Kuroko Tetsuya menghela napasnya lelah. Entah sudah berapa lama Tetsuya menghembuskan napasnya seperti itu, sambil mengaduk vanilla shake dengan sedotan, dan juga melahap beberapa potong kentang goreng. Sudah hampir satu jam lebih, Tetsuya berdiam diri di pojokan restoran cepat saja- Maji Burger. Pemuda bersurai biru itu hanya berharap jika ia bisa melupakan kegelisahan yang sudah hinggap di hatinya selama dua minggu terakhir ini dengan meminum vanilla shake; yang bisa menjadi obat pelipur lara. Tapi sepertinya, presepsi itu salah besar. Tetsuya tidak bisa melupakan kejadiannya bersama Seijuurou. Ya. Akashi Seijuurou- si Kapten Tim Rakuzan.

"Hah.." Napas kecewa kembali berhembus. Manik aquamarine melirik ke arah jendela. Mempelihatkan trotoar yang di tapaki oleh penjalan kaki. Pikiran Tetsuya kembali melayang pada sosok Seijuurou. Berapa kali ia mencoba memfokuskan pikirannya pada hal lain, tapi Tetsuya akan tetap kembali pada fokus awal – Kapten Rakuzan. Padahal Tetsuya yang sudah menolak pemuda bersurai crimson itu. Tapi Tetsuya sendiri yang galau karena di tinggal tanpa alasan.

"Wah.. Kuroko-chii!" Seruan penuh semangat yang sangat Tetsuya kenali, mengalihkan fokus si surai biru. Tetsuya melirik pada sosok pemuda bersurai pirang yang sekarang membawa nampan berisi makanan pesanannya. Itu adalah Kise Ryouta.

"Domou, Kise-kun." Tetsuya membalas dengan tatapan datar seperti biasa. Ekspresi wajah yang selalu membuat Ryouta gemas melihat tingkah pemain bayangan Seirin itu.

"Kenapa makan sendirian-ssu?" Ryouta menarik kursi di depan Tetsuya. Dan mulai duduk sambil meletakan makanannya.

"Kise-kun juga datang sendirian?" Pertanyaan di balik. Membuat Ryouta mengerucutkan bibir.

"Habis pulang pemotretan," Ryouta menyesap cola miliknya pelan. "Lalu aku melihat Kuroko-chii yang sedang kesepian di sini."

"Aku tidak kesepian." Ryouta tahu, ucapan itu hanya dusta.

"Kau bohong-ssu. Jelas sekali, Kuroko-chii sedang galau."

"Tidak. Aku tidak galau. Apalagi karena Akashi-kun!" Tetsuya membekap mulutnya sendiri. Sial! ia keceplosan mengucapkan itu. Ah. Pasti Ryouta akan berpikir macam-macam.

"M-maksudku, bukan seperti itu Kise-kun." Tetsuya mencoba mengelak, saat melihat manik keemasan Ryouta menatapnya geli.

"Ternyata kau memikirkan Akashi-chii! Hwah. Aku sama sekali tidak menyangka jika Kuroko-chii menyukai Akashi-chii! Ah aku cemburu." Ryouta berseru heboh. Dan menatap Tetsuya dengan pandangan binar. Seolah menyuruh pemuda bersurai biru itu menceritakan semuanya.

"A-aku tidak menyukai Akashi-kun." Tetsuya berujar ragu. Sungguh. Ia ragu dengan apa yang mulutnya ucapkan. Apa benar ia tidak menyukai Seijuurou? Benarkah?

"Benarkah?" Ryouta menghela napas kecewa. "Aku pikir kau menyukai Akashi-chii. Karena tatapanmu selalu berbeda ketika Akashi-chii ada di dekatmu."

Tetsuya terdiam mendengar ucapan terakhir Ryouta. Menyukai Seijuurou ? Mungkin tebakan Ryouta memang benar. Atau Tetsuya yang terlalu bebal karena tidak menyadari perasaan semacam itu. Yah. Tetsuya menyukai Seijuurou yang selalu membuat jantungnya berbedar dua kali lipat. Membuat darahnya berdesir, karena sentuhan kecil pemuda bersurai crimson itu. Dan membuat Tetsuya seakan merasakan kehilangan yang mendalam saat pemuda itu menghilang.

"E-eh ? K-kenapa kau menangis-ssu?!" Ryouta berseru panik saat melihat linangan air mata membasahi pipi Tetsuya. Si surai biru itu menangis, dengan bahu yang bergetar pelan.

"A-aku tidak apa-apa. Kise-kun." Berusaha kembali mengontrol emosi, Tetsuya mengusap jejak air matanya. Walau tubuhnya masih bergetar kecil, dan ingin menangis. Karena ia baru menyadari arti sosok keberadaan Seijuurou untuk hatinya.

oOo

.

You're Mine Tetsuya !

M

All Chara Kuroko no Basuke Belong to Tadatoshi Fujimaki

Romance, Drama

Warning: Typo, OOC, Yaoi dll. Please be patient with me ^^

Kuroko tahu Ucapan Akashi itu mutlak. Tapi Ia tak mengerti dengan perintah Akapyi shi yang menyuruhnya untuk pindah ke SMA Rakuzan dan meninggalkan Seirin. Lalu keadaan dimana Akashi menciumnya sepihak. Hey! Kuroko itu normal kan? Dan hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.

Akashi Seijuurou X Kuroko Tetsuya

a/n : Ini tamat. Maafin kalau gaje. Sumpah gue mah emang begini. Kalau stuck, yah tamatnya nganu wkwk. Yang penting gue buat happy end. Ga kayak running low. Iya ga? Wkkwk

yada yada udah ye, gue ga punya utang akakuro lagi. Paling nanti deh, gue mau ketik lanjutan incubus, sama satu ff maso. Jadi stay tune. Jangan bosen baca cerita absurd gue yah. Mwah :*

FF ini di dedikasikan untuk ulang tahun uke kesayangan aku. Kuroko Tetsuya yang selalu setia jadi uke abadi Seijuurou. Happy Bday Cuya. Aku cinta kamu :* Kamu juga tetep cinta bang Juyo yah. Mwah :*

EnJOY!

Happy Reading

.

oOo

.

Tetsuya berlari dengan langkahnya yang panjang menuju gymnasium. Ia sudah telat hampir setengah jam dari jadwal latihan yang di tentukan. Tadi Tetsuya harus mengerjakan piket kelas sendirian. Padahal seharusnya ada yang membantu, tapi mereka tidak bisa karena mempunyai urusan. Terpaksa ia yang harus mengcover semuanya. Apa daya? Tetsuya tidak bisa menolak.

"Hah.. Hah.." Napas Tetsuya terengah, saat ia sudah sampai di depan ruangan gym; yang memperlihatkan semua anggota Seirin tengah duduk melingkar di tengah lapangan, sambil memperhatikan Aida Senpai.

Tetsuya mulai berjalan dengan perlahan ke arah kerumunan. Tidak ada yang menyadari hawa keberadaan si surai biru saat mendekat, kecuali nyalakan Nigou ke arahnya. Membuat semua anggota melihat ke arah Tetsuya.

"Maafkan aku karena datang terlambat." Tetsuya membungkuk pelan. Tanda menyesal atas keterlambatan yang tidak ia sengaja.

"Tidak apa. Duduklah Kuroko." Aida mengintrupsi. Membuat Tetsuya mengangguk, kemudian memilih untuk duduk di belakang. Tepat di samping Taiga.

"Jadi lusa nanti, kita akan mengadakan tanding kembali dengan Rakuzan. Di Kyoto. Mereka akan menyiapkan camp selama dua hari untuk kita. Jadi bersiaplah." Pengumuman yang di ucapkan Aida membuat semua anggota Seirin bersorak bahagia. Kapan lagi mereka bisa pergi ke Kyoto, dan bertanding lagi dengan Rakuzan? Itu pasti akan sangat menyenangkan. Ini adalah momen berharga yang tidak boleh di lewatkan oleh Seirin.

"Kenapa kau tidak terlihat senang, Kuroko?" Suara bass Kagami membuyarkan kekagetan yang tadi di rasakan Tetsuya. Si surai biru hanya bisa menggeleng sebagai jawaban. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, karena lidahnya terasa kelu hanya untuk mengucapkan jika ia keberatan, dan tidak ingin ikut. Ia tidak ingin bertemu dengan Seijuurou.

"Tentu kau senang pergi ke Kyoto. Lagi pula di sana ada Akashi. Iya kan?" Dan Tetsuya hanya bisa mengangguk kecil atas pertanyaan Taiga. Ia juga hanya bisa diam, ketika Aida berkata agar latihan kembali di mulai. Tetsuya seakan manusia tak berjiwa saat ini. Ia tidak bersemangat, dan lebih memilih untuk duduk di pinggiran bersama Nigou, dan juga Aida senpai; yang sudah mengizinkannya agar tidak memaksakan diri untuk latihan. Tetsuya hanya bisa memikirkan Seijuurou. Bagaimana jika nanti ia bertemu Seijuurou? Apa yang akan ia katakan? Apa yang harus Tetsuya ucapkan? Bagaimana menjelaskan pada Seijuurou, jika ia merindukan pemuda itu selama ini?

.

oOo

.

Dua hari berjalan begitu cepat. Ini adalah hari di mana Seirin sudah di jadwalkan akan melakukan training camp di Rakuzan. Dan ini adalah hari terberat bagi Kuroko Tetsuya. Sudah hampir dua hari penuh, Tetsuya tidak dapat tidur dengan nyenyak karena memikirkan Kapten Rakuzan- Akashi Seijuurou. Pikiran Tetsuya hanya bisa berfokus pada Seijuurou saja. Ketika latihan kemarin saja, Tetsuya tidak bisa fokus untuk melakukan phantom shot.

"Kau tidak terlihat bersemangat, Kuroko." Suara bass Taiga kembali menyadarkan lamunan Tetsuya tentang Seijuurou. Membuat Tetsuya menoleh ke arah Taiga yang kini duduk di sampingnya. Ia mencoba tersenyum simpul pada Taiga. Seolah mengatakan jika ia baik-baik saja.

"Aku hanya kelelahan saja, Kagami-kun."

"Kau bisa istirahat sebentar. Masih ada waktu satu jam untuk kita sampai di Kyoto. Aku akan membangunkanmu saat sudah sampai nanti." Tetsuya hanya mengangguk pelan. Kemudian ia mulai menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Manik aquamarine menatap pemandangan luas di sekitar jalanan. Setidaknya, pemandangan sepanjang jalan bisa membuat Tetsuya melupakan fokusnya pada Seijuurou. Matanya mulai tertutup secara perlahan. Napas Tetsuya terdengar teratur, menandakan jika si surai biru telah menikmati tidur nyenyaknya untuk satu jam ke depan.

.

oOo

.

Tetsuya mengerjapkan matanya beberapa kali, saat merasakan bahunya di guncang oleh Taiga. Setelah satu jam naik shinkanshen, lalu setengah jam berada di bis. Akhirnya mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah elit – SMA Rakuzan. Jujur saja, Tetsuya enggan turun dari bis dan mengikuti semua anggota tim untuk turun dari bis. Tapi sayang, Taiga menarik tangannya agar segera turun, karena Aida Senpai sudah berteriak di sana. Membuat Tetsuya mau tidak mau harus ikut turun.

"Hwah... Aku tidak menyangka Rakuzan sebesar ini." Taiga berdecak kagum saat melihat betapa kokoh bangunan SMA Rakuzan. Lalu matanya berbinar saat menangkap satu sosok yang berdiri di depan gerbang dan berbincang dengan Aida dan Hyuuga.

"Yo! Akashi!" Taiga berteriak ke arah sang Kapten Rakuzan, yang kini menatap ke arah mereka. Tapi tatapan tajam nan intens yang di keluarkan manik heterechomia Seijuurou, lebih mengarah pada sosok si surai biru yang berdiri di samping Taiga- Kuroko Tetsuya. Si surai biru menunduk. Enggan membalas tatapan mata Seijuurou, dan membiarkan tangannya di tarik oleh Taiga ke arah mereka.

"Masuklah. Kami sudah menyiapkan semuanya. Kalian bisa mengikuti Chihiro setelah ini untuk menyimpan barang." Seijuurou menyunggingkan sebuah senyuman tipis ke arah Aida. Di sambut dengan anggukan penuh semangat gadis itu; yang langsung memerintahkan semua anggota untuk mengikuti Chihiro yang sudah berjalan di depan.

"Arigatou, Akashi-kun." Aida membungkuk pelan, dan segera menarik tangan Taiga agar mengikutinya. Meninggalkan Tetsuya sendiri yang kini berhadapan di depan Seijuurou. Sungguh, Tetsuya bingung apa yang harus ia bicarakan pada Seijuurou. Seharusnya ia mengikuti Taiga saja, bukannya diam tak berkutik di hadapan Seijuurou.

"Apa kabar, Tetsuya?" Suara bariton Seijuurou terdengar datar. Tapi mampu membuat jantung Tetsuya berdegup beberapa kali.

"Baik, Akashi-kun. Kalau begitu, aku permisi." Tetsuya segera bergerak mundur, dan membungkuk sebentar. Sebelum akhirnya berjalan melewati Seijuurou.

"Ternyata kau masih membenciku." Seijuurou berbisik pelan, saat dirinya mulai berjalan menjauh. Meninggalkan Seijuurou sendirian di depan gerbang. Ah, andai saja Tetsuya cukup berani. Maka ia akan dengan senang hati mengatakan seluruh perasaannya untuk Seijuurou. Tetsuya merindukan pria itu.

.

oOo

.

Latihan di mulai setengah jam setelah semua anggota Seirin bersiap memakai seragam basket berwarna putih. Semuanya mulai berkumpul di lapangan gymnasium Rakuzan, beserta seluruh anggota Rakuzan yang kini terlihat bersemangat. Terkecuali sosok Kuroko Tetsuya yang duduk di sudut lapangan. Untuk seri pertama, ia memutuskan tidak main dan di ganti oleh Furihata. Tetsuya akan mulai main di seri kedua. Jadi ia hanya akan memperhatikan situasi, dan juga Seijuurou yang kembali menjadi fokus utamanya.

Priittt

Suara peluit yang di bunyikan oleh wasit menggema di seluruh gymnasium. Menandakan jika game seri pertama akan di mulai. Bola basket di pantulkan ke atas. Kiyoshi dan Seijuurou berada di depan. Berebut bola itu pertama, dan Seijuurou berhasil mengambil alih bola. Mendribble dengan gaya elegan. Melewati Izuki, dan juga Taiga yang mencoba merebut bola darinya. Beberapa detik kemudian, bola di oper ke arah Mibuchi. Dan Rakuzan mendapat score pertama mereka.

Sorakan penuh tawa dari anggota Rakuzan menggema. Dan permainan di lanjutkan dengan saling mendribble, mengoper, dan menembak selama hampir selang lima belas menit. Dari sudut mata Tetsuya, ia bisa melihat jika Seijuurou menikmati pertandingan ini. Seijuurou tersenyum penuh kebahagiaan. Melempar tawa pada setiap temannya. Saling merangkul bersama Chihiro, dan tertawa bersama surai abu itu. Ada perasaan sesak yang menusuk saat melihat Seijuurou begitu dekat dengan Chihiro. Tetsuya tidak suka melihatnya. Seharusnya yang tertawa di samping Seijuurou itu dirinya. Bukankah Seijuurou sendiri yang bilang akan membawanya bergabung dengan Rakuzan? Tapi apa yang ia lihat sekarang, Seijuurou nampak tidak membutuhkan Tetsuya sama sekali.

"Kau terlihat pucat, Kuroko." Suara Aida terdengar. Gadis berambut pendek itu menyentuh bahunya yang bergetar. Menatap Tetsuya penuh khawatir. "Apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Aida-san." Tetsuya mencoba tersenyum, walau sulit. Sekarang ia bisa merasakan jika perutnya terasa sangat mual. Melilit. Tetsuya ingin muntah. Tangannya mulai membekap mulut, serta menahan perutnya sendiri.

"T-toilet.." Suara parau penuh kesakitan terdengar dari mulut Tetsuya, saat si surai biru mulai berdiri dengan limbung dari duduknya. Di ikuti dengan Aida yang membantu menahan tubuh Tetsuya.

"Aku akan mengantarmu. Ayo." Aida merangkul bahu Tetsuya. Berjalan dengan pelan, menuju pintu keluar gym; yang akan mengantarkan mereka pada toilet yang ada di luar. Melewati kedua tim yang kini sudah terengah-engah, karena bunyi peluit babak kesatu sudah berakhir.

Suara decitan sepatu terdengar sangat jelas mendekati Tetsuya dan Aida dengan tergesa-gesa. Dari ekor matanya, Tetsuya bisa melihat Aida tersenyum lega melihat sosok pemuda bersurai crimson yang sekarang sudah berdiri tepat di depan mereka tanpa Tetsuya sadari.

"Ada apa dengan Tetsuya?" Suara bariton itu memenuhi gendang telinga Tetsuya. Kembali membuat jantungnya berdebar beberapa kali karena nada penuh kekhawatiran terdengar. Si surai biru mengadah, untuk menatap sosok Seijuurou yang terlihat khawatir saat melihat wajah pucatnya.

"T-toilet..." Gumamam lirih Tetsuya terdengar pelan. Sungguh. Tetsuya ingin segera sampai ke toilet.

"Aku akan mengantarmu." Dengan cepat, Seijuurou menarik lengan Tetsuya. Merangkul erat pinggangnya, hingga Tetsuya kembali merasa kepalanya semakin pening akibat sentuhan yang Seijuurou layangkan.

"Tapi babak dua akan segera di mulai. Aku saja yang mengantar Kuroko." Aida menolak. Sebagai tamu, ia tidak ingin merepotkan tuan rumah.

"Tidak apa. Setelah ini aku akan mengantarkan Tetsuya ke ruang kesehatan. Kau kembali lah, Aida-san." Dan tanpa menunggu persetujuan dari Aida, Seijuurou merangkul tubuh Tetsuya dengan penuh kehati-hatian. Memapahnya dengan pelan. Meninggal Aida yang membungkuk penuh rasa terima kasih, sebelum akhirnya menjauh. Membiarkan Seijuurou menjaga Tetsuya.

Perlu lima menit untuk mereka sampai di depan wastafel yang ada di toilet. Tetsuya kembali menekan perutnya. Perasaan mual itu tiba-tiba saja hilang. Tapi rasa sakit di perut Tetsuya masih terasa. Tangan Tetsuya bergerak untuk menyentuh keran. Memutarnya, dan membiarkan air dingin membasahi tangannya.

"Kau baik-baik saja?" Suara bariton Seijuurou masih terdengar khawatir. Tetsuya bisa melihat lewat cermin, jika Seijuurou benar-benar mengkhawatirkannya.

"Aku tidak apa-apa, Akashi-kun. Terimakasih." Tetsuya berbalik. Menatap wajah Seijuurou yang kini menghela napasnya lega.

"Sudah makan?" Tetsuya menggeleng sebagai jawaban. Jujur. Ia memang belum makan apapun sejak tadi pagi karena takut terlambat.

"Ikut aku." Seijuurou menarik lengan Tetsuya. Membuat si surai biru mengernyitkan alisnya bingung. Sungguh, ia tidak ingin merepotkan Seijuurou. Apalagi saat pertandingan berlangsung.

"Tapi pertandingan masih berlangsung."

"Tidak apa-apa. Lagi pula, ini hanya pertandingan persahabatan." Dan Tetsuya membiarkan Seijuurou kembali menarik tangannya. Keluar dari toilet, dan membawa Tetsuya menelusuri SMA Rakuzan yang megah itu. Gedung sekolah Rakuzan memang mewah. Empat gedung bertingkat lima berjajar dengan membentuk lingkaran. Di sela-selanya terdapat beberapa taman kecil. Ruangan untuk ekstrakulikuler ada di belakang gedung. Dan kegiatan itu mempunyai ruangan masing-masing.

"Bagaimana? Apa kau sudah tertarik untuk masuk Rakuzan?" Pertanyaan Seijuurou membuyarkan decakan kagum Tetsuya.

"Tidak."

"Tetsuya benar-benar keras kepala." Sebelah tangan Seijuurou terulur untuk mengelus surai biru Tetsuya. Membuat langkah mereka terhenti. Manik aquamarine Tetsuya mengerjap beberapa kali saat manik heterechomia Seijuurou kembali menatapnya intens.

"Kau tahu? Aku merindukanmu, Tetsuya." Si surai biru diam. Enggan menjawab. Tetsuya hanya bisa mendengar detak jantungnya yang menggila sekarang.

"Apa Tetsuya tidak merindukanku?"

"Tidak." Tetsuya menggeleng penuh. Dan ia bisa melihat jika Seijuurou tersenyum miris melihatnya.

"Tetsuya benar-benar tidak menyukaiku, ya?" Tangan Seijuurou beralih menyentuh pipi Tetsuya yang memerah. Kemudian mengelusnya dengan lembut. Tetsuya tidak menolak. Ia menikmati sentuhan kecil yang Seijuurou berikan.

"Tidak. aku membenci Akashi-kun." Kali ini, suara Tetsuya terdengar bergetar saat mengucapkannya.

"Aku tahu. Tetsuya tidak usah memperjelasnya." Seijuurou tersenyum getir. Ia tidak bisa menaklukan Tetsuya. Sudah jelas jika si surai biru itu membencinya. Tidak ada pilihan lain. Ia harus menyerah untuk mendapatkan Tetsuya.

"Aku benci saat melihat Akashi-kun tertawa lepas bersama Mayuzumi-kun. Aku benci saat Akashi-kun tidak berada di sampingku. Aku benci saat Akashi-kun mengabaikanku. Aku benci saat kau peduli pada orang selain aku. Aku membencimu, Akashi-kun!" Tetsuya kali ini menaikan suaranya. Ia sedikit berteriak pada Seijuurou yang sekarang membulatkan heterechomia miliknya, ketika mendengar pengakuan dari Tetsuya. Mulut Seijuurou terbuka kecil selama beberapa detik. Mencoba mencerna semua ucapan yang si surai biru layangkan.

"Kau membenciku karena hal itu?" Seijuurou mencoba bertanya. Memastikan.

"Ya. Dan aku juga benci saat berada di dekat Akashi-kun. Jantungku berdetak tidak stabil. Aku sampai berpikir jika mempunyai penyakit jantung!" Dan ucapan terakhir dari Tetsuya, membuat tawa Seijuurou meledak seketika. Ya Tuhan, Tetsuya benar-benar bisa membuatnya jatuh ke dasar jurang karena ketidakjujuran terhadap perasaan yang ia milik untuk Seijuurou.

"Jangan tertawa Akashi-kun! Tidak ada yang lucu di sini." Tetsuya menggeram. Tidak terima di tertawakan oleh Seijuurou. Ia sudah mencoba jujur pada perasaannya. Tapi apa yang di dapat? Seijuurou malah menertawakannya.

"Haha. Maafkan aku Tetsuya." Seijuurou menarik napasnya beberapa kali, agar ia tidak tertawa. Kedua tangannya bergerak, untuk mencengkram bahu Tetsuya. Hingga membuat si surai biru mengadah ke arahnya.

"Apa Tetsuya ingat dengan teori cinta yang aku ucapkan saat terakhir kita bertemu?" Tetsuya mengangguk sebagai jawaban. Ia menikmati momen saat wajah Seijuurou semakin mendekat. Hingga Tetsuya bisa merasakan helaan napas Seijuurou menggelitik wajahnya.

"Itu artinya, Tetsuya sudah mengalami semuanya. Dan kesimpulannya adalah, Tetsuya mencintaiku. Sama seperti aku mencintai Tetsuya." Seijuurou terdiam. Menunggu jawaban dari Tetsuya,yang sekarang menghela napasnya. Tanda menyerah.

"Uhmm.. A-aku mencintai Akashi-kun. Mungkin." Kali ini, Seijuurou yang menggeram mendengar penuturan terakhir dari Tetsuya. Mungkin? Sudah jelas sekali jika Tetsuya mencintainya. Tapi ia masih menyangkal. Sepertinya Seijuurou harus memberi Tetsuya sedikit pelajaran.

"Kau mencintaiku, dan itu absolut." Dan ucapan terakhir Seijuurou di tutup oleh kecupan singkat pada bibir plum Tetsuya.

"Kita ada di luar. Nanti ada yang lihat Akashi-kun." Tetsuya berbisik di sela-sela bibir Seijuurou, saat si surai crimson kembali mendaratkan kecupan di bibir.

"Tidak apa. Ini hukuman untuk Tetsuya." Dan Tetsuya membiarkan bibirnya kembali di kecup beberapa kali oleh Seijuurou. Ciuman bertubi-tubi tanpa lumatan yang terasa sangat lembut untuk Tetsuya. Tetsuya menyukai sentuhan tulus yang Seijuurou berikan lewat ciuman lembut itu. Ciuman mereka kali ini berbeda dengan ciuman yang selalu di lakukan dengan penuh gebu dan memaksa yang selalu di lakukan Seijuurou. Kali ini, ciuman mereka benar-benar penuh cinta, dan berbagi kerinduaan di dalamnya. Tetsuya bahkan tidak peduli jika nanti ada yang melihat kegiatan mereka. Tetsuya hanya ingin merasakan sentuhan kecil Seijuurou yang di rindukannya selama beberapa minggu terakhir. Tetsuya mengerti sekarang, ia mencintai Seijuurou dari lubuk hati yang terdalam.

FIN

Anjirr ini gaje. Sumpah ini gaje. Maafin gue tamatnya gini. Gue ga paham kenapa jadi kayak ini. ga nyambung yah? Ember. Tapi gapapalah yang penting ini gue selesein. Soalnya gue ga punya bakat buat alternative canon. Pasti bawaannya itu mentok di tengah-tengah. Jadi tolong harap maklum. Apa daya aku hanya seorang writers abal abal yang kalo nulis jarang bikin plot. Wkwk

Jadi sampai jumpa di cerita abal aku selanjutnya. Eh sumpah ye, sekarang nyari asupan akakuro susahnya minta ampun. Anime sama manga tamat, tapi please otp jangan ampe karam dong yah. Jangan pada pindah haluan ke skating/? Padahal gue jg demen di skating/? Wkwk. Gue skrng nyari djs knb mau yg akakuro, aokise, midotaka, jarang amat aada yang update. Jadi suka miris. Begitupun dengan FF ;(

Jadi ya sudahlah. Berkenankah berkomentar atas tamatnya ff ga jelas ini?

Astia Morichan