-lalang di taman sekolah.

"Selamat pagi Sakura, aku yakin kalau malam mu menyenangkan." Profesor Sarutobi memulai percakapan.

"Tidak kupungkiri itu." Balas Sakura.

"Kau masih belum memakan Sandwich mu Nona, kurasa Kakashi tidak akan suka kalau kau tidak menghargainya pemberiannya." Mereka berdua mulai berjalan mengitari taman. Sakura menurutinya dia mulai memakan sarapannya dan jujur ia merasa kalau makanan ini benar-benar sangat lezat.

"Aku tidak akan basa-basi Sakura, kau sudah tahu dengan kekuatanmu. Kau pasti bertanya-tanya mengapa kau dibawa kemari, benarkan?" Sakura terdiam mengiyakan. Mereka berjalan ringan di taman, sinar mentari menyinari kerutan-kerutan diwajahnya. Kursi rodanya berkilau tertimpa cahaya.

"Alasan sederhana. Kekuatanmu itu langka Sakura, banyak orang lain yang ingin memanfaatkanmu. Kami disini untuk membantumu agar kau terlindungi. Kami sudah mencarimu sejak lama, kami beruntung karena kami menemukan mu sebelum orang-orang itu. Mereka menginginkanmu untuk melakakukan hal-hal yang buruk. Terlebih lagi kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu secara alami." Sakura bisa mendengar desisan di kalimat terkhir meskipun wajah pria tua itu tampak tenang.

"Aku tahu itu, mereka mengincarku sejak lama. Bahkan aku tidak tahu siapa mereka. Sebagian yang mangincarku adalah mutan dan sebagian lagi masih ada hubungannya dengan pemerintah..." Sakura menarik napas. Sekilas ia mengalihkannya pada bunga-bunga cantik yang tumbuh ditaman itu.

"..aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang mereka rencanakan dan apa yang kalian rencanakan. Hidupku sudah terlalu sulit untuk dijalani. Aku tidak peduli dengan perdebatan antara mutan dan para manusia itu dan apapun yang kalian lakukan untuk menyelamatkan mutan atau mencegah peperangan. Aku tidak ingin terlibat."

" Sudah saatnya kau tahu siapa yang sedang mengejarmu itu. Mereka adalah para Brotherhood yang dipimpin oleh seorang mutan bernama Orochimaru. Mereka berusaha mendapatkanmu agar kau bisa bergabung dengan mereka." Jelas Profesor Sarutobi.

"Kenapa?" Sakura bertanya singkat. Ia mulai tertarik dengan perbincangan ini.

"Tujuan mereka adalah menentang pemerintah mengenai kebijakan mutan. Mereka tidak puas dengan kebijakan yang mereka dapatkan."

"Bisakah kau tidak berbelit-belit?" Sakura mulai bosan dengan penuturan panjang dari Profesor Sarutobi.

"Singkatnya mereka ingin menguasai dunia dengan keberadaan para mutan. Mereka ingin memusnahkan umat manusia dan membuat manusia menjadi budak. Maka dari itu mereka menginginkan mu. Sakura, kau mempunyai kemampuan yang istimewa yang bisa menguntungkan mereka." Profesor Sarutobi menatap Sakura serius. Hening kemudian.

"...dan apa alasanku untuk percaya kalau kalian juga tidak mengambil keuntungan dariku jika aku berada di pihak kalian?" Mata hijau itu memicing seiring dengan tatapan dari mata gelap Profesor Sarutobi.

"Tajam dan sangat kritis. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Kurasa kau sudah tahu jawabannya Profesor. Karena dari semua orang yang kutemui disini hanya kau yang tak bisa ku baca. Aku masih belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempercayaimu." Mata Sakura menerawang mencari sesuatu yang ada di kepala seorang Profesor Sarutobi.

"Terkadang ada beberapa hal yang lebih baik tidak kita ketahui Sakura." Sakura tahu kalau itu adalah penolakan secara halus. Profesor Sarutobi benar-benar menyembunyikan pikirannya dari Sakura dengan sangat baik. Bagaimanapun ia berusaha, ia tidak bisa menemukan jawabannya. Gadis itu juga sadar betul siapa yang dihadapinya mereka berdua sama-sama mempunyai kemampuan Telekinesis itulah kenapa Sakura tidak bisa berharap banyak dari Profesor Senju. Malah seharusnya ia lebih berhati-hati, meskipun ucapannya sangat ramah dan meyakinkan.

"Permata itu di temukan dan tidak bisa dibuat. Tapi nilainya akan lebih tinggi jika permata itu diasah sehingga memiliki bentuk yang indah."

Sakura tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Profesor Sarutobi. Ia hanya bisa menatapnya.

"Bersiapalah Sakura. Aku akan mengajarimu secara khusus dan aku tahu kalau kau tidak akan menolak." Profesor Sarutobi meninggalkan Sakura sendirian.

A/N : Thanks untuk reviews... Saya ingin mengingatkan kalau mungkin fic ini alurnya akan berbeda dengan cerita di X-Men. Di chapter-chapter awal akan lebih menjelaskan asal-usul ini dan itu. Jadi yang sabar ya. Keep Review, follow, and favourite it. :) Salam Author.