Disclaimer : J.K Rowling

Summary :

Ini lebih parah dari Lord Voldemort. Setelah dia tiada, iblis Killen memasuki dunia sihir. 'Aku takkan menyangka ini terjadi!'/ Dunia sihir dalam bahaya 'lagi'!

Genre : Horror, Romance

Rated : T

Pairing : Dramione always.


Tahun ketujuh di Hogwarts adalah bencana. Siapa yang tidak tahu kalau Voldemort ingin mengambil kekuasaan di dunia sihir. Tapi semua kandas, saat The-choosen-one berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna. Ya, Harry Potter dengan bantuan yang lain sukses membuat Voldemort binasa.

Banyak darah yang tumpah, bahkan terdapat kematian yang tidak sia-sia. Sebut saja Prof. Dumbledore, Prof. Snape, Sirius, Lupin, Fred dan yang lain.

Dan pada akhirnya di tahun ajaran baru, murid kelas tujuh mengulang pelajaran yang tertinggal, namun siapa yang menyangka bahaya besar akan datang kembali?


Chap 1: The Greatest Danger

.

"Lihat… wow ini bisa menyala dan ada gambar orangnya, ada suaranya juga."

Ron, Parvati, Lavender, Ginny sedang berada di ruang rekreasi Gryffindor. Mereka takjub melihat benda muggle yang biasa disebut televisi itu.

"Coba pencet tombol yang lain dari remot itu, Parvati." Perintah Ron.

Televisi itu berganti channel.

"Wooww." Gumam mereka kagum.

….

"Ehm, bagaimana kerja pertama mu dengan Malfoy?." Tanya Harry tiba-tiba.

Hermione menggeleng.

Ditengah kesibukan yang lainnya, Harry dan Hermione hanya duduk ditepi ruang rekreasi. Hermione membaca buku, sedangkan Harry hanya berdiam melihat tingkah teman-temannya.

"Aku akui walau Ferret itu sudah 'agak baikan Har, tapi menurutku dia tetaplah Malfoy yang arogan." Jawab Hermione malas.

Semenjak Voldemort tidak ada, jabatan kepala sekolah Hogwarts yang sebelumnya di pegang oleh prof. Dumbledore, kemudian Severus Snape pun sekarang digantikan oleh Prof. Minerva McGonagall. Mengingat keduanya telah gugur secara tidak sia-sia untuk menghentikan kekuasaan Voldemort. Dan ketua murid putra dan putri pun telah berganti. Kini gantian Hermione Granger dan Draco Malfoy lah yang terpilih menjabat.

Merlin. Terkadang Hermione tak bisa berpikir kenapa Professor memilih Draco Malfoy itu.

"Kenapa kau tidak ke asrama ketua murid?." Tanya Harry lagi.

"Tidak Har. Ini masih jam setengah enam sore. Aku akan kesana setelah makan malam. Lagipula aku sebenarnya tidak mau kesana."

Harry tersenyum melihat rasa kesal Hermione.

"Hermione, bisa kau jelaskan mengapa benda ini sungguh keren?." Tanya Ginny.

Hermione yang ingin menekunkan buku nya kembali mendengus. Pertanyaan-pertanyaan konyol muncul dibenak Hermione, seperti 'Sejak kapan Hogwarts terhubung sinyal dan listrik.'

"Muggle memang jenius Gin." Jawab Harry.

Hermione dan Harry sering melihat benda itu dikalangan muggle tentu saja. Ya, televisi. Itulah alasan mereka untuk tidak ikut bergumam takjub dengan yang lain.

Benda itu didapat dari ruang kebutuhan saat mereka merasa bosan dan memutuskan untuk kesana mencari sesuatu yang dapat meredakan kebosanan mereka. Dan inilah hasil penemuan mereka disana.

Mereka mengakui semenjak Voldemort sudah tiada, Hogwarts sangatlah seperti sekolah biasa. Tidak ada hal berbau mistis dan teka-teki seperti dulu. Bahkan Ron sering berkata menginginkan Voldemort kembali lagi, haha. Itulah yang membuat mereka sedikit bosan ditahun ketujuh ini. Setiap hari hanya berkutat dengan pelajaran. Oleh karena itu, mereka ke ruang kebutuhan mencari alat/barang yang unik untuk mengatasi rasa bosan. Dan mereka menemukannya.

"Aku menemukan ini di ruang kebutuhan lihat!." Kata Seamus sembari berlari kearah mereka yang sedang menonton televisi.

Pastinya setelah menemukan televisi, tentu saja semua ingin melihat keunikan benda yang lain. Jadi, mereka memutuskan untuk kesana lagi.

"Woww apa ini?." Gumam mereka lagi. Membuat Hermione mendongak.

"Itu DVD player." Kata Hermione.

"Apa ya itu?." Tanya Ron

Hermione menghela napas. Dia menutup buku yang sedang dia baca dengan sedikit kasar..

"Semacam alat pemutar. Tapi kau hanya bisa memutar kaset didalamnya. Lalu kau bisa colokkan kabel dvd tersebut agar tersambung ke televisi. Nah akhirnya tercipta gambar dan suara di televisi menjadi seperti film dari kaset yang terputar di DVD itu." Jelas Hermione.

"Woww." Gumam mereka lagi.

"Kaset itu apa Mione?." Tanya Neville.

Semua berpandangan bingung ke arah Hermione. Hermione menelan ludah.

"Ohiya aku juga menemukan ini." Kata Dean menunjukkan beberapa barang temuannya kepada yang lain. Sontak Hermione sangat lega melihat barang yang ditunjukkan Dean.

"Nah itulah yang bernama kaset." Kata Hermione.

"Bisa kau tunjukkan bagaimana cara kerjanya Hermione?." Pinta Seamus.

Hermione yang tidak tega melihat teman-temannya memandangnya dengan muka memelas pun berdiri dengan agak malas. Lalu dia mengambil kaset itu.

"Kalian tinggal memasukkan satu kaset kedalam DVD ini." Kata Hermione. "Tapi kalian ingin memasukkan yang mana? Kaset ini ada 4." Sambungnya.

Dean mengambil kaset yang di pegang Hermione. "Di kaset ini tertulis Case 39, Ouija, Big Hero 6 dan Berbie." Kata Dean.

"Ah yang Barbie saja. Aku pernah membaca kisah Barbie sepertinya seru." Usul Lavender. Ginny dan Parvati mengangguk.

"Ah yasudah Barbie saja." Kata Neville

"Tidak tidak jangan. Barbie kan untuk anak perempuan." Sela Ron

"Eh? Emang iya?." Tanya Neville bingung. "Iya ayahku berkata seperti itu sehabis dia me-razia barang-barang muggle."

Neville bergidik saat mendengar kalau yang ingin ditontonnya itu film perempuan. "Ah. Kalau begitu jangan Barbie." Kata Neville. "Yaaah." Ucap yang lain frustasi. Hermione menghela napas lagi.

"Yasudah Ouija saja. Sepertinya seru. Lihat saja tempat kasetnya." Kata Dean.

"Iya aku setuju." Kata Ron.

"Eh tapi-tunggu tunggu tunggu. Jadi sekarang kita menonton film begitu?." Tanya Lavender.

Semua yang berada disana menghela napas berat.

"Iyalaaaah."

"Maaf." Umpat Lavender sambil meringis.

Hermione akhirnya memasukkan kaset itu kedalam DVD. Setelah berkutat dengan kabel dan juga remot, akhirnya munculah gambar dan suara yang menyeramkan tercipta ditelevisi.

Filmnya sudah dimulai. Semua yang berada diruang rekreasi merapat. Bahkan murid kelas 1-6 juga banyak yang merapat. Harry pun segera bergabung. Dia duduk disamping Ginny tentu saja, kekasihnya. Dan setelah Hermione pikir-pikir, sepertinya tak ada salahnya dia ikut menonton. Lagipula dia kan sudah lama sekali tidak menonton film. Walau Hermione sudah tahu kalau Ouija itu film horror. Dia sudah pernah membaca buku tentang itu. Jadi dia ikut bergabung bersama yang lain, duduk disamping Ronald Weasley.

Hermione mengayunkan tongkat sihirnya, hingga ruang rekreasi Gryffindor sangatlah gelap. "Seperti nonton bioskop." Seru Hermione. Melihat suasana yang bisa dibilang asik, semua yang berada diruang rekreasi bertepuk tangan girang.

"Sudah cukup tepuk tangannya. Film nya sudah dimulai." Kata Neville. Sontak semua pun berhenti, dan kemudian kembali menekuni layar yang ada dihadapannya.

Hermione melirik wajah Ron yang berada disampingnya. Dia sangat serius. Meski ruangan gelap, Hermione bisa melihat wajah Ron dengan jelas akibat pancaran televisi yang sinarnya mengenai wajah Ron.

Hermione POV

Aku memang pernah menyukainya. Ron, salah satu sahabatku sejak tahun pertama ku di Hogwarts. Bersama, kami bekerja sama menghancurkan pangeran kegelapan. Aku sangat mengenang hal itu. Tapi jujur aku tidak mengerti. Ketika akhir tahun ke enam, Ron telah menyatakan perasaannya kepadaku. Saat itu waktu dan keadaan kami tidak memungkinkan untuk menjadi seorang kekasih karena kami harus melawan Voldemort, jadi dia hanya menyatakan perasaannya saja padaku. Tidak bertanya apakah aku ingin menjadi kekasihnya. Tapi tentu saja kami dekat sekali semenjak itu. Mengingat aku juga jujur mengenai perasaanku kepadanya dan Harry yang setuju dengan kami berdua.

Tapi kenapa sekarang disaat Voldemort telah binasa dan Hogwarts juga telah menjadi sekolah sihir yang normal tanpa ada peperangan, Ron tidak menanyakan kepadaku hal yang lebih serius? Apa mungkin dia sudah tidak menyukai aku lagi?

Aku tidak tahu.

.

"HAAAAAAAAAAAAA"

Teriakan anak-anak perempuan yang berada disini menyadari lamunanku. Oh aku hampir lupa kalau sekarang aku sedang menonton film horror. Sudah berapa lama kah aku melamun? Hingga sepertinya sekarang film nya sudah memasuki konflik nya.

"HAAAAAAAAAAAAAA"

Teriakan lagi. Aku melihat beberapa diantara mereka menutup muka nya dengan telapak tangan.

"WAAAAAAAAAAAAAAAAA"

Lagi lagi.

"Ah sungguh menyeramkan. Aku tidak membayangkan kalau ini nyataaa!." Teriak Ginny sambil menutup kuping dan matanya secara bersamaan.

Tit.

Tiba-tiba saja televisi itu mati.

"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"

Kembali teriakan yang ku dengar. Aku menutup telingaku.

Kenapa tv nya tiba-tiba mati? Ruangan menjadi sangat gelap akibat penerangan yang tadi di matikan.

POV End.

Normal POV.

"Lumos." Kata Hermione, Harry, dan Ron bebarengan yang diikuti murid lainnya. Sekarang ruang rekreasi terang karena semua telah mengambil tongkat sihirnya. Seamus dan Dean mencoba mencari-cari apa yang salah dengan televisi itu. Jadi mereka berkutat di belakang televisi.

Hermione mencoba menyalakan lampu-lampu Hogwarts dengan mantra api untuk membakar sumbu, tapi gagal. Tidak bisa. Dengan segala mantra penerangan pun tidak bisa. Ini kenapa?

"Kenapa aku merinding ya?." Ginny berbisik

"Iya aku juga merinding." Timpal Parvati.

Harry keluar dari ruang rekreasi Gryffindor. Hermione, Ginny dan Ron mengikutinya. Diluar, dilorong Hogwarts juga sama gelapnya. Tidak ada penerangan yang bisa dihidupkan.

"Sangat tidak lucu kalau Hogwarts belum membayar listrik." Kata Ron.

Mereka tertawa. Ron tahu juga kebiasaan muggle yang suka membayar listrik.

Karena penasaran akan apa yang sedang terjadi, akhirnya, mereka terus menyusuri lorong Hogwarts. Gelap. Hingga sampai di tikungan..

Nyaris kami bertabrakan.

"Malfoy?." Kata Harry sambil mendekatkan tongkatnya yang bercahaya akibat mantra lumos itu ke arah Draco Malfoy.

"Singkirkan tongkatmu itu Potter. Dan-Kemana saja kau? Aku mencarimu Granger." Katanya sinis. "Kita harus ke ruang kepala sekolah. Dia memanggil kita."

"Dan kalian bersama dengan yang lainnya, cepat perintahkan semua murid kelas satu hingga tujuh untuk ke aula besar. Aku sudah memberi pesan pada ketua prefect Slytherin, Ravenclaw, juga Hufflepuff. Mereka sudah membawa yang lainnya ke aula. Dan sekarang lakukan ini pada Gryffindor. Itu perintah Kepala Sekolah." Sambungnya dengan nada agak meninggi.

Harry dan Ginny mengangguk. Sementara Ron masih memandang Draco sinis yang dibalas dengan seringaiannya. Dan akhirnya setelah Harry menarik lengan Ron dengan tatapan 'Sudahlah, hiraukan saja' dan memberi anggukan kecil pada Hermione, mereka yang mengerti posisi Hermione sebagai ketua murid akhirnya mempersilahkannya pergi dengan Draco Malfoy. Dengan helaan napas, Hermione mengangguk lalu mengikuti arah jalan Draco yang berada didepannya sekarang.

.

"Ada apa sebenarnya Malfoy? Kenapa jadi gelap begini?." Tanya gadis itu.

Tidak ada jawaban.

"Hei Malfoy, aku berbicara denganmu!"

Tidak ada jawaban.

"Kau ini tuli ya!."

"Berisik!."

Hermione sedikit tersentak dengan reaksi sentakan Draco Malfoy.

"Aku tidak tahu." Jawab lelaki berambut pirang itu datar. Hermione benar-benar mengatupkan mulutnya saat ini. Dia benar-benar merasa bahwa Draco Malfoy sedang tidak dalam mood baik.

Selama perjalanan, mereka menyusuri lorong-lorong Hogwarts yang luar biasa gelapnya. Hening. Sepi. Senyap. Setelah mereka mengetahui semua murid pastinya sudah berada diaula besar sekarang.

Seluruh lukisan di lorong-lorong koridor tak berpenghuni dan lenyap. Yang tersisa hanyalah bingkai-bingkai lukisan yang memang tersusun rapi disetiap lorong Hogwarts. Bagaimana bisa, padahal kemarin malam ketika Hermione dan Draco melewati lorong ini untuk patroli malam lukisan-lukisan itu masih berpenghuni lengkap.

Saat ini kedua ketua murid masih bertanya-tanya kemana perginya mereka semua?

Hermione tak berbohong kalau dia katakan pada kalian sekarang, bahwa tubuhnya benar-benar merinding. Ini aneh.

.

BRUUK

Entah darimana asal suara itu. Tapi tentu saja suara yang mengagetkan itu membuat Hermione dan Draco berhenti ditengah koridor yang mencekam.

Sepertinya suara itu dekat.

Sontak Hermione mendekatkan diri dengan Draco. Gadis itu sampai mencengkram jas hitamnya saking kagetnya.

"Aku tak menyangka salah satu trio Gryffindor takut hanya dengan suara seperti itu." Katanya mengejek. Sergap gadis berambut ikal itu melepaskan cengkramannya dan sedikit menjauh.

"A-aku hanya kaget Malfoy. Siapa bilang aku takut?." Kepalanya mendongak. Ketua murid putri menatap iris kelabu lelaki dihadapannya dengan tajam. Draco Malfoy pun membalas pandangannya dengan tajam pula, lalu menyeringai.

Dia kembali melanjutkan jalannya. Hermione mengikuti dibelakangnya. 'Benar-benar lelaki menyebalkan.' Umpatnya.

Namun, tiba-tiba saja lelaki itu berhenti mendadak. Hidung Hermione menabrak punggung nya yang keras. Sial.

"Awww. Kenapa kau berhenti mendadak Malf-?."

Perkataannya terpotong saat dirinya melihat ke arah depan.

Draco jongkok lalu mengarahkan tongkatnya yang sebagai salah satu sumber cahaya ke arah bawah.

"Luna?." Hermione berkata pelan.

Dia pun ikut berjongkok melihat apa yang terjadi sekarang.

"Dia pingsan." Kata Draco sangat pelan.

Hermione memegang tangan Luna.

"Dingin sekali Malfoy tangannya. Wajahnya pucat. Apa dia sakit?."

Tidak ada jawaban. Hermione memandang Draco. Wajahnya tampak sangat serius. Sepertinya dia tengah memperhatikan sesuatu.

Darah?

"Malfoy, darah siapa ini?." Hermione mengikuti arah pandangannya. Disekeliling Luna terdapat bercak-bercak darah. Aneh, ini seperti darah bekas ehm, pembunuhan.

"Apa ini darah Luna?."

"Bukan." Jawabnya singkat.

Hermione merinding hebat sekarang. Dia berdiri lalu mendongak ke atas. Menurutnya, sepertinya darah itu telah menetes dari…..atas, jadi gadis itu mengadahkan tongkatnya untuk sumber cahaya ke bagian langit-langit koridor atas.

Kemudian, gadis itu berteriak sangat keras.

Dia melihatnya. Dia benar. Ada makhluk di atas atap Hogwarts yang wajahnya sangat buruk. Rambutnya hitam panjang dan kusut. Wajahnya berdarah banyak sekali, hingga seluruh wajahnya berwarna merah berlumur darah. Tidak ada matanya. Dan makhluk itu—menempel lekat di langit-langit koridor. Sontak Hermione menjatuhkan tongkatnya dan memeluk Draco Malfoy lalu mendekapnya kencang.

"Eh—kau ini kenapa Granger?." Tanyanya datar.

Sepertinya Draco juga kaget akan teriakan Hermione, hingga gadis itu tak tahu kapan dia sudah berdiri. Maka dari itu, dia dengan mudah dapat memeluknya. Tapi tunggu-apa? Hermione memeluk seorang Draco Malfoy?

"Hei kau ini kenapa sih? Ada apa?."

Napas gadis itu sangat tidak beraturan. Sepertinya dia sedang mengalami serangan asma detik ini juga.

"Ma—Malfoy.. bercak darah itu berasal—dari—a—atas—sana-." Hermione melepaskan pelukannya perlahan. Dan berusaha mengatur napasnya walau sangat sulit. Dahi Draco mengeryit, lalu dia mengadahkan tongkatnya ke atas. Hermione yang tak sanggup melihat makhluk menyeramkan lagi memilih untuk menutup mukanya. "WAAA!." Draco berteriak.

"AAAA." Hermione pun ikut berteriak.

"Tidak ada apa-apa Granger!." Katanya lalu tertawa terbahak-bahak. "Kau ini kenapa eh? Ingin memelukku sehingga membuat alasan konyol seperti itu?."

Perlahan Hermione membuka wajah yang dia tutup dengan telapak tangan. Lalu dia mendongak ke langit-langit atas dengan sangat ragu. "Huh Malfoy. Demi Merlin. Dia ada disana! Makhluk itu berada di atas sana Malfoy! Dia sangat menyeramkan! Wajahnya semua berdarah! Darah itu berasal dari-."

"Sudah cukup Granger! Nah sekarang lihat. Tidak ada apa-apa kan?." Katanya sambil mengarahkan tongkatnya ke atas langit langit koridor.

"Nah sekarang, aku akan membawa Lovegood itu ke madam Pomfrey. Kau pimpin jalan nya, beri penerangan jalan." Sambungnya. Kemudian dia menggendong Luna.

Hermione masih diam bergidik. "Merlin Granger! Kenapa kau masih diam saja? kau tidak tahu ini berat?." Gadis itu yang masih shock akibat apa yang terjadi tadi, jadi panik sendiri. Hah makhluk apa yang dia lihat tadi? Apa itu sebuah ilusi? Ah. Tapi Hermione sangat yakin kalau itu nyata.

Ketua murid putri itu mengacak rambutnya sedikit, sebelum berjalan duluan seperti yang diperintahkan Malfoy.


Mereka kembali menyusuri koridor, lorong-lorong Hogwarts, hingga akhirnya tiba.

Hospital Wings.

"Kami menemukannya di lorong, dalam keadaan tergeletak. Sepertinya pingsan." Kata Draco kepada madam Pomfrey.

"Baiklah Mr. Malfoy dan Miss Granger aku akan mencoba memeriksanya."

Huhh…

Mereka berdua menghela napas. Akhirnya karena sudah diberikan pada orang yang tepat, kedua ketua murid itu keluar dari Hospital Wings. Lalu kembali berjalan menuju kantor kepala sekolah.

Hening.

Sudah malam. Gelap. Tidak ada penerangan. Hogwarts sepi. Tepatnya tidak ada orang selain Hermione dan Draco diperjalanan ini. Tidak ada suara. Hening. Merinding.

"Kenapa Draco daritadi diam saja? ini aneh. Dia kan anti pendiam." Batin Hermione.

Gadis itu merapatkan mantel Gryffindornya. Sial. Kenapa perjalanan terasa sangat jauh sekali saat menuju kantor kepala sekolah. Hingga Hermione larut dalam pikirannya sendiri, dan kembali mengingat penglihatannya tadi. Ah-makhluk tadi, apa tadi itu ya?

'Ingatlah yang indah-indah seperti matinya Voldemort dan sebagainya-jangan terfokus pada yang aneh-aneh..' Batinnya kembali berkata.

Hermione yang jalan dibelakang Draco kemudian mempercepat langkah untuk mensejajarkan tubuh disampingnya.

"Kenapa lagi Granger?." Tanyanya dingin.

"Aku merinding Malfoy."

Dia terdiam sebentar.

"Okey walau aku tidak pernah setuju denganmu. Tapi aku juga merasakan hal yang sama sekarang." Katanya yang membuat gadis itu menelan ludah.

"Err-Malfoy-Kenapa kau daritadi diam? Aku tak menyangka kau jadi pendiam." Kata Hermione pelan. Lebih baik mengajaknya berbicara daripada tercipta keheningan yang membuat tubuh gadis itu semakin merinding.

"Entahlah. Aku merasakan aura negatif sekarang." Katanya.

Jujur Hermione juga berprasangka sama.

"Errr-kira-kira tadi itu darah siapa Malfoy?."

"Huh. Jadi kau masih memikirkannya?."

"Tentu saja! Merlin-sungguh aku tidak bohong Malfoy, tadi aku melihat ada makhluk diatas sana yang jeleknya lebih dari Voldemort dan-." Draco menghela napas. "Baiklah Granger, sekarang-karena tadi sudah terbukti bahwa aku tidak melihatnya maka anggap saja itu tadi hanya halusinasimu oke. Bisakah kau tenang sekarang?."

Hermione mengangguk pasrah. Sepertinya memang benar dirinya sedang berhalusinasi. Mana ada makhluk seperti itu dalam sejarah Hogwarts. Hermione berusaha untuk berpikir positif agar tak terciptanya bayangan-bayangan buruk nantinya.


Setelah beberapa waktu melewati segala lorong, akhirnya mereka sampai di ruang kepala sekolah. Draco mengetuk pintu.

"Masuk." Kata seseorang didalam.

Hermione dan Draco memasuki ruang kepala sekolah. Disana Prof. Minerva sedang meneguk kopi nya. di ruangnya juga sangat gelap seperti diluar. Dia juga menggunakan tongkatnya untuk penerangan.

"Apa yang terjadi professor?." Tanya Hermione memulai.

"Aku juga menanyakan hal yang sama Miss. Granger." Katanya

"Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba seperti ini." Sambungnya.

"Jadi untuk apa kau menyuruh kami kesini?." Tanya Draco to the point.

"Ah ya. Aku baru saja menugaskan para guru dan staf untuk berpatroli keliling Hogwarts mencari penyebab penerangan yang tak bisa dihidupkan. Dan kenapa kalian datang lama sekali?." Kata prof. Minerva.

"Tadi kami menemukan Luna Lovegood pingsan professor. Jadi kami harus mengantarnya dulu ke madam Pomfrey." Kata Hermione.

Prof. Minerva menghela napas panjang.

"Aku ingin kalian berpatroli keliling seperti para guru. Aku juga akan berpatroli." Kata sang Kepala Sekolah.

"Baiklah professor." Hermione mengangguk lalu membalikkan badan dan ingin melangkah keluar.

"Apa kau mempunyai dugaan mengenai masalah ini professor?."

Hermione mendengar Draco tengah bertanya pada kepala sekolah. Dia tidak mengikuti langkah gadis itu yang tengah berbalik. Jadi Hermione berbalik badan lagi, tidak jadi melangkah. Dan menghadapkan pandangannya kepada professor Minerva.

"Sejauh ini, aku masih tidak mempunyai dugaan Mr. Malfoy."

"Aku tidak yakin seorang seperti Anda tidak mempunyai dugaan professor." Kata Draco.

Hermione hanya mendengar percakapan mereka saja tanpa mengeluarkan kata.

"Apa kau memiliki dugaan Draco?." Tanya prof. Minerva.

"Ya." Katanya singkat

"Apa itu?."

"Aku merasakan aura negatif disepanjang kastil professor. Aneh. Aku baru pertama kali merasakan aura ini saat penerangan mati, bahkan saat Voldemort mencoba memasuki Hogwarts aku tak pernah merasakan aura yang seperti ini. Aku menduga sepertinya ada sesuatu yang diluar kendali." Kata Draco.

Hermione kembali menelan ludah sekarang. Dia baru ingat dari suatu buku yang pernah dibacanya. Dan kembali mengingat makhluk yang dia lihat tadi.

"Ya, aku mengerti maksudmu. Aku juga mempunyai dugaan yang sama sepertimu Draco Malfoy." Kata sambil mengembangkan senyumnya.

"Professor.. errr percaya atau tidak aku tadi melihat- ah aku tidak ingin mengingatnya." Kata Hermione lalu dia memegang kepalanya, berusaha untuk melupakan wajah makhluk itu tadi. "Kau—tadi kau bilang kau melihat apa?." Tanya prof. Minerva.

Gadis itu menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan.

"Makhluk yang menyeramkan professor, tapi aku rasa sepertinya aku sedang berhalusinasi." Hermione berusaha untuk tenang, dan tidak mengingatnya. "Tapi—mengenai aura, aku juga pernah membaca sebuah buku professor—mengenai sebuah pancaran aura mendekati sesuatu yang—gaib." Sambungnya pelan. Sial. Oh Merlin, tubuhku merinding lagi.

"Ya. Aku juga setuju denganmu Hermione Granger. Sepertinya ini ada sesuatu gaib yang datang. Baiklah kalian berdua memang sangat cerdas. Kalian membuatku yakin tak salah memilih kalian sebagai ketua murid tahun ini. Dan apapun itu Mr. Malfoy dan Miss Granger, apapun yang terjadi sekarang, aku rasa ini akan bisa teratasi. Aku akan menyuruh prof. Edward Dose guru ilmu pertahanan hitam yang baru dan juga para guru disini untuk melindungi kastil. Mereka sangat berpengalaman." Kata prof. Minerva.

"Lalu, bagaimana dengan sebuah penghuni lukisan dan hantu-hantu Hogwarts lainnya Professor? Sungguh hal yang ganjil mereka semua tidak ada ditempatnya." Pertanyaan Draco Malfoy membuat Hermione mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kepala Sekolah diam sejenak. "Mungkin kalian akan tahu mereka pergi kemana pada nantinya."

Sungguh jawaban yang penuh tanda tanya.

"Lebih baik kalian laksanakan perintah patroliku saat ini juga."

Hermione dan Draco mengangguk dengan raut wajah yang amat heran. Lalu mereka berjalan keluar ruangan. Untuk berpatroli.


Hermione menyusuri koridor serta lorong-lorong Hogwarts bersama Draco Malfoy. Mereka berjalan berdampingan. Tak jarang mereka juga sempat bertemu guru-guru yang sedang berpatroli.

"Sepertinya lorong dan halaman depan sudah ada yang mengawasi Granger. Sebaiknya kita ke halaman belakang Hogwarts." Kata Draco.

Hermione bergidik. Halaman belakang? Apa tidak terlalu seram?

'Hah? Tunggu! Aku ini kenapa? Aku kan seorang Gryffindor. Kenapa harus takut?'batinnya lagi-lagi bergejolak.

Tapi Merlin. Sesungguhnya tak bisa dipungkiri kalau aura dan perasaan gadis itu sangat tidak enak. Tubuhnya terus merinding sedaritadi.

Setelah dipikir-pikir, akhirnya Hermione meng-iya kan ajakan Draco.

Tentu saja perasaannya tidak salah. Gadis itu yakin Malfoy setuju.


Di halaman belakang jauh lebih gelap, sepi, hening, dan menyeramkan. Ada apa dengan Hogwarts?

Merinding lagi-dan-lagi.

Mereka menyusuri setiap sudut. Tidak ada apa-apa.

"Kau menduga kalau disini ada yang diluar kendali Malfoy? Seperti yang kau katakan pada kepala sekolah?."

"Hn." Jawabnya sangat singkat. Hermione memutar bola mata. "Kalau begitu kenapa kau tidak percaya kalau tadi aku melihatnya—makhluk itu?."

Dia menatap gadis itu tajam sebelum berkata, "Karena aku belum melihatnya." Hermione membalas tatapan tajamnya itu sebelum…..

"Malfoy. Lihatlah. Bercak darah lagi." Hermione terkejut dengan apa yang dia lihat. Gadis itu mengarahkan tongkatnya di re-rumputan sebagai sumber penerangan. Draco juga melakukan hal yang sama.

Merlin. Merlin. Merlin. Ini ada apasih?

Bercak darah itu ada rumput-rumput Hogwarts pada halaman belakang.

"Malfoy, aku rasa— err kita seharusnya kembali ke kastil." Kata Hermione sambil merapatkan jas Gryffindornya. Dia berkata seperti itu karena gadis itu benar benar merinding sekarang.

"Kembalilah Granger. Aku akan disini berpatroli. Kau istirahat saja di aula besar." Katanya

Hermione melongo. Malfoy berkata seperti itu? Duh gadis itu jadi takut sekarang. Jangan jangan dia sedang kerasukan. Ah tapi tidak mungkin dirinya kembali seorang diri meninggalkan Draco Malfoy. Dimana tanggung jawabnya sebagai ketua murid?

"Kenapa masih disini?." Tanyanya.

"Eh tidaklah Malfoy, aku tidak jadi ke kastil."

"Kau takut kembali? Huh baiklah aku antar sampai ke aula besar." Katanya.

Hermione semakin takut sekarang.

"Eh tumben kau begitu?."

"Jangan terlalu percaya diri Granger. Sungguh aku merasakan hal yang sangat buruk disini. Sebaiknya kau istirahat saja." kata Draco datar.

Hermione menyipitkan mata.

"Kau masih heran dengan sikapku? Apa kau pikir seorang Malfoy tidak punya hati?."

Itu perkataan yang membuat Hermione kaget. Apa selama ini dia memandangnya terlalu jauh hingga tidak bisa melihat sisi kebaikan nya dan hanya mengutamakan sisi buruk nya?

"Ah ya Malfoy baiklah aku tahu itu. Tapi sungguh aku tidak jadi ke kastil. Aku juga ketua murid. Aku bertanggung jawab penuh mengenai perintah kepala sekolah."

"Dasar keras kepala."

"Apa Malfoy?"

"Kepala mu itu. Aku tidak tahu apa isinya. Batu, tembaga atau logam."

"Kau! Tetap saja kurang ajar!."

"Kepalamu itu berisi batu."

"Aku juga tahu kepalamu itu Malf-"

"Diam."

"Ferret."

"Aku bilang diam."

"Pirang."

"Aku bilang diam rambut semak."

"Idiot."

Hermione terus menggerutu karena tidak terima seorang Malfoy yang kembali menghinanya. Tapi anehnya itu hanya sesaat, dan saat ini Draco Malfoy sudah diam. Entahlah otaknya sedang ada apanya.

Hingga tiba-tiba..

Sssssssshhhhhh

Angin bertiup sangat kencang. Hermione menghentikan gerutuannya. Mulut gadis itu tertutup rapat sekarang. Pohon-pohon besar yang ada disekeliling mereka rasanya ingin ambruk. Seperti ada angin ribut atau apa mereka tidak tahu. Rambut Hermione berkibar layaknya bendera. Rambut Draco juga sama acak-acakkannya. Mata mereka hingga tak dapat membuka secara sempurna, karena angin yang begitu sangat kencang. Hermione merasakan tubuhnya semakin merinding. Merlin. Gadis itu mendekatkan diri ke arah Draco lalu melihat wajahnya yang, datar. Ekspresinya datar.

"Sebaiknya kita ke dalam Granger. Firasatku sangat parah." Katanya.

Gigi Hermione menggeletuk. Kalian tahu apa rasanya sekarang? Dia tak bisa menjelaskannya. Ini benar-benar membuatnya ketakutan. Dari sekian bahaya yang ada di Hogwarts, kenapa kali ini dirinya merasa takut?

Draco berjalan memerintah. Mereka memutuskan untuk memasuki kastil. Sepertinya akan ada topan atau badai atau apalah yang akan datang. Draco sampai bergidik membayangkannya.

Draco melangkahkan kaki nya dengan amat buru. Hermione yang tidak mau ketinggalan berusaha menyamakan langkahnya yang besar.

Hingga, langkah mereka berhenti saat,

Sssssssssssssstttttt.

BRUUKK

Hermione dan Draco sama-sama melotot. Tubuh mereka terpaku ditempat. Saat keduanya ingin memasuki pintu belakang kastil Hogwarts, tiba-tiba seseorang terjatuh sangat lemas menggeletak dihadapannya. Mereka masih terdiam seperti patung tanpa melakukan apapun.

"Ada apa ini?!."


.

TO BE CONTINUED.

Huaaa ada yang tau Hogwarts kenapa? Hayoo

Mumpung lagi ada ide, tika jadi nulis beginian nih-_- maklum belum ada ide buat nerusin fict Prince & Princess Slytherin huhu maaf yaa:(

Btw aku minta pendapat kalian ya, kalau cerita ini menurut kalian ga menarik/kurang bagus, nanti aku delete kok:) Soalnya aku ga sengaja bisa buat ff ini hihi

Ohiya masalah guru pertahanan terhadap ilmu hitam yang baru prof. Edward Dose, itu aku mengarang hehe aku menciptakan tokoh baru. Kalau kalian tanya, sikapnya seperti Snape, dia tegas dan serius.

.

Terima kasih sudah mau membaca:)

Salam