CHAPTER 7

Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto

Gaahina

Romance, hurt/comfort and

family

Story pure for Jhino

A/N:

Rajabmaulan: terima kasih sebelumnya sudah membaca dan mereview ^_^. Bahasa korea (hangul) ibu adalah eomma, eomoni dan eomonim. Sedangkan ayah adalah appa, abeoji, dan abeonim. Biasanya orang korea memanggil orang tua kandungnya memang dengan sebutan appa dan eomma, tapi tak jarang juga orang korea memanggil mertua seperti itu juga karena sudah akrab. Karena untuk panggilan eomoni, eomonim, abeoji, dan abeonim itu formal termasuk anak kandungnya sendiri memanggilnya seperti itu. Biasanya digunakan oleh kalangan menengah atas atau bangsawan. Dan bahasa korea yang tepat untuk sebutan mertua adalah siemeoni (ibu mertua) dan siebeoji (ayah mertua). Namun panggilan tersebut jarang dipakai karena terlalu sopan bagi orang korea biasa. Sumberku dari temenku yang sudah kuliah dan menetap disana lama. Untuk masalah typo, aku memang sepertinya akan menjadi Mr. Typo, hahaha..itu karena si apel saat itu lagi sakit jadi ngetiknya pake hp,di awal-awal chapter hehehe...tapi terima kasih semua sarannya cingu, itu sangat membantuku menggali pengetahuanku lagi, dan memperbaiki kesalahanku. Aku tak pernah tersinggung kok teman. Gomawo...^_^#deep bow

Dsakura2: hahahah memang sangat susah teman, jadi harus benar-benar memahaminya. Terima kasih cingu..^_^

Revirsha neolenth: terima kasih teman ^_^

Siti583: aku memang membuat pandai membuat konflik berat .. Jadi aku buat cerita yang sederhana saja tapi mengerti jalan ceritanya, temanku. Aku baru sadar kalau karyaku banyak flufnya, terima kasih sudah memang reader yang perhatian, aku suka. ^_^

Unguviolet: amiin vio-ah. ^_^

Happy reading

Kediaman Sabaku- Gaahina room

Suara gemericik air dalam kamar mandi tak mempengaruhi konsentrasi Gaara yang sedang sibuk mengecek tugas kantornya. Bahkan setelah mandi dia langsung duduk dilantai karpet tebal, bersandar pada ranjang tidur dan menyalakan Ipadnya. Padahal rambutnya masih basah.

Pintu kamar mandi terbuka, memunculkan sosok perempuan berambut indigo, Sabaku Hinata yang baru saja selesai mandi. Kaki jenjangnya melangkah menuju sang suami. Hinata menghela nafas kemudian menggeleng-gelengkan kepala melihat kegiatan suaminya yang gila kerja.

Hinata duduk didekat Gaara kemudian mengusap-usap rambut suaminya yang masih basah dengan handuk miliknya. Sementara Gaara tetap fokus mengecek laporan dan email yang dikirim oleh sekretaris sekaligus sahabatnya, Inuzuka Kiba.

"Oppa.." Panggil Hinata yang masih mengusap lembut suaminya.

"Hn." Sahut Gaara singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Ipad.

"Kenapa oppa tak pernah cerita tentang diri oppa? Naruto-kun saja tahu tentang oppa." Ucap Hinata lirih bahkan terdengar sedih.

Gaara langsung meletakkan Ipad-nya di nakas lalu duduk di sebelah istrinya saat mendengar suara sedih Hinata. "Kalau yang kau maksud sikapku yang di ceritakan Namikaze itu memang benar, tapi itu hanya di kantor, hanya di dunia kerja, love. Dia hanya tahu tentangku di media saja, tapi yang mengenalku lebih dalam hanya keluargaku dan terutama dirimu, sayang. Hanya padamu saja." Jawabnya sambil mengelus lembut pipi istrinya.

"Kenapa begitu, oppa?" Tanya Hinata penasaran.

"Dikantor memang harus tegas tak pandang bulu, karena perusahaan kakek hampir saja pailit saat itu karena banyak karyawan yang tidak bagus kerjanya dan beberapa karyawan kakek banyak yang korupsi, sayang. Mungkin terlihat kejam tapi aku harus memecatnya jika hasil pekerjaan mereka sangat tidak memuaskan. Sayang mengertikan?" Kata Gaara lembut, sedangkan hinata mengangguk tanda mengerti. Gaara tersenyum kecil melihat istrinya menganggukkan kepala, terlihat imut.

"Apa nanti Oppa juga tegas pada Sakura ?" tanya istrinya lagi.

"Of course, love. Bahkan aku akan lebih keras lagi padanya, karena ayah ingin dia menjadi penerusnya." Jawab Gaara membuat hati Hinata tercubit. Seandainya saja Hanabi yang menjadi penerus ayah, batinnya.

"Oppa, boleh aku tanya sesuatu lagi?" Gaara menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya.

"Emm.. menurut oppa, Hanabi bisa tidak menjadi penerus ayah?" Tanya Hinata ragu-ragu.

Gaara terdiam sejenak kemudian berkata, "Kalau menurutku, Hanabi harus bisa karena dia anak kandung ayah, pewaris kedua setelah dirimu, sayang. Sama halnya dengan Kankuro Hyung, mau tak mau harus bisa menggantikan appa menjadi Presiden direkturnya sedangkan aku nantinya akan menjadi direktur dibawah Kankuro hyung."

Hinata terdiam sejenak mendengar jawaban suaminya, sepertinya ada sesuatu yang sedang yang membuat dia penasaran. "Jadi selama ini Gaara oppa dan Kankuro Oppa terpaksa melakukannya?"

Gaara terkekeh melihat ekspresi polos istrinya. Dengan lembut, Gaara mendekap istrinya. "No, love. Justru aku dan hyung dengan senang hati melakukannya karena kami bekerja mulai dari nol sayang. Kalau Kankuro hyung bekerja diperusahaan appa selama dua tahun lalu dan mulai menjadi manager hingga akhirnya sekarang menjadi direktur dibawah pengawasan appa."

"Apa oppa juga seperti Kankuro oppa?"

"Ne hampir sama sayang. Bedanya, aku bekerja di perusahaan tuan Ichimaru. Melamar pekerjaan di sana dan menjadi karyawannya, love. Lalu beliau menyukai hasil kerjaku dan sering mempromosikan bahkan menaikkan jabatanku, sayang, hingga aku menjadi CEO disana. Bila Sakura ingin menjadi penerus ayahmu dia harus melewati itu juga, karena untuk menjadi pemimpin harus punya kemampuan dan pengalaman yang matang, sayang." Jelas Gaara panjang lebar.

Hinata terkesima mendengar cerita suaminya. Dia tak menyangka kalau suaminya ini adalah seorang yang pekerja keras dan mandiri. Baru kali ini dia mengagumi suaminya, padahal ia selalu mengagumi Naruto yang merupakan anak Namikaze Minato pemilik perusahaan percetakaan terbesar ke dua di Jepang.

"Hei love, jangan memandangiku seperti itu. Aku tau, aku terlalu tampan untukmu, istriku sayang." Goda Gaara.

Hinata tersenyum sambil mencubit pipi suami. "Ne, oppa sangat tampan, panda tampan." Sahut Hinata.

"Mwo? Panda?" Gaara terbelalak mendengar ucapan istrinya dan Hinata mengangguk.

"Tampan mana aku dengan si Namikaze itu?" Lanjutnya.

Hinata pura-pura berfikir sengaja membuat suaminya kesal. "Ara..ara... memang tampan si rambut pirang itu dari pada aku!" Kata Gaara dengan nada kesal. Hinata terkekeh melihatnya. Di tangkupnya wajah Gaara dengan kedua tangan mungilnya lalu ...

Cup.

Gaara mematung setelah istrinya mencium bibir merahnya.

Cup.

Gaara terbelalak, istrinya menciumnya lagi. Ini pertama kalinya istrinya menciumnya.

"Oppa.." Rengek Hinata karena Gaara tak bereaksi apapun.

Cup.

"Again, Love.." Ucap Gaara tiba-tiba.

Kini giliran Hinata yang terbelalak dan mematung.

"Love.." Ganti Gaara yang merengek karena di diamkan Hinata.

"Eh? Ya op-oppa?"sahut Hinata gagap.

Gaara menghela nafas karena istrinya tak kunjung memberi ciuman lagi, ia langsung mencium Hinata dan melumat bibir mungil istrinya itu. Ciuman itu berlangsung lama membuat istri melenguh dan memukul pelan dada bidang Gaara.

Gaara menarik Hinata kedalam pangkuannya, ia mencium pipi berisi istrinya dengan lembut. Ketika Gaara hendak melumat bibir istrinya, jari telunjuk Hinata menyentuh bibir Gaara.

"Oppa tahan dulu, ne? umur kandunganku masih rentan untuk melakukan 'itu' oppa." Hinata mengingatkan suaminya dengan malu-malu.

Gaara reflek memukul dahinya pelan. "Gaara pabo! Mianhae baby, appa lupa." Runtuk Gaara ada dirinya sendiri kemudian mengelus lembut perut istrinya yang sedikit membuncit.

Hinata tersenyum geli melihat tingkah konyol suaminya. Sedangkan Gaara yang melihat istrinya sepertinya itu membuat dirinya bertanya. "Wae, love?"

"Anniyo oppa. Aku tak bisa membayangkan raut wajah karyawan oppa, jika melihat pemimpinnya menepuk dahinya sambil mengerutu aneh seperti tadi, oppa." Jawab Hinata yang masih terkekeh geli.

Gaara tersenyum kecut sambil mendekatkan wajahnya ke perut Hinata, "Baby, eommamu hari ini suka sekali mengejek appa. Nanti kalau lahir, sifatmu jangan seperti eomma ya, dear..auuww.." Rintih Gaara, Hinata menjewer telinga suaminya karena kesal dengan perkataan suaminya.

"Ya! Love! sakit!Appoyo.. love.." Hinata masih menjewer suaminya.

"Perbaiki ucapan oppa!" Perintah sang istri. Mau tak mau Gaara menurutinya dari pada telinganya memanjang seperti telinga kelinci.

"Ara..ara.. baby, eommamu hari ini cantik sekali. Kau tau? Eomma memakai gaun warna ungu kesukaannya dan bahagia bertemu dengan imo Hanabi, harabeoji, dan halmeoni, sayang. Appa cinta eomma dan dirimu sayang." Muka Hinata memerah mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Gaara terus mengajak calon anaknya berbicara.

Di balik pintu kamar Gaahina..

Dua orang kakak beradik Sabaku sedang berdiri didekat pintu kamar adiknya. Mereka adalah Kankuro dan Temari yang sedang menguping kamar adik kandungnya.

"Kankuro-ah, mereka mesra sekali. Aku tak percaya Gaara yang kaku itu bisa merayu sedangkan Hinata yang pemalu itu bisa merengek manja bahkan mencium Gaara." Bisik Temari yang masih fokus menguping.

"Ne, noona. Bahkan Gaara jadi penurut dan takluk pada Hinata Si panda merah itu juga mulai sangat mesum sekali, Noona." Balas Kankuro.

"Tapi lebih mesum dirimu, Oppa." Celetuk Matsuri tiba-tiba membuat kedua saudara Sabaku terlonjak kaget.

"Sayang, sepertinya kau harus dihukum di ranjang sampai pagi. Persiapkan dirimu Temari-ah." Bisik Shikamaru tepat ditelinga sang istri lalu berjalan menuju kamar mereka sambil menggendong Shika kecil yang terlelap. Wajah cantik Temari memucat mendengarnya. Cepat-cepat dia menyusul suaminya daripada mendapat hukuman lebih.

"Hm, oppa kekanak-kanakan sekali. Hari ini oppa tidur di kamar tamu saja, aku ingin tidur dengan Haneul saja." Kata Matsuri lembut namun mengerikan ditelinga Kankuro.

"Sayang kau tega sekali padaku. Aku hanya menguping saja, tidak macam-macam sayangku." Rayu Kankuro tapi di acuhkan oleh istrinya dan sepertinya Kankuro tidur tanpa pelukan istrinya.

TBC