How To Feel?

HUNHAN/RATED T

Aku

Tidak tau apa itu matahari

Aku lupa langit itu seperti apa

Dan sekarang aku melihatnya

"Luhan, ini makananmu"suara yang kutahu suara ibuku kini terdengar dari depan pintu. Aku membuka pintu kamarku sedikit lalu mengambil sepiring makanan yang di berikan ibuku.

Aku Luhan 25 tahun

Aku tidak tau dunia itu seperti apa, terakhir aku melihat matahari adalah ketika aku duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.

Itu adalah masa terburuk dan tergelap dalam hidupku. Dan sekarang aku hanya duduk di depan komputer dalam gelapnya kamarku, aku sudah lupa bentuk matahari seperti apa, aku lupa langit itu seperti apa, bahkan aku lupa wajah orang tuaku seperti apa, karena terakhir aku keluar kamar adalah 15 tahun yang lalu.

Orang tuaku selalu memenuhi fasilitas dan kebutuhanku, kudengar mereka orang kaya, dan jangan lupa aku bahkan tak tahu bentuk uang itu seperti apa atau bahkan perusahaan ayah yang kudengar akan di wariskan kepadaku seperti apa, aku tidak tau perusahaan itu apa. Saat aku membutuhkan sesuatu aku hanya akan menelpon ibuku dari dalam kamar, lalu ibuku atau bibi song akan datang ke kamar untuk memberikannya, dan yang kulakukan hanya membuka pintu sedikit lalu menutupnya kembali.

Hanya sedikit, dan aku hanya menampakkan mataku dari balik pintu. Yang kulakukan dikamar adalah bermain game online dan menonton anime, sejak tidak pernah keluar kamar. Anime dan game telah menjadi obsesiku, aku punya banyak kaset game dan anime original dan beberapa barang-barang anime original yang kudengar harganya sangat tinggi.

Aku tidak tau, yang kulakukan hanya memesan online lalu tiga hari kemudian barang yang kuinginkan sudah datang.

Aku benar-benar tidak tau dunia luar itu seperti apa, aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Aku hanya bisa melihatnya dari gambar-gambar di mesin pencarian seperti naver dan google. Aku juga tidak pernah berbicara sedikit pun selama 15 tahun ini, kecuali ibuku bahkan itupun hanya beberapa patah kata.

Dan yang paling penting.

Aku tidak tau apa Itu yang disebut perasaan.

aku mengambil headset merah lalu akan menyampirkannya di kedua telingaku ketika suara teriakan di luar tiba-tiba menggangguku, aku sedikit penasaran namun tidak bergeming dari tempat dudukku sekarang, dan tak berniat sama sekali untuk membuka pintu kamarku barang sedikitpun.

"Luhan! Luhan! Buka pintumu! Luhan!"suara ibuku terdengar menjerit dan frustasi tapi aku masih tak berniat membuka pintuku, dia tau kalau aku benci membuka pintu kamarku.

BOOM

Tiba-tiba semuanya terasa putih, badanku terasa berat dan sakit, aku membuka mataku yang terasa berat, telingaku berdengung dan waktu rasanya berjalan dengan sangat lamban. Silau, mengapa mataku silau. Bukankah tadi kamarku gelap?

Kepalaku berputar, dan aku mencoba menyadarkan diriku saat ini. Dan saat aku sadar.

MATAHARI!

aku melihat matahari secara langsung, aku bergetar bayangan kelam masa lalu tiba-tiba menyeruak memasuki kepalaku, bangunan rumahku hancur menjadi berkeping-keping, tapi pintu kamarku tetap berdiri kokoh disana. Aku melewati beton yang sudah hancur untuk keluar dari kamarku, dan kulihat ibuku tergeletak di depan pintu kamarku dengan bersimbah darah.

Aku menatapnya dalam diam tak berniat untuk menyentuhnya.

"Lu-han"ia memanggilku dengan suara parau, aku masih menatapnya dalam diam sama sekali tak mengerti dengan keadaan ini.

"Syukur kau selamat, putraku"setelah mengatakan itu, dalam keheningan kudengar ia menghembuskan nafasnya lalu tak lagi ada bunyi deru nafas selanjutnya.

Aku terdiam, aku tak mengerti. Apakah ini yang di maksud mati itu? Lalu aku harus melakukan apa? Menangis? Tertawa?

Menangis itu yang seperti apa? Lalu tertawa? Apa yang seperti dalam anime? Apa ketika karakter anime mengeluarkan air dari matanya itu disebut menangis?

Lalu bagaimana cara melakukannya? Bagaimana cara melakukan agar air mata dapat keluar dari mataku?

Aku tak mengerti semua, aku hanya melewati tubuh ibuku dan berjalan keluar ketika kulihat sesuatu berwarna hijau terhampar luas di atas tanah, lalu mobil-mobil bertuliskan 'polisi' dan suara sirine. Inikah yang dinamakan polisi? Ini keren! Aku melihatnya di anime.

"Ada orang!"mereka berteriak dan itu membuatku sedikit takut, aku mundur beberapa langkah namun kepalaku terua berputar, orang-orang itu terus mendekatiku dan pandanganku mengabur, lalu semuanya menghitam.

.

.

.

"Kau berengsek Kim Jongin"geram seorang pria bertubuh tinggi sambil menatap pria berkulit tan yang di panggilnya Kim Jongin.

"Ini menyeyangkan Oh Sehun, ohh ayolah kau pasti senang kita bisa mendapatkan perusahan Xi kan?"ujar jongin menatap sarkastik ke arah sehun.

"Keluarga Xi begitu mempercayaimu kim jongin! Lalu kau mengkhianatinya dengan membunuh mereka?!"suara sehun terdengar naik beberapa oktaf.

Jongin menaikkan satu sudut bibirnya lalu melangkah mendekati sehun, ia menepuk bahu sehun pelan "santai saja sehun-a, bukan aku yang jahat tapi orang bermarga Xi itu saja yang terlalu bodoh"

Sehun merasa darahnya mendidih lalu berdesir naik ke ubun-ubunnya, mata onyxnya tajam menatap ke arah jongin.

"Tuan Oh !"tiba-tiba seseorang masuk lalu terdiam ketika mendapati Jongin ada disana.

"Ah sepertinya anda sedang ada urusan, jadi saya-"

"Katakan"potong sehun namun matanya masih tak bergeming memelototi jongin.

"K-keluarga Xi, ternyata mereka memiliki seorang putra"ujar asisten lee yang membuat sehun mengalihkan pandangannya dari jongin.

"A-apa?"sehun menatap tak percaya dan jongin terlihat membeku terkejut.

"Jadi rumor bahwa mereka punya seorang putra tunggal itu benar?"

Asisten lee mengangguk membenarkan "ia di temukan pingsan di reruntuhan rumah keluarga Xi yang baru saja di bom"

"Lalu sekarang dimana dia?"tanya sehun terlihat begitu bahagia ketika melihat ekspresi jongin yang terlihat resah, karena ini artinya perusahaan keluarga Xi akan di berikan pada putra tersebut jika kerjanya dalam beberapa bulan test di perusahaan di nyatakan sempurna, dan artinya jongin tidak akan mendapatkan posisi CEO secara cuma-cuma.

"Dia di bawa ke rumah sakit"

"Batalkan, bawa dia ke rumahku. Sewa seorang dokter dan suster, sediakan peralatan rumah sakit jika di perlukan"

Asisten mengangguk tersenyum melihat sehun yang kini kembali bersemangat.

.

.

.

Apa matahari memang terang dan berwarna kuning?

Apa benar langit itu berwarna biru seperti itu?

Apa yang kulihat tadi itu hanya mimpi?

Atau aku benar-benar melihat dunia dengan mata kepalaku sendiri?

Dan yang berwarna hijau tadi, apa itu yang dinamakan rumput?

"Xi luhan-sshi"

Seseorang memanggil namaku, aku mencoba membuka kelopak mataku kenapa semuanya terasa berat?

"Xi Luhan-sshi" mengapa suara itu terdengar hangat, aku menyukai suara itu, aku suka.

Akhirnya aku dapat membuka mataku perlahan, lalu mengerjap-ngerjapkannya. Penglihatanku masih sedikit kabur tapi aku dapat melihat seorang pria yang kini menatapku, tatapannya membuatku merasa aman, ntah bagaimana.

"Xi Luhan-sshi kau sudah sadar?"

Aku memaksakan diriku untuk duduk dan pria di hadapanku membantuku. Ini pertama kalinya aku melihat manusia lain yang berdiri dekat denganku selain ibuku.

Aku menatapnya diam.

"Kau merasa baikan?"ia bertanya, namun apa dayaku? Aku tidak tau bagaimana caraku menjawab, selama 15 tahun ini aku tidak pernah berbicara bukan? Aku tidak tau bagaimana cara menyusun kata-kata, yang bisa kulakukan hanya mengangguk.

"Akan kupanggilkan dokter"ia melangkahkan kaki jangkungnya itu keluar ruangan.

Aku mengerutkan kening, dokter? Di dalam anime dokter itu adalah orang yang mengobati orang sakit. Lalu, apakah yang sakit itu aku? Aku mulai merasa antusias untuk menemui dokter secara langsung, ini benar-benar keren!

Seorang pria pendek bermata bulat dengan jas putih kini mendekatiku, jadi ini yang dinamakan dokter?

.

.

.

Sehun.

Saat pertama kali melihat putra mendiang bosku itu aku merasa gemas. Dalam tidurnya ia terlihat sengat imut dan aku ingin sekali menggigit pipinya.

Di tambah sekarang ia menatap kyung soo-dokter pribadi- dengan tatapan berbinar, seperti anak kecil. Yang dapat ku lakukan hanya tersenyum dan menahan hasratku untuk mencubit pipi itu sekarang.

Kyung soo mengeluarkan stetoskopnya, dan pria bernama luhan itu menatap benda itu dengan mata bulat hazelnya yang berbinar. Ohh ayolah Luhan-sshi berhenti melakukan itu atau aku benar-benar aku mencubiti pipimu sekarang.

Tapi, apa ia tau bahwa orang tuanya telah meninggal? Mengapa ia terlihat begitu tenang dan merasa tak terganggu? Tuan Xi, sebenarnya ada apa dengan putramu?

.

.

.

sehun menatap luhan dengan intens banyak sekali pikiran yang mengelilingi kepala saat ini, terutama luhan yang masih tak bersuara saat ini.

"Keadaanya sudah stabil, ia hanya perlu beristirahat secukupnya, jika dia mengeluh kesakitan kau bisa menghubungiku"ujar kyungsoo dan sehun hanya membalas mengangguk.

Kyung soo sudah pergi dan kini hanya tertinggal sehun luhan di ruangan itu. Luhan terlihat bangkit dari tidurnya lalu kaki mungilnya menuntun dirinya menuju balkon.

Ini dia.

Matahari

Ini pertama kali dia melihat matahari sejak 15 tahun yg lalu, dan ia langsung menyukainya. Ia menatap langit karena sangat ingin melihat matahari, namun detik berikutnya ia mengeluh perih dan air mata sudah memenuhi matanya.

Sehun terkekeh, tentu saja kita tidak bisa melihat langit dalam jangka waktu yang lama, kau akan mengeluh perih dan matamu akan berair.

Luhan menatap sehun yang terkekeh dengan tatapan tajam, lalu sehun terdiam sengan wajah datar.

"Baiklah Tuan Xi Luhan-sshi, sekarang waktunya berbicara"sehun melangkah ke arah sofa dan mempersilahkan luhan duduk, dan luhan dengan manisnya menurut.

"Apa kau benar-benar putra dari keluarga Xi?"tanya sehun, tapi luhan tak bergeming hanya menatap sehun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Luhan-sshi? kau tidak Bisa bicara?"tanya sehun, luhan terlihat bersyukur bahwa sehun bisa mengerti keadaannya, lalu luhan mengangguk cepat.

Sehun sedikit terkejut, wajahnya mulai resah. Bagaimana bisa luhan mengambil hati para direktur untuk memberikan suara pada luhan ketika acara voting pemilihan CEO agar luhan terpilih ketika bahkan luhan tak mampu berbicara?

Sehun berdehem mencairkan suasana, untuk sekarang ini ia akan fokus dalam menjaga luhan dan kesehatannya, dan jalan keluarnya dia akan memikirkannya.

"Kita bicara nanti, kami sudah memilihkan baju-baju untuk anda tuan, sekarang anda mandi saja, maid di rumah saya sudah mempersiapkan air hangat untuk anda mandi"ujar sehun yang kini memilih untuk menggunakan bahasa formal.

"Ohh ya, Nama saya Oh Sehun, anda bisa memanggil saya Sehun"sehun tersenyum lembut.

Namun tatapan luhan terlihat berbinar, bukan karena senyum sehun yang mempesona tapi karena kata 'Maid' yang tadi di sebut sehun, ia hanya pernah melihat maid dalam anime! Sekarang dia akan melihat yang asli, ohh ayolah! Ini keren!

Sehun memilih keluar ruangan daripada ia harus mencubit pipi dari pria imut yang menggemaskan itu.

"Ma-maid"ujar luhan pelan. Sayang sekali sehun harus melewatkan momen langka itu. Luhan berbicara!

.

.

.

Luhan keluar dari kamar besar itu dengan kaos putih bergambar spongebob dan celana pendek selututnya. Tapi dari tadi susasana hati pria mungil itu kelihatannya sedang tidak bagus.

Ia duduk di meja makan dekat sehun, lalu mengembungkan pipinya dan menatap sehun dengan menggemaskan. Banyak sekali yang ada di pikiran luhan saat ini, maid yang ia kira akan terlihat loli seperti di anime ternyata hanyalah ajhumma tua yang walaupun seragamnya sedikit sama dengan yang di anime tetap saja semua itu mengecewakan, di tambah kaosnya saat ini. Kemana koleksi baju luhan yang bergambar anime sekarang ini? Lalu ia benar-benar merindukan gamenya dan animenya.

Sehun yang sibuk mengotak-atik Ipadnya kini terkejut sekaligus gemas melihat tingkah luhan di hadapannya saat ini.

"Tuan Luhan, a-ada apa?"tanya sehun gugup.

Luhan memalingkan wajahnya tanda ia benar-benar dalam fase marah atau bisa di bilang 'ngambek'

Sehun berdehem lalu mulai angkat bicara "Tuah Luhan, saya yakin anda belum mengerti keadaan saat ini"

Perlahan tapi pasti, luhan mulai kembali menatap sehun.

"Orang tua anda telah meninggal"kalimat singkat itu seharusnya sudah cukup untuk menusuk hati luhan dan membuatnya menangis tersedu sedu saat ini.

Tapi yang di dapati sehun hanyalah sikap tenang dari luhan.

Karena ia tidak mengerti.

Bahwa luhan tidak mengerti arti perasaan

Ia sama seperti robot.

.

.

.

Sehun telah menjelaskan semuanya bahwa rumah mereka di bom agar terlihat seperti pembunuhan oleh teroris, yang bahwa sebenarnya adalah orang-orang yang ingin merebut aset keluarga Xi berserta perusahaannya.

Dan sehun meminta agar luhan bersiap berperang untuk merebut kembali apa yang seharusnya milik luhan.

"Tapi masalahnya kau tidak bisa berbicara"

"Kau benar-benar tidak bisa bicara? Besok para direktur memintaku untuk membawamu ke perusahaan dan dengan kondisimu yang sekarang ini, kemungkinan besar kau tidak di beri kesempatan dalam memimpin perusahaan"

Sehun frustasi, karena luhan sepertinya benar-benar tak bisa bicara, ia hanya menatap sehun dengan tatapan yang sedikit kosong.

Luhan dengan jas hitam rapi yang membaluti tubuhnya berdiri di samping sehun yang juga memakai jas. Beberapa orang terlihat membungkuk ke arah mereka dan luhan hanya diam dan terlihat tenang.

Sehun berdesis kesal, anak ini terlalu tenang dalam keadaan seperti ini.

Bukan, bukan terlalu tenang. Hanya saja luhan tak tau bagaimana ia harus berekspresi, walaupun ia hanya mengerti sedikit dengan keadaan sekarang ia merasa gugup, tapi ia terus meyakinkan dirinya bahwa ia hanya butuh bicara sedikit bukan? Sekarang ia sibuk menyusun kata dalam kepalanya.

"Tuan Xi Luhan"suara berat seorang pria berkulit tan menganggu luhan yang sedang berpikir keras dan membuatnya sedikit kesal.

Sehun menatap jongin tajam dan merasa was was, jongin tersenyum licik lalu menyodorkan tangannya ke arah luhan dan memperkenalkan dirinya.

"Aku Kim Jongin, orang kepercayaan keluargamu"ujar jongin tersenyum manis.

Luhan menatap tangan jongin 'ini kah namanya berkenalan? Di dalam anime aku harus menjabat tangan ini iya kan?'batin luhan berteriak, ia menjabat tangan itu dengan tatapan berbinar 'ini keren!'batinnya lagi.

Sehun menarik tangan luhan lalu menariknya paksa dari sana, karena melihat jongin yang menatap luhan tanpa rasa dosa membuatnya jijik.

Jongin berbisik "kudengar ia tak bisa bicara, selamat" sehun hanya dapat mengeratkan genggaman tangannya pada luhan.

Mereka menaiki lift dan menuju lantai tempat mereka meeting, luhan menatap sehun dengan setengah menangis karena tangannya terasa sakit.

Sadar bahwa ia tengah menyakiti luhan ia segera melepaskan tangan luhan "maaf"

Ruang meeting terlihat ramai saat luhan memasukinya. Ia mulai merasa gugup dan tangannya berkeringat. Ia tak pernah merasa segugup ini sebelumnya.

Bisik-bisik dari direktur yang sudah mendengar rumor bahwa luhan tak bisa bicara kini terdengar mereda karena perhatian mereka kini tertuju pada luhan.

Walaupun gugup, ekpresi luhan masih terlihat tenang, ia duduk di kursi utama. Para direktur menatap luhan seakan-akan luhan akan di hakimi.

Meeting di mulai.

"Xi Luhan-sshi kau benar-benar putra dari Tuan Xi? "Seorang direktur bertanya dan luhan masih terdiam. Sehun mulai merasa resah.

Para direktur mulai berbisik-bisik kembali "Xi Luhan-sshi ada rumor bahwa kau tak bisa bicara apa itu benar? Kalau bisa berbicara, kau di persilahkan untuk berbicara saat ini"jongin angkat bicara, sehun menggertakkan giginya dan merasa geram dengan jongin.

Luhan masih terdiam dan bisikan-bisikan itu kembali menembus gendang telinganya, semua menatapnya saat ini menunggunya.

Luhan menatap sehun yang terlihat resah, sehun balas menatap luhan dengan tatapan sendu. Dalam tatapan itu luhan dapat tau bahwa luhan harapan terakhir sehun.

Luhan menghela nafasnya sejenak lalu mencoba memantapkan hatinya.

"Sepertinya ia benar-benar tidak bisa bica-"belum sempat jongin menyelesaikan kata-katanya.

Luhan memotong "na-namaku Xi Luhan, a-aku putra dari Xi zhoumi, di-dia ayahku"

Luhan melanjutkan dengan mantap "dan aku bisa bicara"

Semua menatap terkejut ke arahnya, khususnya sehun dan jongin

Tbc

Oke, ini first post ku