How To Feel Part 2

HunHan/Rated T

.

.

.

Luhan terlihat melangkah keluar dari ruang meeting sendirian, ia melangkah menuju lobby, beberapa menit yg lalu ia mampu mengontrol rasa takut dan gugupnya karena tatapan mata sehun. Tapi kali ini ia sendiri, ia melihat sekelilingnya ada orang dimana-mana,

Suasana kantor yang sangat ramai.

Bahu pria mungil itu mulai bergetar, sehun masih belum keluar dari ruang meeting, pria tinggi itu menyuruh luhan menunggu di mobil, dan pria mungil itu kini terlihat berusaha melangkah tanpa rasa takut, namun tetap saja ia benar-benar tak menyukai keramaian, karena itu membuat kenangan kelam masa lalunya mencuat keluar dan berputar di otaknya seperti roll film. Wajah luhan terlihat pucat ketika ia sudah sampai di luar, luhan melangkah pelan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat dirinya berpijak.

Ketika ia hampir sampai, bunyi sebuah dentuman tiba-tiba menggelegar di hadapannya. Tubuhnya bergetar hebat, sebuah kecelakaan mobil terjadi tepat di hadapannya, wajahnya terlihat sangat ketakutan.

"Luhannie maafkan hyung"

"Tidak mau! Luhannie benci hyung!"

Bayangan-bayangan itu terputar sangat jelas dalam ingatannya, setitik bulir bening jatuh dari pelupuk matanya menciptakan garis transparan yang membasahi pipinya, rasa takut yang teramat sangat bercampur dengan rasa sesak dan sakit yang mengerikan.

Kejam, sakit itu begitu kejam. Walaupun luhan meraung sekeras apapun karena rasa sakit itu, ia tetap tertera disana tanpa mau melepaskan luhan.

Hatinya terasa sangat sakit.

Luhan berlari sekuat tenaga meskipun kakinya terasa lemas, ia tak peduli dengan semuanya saat ini, yang dia ingin ia berlari dari rasa takut itu dan kembali melupakan semuanya, ia terus berlari seiring dengan air matanya yang menitik dan nafasnya yang mulai tersengal.

.

.

.

"Apa kau yakin dia mampu menjadi seorang CEO? dibandingkan dengan jongin, jongin terlihat lebih pandai dan intelektual dalam hal bisnis"

"Kita berikan dia kesempatan dalam beberapa bulan test, jika kinerjanya mampu bersaing dengan jongin saya harap anda para direktur dapat memberikan suara anda dengan adil dan bijaksana"

"Dan jika ia gagal?"

"Maka ia tak berhak duduk di kursi CEO"

Sehun keluar dari ruang meeting dengan senyum sumringah, luhan akhirnya mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan. Ia berlari menuju mobilnya yang terpakir di luar, namun ia tak mendapati luhan di dalam. Ia nampak berpikir 'bukankah dia tadi kusuruh menunggu di mobil?'batinnya.

Sehun berlari ke dalam gedung, dan mendatangi hampir ke semua penjuru gedung perusahaannya, namun ia tetap tak mendapati luhan. Langit mulai terlihat gelap, dan sehun mulai khawatir. Ia mengendarai mobilnya dan mulai mencari di lingkungan perusahaan, dan ketika itu juga tetes tetes air yang cukup besar mengguyur seoul.

Jantung sehun berdetak kencang, ia gugup ketika bayangan sesuatu yang berbahaya terjadi pada luhan. Tentu saja, saat ini sehun adalah penanggung jawab luhan, dan luhan adalah putra dari mendiang bosnya yang menyelamatkannya ketika menghadapi masa hidupnya yang kelam.

FLASHBACK.

Sehun.

Aku hidup dengan ibuku yang sudah sakit-sakitan, setiap pagi dan malam aku harus bekerja part time, sedangkan aku harus kuliah di siang hari. Kami bukan keluarga berada, meskipun begitu setiap aku pulang ibuku selalu menyambutku dengan senyum terhangatnya, dan mengatakan bahwa aku adalah putranya yg suatu hari akan menjadi orang sukses.

"Eomma!"aku memanggil wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, ia menoleh dan memberikan senyum yang menjadi paling favorit bagiku, senyumnya yang begitu hangat dan tulus.

"Sehun, bagaimana kuliahmu hum?"ia mengelus wajahku sambil tersenyum.

"Membosankan eomma, dan tugasku menumpuk!"aku berdesis kesal dan menatapnya dengan lembut.

"Aigoo, calon orang sukses tidak boleh sering mengeluh, kau harus berusaha keras dan nantinya kau akan menikmati hasil usaha kerasmu itu, kau mengerti?"

Aku tersenyum lalu mengecup keningnya dan mengangguk "baiklah eomma, eomma sudah siapkan bekalku? Aku akan langsung berangkat kerja"

"Heum, ada di dapur. Ganti bajumu terlebih dahulu, semangat!"

aku sangat bahagia dengan kehidupanku yang sangat hangat ini, sangat bahagia.

Tentang ayahku? Aku tak pernah melihatnya sejak kecil, dan ibuku tak pernah mau membicarakannya.

Aku pulang dari tempat kerjaku sekitar jam 8 malam, namun malam itu aku tak menemukan ibuku menungguiku dengan senyum hangatnya di teras rumah. Aku merasa sedikit khawatir, karena ibuku akhir-akhir ini terlihat sakit. Kakiku melesat membawaku masuk ke dalam rumah, dan disaat itu aku merasa waktu melambat ketika menemukan ibuku tergeletak tak berdaya di ruang tengah.

.

.

.

"Dokter bagaimana keadaan ibuku?"tanyaku khawatir sambil menggenggam tangan ibuku yang sudah sadar tetapi masih terbaring lemah.

Dokter itu tampak menghela nafasnya dan menatapku sedikit sendu.

"Dokter!"aku menaikkan suaraku karena merasa tak ada jawaban

"Ibumu mengidap kanker liver, dan jika tidak cepat di operasi ia mungkin hanya akan bertahan beberapa bulan"

Mendengar semua itu aku terdiam, kakiku melemas dan aku terduduk di kursi, kulihat ibuku sudah menangis.

"Be-berapa biaya operasinya?"

Dokter itu membenarkan letak kacamatanya "sekitar 2 sampai 3 juta won"

Aku terdiam dalam hening.

Ibuku dinyatakan mengalami kanker liver stadium akhir, aku tidak punya cukup uang untuk membiayai perobatannya, namun aku sangat ingin dia sembuh hingga akhirnya aku menghutang dalam jumlah yang cukup besar dan membawanya kembali ke rumah sakit.

"Sehun, kau dapat dari mana uang untuk membiayai kesehatan ibu?"

"Bosku meminjamkan ku uang bu, dia akan memotong gajiku selama beberapa bulan"aku terpaksa berbohong dengan menyebutkan meminjam uang kepada bosku.

Ibuku tersenyum dan aku bersumpah senyuman itu adalah senyum paling mengharukan bagiku, aku menangis di pelukannya, tak mau kehilangannya.

Aku hanyalah mahasiswa dan pekerja paruh waktu, aku tentu tak mampu membayar hutang itu. Setiap bulan aku harus di pukuli para rentenir karena tidak membayar tepat waktu lalu aku akan pergi ke rumah sakit dengan senyum secerah mungkin agar ibuku tak akan pernah mengetahui rasa sakit yang ku lewati, aku hanya ingin dia sembuh dan kembali ke rumah lalu kembali menyambutku dengan senyum hangatnya.

Namun malam itu adalah malam terburuk bagiku.

Aku pulang dari kerja paruh waktuku, ketika aku mendapat sebuah telepon dari rumah sakit.

"Ibu anda kritis"

Aku merasa sesak dan bergetar , aku terisak sangat keras dan berlari sekuat tenaga menuju rumah sakit, tapi saat itu juga aku di hadang para rentenir yang tak asing lagi bagiku.

"Hey, mana uangmu, cepat bayar utangmu kau berengsek"

"Aku mohon jangan sekarang, aku akan membayarnya besok" aku tidak ada waktu untuk ini, aku harus segera ke rumah sakit.

"Kalau sudah ku putuskan sekarang kau harus membayar sekarang!"orang itu meludah tepat ke bajuku.

Aku merasa sangat terhina, namun yang bisa kulakukan hanya diam.

Mereka memukuliku, menghempaskan tubuhku ke tanah dan menginjak-injakku lalu membuangku di atas tumpukan sampah.

Aku mencoba bangkit meski aku merasa tulang-tulangku sudah patah, ketika ada panggilan masuk dari rumah sakit.

"Ibu anda telah meninggal dunia"

Tubuhku rasanya baru saja di tusuk ribuan pedang, tidak, bahkan lebih mengerikan. dadaku sesak dan aku merasa susah bernafas, aku kembali terbaring di atas tumpukan sampah, menangis dalam dia dan menutup mataku berharap setelahnya aku akan mati menyusul ibuku.

Namun, kurasakan seseorang hadir di hadapanku, lalu aku membuka mataku dan mendapati seorang ajhussi berdiri disana.

"Ahh ternyata kau masih hidup"ia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit.

Ia adalah penolongku, ia membiayai kuliahku dan membayar hutangku, lalu membiarkanku bekerja di perusahaannya. Aku mengira di dunia ini tidak ada orang yang peduli dengan orang sepertiku, tapi ia orang pertama yang menolongku.

Ya, dia ayah luhan. Xi zhoumi.

FLASHBACK OFF

Karena itulah, setelah dia meninggal. Aku tidak akan membiarkan orang kotor seperti jongin menduduki dan mengotori kursi CEO, aku sudah berjanji dalam hatiku bahwa aku akan melindungi luhan apapun yang terjadi.

.

.

.

Luhan berhenti entah dimana, yang ia tau langit sudah gelap, dan udara mulai menusuk kulitnya. Ia mengusap pipinya yang basah, ia melihat air yang ada di tangannya 'ini namanya menangis?'

Ia tak percaya ia bisa menangis, kapan terakhir kali dia menangis? Bahkan ia pun tak ingat itu.

Hujan turun dan membasahi tubuhnya, ia menatap langit yang hitam pekat tanpa bintang, lalu bergumam pelan "ini namanya hujan?"

Ia tersenyum tipis "indah"gumamnya lagi, detik berikutnya ia sudah jatuh pingsan. Entah itu sebuah kebetulan, tapi sehun menemukannya, ia berlari menerobos hujan dan menggendong tubuh luhan lalu membawanya pulang.

.

.

.

Kyungsoo menghela nafasnya "dia belum terlalu pulih, mengapa kau menyuruhnya hujan-hujanan?"

Sehun terlihat kesal "aku tidak menyuruhnya! Dia yang tiba-tiba menghilang"kesal sehun.

Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya, tak lama kemudian luhan turun dari lantai atas dengan wajah pucat dan piyama biru yang terbalut rapi di tubuhnya.

"Luhan-sshi, harusnya anda beristirahat"sehun menatap khawatir.

Luhan memandang sehun berkaca-kaca sambil memegangi perutnya.

"Anda lapar?"tanya sehun lembut, dan luhan hanya mengangguk.

Kyungsoo tersenyum "sebaiknya kau beri dia makan, setelah itu jangan lupakan obatnya, aku pergi dulu"

Sehun mengangguk, lalu kembali menatap luhan "ugh, bagaimana ini? Maid tadi meminta izin pulang cepat, sa-saya akan coba memasak bubur, anda tunggulah di meja makan"

Luhan mengangguk, sehun berusaha membuat masakan terbaik namun bagaimana lagi, pria itu sama sekali tak pandai memasak, buburnya memang jadi tapi sedikit terlihat aneh. Ia menyajikannya dan membawanya pada luhan.

Luhan mengambil sendok dan mulai menyuapi dirinya.

"B-bagaimana?"tanya sehun gugup.

Luhan tersedak, yang artinya bahwa masakan sehun benar-benar buruk.

Sehun menggaruk tengkuknya "sepertinya kau hanya bisa makan sereal malam ini, hari sudah malam aku tidak tau apa ada restoran cina yang masih buka"

Luhan tersenyum kecil dan mengangguk mengerti.

.

.

.

Setelah menghabiskan serealnya, luhan melangkah menuju sofa dan duduk di sebelah sehun yang sibuk dengan laptopnya mengurus pekerjaan kantor.

Ia menunjuk ke arah laptop sehun, sehun menoleh dan mendapati luhan dengan wajah -apa ini- nya menatap sehun.

"

Ini adalah laporan tentang kekurangan produk baru kita, aku rasa designnya kurang fleksibel sebagai alat rumah tangga, dan juga ada beberapa kekurangan dalam mesinnya"sehun menjelaskan sambil menunjukkan beberapa bahan presentasinya saat di rasakannya sebuah dengkuran halus di sampingnya.

Ia menoleh dan mendapati luhan tertidur di bahunya dengan nyaman, entah mengapa sehun menyukai hal itu, ia tersenyum lembut lalu menggendong luhan ke kamarnya, membaringkannya di atas kasur king size, lalu menyelimutinya agar luhan merasa hangat. Sehun mematikan lampu lalu keluar kamar.

.

.

.

"Hyung tidak datang ke pertunjukkan luhannie! Hyung jahat!"

"Luhan, maafkan hyung ya? Hyung berjanji akan datang lain waktu"

"Tidak mau!" Aku benci hyung!"

"Luhan!"

"Luhan!"

"Luhan!"

BRAK

"Lu-luhan"

Dia mati karenamu! Dia mati karena mu! Dia mati karenamu!

AKU MATI KARENAMU!

"Tidak!"luhan berteriak lalu terbangun dalam suasana ruangan kamar yang gelap, nafas luhan tersengal dengan tubuhnya yang sudah di basahi peluh. Tubuhnya bergetar hebat dan bahunya naik turun. Ia turun dari tempat tidur dengan kaki bergetar, lalu melangkah menuju kamar sehun, ia membuka kamar sehun lalu menghampiri sehun yang terlihat sudah tidur nyenyak. Luhan sesenggukan, air mata sudah membasahi pipinya, ia sangat ketakutan, ia terus menelan isakannya.

"Se-sehun"ia memanggil sehun pelan, namun sehun masih tidur nyenyak.

"Hiks, sehun hiks sehun" ia menggoyangkan tubuh sehun sambil terisak pelan.

Sehun berdesis kesal karena sebelumnya tak ada orang yang berani mengganggu tidurnya, lalu siapa sekarang yang mencoba membangunkannya? Iya membuka pelan kelopak matanya lalu terperanjat kaget menemukan luhan ada di kamarnya sambil menangis.

"Luhan, k-kau"

"Sehun hiks sehuuuun hiks, aku takut hiks"luhan terisak keras lalu jatuh berlutut di hadapan sehun, walaupun sehun tak tau apa yang terjadi, sehun mencoba tak bertanya, ia menarik luhan ke dalam dekapan hangatnya, dan memeluknya erat, menepuk-nepuk punggung luhan yang sedikit demi sedikit mulai berhenti menangis. 'Seperti bayi'batin sehun sambil tersenyum ketika mendapati luhan kembali tertidur, lalu ia menaikkan tubuh luhan ke ranjangnya.

Wajah luhan memang sangat manis jika sedang tidur, namun sehun terlalu mengantuk untuk menikmati hal itu, ia jatuh tertidur di samping luhan.

.

.

.

Sehun terbangun ketika cahaya matahari menelusup celah-celah kecil kamarnya dan membuatnya merasa silau, ia berdesis kesal karena itu mengganggu tidurnya lalu ia merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya dengan erat. Sehun tersenyum mendapati luhan dengan rambut coklat mandunya tertidur manis

Ia memandangi wajah luhan sejenak, detik berikutnya luhan terlihat bangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya, ia menatap sehun yang juga menatapnya.

Sehun tersenyum hangat "oh hai bayi, kau sudah bangun rupanya. Apa sekarang aku boleh memanggilmu bayi dan berhenti menggunakan bahasa formal?"

Luhan mengangguk pelan "t-tapi aku bukan bayi"ia mengerucutkan bibirnya lalu melangkah cepat kembali ke kamarnya membuat sehun terkekeh pelan.

.

.

.

"Luhan, mulai sekarang ini kantormu"sehun tersenyum lembut lalu mempersilahkan luhan duduk di ruangan tersebut.

Luhan mendudukkan dirinya dengan posisi nyaman lalu diam sambil menatap sehun dengan matanya yang mengerjap imut.

Sehun ingin sekali mencubiti pipinya hanya saja ini bukan waktunya untuk itu. Ia harus mempersiapkan dan melatih luhan untuk melakukan perang yang sekiranya sebentar lagi akan di mulai.

"Luhan dengarkan aku"sehun menatap luhan dengan wajahnya yang terlihat serius.

Luhan mengangguk.

"Aku mungkin saja tidak akan selalu di sampingmu, mulai sekarang jika kau ingin bertahan kau harus merubah dirimu dan bekerja keras"sehun mengambil nafas sejenak.

"Perusahaan ini adalah perusahaan ayahmu, ia membangun ini semua dari titik nol, maka dari itu tolong jangan biarkan orang-orang kotor menduduki bangku CEO, karena yang berhak menduduki bangku itu hanya kau, ok?"sehun menatap luhan lembut.

"Aku akan bekerja keras"jawab luhan mengangguk.

"Sekarang latihan pertamanya"sehun mengambil berkas tebal dari tasnya,luhan bahkan terkejut sehun dapat membawa berkas setebal itu dalam tasnya.

"Kau harus menghapal semua nama karyawan di perusahaan ini, hal itu di lakukan sebagai test kekuatan mengingatmu, mengerti?"

Luhan mengangguk, lalu menatap berkas tebal itu sejenak, ia merasa ingin menangis karena ia harap berkas itu berubah menjadi kaset game dan anime.

"Luhan kau baik-baik saja?"sehun terlihat khawatir, luhan menatap pria dengan tulang pipi yang terlihat tegas di hadapannya.

"Aku, aku rindu anime dan gameku"matanya mulai berkaca-kaca dan seakan luhan akan meneteskan air mata.

Sehun terlihat panik "h-hey jika kau bekerja keras, aku janji akan membelikanmu barang-barang anime kesayanganmu"ujar sehun terlihat masih panik.

Luhan menatap sehun dengan mata berbinar lalu mengangguk. Sehun tersenyum lalu pamit keluar dari ruangan luhan.

Luhan menatap berkas-berkas itu dengan mata yang terlihat 'berapi' lalu mulai membacanya.

15 menit kemudian

Luhan keluar dari ruangannya dalam rangka memberitahukan kepada sehun bahwa ia sudah menghapal semuanya, hanya saja ia baru menyadari di tengah perjalanan bahwa ia tak tau ruangan sehun tepatnya berada dimana.

ia melihat sekelilingnya, orang-orang terlihat sibuk meskipun beberapa sempat membungkukan diri ke arah luhan. Ia sudah hapal wajah dan semua nama pegawai di perusahaan itu, hanya saja ia terlalu malu untuk sekedar mengatakan sesuatu.

Ia terperanjat kaget ketika seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh dan mendapati senyum sumringah seorang kim jongin atau biasa di panggil kai, Luhan membungkuk sedikit pada kai.

"Eyy kita teman tak usah seperti itu"ujar kai sambil merangkul luhan.

Luhan menatap tangan kai yang bertengger di bahunya datar "oh ya, apa kau sudah sarapan luhan? Aku belum, kau mau menemaniku?"

Luhan menggelengkan kepalanya "a-aku sudah sarapan"

"Kalau begitu kau bisa menemaniku sarapan kan? Kita tidak akan jauh, hanya restorant di dekat sini, ahh dan kudengar crepes disana terkenal lezat"kai tersenyum.

Mendengar kata crepes luhan langsung mengangguk tanpa berpikir panjang, karena hari ini ia akan melihat crepes yang asli, bukan hanya di anime! Luhan mengangguk-angguk dan meyakinkan hatinya bahwa ia hanya akan makan crepes lalu kembali ke kantor.

luhan memegang crepes dan menatapnya dengan berbinar-binar membuat siapapun yang melihatnya akan terlihat gemas tak terkecuali pria di hadapannya.

'Luhan, kau baru saja membuatku gay. Hari ini aku memutuskan Akan membuatmu dan perusahaanmu menjadi milikku'batinnya sambil menatap licik ke arah luhan.

luhan menggigit crepesnya pelan, sekitika rasa manis coklat di campur strawberry dan krim lembut bercampur menjadi satu dan meleleh di mulutnya.

Ohh dia baru saja merasakan surga dunia, lalu kembali memakan crepesnya dengan semangat.

Ponsel kai berdering membuat luhan menatap kesal karena acara makannya di ganggu -luhan suka makan dengan keadaan tenang-

Kai menunduk meminta maaf, lalu mengangkat teleponnya "kai! Kau! Dimana luhan?"suara sehun terdengar menggeram disana ketika ia tau dari salah satu karyawan bahwa kai terlihat membawa luhan tadi.

"Ohh santai saja sobat"kai tertawa sinis "luhan, kau mau es krim?"kai sengaja memanggil luhan dan bertanya padanya.

"Es krim?"tanya luhan yang mulai kembali berbinar. "A-aku mau!"teriak luhan bersemangat.

"Baiklah nanti aku pesankan"kai tersenyum

"Kai! Cepat bawa luhan sekarang!"sehun berteriak murka mendengar luhan ada disana.

"Ah kau tau oh sehun, pria bernama luhan ini sangat manis ya? Membuat aku ingin..."kai menggantungkan kalimatnya

"Menidurinya"bisiknya pelan sambil menaikkan satu sudut bibirnya.

"KIM JONGIN! BERANI KAU MENYENTUHKAN, AKAN KU PASTIKAN SEUMUR HIDUPMU AKAN MENDERITA!"

kai tersenyum lalu mematikan ponselnya, lalu menatap luhan dengan tatapan nakal ibilisnya.

.

.

.

Luhan bukanlah anak tunggal

Luhan punya kakak.

Dulu

Ketika ia masih bisa merasakan

Ketika ia masih bisa tertawa

Ketika ia masih bisa menangis

Sebelum ia memilliki hati yang kebas.

Luhan anak yang ceria

Dia pintar, dan sangat manis.

Dulu

Ketika ia masih bersama kakaknya.

Sebelum insiden itu terjadi.

TBC

Huaaaa haaaa ini gatau ff apa/?