Hello, Shooting Star chap 9

Rated M/Mpreg/HunHan

.

.

.

"Kau sepertinya hidup dengan baik"

Luhan menyesap kopinya lalu mengangguk pelan. Sehun bergerak mengambil dan menggenggam tangan luhan. Luhan membesarkan matanya sedikit, namun wajahnya masih datar seperti biasa.

"Kau tau lu, aku masih menunggumu"lirih sehun.

Luhan diam menatap sehun. Sehun tersenyum getir menahan tangis "aku begitu bahagia bisa melihatmu lagi, aku begitu merindukanmu"lirihnya lagi.

"Tidak bisakah... kau membuka hatimu untukku?"sehun menatap luhan penuh harap, ia tau jauh di dalam hati luhan, rusa itu masih mencintainya.

Luhan menundukkan kepalanya sejenak kemudian menarik tangannya dan bergantian mengenggam tangan sehun. Ia menatap sehun kosong, dan tersenyum tipis sekilas. Ia menepuk tangan sehun pelan, lalu beranjak dari duduknya. "Maaf"ujarnya pelan hampir berbisik.

Sehun menatap luhan dengan matanya yang mulai berair, luhan masih menolak keberadaannya. Luhan berbalik memunggungi sehun dan melangkah keluar dari cafe.

.

.

.

Luhan duduk diam dengan wajah datarnya seperti biasa sembari mengaduk-ngaduk makanannya dan terlihat tak makan sedikitpun. Tuan cho menghela nafas melihat tingkah putranya itu beberapa tahun belakangan. Ia menggenggam tangan luhan, luhan mendongak dan mendapati tatapan lirih ayahnya.

"Ikuti kata hatimu luhan, dan jangan pernah ragu"

Luhan mengernyitkan kening, ayahnya itu memang sudah tau tentang luhan menjebak sehun dan sehun yang sudah keluar dari penjara lebih cepat.

Seakan mengerti luhan tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.

"Selamat makan ayah, aku akan pergi mengunjungi ibuku"luhan beranjak dari duduknya kemudian membungkuk hormat pada ayahnya.

Ia melangkah mengambil mantelnya dan berjalan keluar dari rumahnya sendirian tanpa di temani chanyeol, akhir-akhir ini luhan sudah mulai bisa mengendalikan diri, walaupun terkadang traumanya masih menghantuinya dalam mimpinya.

Luhan menghela nafas lalu mendongakkan kepalanya menatap langit yang agak kelabu karena salju yang turun agak lebat siang tadi. Beberapa tahun lalu saat sehun di penjara, chanyeol membantu luhan untuk menemukan makam ibunya, hingga mereka pergi ke china untuk memeriksanya. Tapi ternyata, ibunya di makamkan di korea oleh ayah sehun. Saat luhan pertama kali ke makam ibunya, makam itu cukup terawat. Agak sedikit kotor karena mungkin sejak ayah sehun meninggal, tidak ada yang tau tentang makam itu.

Kini luhan rutin membersihkannya bahkan ia selalu membawakan bunga kesukaan ibunya. Ia melangkah memasuki sebuah toko bunga yang terletak tak jauh dai rumahnya.

'Kleneng' bunyi bel yang tergantung di pintu tanda seorang pelanggan masuk ke toko.

"Selamat datang!"ujar sehun terdengar bersemangat. Namun wajah cerianya itu berubah dalam beberapa detik ketika mendapati luhan yang juga tak kalah terkejut mendapati sehun duduk di balik meja kasir.

Luhan menatap sehun datar "kau... bekerja disini?"tanya luhan pelan

Sehun menggaruk tengkuknya yang tak gatal "aku bekerja paruh waktu di 6 tempat, pagi-pagi aku mengantar susu, lalu setelahnya aku mengantar yogurt, lalu aku menjaga toko roti hingga jam makan siang, kemudian menjadi kasir di cafe yang tadi, menjadi kasir disini, sekitar jam 12 malam aku bekerja di bar sebagai pengemudi bayaran"ujarnya sambil tersenyum cerah.

Tiba-tiba rasa bersalah seakan memukul-mukul kepala luhan.

"Bos, temanku ingin membeli bunga"teriak sehun, kemudian seorang flowerist yang terlihat berusia 30 tahunan keluar dan menyambut luhan dengan ramah "anda ingin bunga apa? Mawar? Baby breath? Calla lily?"

"Aku ingin bunga krisan saja 1 buket"ujar luhan datar.

"Ahh baiklah, aku ambilkan sebentar"wanita tadi tampak pergi ke belakang untuk mengambilkan bunga luhan.

"Bunga untuk siapa?"tanya sehun tampak penasaran.

Luhan terdiam tampak bingung untuk menjawab apa, ia tidak menyangka sehun akan menanyakan hal itu. Di tambah dia yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah terjadi pada ibunya.

"Ibuku"jawab luhan singkat.

Sehun mengernyit "ibu? Istri tuan cho?"tanya sehun dan luhan balas mengangguk.

"Ternyata tuan cho punya istri, apa dia sedang sakit?"tanya sehun lagi dan luhan hanya mengangguk. Tak lama flowerist tadi datang sambil membawakan sebuket bunga krisan, dengan cepat luhan membayarnya dan segera pergi dari toko tersebut tanpa menatap sehun sedikitpun.

Entah mengapa sehun merasa ada sesuatu yang mengganjal dari luhan. "Bos! Bolehkah aku pulang lebih awal? Lagipula ini christmas"mohon sehun sambil menatap penuh harap pada bosnya.

"Ckckck, baiklah kau boleh pulang lebih awal"

Sehun tersenyum senang "terima kasih bos!"ia segera berlari mengambil jaketnya dan mengejar luhan. Beruntung luhan masih tak terlalu jauh dari toko bunga hingga sehun dapat menyusulnya.

Namun ia tak memilih berjalan berdampingan dengan luhan, ia lebih memilih berjalan di belakang luhan, dan menatap punggung mungil milik luhan sambil tersenyum-senyum. Ia harap suatu hari ia bisa berjalan berdampingan dengan luhan, terutama saat di altar. Sehun tersenyum-senyum seperti orang gila, bayangan luhan yang sedang memakai tuksedo putih melangkah ke arahnya sambil tersenyum manis benar-benar membuatnya menggila.

Sementara luhan membayangkan dirinya menjadi sehun yang bekerja paruh waktu di 6 tempat tanpa beristirahat sedikitpun. Ia merasa semua ini adalah salahnya dan ambisinya untuk menghancurkan sehun. Saat itu ia begitu lepas kendali, sekarang rasa bersalah itu semakin membebaninya dan membuatnya merasa tak pantas untuk berdiri di samping sehun.

Aku tidak pantas...

Sehun terdiam ketika luhan memasuki area sebuah pemakaman yang terlihat sepi. Jika ibunya sakit mengapa ia tidak pergi ke rumah sakit, tapi ke pemakaman? Apa luhan berbohong padanya? Apakah ini berarti istri tuan cho sudah meninggal? Ia terus mengikuti luhan dan menaiki anak tangga satu persatu. Luhan menghentikan langkahnya di hadapan sebuah makam yang terlihat terawat dan terdapat bunga krisan yang tampak sudah layu.

Luhan mengambil bunga krisan yang sudah layu itu dan menggantinya dengan yang tadi baru di belinya. Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya sehun melihat luhan tersenyum seperti itu sejak ia menghilang dalam kecelakaan itu. Setitik air mata tampak jatuh dari pelupuk mata luhan, sehun terlihat terkejut. Ia maju satu langkah dan mencoba menepuk punggung luhan.

Namun ia tidak bisa, ia takut, ia begitu ragu. Ia menghela nafasnya pelan, tapi matanya tampak tak sengaja melihat nama yang tertulis di nisan itu "Liu Wen"sehun cukup yakin itu adalah nama china dan itu bukanlah istri tuan cho, karena ia sempat mendengar istri tuan cho adalah orang korea tapi sehun tidak tahu tentang keberadannya, apakah ia masih hidup atau tidak.

Sehun menatap luhan bingung. Apa yang sedang terjadi. "Lu.. apa yang sedang terjadi disini?"tanya sehun pelan.

Luhan berbalik dan terkejut mendapati sehun tengah berdiri tegak di belakangnya. "K-kau mengikutiku?!"teriak luhan tak percaya.

"Katakan, apa ini?"tanya sehun dingin sambil menatap luhan tajam.

"Kau tidak perlu tau apapun! Pergi! Jangan mengikutiku lagi!"teriak luhan dengan air matanya yang masih tak berhenti.

"Katakan"ucap sehun datar, terdengar seperti sebuah peringatan.

Luhan menatap sehun penuh amarah, tubuhnya bergetar, air mata seakan mengalir tak pernah kering. Luhan mulai berjongkok karena merasa lemas, dan mulai bercerita tentang semuanya. Dimana ayah sehun berselingkuh dengan ibunya, bagaimana ayah sehun membunuh ayahnya, bagaimana ayah sehun membunuh ibunya, dan bagaimana ayah sehun membuatnya menjadi anjing pembunuh.

Air mata mengaliri pipi sehun, ia menatap luhan tak percaya. Ia merasa sangat sesak, dan sakit mendengar apa yang sudah di perbuat ayahnya. Ia seakan merasakan apa yang di rasakan luhan yang baru saja berusia 7 tahun melihat ibunya tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.

Ia akhirnya mengerti mengapa ia tak pantas berdiri di samping luhan "maaf hiks maafkan aku"isak sehun.

"Aku tidak tau tentang ini, aku malah memaksamu untuk membuka hatimu untukku. Tentu saja, jika aku berada di posisimu pun aku tidak akan membuka hatiku untuk seseorang yang menjadi bagian dari keluarga yang telah menghancurkan keluargaku. Maafkan aku luhan"lirih sehun

"Aku berjanji tidak akan muncul di hadapanmu lagi"lanjutnya, ia mengusap air matanya dengan cepat dan melangkah meninggalkan luhan yang masih menangis hebat.

"Hiks oh sehun bodoh"isaknya pelan

.

.

.

"Rumah sakit atau rumah?"tanya chanyeol yang tampak khawatir menatap luhan yang siang ini pulang lebih awal karena mengalami demam.

Wajahnya pucat dan tubuhnya berkeringat dingin. Ia terlihat memijat kepalanya yang terasa berdenyut "rumah saja, aku benci rumah sakit"jawab luhan pelan.

Chanyeol berdecak kesal menatap luhan "lagi pula siapa orang bodoh yang menangis di tengah cuaca dingin selama 3 jam? Hanya kau saja Xi Luhan"ujar chanyeol kesal dengan menekankan nama Luhan dalam perkataannya.

Luhan berdecak kesal, dan memilih menatap keluar jendela mobil yang masih melaju daripada mendengar omelan chanyeol namun matanya tak sengaja melihat sosok sehun yang terlihat baru keluar dari sebuah supermarket.

"Berhenti"pinta luhan.

Luhan menatap sehun lirih dari balik kaca sambil mengelusnya pelan. Chanyeol menatap luhan merasa kasihan, ia menghela nafasnya. Sebenarnya dia ingin sekali menarik luhan ke tempat tidurnya dan menyelimutinya sekarang ini, namun melihat situasinya seperti ini, ia akhirnya mengeluarkan izin yang sulit baginya.

"Mau mengikutinya?"tanya chanyeol lembut.

Luhan menoleh ke arah chanyeol lalu menggeleng, namun matanya mengatakan hal yang sebaliknya.

"Ayo, aku akan mengawalmu dari belakang. Kalau-kalau kau pingsan nanti"ajak chanyeol.

Luhan menatap chanyeol agak ragu sejenak, namun akhirnya menyetujui usulan chanyeol. Luhan turun dari mobil dan mulai mengikuti sehun yang tampak membawa dua kantong plastik besar menuju sebuah panti asuhan.

Luhan menghentikan langkahnya ketika melihat sehun tampak begitu ceria ketika anak-anak panti asuhan terlihat berhamburan memeluknya. Sehun mulai membagikan makanan yang tadi di belinya sebagai hadiah christmas pada anak-anak yang tampak sudah berbaris tersebut.

Air mata kembali turun dari pelupuk mata luhan, seakan tak pernah membeku meski udara terasa menusuk tulang. Sehun terlihat sudah selesai membagikan hadiahnya, dan mulai melangkah menjauh dari panti asuhan sembari melambai-lambaikan tangannya pada anak-anak disana.

Dengan cepat luhan menghapus air matanya dan mulai mengikuti sehun kembali. Ia terus melangkah menatapi punggung bidang milik sehun, dan rambutnya yang tampak tak terawat. Luhan merasa sangat sesak melihat pemandangan dimana ia menemukan sehun memasuki sebuah flat kecil yang cukup kumuh terletak tak jauh dari panti asuhan tadi, flat itu masuk gang yang cukup dalam, tempatnya begitu kecil, kotor dan tampak kumuh.

Hatinya terasa sakit, begitu sakit. Ia merasa tak tahan lagi untuk menangis sejadi-jadinya, namun kepalanya terasa sangat sakit dan berdenyut. Ia melangkah cepat menuju chanyeol yang tak jauh di belakangnya.

Chanyeol menatap luhan dari kejauhan yang tampak semakin pucat sambil memegangi kepalanya. Luhan tampak terengah-engah dan terlihat mulai goyah. Chanyeol segera berlari dan menangkap tubuh luhan yang pingsan tepat waktu.

.

.

.

Luhan terbangun di atas tempat tidurnya dengan selimut tebal berwarna biru miliknya. Kepalanya masih terasa berdenyut, dan infus tampak terpasang di tangannya. Ia menghela nafaanya sembari memijat-mijat kepalanya. Ia bangkit dari tidurnya lalu bersender pada kepala tempat tidurnya.

"Luhannie sudah bangun?"tanya baekhyun yang datang sambil membawa nampan berisi semangkok bubur dan segelas teh ginseng.

"Baekhyunie"panggil luhan manja. Luhan yang biasanya terlihat datar dan dingin ternyata juga memiliki sisi yang manja, tapi hanya ia tunjukkan pada sahabat kesayangannya itu. Bahkan pada chanyeol pun ia hanya menunjukkan sisi dinginnya.

"Aigoo rusa manis ini sudah bangun rupanya"ujar baekhyun lalu menaruk nampan di atas nakas samping tempat tidur lalu memeluk luhan.

"Baiklah sekarang rusa nakal ini harus makan"

"Suapi aku kalau begitu"jawab luhan masih terdengar manja.

Baekhyun berdecak kemudian tertawa melihat bagaimana luhan bisa manja sekali ketika berada dengan dirinya. Ia mulai menyuapi luhan dengan bubur buatannya hingga suapan terakhir.

"Masakan baekkie memang yang terbaik, chanyeol beruntung"sungut luhan sedangkan baekhyun hanya terkekeh.

Setelah menghabiskan teh ginsengnya, chanyeol masuk ke kamar luhan "apa rusa jelek itu sudah selesai makan?"tanyanya terdengar mengejek.

"Apa kau bilang?! Kau ingin di pecat?!"teriak luhan kesal lalu memeluk baekhyun.

"Hey hey lepaskan baekhyun-ku"

"Akan aku lepaskan kalau kau berjanji tidak akan menyakiti baekkie-ku, jika kau menyakitinya hidupmu akan ku buat sengsara park chanyeol"ujar luhan yang berniat bercanda namun terdengar mengerikan.

"A-aku tidak akan menyakitinya!"balas chanyeol.

Baekhyun terkekeh, lalu membawa nampan tadi "kalian berbicaralah berdua"baekhyun melangkah keluar dari ruangan luhan dan tampak memberikan keyakinan pada chanyeol.

Chanyeol mendekati luhan, suasana menjadi hening. Luhan kembali menunjukkan sisi seramnya yang datar dan dingin. Ia juga sepertinya teringat kembali dengan apa yang disaksikannya kemarin.

"Lu, jika kau mencintainya katakanlah cinta"chanyeol menatap luhan memberi keyakinan.

Namun luhan tampak ragu dan memilih menundukkan kepalanya. Ia meremas selimutnya menahan tangis. Chanyeol mengangkat kepala luhan dan memaksa luhan menatap matanya.

"Luhan, sekarang ada dua jalur untukmu. Jalur 1 hidup tanpa sehun dan menderita setiap hari. Jalur dua hidup dengan sehun dan bahagia setiap hari. Pilihlah jalur yang ingin kau pilih.

Dengarkan apa yang ia bilang"ujar chanyeol sambil menepuk-nepuk dada luhan.

Setitik air mata kembali mengaliri pipi luhan "aku... tidak pantas untuknya"

Chanyeol tersenyum lebar menatap luhan penuh keyakinan "yakinlah padaku, kalian berdua pantas untuk satu sama lain"

Luhan menatap chanyeol mencari keyakinan dan kekuatan, air mata masih setia menemaninya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian dengan cepat ia menarik infusnya dan berlari keluar dari rumahnya. Chanyeol begitu terkejut ketika melihat luhan berlari keluar rumah hanya dengan memakai piyama tipis, dan tanpa alas kaki. Bukan apa-apa, hanya saja udara di luar begitu dingin karena salju yang masih lebat, di tambah perkiraan cuaca di tv mengatakan bahwa hari ini akan turun hujan.

Baekhyun mengelus punggung chanyeol "dia akan baik-baik saja"

Luhan terus berlari tak peduli betapa kedinginannya dia saat ini. Kaki dan tangannya terasa membeku, namun tak mempengaruhi tekadnya untuk menemui sehun. Air mata jatuh seiring dengan hujan yang mulai turun dengan begitu lebat.

"Hiks sehunnie hiks"isaknya. Ia terus berlari tak perduli dengan kakinya yang mulai berdarah karena menginjak beberapa benda tajam.

Ia sampai di dekat flat sehun, nafasnya terengah, kepalanya tambah berdenyut, hidungnya memerah, tubuhnya basah kuyup dan tubuhnya bergetar hebat karena terlalu dingin. Ia berdiri di depan pintu flat sehun, lalu mengetuknya pelan.

Namun tak ada jawaban dari dalam, ia khawatir sehun tidak ada di rumah. luhan kembali mengetuk namun kali ini lebih kuat dengan sisa tenaganya.

"Tunggu sebentar"suara sehun terdengar dari dalam,dengan seketika luhan merasa lega.

"S-sehunie..."panggil luhan persis seperti berbisik, wajahnya begitu pucat.

Luhan mengetuk pintu lagi karena sehun tak kunjung membukakan pintu.

"Sebentar!"teriak sehun, lalu terdengar derap langkah kakinya mendekati pintu. Sehun berdecak kesal sambil mengeringkan rambutnya yang basah karena kehujanan. "Siapa yang mengetuk? Apa ajhumma pemilik flat?"gerutunya sedikit merasa kesal.

Ia membuka pintu dengan cepat "ada ap-"ia terperangah mendapati luhan yang basah kuyup dengan wajahnya yang super pucat tengah berdiri tegak di hadapannya dengan tubuh bergetar.

"Lu-luhan..."

"Se-sehunnie"

Tbc

Sepertinya tinggal 1 chap lagi.