Authors: naerossi & grettama

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.

Inspired by: Korean Drama "It's Okay, It's Love"

Aomine Daiki berjongkok di bawah pohon. Baju yang ia pakai terlalu panas untuk musim panas dan air mata tidak bisa berhenti mengalir dari matanya, sekeras apapun usaha yang ia lakukan untuk menghapusnya.

Ia sedang mengusap matanya untuk kesekian kalinya ketika ia melihat tangan terulur ke arahnya, membuatnya mendongak. Seorang anak berambut biru muda berdiri di hadapannya, dengan vanilla milkshake di tangannya.

"Aku Kuroko Tetsuya," ujar anak itu, "Mau main sama-sama?"

Aomine sedikit cegukan, tapi kemudian ia mengangguk, menyambut uluran tangan anak itu. "Aku Aomine Daiki."

"Ayo kita menangkap serangga, Aomine-kun."


Aomine menekan tombol lift secara berulang-ulang dengan tenaga berlebih, berdecak kesal karena pintunya tidak kunjung membuka. Ia mengecek arlojinya sekali lagi. Ia sudah telat sepuluh menit dari janjian makan siangnya dengan Kagami Taiga, dan pacarnya itu pasti akan marah besar kalau ia telat lebih dari lima belas menit. Hidupnya diujung tanduk. Ia baru jadian dengannya enam bulan lalu. Jelas ia tidak ingin putus sekarang.

"Kalau kau begitu terburu-buru, Aomine-kun, kenapa tidak gunakan tangga saja."

Aomine mengeluarkan suara jeritan tertahan dan menoleh, mendapati Kuroko sudah berdiri di sebelahnya dengan vanilla milkshake-nya yang biasa. "Tetsu!" semburnya, "Sudah kubilang jangan suka bikin kaget!"

Kuroko hanya menghela napas lelah. Aomine tahu ekspresi itu. Ia sudah mengenal Kuroko sejak kecil. Mereka sudah menjadi sahabat dekat selama bertahun-tahun. Harusnya ia sudah mulai terbiasa dengan hawa keberadaan Kuroko yang tipis. Tapi kenyataannya tidak.

"Janji dengan Kagami-kun?" tanya Kuroko lagi, membuang gelas karton vanilla milkshake-nya yang sudah kosong.

Aomine mengangguk. "Lift sialan…."

Tepat setelah Aomine selesai mengutuk, pintu lift membuka, Aomine disambut oleh gelombang manusia yang hendak keluar dari lift, membuatnya menyingkir sedikit agar tidak terdorong arus. Ketika Aomine memasuki lift bersama segelintir orang lain, Kuroko sudah menghilang dari pandangan, membuat Aomine menghela napas panjang. Kuroko yang memang bertubuh kecil dan rapuh pasti sudah terseret.


Aomine benar-benar berlari dari kantornya ke Maji Burger tempat ia dan Kagami biasa makan bersama. Saat Aomine memasuki restoran cepat saji itu, ia langsung menemukan seorang pria berambut merah duduk di salah satu sudut dengan kaus hitam dan setumpuk burger di hadapannya. Kagami melambai ke arah Aomine dengan mulut mengembung penuh burger.

"Telat dua puluh menit," cerca Kagami setelah dengan susah payah menelan burgernya.

Aomine mendesis. "Kau tahu benar rapat redaksi tak pernah sebentar, Bakagami."

Kagami menyodorkan empat burger ke arah Aomine. "Tetap saja. Aku ambil satu burgermu."

Aomine hendak protes, tapi ia tahu benar kalau kali ini ia yang salah, jadi ia meraih jatah burgernya dan mulai makan dalam diam.

"Ah, aku masih berhutang satu vanilla milkshake untuk Tetsu. Ingatkan aku untuk membelinya begitu kita selesai," ujar Aomine beberapa saat kemudian.

"Kenapa tidak kau ajak saja dia kesini tadi?" Kagami menanggapi.

"Tadinya aku juga ingin begitu, tapi kau tahu Tetsu, selalu muncul mendadak dan hilang mendadak. Ia harus menguatkan hawa keberadaannya kalau ingin tetap hidup setelah umur dua puluh lima."

Kagami hanya tertawa ringan, sebenarnya sangat ingin menanggapi dengan, "Tidak, aku tidak tahu Kuroko sahabatmu itu karena sama sekali belum pernah bertemu dengannya meski kau sering sekali bercerita tentang dia," tapi ia memilih untuk tidak mengutarakannya. Terakhir kali Kagami menanyakan status hubungan Aomine dengan Kuroko, mereka berakhir dengan bertengkar hebat. Kagami tidak akan mendesak Aomine dalam waktu dekat.

"Kau masih memikirkan hubunganku dan Tetsu," tembak Aomine langsung begitu melihat ekspresi Kagami.

Tawa Kagami terhenti, ia tidak menjawab itu, tapi mereka berdua sama-sama tahu apa yang ada di dalam pikiran Kagami.

Aomine menjulurkan tangannya ke arah kening Kagami dan menjentikkan jarinya tepat di antara kedua alis Kagami, membuat Kagami mengaduh. "Jangan berpikir yang aneh-aneh," tegur Aomine, "Tetsu straight. Aku sudah pernah cerita padamu ada gadis yang dia suka kan?"

Kagami hanya mengangguk, tidak ingin memperpanjang topik ini.


"Dia tampak sangat sedih karena tidak diajak teman-temannya makan popsicle, jadi aku memberinya satu."

Aomine tertawa dan menepuk pundak Kuroko, mengabaikan fakta bahwa Kuroko nyaris tersedak dibuatnya. "Tetsu naksir cewek! Siapa namanya?"

"Dia anak kelas sebelah, Aomine-kun. Kau harusnya lebih memperhatikan sekelilingmu."


"Tetsu," panggil Aomine begitu ia selesai mandi. Yang dipanggil menoleh dari layar laptop yang sedang dihadapinya, memandang Aomine dengan tatapan penuh tanya. Kuroko memutuskan untuk menginap di tempat Aomine malam ini, mengingat Aomine ada deadline artikel yang harus selesai besok dan kemampuan tata bahasa Kuroko selalu bisa diandalkan di saat-saat mendesak seperti ini. Meskipun Kuroko bekerja di bagian lain di kantor surat kabar mereka, ini bukan pertama kalinya Kuroko mengecek hasil liputan Aomine sebelum diserahkan ke editornya.

"Gadis yang kau sukai waktu SMP itu, kau masih berhubungan dengannya?" tanya Aomine, seraya mendudukkan diri di sebelah Kuroko.

Kuroko memutar bola matanya, kembali menghadap laptop. "Tentu saja. Dia guru TK sekarang. Dan bagian ini lebih bagus kalau jadi paragraf baru."

Aomine mengambil alih laptop dari hadapan Kuroko, memperbaiki bagian yang Kuroko maksud. "Kau masih belum memberitahuku namanya," ujar Aomine lagi.

"Aomine-kun," tegur Kuroko, "kehidupan percintaanku jauh lebih tidak penting daripada deadline-mu. Dan kau harus mengetik ulang bagian akhirnya."

Aomine mendesah tak berdaya, mengakui kalau Kuroko benar.


"Kau masih bangun?" terdengar suara Kagami dari ujung lain sambungan telepon. Terdengar juga banyak suara orang-orang lain. Aomine menduga Kagami mungkin baru saja menyelesaikan shift-nya dan masih berada di kantor pemadam kebakaran.

"Ya," jawab Aomine, "Masih menyelesaikan artikel untuk besok," Aomine melirik jam dinding di dekatnya, "ah, sekarang sudah besok."

Kagami mendengus geli. "Kuroko ada di situ?"

"Yep. Tapi dia baru saja tidur. Jangan khawatir," tambah Aomine, seakan bisa membaca apa yang ada di pikiran Kagami.

Kagami tidak merespon itu. Ia diam sebentar sebelum berkata lagi, "Aomine," panggilnya.

"Hn?"

"Boleh aku menginap di situ juga malam ini?"

"Kenapa harus tanya, idiot? Datang saja, kuncinya ada di tempat biasa."

"Tapi Kuroko…."

Aomine tidak bisa menahan diri untuk tidak nyengir begitu mendengar apa yang menjadi kekhawatiran Kagami. "Asal kau bisa tahan untuk melakukannya dalam diam, Kuroko bukan masalah."

"Bukan begitu maksudku, brengsek! Ah, sudahlah. Aku sampai setengah jam lagi."

Aomine masih terkekeh begitu Kagami memutuskan sambungan, kembali menekuni laptopnya, kali ini dengan niat untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum Kagami datang.

Setengah jam kemudian, Aomine mendengar suara pintu depan membuka perlahan. Ia mematikan laptopnya, puas karena ia menyelesaikan artikelnya bersamaan dengan datangnya Kagami, dan langsung melesat ke depan.

Kagami sedang melepas sepatunya ketika Aomine muncul. Pria berambut merah itu masih belepotan jelaga di sana-sini dan baunya seperti asap.

"Kau butuh mandi," celetuk Aomine.

Kagami menoleh ke arah Aomine dan mendengus. "Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, dasar mesum. Dan aku tidak akan melakukannya. Tidak, dengan Kuroko ada di sini juga."

Aomine tertawa pelan, mengikuti Kagami masuk ke ruang tengah.

"Ngomong-ngomong, mana Kuroko?" tanya Kagami.

Aomine mengedik ke arah pintu kamar tamu yang terbuka, tapi begitu ia melihat ke dalam, tempat tidurnya sudah dalam keadaan kosong dan rapi. Aomine bertukar pandang dengan Kagami, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar, menemukan secarik memo di atas meja.

'Semoga malammu bersama Kagami-kun menyenangkan, Aomine-kun.'

Kuroko pasti sudah menyelinap pergi begitu mendengar telepon dari Kagami beberapa saat lalu. Aomine mengangguk puas, sahabatnya satu itu memang bisa diandalkan. Di saat seperti ini, hawa keberadaannya yang tipis memang berguna. Aomine menyodorkan memo itu ke arah Kagami agar pria berambut merah itu membacanya juga.

"Jadi," ujar Aomine, "Mandi?"

Kagami hanya memutar bola matanya, tidak memprotes lebih jauh ketika Aomine mengekornya ke kamar mandi.


"Jadi, setelah lulus dari Teikou ini, kau tidak mau masuk ke SMA yang sama denganku?" tanya Aomine, memandang Kuroko yang sedang meminum vanilla milkshake-nya dengan khidmat.

"Menurutku tidak bijaksana untuk masuk ke SMA yang sama dengan Generation of Miracles manapun."

Aomine tidak mendesak Kuroko lebih jauh. Mereka sudah membicarakan ini sebelumnya, dan Aomine tak pernah berhasil membujuk Kuroko untuk masuk ke Touou juga.

"Aku masuk ke Seirin. SMA yang sama dengannya," ujar Kuroko tiba-tiba, membuat Aomine memandang sahabatnya itu.

Mendadak Aomine paham. "Kau begitu menyukai cewek itu rupanya, Tetsu?" godanya, melempar Kuroko dengan salah satu kentang gorengnya, tertawa geli.

"Hentikan itu, Aomine-kun. Kau tidak ingin merasakan ignite punch waktu perutmu masih penuh dengan makanan kan?"


Aomine duduk menunggu di stasiun tempat ia dan Kagami janjian. Ia mengecek arlojinya. Tidak biasanya Kagami terlambat. Tapi Aomine tidak terlalu khawatir. Toh biasanya juga ia yang terlambat.

"Menunggu Kagami-kun, Aomine-kun?"

Aomine terlonjak kaget. "Tetsu!" desisnya. "Jangan muncul mendadak!"

Kuroko menghela napas sabar. "Aku sudah daritadi di sini, Aomine-kun."

Aomine masih berusaha menenangkan jantungnya, heran kenapa ia belum juga kena serangan jantung gara-gara Kuroko. "Apa yang kau lakukan di sini, Tetsu?"

"Jam istirahat kan? Makan siang tentu saja."

Aomine tertawa geli. "Kau makan hal yang lain selain vanilla shake? Sulit dipercaya."

Kuroko tidak menanggapi itu.

"Mau bergabung denganku dan Kagami?"

Kuroko menggeleng. "Aku tidak ingin jadi obat nyamuk."

Aomine menyikut sisi tubuh Kuroko main-main. "Kau sendiri, kapan mau mengenalkanku pada pacarmu yang berambut pink itu?" Aomine selalu mengejek warna rambut pacar Kuroko yang ditaksirnya sejak SMP begitu Kuroko memberitahunya ciri-ciri gadis yang disukainya dulu sekali. Kuroko sendiri sedikit menyesal memberitahunya, tapi sekarang sudah tidak begitu.

"Pacarmu sendiri rambutnya merah menyala dan alisnya bercabang."

Aomine mencibir, tapi tidak bisa membalas.

"Kau bahagia dengan Kagami-kun, Aomine-kun?" tanya Kuroko tiba-tiba, membuat Aomine menolah cepat ke arah sahabatnya, memandangnya penuh tanya.

"Tentu saja," jawabnya, "Dia pintar memasak dan seksnya luar biasa, terutama saat—"

Kuroko menutupi telinganya dengan kedua tangannya, memotong Aomine. "Tolong, Aomine-kun. Terlalu banyak informasi."

Aomine terkekeh, mengacak rambut Kuroko, tahu kalau itu akan membuat Kuroko lebih sebal. Kuroko menyingkirkan tangan Aomine dari kepalanya, menunjuk ke arah kereta yang baru datang.

"Itu dia datang, Aomine-kun," ujarnya.

Aomine mengikuti arah pandangan Kuroko. Begitu pintu kereta membuka, stasiun yang tadinya sepi hanya berisi mereka berdua langsung mendadak ramai, dan Aomine melihat seorang pria berambut merah mencolok yang lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya berlari ke arahnya. Cengiran lebar menghiasi wajah Aomine.


Selama berhubungan dengan Aomine, Kagami belum pernah terlambat janjian sekalipun. Tapi kali ini lain. Ia mendapat panggilan darurat mendadak, mengatasi kebakaran kecil tepat ketika shift-nya sudah selesai dan ia baru saja hendak pulang, membuatnya telat hampir setengah jam.

Ketika ia keluar dari kereta, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Aomine, menyeringai puas dari sederetan kursi tidak jauh dari pintu keluarnya. Kagami berlari menghampirinya.

"Tiga puluh menit, Bakagami. Dua burgermu milikku," ujar Aomine, mengingatkan Kagami tentang kegagalannya.

"Aku hari ini ingin makan okonomiyaki."

Aomine mengemplang kepalanya, mengabaikan protes kesakitan Kagami. "Makan okonomiyaki pun jatahmu tetap punyaku. Ayo berangkat, aku lapar," Aomine meraih tangan Kagami, menariknya keluar dari stasiun, tapi kemudian ia berhenti mendadak, membuat Kagami menabrak Aomine.

"Apa?" tanya Kagami, mengusap hidungnya yang membentur bagian belakang kepala Aomine.

"Aku lupa, tadi Tetsu bersamaku."

Kagami ikut menoleh ke arah tempat Aomine duduk menunggu tadi. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

"Mana?" tanya Kagami.

Aomine menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku yakin tadi dia ada di situ. Ah, sudahlah, dia memang sudah biasa menghilang begitu."

Kagami tidak menanggapi, mengikuti Aomine keluar dari stasiun dalam diam sementara Aomine mulai berceloteh tentang apa yang dia alami di kantor hari ini bersama Kuroko. Kagami mulai berpikir kalau Kuroko ini sebenarnya menyukai Aomine, tapi Aomine terlalu bodoh untuk menyadarinya atau mungkin dia tahu, tapi memilih mengabaikannya. Itulah kenapa Kuroko selalu menghindari bertemu dengannya, karena Kuroko membenci Kagami yang dicintai Aomine.

Kagami mendesah pelan. Ia mulai merasa simpati pada Kuroko alih-alih cemburu. Kalau ia ada kesempatan untuk bertemu Kuroko, ia berjanji akan memperlakukan sahabat Aomine dengan baik, untuk menebus kelakuan Aomine.

"Kagami!"

Teriakan Aomine menyadarkan Kagami dari lamunannya. Ia menoleh, dan ia menyadari kalau ia nyaris saja menyebrang jalan sebelum waktunya. Kalau saja Aomine tidak menyambarnya, Kagami mungkin sudah tertabrak mobil yang melintas.

"Apa-apaan?!" seru Aomine, mencengkram kerah baju Kagami. Dari jarak dekat, Kagami bisa melihat Aomine luar biasa pucat.

"Maaf, aku sedang tidak fokus," jawab Kagami, mencoba melepaskan genggaman, tapi cengkramannya terlalu kuat.

"Kau—"

Aomine tidak menyelesaikan kalimatnya. Napasnya sekarang pendek-pendek. Kagami menyadari ada sesuatu yang salah.

"Aomine?" panggilnya lembut. "Kau baik-baik saja."

Aomine menggeleng, masih kesulitan bicara. Ia sekarang bertumpu sepenuhnya pada tubuh Kagami agar tidak ambruk ke tanah. Napasnya masih memburu.

Mengabaikan pandangan orang-orang di sekelilingnya, Kagami menopang tubuh Aomine yang sedikit lebih berat darinya. "Hei, Aomine, aku tidak apa-apa. Lihat?" gumam Kagami, mencoba terdengar selembut mungkin meskipun ia panik luar biasa. Ia sama sekali tidak tahu kalau Aomine bisa terkena serangan panik—ia tidak tahu apa yang terjadi di masa lalunya sampai ia bisa terlihat setrauma ini hanya karena Kagami nyaris tertabrak.

Kagami setengah memeluk Aomine, mengelus tengkuknya pelan. Perlahan, napas Aomine mulai kembali normal. Ia sudah bisa menegakkan tubuhnya kembali, meskipun wajahnya masih sedikit pucat.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi," gumam Aomine.

Kagami menahan diri untuk tidak mencium Aomine di depan umum. Ia hanya menepuk punggung Aomine pelan. "Tidak apa-apa. Aku di sini."

Baik Aomine maupun Kagami tidak membahas serangan panik Aomine sepanjang perjalanan ke restoran okonomiyaki maupun selama makan. Kagami bahkan membiarkan Aomine mendominasi perbincangan mereka dengan cerita tentang dirinya dan Kuroko. Setidaknya itu membuat Aomine jadi lebih tenang dan pikirannya teralih. Kagami rasa belum saatnya ia mengorek trauma masa lalu Aomine.

Aomine mengusap sisa saus di sudut bibir Kagami dengan ibu jarinya, mendengus mencemooh. "Kalau aku belum pernah merasakan masakanmu, mungkin aku sama sekali tidak percaya kau bisa masak melihat cara makanmu saja sejorok ini."

Kagami hanya mendelik, tak bisa membalas karena mulutnya masih penuh okonomiyaki.

"Tapi jujur, masakanmu itu memang yang paling enak yang pernah aku makan," ujar Aomine lagi, tersenyum seraya menerawang jauh, jelas membayangkan masakan Kagami.

"Memangnya Kuroko tidak bisa masak?" tanya Kagami setelah berhasil menelan makanannya.

Aomine tertawa. "Dia yang hanya minum vanilla shake tiap hari? Jangan tanya, Kagami."

Kagami menghabiskan sisa okonomiyaki-nya dan mendesah puas setelah perutnya kenyang. "Kalian sudah kenal sejak kecil kan? Selalu bersama terus? SD, SMP, SMA?"

Aomine menggeleng. "SD dan SMP, ya. Tapi ia memutuskan untuk memilih SMA yang berbeda denganku."

"Oh ya?" Kagami mulai tertarik. "SMA mana dia?"

Aomine menyesap lemon tea-nya. "Seirin," jawabnya. "Teikou pernah papasan dengan tim basket SMA Seirin sesuai pertandingan dan Tetsu bilang ia menyukai kerjasama tim mereka, sama sekali berbeda dengan Generation of Miracles-nya Teikou," Aomine terkekeh. "Tetsu selalu begitu. Lebih mendahulukan kerjasama tim dan persabahatan. Aku tidak heran kalau suatu saat nanti ia jadi tokoh utama komik shounen."

Tapi penjelasan Aomine mendadak kabur di telinga Kagami begitu ia mendengar nama SMA Kuroko. "Tunggu, Aomine," ujar Kagami, "SMA mana tadi katamu?"

"Seirin," ulang Aomine. "Dia di tim basket Seirin juga."

Kagami tidak menanggapi. Ia hanya bisa membeku menatap Aomine, sementara Aomine melanjutkan pembicaraan mengenai Kuroko semasa SMA, tapi Kagami sama sekali tidak memperhatikan.

Kagami dulu bersekolah di Seirin dan anggota tim basketnya juga. Tapi tidak ada seorangpun yang bernama Kuroko Tetsuya di timnya.

-tbc-

Yosh! Lagi-lagi hasil buah cinta saya dan Naerossi! Wahahaha~ But actually I'm kinda afraid to publish it, so... #shrug Dan tadinya ini 5k-ish one shot gitu, tapi saya pisah jadi dua bagian akhirnya biar nggak capek bacanya ;)