Authors: naerossi & grettama.

Kagami tidak bisa mengenyahkan kejanggalan itu dari otaknya. Ia bahkan mulai merasionalkan pikirannya dengan teori 'mungkin Kuroko bukan seangkatannya', tapi itu tidak mungkin. Karena Aomine bilang Kuroko seumuran dengan mereka dan mereka semua ada di angkatan yang sama. Kagami bahkan sampai memastikan nama lengkap Kuroko, yang disambut dengan tatapan heran Aomine. Tapi benar, nama lengkap Kuroko adalah Kuroko Tetsuya. Dan Kagami jelas-jelas yakin sama sekali tidak ada anak yang bernama Kuroko Tetsuya di tim basketnya, dan di Seirin.

Begitu ia mencapai apartemennya, Kagami langsung membongkar gudangnya, mencari-cari buku katalog ia menemukan buku itu di bawah tumpukan majalah-majalah basket lamanya, ia langsung membuka halaman tim basketnya, membaca namanya satu persatu dengan teliti.

Aida Riko, pelatih. Hyuuga Junpei, Kapten. Kiyoshi Teppei. Izuki Shun. Koganei Shinji. Mitobe Rinnosuke. Kagami Taiga. Furihata Kouki. Fukuda Hiroshi. Tsuchida Satoshi.

Sama sekali tidak ada Kuroko Tetsuya.

Belum puas, Kagami kembali membolak-balik halaman buku katalog itu, mengecek tiap kelasnya, mencari-cari nama Kuroko. Tapi setelah kelima kalinya Kagami menekuni buku itu, nama Kuroko tetap tidak ada di manapun.

Tidak menyerah, Kagami bangkit dan mengambil ponselnya, menghubungi pelatihnya.

Aida mengangkatnya setelah dering ketiga.

"Hei, Kagami, ada apa?"

"Maaf, Pelatih," sahut Kagami, masih belum bisa mengenyahkan kebiasaannya untuk memanggil Aida dengan sebutan 'pelatih' meskipun dia sudah bertahun-tahun lulus dari SMA-nya. "Aku ingin menanyakan sesuatu, ini mungkin terdengar aneh, tapi jawab saja, oke?"

"Er, oke, baiklah. Jadi, apa?"

"Apa di tim kita dulu ada yang namanya Kuroko Tetsuya?"

Aida tidak langsung menjawab. Ia mengulang-ulang nama yang disebutkan Kagami selama beberapa saat, mengingat-ingat, kemudian menjawab. "Tidak, Kagami. Tidak ada."

"Apa kau mengenal anak Seirin yang bernama Kuroko Tetsuya? Di luar tim basket?"

"Tidak," jawab Aida lagi, terdengar lebih mantap kali ini. "Memangnya kenapa?"

Kagami tidak tahu bagaimana ia harus menjawab itu, jadi dia berkelit, "Eh, tidak. Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, Pelatih," ujar Kagami, "kau bisa bantu aku carikan alamat dan nomor telepon anggota Generation of Miracles?"

Aida tertawa. "Bukannya kaumengencani salah satunya? Kenapa tidak tanya dia saja?"

Kagami balas tertawa lemah. "Eh, ini, agak sensitif sebenarnya…."

"Baiklah. Beri aku beberapa hari, oke? Kemampuanku mengumpulkan data sudah agak berkarat…."

Kagami mengiyakan dengan puas, senang karena Aida tidak mendesaknya lebih jauh. Salah satu kualitas bagus dari Aida yang selalu siap membantu tanpa bertanya macam-macam. Kagami mengakhiri sambungan telepon itu setelah sebelumnya berbasa-basi menanyakan kabar Hyuuga, yang sekarang sudah menjadi suaminya, dan anak mereka.

Begitu ia selesai berbicara dengan Aida, Kagami hanya duduk diam di ruang tengahnya. Apa yang Aomine sembunyikan di masa lalunya?


"Tetsu," panggil Aomine, memecah keheningan diantaranya dan Kuroko, meskipun televisi menyala, menayangkan acara memasak yang sedang ingin ditonton Kuroko.

"Hm?" sahut Kuroko, masih belum mengalihkan pandangannya dari layar. Saat ini Kuroko sedang berada di rumah Aomine seperti biasanya, menemani Aomine menunggu Kagami pulang sebelum pria berambut biru itu melesat keluar dari rumahnya ke apartemen Kagami untuk melakukan entah apa dengan pacarnya.

"Kau ingat waktu aku janjian makan dengan Kagami beberapa hari lalu? Dimana dia hampir tertabrak?" tanya Aomine.

Kuroko mengangguk.

"Aku tak tahu kenapa aku begitu takut waktu itu. Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Kau tahu apa yang terjadi padaku?"

Kuroko mengalihkan pandangannya dari layar kali ini, memandang Aomine yang menunduk menatap lututnya. Wajahnya terlihat begitu kalut. Kuroko beringsut mendekat, melingkarkan lengannya ke leher Aomine, menariknya mendekat untuk setengah memeluknya.

"Kau sangat mencintai Kagami-kun, Aomine-kun."

Aomine tidak melawan pelukan Kuroko. Ia menyandarkan keningnya di bahu Kuroko yang lebih kecil bila dibandingkan dengan bahu Kagami. "Apa itu hal buruk?" tanya Aomine.

Kuroko tidak menjawabnya.


Ketika pertama kali pulang ke Jepang setelah lama menghabiskan masa kecilnya di Amerika, Kagami yang baru saja menjadi anak kelas satu di Seirin mendengar rumor tentang Generation of Miracles. Generasi emas basket tim SMP Teikou yang terdiri dari lima orang dengan kemampuan masing-masing yang sama sekali tidak bisa diremehkan.

Namun selain itu, ia juga mendengar tentang keberadaan orang keenam di tim itu. Orang keenam yang tak terlihat. Kagami cukup yakin kalau orang itu adalah Kuroko, sahabat sejak kecil Aomine.

Dan setelah berminggu-minggu, Kagami akhirnya berhasil mendapatkan kontak anggota Generation of Miracles yang lain selain Aomine dan berhasil menghubungi mereka satu persatu, menanyakan keberadaan Kuroko. Tetapi, jawaban yang didapatnya sama sekali di luar dugaannya.

Tidak, kalau dipikir-pikir, jawabannya justru lebih masuk akal. Aomine selalu berkata kalau Kuroko selalu muncul dan menghilang secara mendadak, lalu fakta bahwa ia sama sekali tak pernah bertemu Kuroko. Jawaban yang didapatnya sangat pas dengan semua hal yang terlalu kebetulan itu.

Kagami terhenyak di sofanya, hanya bisa menatap nyalang ke arah ponsel di tangannya. Sekarang masalahnya hanyalah, bagaimana memberitahukan hal ini pada Aomine.


Akhirnya setelah berkutat selama dua minggu dengan pikiran tentang Aomine dan Kuroko, Kagami memutuskan sudah saatnya ia memberitahu Aomine.

Kagami memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kargonya, menggigiti bibir bawahnya. Aomine baru saja mengiyakan tawaran Kagami untuk mampir ke rumahnya, jadi di sinilah ia sekarang, dalam mobilnya menuju ke rumah Aomine.

Kagami mengurut keningnya. Jujur saja, ia kalut. Ia tak yakin kalau memberitahu Aomine adalah keputusan yang tepat. Aomine tampak bahagia dengan keberadaan Kuroko, dan Kagami hanyalah seseorang yang baru delapan bulan hadir dalam hidup Aomine. Ia merasa bersalah merenggut Kuroko begitu saja, tapi hati kecilnya ingin Aomine menghadapi kenyataan.

Kagami menarik napas panjang ketika ia memarkir mobilnya di depan rumah Aomine. Ia turun dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Resikonya ia hadapi nanti.


Aomine sudah menunggunya begitu Kagami membuka pintu.

"Ah, sayang sekali Tetsu baru saja pamit pulang," ujar Aomine, menjulurkan kepalanya dari arah ruang tengah, memberitahu Kagami dimana ia berada.

Hati Kagami berdenyut sakit begitu nama Kuroko terlontar dari mulut Aomine. Sudah selalu seperti itu beberapa minggu belakangan ini. Tapi kali ini lain. Lebih terasa sakit.

Kagami menarik napas sekali lagi, kemudian mendudukkan diri di sebelah Aomine. Sekarang, atau tidak sama sekali.

"Aomine," panggilnya, "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Aomine mengalihkan pandangannya dari layar. "Ya?"

"Ini…," Kagami ragu sejenak, "tentang Kuroko."

Aomine mengernyit, tapi perhatiannya sepenuhnya tertuju ke arah Kagami sekarang. Ia bahkan mematikan televisinya.

"Kagami," ujarnya, "kalau ini tentang kecemburuan tak berdasarmu terhadap Tetsu, aku—"

Kagami menggeleng, memotong ucapan Aomine. "Bukan, ini bukan tentang itu."

Sebelah alis Aomine terangkat. "Lalu?"

Kagami masih menggigiti bibir bawahnya, memandang Aomine lekat-lekat yang balas memandangnya dengan ekspresi penuh tanya. "Sejak kapan kau mengenal Kuroko?"

Aomine masih tampak heran, tapi toh menjawabnya juga. "Er, entahlah. Kira-kira waktu aku berumur delapan tahun?"

"Kau selalu terus bersamanya sejak saat itu?"

Aomine mengangguk, heran. "Aku sering bilang dia selalu muncul mendadak dan menghilang mendadak juga, tapi sebagian besar waktuku selalu kuhabiskan bersamanya sejauh yang aku ingat. Akhir-akhir ini jadi agak jarang sejak aku pacaran denganmu tapi."

Kagami mencelos. "Aomine, aku…," Kagami benar-benar tak tahu bagaimana harus mengutarakannya. Ia berdehem, mencoba menyusun kalimatnya lagi, "Aomine, bagaimana kalau aku bilang, sebenarnya Kuroko Tetsuya tidak nyata?"

Aomine memandang Kagami selama beberapa saat, tapi kemudian ia tertawa. "Apa maksudmu, Bakagami? Kau bilang Tetsu itu hantu atau apa? Keberadaannya memang tipis dan ia sering muncul mendadak sih, tapi tetap saja."

Kagami mengalihkan pandangannya dari Aomine kali ini. "Maksudku, dia tidak nyata seperti dia hanya ada di dalam imajinasimu."

Aomine berhenti tertawa. Ia mencari-cari mata Kagami, tapi Kagami tetap menghindarinya. Meskipun demikian, ia bisa melihat kesedihan di situ.

"Apa maksudmu?" tanya Aomine akhirnya, lambat-lambat.

Kagami tidak langsung menjawab. Masih berusaha menimbang-nimbang kata-kata yang tepat untuk menjelaskan. "Kau mengatakan padaku kalau Kuroko adalah anggota tim basket Seirin," ujar Kagami akhirnya, kembali menatap Aomine, "aku adalah anggota tim basket Seirin, Aomine. Tapi tidak ada seorangpun yang bernama Kuroko Tetsuya di tim."

Aomine membeku, maka Kagami melanjutkan, "Aku pikir mungkin hanya aku yang tidak ingat, tapi setelah aku cek ke pelatihku dan bahkan buku katalog SMA-ku, aku tidak bisa menemukan Kuroko Tetsuya dimanapun."

Aomine mengeluarkan tawa hambar. "Tidak masuk akal. Jangan bicara omong kosong, Kagami. Mana mungkin Tetsu tidak nyata?"

Kagami menggertakkan rahangnya. "Coba katakan padaku, Aomine. Dimana Kuroko tinggal?"

Aomine berdecak tak sabar. "Tetsu tinggal di…."

Tapi Aomine tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Otaknya tiba-tiba kosong. Dimana Tetsu tinggal, eh?

"Kau sudah mengenalnya nyaris seumur hidupmu, Aomine, mustahil kan kau tidak tahu dimana ia tinggal? Katakan padaku dimana Kuroko tinggal sekarang, dan aku akan berhenti bicara omong kosong."

Aomine sangat ingin menjawab itu. Ia mencoba berpikir lebih keras. Ia harusnya tahu. Saat ia pertama kali bertemu Kuroko… saat ia menangis di bawah pohon musim panas bertahun-tahun yang lalu… Kuroko tiba-tiba menghilang saat kedua orangtuanya datang menjemputnya. Saat berada di sekolah… Kuroko selalu muncul mendadak saat Aomine sendirian dan menghilang begitu orang lain muncul. Selalu seperti itu. Bahkan saat mereka berjalan pulang bersama, Kuroko selalu berbelok lebih dulu sebelum Aomine mencapai rumahnya. Dan bahkan kalau dipikir lagi, Aomine sama sekali tidak pernah mengunjungi rumah Kuroko. Selalu Kuroko yang muncul mendadak di rumahnya, kemudian menghilang begitu saja. Apa benar Tetsu tidak nyata?

Melihat Aomine kehilangan kata-kata, Kagami melanjutkan, "Aku juga sudah menghubungi teman-teman Generation of Miracles-mu," potong Kagami, meraih tangan Aomine yang sedikit gemetar. "Tak ada member keenam di tim Teikou-mu. Kau -lah yang melakukan semua misdirect pass itu. Kau juga yang mulai menyebarkan gosip tentang keberadaan member keenam, Kuroko. Teman-temanmu tidak ada yang memprotesmu karena mereka pikir itu hanya lelucon."

Aomine masih tidak merespon. Kagami mengeratkan genggamannya pada tangan Aomine, tapi Aomine sama sekali tidak membalasnya. Mata birunya masih menatap Kagami dengan ekspresi shock yang luar biasa. Kagami sudah siap kalau mungkin Aomine akan mendapat serangan panik lagi, tapi Aomine hanya duduk terpaku di hadapannya.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu menciptakan Kuroko, Aomine, tapi apapun itu, kau harus bisa menghadapi kenyataan," ujar Kagami lembut. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aomine untuk memberikan kecupan singkat di dahinya. Saat ini, Aomine terlihat begitu rapuh dan kenyataan bahwa dirinyalah yang membuat Aomine terlihat seperti itu menyebabkan dadanya sesak.

Aomine masih belum mengucapkan sepatah katapun. Masih tetap diam. Kagami duduk di hadapannya, menunggu, namun akhirnya setelah beberapa saat, ia mengusap lembut pipi Aomine.

"Kurasa mungkin sebaiknya kau membutuhkan waktu untuk sendiri," ucap Kagami akhirnya, bangkit dari sofa, mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Aomine. "Hubungi aku kalau ada apa-apa, oke?"

Aomine tidak menjawab. Kagami melepaskan genggamannya pada tangan Aomine, menelan kembali rasa pahit yang bercokol di tenggorokannya, dan melangkah keluar dari rumah Aomine.


Sepeninggal Kagami, Aomine masih duduk diam di sofanya. Otaknya serasa macet.

"Aomine-kun," suara khas Kuroko menyadarkan Aomine. Pria berambut biru terang itu sudah mendudukkan diri di depannya, tepat di tempat yang tadi diduduki Kagami. Tanpa vanilla milkshake kali ini.

"Tetsu…," ucap Aomine, memandang Kuroko dari atas sampai ke bawah. Ia tampak begitu nyata. "Kagami bilang kau tidak nyata…"

Kuroko menghela napas pelan. "Aomine-kun, kau percaya padaku kan?"

Aomine mengangguk. "Tentu saja aku percaya padamu, Tetsu, tapi—"

"Kalau begitu itu cukup," potong Kuroko.

Aomine membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya, tertawa getir. Ia bisa merasakan dirinya sedikit gemetar. "Kau nyata kan, Tetsu? Aku tidak… gila kan? Kau, Kuroko Tetsuya, nyata, kan?"

Kuroko tidak merespon itu, membuat Aomine menoleh ke arahnya.

"Kau bersekolah di Teikou bersamaku. Anggota keenam Generation of Miracles. Lalu kau masuk ke tim basket Seirin. Kagami pasti bohong waktu kau bilang tidak ada seorang pun yang bernama Kuroko Tetsuya di Seirin. Bagaimana mungkin bisa tidak ada?" Aomine melanjutkan racauannya, "Bagaimana mungkin aku mengarang semuanya tentangmu? Kau bahkan punya gadis yang kau sukai—"

Aomine berhenti mendadak ketika ingat bahwa ia sama sekali tidak tahu nama gadis yang Kuroko sukai.

"Siapa namanya, Tetsu?" tanya Aomine. "Siapa nama gadis berambut pink itu?"

Kuroko tidak langsung menjawab. "Momoi Satsuki," jawab Kuroko akhirnya, lamat-lamat.

Nama itu menyebabkan sensasi aneh di dada Aomine, membuatnya bertanya-tanya. Momoi Satsuki entah kenapa terdengar familiar, tapi ia tak ingat ia pernah mendengarnya dimana.

Aomine memandang Kuroko lekat-lekat. Ia mencoba menemukan kembali ketenangannya. "Biarkan aku mengantarmu pulang hari ini. Aku belum tahu rumahmu, Tetsu."

Kuroko tidak menjawab. Ia hanya bangkit berdiri, membiarkan Aomine mengikuti di belakangnya. Tidak mungkin Tetsu tidak nyata kan?


Aomine berjalan di sisi Kuroko dalam diam. Tak ada satupun di antara mereka yang bicara. Bahkan saat berdesakan di dalam kereta. Aomine masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Begitu mereka turun dari kereta dan keluar dari stasiun, Kuroko menuntunnya menelusuri jalan yang Aomine kenali sebagai jalan tempat rumahnya sewaktu kecil. Mereka melewati sebuah taman yang sudah gelap karena matahari sudah lama terbenam, dan Aomine ingat ia dan Kuroko sering menangkap serangga di taman itu. Semua memorinya terasa begitu nyata. Jadi bagaimana mungkin Kuroko hanya khayalannya?

Ketika rasanya sudah cukup lama, Kuroko akhirnya berhenti di sebuah rumah yang tampak asing, namun di saat bersamaan juga tampak familiar bagi Aomine. Aomine mengernyit, membaca papan nama di gerbang rumah itu.

"'Momoi'?" ia membaca, "Oi, Tetsu, ini rumah Momoi? Kenapa kau malah membawaku ke rumah…."

Kalimat Aomine mengabur. Ketika ia menoleh ke arah Kuroko, pria berambut biru terang itu sudah lenyap, meninggalkan Aomine sendirian. Aomine menoleh ke sekelilingnya, mencari Kuroko, tapi jalanan di kanan-kirinya sepi.

"Daiki-kun?"

Aomine menoleh. Seorang ibu yang mungkin seumuran ibunya muncul dari sisi kanan jalan. Wanita itu membawa kantung belanjaan yang cukup besar di tangannya dan rambut merah mudanya digelung rapi.

"Benar Daiki-kun?" tanya wanita itu lagi seraya mendekat ke arah Aomine.

Aomine tidak merasa mengenali wanita itu, tapi fakta kalau wanita itu memanggilnya dengan nama kecilnya berkata lain. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk.

Wanita itu tersenyum cerah. "Wah, rasanya sudah lama sekali. Daiki-kun sudah menjadi pria dewasa. Ayo, masuk," ajak wanita itu, membuat Aomine tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.

Herannya, bahkan bagian dalam rumah wanita itu memberikan perasaan familiar yang begitu kuat bagi Aomine. Aomine mendudukkan diri di ruang tamu, sementara wanita itu membawakan teh untuknya.

"Aku pikir karena sudah begitu lama, Daiki-kun sudah lupa dimana Satsuki-chan tinggal," ucap wanita itu, yang jelas adalah ibu Momoi Satsuki.

Aomine tersenyum tipis. "Tadi Tetsu yang mengajak saya ke sini, tapi dia sekarang entah di mana."

Wanita itu tersenyum, namun memandang Aomine penuh tanya. "Tetsu?"

"Kuroko Tetsuya," jawab Aomine. "Teman SMP dan SMA Satsuki?"

Ibu Momoi mengerjap. "Teman SMP dan SMA?"

Aomine mengangguk, kali ini benar-benar heran. Ia sudah cukup heran dengan fakta kalau ibu Momoi yang sama sekali tidak dikenalnya malah memanggilnya dengan nama kecilnya, dan sekarang ditambah lagi ibu Momoi justru tidak mengenal Kuroko? Bukannya Kuroko sering bercerita kalau dia cukup sering menghabiskan waktu bersama Momoi di rumahnya?

Pemahaman mendadak menyapu ekspresi ibu Momoi. Ia menekap mulutnya, sementara airmata mulai menggenangi matanya.

"Daiki-kun… tidak ingat?" tanya ibu Momoi.

Aomine tidak tahu harus merespon apa. Ibu Momoi bangkit berdiri, memberi isyarat bagi Aomine untuk mengikutinya. Aomine mematuhinya. Ibu Momoi memimpinnya ke ruang tengah, ke depan sebuah altar. Foto seorang anak perempuan yang berusia sekitar delapan tahun terpajang di altar itu. Rambutnya pink panjang, dan senyumnya tampak begitu bahagia.

"Satsuki-chan meninggal karena kecelakaan mobil tujuh belas tahun yang lalu, Daiki-kun," ucap Ibu Momoi di sela-sela isak tangisnya.

Mendadak, sebuah memori melintas di otak Aomine.

Ia mengenakan setelan jas hitamnya yang terlalu panas untuk dikenakan di musim panas. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Ia berjongkok di bawah pohon tempat ia dan Satsuki biasa duduk berdua dan bermain kelereng.

"Satsuki…," panggilnya, masih menangis keras.

Usianya sekitar delapan tahun. Dan sahabatnya baru saja meninggal karena kesalahannya.

Aomine merasa otaknya hampa. Ia tidak ingat apa yang ia katakan pada ibu Momoi setelahnya, tapi sesaat kemudian, ia sudah dalam perjalanan menuju ke stasiun. Tubuhnya serasa mati rasa.

Ia mendudukkan diri di kursi tunggu yang ada di stasiun. Kakinya sudah sampai pada ambang batas untuk menyangga tubuhnya. Stasiun sudah sepi, nyaris tidak ada orang, dan Aomine samar-samar bisa mendengar pengumuman bahwa kereta terakhir akan tiba dua puluh menit lagi.

Aomine meraih ponselnya, merasa tidak sanggup untuk berdiri dan pulang, jadi dia memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke Kagami, memberitahunya dimana ia berada.

"Aomine-kun."

Panggilan familiar itu membuat Aomine menoleh. "Tetsu…," ujarnya, "Kau tidak nyata."

Kuroko tidak menjawab, hanya memandang Aomine dengan mata birunya.

"Aku sudah ingat semuanya sekarang," ucap Aomine lagi, merasakan air mata mulai mengaliri pipinya. Tujuh belas tahun yang lalu, saat ia dan Momoi berusia delapan tahun. Aomine sudah bersahabat dengan Momoi sejauh yang ia ingat. Mereka selalu bermain bersama-sama. Dan hari itu, musim panas tujuh belas tahun yang lalu.

"Satsuki mengajakku menangkap udang di danau…," suara Aomine bergetar.

"Dai-chan! Udang di danau di belakang sekolah besar-besar! Ayo kita tangkap!"

Aomine memandang Momoi yang matanya berbinar-binar. "Boleh deh…"

Momoi bersorak girang. "Ayo! Ayo! Kita nanti menangkap banyak-banyak dan kita masak sama-sama, ya?"

Aomine tertawa. "Masakanmu kan tidak enak, Satsuki…"

Momoi cemberut. "Dai-chan jahat!" protesnya, tapi sedetik kemudian, ekspresinya kembali berubah riang. Gadis itu mengulurkan kepalan tinjunya ke arah Aomine. "Aku dan Dai-chan, sahabat selamanya! Tak peduli Dai-chan jahat!"

Aomine memutar bola matanya, mengabaikan kepalan tangan Momoi. "Fist bump sudah kuno, Satsuki. Ayo berangkat saja lah."

Momoi berteriak kesal, tapi toh mengikuti Aomine melangkah ke arah danau di belakang sekolah. Namun, kejadian selanjutnya jauh di luar perhitungan Aomine. Ia sudah menyebrang jalan mendahului Momoi ketika ia mendengar suara decitan rem dan teriakan sahabatnya. Ketika ia menoleh, semuanya sudah terlambat.

Momoi sudah terkapar. Rambut merah mudanya tergerai, terlihat pucat di antara genangan darahnya. Aomine hanya bisa berdiri diam, terpaku.

"Aku sudah ingat semuanya…," ujar Aomine lagi. "Satsuki…"

Aomine mendengar suara Kuroko menghela napas di sebelahnya.

"Kagami-kun benar, Aomine-kun," ucap Kuroko. "Aku tidak nyata. Aku hanya manifestasi ingatanmu yang ingin melupakan bagaimana kau kehilangan Momoi-san."

Aomine tidak meresponnya.

"Tapi setelah ini kau akan baik-baik saja," lanjut Kuroko. Pernyataan itu mau tidak mau membuat Aomine memberinya tatapan bertanya.

Kuroko balas menatapnya. "Kau akan baik-baik saja bersama Kagami-kun."

Kuroko memberinya senyum tipis seraya mengacungkan kepalan tinjunya ke arah Aomine. Aomine memandang kepalan tangan itu. Ia belum membalas fist bump Satsuki…

Perlahan, Aomine mengangkat tangannya sendiri, dan membenturkan kepalan tangannya ke tangan Kuroko. Ingatan Aomine mendadak dipenuhi oleh senyum ceria Momoi tiap kali gadis kecil itu mengulurkan kepalan tangannya ke arah Aomine. Ingatannya begitu nyata sehingga seakan Aomine benar-benar sedang memberikan fist bump untuk sahabat kecilnya. Seulas senyum terukir di wajahnya, tapi ketika ia mendongak untuk memandang Kuroko, pria itu sudah menghilang.


Kagami membaca pesan Aomine dan langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke stasiun tempat Aomine berada. Ia memarkir mobilnya, berharap tidak kena tilang, dan langsung berlari masuk ke dalam stasiun.

Tak berapa lama, ia melihat Aomine. Pria itu sedang duduk sendirian di kursi tunggu dengan kepalan tangan tengah teracung ke sisi tubuhnya. Kagami bergegas mempercepat langkahnya, menghampiri Aomine.

"Aomine," panggil Kagami ketika ia sudah berdiri di hadapannya.

Aomine mendongak ke arahnya, dan saat ia melihat Kagami tersenyum padanya, pertahanan Aomine runtuh. Ia mulai menangis tak terkendali, membiarkan Kagami memeluknya.

Kagami membiarkan Aomine menangis di tubuhnya selama beberapa saat sampai isaknya sedikit mereda, dan seraya mengecup pelipis Aomine lembut, ia berbisik, "Ayo pulang."

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.

Aomine berdiri dalam rangkulan Kagami di depan sebuah nisan bertuliskan 'Momoi Satsuki'. Vanilla milkshake diletakkan di hadapan nisan itu oleh Aomine beberapa saat lalu.

"Kupikir yang maniak vanilla milkshake adalah Kuroko," komentar Kagami.

Aomine mendengus geli. "Tetsu adalah manifestasiku atas Satsuki. Kalau dipikir lagi, kalau misalnya mereka benar-benar saling mengenal, Satsuki pasti akan naksir Tetsu habis-habisan."

Aomine merasakan ibu jari Kagami mengelus tengkuknya. "Kuroko… dia masih sering muncul?" tanyanya.

Aomine menggeleng. "Tidak lagi sejak malam itu." Ia selalu merasa kalau mungkin itu tandanya ia sudah bisa merelakan kepergian Momoi. Meskipun terkadang ia jadi merindukan pria berambut biru yang ternyata hanya ada dalam khayalannya saja itu.

"Sayang sekali aku tidak sempat bertemu Kuroko," keluh Kagami, membuat Aomine tertawa seraya memberikan kecupan ringan di bibir pria berambut merah itu.

"Pulang?" tanya Aomine, disambut anggukan Kagami.

Aomine memandang nisan Momoi untuk terakhir kali sebelum memimpin Kagami keluar dari areal pemakaman.

Kau menyukai vanilla milkshake-nya kan, Satsuki?

Inspired by: Korean Drama "It's Okay, It's Love"

Perasaan waktu masih dibayangin jadinya bagus banget kok pas ditulis begini doang? Orz

Maaf kalau OOC, kalau ada typo, kalau banyak plotholes, kalau gajelas ini sebenernya AoKaga apa AoKuro apa AoMomo. Hahaha. Maaf untuk segalanya orz orz orz