Sudah menjadi rahasia umum tim Seirin kalau ace mereka, si rambut merah nomor 10, Kagami Taiga, menyukai Aomine Daiki lebih dari sekadar rival maupun teman. Sudah cukup bukti yang mereka lihat untuk membuat pernyataan final itu. Mulai dari cara Kagami memperlakukan sepatu pemberian Aomine, gerak-geriknya setiap menonton pertandingan Touou, dan juga cara Kagami membicarakan ace Touou yang ia anggap rivalnya itu kapanpun dimanapun setiap ada kesempatan.

Seakan belum jelas, Kagami juga pernah suatu hari bertanya pada Kuroko Tetsuya, yang notabene merupakan bayangannya sekarang dan mantan bayangan Aomine, butuh waktu berapa lama bagi Aomine untuk mulai memanggil Kuroko hanya dengan "Tetsu".

Dan sudah menjadi rahasia umum tim Touou pula kalau sebenarnya Aomine merasakan hal yang sama dengan Kagami. Dibuktikan dengan ia yang merelakan satu dari koleksi sepatunya yang ia anggap sama berharganya dengan koleksi gravur Mai-chan pada Kagami, atau ia yang selalu menoleh ke arah tribun ke tempat Kagami duduk dan nyengir lebar setiap habis melakukan dunk, atau ia yang selalu lenyap setelah pertandingan atau setelah menonton pertandingan Seirin hanya untuk ke Maji Burger bersama Kagami, one-on-one mereka setiap Sabtu sore yang selalu diakhiri dengan Aomine mampir ke rumah Kagami untuk makan masakan Kagami, kunjungan-kunjungan Aomine ke Seirin hanya untuk menonton mereka latihan, dan masih banyak hal lagi yang bakal panjang kalau disebutkan satu-satu.

Seirin dan Touou sama-sama tahu kalau perasaan Aomine dan Kagami itu mutual, tapi sayangnya kedua ace mereka tidak akan dipanggil Ahomine dan Bakagami tanpa alasan yang jelas. Mereka berdua justru sama-sama tidak tahu kalau mereka saling suka.

Karena hal itu, sudah cukup lama ini tim Seirin dan Touou seakan menjadi sahabat baik sekaligus rival untuk meratapi kebodohan ace mereka. Letak sekolah mereka yang berada di prefektur yang sama membuat pemandangan grup campuran Seirin-Touou makan bersama seusai latihan adalah hal yang lumrah.

Seperti saat ini, kedua tim tengah duduk bersama di restoran okonomiyaki. Kagami dan Aomine memutuskan untuk duduk berdua di meja lain dengan dalih agar mereka bisa menguasai penggorengan untuk okonomiyaki raksasa mereka, meskipun semuanya tahu itu hanya alasan belaka.

"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka?" Momoi Satsuki membuka topik pembicaraan, menghela napas seraya memandang Kagami dan Aomine yang tengah melahap porsi mereka yang menyamai porsi dua puluh orang sambil mengobrol ringan dan tertawa.

Kuroko mengikuti arah pandangan Momoi, tapi tidak merespon.

Mengisi absennya jawaban Kuroko, Hyuuga Junpei yang duduk di sisi lain Momoi menyahut, "Suatu saat nanti kan pasti akan sadar juga."

Kuroko dan Momoi mengalihkan pandangan mereka ke arah Hyuuga.

"Bagaimana kalau mereka tidak akan menyadarinya selamanya?" tanya Momoi, nada cemas terdengar dalam suaranya.

Pertanyaan sederhana dari Momoi itu sontak membuat seluruh meja terdiam.

"Kita harus melakukan sesuatu," geram Wakamatsu Kosuke akhirnya, memecah keheningan, disambut anggukan mantap dari yang lain.


Makan malam itu berakhir dengan diskusi hangat Seirin dan Touou untuk menyudahi kebodohan Aomine dan Kagami. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya ide Aida Riko dan Imayoshi Shoichi-lah yang diterima. Seperti yang diharapkan, ide dari ahli strategi masing-masing tim itu memang yang paling bisa diandalkan.

Idenya sederhana tantang salah satu dari Aomine atau Kagami untuk one-on-one, dengan taruhan kalau kalah, harus menyatakan perasaan ke orang yang disukai. Itu adalah satu-satunya cara yang bisa mereka pikirkan untuk memaksa Aomine dan Kagami agar bisa sampai pada tahap hubungan selanjutnya. Namun karena Aomine nyaris mustahil dikalahkan dalam one-on-one, kedua tim sepakat untuk menimpakannya pada Kagami.

Maka sore itu, seluruh tim Seirin berkumpul di gimnasium, menunggu dengan tegang. Ketika Kagami memasuki gimnasium, Aida langsung menghampirinya.

"Kagami," panggilnya.

"Ya, Pelatih?"

"Karena, eh, aku ingin mengetes sesuatu, aku ingin kau one-on-one lawan semua anggota tim," ujarnya. Ya, Kagami juga kuat dan yang bisa seimbang melawannya dalam one-on-one hanya Aomine semata, jadi mereka sepakat untuk membuat Kagami one-on-one melawan mereka semua bergiliran.

"Semua?" tanya Kagami, meletakkan tasnya di lantai gimnasium.

Aida mengangguk mantap, setelah sebelumnya mendapat anggukan penyemangat dari Kiyoshi Teppei dan Hyuuga. "Tapi ini bukan tes biasa. Kalau mereka kalah melawanmu, mereka akan aku suruh lari keliling lapangan sepuluh kali," ujar Aida lagi, mengabaikan bisikan protes dari member Seirin yang berbunyi, "Hei, perjanjiannya tidak begitu!"

"Tapi kalau kau yang kalah," tambah Aida, "kau harus menyatakan perasaanmu ke Aomine," tembak Aida langsung.

Pernyataan itu sontak membuat warna wajah Kagami berubah menyamai rambutnya. "Tidak adil! Tidak bisakah aku juga lari keliling lapangan sepuluh—tidak, dua puluh kali juga tidak apa-apa, Pelatih!" teriak Kagami, panik.

Aida menggeleng dan tersenyum licik. "Tidak. Perjanjiannya begitu. Kalau kau menolak, aku akan langsung menelepon Aomine dan mengatakan padanya kalau kau menyukainya dan ingin punya bayi darinya."

Mendengar itu, bukan hanya Kagami yang memucat dan berkata dalam hati, "Gadis ini mengerikan," tapi juga seluruh anggota tim yang lain.

Aida menepukkan tangannya, berkata riang ke semua orang. "Ayo mulai! Seirin versus Kagami! Yang pertama mewakili tim Seirin terserah siapa saja boleh, yang pertama mendapat sepuluh poin menang! Dan Kagami," ia menambahkan, "dilarang melompat."

Tak ada yang bisa lagi memprotes, kesepuluh anggota Seirin yang lain segera berkumpul di sisi lain lapangan, meninggalkan Kagami di sisi yang lain, sendirian dengan tatapan minta tolong.

"Karena kita bersepuluh," ujar Hyuuga, "Satu orang bertanggung jawab atas satu poin dari Kagami."

"Siapa yang maju duluan?" tanya Izuki Shun.

"Dari kita yang sebanding dengan Kagami hanya Teppei," sahut Hyuuga, menoleh ke arah Kiyoshi Teppei yang cengar-cengir seperti biasanya, "biar dia terakhir saja."

"Kuroko pertama kalau begitu?" tanya Koganei Shinji.

Hyuuga tampak menimbang, kemudian menggeleng. "Empat orang pertama yang melawan Kagami bertugas membuatnya lelah, enam yang terakhir bertugas mencetak poin." Kemudian ia menoleh ke arah Mitobe Rinnosuke, membuat center itu mengangguk penuh tekad. "Kau pertama Mitobe," ujar Hyuuga lagi, menepuk bahu Mitobe sebelum pemuda yang tak pernah bicara itu berlari menghampiri Kagami.

Aida berdiri di sisi luar lapangan, mengamati. Ia tidak kaget ketika Seirin mengajukan Mitobe sebagai yang pertama maju. Ia sudah bisa membaca apa yang ingin mereka lakukan. Tapi mengalahkan Kagami tidak semudah itu. Aida sudah mengecek rekor Kagami ke Momoi semalam. Setelah pertandingan resmi di Winter Cup melawan Touou, Aomine dan Kagami sudah sering kali one-on-one setiap akhir pekan. Dan rekor Kagami cukup impresif, menang empat kali dari sepuluh kali tanding. Orang yang bisa menang empat kali melawan Aomine, pasti sudah berkembang pesat.

Aida menggenggam peluit di dadanya. Tapi member Seirin yang lain juga bukan pemain lemah. Ditambah lagi mereka pasti tidak ingin lari sepuluh kali. Aida tersenyum ketika Kagami mulai mendribble bolanya, berusaha melewati Mitobe. Firasatnya bagus tentang ini.

Lima belas menit kemudian, Mitobe, Furihata Kouki, Fukuda Hiroshi dan Tsuchida Satoshi sudah berhasil mencuri empat poin dari Kagami. Sayangnya, Kagami sudah lebih dulu unggul dengan lima poin. Aida bertukar pandang cemas dengan Hyuuga dan Kiyoshi, tapi dua orang itu hanya memberi Aida anggukan menenangkan.

Kagami nyengir senang di lapangan ketika Tsuchida mundur. "Ha! Kalian takkan bisa mengalahkanku!"

Tapi kemudian Kuroko memasuki lapangan, mata birunya memancarkan tekad kuat. Aida bisa merasakan kalau Kuroko begitu berniat untuk menyatakuan mantan cahaya dan cahayanya yang sekarang.

Kagami memicingkan matanya, merasa tak bisa meremehkan Kuroko, tapi Kuroko memanfaatkan missdirection-nya dengan baik. Segera, Kagami tidak menyadari keberadaan Kuroko, membuat Kuroko dengan mudah merebut bola dari tangan Kagami dan menembakkannya ke arah ring. Masuk. Lima sama.

Tim Seirin berteriak.

Kagami mengambil bola dari bawah ring, memandang Kuroko tak senang dan sudah bersiap untuk menyerang melewatinya, tapi tiba-tiba Kuroko mengangkat tangannya, menghentikan Kagami.

"Apa?" tanya Kagami.

"Aku lemah di defense. Koganei-senpai yang akan menggantikan," dan dengan itu, Kuroko ngeloyor pergi meninggalkan lapangan, segera digantikan oleh Koganei.

Kagami berdecak. Melewati Kuroko adalah hal mudah, tapi Koganei lain lagi. Apalagi ditambah bahwa ia dilarang melompat. Setelah berkutat dengan bolanya, Kagami akhirnya bisa mengecoh Koganei dengan ankle-breaker yang meskipun tidak sehebat milik Aomine atau Akashi Seijurou, cukup efektif untuk melawan Koganei dan melakukan dunk.

Enam lawan lima.

Koganei digantikan oleh Kawahara Koichi yang segera bisa menyamakan kedudukan dengan three point saat Kagami lengah. Kagami mengumpat keras. Ia tak bisa memblokir three point tanpa melompat.

Enam sama.

Izuki memasuki lapangan, disambut serangan Kagami. Izuki menggagalkannya dengan mudah, merebut satu poin lagi dari Kagami. Tujuh lawan enam. Kagami tidak membiarkan poin diambil darinya dengan mudah. Ia berhasil mencetak dua poin. Tujuh lawan delapan.

Ketika Hyuuga masuk, ia sudah langsung berada dalam clutch time mode, membuatnya bisa mencuri dua poin sekaligus dari Kagami, membuat Kagami meraung kesal. Sembilan lawan delapan.

Satu poin terakhir, dan Hyuuga membiarkan Kiyoshi mengambil alih.

Melawan sembilan pemain Seirin secara bergantian, Kagami sudah kelihatan kepayahan sementara Kiyoshi masih segar bugar. Kiyoshi lebih tinggi dari Kagami dan ia terkenal sebagai center yang bisa menandingi Murasakibara Atsushi. Tanpa melompat, Kiyoshi akan bisa menang mudah dari Kagami.

Kiyoshi tertawa sambil melemparkan bolanya ke arah Kagami. "Karena kau sudah lelah, lupakan larangan Riko untuk melompat," ujarnya santai. "Gunakan seluruh kemampuanmu."

Aida ternganga mendengar ucapan Kiyoshi, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Ia tahu ini sudah tidak adil, meskipun ia sangat ingin Kagami kalah.

Mengabaikan seruan protes memberi Seirin yang lain, Aida mengangguk. "Baiklah. Kau boleh melompat, Kagami."

Kagami nyengir senang mendengar itu. Ia mendribble maju ke arah Kiyoshi. Kiyoshi sudah siap dengan penjagaan ketat. Kagami mencoba mengecohnya ke kiri, tapi Kiyoshi berhasil membaca pergerakannya. Kagami melakukan pivot dua kali, berputar, berniat untuk menembus Kiyoshi dari celah yang ia tinggalkan, tapi Kiyoshi tidak akan dianggap sebagai saingan Murasakibara kalau tanpa kemampuan. Kiyoshi berhasil memblokir Kagami di saat-saat terakhir. Tapi itu cukup. Jarak Kagami dengan ring sudah cukup dekat. Ia menekuk lututnya, bersiap melompat, Kiyoshi juga melakukan hal yang sama, tapi seperti yang semua orang duga, lompatan Kagami lebih tinggi.

Sembilan lawan sembilan.

Aida mulai menggigiti bibir bawahnya dengan panik, sementara anggota tim Seirin yang lain ambruk dengan tampang pucat, bersiap lari sepuluh kali.

Tapi sekarang giliran Kiyoshi menyerang. Senyumnya sudah lenyap dari wajahnya, membuat Kagami menelan ludah dengan gugup. Kiyoshi mendribble bola di tempat, waspada di bawah pengawasan Kagami. Tiba-tiba Kiyoshi mengangkat kedua lengannya, hendak melakukan three point. Kagami segera menekuk lututnya dan melompat, tapi Kagami terkecoh. Kiyoshi melakukan fake. Kiyoshi segera mendribble melewati Kagami, berlari ke arah ring, Kagami segera menyusulnya, dan segera sudah berhasil menjaga Kiyoshi.

Semua orang pikir Kagami akan berhasil memblokir dunk Kiyoshi. Semua orang pikir mereka akan lari keliling lapangan sepuluh kali. Kuroko pikir dua cahahanya akan tetap bodoh selamanya. Tapi ternyata Kiyoshi tidak hendak melakukan dunk.

Ia hanya melompat, sama sekali tidak berusaha melakukan dunk ketika ia sudah berada di ketinggian maksimalnya. Kagami membelalak, memandang ketinggian Kiyoshi mulai berkurang. Kagami sudah siap. Kiyoshi pasti akan menembak dari bawah begitu ia mendarat, memanfaatkan Kagami yang bisa bertahan lebih lama di udara jadi tidak akan bisa memblokirnya tepat waktu. Tapi Kagami tahu ia pasti bisa melakukan dua kali lompatan berturut-turut. Ia sudah siap.

Sayangnya, bukan itu yang sama sekali ingin Kiyoshi lakukan. Center itu justru sudah menembak lebih dulu sebelum ia mendarat, dengan formless shoot yang sudah berkali-kali Kagami lihat saat ia melawan Aomine. Kiyoshi tidak melakukannya sesempurna Aomine, tapi itu cukup untuk melewati Kagami.

Dengan suara gesekan pelan, bola memasuki ring dengan mulus.

Sepuluh lawan sembilan. Kiyoshi menang. Semua orang bersorak, Kagami jatuh berlutut dengan putus asa di bawah ring. Tapi ia menolak untuk menyerah. Memanfaatkan kelengahan anggota timnya yang masih sibuk bersorak, Kagami mencoba menyelinap keluar dari gimnasium.

Sayangnya, usahanya untuk kabur gagal. Nigou sudah lebih dulu menghadang di pintu gimnasium, menggonggong riang ke arah Kagami sambil menggoyang-goyangkan ekor. Kagami hanya bisa berteriak tak berdaya.


Butuh usaha keras Kiyoshi untuk terus memegangi Kagami sepanjang sisa latihan sore itu supaya dia tidak kabur. Kagami berusaha meronta, tapi kekuatan Kiyoshi tidak bisa diremehkan. Belum lagi kakak kelasnya itu lebih besar darinya. Kiyoshi terus tertawa-tawa sambil memegangi kedua lengan Kagami di belakang tubuhnya. Akhirnya setelah latihan usai, Kagami sudah lelah meronta. Kedua tangannya sakit akibat cengkraman Kiyoshi, dan kepalanya juga berdenyut akibat Aida dan Hyuuga yang tak henti menampol kepalanya menyuruhnya berhenti berteriak.

"Sebentar lagi Aomine-kun datang menjemputmu seperti biasa," ujar Kuroko ketika peluit Aida berbunyi, tanda latihan usai.

Kagami sudah pucat dalam pegangan Kiyoshi. Ia tidak siap mental. Bagaimana kalau Aomine menolaknya?

"Tenang saja, Kagami-kun," ujar Kuroko lagi. "Semua pasti lancar."

Kagami mengabaikan Kuroko dan tepukan pelan Kiyoshi di punggungnya. Ia hanya ingin kabur saat ini.

"Kagami! Aomine datang!" pengumuman Aida membuat Kagami menegang. Ia membeku meskipun Kiyoshi sudah melepaskan pegangannya.

Seluruh tim berhenti beraktivitas, memandang Aomine yang baru saja memasuki gimnasium dengan tampang songongnya yang biasa, meskipun kali ini ditambah ekspresi heran mendapati semua orang memandangnya.

"Apa?" tanyanya pada member Seirin yang lain.

"Ada yang ingin Kagami-kun sampaikan padamu, Aomine-kun," jawab Kuroko.

Seolah itu adalah aba-aba, Kiyoshi dan Hyuuga mendorong Kagami sehingga ia berdiri di hadapan Aomine. Ia masih menunduk, tak berani memandang Aomine sama sekali.

"Apa?" tanya Aomine lagi, kali ini hanya pada Kagami.

Kagami membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar. Semua orang menunggu dengan tegang. Kagami menarik napas, mencoba lagi. Ia mendongak, memandang mata Aomine lekat-lekat. "Aomine, aku—"

BRAK!

"ADUH!"

Ucapan Kagami terpotong oleh kericuhan dari arah pintu masuk gimnasium. Semua orang menoleh, mendapati tim Touou saling tumpang tindih, dengan Momoi paling atas dan Wakamatsu paling bawah.

"Kalian mengikutiku?!" sentak Aomine, kesal.

Momoi hanya memberinya ekspresi minta maaf yang kelihatan imut dan akan mempan kalau saja Aomine tidak dibutakan oleh Kagami.

"Maaf menyela! Maaf!" seru Sakurai Ryou, buru-buru berlutut.

Aida melambaikan tangannya sambil lalu. "Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Kagami-kun, sekarang kembali ke…," suara Aida menghilang ketika ia menoleh ke arah Aomine dan Kagami, tapi kedua ace itu ternyata sudah lenyap. Mereka berdua ternyata memanfaatkan kelengahan semua orang untuk menyelinap keluar dari gimnasium, mengaplikasikan missdirection dengan sangat apik.

Gagal sudah rencana mereka.

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.

Kagami mengunci pintu akses ke atap di belakangnya, dan jatuh terduduk, terengah. Aomine sendiri berdiri membungkuk sambil memegangi lututnya di hadapannya. Mereka berdua sudah berhasil kabur sampai ke atap sekolah. Akhirnya.

"Oi," Aomine memecah keheningan.

Kagami mendongak menatapnya, dan kemudian ia menyadari situasi saat ini. Ia, berdua saja dengan Aomine, di atap sekolah, dengan taburan bintang menghiasi langit malam. Sontak wajahnya memanas.

"Mengenai apa yang ingin kau katakan padaku tadi di gimnasium…," ujar Aomine.

Kagami menahan napas. Ia lebih baik mati daripada disuruh menyatakan perasaannya pada Aomine dan ditolak. Ia ingin mencoba kabur saja, tapi badannya menolak diajak kompromi. Ia hanya bisa duduk bersandar pada daun pintu, memandang Aomine yang masih membungkuk di hadapannya, berusaha mengatur napas.

Kagami berusaha tertawa hambar. "Lupakan, itu tidak penting," ujarnya.

Aomine mengernyit, memandangnya. "Kalau tidak penting, tidak mungkin kan seluruh anggota timmu memaksamu mengatakannya?"

Kagami mencelos. Ia benci kalau Aomine jadi mendadak cerdas. Kagami menarik napas dalam-dalam. Yah, sekarang sudah tidak bisa mundur lagi. Tapi setidaknya sekarang tidak ada orang lain, jadi kalau ditolak, Kagami tidak akan terlalu malu dan bisa sedih sendiri.

Membulatkan tekad, Kagami membuka mulutnya. Ia tadinya berpikir ia akan terbata atau bahkan tidak ada suara yang keluar, tapi di luar dugaan, kata-katanya meluncur dengan lancar. Ia bahkan bisa mengucapkannya sambil memandang mata biru gelap Aomine, memperhatikan bahwa irisnya melebar seiring setiap kata yang keluar dari bibir Kagami.

Ketika Kagami selesai bicara, ia merasa lega. Setidaknya ia sudah mengatakannya. Jadi sekarang tinggal menunggu kata-kata penolakan macam apa yang akan Aomine ucapkan. Ia tersenyum lemah. Kagami bisa melihat ekspresi Aomine mengeras. Tepat seperti dugaannya.

Kagami membuka mulutnya lagi, hendak mencegah Aomine bicara, tapi lidahnya mendadak kelu. Kata-kata yang ingin ia ucapkan terhenti di tenggorokan. Kagami mencoba bicara lagi, tapi bibirnya tidak bergerak sesuai yang ia perintahkan. Karena Aomine tengah menciumnya.

Ia bisa merasakan bibir Aomine di bibirnya, menyadari bahwa itulah yang membuat lidahnya kelu.

Ketika Aomine menjauh, Kagami masih membelalak.

"Hei, aku juga. Tapi terimakasih sudah mengatakannya duluan," ujar Aomine.

Kagami memandang Aomine tidak percaya. Dia tidak ditolak.


Inspired by true story dimana saya jadi seluruh tim Seirinnya. Kalau kasus saya, cuma butuh tiga point tho. Oh, dan kisah aslinya hetero. Writing this indeed so nostalgic :) Sayangnya pasangan yang saya perjuangkan dengan tiga poin itu ternyata nggak bertahan lama. Semoga AoKaga yang diperjuangan SeirinTouou bertahan selamanya

Well, maaf kalau OOC dan gaje, saya cuma sedang pengen nulis dan malah jadinya kayak gini orz Maaf juga deskrip basketnya ngaco. Judul dari lirik Ultimate Zone-nya Kagami & Aomine, maaf nggak kreatif dan nggak nyambung orz. Maaf karena minta maaf terus ala Sakurai. Maaf. Pokoknya maaf atas semuanya orz