Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Sudah beberapa minggu sejak Kiba menceritakan kisahnya. Dan berita pembunuhan di surat kabar lokal sudah berkurang, hanya tinggal membahas pembunuhan-pembunuhan yang sudah cukup lama terjadi saja. Tidak ada pembunuhan baru.

Dan meskipun pembunuhnya belum tertangkap, keresahan masyarakat sudah nyaris sirna sepenuhnya. Tidak diberlakukan lagi jam malam. Pembunuhan sudah dianggap selesai. Dan meskipun masyarakat berterimakasih pada pihak kepolisian yang dianggap berhasil menakuti pembunuhnya dengan patroli keamanan yang mereka lakukan, Sasuke tahu, yang seharusnya mendapat ucapan terimakasih mereka adalah Naruto.

Terimakasih pada Naruto, karena rasionalnya sudah membuat Sasuke membunuh manusia. Ia sepenuhnya beralih ke hewan sekarang. Meskipun itu membuatnya harus berburu lebih sering daripada ketika ia masih memburu manusia, tak ada lagi yang mempermasalahkan kematian hewan-hewan seperti rusa dan babi hutan di hutan lokal. Sasuke tetap hidup, dengan beban moral yang sedikit berkurang. Sasuke bahkan berinisiatif menraktir Naruto ramen favoritnya selama tiga hari berturut-turut setelah itu. Yah, apapun asal membuat pemuda pirang itu senang.

Malam itu adalah malam bulan purnama. Sasuke baru saja menyelinap keluar dari apartemennya ke hutan tempat ia biasa berburu. Ia berlari cepat menembus kegelapan malam sambil menimbang-nimbang hewan apa bagusnya yang harus ia mangsa malam ini.

Saat itulah Sasuke melihat seekor serigala yang tengah melolong. Seringai menghiasi wajah Sasuke. Ia belum pernah menyantap serigala. Dan lagi, tidak biasanya pula seekor serigala terpisah dari kawanannya. Mungkin Sasuke sedang beruntung malam ini.

Ia menyelinap di balik pepohonan, tak terdeteksi, dan dengan satu serangan cepat ia menyerang serigala itu, menghisap darahnya sampai habis. Dalam hitungan menit, serigala itu sudah terkulai. Tak lagi bergerak.


Sejauh ini, dibanding rusa dan babi hutan, darah serigala adalah darah favoritnya. Sasuke masih bisa merasakan kesegaran darah serigala itu di lidahnya ketika ia berangkat sekolah pagi harinya. Hasil buruan yang memuaskan semalam membuat mood-nya hari ini luar biasa bagus. Mungkin ia bahkan akan membiarkan Naruto yang berisik itu makan siang dengannya hari ini. Yah, Sasuke harus tetap berpura-pura makan makanan manusia kan?

Sasuke sudah duduk tenang di kursinya ketika tiba-tiba Naruto menghambur masuk kelas dan menggebrak meja Kiba yang duduk di baris depan. Hal itu membuat anak-anak sekelas menatap Naruto penuh cela, semantara yang ditatap tidak menggubris hal itu. Sasuke sendiri hanya memandang Naruto dengan sebelah alis terangkat ketika menyadari ekspresi tengil yang biasanya menghiasi wajah Naruto lenyap, digantikan oleh ekspresi serius yang sama sekali tidak mencerminkan dirinya. Aneh.

"Kiba, beritahu aku detail tentang legenda vampir yang kau ceritakan tempo hari itu," tuntut Naruto.

Kiba yang semula memandang Naruto dengan tatapan penuh tanya nyengir lebar, "Ho, percaya kau sekarang?"

"Jangan banyak komentar," ujar Naruto ketus, membuat kernyitan Sasuke makin dalam. "Ceritakan saja."

Kiba langsung gelagapan begitu menyadari mood Naruto sedang tidak bagus untuk diajak bercanda. "Eh, oh, jangan galak begitu. Oke, aku cerita."

Sasuke tetap duduk diam di kursinya, tapi ia memasang telinga tajam-tajam. Sudah berminggu-minggu sejak Naruto mendengar legenda itu dari Kiba dan sebelum ini ia selalu mengolok-olok Kiba tentang itu. Takhayul, katanya. Tapi kenapa baru sekarang Naruto memutuskan untuk mengorek informasi lebih jauh tentang vampir itu? Tentang Sasuke?

Bel tanda masuk mengalihkan Sasuke sementara Naruto sendiri bergegas meninggalkan Kiba untuk duduk di kursinya di sebelah Sasuke. Sasuke mengamati Naruto dari sudut matanya, menimbang-nimbang untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi tapi kilat marah di mata Naruto membuat Sasuke mengurungkan niatnya. Di akhir hari, Sasuke bahkan sudah lupa apa yang terjadi pagi itu.


Malamnya, Sasuke kembali berburu. Kali ini yang menjadi objek buruannya sudah jelas: serigala. Sasuke menyeringai sepanjang perjalanan menuju hutan, membayangkan darah serigala membasahi mulut dan kerongkongannya.

Tidak lama bagi Sasuke menemukan serigala lain di hutan malam itu. Ada dua ekor serigala di bawah pohon hinoki. Sasuke menyelinap mendekat. Ia hanya butuh seekor serigala malam ini, jadi ia memicingkan mata untuk menentukan serigala mana yang akan jadi santapan malamnya. Sasuke sudah memutuskan untuk memangsa serigala yang di kanan ketika matanya menangkap sosok yang sangat familiar.

Sasuke membelalak. Naruto?

Naruto duduk di hadapan dua serigala itu, mengelus bulu mereka dan tampaknya sedang berbicara dengan mereka. Sasuke bergerak mendekat lagi dengan perlahan, untuk memastikan apa yang dia lihat. Tapi kesempurnaan penglihatannya memang tidak usah diragukan lagi. Itu benar Naruto, dan benar ia memang sedang bicara dengan dua serigala itu.

"Jangan khawatir," ucap Naruto. "Kalian bersembunyilah. Aku yang akan menemukan vampir brengsek itu dan membalaskan kematian Ren. Jangan khawatir."

Sasuke mengernyit. Ren?

"Kalian lari," terdengar suara Naruto lagi, "ada orang lain di dekat sini."

Sasuke kembali mengintip dari tempat pengintaiannya. Dua ekor serigala yang tadi dilihat Sasuke sudah pergi. Hanya tinggal Naruto seorang. Tapi Naruto juga sudah tidak terlihat seperti dirinya sendiri. Mata birunya berubah merah, dengan cakar tajam tumbuh dari jari-jarinya. Naruto mengerang dan saat itulah Sasuke bisa melihat taringnya.

"Keluar dari persembunyianmu, Brengsek. Aku bisa mencium baumu dengan jelas dari sini," geram Naruto.

Sasuke menghela napas. Ia tak ada pilihan lain. Ia keluar dari balik pohon hinoki dan menghadapi Naruto. "Naruto," panggilnya.

Mata merah Naruto membulat begitu melihat Sasuke. "Sasuke…?"

Sasuke tidak menjawab itu. Pikirannya campur aduk sekarang. Naruto ternyata adalah manusia serigala, makhluk mitos yang dipercaya menjaga serigala-serigala yang ada di seluruh negeri, dan Sasuke tampaknya sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Manusia serigala adalah musuh abadi vampir. Iblis sudah memperingatkan itu ketika Sasuke bertemu satu beberapa puluh tahun yang lalu. Tidak seperti vampir, mereka tidak abadi. Mereka bertumbuh seperti layaknya manusia biasa. Sasuke pikir mereka hanya hidup di hutan-hutan besar di Jepang yang dikeramatkan. Tapi kalau dilihat dari usianya, Naruto masih muda. Mungkin ia ditempatkan di sini karena usianya.

Karena tak ada reaksi dari Sasuke, Naruto kembali angkat bicara, "Jadi kau…?"

Sasuke menghela napas dan tersenyum sehingga Naruto bisa melihat dengan jelas taring putihnya.

Naruto menggeram marah. "Sialan kau!" serunya dan bergerak maju untuk menyerang Sasuke. Tapi seperti yang Sasuke perkirakan, Naruto kurang pengalaman. Ia masih terlalu muda. Sasuke bisa menghindar dari serangannya dengan mudah.

"Aku minta maaf, oke?" tanggap Sasuke akhirnya, sembari menghindari serangan cepat Naruto. "Lagipula kau kan yang memberiku ide itu? Darimana aku tahu kalau kau ternyata manusia serigala?"

Naruto mengabaikan penjelasan Sasuke, masih terus mencoba menyerang, tapi Sasuke terlalu cepat untuknya. "Harusnya kau cari hewan lain, Brengsek!"

Sasuke menangkap cakar Naruto dan memelintirnya, menguncinya dan membuat Naruto memunggunginya. "Aku minta maaf," ujar Sasuke.

"Maaf tidak cukup!" teriak Naruto. Sasuke bisa merasakan kemarahan menguar dari tubuh Naruto. "Kau harus membayar!" Naruto meronta dan ledakan kekuatannya yang besar membuat Sasuke terpaksa melepaskannya. Sekarang, Sasuke tidak ada pilihan lain selain menghadapi Naruto.

Naruto benar-benar berniat membunuhnya. Ia terus menyerang dan adrenalin tampaknya membuat gerakanna makin lama makin cepat. Sasuke makin kewalahan. Ia mencoba membalas serangan Naruto dengan serangan yang berdampak seminimal mungkin, tapi Naruto tak memberinya kesempatan. Naruto benar-benar serius meskipun semua serangannya tak mempan karena Sasuke kebal. Sasuke hanya ingin membuat Naruto mendengarkan penjelasannya dengan kepala dingin. Hanya itu. Tapi tampaknya itu pun sulit mengingat Naruto berdarah panas.

Pertarungan mereka meluluh-lantakkan area hutan yang ada di sekitar mereka. Naruto terus mencoba menancapkan cakarnya di leher Sasuke, dan Sasuke terus mengelak. Tendangan Naruto berhasil mengenai sisi tubuh Sasuke, membuatnya sedikit oleng, dan Naruto bisa melihat kesempatan. Ia kembali mengayunkan cakarnya, tapi Sasuke secara reflek meninju dada Naruto dengan kekuatan penuh, membuatnya terpelanting beberapa meter sampai akhirnya punggungnya membentur batang pohon raksasa dan ambruk ke tanah.

Sasuke membeku. Ia bergegas menghampiri Naruto dan melihat darah sudah mengalir dari ujung mulutnya.

"Naruto?" panggil Sasuke, rasa takut menyelimuti suaranya. Sial. Tidak seharusnya ia kelepasan dan membunuh Naruto! Sudah cukup ia membunuh dalam hidupnya!

"Naruto?" panggil Sasuke lagi. Ia meraih tubuh Naruto dan membaringkannya di pangkuannya. Sasuke bisa merasakan tinjunya telah mematahkan hampir seluruh rusuk Naruto, dan benturan pada pohon membuat lukanya makin fatal. Ia memeriksa nadi Naruto, tapi tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Sasuke putus asa. Ia memutar otaknya, berharap menemukan sesuatu agar Naruto bangun lagi, tapi ia tahu takkan ada yang berhasil. Naruto sudah mati. Mati di tangannya.

Saat itulah nama Sang Iblis terlintas di otaknya. Ia tahu Iblis keparat itu memang sudah memperalatnya, tapi ia tak ada pilihan lain. "Orochimaru," panggilnya.

Dalam sekejap, sesosok pria pucat berambut panjang dengan wajah seperti ular muncul di hadapannya. Pria itu tersenyum menatap Sasuke dengan mayat Naruto di pangkuannya. "Lama tak jumpa, Sasuke. Bisa kulihat kau baik-baik saja?"

Sasuke tidak menggubris basa-basi itu. "Hidupkan dia," tuntutnya.

Orochimaru terkekeh. "Kau yakin ingin melakukan perjanjian lain lagi denganku? Belum jera?"

"Aku tidak peduli, Orochimaru!" seru Sasuke frustasi. "Hidupkan dia!"

Orochimaru tertawa mendengar keputusasaan dalam suara Sasuke. "Aku bisa melihat kenapa kau sangat ingin menghidupkannya, meskipun kau belum menyadarinya. Well, karena aku gampang tersentuh dengan hal-hal semacam itu, aku akan memenuhi permintaanmu," ia menatap Sasuke dengan senyum licik, "tapi kau harus tanggung konsuekensinya, Uchiha."

"Sudah kubilang, aku tidak peduli."

Orochimaru menyeringai puas. "Kalau kau ingin dia hidup, kau hanya harus menggigitnya, Sasuke. Gigit tanpa menghisap darahnya. Biarkan racun vampirmu bekerja."

Mendengar itu, Sasuke mulai ragu. Ia menatap Naruto yang berbaring tak bergerak. "Kau aku menggigitnya…," ucap Sasuke perlahan, "ia akan berubah menjadi sepertiku?"

"Bagus kan?" komentar Orochimaru. "Kau tidak akan jadi satu-satunya vampir di seluruh dunia lagi?"

"Tapi bagaimana dengan kemampuan manusia serigalanya?"

Orochimaru mendengus geli. "Ia sudah mati, Sasuke. Manusia serigalanya mati bersamanya. Yang kau hidupkan nanti adalah Naruto yang baru. Vampir pertama yang lahir karena digigit oleh vampir asli. Vampir pertama yang lahir karena dibangkitkan dari kematiannya. Tapi seperti yang kubilang tadi. Ada konsekuensinya."

Sasuke kembali memandang Naruto. "Apa konsekuensinya?"

Orochimaru tertawa, begitu keji. "Ia hanya akan bisa meminum darahmu. Karena tidak sepertimu yang masih hidup ketika kuberi anugerah vampir, Naruto sudah sepenuhnya mati. Ia sudah tidak memiliki darah lagi di pembuluhnya."

Konsekuensinya tidak terdengar terlalu buruk, pikir Sasuke. Ia yang sudah membunuh Naruto. Merelakan sedikit darahnya untuk dihisap Naruto secara rutin bukan masalah besar. Ia harus bertanggung jawab.

"Tapi," Orochimaru melanjutkan, membuat Sasuke mendongak dan menyadari senyum keji iblis itu justru makin merekah. Sasuke rasa ia tidak akan menyukai kelanjutannya. "Kau jadi harus menghisap darah manusia, Sasuke. Darah hewan tidak cukup untuk memuaskan kalian berdua. Naruto akan mati kalau kau bersikeras meminum darah hewan sementara Naruto bergantung pada darahmu."

"Kau…!" Sasuke sudah hendak menyerang Orochimaru, tak percaya iblis itu mengerjainya lagi, tapi Orochimaru hanya tertawa.

"Kau tidak punya pilihan lain, Uchiha," ujarnya.

Dan Sasuke mengakuinya. Orochimaru benar. Sasuke menghela napas, memantapkan niatnya. Ia mengangkat tubuh Naruto dan mendekatkan bibirnya ke leher Naruto. Dan dengan satu gigitan, ia menancapkan kedua taringnya di sana.

Begitu Sasuke melepaskan gigitannya dan mendongak untuk bertanya pada Orochimaru berapa lama ia harus menunggu sampai efeknya bekerja, iblis itu sudah menghilang. Sasuke kembali menunduk menatap Naruto dan melihat pemuda pirang itu bergerak sedikit. Sasuke menyentuhkan jari-jari pucatnya ke dada Naruto, tapi tak ada jantung yang berdetak.

Tentu saja, pikirnya, ia sudah mati. Sasuke memutuskan untuk mengangkat tubuh Naruto dan membawanya pulang ke apartemennya untuk mengawasi keadaannya. Tapi setidaknya ia masih hidup.

-tbc-

Yosh, sudah diputuskan kalau seri ini akan lanjut, dan jadwal rutin update-nya adalah setiap hari Senin. Nanti kalau ada libur, saya informasikan ;)

Dan, plis, kalau ada yang nonton In The Flesh, harap mention saya di grettama di twitter ;_; Kalau belum pada nonton, NONTONLAH. PLEASE.

Saya juga ada rekomendasi novel bagi saudari-saudari sesama fujoshi dan saudara-saudara fudanshi, judulnya The Song of Achilles. Sejauh ini, itu novel gay paling bagus yang pernah saya baca.