"Dari mana saja kau ?" pertanyaan retorik itu terdengar ketika Kyuhyun menginjakkan kakinya dianak tangga kelima.

"apa pedulimu?" Acuh tak acuh, Kyuhyun kembali melangkah menaiki satu demi satu anak tangga.

"Aku hyung-mu. Jadi itu peduliku" Jung Soo mengeram dengan tingkah Kyuhyun, hingga gigi atas dan bawahnya saling beradu.

"Hyung eoh?" Kyuhyun menatap Jung Soo dengan sudut matanya yang terkesan meremehkan. "tapi kufikir selama ini aku merasa tak memiliki hyung" Langkah Kyuhyun terhenti untuk beberapa saat. Kyuhyun menarik bibirnya 2 centi kekanan, memberikan seringaian mengejek sebelum akhirnya kembali melangkah meninggalkan Jung Soo yang membatu.

.

.

Bocah laki-laki 17 tahun itu duduk disudut ruangan kelas yang begitu riuh, disudut paling belakang ruangan yang bersisian dengan jendela yang berhadapan langsung dengan halaman sekolah yang terdapat lapangan basket. Dengan kedua telinga yang tersumpal earphone membuatnya benar-benar tak terusik dengan kebisingan sekitarnya.

Sepintas lalu, orang yang melihatnya pasti akan mengira dia adalah sicupu korban bullying yang selalu dikucilkan. Jangan salah, dengan reputasi marga "Cho" yang disandangnya, menempatkan keluarganya pada salah satu pemutar uang paling berpengaruh di Seoul. Tempat yang selalu diharap pengusaha seluruh dunia untuk menginvestasikan uang mereka pada saham "Cho Corp". Dengan reputasi keluarga yang demikian siapa yang tidak ingin atau menolak berteman dengan putra bungsu keluarga Cho itu ?

Jika demikian mengapa putra bungsu keluarga Cho itu tak memiliki teman? Itu karna memang ia sendiri yang tak membiarkan tubuhnya dan hatinya untuk menerima orang lain. Sifat introvertnya membuatnya tak terlalu nyaman mendekatkan dirinya pada orang. Belum lagi dengan tubuhnya yang kaku seperti bongkahan es, suara merdunya yang tak pernah dengar, dan mata bulatnya yang seperti boneka memandang tajam, dalam dan menusuk membuat orang berfikir dua kali untuk sekedar menyapanya.

Matanya menatap keluar jendela, memperhatikan sekumpulan bocah lelaki yang sedang bermain basket. Matanya mengikuti siapa saja orang mengambil alih men-drable bola, hingga akhirnya tim mana yang berhasil memasukkan bola itu kedalam ring.

'Aku ingin bermain basket' ketika fikiran itu mengambang diotaknya, pandangan matanya berubah sendu.

Kala itu Kyuhyun masih duduk dibangku Junior High School, Kyuhyun membawa pulang bola basket yang baru dibelinya tadi sepulang sekolah. Dia sering melihat anak-anak seusianya memainkan bola itu dengan dipantulkan kelantai, di taman komplek perumahannya. Itu seperti sesuatu yang menyenangkan, ia juga ingin memainkannya namun ia tak mungkin meninggalkan Donghae atau ia tak mungkin membawa Donghae bermain, itu sama saja ia mencoba membunuh Donghae.

Kyuhyun memainkan bola itu sendirian dihalaman belakang rumahnya. Donghae dan Jung Soo duduk dibangku panjang beberapa meter dari Kyuhyun. Jung Soo sedang mengerjakan tugas sekolahnya sementara Donghae hanya duduk memperhatikan Kyuhyun.

Kyuhyun memegan bola itu, memutar beberapa kali hingga jatuh kelantai. 'bola ini tidak cocok untuk dimainkan sendiri' pikirnya. Bermain seorang diri benar-benar membuatnya bosan. Donghae memperhatikannya, hingga akhirnya ia berjalan mendekat.

"mari bermain!" Donghae menarik bola dari tangan Kyuhyun dan berlari mendriblenya. Kyuhyun sontak terkejut hingga berteriak "Hae Hyungiee!'. Teriakan Kyuhyun menarik perhatian Jung Soo dari lembar-lembar tugasnya. Retina matanya mendapati Donghae berlari mendrible bola. Ia yang terkejut sontak ikut berteriak "DONGHAEEE!"

Donghae tak memperdulikannya, ia larut dalam kesenangannya mendrible bola basket Kyuhyun, hingga akhirnya tangannya tak lagi memukul bola hingga bola itu menggelinding entah kemana. Tubuhnya berlutut statis, tangan kanannya meraih dada kirinya dan meremasnya dengan kuat. Kyuhyun yang berada didekatnya segera berlari mendekat.

"Hyungiiee.. gwenchana?" Donghae tak menjawab, tangannya terus meremas dada kirinya dengan kuat, hingga beberapa kali ia terbatuk. Jung Soo bergegas menghampiri Donghae, mendorong Kyuhyun hingga terjatuh, ia kemudian menaikkan donghae digendongannya dan membawa lari Donghae memasuki rumah mereka. Sebelum benar-benar melangkah, Jung Soo sempat meneriaki Kyuhyun "KENAPA MEMBIARKANNYA HAH? KAU INGIN MEMBUNUHNYA?"

.

Uisa yang memeriksa Donghae telah pulang, ia bilang Donghae hanya menerima serangan kecil karna kelelahan. Namun itu tak juga membuat nyonya Lee Daehee berhenti memarahi kyuhyun. "Kau sengaja membawa pulang bola itu, agar Donghae memainkannya dan berakhir seperti ini kan?'

Kyuhyun sedang diadili diruang Tv, memiihi ruangan yang jauh dari kamar Donghae, mengantisipasi Donghae mendengar bentakan-bentakan mereka. Jung Soo, Lee Daehee, dan Cho Seu Heun duduk dihadapannya dan menatapnya dengan tatapan yang membuat sekujur tubuh Kyuhyun menggigil.

"ani eomma.. tidak seperti itu" Kyuhyun berusaha membela diri.

"Eomma tidak sedang menuntu pembela Kyuhyun-ah" satu kalimat yang keluar dari mulut Lee Daehee menghapus beribu kata-kata penjelasan yang telah disusun Kyuhyun diotaknya.

Ketika akhirnya malam itu ditutup dengan kalimat tegas dari tuan Cho seu heun benar-benar mebuat Kyuhyun mengubur impiannya yang berdampak dengan berubahnya keribadiannya "Mulai sekarang, tidak ada lagi basket dan semacamnya. Appa tak ingin mendengar lagi tentang basket. Jangan ada diantara kalian yang coba memainkannya"

Ketika Ahn Seongsaengnim memasuki kelas, keriuhan meredam. Siswa kembali kebangkunya masing-masing hingga menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya.

.

.

"dari mana saja?" kalimat itu menggelegar seisi ruangan beraroma kromofom . Kyuhyun tak membalas, hanya terus berjalan kesisi ranjang. "kau tidak menjawabku!" Donghae menggembungkan pipinya dengan tangan yang terlipat didepan dada.

"berhenti melakukan itu, itu tak pantas dengan umurmu" Kyuhyun menarik kursi disisi ranjang sebelum akhirnya mendudukinya. Donghae memalingkan wajahnya kesisi yang berlawanan dengan Kyuhyun, hingga Kyuhyun tersenyum samar karnanya.

Hingga akhirnya mata Kyuhyun beradu pandang dengan mata orang tuanya yang duduk disofa. Mata itu memandang tajam kyuhyun, setajam mata burung elang yang siap menerkam anak ayam. sangat tajam, hingga dapat melunturkan senyum samar dibibir Kyuhyun.

"yak! Kau benar-benar tak berniat menjawab pertanyaanku?" Suara Dongae yang mengintruksi membuat Kyuhyun mengalihkan pandangannya. "kau tau pasti hyung. Kau fikir dari mana lagi aku dengan memakai pakaian seperti ini?" Kyuhyun menunjuk pada seragam sekolahnya.

"maksudku kemarin. Kemana saja kau hingga tak datang mengunjungiku ?" Donghae memutar bola matanya.

"AH! Kemarin aku mendapat banyak tugas, hingga tak bisa mengunjungimu!"

"tugas? Aku yakin bukan itu. Sejak kapan kau begitu rajin mengerjakan tugas?" Doghae menggeleng kepalanya, sebagai ekspresi tak yakinnya.

"sungguh hyungie"

"Aku berani taruhan bahwa kemarin kau menghabiskan waktu berkencan dengan sikotak 4 persegikan?"

"ani, aku mengerjakan tugas!"

"aku tak percaya!"

"terserahmu saja" Kyuhyun memutar bola matanya.

PLETAK!

"APPO!" Kyuhyun berjengkit, mengelus kepala belakangnya yang baru saja dipukul Donghae

"tidak sopan, memutar matamu didepan orang yang lebih tua" Donghae menjulurkan lidahnya.

.

Kyuhyun menghabiskan setengah harinya dirumah sakit, Donghae terus menerus menahannya pulang. Donghae bercerita tentang ini dan itu, sementara Kyuhyun sesekali menanggapinya. Kyuhyun menyengkap manset tangan, memperlihatkan arloji mewah sekelas roxy melingkari pergelangan tangannya. Jangan Tanya darimana ia bisa mendapatkannya, apa kalian lupa dengan Cho Corp, perusahaan yang mengambil alih pemutaran uang seoul? Hanya untuk jam tangan sekelas Roxy, bukanlah hal sulit bagi keluarga Cho.

"aku harus pulang, ini sudah malam!" Kyuhyun membuka suaranya, kali ini lebih terdengar seperti desahan pelan.

"tidak boleh! Ini hukuman untukmu karna tak mengunjungiku kemari" Donghae menggelengkan kepalanya beberapa kali.

"Hyungiie.." Nada rendah disuara itu, benar-benar tak pernah ditujukan untuk orang lain.

"ne..ne..ne arraso, araso! Tapi kau harus janji untuk mengunjungiku besok!" Doghae tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.

Kyuhyun mengangguk pias, menyambar tasnya ia kemudia melangkah meninggalkan ruangan yang didominasi dengan warnna putih tersebut, diikuti Cho Seu Heun dibelakangnya

.

.

"Kyuhyun-ah" Suara itu tak begitu besar sebenarnya, namun menggema disepanjang koridor rumah sakit yang dilalui Kyuhyun. Kyuhyun menghentikan langkahnya, melirik kebelakang ia mendapati appanya berada sekitar 2 meter di belakangnya.

Cho Seu Heun maju beberapa langkah kemudian menarik tangan Kyuhyun dalam genggamannya dan berjalan menjauhi ruangan Donghae. Kyuhyun mengernyit beberapa kali merasakan sakit ditangannya yang ditarik secara paksa.

Cho Seu heun melepaskan genggamannya pada tangan Kyuhyun. Seu heun membawa Kyuhyun ketaman rumah sakit. Meninggalkan Kyuhyun beberapa langkah dibelakangnya Seu Heun menapaki bokongnya pada bangku panjang dibawah pohon. Kyuhyun mengikutinya, berjalan mendekat hingga akhirnya Kyuhyun duduk disebelahnya.

"Berhenti bersikap kenakak-kanakan Kyuhyun-ah" Suara itu terdengar rendah, namun entah mengapa terasa begitu menusuk telinga Kyuhyun.

Kyuhyun harus menahan diri untuk tidak terperangah, untuk tidak membiarkan mulutnya ternganga lebar selama beberapa detik berikutnya sesaat setelah dia mendengar apa yang dikatakan oleh appanya. Mata bulatnya itu mengerjap, membuat bulu matanya yang panjang menyapu pipinya ketika dia mengedipkan kedua matanya dengan penuh rasa tidak percaya. Iris cokelat terangnya dengan cepat segera terarah fokus pada Appanya yang bahkan tak beniat meliriknya.

"Kekanak-kanakan?" Kyuhyun bergumam tak percaya. Dia dapat melihat Appanya mengangguk, mengiyakan ucapanya. Kyuhyun meneguk ludahnya, sebelum akhirnya sebuah senyuman miris tercetak jelas dibibirnya.

"Kami tau kau begitu cemburu dengan Donghae hanya karna kami lebih memperhatikannya" Cho Seu Heun membuang nafas perlahan kemudian kembali melanjutkan ucapanya "Tapi, kau sendiri tau bagaimana keadaan Donghae" kalimat yang sama. Itu yang ada difikiran Kyuhyun ketika mendengar, Selalu seperti ini. ddan setelah ini akan dilanjutkan dengan kalimat...

" tak bisakah kau hilang keegoisanmu kali ini saja, Kyuhyun-ah? Ku mohon jangan masuk klub Basket" Cho Seu Heun menoleh kan kepalanya kesamping, sejurus mentap kemata Kyuhyun.

Kyuhyun mendesah dengan kuat, paru-parunya serasa diremas dengan kuat karna ia benar-benar merasa sulit bernafas. Kyuhyun tak mengatakan apapun ketika ia mengangkat tubuhnya dan berjalan menjauh

"KYUHYUN-AH! KYUHYUN-AH KYUHYUN-AH! CHO KYUHYUN" Seu Heun terus berteriak menyerukan nama Kyuhyun, membuat berapa orang disekitarnya menatapnya meras terusik. Namun sosok Kyuhyun tak sekalipun berbalik melihatnya.

.

.

Kyuhyun mengemudikan SUV Audi-nya dengan kecepatan penuh. Entah apa yang tengah difikirkannya hingga dia mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata peraturan. Tak takutkah dia dengan polisi yang akan dengan senang hati mengejarnya dan membawanya ke penjara? Atau tak takutkah dia dengan kemungkinan terburuknya ? Kecelakaan fatal ?

Entahlah, tapi Kyuhyun tak memikirkan itu saat ini. Jika polisi dengan senang hati ingin mengejarnya dan menjebloskannya ke penjara, silahkan lakukan! Toh, jika itu terjadi siapa yang peduli. Dan ada baiknya jika kecelakaan benar-benar terjadi dan nyawanya melayang saat itu juga.

Kyuhyun benar-benar tak habis fikir dengan maksud ucapan appa-nya. 'Menghilangkan egois untuk sekali ini saja?' Hey, nyaris seumurnya hidupnya ia menekan segala egois yang dimilikinya. Saat ia di Elemnentari School, Ada waktu dimana orang tua diminta menghadiri kelas anaknya untk melihat proses dan hasil belajar anaknya. Karna berada satu sekolah walaupun tak satu kelas dengan Donghae jadwal kehadiran orang tua selalu sama, sehingga selama di sekolah dasar tak sekalipun orang tua Kyuhyun menghadiri kelasnya hanya untuk melihatnya.

Kyuhyun pernah menyuarakan itu, dan orang tua-nya menjawab bahwa mereka tak ingin membuat Donghae sedih karna itu akan mempengaruhi kondisinya. Lalu apa mereka fikir karna Kyuhyun lebih sehat dari Donghae, Kyuhyun tak merasa sedih? Tanpa mereka sadari, ada luka kasat mata yang mulai timbul yang kian hari kian melebar. Belum cukupkah ia menekan keegoisannya? Kyuhyun pernah membatalkan camp bersama teman sekolahnya hanya karna Donghae yang sedih tak diizinkan ikut.

Dan kali inipun ia harus merelekan keinginannya, hanya karna Donghae yang sedih karna tak dapat bemain basket, dan memasuki klub basket sepertinya.

Kyuhyun tak menyadari ketika setetes air mata meluncur bebas dari matanya dan mengalir dengan tangkas memutar stir mobilnya. Ck. Sejak kapan anak itu punya kemampuan drift sebaik itu itu? Tidak mungkin kan dia belajar mengenai drift mobil dari film Fast and Furious? Ah ya, gagasan bodoh dari mana lagi itu?

.

.

Suasana kelas itu masih sama seperti hari biasanya, bocah lelaki yang duduk disudut dekat jendela paling belakangpun masih sama seperti biasanya. Dengan earphone yang menempel dikedua telinga, dan mata yang selalu mengawasi orang-orang dengan seragam sepertinya, mendrible bola basket dengan lincahnya.

Kang Seongsaengnim memasuki kelas itu dengan seorang bocah lelaki asing yang mengikuti dibelakangnya. Mengalihkan perhatian Kyuhyun dari lapangan basket, walaupun ia tak benarbenar memperhatikan anak laki-laki itu.

"dia siswa baru seongsengnim?" Seorang diantara siswa kelas itu mengajukan pertanyaan.

"ne" jawaban Kang seongsaengnim memicu berapa jeritan-jeritan dari para siswa perempuan. "kenalkan dirimu nak!" Kang Seongsaengnim sedikit bergeser dari posisinya, memberi ruang untuk siswa baru tersebut.

Bocah itu bergeser beberapa langkah agar posisinya berada ditengah-tengah kelas. "Anyeongaseyo. Shim Changmin imnida. Aku pindahan dari jepang. Mohon sedikit bantuannya" Changmin membungkukkan sedikit tubuhnya. Dengan tubuh tinggi dan atletis bak binaragawan tak heran beberapa siswa perempuan menjerit ketika ia memasuki ruangan tadi. Dengan wajah yag rupawan bak idol tak heran beberapa siswa umumnya perempuan dibuatnya berdecak kagum. Dan dengan senyum tulus bak bayi tak heran banyak dari para siswa ingin menjadikannya teman.

Changmin melirik kiri dan kanan mencari bangku yang dapat ia tempati. Ketika akhirnya matanya mendapati kursi dipaling belakang disebelah Kyuhyun, Changmin berjalan mendekat.

"Anyeong, apa bangku ini tak ada pemiliknya?" Changmin menatap Kyuhyun yang tak kunjung menatapnya. Changmin menunggu hingga 5 menit namun Kyuhyun tak juga memberi jawaban, Changmin menganggap diamnya Kyuhyun sebagai jawaban bahwa bangku itu tak ada pemiliknya.

"Changmin imnida" Changmin membuat nada seceria mungkin pada suaranya, ia menyodorkan tangan untuk berkenalan dengan Kyuhyun. Kyuhyun hanya meliriknya sekilas dengan ujung matanya sebelum akhirnya mengabaikan Changmin.

Changmin melirik telapak tangannya, ia tak mengerti bagian mana dari pengenalan dirinya yang salah. Seingatnya orang selalu dengan senang hati mebalas menjabat tangannya dan memperkenalkan diri. Namun Changmin tak begitu memusingkan perlakuan Kyuhyun ketika suara Kang seongsaengnim mulai terdengar.

.

.

"Cho-Kyu-hyun" Changmin mencoba mengeja nama yang tertulis dibuku latihan Kyuhyun yang baru dibagikan. Kyuhyun menatapnya tajam, kemudian menarik buku tersebut dan menyimpannya dalam tas. Bel istirahat baru saja berbunyi, para siswa berbondong-bondong meninggalkan kelas menuju surganya sekolah, KANTIN.

Beberapa siswa yang lewat mengajaknya pergi ke kantin bersama, namun Changmin menolaknya dengan alasan bahwa dia ingin ke perpustakaan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran. Namun sedari tadi Changmin heran, mengapa banyak siswa yang mengajaknya tapi tak satupun mengajak Kyuhyun. Bahkan sedari tadi ia tak melihat Kyuhyun berkomunikasi dengan salah satu siswa kelasnya.

Kelas telah sepi, hanya menyisakan 2 bocah yang duduk disisi paling belakang, Changmin dan Kyuhyun. Sementara Changmin sibuk dengan pemikirannya, Kyuhyun hanya diam dan memperhatikan keuar jendela. Tak ada yang benar-benar dia perhatikan sesuatu, karna pandangan mata itu terlihat kosong, Raga Kyuhyun seperti terbang jauh entah kemana.

"Changmin imnida" Kyuhyun menoleh dan mendapati Changmin disebelahnya sedang menatap kearahnya dengan senyum yang begitu ceria dan tulus.

"Aku sudah mendengarnya tadi" Kyuhyun menjawab dengan acuh dan kembali memalingkan wajahnya.

Changmin memandang Kyuhyun yang terus menatap kearah lapangan basket. Sisi hatinya berkata bahwa ia harus menjadi teman Kyuhyun bagaimanapun caranya.

.

.

PLAK

Pipi bocah 9 tahun itu memerah membentuk telapak tangan. Kyuhyun terdiam ketika rasa perih menghantam wajahnya. Kyuhyun dapat melihat Appanya berlalu setelahnya meninggalkan dirinya.

"apa mau mu sebenarnya ? kau ingin membunuh Donghae-ku?" wanita berusia akhir 20-an yang biasa dipanggil Kyuhyun 'eomma' itu, berteriak dengan keras dihadapan Kyuhyun. Hingga tubuh Kyuhyun bergetar karnanya. Setelah berhasil membuat anak bungsunya ketakutan, Lee Daehee berlalu meninggalkannya berjalan kepintu ruang rawat Donghae.

Jung Soo tiba-tiba berdiri dihadapannya memandangnya dengan tajam dengan sorot mata penuh kebencian.

"mulai sekarang jangan panggil aku hyung-mu! Aku tak sudi memiliki adik sekejam kau" Jung Soo menabrak sudut bahu kanannya dengan kuat dan kemudian melanjutkan jalannya tanpa berbalik menatap Kyuhyun.

Kyuhyun terbangun dari tidurnya, ternyata ia bermimpi. Ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Seberapa keraspun ia berusaha untuk melupakan semuanya namun ia tak bisa, sejak kejadian 8 tahun lalu saat keluarganya –kecuali Donghae– menatap penuh benci kepadanya hanya karna penyakit Donghae kambuh saat bermain bersamanya.

"Kufikir kau belum bangun" Jung Soo berdiri diambang pintung ketika Kyuhyun sadar dari lamunannya. Kyuhyun menatapnya sesaat sebelum akhirnya mengangkat tubuhnya dari ranjangnya, menyambar handuk dan berjalan memasuki kamar mandi.

Jung Soo mengernyitkan dahinya, hingga timbul beberapa lipatan disana. Menyadari bahwa wajah adiknya terlihat lebih pucat dan mata yang lebih sayu dari biasanya. Seingatnya adiknya memang berkulit pucat, tapi kali ini kulit itu terlihat lebih pucat. Mata itu juga biasanya memag kosong, kaku dan tak bercahaya namun kali ini ntah kenapa mata itu terlihat begitu memprihatinkan.

Jung Soo menggelengkan kepala ragu kemudian menutup pintu kamar Kyuhyun ia berjalan menuruni anak tangga.

.

.

"Mana anak itu ? jam segini belum turun? Dimana kedisiplinannya?" Cho Seu Heun menggerutu panjang pendek. Jung Soo dan Nyonya Dae Hee hanya diam disisi kanan dan kirinya. Donghae telah dibolehkan pulang kerumah kemarin sehingga Seu Heun dan Dae Hee bisa sarapan dirumah pagi ini.

"Tuan Kyuhyun sedang tidak enak badan tuan!" Seorang pelayan yang data membawakan minuman yang diminta Jung Soo, menjelaskan pada Cho Seu Heun. Ketiga anggota keuarga menatap wanita yang berusia pertengahan 20-an dengan pandangan terkejut.

"Siapa bilang? Aku baik-baik saja" Sosok yang berjalan menuruni tangga itu menimpalinya. Tampilannya tak begitu rapi, tas ransel tersampir disebelah tangannya. Sementara kedua tangannnya sibuk memperbaiki dasi yang terlihat tak beraturan. Ditambah dengan wajahnya yang terlihat pucat, tak dapat dipungkiri ketiga orang yang duduk dimeja makan merasa khawatir.

"kau tidak makan?" Jung Soo menegur Kyuhyun yang melewati ruang makan begitu saja, siapa tau adiknya itu belum sadar sepenuhnya dari tidurnya hingga melupakan ruang makan rumahnya.

"aku makan disekolah saja" Kyuhyun bahkan tak menghentikan langkahnya atau sekedar melirik hyungnya, ia teruss berjalan dengan tatapan mata lurus kedepan. Di sisi lain Jung Soo merasa ada sedikit perih dihatinya melihat adiknya yang dulu ceria dan manja padanya berubah menjadi sosok yang tak dikenalnya.

.

.

Kyuhyun duduk dibangkunya dengan tenang, namun keringat terus mengucur didahinya padahal AC ruangan berfungsi dengan baik, Changmin yang duduk disebelah sampai dibuatnya terheran-heran. Kyuhyun kembali memijit pelipisnya dengan jempol dan jari tengahnya untuk kesekian kalinya. Pening dikepalanya meyerang dengan hebat.

Seperti hari kemarin, saat suara indah bel istirahat berbunyi siswa-siswa berlomba keluar dari ruang kelas dan menyisakan dua siswa lain yang duduk disudut ruangan yang terlihat enggan ikut berlomba keluar dari ruang kelas.

"Kyuhyun-ah, gwenchana?" Changmin memperhatikan tiap inchi wajah Kyuhyun, dan mendapati ia mendapati bibir Kyuhyun yang memucat, kulit yang memutih bak kertas dan mata yang terlihat sayu. reflek Changmin meletakkan tangannya dijidat Kyuhyun.

"Ommo! Badanmu panas sekali Kyuhyun-ah!" Changmin berjengkit kaget merasakan suhu tubuh Kyuhyun. Kyuhyun menepis tangan Changmin dengan kuat, walaupun tak sekuat yang dibayangkan karna tubuhnya yang benar-benar lemas.

"ayo kita keruang kesehatan!" Changmin meletakkan satu tangannya dibahu Kyuhyun, berniat untuk membantu Kyuhyun berjalan ke ruang kesehatan. Namun tanpa diduga, Kyuhyun menyentak tangan Changmin dengan kuat, sehingga Changmin kaget.

"aku baik-baik saja!" kalimat itu terdengar sangat dingin ditelinga Changmin, khas orang yang kesepian dan rindu perhatian. Changmin menopang tubuh Kyuhyun yang nyaris jatuh ketika ia berdiri.

"yang seperti ini kau bilang baik-baik saja?" Changmin menarik tubuh Kyuhyun hingga pemuda jangkung itu tak dapat memberontak, kemudian menggeretnya menuju ruang kesehatan. Entah karna tubuhnya yang terlalu lemas, atau karna ia sedang tak ingin berdebat, Kyuhyun bahkan tak melawan ketika Changmin terus mengeretnya berjalan. Beberapa siswa yang bersisian dengan mereka dibuat terheran-heran karna sosok Kyuhyun yang dikenal tak pernah memiliki teman terihat takluk ditangan Changmin.

Changmin membaringkan Kyuhyun pada single bed diruang kesehatan, sementar Kyuhyun langsung memejamkan matanya merasa tenaganya telah benar-benar terkuras hanya untu berjalan dari kelasnya keruang kesehatan. Changmin menarik selimut hingga kebatas dada Kyuhyun.

Changmin kemudian berjalan menuju kotak obat, meneliti setiap obat yang ada disana hingga akhirnya memilih obat penurun panas. Ia kembali berjalan kearah Kyuhyun, membangunkan Kyuhyun dengan lembut hingga akhirnya mata Kyuhyun mengerjap. Changmin menyodorkan obat keaah Kyuhyun yang dibalas Kyuhyun dengan gelengan.

"kau harus meminum obatmu!" Changmin berdecak frustasi, bagaimana mungkin ada orang yang masih mempertahankan ego dan gengsinya dalam keadaan seperti ini, Changmin tak habis fikir.

"aku belum makan" suara itu terdengar begitu memorihatinkan

"kau belum makan?" Changmin memelotokan matanya sebelum akhirnya pergi berlalu meninggalkan Kyuhyun.

.

Changmin dengan cekatan membuka bungkus roti yang baru saja dibelinya, memberikannya pada Kyuhyun yang dimakan Kyuhyun dengan ragu-ragu. Changmin memberikan Kyuhyun obat penurun panas ketika Kyuhyun telah menghabiskan separuh roti yang dibelinya.

"Shiero. Aku tak mau minum obat" Kyuhyun melesakkan kepalanya pada bantal lebih dalam, menghindari obat yang diberikan Changmin.

"YAK! Kau harus meminumnya kyuhyun-ah. Agar demammu turun" Changmin memaksanya.

"Shiero" mata Kyuhyun mengerjap beberapa kali, membuat Changmin nyaris goyah

"Harus! Diminum!" Namun ini untuk kebaikan Kyuhyun

"Changmin-ssi" suara itu terdengar begitu memelas, siapa saja yang mendengarnya akan merasa tak tega.

Ruang Kesehatan itu dipenuhi dengan suara 2 pemuda itu. Yang satu suara terdengar seperti seorang anak yang memelas meminta dibeli gula-gula oleh ibunya, sementara satu lagi terdengar seperti seorang ibu yang menoak permohonan anaknya. Hingga yang akhirnya terdengar sang anak kalah dari sang ibu dan menuruti perintah ibunya.

.

.

Changmin tersenyum sendiri sambil sesekali menggelengkan kepala membayangkan kelakuan Kyuhyun kemarin saat diruang kesehatan. Benar-benar berada diluar imjinasikan, seorang Kyuhyun yang terkenal sangat dingin bisa bertingkah semanja itu.

Changmin mengernyit heran ketika tangan seseorang lengkap dengan beberapa lembar uang won berada dimejanya. Mengikuti tangan itu, Changmin semakin dibuat heran ketika mendapati Kyuhyun sebagai pelakunya. Changmin tak mengatakan sepatah katapun, namun matanya menuntut penjelasan.

"untuk uang rotimu kemarin" Kyuhyun menarik tangannya dari lembarn uang won yang diberikannya pada Changmin.

"aku tidak memintanya" Changmin membalas, tanganya meraih uang won itu dan menggesernya kemeja Kyuhyun

"terserah memintanya atau tidak, tapi aku Cho Kyuhyun tak terbiasa memiliki hutang pada orang" Kyuhyun kembali menggeser uang itu kemeja Changmin.

"Jika kau merasa memiliki hutang, aku tak memintanya dibayar dengan uang!" Kyuhyun memandang changmin dengan alis yang bertaut menjadi satu. Tak mengerti dengan ucapan Changmin.

Uang itu telah bergeser kembali ketempat Kyuhyun. Saat Kyuhyun akan menggesernya Ahn Seonsaengnim memasuki ruangan sehingga Kyuhyun urung melakukannya.

.

.

Hari berlalu dengan cepat hingga tak terasa sudah 1 bulan sejak Changmin pindah disekolah ini, namun 1 bulan ternyata tak cukup untuk menjadikan Kyuhyun sebagai sahabat.

Impian Kyuhyun untuk dapat tenggelam dalam kesunyian di perpustakaan lenyap seketika saat Changmin hadir dihadapannya dengan senyum khasnya. Kyuhyun memutar bola matanya dan kembali larut dengan buku yang sedari tadi digenggamnya.

Changmin mempoutkan mulutnya membentuk kerucut lucu sepanjang 2 centi. Diam-diam Kyuhyun yang mencuri-curi pandang berdecak kagum dalam hati, 'bagaimana bisa bocah itu terlihat seperti anak usia 5 tahun yang tengah merajuk.'

'kyuhyun-ah.. kyuhyun-ah.. kyuhyun-ah" changmin memanggil-manggil Kyuhyun, namun Kyuhyun mengabaikannya ia masih larut dengan buku setebal 10 centi, walau sebenarnya ia tak bisa fokus.

Changmin tak menyerah, berpindah kesisi kanan Kyuhyun ia menaik-narik lengan baju Kyuhyun membuat Kyuhyun berdecak sebal. Kyuhyun melirik kesekitar mendapati orang-orang disekitarnya melayangkan tatapan menegur.

Kyuhyun mengangkat tubuhnya unuk berdiri ia berjalan menjauhi Changmin sambil membawa buku tebal disisi tangan kirinya. Sementara Changmin mengikutiya dibelakangnya sambil memanggil-manggil Kyuhyun membuat kegaduhan di Perpustakaan

Kyuhyun mengeram kesal, namun tak menjawab panggilan itu. Ia terus berjalan hingga berhenti didepan salah satu rak buku. Meletakkan buku tersebut pada bagian rak kedua, lalu ia melirik Changmin dengan tajam.

Ditariknya tubuh Changmin membawanya keluar perpustakaan.

"Mwoya?" tanyanya kesal. Changmin membalasnya dengan cengiran lebar yang membuat Kyuhyun semakin kesal.

"kau ingat bahwa kau memiliki hutang denganku?"

"Hutang? Tapi kau bilang aku tak perlu membayarnya"

"aku tak bilang kau ta usah membayarnya. Tapi aku biang kau tak perlu membayarnya dengan uang" Balas Changmin

"lalu bagaimana aku membayarnya?" Kyuhyun bertanya dengan kesal. 'Changmin tengah mempermainkannya' pikirnya

"ikuti aku" Changmin menarik tangan Kyuhyun cepat membuat siempunya tak dapat menolak.

.

Kyuhyun mematung ketika Changmin membawanya kelapangan basket. Selama ini Changmin sering memperhatikan Kyuhyun yang memandang kelapangan basket, ntah itu ada orang bermain atau tidak. Namun ia heran mengapa Kyuhyun tak pernah bermain basket.

"apa maksudmu?" Kyuhyun memicingkan matanya menatap Changmin

"Jika kau membayar hutangmu, kau harus menang melawanku bermain basket" balas Changmin dengan tenang.

"kau gila, aku tidak bermain basket" Kyuhyun membalikan badannya dan berjalan meninggalkan Changmin.

"terserahmu saja, tapi selain ini kau tak bisa membayar hutangmu. Seingatku kau pernah bilang 'aku Cho Kyuhyun tak terbiasa memiliki hutang pada orang'?" Changmin berbicara dengan santai sambil berjalan mendekati lapangan.

Kyuhyun mengeram lalu kemudian kembali berbalik berjalan menuju tengah lapangan. Changmin yang meliriknya dengan sudut mata dibuatnya tersenyum.

.

Beberapa siswa lainnya ikut berpartisipasi dalam permainan basket itu. Changmin dan Kyuhyun berada ditim yang berlawanan. Kyuhyun mendrible bola dengan lincahnya ke ring tim lawan. Benar-benar tak terlihat dia adalah pemula. Dia melakukan lay up, sehingga bola melayang dan masuk kedalam ring. Menambah poin untuk timnya, Kyuhyun tersenyum senang. Entahlah, setelah 8 tahun, ini untuk pertama kali ia merasa benar-benar hidup. Ini untuk pertama kali ia merasa benar-bena bahagia.

Dalam hati Changmin, memuji begitu besarnya melihat senyuman itu. Ini untuk pertama kalinya. Dia harus benar-benar mengakui bahwa senyuman itu begitu mempesona. Ia sangat senang karna bisa membuat senyuman itu akhirnya muncul.

Changmin menyambar bola dari tangan Kyuhyun, melakukan serangan balik dengan cepat Changmin mengoper bolanya kepada teman satu timnya, kemudian berlari kesayap kanan, mendapat operan bola lagi, Changmin melakukan tembakan langsung ke ring.

Permainan berakhir

"hutangmu belum lunas Kyuhyun-ah" Changmin mengambil 2 botol air mineral yang sempat diberikannya. Satu diantaranyaa dilemparnya pada Kyuhyun yang ditangkap sempurna oleh Kyuhyun.

Kyuhyun memutar bola matanya kesal, seakan-akan dia membenci keadaan ini. padahal dalam hati ia bersyukur, setidaknya karna hutang itu dia selalu memiliki alasan untuk bermain basket.

.

.

Changmin menarik tangan Kyuhyun setelah nada indah yang ditunggu-tunggu sebagian besar siswa berbunyi, bel pulang sekolah. Kyuhyun menepis tangan Changmin saat mereka berada dikoridor yang cukup sep.

"apa lagi sekarang?" Kyuhyun memandang Changmin dengan sudut matanya.

"temani aku!" Changmin membuat pandang memohon yang dibalas Kyuhyun dengan memutar bola matanya.

"aku sibuk!" Kyuhyun baru akan berjalan balik ketika tas rnaselnya ditarik Changmin, dan diseret Changmin untuk mengikutinya.

.

"YAK! YAK! AISSHH" Kyuhyun dari tadi tak henti-hentinya menggerutu. Changmin membawa Kyuhyun kesalah satu game center terbesar di Seoul. Melakukan batle game, Kyuhyun selalu menggerutu karn Changmin yang terus menerus mengalahkannya.

"mati kau Shim Changmin!" Kyuhyun begitu semangat, hingga tak sadar bahwa dia telah menunjukkan sisi lain dirinya dihadapan orang lain.

"YAK! YAK CHANGMIN-AH!" Kyuhyun lagi-lagi dibuatnya kesal karna Changmin berhasil mengalahkannya.

.

Changmin membawa Kyuhyun ke Sungai Han. Matahari telah beranjak keperaduaannya, dan kin sang bulan yang mengganti tugasnya menerangi bumi. Kedua bocah lelaki itu membaringkan badan mereka diatas rerumputan yang basah, dan menggunakan salah satu tangan mereka sebagai bantalan kepala.

Mereka menatap langit , merasakan dinginnya angin malam musim semi malam ini begitu terasa bahagia, Kyuhyun menghembuskan nafas , dan kepulan asap kecil keluar dari mulutnya menandakan dinginnya malam. Bintang yang bertsbur dilangit Seoul benar-benar menjaadi pemandangan sempurna malam ini.

" kenapa kau selalu sendiri ? apa sendiri itu menyenangkan ?" Tanya Changmin mengalihkan pandangannya padda Kyuhyun yang masih menatap lurus pada langit malam

" tentu saja menyenangkan , kau dapat dengan mudah memusatkan pikiranmu pada suatu kegiatan " Tanpa menoleh ia menjawab pertanyaan Changmin.

"Bukankah, memiliki teman lebih menyenangkan?" Changmin mengangkat sebelah alisnya

"aku tak terbiasa dan tak terlalu menyukainya?" Kyuhyun menanggapinya dengan santai

"bagaimana jika aku mengubah pandanganmu?"

"maksudmu?" kai ini Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Changmin.

"bolehkan aku menjadi sahabatmu dan kau akan merubah pandangmu tadi"

"Carilah orang lain yang ingin kau jadikan teman. Tapi bukan aku, aku bukan tipekal orang yang bisa dijadikan teman. Aku egois, tak peduli orang dan..."

"begitupun tak apa" Changmin memberikan senyuman selebar lima jari saat Kyuhyun menatapnya. "tak masalah jika kau egois, kau tak peduli orang lain. Tak masalah asal kau mau menganggapku sahabatmu"

.

.

Sejak hari itu hubungan Kyuhyun dan Changmin mulai berubah. Mereka kerap kali bersama-bersama. Bersama-sama? Hey, itu bukan bersama-sama kalau Changmin yang terus mengikuti Kyuhyun. Seperti permen karet yang menempel dan susah terlepas. Tapi biarlah, toh Kyuhyun tak pernah protes dengan keras dan ia-pun sepertinya tak begitu keberatan.

Mereka pun sering bermain basket bersama siswa lain, dan setiap jam sekolah berakhir mereka sering pergi ke game centre dan melakukan battle game. Untuk hal ini Kyuhyun harus mengucapkan termakasih yang sebesar-besarnya pada Changmin, setidaknya karna Changmin ia dapat merasakan sedikit kebahagiaan.

"Kyuhyun-ah! Ya! Tunggu aku!" Sebuah teriakan menggema diantara dinding-dinding lorong sekolah, kakinya yang jenjang melangkah lebar mendekati seseorang berkulit pucat dengan wajah dingin yang amat kentara, Cho Kyuhyun. "Berhenti berteriak bodoh." Seloroh Kyuhyun tanpa ampun pada sahabatnya yang masih berjalan atau lebih tepatnya setengah berlari.

"Aissh, arraseo mianhae." Changmin sahabat Kyuhyun menggerutu panjang pendek diantara kekesalannya karena selalu mendapat perlakuan dingin dari Kyuhyun. Dilihatnya Kyuhyun berjalan meninggalkannya. aku sahabatmu tapi kadang aku merasa kau benar-benar tak dapat disentuh. "Ya! tunggu aku!"

.

.

Lee Daehee mengikuti gerakan putra bungsunya yang baru saja turun dari tangga. Kyuhyun telah rapi dengan setelan kemeja putih dan celana jeans, ditambah jam tangan Armani yang melingkar ditangan kirinya.

Wajah Kyuhyun tampak begitu cerah, senyuman manis yang tak dibuat-buatpun terpatri diwajahnya. Untuk beberapa saat DaeHee tampak heran, namun tak urung ia ikut senang melihat senyuman itu.

"mau kemana?" Tanya DaeHee. Kyuhyun melirik DaeHee yang tengah ditemani oleh majalah mode favoritnya.

"bertemu teman" Kyuhyun kembali melanjutkan langkahnya. DaeHee menautkan alisnya menjadi satu. 'Teman? Dia memiliki teman' fikir DaeHee

"Kyunie eodiga?" Donghae muncul dari kamarnya.

"aku mau—" Ucapan Kyuhyun dipotong Doghae yang menariknya secara paksa "temani aku ke rumah sakit ya"

"tapi Hyung aku—"

"jika Kyuhyun tidak ikut maka aku tidak mau pergi" Donghae membawa Kyuhyun kembali ke ruang TV tempat eomma-nya duduk santai.

"Tapi-" Kyuhyun mencoba menghindari permintaan Donghae. Karna Hari ini dia memiliki janji dengan Changmin.

"Ya sayang Kyuhyun akan ikut" Daehee mengusap kepala Donghae dengan lembut. Ia menatap Kyuhyun yang akan membuka mulutnya dan mengajukan protes.

"Jangan membantah Kyuhyun-ah! Kau mau Donghae tidak melakukan Chek Up dan kondisinya memburuk?" Kali ini pandangan nyonya DaeHee menajam. Kyuhyun tak membalas apapun lagi, ia hanya diam bahkan saat Donghae menariknya dan membawanya masuk kedalam mobil.

.

.

Kyuhyun buru-buru mengendarai mobilnya ke lapangan basket tempat ia berjanji dengan Changmin. Ia baru saja pulang setelah mengantar Donghae Chek Up, dan tanpa mengulur-ngulur waktu, ia langsu membawa SUV-audinya untuk menemui Changmin.

Kyuhyun menyapukan pandangannya keseluruh sisi lapangan, namun ia tak menemukan keberadaan Changmin, hingga Kyuhyun menunduk kecewa. Saat akhirnya ia akan berbalik, ia menemukan benda hitam didekat ujung sepatunya.

Kyuhyun membungkukkan badanya, dipungutnya benda segi 4 dengan layar ditengah-tengahnya. PSP, benda itu PSP. Tak hanya itu,Kyuhyun juga mendapati selembar kertas dengan coretan-coretan yang membentuk kalimat-kalimat.

Dear Kyuhyun,

Kyuhyun-ah mianhae, aku harus kembali ke Jepang saat ini juga. Aku tak bisa menunggumu lebih lama pesawatku akan berangkat sebentar lagi. Aku telah menghubungi ponselmu, namun yang kuterima hanya jawaban-jawaban membosankan dari operator bukan darimu, jadi kuharap surat ini bisa menjelaskannya padamu. Appa-ku terkena serangan jantung, dan sekarang sedang dalam keadaan koma. sebagai anak laki satu-satunya aku harus segera kembali dan mengambil alih perusahaan. Aku minta maaf. Jeongmal mianhae.

Kutinggalkan PSP-ku sebagai jaminan bahwa aku akan kembali. Kau harus berlatih dengan alat ini untuk meningkatkan kemampuanmu bermain game, hingga bisa mengalahkanku. Hutangmu kuanggap lunas Jika kau telah sampai pada level tertinggi, dan saat itu aku akan kembali dan akan mengajakmu kembali bertanding game. Ok? Baiklah Cho Kyuhyun, aku permisi jaga dirimu baik-baik

Your Handsome Friend

Shim Changmin

Kyuhyun berdecih dengan senyum miris dibibirnya. "kenapa tingkat percaya dirimu tinggi sekali hah?" namun sejurus dengan itu, satu air mata yang tak dapat ditahannya mengalir dipipinya.

Dia pergi, dia telah pergi, dan aku sendiri lagi. Kalimat itu terus menerus berputar dikepala Kyuhyun hingga menimbulkan sensasi pusing.

.

.

Tanpa Changmin, tak ada senyum Kyuhyun. Semua kembali ketempatnya, Kyuhyun kembali menjadi sosok yang kaku dan intovert. Kyuhyun menyingkap gorden yang menutupi jendela kamarnya, dan matanya langsung bertemu dengan langit malam kota Seoul yang ditaburi oleh bintang. Kyuhyun kembali menghela napas dalam-dalam dan menutupi jendela kamarnya dengan lembaran kain gorden. Kyuhyun menghembuskan napas. Ada perasaan menggelitik dihatinya, Dia merindukan Changmin tapi apa yang bisa dia lakukan?

Ditariknya PSP pemberian Changmin dari atas meja belajarnya, kemudian direbahkannya tubuhnya diatas kasur king-sizenya. "aku sudah mendekati level akhir, bodoh. jadi siap-siap untuk kembali" Diaktifkannya PSP itu, kemudian dia mulai bermain.

Hari-hari Kyuhyun selalu begini setelah kepergian Changmin. Pulang sekolah, dia akan memendam dirinya sendiri didalam kamar, memainkan PSP hingga larut malam, hanya agar cepat mencapaia level tertinggi. Kyuhyun bahkan menjadi sosok yang lebih dingin dari sebelumnya. Yang difikirannya tak ada lagi tentang keinginannya diperhatikan oleh keluarga atau keinginan untuk bermain basket, karna satu-satunya hal yang paling diinginkannya saat ini adalah Changmin. Changmin, sudah lebih dari cukup tentang segala sesuatu yang diiginkannya selama ini.

.

Daun pintu kamar Kyuhyun terbuka, menampakan sosok Donghae dengan tatapan hangatnya. Ia berjalan menghampiri sang Kyuhyun yang terduduk diatas tempat tidur dengan PSP dikedua genggaman tangannya. "Kyuhyunnie." Panggilnya dengan suara manja khas miliknya.

Kyuhyun tak merespon ia tetap menundukkan kepalanya masih sibuk dengan pasukan-pasuka perang dilayar PSPnya. "Kyuhyunnie." Panggilnya sekali lagi, Kyuhyun masih tak memberikan respon apapun. Donghae berjalan mendekat menghampiri Kyuhyun yang tetap diam seolah tak menyadari ada orang lain disana.

Tanpa diduga Kyuhyun menarik PSP dari tangan Kyuhyun membuat Kyuhyun kesal bukan kepalang. Dia tinggal 1 tingkat lagi mencapai level terakhir untu membawa seorang Shim Changmin kembali ke Seoul. dan Donghae justru mengaburkan segalanya.

"YAK CHO DONGHAE!" Kyuhyun berteriak dengan kesal, dihentakkan kakinya kelantai meluapkan kekesalannya. Donghae berjengkit kaget, sebelumnya belum pernah ada yang melakukan ini padanya apalagi Kyuhyun.

"Kyu-hyun-ah. Kau-kau-" Donghae meremas dada kirinya yang terasa bagai ditusuk ribuan jarum. Dibungkukkannya tubuhnya membentuk sudut 90 derajat yang tak beraturan ketika rasa sakit itu tak juga berkurang.

Kyuhyun membulatkan bola matanya, sadar akan apa yang baru saja dia lakukan.
"Donghae hyungie-" Kyuhyun baru menyentuh bahu Donghae ketika Donghae menyentaknya dengan kasar.

.

.

"APA YANG KAU LAKUKAN CHO KYUHYUN?" Kyuhyun masih diam terpekur dikursi depan ruang ICU ketika suara itu menggelegar dihadapannya.

"APA SEBEGITU BENCINYA KAU PADA DONGHAE-KU? SEHINGGA KAU SELALU MEMBUATNYA BERULANG KALI MASUK RUANG ICU?" Kyuhyun tetap diam, dan tak berniat membalasnya, karna dia tau itu akan percuma.

"bagaimana keadaannya Uisanim?" Uisa yang keluar dari ruang ICU menghentikan kemarahan DaeHee pada Kyuhyun.

Uisa menggelengkan kepalanya ragu, membuat 4 orang dihadapannya terpekur. "kita harus mendapatkan donor secepatnya. Tuan Cho, bisa anda ikut saya sebentar?" Seu Heun mengangguk dan berjalan dibelakang uisa mengikutinya.

Sementar Daehee, tubuhnya jatuh merosot kelantai dingin rumah sakit. Air mata mengalir membasahi pipinya. Disisi lain, Jung Soo menghampiri Kyuhyun digapainya kerah baju Kyuhyun hingga tubuhnya terangkat.

"KAU! KAU TIDAK LEBIH DARI SAMPAH YANG KELUARGAKU PUNGUT DARI JALANAN. YANG BAHKAN ORANG TUAMU PUN MEMBUANGMU. SEBEGITU TIDAK TAU TERIMAKASIHNYA KAH KAU, HINGGA SEMUA YANG TELAH KAMI LAKUKAN UNTUKMU KAU BALAS DENGAN MENGANTAR ADIKKU DIAMBANG KEMATIAN? KAU TIDAK LEBIH DARI MONSTER MENGERIKAN KYUHYUN-SSI" Jung Soo mengucapkan itu dengan penekanan disetiap suku katanya. Entah bagaimana kalimat menyakitkan itu bisa keluar dari bibir Jung Soo. DaeHee yang tengah meraung dibuat terdiam dengan ucapan Jung Soo, bahkan Seu Heun yang baru berjalan beberapa langkah bahkan dibuat terhenti oleh ucapan itu.

DaeHee dan Seu heun mengalihkan pandangan mereka menatap kearah Kyuhyun dan Jung Soo. Namun tak satupun diantara mereka yang membuka suara, memuat Kyuhyun sadar bahwa apa yang dikatakan Jung Soo juga ada difikiran orang yang telah dianggap Kyuhyun sebagai appa dan eommanya selama ini.

Kyuhyun menengadahkan kepalanya, menghalau air matanya yang mulai mengenang untuk jatuh. Hidungnya memerah perih karna menahan air mata yang terus menerus memaksa keluar. Digigitnya bibir bagian bawahnya.

"Mianhae" satu kata yang lolos dari bibir Kyuhyun dengan suara bergetar sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan semua orang yang selama ini dianggapnya keluarga.

.

.

Kyuhyun merasakan semilir angin yang membuat helaian rambut yang menjutai pada sisi wajahnya tertiup angin. Ia membiarkan pikirannya melalangbuana. Memutar kembali kejadian beberapa waktu kebelakang. Mengingat semua hal tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang sahabatnya. Ah bukankah jika membahas masalalu tidak akan pernah ada habisnya? Lalu jika memang begitu kenapa ia terus memikirkannya?

Kyuhyun duduk direrumputan pinggir sungai Han, tempat yang mengingatkannya pada Changmin. Ia menengadahkan kepalanya keatas, namun ia tak mendapati taburan bintang seperti malam itu. Kyuhyun memejamkan matanya dan kemudian menarik nafas sedalam mungkin dan kemudian menghebuskannya perlahan. Bersamaan dengan hembusan itu satu air mata menetes dan mengalir membasahi pipinya.

..

.

Changmin menekan bel untuk ke-tiga kalinya, dan akhirnya seorang wanita berusia pertengahan 20-an membukakan pintunya.

"mencari siapa?" Changmin menangkap wanita itu adalah seorang pekerja dirumah Kyuhyun

"Kyuhyun ada? Aku temannya" Sahut Changmin. Changmin tak mengerti kenapa tapi dia menangkap kesedihan setelah ia mengeluarkan kalimat itu.

"siapa yang datang Yoon-" Seorang wanita lain muncul dari belakangnya dengan wajah yang suram, mata yang sembab dan bibir yang pucat pasih. "anda siapa?" wanita itu bertanya

"aku Shim Changmin, teman Kyuhyun. Kyuhyun ada?" Changmin tak mengerti, bagian mana yang salah dari kalimat yang ia keluarkan hingga mata wanita itu berkaca-kaca dan akhirnya, air bak butiran kristal itu jatuh membasahi pipinya.

.

Changmin membalas senyum Kyuhyun ketika ia menduduki kursi ruang tamu, Kyuhyun tersenyum begitu lebar, lebih lebar dari yang pernah Changmin lihat selama ini. Kyuhyun terlihat sangat tampan, Balutan kemeja hitam yang membungkus ktubuhnya terlihat pas dengan kulit pucatnya. Mata Kyuhyun yang terbuka dengan lebar terlihat seperti boneka. Pigura Kyuhyun itu bergantung dengan gagahnya diruang tamu.

Changmin terpekur ketika wanita berwajah suram, mata yang sembab dan bibir yang pucat menyerahkannya PSP yang seingatnya ia tinggalkan untuk Kyuhyun. Dengan isakan air mata yang kembali tumpah wanita yang mengaku dirinya eomma Kyuhyun menyerahkannya. Kemudian 3 orang pria yang lebih tua dari Changmin datang dari arah belakang wanita itu.

"Kau Shim Changmin?" Salah seorang diantaranya bertanya pada Changmin. Wajah ketiga orang itupun tak jauh berbeda dari wanita tadi.

"Aku Jung Soo, hyung Kyuhyun"

"Ah, aku Changmin, teman Kyuhyun" balas Changmin

"kami tau" kali ini yang menyahut bukan Jung Soo, tapi orang disebelahnya. "aku Donghae, hyung kyuhyun juga. Kyuhyun meninggalkan ini untukmu" Donghae memberi Changmin selembar kertas.

Changmin mengambilnya lalu membacanya

YA SHIM CHANGMIN! Aku sudah menyelesaikan level tertinggi, kenapa kau belum kembali ? apa kau begitu bosan menjadi teman monster egois sepertiku ? itulah mengapa kau tidak kembali? Tak apa Changmin, aku mengerti. Jika bisa aku ingin memohon padamu untuk tidak kembali kesisiku. Tapi aku tak punya keberanian untuk mengatakannya karna aku takut kau benar-benar pergi.

Changmin-ah, mengapa kau mau menjadi sahabat orang sepertiku ? eum, kau pernah bertanya padaku kenapa aku selalu senang dengan kesendirian? Itu bukan karna aku menyukainya Changmin-ah.. tapi itu karna aku tidak memiliki teman. Jika aku boleh jujur hal yang paling aku takutkan adalah kesendirian. Tapi banyak hal yang terjadi sehingga memaksaku terbiasa dengan kesendirian.

Changmin-ah terimakasih untuk semua hal yang telah kita lalui bersama, terimakasih untuk waktu yang selalu kau luangkan untuk, TERIMAKASIH telah menjadi sahabatku Changmin-ah.

Your Handsome Friend in the world

ChoKyuhyun

"Hari itu, ia menjumpai Choi Siwon yang adalah uisa dari Donghaae. Dia meminta Siwon untuk melakukan operasi pendonoran jantung untuk Donghae dengan mengambil jantungnya. Siwon dengan tegas menolak, karna hukum tidak mengizinkan orang sehat untuk berbuat demikian. Lalu ia menelfon Choi siwon dan berkata

'Hyung tolong kau datang kebelakang Rumah sakit sekarang juga, karna jantung ini tidak akan bertahan lama' dan ketika siwon tiba dibelakang rumah sakit, Kyuhyun tanpa ragu menabrakkan tubuhnya pada truk yang melaju hanya agar ia bisa menjadi pendonor untuk Donghae" Changmin bahkan tak lagi mampu mengeluarkan kata-katanya setelah mendengar penjelasan dari Seu Heun.

Tak hanya Changmi, seluruh orang yang ada diruangan itu menangis, meski ini bukan kali pertama mereka mendengar cerita ini, namun tak pelak air mata mereka tetap mengalir.

Satu hal yang paling diingat keluar itu addalah kata-kata terakhir sebelum Kyuhyun benar-benar pergi.

"aku mungkin memang seorang sampah, yang bahkan orang tuaku pun membuangku. Tapi aku bukanlah monster yang dengan tega menghantarkan orang yang telah memungutku kepintu kematian. Aku memang manusia hina, yang Cuma sebatang kara didunia ini" dan akhirnya Kyuhyun menutup dengan "Percaya padaku, kalian pasti bisa bersama dengan Donghae" kalimat itu terus terngiang dan hati mereka tersa begitu perih tiap kali mengingatnya.

"Dan ini untuk kalian" ntah dari mana, Changminpun mengeluarkan sebuah jurnal yang disodorkannya pada Jung Soo.

Jung Soo, Seu Heun, Dae hee, dan DOnghae membuka halaman awal dan air mata mereka kembali tumpah karnanya.. semua kenangan masa lalu bersama Kyuhyun mulai terukir kembali satu persatu dibenak mereka

.

.

.

.

end

to : Ekha Sparkyu

mianhae, jeongmal mianhae karna ini benar-benar tidak seperti yang kamu bayangkan. sebenarnya ini bukan onshoot milik aku, tapi miliki temen aku. aku sebenarnya udah buat yang seperti kamu minta, tapi mendadak Stuck ditengah jalan dan sampai hari ini belum siap itu oneshoot-nya. tapi karna ngebet ngepost hari ini jadi aku ngepost ini oneshoot aja. Mianhaeyo. jeongmal mianhae. ntar kalo itu alur dan feelnya udah nemu aku post deh. tapi aku benar-benar minta maaf soal hari ini karna ngak sesuai dengan yang aku janji.

dan akhir kata saya ucapi HAPPY BIRTHDAY EKA^^