Math
Disclaimer (c) Fujimaki Tadatoshi
Story by Chesee-ssu


Happy reading ...


Tujuh kali.

Tujuh kali Kise menghela napas. Matanya sayu, wajahnya pias. Sempat beberapa kali ia meracau sendiri seperti orang gila. Kuroko yang sedari tadi memerhatikan Kise yang begitu mengenaskan akhirnya bergerak juga. Ia iba juga melihat Kise yang tampak seperti hilang akal.

"Kise-kun."

Tak ada jawaban.

Kali ini Kuroko menepuk punggungnya. Kise segera terlonjak dan menoleh, si kuning cerah langsung tersenyum ketika melihat Kuroko dengan sorot datarnya.

"Kuroko-cchiiii,"ujar Kise, "ada perlu apa?"

Kuroko segera mengambil kursi dan duduk di hadapan Kise. Ia menaruh kotak bekalnya di atas meja. Dari sana Kise tahu Kuroko mengajaknya untuk makan bersama. Kise pun membungkuk, membuka tasnya. Ia pun mengambil kotak bekal dan menaruhnya di meja.

Setelahnya, Kise menatap Kuroko. "Tumben Kuroko-cchi mengajakku makan bareng? Biasanya bareng Aomine-cchi."

"Tadinya mau begitu," Kuroko melanjutkan dengan wajah yang lebih serius, punggung Kise merasa dingin, "tapi aku tak tega melihatmu begitu."

"Begitu?"

"Seperti orang mati."

Kise memberengut dan berucap, "Kuroko-cchi tega!" yang tentu tidak digubris sama sekali oleh si rambut biru. Pandangan si rambut biru masih sama, ia lalu mengambil botol minum dan meminumnya. Setelah dirasa cukup, ia kembali menatap Kise. "Kise-kun memikirkan apa?"

"Seperti biasa blak-blakan sekali, Kuroko-cchi."

"Aku tidak bisa basa-basi, Kise-kun." Mata Kise menatap kotak bekal Kuroko yang dibuka. Wah, isinya menggiurkan sekali: telur gulung, sosis, dan sayuran tumis. Mungkin nanti ia bisa bertukar lauk dengan Kuroko nanti, sosis berbentuk bunga punya Kuroko benar-benar terlihat enak.

"Kalau Kise-kun memikirkan remidi matematika, santai saja," Kuroko menyunggingkan senyum tipis, "Kise-kun sudah berusaha, pasti bisa."

"Masalahnya bukan itu—"

"Aku tahu, sepupuku, 'kan?"

Kise mengangguk lalu menghela napas. "Hah, andai saja Akashi-cchi bisa sepertimu. Kalem, lucu, manis, baik lagi."

"Kise-kun, ingat Akashi-kun punya banyak telinga, bukan?"

Kise melotot sebentar lalu tertawa-tawa. "Ah, aku sempat lupa. Biarkan sajalah, paling dihukum suruh lari memutar lapangan tigapuluh kali."

"Kise-kun tidak takut?"

"Sudah kebal, Kuroko-cchi," Kise menyeringai, "kaupikir sudah berapa lama aku pacaran dengan Akashi-cchi? Rasanya segala kekejaman Akashi-cchi membuat daya tahan mentalku makin tebal, hahahaha."

Kuroko tak berkata apa-apa, ia melanjutkan makannya. Dalam hati lega juga melihat Kise yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya dengan dia menemani Kise, raut wajah si kuning cerah jadi lebih berwarna. Ia harap Akashi tidak menekan Kise secara keterlaluan karena bagaimanapun Kise temannya juga.

"Ah, omong-omong boleh aku minta sosis Kuroko-cchi? Terlihat enak buatku."

Xxx

"Ini salah, perbaiki lagi."

"EEEHHH?"

Kise melotot, bisa-bisanya Akashi seenteng itu bilang jawabannya salah padahal baru lihat beberapa detik. Ia menghantam meja sekuat tenaga, tak memedulikan Akashi yang menatapnya tajam. Salah sendiri bisa-bisanya berspekulasi demikian padahal baru melirik sekilas. Tahu, sih, Akashi pintar, tapi bukan berarti dia sepintar Einstein, 'kan? Dia bukan dewa yang beberapa detik melihat bisa tahu mana yang salah mana yang benar.

"Apa? Tidak terima?"

Urat-urat di pelipis Kise menyembul. "Tentu saja! Aku yakin jawabanku benar. Terus main judge salah, jelaskan padaku di mana salahnya!?"

"Tentu salah," Akashi menunjuk pada soal yang tertulis di buku tulis Kise, "cara yang kaupakai benar, tapi kaukeliru ketika menghitung. Coba aku tanya, lima kali lima berapa?"

"Dua lima."

"Terus kenapa kautulis di sini sepuluh?"

Mata Kise memerhatikan pada baris yang ditunjuk Akashi. Iya, benar! Ia menulis sepuluh dan bukan dua puluh lima. Mendadak Kise tertawa hambar lalu memperbaiki kesalahannya. Baiklah, untuk kali ini Akashi menang.

Tunggu dulu, memang sejak kapan ia bisa menang dari Akashi?

Menatap Kise yang masih sibuk dengan bukunya, Akashi mengulas senyum tipis. Ia edarkan pandangannya pada kafe yang makin sepi karena pergantian waktu. Jendela besar kafe menampakkan langit oranye, yang berarti sudah tiga jam mereka di sini seja mereka ada di sini.

Matanya kembali menatap Kise. Besok sudah saatnya si kuning cerah ini remedial. Dari yang awalnya belajar satu materi selama tiga hari dan berakhir dengan berkencan di Disneysea dan menghabiskan empat malam di sana. Ia sama sekali tidak menduga ide dadakannya yang mengajak Kise ke hotel yang awalnya hanya sehari jadi berhari-hari karena Kise sudah telanjur penasaran dengan wahana yang lain dan dengan seluruh kekuatan hartanya, ia bisa membolos sekolah dengan alasan sakit.

Sungguh bukan Akashi sekali.

Tapi tak apa, ia rasa bayaran atas waktu bolosnya dengan senyuman Kise yang seterang lampu neon lebih dari cukup.

Bucin memang.

Lalu setelah empat hari tak melakukan apa-apa dalam mengajari Kise. Ia menggembleng anak ini habis-habisan pada minggu terakhir dan ... sekarang adalah hari terakhir dari sesi pembelajaran neraka mereka. Selama pembelajaran, tak pelak Kise sebal dengannya, bahkan melawan Akashi dengan argumennya. Sayangnya, Kise selalu kalah. Ia cukup terhibur melihat wajah cemberut kekasihnya.

"Nih, Akashi-cchi."

Akashi berpaling dari Kise lalu menatap buku yang berada di atas meja. Senyum tipis ia sunggingkan, "Sudah benar, Ryouta."

"Yes!" Kise mengepalkan tangannya senang. Ia segera mengambil buku tersebut dan membalik halaman selanjutnya. Namun tangannya terhenti, mata madu keemasan Kise menatap Akashi yang menghentikan pergerakan tangannya.

"Sudah cukup belajarnya, ayo pulang."

Kise mengedipkan matanya beberapa kali. Merasa mimpi. Namun tidak, ia merasakan tangan Akashi ini nyata. Tak ingin menyia-nyiakan kebaikan Akashi, si kuning cerah mengangguk patuh lalu membereskan barang-barangnya.

"Oh, iya, Akashi-cchi."

Akashi merespon dengan menatap balik Kise, pertanda ia mendengarkan. Yang lebih tinggi mendadak berdiri dan memberi kecupan singkat di pipi. Ia duduk dan tertawa melihat Akashi yang membeku mendadak. Tidak ia sangka tuan muda yang terlihat kalem ini secara mengejutkan bisa membeku hanya karena ciuman dadakan.

"Terima kasih, ya. Sudah mengajariku."

Akashi menatap ke arah lain, berucap, "Bodoh," lalu bangkit meninggalkan Kise lebih dulu.

Kise masih tertawa. Ah, lucunya.


a.n: tidak ada yang mau saya sampaikan, semoga suka ya XD