How To Feel chapter 6

HunHan/Rated T

.

.

.

"Keadaannya sudah sangat stabil, hari ini ia boleh pulang. Tapi gips di kakinya belum boleh di buka, dan juga kalian harus kontrol sampai gipsnya bisa di buka"dokter kim tersenyum angelic ke arah sehun dan luhan yang juga kini ikut tersenyum.

"Terima kasih, suho hyung"ujar sehun, suho tesenyum mengangguk lalu keluar dari ruangan luhan.

"Huaaa akhirnya bisa pulang, benda ini sangat menggangguku sehunnie"luhan merengek sembari menunjuk-nunjuk selang infus yang tertusuk di tangan kirinya.

Sehun terkekeh "kita pulang ke seoul "ujarnya lembut.

.

.

.

Luhan keluar dari mobil sehun dan terlihat tidak nyaman karena harus berjalan dengan teman barunya-tongkat- yang akan menemani hari-harinya selama gipsnya belum di buka.

Sehun terkekeh melihat luhan yang sepertinya risih dan terlihat kewalahan berjalan dengan tongkatnya.

"Sehunnie, ini sulit"luhan merengek kembali.

Sehun tersenyum lembut lalu tanpa aba-aba ia menggendongnya membuat luhan sedikit kaget karena tindakan sehun yang begitu tiba-tiba.

"Sehunnie"panggil luhan malu-malu.

Sehun tersenyum lalu membawa luhan ke kamarnya dengan begitu hati-hati dan mendudukkan luhan di atas tempat tidur.

Sehun menatap luhan "kau ingin makan sesuatu?"tanya sehun sembari tersenyum dan membelai lembut pipi luhan yang merona.

"Eum.. sereal buatan sehunnie"luhan tersenyum malu.

Sehun menatap luhan dengan tatapan polosnya. "Ada apa? Sehunnie tidak mau?"tanya luhan sedikit gemas.

Sehun tertawa terbahak "luhan kau baru saja keluar dari rumah sakit"sehun mencubit pipi luhan gemas "ku kira kau menginginkan sesuatu, dan ternyata hanya sereal buatanku?"

Sehun terkekeh sedangkan luhan hanya mendelik ke arahnya karena sehun telah mentertawakannya "jika luhan menginginkannya, aku akan membuatkannya untukmu"ujar sehun tersenyum.

Luhan langsung saja mendongakkan kepalanya dan tersenyum, sehun mengacak rambut luhan sejenak lalu turun ke lantai bawah. Luhan berbaring sambil menatap jauh keluar jendela, dan tak lama matanya terpejam merasakan aliran angin yang masuk dari balkon menerpa wajahnya. Ia tertidur dengan nyaman untuk waktu yang lama.

Ia masih nyaman bergelung dalam mimpinya, namun tiba-tiba entah mengapa ia merasa terganggu dan terbangun. Kosong, tidak ada siapa-siapa di ruangannya. Ia menatap nakas di samping tempat tidurnya, dan mendapati semangkuk sereal dan sebuah memo kecil tertempel disana.

Luhan mengernyit, lalu mengambil memo kecil tersebut.

Maaf aku tidak membangunkanmu, kau juga sepertinya tidur sangat nyenyak. Aku ada urusan sebentar di perusahaan, kau makanlah dan habiskan. Jangan kemana-mana sampai aku pulang

Luhan mengerucutkan bibirnya dan merasa sangat kecewa karena tak mendapati sehun. Ia mengambil serealnya lalu memakannya hingga habis dan tersenyum lega. Akhirnya perut kosongnya itu terisi juga.

Setelah satu jam terduduk di kamar tanpa bisa melakukan apa-apa membuatnya sangat jenuh. Ia ingin menuruti sehun untuk tidak pergi kemana-mana, namun rasa jenuh sangat menguasainya. Ia meraih tongkat yang berada tak jauh dari tempat tidurnya, lalu melangkah menuruni tangga dengan sangat berhati-hati.

Ia keluar dari rumah sehun, dan mulai berjalan-jalan di komplek perumahan mereka, ia merasa sangat sepi tidak ada sehun disana. Ingin rasanya ia berjalan-jalan dengan sehun seperti yang mereka lakukan kemarin, tapi ia tahu bahwa sehun pasti sedang sangat sibuk.

Lamunan luhan terpecah ketika mata rusanya mendapati seekor anjing putih besar di hadapannya, dengan tali tanpa pemiliknya.

"Haaa, cantik sekali"ujar luhan gemas, ia menghampiri anjing tersebut lalu mengelus-ngelus kepala anjing tersebut dengan gemas.

"Namamu siapa?"luhan melihat kalung yang melingkar di leher anjing tersebut. "Pung pung? Namamu lucu"luhan terkekeh.

"Ohh baiklah pungpung dimana pemilikmu, kau bisa lihatkan aku tidak bisa berjalan, jadi aku mungkin tidak bisa bermain denganmu"ujar luhan kecewa, anjing itu menatap luhan seakan menngerti dengan ucapan luhan.

Luhan tersenyum "ayo kita cari pemilikmu"luhan kembali melangkah dengan tongkatnya sambil memegangi tali anjing tersebut.

"Pungpung jangan berlari, ini sangat sulit"luhan merengek dengan raut wajah yang terlihat sangat kewalahan.

Setelah berjam-jam berkeliling, luhan mulai lelah dan kebingungan. "Pung pung, ini dimana? Ini jalan raya"ujar luhan mulai ketakutan, terlebih lagi ia tak memperhatikan jalan tadi karena sibuk memandangi pung pung, sehingga ia tak mengingat jalan pulang sama sekali.

"Pung pung huaaa sepertinya kita tersesat"luhan mulai histeris terlebih lagi sekarang ia mendongak dan mendapati langit sudah mendung.

"Pung-pung sepertinya sebentar lagi akan hu-"belum sempat luhan menyelesaikan kata-katanya hujan sudah mengguyur kota seoul, para pejalan kaki kini terlihat hilir mudik mencari perlindungan.

"Huaaaa pung pung, ayo kita berlindung disana"dengan sekuat tenaga luhan berjalan dengan tongkatnya ke sebuah halte bis dan berteduh disana.

Ia duduk dengan tenang, sambil sesekali mengelus punggung pung pung "pung pung bagaimana ini? Bagaimana aku bisa tersesat juga? Ini sangat dingin, aku harap aku punya bulu sepertimu yang menjagaku tetap hangat"gumam luhan, punggungnya terlihat bergetar karena kedinginan. Ia menatap rerintikan hujan yang sepertinya tidak ada niat untuk berhenti.

Luhan mulai khawatir memikirkan bagaimana cara ia pulang dan mengembalikan anjing ini pada pemiliknya. Karena terlalu khawatir luhan langsung saja menangis, ia duduk di lantai sambil memeluk pung-pung, tak perduli dengan gips dan celananya yang kotor dan basah.

"Huaaa pung pung bagaimana ini hiks"luhan terisak, ia merasa takut karena kini berada di tengah keramaian kota hanya berdua dengan seekor anjing. Ia memanggil-manggil nama sehun di dalam hatinya sambil memejamkan matanya.

Luhan merasakan punggungnya di tepuk, ia membuka matanya perlahan berharap yang muncul adalah sehun, sayang ia salah, itu adalah wajah kris hyung.

"Hyung"gumam luhan pelan.

"Kau luhan kan? Kau masih ingat aku? Aku yifan"ujar yifan tersenyum lembut.

Luhan tersenyum miris mendengarnya, tentu saja kakaknya tidak akan hidup kembali, ia hanya terlalu berharap "halo yifan"ujar luhan ramah.

"Apa yang kau lakukan disini? Lalu mengapa kau menangis?"tanya kris kebingungan.

Luhan menundukkan kepalanya "aku tersesat"jawabnya.

Yifan terkekeh sambil menatap lirih luhan. "Bagaimana bisa kau tersesat?"

"Tadi aku mau mengantar anjing cantik yang tersesat ini, tapi aku malah ikut tersesat juga"ujar luhan sambil menatap sedih wajah yifan.

Yifan melirik sejenak kaki luhan yang di gips dengan tatapan-aku minta maaf-nya. Ia masih ragu kalau luhan adalah adik kandungnya, namun entah mengapa hatinya merasa hangat tiap kali ia memandang mata rusa luhan yang mirip dengan mata dalam mimpinya yang menghantuinya 2 tahun belakangan.

"Aku tidak tau jalan rumahmu, jadi aku akan membawamu ke cafe terdekat dan menelpon sehun, bagaimana? Kau mau?"tanya yifan lembut.

Luhan tersenyum lebar sembari mengangguk dan mengelus pung pung dengan sayang.

.

.

.

Yifan mendudukkan luhan dengan lembut lalu membawa masuk pung pung, luhan duduk sambil tersenyum senang karena merasa hangat.

"Kau mau apa?"

"Aku ingin ice cream!"teriak luhan berbinar.

Yifan tertawa kecil "hari ini hujan, kau bisa terkena flu. Bagaimana kalau coklat hangat?"tanya yifan menawarkan.

"Coklat hangat?"luhan mengernyit lantaran ia belum pernah mencoba entah itu makanan atau minuman.

Yifan tersenyum dan langsung saja memesan satu coklat hangat dan satu americano.

Luhan menatap yifan sejenak "hyu- ahh maksudku yifan-sshi"panggil luhan.

Yifan menatap luhan lirih "tidak apa-apa kau boleh memanggilku hyung"

"Benarkah?"tanya luhan bebinar, hatinya entah mengapa merasa berdebar. Apakah tuhan mengirimkan yifan untuk memberikan kesempatan kedua padanya?

Yifan mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Hyung! Yifan hyung!"teriak luhan terlihat antusias.

'DEG' hatinya tiba-tiba merasa hangat namun juga sakit. Ia seperti sudah lama merindukan panggilan itu serta suara luhan. Ia kembali teringat dengan mata rusa indah itu dan kepalanya kembali pening.

"Hyung, apakah boleh membawa anjing masuk kesini?"tanya luhan menatap yifan polos.

Entah mengapa setiap kata hyung yang terlontar dari mulut luhan membuat kepalanya pening. Wajah yifan berubah pucat, suaranya tercekat "aku membolehkannya, ini sebenarnya cafe milikku"ujar yifan menahan rasa sakitnya.

"Woah, kau juga membuka usaha cafe?"

Yifan tersenyum getir "Y-ya begitulah" setiap kali mata yifan menatap wajah luhan, semakin sakit rasa pening yang menghantam kepalanya.

"Lu-luhan, aku ada urusan. Aku tinggal dulu, sebentar lagi sehun akan datang menjemputmu, jadi tunggulah disini.

Luhan merasa bingung dengan gelagat yifan yang terlihat terburu-buru, namun belum sempat mulutnya terbuka untuk bertanya yifan sudah pergi keluar.

Luhan mendesah lesu sambil bermain dengan bulu pung pung yang masih setia di sampingnya. Ia mengandai-andai jika yifan adalah benar kakaknya, ia pasti orang yang paling bahagia di dunia ini. Tapi sayangnya yifan bukan kakaknya.

"Pung pung bagaimana ini kita tidak bisa menemukan pemilikmu"ujar luhan terlihat lesu.

'Klenteng' bel yang tergantung di pintu berbunyi, seorang pria bertubuh mungil layaknya luhan masuk dengan tubuhnya yang cukup basah, karena di luar hujan masih sangat setia turun.

Pria mungil yang tak kalah imut dari luhan itu terlihat lesu. Ia melangkah ke meja pemesanan dan memesan coklat hangat untuk sekedar menghangatkan tubuhnya.

"Setelah menghangatkan diri, aku harus mencari pung pung"gumam pria tersebut lalu mengambil pesanan dan melangkah mencari tempat duduk.

Namun baru selangkah ia melanglah, matanya menangkap sosok anjing yang sedari tadi pagi di carinya hingga rasanya kakinya mau lepas saja.

"Pung pung!"teriaknya berbinar tak perduli dengan tatapan sinis orang di sekitarnya.

Luhan terkaget mendengar pria itu berteriak dan kini berlari ke arahnya lalu memeluk pung pung.

Luhan menggaruk tengkuknya sedikit bingung "apa kau pemilik pung pung?"

Setelah memeluk pung pung rindu, ia menatap luhan lalu tersenyum sangat manis menurut luhan. "Jadi kau siapa?"tanya pria di hadapannya berusaha terlihat sopan.

"Ahh aku tadi melihat anjing ini tanpa pemilik, jadi aku berusaha mencari pemiliknya, tapi aku malah ikut tersesat"ujar luhan sambil menyengir polos.

"Wuah, maafkan aku, jadi merepotkanmu seperti ini"

"Ahh tidak apa-apa"

Pria di hadapannya tersenyum lalu mengulurkan tangannya "aku Byun Baekhyun aku harap kita bisa menjadi teman"

Luhan menatap tangan baekhyun berbinar, ini pertama kalinya ia diajak berteman, ia ingin punya teman seperti cerita dalam anime dan sekarang ia mendapatkannya.

Dengan tatapan terharu ia langsung menghambur memeluk baekhyun yang sedikit kaget namun juga balas memeluk luhan.

"Namaku luhan dan Kita teman!"teriak luhan bersemangat yang di balas anggukan dari baekhyun yang kini balas memeluk luhan.

"Luhan!"suara teriakan yang tak asing itu menembus gendang telinga luhan dan baekhyun.

"Sehun!"luhan memanggil bahagia, akhirnya ia bisa pulang setelah cukup ketakutan tadi.

Sehun menatap lega melihat luhan baik-baik saja "kau ini, sudah kubilang jangan kemana-mana! Dan sekarang kau memeluk orang asing?"tanya sehun tak percaya.

Luhan mengerucutkan bibirnya lalu menggeleng pelan "dia bukan orang asing! Sekarang dia temanku, namanya byun baekhyun!"teriak luhan merasa sedikit kesal.

Baekhyun tersenyum "hai, namaku baekhyun"ujar baekhyun sembari membungkuk pada sehun.

Sehun merasa bersyukur dan lega karena luhan bertemu orang ramah seperti baekhyun dan bukan orang jahat seperti kai. Jika rusa itu bertemu kai entah apa yang bisa di lakukan kai.

"Senang bertemu denganmu baekhyun, aku sehun"sehun tersenyum lalu menjabat tangan baekhyun.

"Pacarnya luhan?"tanya baekhyun polos. Luhan terlihat merona sambil menunduk malu.

Sehun berdehem "ahh dia... eum dia bosku"ujar sehun tanpa pikir panjang.

Luhan merasa tetohok dengan kata-kata yang dilontarkan sehun barusan, dan entah mengapa ia merasa marah. Ia ingin dikatakan kekasih sehun seperti yang mereka lakukan dalam anime bergenre romance. Sehun melirik luhan yang kini menatapnya tajam.

"Aku pulang semuanya, aku harus memandikan anjing nakal ini"ujar baekhyun lalu menarik tali pung pung.

"Bye bye pung pung!"ujar luhan tersenyum senang "aku harap kita bisa bertemu kembali"lanjut luhan dalam hati.

Setelah memastikan baekhyun benar-benar keluar, luhan langsung berjalan keluar tanpa melirik sehun sedikitpun membuat sehun merasa sedikit tak nyaman.

Luhan berdiri di tengah hujan menunggu sehun membuka pintu mobil yang di kunci.

"Luhan, nanti kau bisa sakit"kata sehun terlihat khawatir lantas dengan cepat membuka pintu mobil dan mendudukan luhan dengan lembut.

Luhan menaruh tongkatnya di belakang, lalu menatap rerintikan hujan di luar jendela tanpa berniat memerhatikan sehun yang baru saja masuk ke mobil.

"Luhan"panggil sehun lembut, namun tidak ada sahutan dari sang empunya nama.

Sehun menghela nafasnya merasa bersalah lalu segera menancap gas membelah jalanan dan hujan yang masih setia mengguyur.

.

.

.

"Luhan ini sudah malam sebaiknya kita tidur"ujar sehun terlihat frustasi.

Sedangkan yang di panggil hanya diam tak melirik barang seincipun, dan sesekali meneguk yogurtnya dengan kasar. Sehun mendesah frustasi, sejak pulang sore tadi, luhan tak mau di sentuh sehun ia memilih naik sendiri ke lantai atas dengan tongkatnya walaupun wajahnya sangat menampakkan 'tolong aku', namun luhan tetap berpegang teguh pada pendirian bahwa ia sedang marah dengan sehun.

Belum lagi saat makan malam, luhan memilih mengambil makanannya lalu beralih pergi ke ruang tv meninggalkan sehun yang membeku dengan mangkuk nasinya sendirian di ruang makan. Dan kini sehun hanya terduduk lesu menatap punggung luhan yang asik menonton tv tanpa mengindahkan sehun.

"Luhan, ini sudah jam 11 malam"ulang sehun kali ini agak lebih tinggi karena kelihatannya sehun mulai habis kesabarannya.

Luhan melirik sehun sekilas, lalu meraih tongkatnya dengan cepat dan berjalan cepat melewati sehun untuk naik ke kamarnya. Sehun terlihat makin kesal dengan sikap luhan yang terus mendiaminya. Sehun akhirnya memilih suatu tindakan, ia berdiri lalu dengan gerakan yang tak disangka luhan, sehun menggendongnya.

"Kau boleh marah padaku luhan, tapi jangan menyusahkan dirimu seperti ini"ujar sehun lembut lalu mengecup bibir luhan sekilas, membuat luhan merona namun masih tetap berusaha dengan acara 'ngambek'nya dan memilih membuang muka ke arah lain.

Sehun tertawa kecil melihat tingkah luhan yang seakan marah namun pipinya tetap memerah. Sehun tersenyum dan menatap luhan yang masih membuang muka penuh cinta.

Tunggulah luhan, setelah semua kembali pada tempatnya. Kita akan bersama.

Sehun kemudian membawa luhan ke kamarnya lalu melemparkan tubuh luhan di atas tempat tidur sehun, membuat luhan sedikit meringis sekaligus tekejut. Dalam hitungan detik mata rusa luhan membulat ketika sehun dengan tiba-tiba membuka bajunya memperlihatnya kotak-kotak sexy di perut sehun.

Luhan merona dan berusaha tak melirik pemandangan itu "se-sehunnie mau apa?"tanya luhan gugup.

Sehun menaikkan satu sudut bibirnya, sepertinya luhan menangkap umpannya, batinnya terkekeh ria.

"Apa? Aku hanya ingin mengganti bajuku dengan piyama"jawab sehun santai, mengambil satu pasang piyama lalu masuk ke kamar mandi.

Luhan semakin merona karena terlalu malu telah memikirkan yang tidak-tidak. Ia memilih memasukkan tubuhnya di balik selimut putih tebal milik sehun yang aromanya sangat mirip dengan sehun. Rasanya seperti sedang di peluk sehun,membuat pria mungil yang bergelung dalam selimut itu tersenyum-senyum sekaligus merona.

Terlalu nyaman dalam selimut, luhan terpejam dan jatuh tidur dengan begitu cepat. Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan piyamanya tersenyum hangat, lalu ia mencium kening luhan sayang.

.

.

.

Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha membiasakan bias cahaya matahari yang masuk menelisik dari celah-celah kecil dan memasuki matanya. Ia tersenyum mendapati luhan masih tertidur damai dalam pelukannya, ia memeluk luhan membenamkan dagunya pada rambut luhan dan menghirup aroma lemon bercampur susu yang sejak pertama kali bertemu luhan sudah menjadi favoritnya. Tangannya sesekali menepuk pelan dan mengelus punggung luhan dengan sayang.

Luhan menarik tangannya lalu mengucak-ngucak matanya "sehunnie"panggilnya serak.

"Apa aku membangunkanmu, luhan?"tanya sehun sedikit khawatir, luhan tersenyum manis lalu menggeleng dalam pelukan sehun.

"Sehunnie, ini jam berapa? Tidakkah kita harus ke kantor?"tanya luhan masih merasa nyaman dalam pelukan sehun.

Sehun melirik jam sejenak dan matanya langsung saja membulat. "Luhan ini sudah jam 8! Kita terlambat! Ayo cepat! Jam 9 nanti produk kita dan produk kai akan di rilis secara bersamaan"

"Kita harus mendapat pembeli terbanyak luhan! Batas waktu perhitungan di mulai dari iklan jam 9 nanti sampai jam 10!"jelas sehun panjang lebar yang kini kelabakan berlari ke kamar mandi.

Luhan terkekeh melihat sehun yang sepertinya terlihat khawatir, lalu ia cepat-cepat menuju kamar mandi di kamarnya sendiri dan bersiap.

Keduanya kini telah sampai di kantor dan terburu-buru pergi ke lounge untuk menonton secara bersama produk tim kai dan produk tim mereka. Sesampainya disana beruntung saja acaranya baru saja di mulai, mereka mengambil tempat duduk bersama tim mereka. Sedangkan kai hanya memilih menonton dari jauh dengan wajah penuh optimisme.

Sehun dan luhan masing-masing terlihat tegang melihat pembelian yang mulai berjalan tertera di ujung layar tv.

"Huaah sehun, aku sangat takut"luhan terlihat gugup.

Sehun tersenyum hangat berusaha mengontrol kegugupannya sendiri, ia mengambil tangan luhan lalu menggenggamnya erat. Luhan beralih menatap sehun yang kini tersenyum dan mengangguk ke arahnya. Luhan balas tersenyum dan mengangguk semangat.

Setelah sekitar satu jam, hasil akhir akan segera tertera di ujung layar tv, tiba-tiba junior-junior mereka dalam tim berteriak senang, luhan yang pikirannya telah melayang tak begitu fokus dan tidak menyadari sesuatu.

"Sehun ada apa?"tanya luhan polos sambil memandang wajah sehun yang tiba-tiba cerah.

"Kita menang luhan!"teriak sehun lalu memeluk luhan erat.

Mata luhan berkaca karena terharu "se-sehun aku tak menyangka hal ini"ujarnya sedikit terisak, sehun tersenyum lebar.

"Ini kerja kerasmu lu, tapi ingat ini baru saja di mulai lu, mengerti?"tanya sehun lembut dan luhan hanya mengangguk masih terlihat senang.

"Brengsek, aku benar-benar tidak akan bermain lembut padamu luhan"kai berdesis kesal lalu segera melangkah keluar dari lounge tersebut.

Kai melangkah cepat ke ruangannya, selang beberapa menit seorang pria tinggi dan pria yang lebih pendek masuk ke lounge yang baru saja di tinggalkan kai.

"Sehun!"panggil pria tinggi itu.

Sehun menoleh dan mendapati wajah cerah dan senyum lebar dari seseorang yang sudah lama tak di temuinya. Kolega bisnisnya sekaligus sahabatnya.

"Chanyeol-ah!"sahut sehun terlihat senang, ia lalu berjabat tangan dan berpelukan sejenak, melepas rindu antar sahabat.

"Sudah sekitar 4 tahun sejak kau pindah ke jepang, yeol-ah"sehun tersenyum senang.

Chanyeol terkekeh "sekarang aku pindah kembali ke korea, dan ngomong-ngomong sebenarnya aku pindah ke sebelah rumahmu"kekeh chanyeol.

"Apa? Hey! Kenapa tidak mengabariku!"kesal sehun.

"Ahh maaf, aku pindah 3 hari lalu dan belum sempat menghubungimu. Kebetulan aku lewat sini bersama istriku jadi sekalian saja"jelas chanyeol.

"Jadi ini istrimu?"tanya sehun melirik pria mungil yang kini tersenyum ke arahnya. "Ohh, bukankah kau yang berpelukan waktu itu?"tanya sehun terkejut.

Yang ditanya terdiam sejenak.

"Sayang, kau berpelukan dengan siapa?"tanya chanyeol yang sepertinya sedikit kesal mendengar penuturan sehun.

"Kau baekhyun kan?"Tanya seseorang di belakang sehun.

"Luhan? Kau luhan kan?"tanya baekhyun mulai mengingat.

"Kyaaa! Baekhyunnie!"teriak luhan seraya memeluk baekhyun dengan cepat dan baekhyun balas memeluk sembari tertawa.

Entah mengapa rasanya seperti bertemu teman lama. Chanyeol menatap sehun meminta penjelasan.

"Dia luhan, xi luhan"ujar sehun mengerti akan tatapan chanyeol.

Chanyeol membuka mulutnya membentuk huruf 'o' "jadi dia anak tunggal keluarga xi?"tanya chanyeol.

Sehun mengangguk "begitulah" sepertinya.

Chanyeol tersenyum lega, sepertinya luhan dan baekhyun akan berteman baik setelah semalam baekhyun merengek tidak punya teman di komplek mereka.

.

.

.

"Apa semua informasi itu benar?"

"Iya, tuan"

"Gunakan, gunakan itu untuk menjatuhkannya. Kau tau apa yang harus kau lakukan"

"Baik tuan"

TBC