Catatan: all hail FrUK!

Disclaimer: Hetalia-Axis Power adalah milik Hidekaz Himaruya, saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfiksi ini.

Peringatan: human names, percobaan pertama menulis sho-ai, SHO-AI, FrUK

Summary: France, England dan manis-pahit sejarah. FrUK drabble-ish.


Biru


"Apa kau sungguh-sungguh?"

Francis menghela napas. Ia malas menjawab pertanyaan sama berkali-kali. Sungguh.

"Oui, Arthur." Ia tidak mengalihkan perhatian dari perkamen tempatnya menyalin dokumen untuk Raja Perancis. Dokumen apa, ia tidak terlalu tahu. Ia hanya perlu menulis, atau kegiatan apa pun itu asal bisa membuatnya tidak sampai terkunci kepada sepasang zambrud di mata Arthur. Terlalu hijau, terlalu hidup, terlalu menyakitkan untuk ditatap mata birunya yang bukan langit, bukan pula lautan. "Kau boleh mengambil Kanada. Hanya jangan paksakan keyakinanmu kepadanya. Ia penganut Katolik yang taat."

"Aku tidak mengambilnya. Kau yang memberikannya kepadaku."

Kali ini mau tak mau Francis menyerah. Ia melirik Arthur lewat sudut mata, melihat bagaimana sosok rampingnya berdiri sejajar dengan jendela tinggi yang langsung memberinya akses ke panorama halaman. Francis mengutuk dalam hati. Ia melihat hijau lagi.

"Jika ini bisa membuatmu berhenti menggangguku, maka ya, Arthur. Aku memberikan Mathieu kepadamu. Bisakah aku kembali bekerja sekarang?"

Ia melihat Arthur menyeringai.

"Lucu. Posisi kita terbalik sekarang, Froggie. Biasanya kau yang memberi efek jengkel kepadaku, bukan sebaliknya."

Francis mencoba berkepala dingin. "Pulanglah, Arthur. Dan bawa Mathieu bersamamu. S'il vous plaît." Désolé, Mathieu. Papa est désolé ….

"S'il vous plait, bokongku!" Arthur meninju kaca horoskop Maria kesayangan Francis, tidak cukup kuat untuk membuatnya retak, tetapi cukup untuk menggetarkan seisi ruangan. Matanya berkobar dengan amarah, mengingatkannya kepada badai di tengah samudera. Sangat Arthur. "Aku juga seorang ayah, kau katak sialan! Jangan berani berpikir bahwa aku tidak merasakan apa pun ketika aku juga memiliki seorang putra, dan kau pikir bagaimana perasaan bocah itu jika aku harus menyerahkannya kepada negara lain karena kalah perang? Setidaknya biarkan Matthew tahu, biarkan Matthew mengerti!"

"Dan menurutmu bagaimana seharusnya aku membuatnya mengerti?" Francis mendesis, berdiri dari kursinya, mencengkeram perkamennya hingga benda itu robek. "Berkata jika ayahnya menyerahkannya dengan sukarela karena ia kalah menguntungkan dengan Guadaloupe? Bahwa ia hanyalah komoditas untung dan rugi? Bahwa ayahnya tidak cukup berani untuk mempertahankannya?"

"Katakan kepadanya kebenaran, Francis!" Arthur setengah berteriak, masih belum berhenti murka. Tetapi kemudian ekspresinya berubah—mendingin—ketika benaknya membayangkan sebuah kemungkinan tidak menyenangkan. "Atau memang itu rencanamu? Tidak melakukan apa pun dan mencoba bermain sebagai korban di sini?" Ia tersenyum, tidak ada apa pun di wajahnya selain ironi. "Kau ingin membiarkan Matthew berpikir bahwa aku, pria kejam dari negara barbar, merenggutnya dari ayahnya? Kau menempatkanku sebagai penjahat di sini, aku benar?"

Francis memberanikan dirinya untuk menatap Arthur lekat-lekat di mata. "Apa yang akan kaulakukan jika itu semua benar?"

Arthur memucat. "Kau menjijikkan!" Ia berbalik dan segera mengambil langkah untuk keluar dari ruang kerja Francis. "Persetan denganmu! Akan kubawa Matthew bersamaku, ia pantas mendapatkan ayah yang lebih baik!"

"Oui, pria kejam dari negara barbar ini bisa menjadi ayah yang lebih baik untuknya."

Langkah Arthur terhenti di tengah jalan. "Apa?"

"Tolong jaga ia untukku, Rosbif." Francis tersenyum pahit. "Tolong jaga puteraku untukku." Aku bisa menyerahkannya jika itu kau. Hanya kepadamu.

Arthur menghembuskan napas panjang, tidak lagi merasakan amarah membakar nadinya seperti racun. "Kau menyedihkan," katanya pelan.

Francis mengangguk. "Aku tahu."

Ia bisa melihat mata Arthur mengembara ke seluruh penjuru ruangan, kemudian terpaku kepada vas berisi bunga biru di meja kerjanya. "Bluebell," Arthur bergumam. "Pilihan yang bagus. Serasi dengan matamu."

Francis bersumpah jika Arthur, walau sangat singkat dan samar, tersenyum kepadanya saat itu.


Hujan


Ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia menikmati setiap detik yang lewat ketika melihatnya kalah dan menyedihkan, kacau dan hancur ketika puteranya meninggalkannya di tengah hujan, memilih kebebasan di atas dirinya.

Francis berkata kepada dirinya sendiri jika ia puas melihat Arthur tersungkur di lautan lumpur, tidak lagi memegang musket, tidak lagi mengibarkan Union Jack dengan arogan dan bangga.

Ia melangkah dan melangkah hingga hanya berjarak satu sepatu dari pria berseragam merah yang wajahnya basah karena hujan atau air mata, atau keduanya.

"Aku bertaruh jika kau puas sekarang, kepala katakmu terlihat besar dari bawah sini, katak isi," kata Arthur serak, terlihat begitu kecil, namun masih sanggup memberikan senyuman pongah yang terlihat rusak.

"Tentu saja aku puas, Sourcil."

Ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia akan tertawa jika Arthur jatuh. Jadi mengapa hatinya terasa remuk saat ini?


Waterloo


Sisi tajam pedang terasa dingin di ujung nadi lehernya, namun tatapan Arthur jauh lebih menusuk. Kolam api hijau, pikirnya, Sayang sekali rasanya dingin ….

"Menyerah saja, mein freund." Ia bisa mendengar suara Gilbert, samar di antara kasar napasnya yang memburu. "Kau tahu kau tidak bisa menang duel pedang dengan Arthur."

Di mana teman albino berengseknya? Ah, itu dia, berdiri bersisian dengan Roderich di atas undakan tanah kecil di Waterloo, dan Francis hampir tertawa. Dua saudara yang saling bersumpah dengan darah untuk memusuhi satu sama lain bekerja sama untuk melumpuhkannya. Terlalu indah untuk dianggap mimpi.

Ivan menawarkan diri untuk menjadi juri duel, Francis tidak bisa lebih puas dari ini. Ia mungkin pria paling tidak menyenangkan di Eropa, tetapi Ivan tahu caranya bermain adil.

"Kau menyerah, Frantsiya?" tanyanya dalam nada kanak-kanak khasnya. "Kau sudah babak belur, lebih baik kita lakukan sesuatu terhadap luka-lukamu, setelah itu kita bisa minum teh bersama Angliya. Atau vodka, jika kau tidak keberatan."

"Non, Ivan, mon ami. Aku belum selesai." Dengan itu ia mengayun pedangnya sekuat tenaga, menghantam pedang lawan duelnya dan membuatnya mundur beberapa langkah. "Angleterre juga belum selesai denganku, benar?" Ia tersenyum kepada Arthur.

"Hentikan, Francis!" Arthur mendesis. Ia terlihat marah, kesal, putus asa, dan cemas dalam waktu bersamaan. Francis menyeringai. "Ini tidak ada gunanya. Napoleon sudah kalah. Kau sudah kalah."

Francis tertawa kecil. "Ah, mon cher, tetapi kau sudah repot-repot datang kemari, padahal kau baru saja bertarung habis-habisan di Amerika. Aku tidak boleh tidak sopan dengan mengabaikanmu, non?" Ia maju, menyerang daerah atas Arthur hanya untuk ditangkis dengan lihainya. "Bagaimana kabar Amerique?"

"Baik dan masih sebocah sebelumnya, Matthew mengirim pesan—" Francis menyerang lagi, dan pedang Arthur hampir lepas kali ini. "SIAL, FRANCIS! Apa yang sebenarnya kaucari dari duel tak bernilai ini?"

Harga diri, jawab Francis dalam hati. Kebanggaan. Tidak ingin dipandang rendah olehmu—

"Aku hanya senang membuatmu jengkel, Cher."

"Francis menyerang, kemudian kalah, begitu berulang-ulang. Ia tidak lagi menghitung luka hasil sabetan pedang Arthur, atau mendengar permohonan sang lawan supaya Francis berhenti. Ia hanya melihat Arthur, dan lega karena di akhir masa jayanya, Arthur hanya berfokus kepadanya.


History talk with Kaleng:

Biru: merujuk kepada Treaty of Paris (1763) pasca Perang Tujuh Tahun. Canada tidak dirampas Britain, melainkan France menukar Canada dengan Guadaloupe sebagai daerah rampasan perang. Hasil perang sendiri tidak seburuk yang sering digambarkan. France tidak kehilangan teritori-teritori penting, dan Britain malah mendapatkan Canada dan Louisiana yang justru lebih sulit dan 'mahal' untuk diekspoitasi, padahal Britain adalah pemenang saat itu. Dengan alasan tertentu Britain setuju untuk tetap membiarkan pemeluk Katolik Roma untuk menjalankan ibadat mereka tanpa harus takut dikonversi menjadi Protestan (rakyat Inggris ketika itu mempunyai pandangan negatif kepada Katolik setelah Inkuisisi Spanyol di tahun 1550-an). I can't help but feel sorry for mon bébé Mathieu :'(

Hujan: the infamous American Revolutionary War, duh.

Waterloo: Napoleonic Wars, merujuk perang terakhir di Waterloo, Belgia (sekarang termasuk wilayah Belanda). France vs. Aliansi Britain, Prussia, Austria dan Russia. Fakta lucunya adalah Napoleon menganggap pasukan Inggris sebagai pasukan back-up, karena para veteran dan jenderal ahli justru dikirim ke Amerika dan Kanada ketika Perang 1812. But this back-up force still can kick his arse, eh?

Terima kasih sudah mau baca : ) ini rencananya saya masih mau aplod satu chapter lagi besok, masih kumpulan ficlet dan masih seputar sejarah, dan tidak akan se-angsty chapter pertama. Entente Cordiale, World War I, World War II are to be expected.

Ada kritik dan saran? Dinanti sekali, loh!

Adieu!

Kaleng