Sasuke was everything I ever wanted in a man—talented , caring, smart and protective and yes even jealous at times. Memeluku erat sembari mengatakan bahwa aku satu-satunya Sasuke terus membisikan kata-kata cintanya di telingaku sanjungannya membuat hatiku membuncah dan siap meledak kapan saja. He tell me all the things that I want to hear. It's make me having trouble catching my breath. That's what I like about him. Sampai kepada kalimat yang ambigu meluncur dari mulut yang kelewat sexy itu.

Hei kita belum pernah melakukannya kan?"

"Melakukan apa?"

"Ayo pergi?!"

"Hah kemana ? kenapa tiba-tiba?" Dia tidak akan melakukan hal-hal aneh kan? Aku bergidik memikirkan hal apa yang akan Sasuke lakukan. Pria ini selalu tak terduga.

"Kau akan menyukainya." Seringainya seakan mendramatisir ketakutanku.

"Kau tidak bermaksud untuk—"

"Ayo ke kamar bersiap-siaplah." Oh no! Tidak tidak aku belum siap!

HOOKING UP ?

Disclaimer : Naruto belong to MK

Story is mine, just borrow the characters

AU, OOC, TYPOS

M for language

SASUKExSAKURA

.

.

.

Capitulo 4

Ucapannya membuatku membatu sehingga hanya bisa memandanginya takut-takut dengan kening berkerut. Aku memang mencintai pria ini tanpa sarat. Jelas aku akan memberikan apapun untuknya dan mungkin aku akan sukarela tidur dengannya bila itu yang dia maksud tadi. Namun bayangan bahwa hal tersebut merupakan yang pertama bagiku sukses membuatku bergidik. Hal-hal seperti itu memang tidaklah tabu apalagi di lingkungan kami yang terkesan glamour dan bebas. Tapi aku sama sekali tidak berpengalaman dalam urusan begituan mengingat perjalanan cinta ku di belakang yang tidak pernah berhasil dan mantan kekasih yang masih bisa dihitung jari membuatku tidak sampai tahap terintim dalam sebuah hubungan.

Ctak.

Sasuke dan kebiasaannya yang satu ini sangat menjengkelkan. Menyentil dahiku dengan jari-jarinya hingga dahiku dipastikan merah lagi. Karena kesal aku bangkit duduk dan mendelik kearahnya.

"kau berpikiran terlalu jauh." Abaikan Sakura senyumnya abaikan, dia sudah melecehkan jidat mu!

"Ucapanmu yang tidak jelas jangan salahkan aku!"

"Haaah dengar sayang kau pergi ke kamarku ambil coat dan beanie yang pas untukmu karena pakaian mu terlalu tipis." Jadi hipotetisku sedari tadi salah?

"Apa yang salah dengan t-shirt imut ku?"

"karena pakaian itu tidak cukup melindungimu nantinya." Dengan helaan nafas berusaha untuk sabar dia menjelaskan kepadaku.

"Tunggu! Berarti kita akan pergi? Kemana?"

"Kau akan tahu nanti cepatlah kita kehabisan waktu."

Sasuke menggiringku hingga kedepan pintu kamarnya. Tentu saja aku senang ini merupakan kencan debut kami. Apa dia tidak takut dengan papz? lagipula dia baru saja sampai dan akan pergi lagi. Kenyataan bahwa dia rela akan menghabiskan waktu denganku dibandingkan beristirahat memukul telak kesadaranku akan sifat memalukan yang tidak percayaan padanya.

Kamar Sasuke di dominasi warna beige campuran abu-abu dan coklat yang nyaman di pandang mata karena tidak terang namun tidak gelap pula. Bisa kubayangkan bila lelah setelah manggung kamar ini pastilah tujuan utama dia untuk pulang. Furniture di ruangan ini tidaklah banyak hanya ada rak berisi kumpulan buku dan cd serta satu meja khusus komputer di sebelah kiri ranjang. Setelah mengedarkan pandangan menelaah benda-benda di kamar pacarku ini akhirnya aku menemukannya walk-in-closet lantas kubuka dan aku tercengang!

"Wooow, dia shopaholic! Dia lebih freak daripada aku yang seorang wanita!"

Di dalam walk-in-closet penuh dengan barang-barang yang dapat di pastikan mempunyai nol lebih dari tujuh digit. Di setiap dindingnya terpasang lemari berwarna putih. Sasuke sangat rapih terlihat dari bagaimana dia mengatur tempat aksesoris, tas dan pakainnya yang di pisah sesuai merk. jam, sabuk, topi, syal dan parfume ada di paling ujung—masih dia mengurutkannya sesuai merk. pakaian Sasuke di dominasi warna gelap; hitam,abu,dongker dan coklat.

"Mainstream sekali sangat menunjukan anak band! kenapa dia tidak memilih warna kuning atau orange? Itu akan membuatnya berbeda dari band-band lain haha" Sasuke yang gahar memakai warna mencolok akan sangat menarik batinku.

Berjejer rapih pakaiannya tergantung agak tinggi di lemari aku sampai harus mendongak utuk melihatnya Coat, hodie dan ada beberapa Suit yang nampak kelihatan sangat mahal di sebelah kanan. Bisa dibayangkan ketika dia memakai Suit-nya berdiri di altar menungguku. ready to tie the knot he'll be the hottest bridegroom evaaaa.

"Sial pikiranku kemana-mana aku hanya melihat bajunya saja dan menggila seperti ini memalukan!"

Kucoba untuk berkonsentrasi memilih hodie, coat dan beanie yang simple untuk kupakai. Aku sangat berusaha untuk tidak menciumi harum Sasuke di bajunya. Ini sulit aku tidak mau dia mencapku sebagai cewek mesum. Setelah kurasa cukup aku kembali ke ruang tengah dimana priaku sedang menunggu. Dan menemukannya sedang memainkan ponsel. Haah melihatnya lebih tertarik dengan ponsel saja membuatku mengeram tidak suka. Betapa dia sangat mendominasi pikiranku. Dan aku kembali menjadi gadis yang cemburuan.

"lama sekali apa kau tertidur hm?"

"Mana mungkin!"

"Merajuk lah terus lalu kita tidak akan pergi pilih yang mana?"

Sasuke menatapku tajam dan aku tidak bisa menjawab pertanyaanya.

"Sayang berhenti marah-marah kita akan pergi sekarang, lagipula apalagi salahku?"

"Kau terus-terusan memainkan ponsel." Aku mencebikan bibirku.

"Astaga aku hanya mengganti wallpaper ponselku denga foto mu, sudah kubilng jangan cemberut aku tidak tahan." Sasuke merangkulku untuk memperlihatkan ponselnya. Di layar itu terpampang dengan jelas foto ku yang sangat sangat tidak elegan pose menggelikan tertidur dengan mulut agak terbuka.

"Hiiiih! Kau dapat darimana itu haaa?!" kutarik kerah baju Sasuke untuk merebut ponselnya namun kalah cepat, dia mengangkat tangannya agar aku tidak bisa menjangkau ponsel sial itu.

"Aku ambil ketika menginap di apartementmu pertama kali."

Ah aku ingat saat kami bertengkar hingga hampir fajar

"Aku sudah melihat saat terbaik dan terkonyolmu biarkan ini menjadi rahasia kecil kita, ini seperti membuatku mengenal kamu lebih di banding yang lain. Ini spesial bagiku jadi biarkan seperti ini."

Tebak! Jadi bisakah aku menolak permintaannya setelah bujukan manis terselubungnya barusan? Tentu tidak!

Dia mendekatiku setelah memastikan aku tidak akan melawannya. Menarik pinggangku hingga dapat kurasakan dada bidangnya yang keras. perlahan menciumku dengan lembut tepat di bibir hanya ciuman ringan yang manis. Lalu menarik pergelangan tanganku pelan keluar dari apartemennya menuju Range rover.

"Mobil baru?"

"Hn.. tidak juga aku punya kebiasaan mengganti mobil tiap minggunya trik kecil untuk mengecoh papz." Sasuke menjawab dengan sangat santai ketika mulai mengemudi keluar dari lingkungan apartement.

"Jadi setiap minggu kamu membeli mobil begitu? Boros!"

"Haha itu akan sangat merepotkan, tidak aku hanya punya tujuh Sakura dan menswitch nya tiap minggu." Dia melirik dari samping dan sukses terlihat sangat tampan ketika mata tajamnya kembali fokus mengemudi.

"Ah benar juga tapi tetap saja akan menyusahkan ketika akan membayar pajak tahunan."

"Cih seleb pelit!" lihat dia sudah berani mengatai pacarnya sendiri!

"Aku hanya berhemat! Ini kan jalan menuju bandara kemana sebenarnya tujuan kita?"

"figure it out!"

"Have no idea." Hei bandara itu bagai pintu kemana saja kan? mana bisa aku menebak dan langsung benar aku bersungut-sungut padanya dan tersadar ketika kami sudah sampai di pelataran bandara.

"Already given up? Payah!"

"Huh."

"Sakura kita akan kembali ke hokkaido."

"Kita akan menemui bandmates mu?"

"Tentu saja tidak aku tidak mau mereka mengganggu kencan kita."

"Lalu?"

"Sapporo tepatnya kita akan kesana." Kalau tidak salah Sapporo itu terkenal dengan festival musim dinginnya ah pantas saja dia menyuruhku membawa beberapa pakaian tebal. Tapi disana akan dipadati banyak masyarakat umum apa dia siap dengan publikasi seperti ini?

"Kau yakin?"

"Ya tentu saja!" ini tidak bagus aku benci kilatan blitz paparazi aku benci berita tidak relevan yang mereka buat esok paginya.

Karena tidak ingin terjadi kegaduhan Sasuke dan aku menaiki pesawat secara bergantian. Sasuke memakai topi dan Ray Ban sunglasses nya meminimalisir perhatian orang-orang aku memakai hoodie yang agak tebal serta beanie berfungsi menyembunyikan rambut mencolokku yang di pinjamkan Sasuke. Kami sampai kedalam pesawat dan duduk berdekatan. Aku mengacungkan jempolku padanya tanda bahwa kami telah sukses melaksanakan misi menghindari papz dan fans. Dia tersenyum mengerti isyaratku. Tidakkah orang ini mengerti bahwa senyumnya itu berbahaya untuk ku?

Perjalanan kami tidak terasa melelahkan bagiku khususnya, karena Sasuke menggenggam tanganku selama penerbangan. Kami landing dengan selamat dan langsung menuju hotel yang sudah dia booked sebelumnya. Aku sangat tidak senang melihat dia kelelahan ku paksa Sasuke untuk beristirahat dan menunda kencan kami di Sapporo keesokan harinya. Lagipula kami sedang break dari tour jadi tak usah terburu-buru.

Pesona yang berbeda setiap musimnya membuat pengalaman di Hokkaido tak pernah sama, pulau di ujung utara Jepang ini terkenal dengan berbagai festival musim dinginnya. Mencengangkan sekali karena ada 1.200 festival dalam setahun. Sedangkan saat ini kebetulan sedang musim dingin berarti kemungkinan Sasuke akan mengajaku ke Sapporo snow festival atau Monbetsu Ice Floes Festival intensitas salju disini sempurna untuk melakukan berbagai permainan serba es. Lagi aku terheran-heran apakah dia siap muncul ke permukaan apa dia sanggup menanggung resiko besar tereksposnya hubungan kami? Apa dia yakin dengan ini semua. Aku ingin bertanya tentang recananya ini yang membuatku resah semalaman namun aku tak mau merusak kesenangannya dan pengorbanannya membawaku sejauh ini. I don't want to ruin anything.

"kita menjauhi pusat kota?" aku bingung ku kira kami akan pergi ke salah satu festival tapi jalanan yang kami lewati ini malah semakin jauh dari kota.

"Kita sama-sama benci papz kan? Aku sudah pesan tempat jauh dari keramaian."

Kali ini kami pergi tidak hanya berdua ada beberapa orang dalam mobil dan juga seorang supir yang terlihat sudah agak tua, dia menyetir kelewat kecang diusia senjanya. Aku yang duduk di tengah bersama Sasuke sebisa mungkin mengeratkan pegangan tanganku padanya. Semoga perjalanan mencekam ini cepat berakhir.

"Beri aku clue kemana kita akan pergi?" sudah kubilang aku adalah wanita yang mempunyai kadar penasaran yang tinggi.

"Oke..hm..salju dan banyak?" tuan pelit kata!

"Disini memang banyak salju, kasih yang lebih spesifik dong!" kucubit pinggangnya agar mau menjawab dengan benar.

"Aw.. oke oke cukup, gunung!"

"Gunung? Disaat seperti ini? kita akan hiking?" sekarang aku mulai mengerti kenapa ada orang lain selain kami di mobil ini dan bagasi pun penuh dengan beberapa tas besar.

"Mungkin—"

"No way!"

"Yes way haha, tidak suka?"

"Tidak hanya terkejut."

Aku benci dingin! Aku benci lelah! sempurna kini aku akan kedingan juga lelah dalam waktu yang sama hell no! Tapi aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Sasuke. Aku tak mau mengacaukan hari kami. Kusandarkan kepalaku pada cerukan leher Sasuke mencoba untuk menyembunyikan perasaan tidak sukaku. Tiba-tiba dia membuka topinya aku menengadah untuk melihat wajahnya. Dia menjulurkan topi itu ke hadapan muka kami lalu tanpa tedeng aling-aling Sasuke mencium bibirku lama dia melumat bibirku atas dan bawah sejenak aku lupa bahwa kami masih berada di mobil yang tidak hanya kami saja di dalamnya. Pantas dia menggunakan topi untuk menutupi adegan nakal kami barusan agar tidak dilihat si supir tua dari spion depan. Tingkahnya benar-benar lucu pacarku ini selalu bikin gemas! Kami tersenyum setelah mengakhiri ciuman tadi sambil mengamati sekitar penasaran reaksi mereka. Ya kudapati si supir dan yang lainnya menahan senyum mereka pasti berpikir kalau kami konyol!

"Snow mobile land Sapporo?" setelah sampai kueja papan nama yang menjulang di hadapanku apa maksudnya ini?

"Aku terlalu lelah untuk hiking jadi kita main snowmobile saja." Aku tak pernah melihat wajahnya yang seriang itu. Senyumnya dapat mencairkan seluruh lapisan es di gunung ini jangan tanya padaku! kalau hatiku sudah mencair sedari dulu. Dia berbalik dan melihatku from top to toe. Menelisik dengan tajam sukses membuatku gugup.

"Kamu kedinginan tidak? pakaiannmu apa cukup hangat?" Sasuke membenarkan beanie ku seperti ayah kepada anaknya dengan telaten dia memeriksa mulai dari coat sampai boots. Ralat dia seperti security bandara yang siap menjaring teroris.

"Im good. Woow ini pertama kali aku bermain snowmobile!"

"Kau akan suka haha."

Sasuke bilang di tempat ini ada 25 instruktur berpengalaman yang akan mengajari kami. I just wanted some information on what it is like to ride before I jump on to the ground. Pasti akan sakit bila aku terjatuh. The colder the better for snowmobiels. Udara terasa memang sangat dingin mungkin minus 0 namun aku tidak takut meski aku di kelilingi hutan pinus yang cukup lebat di sekeliling karena Sasuke selalu berdiri disampingku. Tempat ini mempunyai trek panjang dan lebar untuk bermain membuatku semakin tidak sabar. Aku belajar dengan cepat sangat senang bermain karena ini tidak akan menguras tenaga lebih seperti hiking. Mulanya aku bermain dengan snowmobile ku sendiri begitu juga Sasuke. Dia lebih lihai dan selalu bisa mendahuluiku. Dia kelihatan sangat menikmati permainan ini. Tertawa sedari tadi juga menyebabkan keletihan, aku memutuskan untuk mengakhiri permainanku dan menonton Sasuke dari sisi track tapi dia membujukku untuk berboncengan dengannya. Aku tidak akan sanggup menolak priaku—tidak ketika dia tersenyum dan menggengam erat tanganku. Tolong jangan perlihatkan muka memohon itu pada gadis manapun!

"Pegang erat-erat yah."

"Oke." Tanganku melingkar erat di pinggangnya mendekap dari belakang mencari-cari kehangatan dari punggung lebarnya yang masih tetap wangi. Dapat ku dengar teriakan Sasuke ketika mulai menarik gas agak kencang. Aku melakukan hal yang sama pula melepaskan perasaan yang terpendam selama ini. Hempasan angin di wajah menyegarkanku mengingatkan bahwa disini hanya ada kami berdua di kelilingi hutan pinus seakan membentengiku dari jangkauan para awak media. Disini kami bebas dan lepas.

"Sakura I am madly in love with you!" teriakannya menggema dia bisa menghancurkan gletser di gunung ini.

"Dude are you crazy?!" dan aku ingin lebih memastikannya!

"Yes! absolutly yes!"

Dia konyol dan ajaib lalu aku menjadi begitu sangat menggilainya!

Namun tiba-tiba kami seperti menghantam sesuatu yang keras semua menjadi kabur dan gelap. Samar-samar dapat ku dengar suara Sasuke memanggil namaku berulang kali, bau anyir dan nyeri dipunggungkulah yang terakhir kali dapat kurasakan.

"Kau siuman?!"

"Ya."

"Siapa aku?"

"em.. Sasuke?"

"Good, siapa aku di matamu?" ada apa dengannya kenapa begitu cerewet tentu saja dia pacarku!

"Teman?" Sasuke merenggut mendengar jawabannku mukanya yang resah dan khawatir sangat sangat lucu, aku harus mencari ponsel untuk memotretnya.

"No! saku—" Sasuke tidak melanjutkan ucapannya kemudian menutup mukanya dengan tangan. Dia mengurut pangkal hidungnya naik dan turun terus menerus seperti sedang berfikir keras. Kukira dia akan marah namun perkiraanku salah besar, terdengar suara isakan keluar dari mulutnya. Oh tidak tidak! Priaku menangis dan sontak aku memegangi mukanya terkejut.

"Sasuke.. oh tidak sayang don't cry I beg you I am just kidding." Aku mencari-cari wajahnya yang sedari tadi tertunduk merasa bersalah karena telah membohonginya. Tidak terfikirkan aku akan melukainya dengan kata-kata bodoh tadi.

Setelah gencar meyakinkannya bahwa aku tidak serius tadi, akhirnya dia mau menatapku. Mata berkaca-kaca dan hidung yang memerah itu menatapku ragu-ragu. Bagaimana bisa dengan tololnya aku membuat seorang vocalist band terkenal menjadi seperti ini. aku tidak akan mungkin dimaafkan para fans fanatiknya.

"Baby sorry i didn't do it on purpose." Ada yang bilang bila pria menangis karena dirimu berarti dia benar-benar tulus mencintaimu. Aku senang mengetahui bahwa dia mungkin mencintaiku tulus tapi juga sedih karena telah melukai hatinya dengan begitu mudah. Melihat priaku menangis di depan muka sendiri membuatku tidak tahan dan akhirnya mengeluarkan air mata.

"Don't sakura don't—"

"aku hanya bercanda tadi maaf."

"Ku kira kau benar-benar melupakanku." Jadi dia pikir aku amnesia?

"Kita idol Sasuke bukan aktor sinetron."

"Bodoh jangan membuat cemas terus-terusan aku bisa mati muda." Disaat-saat mengharukan seperti ini masih saja dia sempat menyentil dahiku. Tapi syukurlah dengan begitu berarti dia baik-baik saja.

"Sakit tahu!"

"sini kucium biar tidak sakit." Sasuke menggenggam kepalaku dengan lembut dan mencium ku di BIBIR! Dia itu mesum apa tuli sebenarnya?

"Yang sakit kan jidat kenapa malah cium bibir?"

"Kenapa memangnya? Yasudah sini kalau mau tambah—" Dokter tiba-tiba datang menginterupsi kami. Semoga dia tidak lihat adegan sebelumnya.

Dokter datang untuk memeriksaku, dia hanya memberikan beberapa nasihat dan resep obat. Aku agak senang melihat dokternya karena masih muda juga terlihat tampan. Apa dia tahu aku seorang artis? Pikiranku terhenti karena suara dehaman seseorang yang kelihatannya geram.

"Ekhm... matanya tolong dijaga jangan jelalatan." Tadi dia menangis tersedu-sedu dan sekarang malah tersenyum masam padaku. dia sungguh dalam keadaan sangat sehat berarti!

"Ih apaan aku kan Cuma menyimak dokter."

"Lihat yang beningan dikit sudah ngiler." Pacarku yang cemburuan sudah kembali.

Sasuke menjelaskan kenapa kami berada di rumah sakit, ketika Sasuke tiba-tiba mengerem secara mendadak lalu menabrak pohon dan berakhirlah kami terjungkal dari snowmobile. Kami di larikannya ke rumah sakit terdekat karena aku jatuh pingsan. Hanya luka ringan dan ada beberapa jahitan di tangan kananku, dilihat darimanapun dia yang sepertinya terluka parah namun bersikeras selalu mengatakan untuk tidak cemas berlebihan padaku. Dokter bilang kami hanya perlu beristirahat dan bisa kembali ke Tokyo dengan syarat harus bedrest.

Kupikir setelah tiba di Tokyo aku bisa beristirahat dengan tenang namu ini berbanding terbalik dengan harapanku. Handphone ku terus-terusan bergetar tanda menerima banyak pesan dari managerku—Anko, dia bilang aku harus melihat situs berita saat itu juga. Maka dengan perasaan yang sangat malas aku membuka browser dan beberapa artikel muncul di jendela layarku. Hampir semuanya serupa membahas AKU DAN SASUKE! Ada artikel yang menarik perhatianku 'Sasuke uchiha stepped out from Hospital with Sakura Haruno in Hokkaido' ah mereka memotret kami ketika keluar dari rumah sakit kemarin. Nah ini dia ada sebuah artikel yang kelewat tidak nyambung 'Triangle love: Sasuke, Sakura and Sasori which one she will choose?' papz menambahkan fotoku saat dicium sasori ketika konser dan foto bersama Sasuke kemarin mereka benar-benar hebat dalam mengait-ngaitkan hal tak penting. Berita ini disebut-sebut akurat karena ada sumber terpercaya yang menjelaskannya, dan ternyata si dokter muda dan tampan itulah yang mengatakan pada media bahwa kami memang sepasang kekasih dari interaksi yang dia lihat saat di rumah sakit. Cih penghianat! Merasa kesal ku matikan ponselku karena pasti fans Sasuke akan membashingku di semua sosmed. Inilah puncaknya saat terberat ketika semua orang tahu hubungan kami, akan banyak rintangan setelah ini. aku tak mau pusing-pusing memikirkan nasib hubunganku dengan Sasuke bergelung di sofa dengan selimut tebal adalah pilihan terbaik saat ini.

"Baby." Suara yang akhir-akhir ini akrab di telingaku, suara husky yang selalu menjadi obat dari rasa cemas dan resahku. Suara priaku. Sasuke memeluku dari belakang dia berbicara tepat di telingaku membuatku merasa geli.

"Yes?"

"Kamu sudah tahu?"

"those whole shit thing?"

"Watch your mouth baby, lalu?"

"Bagaimana lagi kita ketahuan sekarang diamkan saja." Aku berbalik untuk melihat wajahnya. Wajah tampan yang dipuja-puja kaum wanita seantero negri. Aku menjulurkan tangan untuk mengelus di sepanjang garis wajahnya yang tegas. Matanya adalah bagian favoritku. Aku akan selalu mencium kelopak matanya ini menjadi kebiasaanku ketika berbaring dengan Sasuke.

"Ya biarkan saja untuk saat ini." Suaranya serak dan sesungguhnya itu adalah tanda dia menginginkan sesuatu aku benar-benar sudah hapal tabiatnya, apalagi kalau bukan berciuman!

"Ayo berdansa!"

"Apa?" permintaan yang sangat tidak biasanya.

"Bisa bantu aku menyingkirkan meja ini?"

"Hah?" sebenarnya dia mau berdansa apa gulat denganku?

"Supaya kita tidak terantuk nanti ketika berdansa."

Manis sekali ternyata dia tidak mau aku terjatuh. Setiap tindakannya membuat hatiku menghangat. Hal kecil yang ditunjukannya sarat akan perhatian, begitu dia sangat peduli padaku he made me the luckiest women on the face of earth. Sasuke menghidupkan music playerku di sudut ruangan dan menyetel lagu 'drunk in love by beyonce' pilihan yang bagus benar-benar menggambarkan apa yang kami rasakan satu sama lain. Dia adalah candu bagiku memabukan dan tak mungkin aku tinggalkan meski semua orang menentang kami aku tidak akan pernah menyerah untuknya. Bagaimana bisa aku hidup tanpanya yang menjadi canduku? Pemilik utuh seluruh hatiku.

END

"ini kelima kalinya kau menginjak kakiku Sakura haha."

"Cih sudah ku bilang aku tidak mahir dalam ini."

A/N: YUHUUUUUUU utang gue lunas akhirnya sudah selesai cerita ini sorry kalo nanggung sorry juga kalo jelek dan typo soalnya ini hati lagi sedih dan ga singkron buat nulis lovey-dovey-an. Tapi tolong di review yah tanggapan kalian^^ seneng banget baca review unyuk2 dari kamuh kamuuuh. Oh yah kenapa yah suka ada kata yang hilang setelah update cerita? Bikin sebel ajah jadinya. Oke cukup yah sampai ketemu di fict saya yang lain. Jaa matta ne!