Math

Disclaimer (c) Fujimaki Tadatoshi

Story (c) Chesee-ssu

Rate: T

Beware of typo(s), OOC characters, etc, etc


Happy reading...


Dari dulu Kise benci matematika. Sungguh, baru melihat soalnya saja ia sudah mual. Apalagi jika ia disuruh mengerjakan soal-soal itu, pasti ia sudah angkat tangan.

Kise dan matematika bagaikan air dan minyak. Susah untuk disatukan. Mustahil bagi seorang Kise Ryouta bisa menyukai matematika. Ia bisa hapal rumus Pythagoras saja sudah menjadi keajaiban baginya.

Saking bencinya matematika, ketika dia remedial pelajaran yang lain—ekonomi misalnya—dia akan panik sendiri. Tetapi jika matematika, boro-boro peduli, melirik saja tak sudi.

Dan kali ini Kise tidak bisa lari lagi. Seperti biasa nilai matematikanya masuk kategori do re mi. Kise awalnya tak peduli, tentu saja. Namun si kapten merah dengan mata heterokromatik itu menatapnya sadis. Aura merah kehitaman menguar manis sehingga membuat nyali Kise menipis.

Sebenarnya bukan tanpa alasan si kapten merah itu marah padanya. Seminggu lagi ada pertandingan dan pada saat yang sama Kise harus mengikuti remedial. Sebenarnya, tanpa Kise pun Teiko sudah pasti menang. Tapi bertanding tanpa kehadiran kekasih pasti bagai sayur tanpa garam.

Jadilah si kapten itu memikirkan cara yang baik agar kekasihnya itu dapat mengikuti pertandingan dan melaksanakan remedial tanpa mengganggu satu sama lain.

"Ryouta," panggil Akashi ketika mereka sudah selesai latihan. "Aku sudah bicara dengan Izuki-sensei agar remedialmu diundur untuk sementara."

Mendadak Kise menyemburkan air minumnya. "Hah? Akashicchi serius? Lalu Izuki-sensei setuju?"

Anggukan Akashi lebih dari cukup untuk membuat senyum si pirang mengembang. Ternyata dibalik sikap kejamnya Akashi masih memiliki hati malaikat.

"Syukurlah remedialnya diundur. Akashicchi ternyata baik hati juga, ya?" Kise tertawa garing setelahnya, tak menyadari sudut bibir Akashi yang terangkat naik.

"Aku memang baik hati, Ryouta. Dan karena aku baik hati, dengan senang hati aku akan mengajarimu matematika selama dua minggu ke depan."

Wajah Kise pucat seketika. "Candaanmu tak lucu Akashicchi, a ha ha ha."

"Apa aku pernah bercanda, Ryouta?" Kise meneguk ludah melihat kedua mata Akashi yang berkilat tajam. Akashi tidak bercanda.

Dua minggu akan ia habiskan bersama Akashi dan matematika. Akashi ... dan matematika ... adalah kombinasi yang sempurna untuk menciptakan neraka.

Kalau begini lebih baik ia mati saja.


a/n: haoo semuaa, saya kembaliii /kamusapa /ditendang. Okeh, gara-gara hiatus sebentar tulisannya tambah amburadul gini yak ahahaah. Oh, iya fic ini dipersembahkan untuk si Rei sebagai kado ultahnya dia XD serasa nggak pantes kasih ini fic soalnya ini fic abstrak banget a ha ha ha XD ini masih permulaan dan saya nggak tau bakal ada berapa chap /ditimvuk. Well, thanks for reading~~ *terbang melayang dengan naga tercinta*