ERO HYUNG

-VKOOK-

by. Sleepy Gizibe

DLDR. Rate M untuk bahasa dan pembahasan


Author's POV

Bolam lampu 20 watt itu senantiasa menerangi ruang makan dengan atmosfer yang tegang diantara dua orang pemuda. Rupanya Taehyung kedatangan tamu disaat yang tidak tepat. Tidak tepat sekali—pikirnya. Tamu dengan helaian yang warnanya tidak berbeda jauh dari tuan rumah itu menatap sebal padanya.

"Kau menjijikkan, aniki." Ia mendengus kesal dengan apa yang ia barusan saksikan.

"Tsk." Demi tank top hitam Jimin yang masih menggantung di teras asrama, ini bukan saat yang tepat untuk berbincang-bincang sambil menikmati teh ocha. Please bro, Taehyung dalam keadaan turn on. Skinny jeans gelap itu terasa mencengkram bagian kemaluannya. Seumur hidup ia tidak pernah bermimpi disiksa oleh celana jeans.

"Dulu editor, sekarang kau pilih bocah murahan seperti dia?"

"Apa kau keluar rumah hanya untuk mencicipi tubuh bocah tengik itu?" Cerca tamu laki-laki itu.

"Tanganku gatal untuk menampar mulutmu. Sebaiknya kau pulang daripada menceramahiku, otouto." Kedua bola mata Taehyung memandang tajam kearah adik laki-lakinya itu. Pemuda yang dua tahun lebih muda dari Taehyung itu balas memandang remeh pada anikinya.

"Aku tidak akan pulang kalau kau tidak ikut pulang bersamaku ke Jepang." Kata-katanya ini terdengar sangat yakin.

Taehyung takut kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Ia teguk cairan teh yang tertampung apik di dalam cangkir porselen coklat itu. Sudah dua kali adiknya ini selalu memaksanya pulang ke Jepang. Dulu sewaktu dia kelas dua SMP dan sekarang. Bukan Bambam namanya kalau tidak keras kepala.

Kedua kakak beradik ini dibesarkan dalam lingkungan dengan kebutuhan terlampau lebih dari cukup. Tak ada opera sabun di keluarga ini, mereka dalam kasih sayang yang tercurahkan dengan baik dari kedua orang tuanya. Yang aneh hanya pada si Taehyung, bengal dan tidak suka diatur. Sedangkan adiknya, Bambam adalah seorang pengidap brother complex.

Sempat berpindah-pindah rumah karena pekerjaan ayah mereka ditambah sifat mereka yang bisa dinilai sendiri, alhasil kedua anak ini minim teman. Taehyung kecil memutuskan keluar dari rumah utama yang ada di Jepang saat dia lulus sekolah dasar. Siapa orang tua yang tidak khawatir, apalagi Taehyung itu anak emas. Gantinya ia dihadiahi sebuah apartemen yang terletak di tengah kota plus koneksi ke sebuah manga production house.

Bambam kecil yang setiap jam, menit bahkan detik mengekori Taetae-nya sempat dibuat linglung akan kemana perginya si kakak. Ia terus merengek memanggil sosok aniki-nya tapi nihil, seseorang yang diharapkan tak pernah datang.

"Apa kau tidak kasihan dengan okaa-san dan otou-san?" Tanya Bambam diselingi dengan tatapan yang siap membunuh Taehyung.

Taehyung paham bagaimana sifat adik satu-satunya ini. Mengusir dia sama saja mengusir singa yang menemukan segelonggong daging didepannya. Ia memijit pangkal hidungnya. Benar-benar merepotkan.

Taehyung berdiri dari persinggahannya, sekali-kali adiknya ini perlu diberi pelajaran. Suka mencampuri urusannya dari kecil. "Aku sibuk, terserah kau mau bagaimana. Urusi urusanmu sendiri. Oyasumi." Pamitnya pada Bambam yang terbelalak dalam duduknya.

Ia tak tinggal diam, ia mengikuti bayangan kakak satu-satunya yang menghilang menuju tangga. Kaki yang terbalut kaos kaki berwarna biru dongker itu melangkah cepat guna menyeimbangkan langkah kaki aniki-nya.

"Hei baka aniki! Kau tidak bisa membiarkanku sendirian!" Perintahnya. Ia meraih pergelangan tangan Taehyung. Tapi Taehyung langsung menepisnya.

Blam...

Pintu kamar milik Taehyung tertutup rapat meninggalkan Bambam yang dengan gigihnya menggedor-gedor pintu yang tak bersalah itu.

"ANIKI! AKAN AKU ADUKAN PADA OKAA-SAN DAN OTOU-SAN KALAU KAU TIDAK MEMBUKANYA!"

"OI CEPAT BUKA! POKOKNYA AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN TEMPAT INI!"

Nafas laki-laki itu tersengal becampur dengan emosi yang meluap. 'Heran. Kakak macam apa dia, apa dia tidak rindu denganku hah'—omelnya dalam hati. Ia meringkuk di sebelah pintu yang masih setia tertutup itu. Badannya bersender pada dinding dibelakangnya.

Krieeett..

Telinganya mendengar suara pintu terbuka. Pasti kakaknya tidak tega padanya dan segera merubah pikirannya. Ah, bukan bukan ... pasti karna kakak laki-lakinya itu tidak mau melihat adiknya kedinginan.

Bambam menengadahkan kepalanya yang tertunduk. "Eh ..." Kedua bola matanya mengerjap.

"Dasar ... kakak adik sama saja. Suka membuat keributan." Oh suara Jungkook memecah keheningan di lorong minim cahaya itu. Ia membawa pakaian dan perlengkapan mandi. Bisa ditebak dia akan kemana.

"Cih ... diam kau jalang!" Harapannya pupus. Ia malas berhadapan dengan laki-laki murahan di depannya itu. Sama juga halnya dengan Jungkook, ia malas meladeni pemuda yang baru ia temui.


.

.

.


Jungkook's POV

Hah ... berendam memang ampuh untuk menghilangkan stres. Jangan ingat kejadian tadi, Kook! Mengingatnya hanya akan membuat badanku panas lagi. Sumpah kalian harus dengar penjelasanku dulu, aku hanya tidak tahu kenapa badanku reflek menerima segala afeksi darinya.

"Stop! Tenangkan diri. Lupakan semua!" Kutepuk-tepuk pelan kedua pipiku yang sedari tadi merona.

Setelah memungut semua pakaian kotor dan perlengkapan mandi, aku berjalan keluar kamar mandi. Ah ... aku lupa ada satu makhluk yang satu peranakan dengan si alien. Saudara sepersusuan si Taehyung, eh memang alien menyusu? Lupakan.

Aku melewati laki-laki yang tertunduk di depan kamar Taehyung, sepertinya dia lebih muda dariku. Malas sekali aku menyapanya setelah dia mengataiku jalang. Aku kan lajang bukan jalang.

Sebelum masuk kamar, aku luangkan sejenak waktuku untuk meliriknya. Si monyet itu benar-benar tega pada adiknya sendiri. Aku benci sifatku yang gampang iba pada seseorang yang bahkan tidak aku kenal.

"Oi, jangan seperti pengemis. Kalau mau, kau bisa tidur dikamarku." Bodoh memang menawarkan sesuatu pada orang yang mengataiku jalang.

Ia mengangkat kepalanya menatapku, heh matanya mirip milik Taehyung.

"Jangan sok baik! Kau menyuruhku tidur di ranjang penuh dosa itu?" Bedanya, bocah ini memiliki mulut yang liar.

"Aku tidak menawarimu tidur di ranjang, mungkin di lantai." Good job, Jungkook! Kata-katamu ini gurih sekali. Coba lihat apa jawabannya.

"Sial! Jangan semena-mena denganku." Wow, begitu saja sudah tersulut amarah. Hahaha, akhirnya ada juga yang bisa aku goda.

"Diluar dingin. Jadi, kau mau apa tidak? Kalau tidak yasudah." Ah apa peduliku juga, yang penting aku sudah berniat baik.

Setelah memasukkan pakaian kotor pada keranjang di sebelah pintu, aku segera menutup pintu itu. Namun, ada gaya yang menahannya ...

"Aku hanya bisa tidur di ranjang plus selimut. Lampu harus dimatikan. Suhu AC minimal 18 derajat celcius. Jangan menggangguku saat tidur."

Kakak adik sama saja menjengkelkan. Apa mereka lahir untuk membuat repot orang hah?!


.

.

.


Aku berharap pagi ini menjadi salah satu penghantar hari yang bisa membuatku tersenyum. Tapi lagi-lagi menjadi khayalan belaka. Selama enam belas tahun hidup, aku hanya ingin kehidupan yang tenang dan nyaman. Mungkin Tuhan sudah muak dengan cacianku, hingga dia tidak bosannya memberi segala cobaan lewat makhluk bernama Taehyung.

Dan disini lah aku sekarang. Berdiri di suatu supermarket mengawal dua orang idiot di depanku. Kalian heran kenapa aku tidak berada di sekolah dan malah menghabiskan masa remajaku disini? Jadi ...

Flashback On

Author's POV

Sistim kurikulum di Sina Highschool berjalan mulai pukul 9.00 waktu setempat. Jungkook yang sudah terjaga dari pukul enam memutuskan untuk mencuci pakaian kotor yang tertumpuk di keranjang berwarna putih tulang itu.

Berjalan ke lantai dasar asrama, ia sudah menemukan pemuda yang bermalam di kamarnya itu sudah rapi dan sedang menikmati secangkir kopi dengan Suga hyung. Padahal Bambam bisa ramah pada yang lain, kenapa hanya padaku ia memanggil jalang. Sudahlah tak penting.

Setelah saling bertegur sapa—hanya dengan Suga hyung, ia lanjutkan perjalanan mencari ke timur mencari mesin cuci. Bambam tak peduli juga.

"Hei hyung, apa benar aniki dan dia berpacaran?"

"Yang kutahu Taehyung itu pemiliknya Jungkook." Suga berbicara tanpa beban. Bambam sweatdrop mendengarnya.

Bercengkrama dengan Suga membuat Bambam mengetahui karakter penghuni asrama itu. Pembicaraan mereka terputus oleh kehadiran Taehyung. Ia tak kaget dengan adanya Bambam disitu. Pertengkaran kecil sempat terjadi, tetapi Suga dapat mengantisipasinya. Keadaan kembali tenang tetapi mereka dibuat ramai dengan derapan kaki yang lari ke ruang makan itu.

"TAEHYUNG! BANGUN KAU BRENGSEK!" Pemuda bernama lengkap Jeon Jungkook itu berlari dengan membawa sesuatu di tangannya. Ia terhenti ketika manik kelamnya membidik Taehyung.

"Morning darling" Taehyung beranjak untuk memeluk Jungkook, tetapi hal itu sia-sia ketika pemuda yang lebih muda menghindarinya.

"KAU BAJINGAN IDIOT! APA YANG KAU LAKUKAN PADA CELANA DALAMKU HAH?!" Matanya melotot.

"Hanya sekedar menghiasnya." Ucapnya enteng.

"Astaga kau benar-benar sudah keterlaluan. Ini yang kau sebut menghias? Ini pelecehan, bagaimana kau bisa sembarangan menulis sesuatu di sempak orang." Jungkook lelah, benda pribadinya itu direbut paksa oleh Suga.

SEPERANGKAT BOKONG MILIK KTH

BOKONG SEMOK BEKASNYA KTH

INI BURUANKU, MANA BURUANMU?

ASUPAN NUTRISI KTH

TITITLESS DILARANG MASUK

BOKONG SEHANGAT MINYAK TELON

AKU SENTUH, DIA MELENGUH

"HAHAHA INI KONYOL SEKALI!"Tawa Suga membahana di ruang itu. Ia membaca apa yang tertulis di bagian belakang sempak warna warni milik Jungkook. Dengan spidol permanen sepertinya.

"Apa salahku? Aku hanya menandai kepemilikanku." Jelas Taehyung.

"Brengsek kau! Kau kira ini bisa dihilangkan? Aku tidak punya kolor ganti untuk pagi ini bodoh! Ya Tuhan." Muka Jungkook memerah menahan amarah.

Taehyung meletakkan tangannya pada pundak uke-nya itu,"Kita bisa berbagi celana dalam kalau kau mau." Matanya mengerling sebelah.

Jungkook menepis tangan Taehyung,"DALAM MIMPIMU!"

"Ah, yare yare ... selalu begini setiap pagi. Aku ada ide. Hari ini giliranku dan Taehyung untuk belanja bulanan. Aku absen ya karena ada kumpul komite nanti siang, bagaimana kalau kau gantikan aku Kook. Membolos saja." Ucap Suga.

Bambam melotot,"Aku akan ikut!"

Suga mengangguk,"Sekalian kau beli kolor baru, atau kau tetap keukuh memakai sempak dewa itu? Hahaha"

"Tidak ada jalan lain, Hyung. Puas kau idiot!" Bentak Jungkook pada Taehyung yang nyengir kegirangan.

Flashback Off

Jungkook's POV

Apa kalian ikut senang melihatku menderita begini? Ya Tuhan, aku menyerah. Di depanku sekarang berdiri orang bodoh abad ini, Kim Taehyung. Kala kutanya kenapa dia jarang memenuhi presensinya di sekolah. Ia hanya menjawab.

"Berada diantara kerumunan manusia membuatku stres. Aku menghadiri kelas hanya untuk mencapai tingkat absen yang dibutuhkan."

Hah ... akhir-akhir ini aku banyak membuang udara kekesalan. Adiknya, yang kutahu namanya Bambam adalah seorang keparat mini. Sungguh dia belajar darimana kata umpatan bervariasi itu. Dan sekarang, kita bertiga seperti orang bodoh di tengah keramaian supermarket.

Bambam genit menggandeng erat Taehyung, sedangkan si Taehyung gatal sekali mengaitkan lengannya pada lenganku. Aku hanya bisa senyum bengkok saat orang-orang melihat kami.

Saat mereka asyik memenuhi daftar bahan yang ditulis oleh orang-orang asrama, aku menghilang ke sisi onderdil laki-laki. Bagian celana dalam.

"Jika satu pack isinya tiga buah, berarti aku harus membeli tiga pack." Aku berbicara sendiri sambil memilah tumpukan kolor berwarna-warni. Sial, aku malah teringat pelangi kolor.

"Ngomong-ngomong berapa ya ukuranku? Apa aku harus tanya eomma?" Aku menggaruk rambutku yang sama sekali tidak gatal.

"Ukuranmu satu angka diatasku." Seseorang muncul di sebelahku. Reflek aku terlonjak kaget."Sial! Kau mengagetkanku."

Rupanya si bodoh Taehyung. Hei apa yang dia lakukan disini? Kenapa bisa menemukanku?

"Aku kabur dari adikku yang bawel itu." Wah, dia bisa membaca pikiranku.

"Aku tau kau pasti disini. Radar cintaku mengatakan kau sedang memilih celana dalam." Sial! Apa dia cenayang?

"Tapi Kook, aku tidak bohong. Bokongmu satu ukuran lebih besar daripada bokongku. Tapi bokongku bisa menyentak lebih hebat dari pada bokongmu."

"Berhenti membicarakan hal yang menjijikkan, Kim Tae Pabo."

"Aku sarankan kau membeli warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u seperti warna pelangi. Oh sial, hormon testosterone ku akan meluber jika melihat kau menggunakan warna yang menantang, merah mungkin." Tangannya mengambil satu kotak celana dalam berwarna merah, hitam, dan ungu. Terkutuklah pilihannya.

"Maaf tuan, aku tidak butuh ocehanmu. Sekarang lebih baik kau pergi, atau aku akan mengamuk."

"Ah baiklah. Ingat saranku tadi, Darling. Mungkin aku akan mencari benda yang bisa membuatmu luluh padaku. Bye."

Cupp ...

Heh apa itu tadi? Sial wajahku tiba-tiba merona. Si bodoh itu mencium pipiku? Di tempat umum seperti ini.

"ENYAH DARI DUNIA INI KAU TAEHYUNG!" Percuma aku mengumpat, orang itu sudah tak keliatan batang hidungnya. Apa urat malunya sudah putus hah?

Aku kembali dihadapkan kenyataan soal warna celana dalam apa yang akan aku pilih. Apa benar bokongku lebih besar darinya?

Aku raba sejenak gumpalan lemak itu. JEON JUNGKOOK! Setan apa yang merasukimu hingga memikirkan apa yang orang idiot katakan.

Aku sudah gila. Kegilaan Taehyung sudah menular padaku. Segera aku ambil tiga kotak celana dalam.

Dua kotak yang di dominasi warna gelap. Dan satu kotak adalah kotak yang disarankan orang yang sudah melecehkanku tadi.


.

.

.


Matahari sangat nakal, ia pancarkan cahaya yang bukan menghangatkan tapi malah membuat badan menjadi gerah. Didepanku sekarang ada satu cup es krim varian vanilla, anehnya badanku masih saja gerah. Mungkin karena seonggok keparat mini di hadapanku sekarang.

Kalian mencari aniki-nya? Ia pergi bertemu dengan editornya. Sekitar lima blok dari toko es krim yang saat ini ku singgahi. Ia benar-benar mencari mati, karena meninggalkanku dengan adiknya yang sangat pandai bertutur kata. Tidak lupa dengan beberapa kantong belanjaan juga.

"Hei jalang, apa rahang bawahmu itu menjadi tak berfungsi setelah merasakan es krim yang enak?" Ia memulai perkelahian, pandanganku beralih pada kedua manik matanya.

"Tidak, energi di rahangku sayang jika dibuang untuk berbicara denganmu."

Ia sunggingkan ujung bibir tipisnya,"Ya, karena energimu itu hanya untuk membalas tawaran harga dari orang-orang atas tubuhmu."

Sial, apa aku sejalang itu di matanya?

"Aku tidak sejalang itu, brengsek!" Aku menelan satu sendok gumpalan es krim itu. Setidaknya lumayan untuk mendinginkan kepalaku.

Tak ada percakapan lagi diantara kita. Aku topang kepalaku pada tangan kanan yang berdiri tegak diatas meja. Aku kembali menatap jalanan luar lewat jendela putih disebelah kiriku.

"Kalau tidak ada urusan lagi, kita pulang saja." Ucapku ogah-ogahan.

Dia tidak menjawab, aku melihatnya lagi untuk memastikan apa dia masih hidup. Netra kelamku menangkap bocah itu menunduk dalam diam. Astaga, aku seperti babysitter yang sedang mengurus seorang bocah nakal.

"Kau tidak akan bisa bertahan lama dengan aniki." Ia menatapku tajam.

"Aku tidak menjalin hubungan dengan orang idiot seperti aniki-mu."

Ia mengaduk cup es krimnya."Aku hanya memperingatkanmu."

Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya,"Apa yang kau takutkan?"

"Ketika aniki menyukai seseorang, ia tak akan berpikir panjang tetapi ia akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan untuk mendapatkan orang itu."

Aku masih setia menyangga kepalaku. Pembicaraan ini akan menarik.

"Kau tahu sendiri dia aneh. Dia terkadang akan bertanya pada orang bagaimana cara untuk memperlakukan seseorang dalam tanda kutip."

"Kau tahu soal Baekhyun, editornya dulu?" Tanyanya.

Aku mengangguk kecil,"Ya aku tahu."

"Sekali dia gagal, dia tidak akan mau masuk ke dalam lubang yang sama. Dulu dia begitu terpuruk saat Baekhyun meninggalkannya. Aku tidak menyalahkan Baekhyun, tapi dia terlihat begitu menyedihkan."

Apa sebegitu bodohnya orang itu? Tidak kusangka dia bisa patah hati juga. Aku bahkan tidak mengingat dia itu manusia.

"Menyedihkan seperti apa?" Pertanyaanku meluncur begitu saja, aku hanya ingin tahu.

Bambam sejenak memainkan benda canggih persegi panjang berwarna putih yang sering disebut Handphone itu.

"Aniki seseorang yang anti sosial, dia lebih suka bergelut dengan dunianya sendiri. Ketika seseorang berhasil masuk ke dalam dunianya, ia akan sepenuh hati percaya dengan orang itu. Tapi jika orang itu membuangnya, maka dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Ia akan mengurung dirinya, bahkan kami—keluarganya tidak bisa menjangkau aniki."

Alien bodoh. Setidaknya jangan biarkan orang yang tidak bersalah mengkhawatirkanmu.

"Apa kau menyukai aniki?"

Ha? Mataku mengerjap mendengar pertanyaan yang ia lontarkan. Lucu hahaha.

"Mana mungkin bodoh! Dia itu idiot, maniak seks, maling kolor. Semua yang buruk hanya ada pada dirinya. Yang ada di pikirannya hanyalah sesuatu yang diluar nalar manusia. Yang benar saja aku menyukai orang bodoh abad ini!" Tuturku panjang.

Heh? Kenapa dia malah menunduk sambil tersenyum getir. Apa yang aku katakan salah?

"Aniki sebenarnya seseorang yang kesepian. Kau boleh mengolok-oloknya, tapi aku mohon jangan tinggalkan dia."

Sial! Kenapa keparat mini ini membuatku tersayat dengan kata-katanya. Bukankah Taehyung baik-baik saja dengan segala tingkah bodohnya. Apa aku yang tidak peka dengan orang itu?

"Walaupun dia selalu melecehkanku. Kau harus tahu, aku sama sekali tidak membencinya." Aku jujur. Memang aku sering mengumpatnya, tapi aku senang dengan apa yang dia kerjakan untukku. Walaupun sedikit membuatku uring-uringan.

"Terimakasih, hyung. Aku harap kau bisa membuat aniki bahagia. Dia hanya berbeda, aku yakin kau seseorang yang bisa menerima perbedaannya itu." Ia tersenyum.

Hyung? Hei mana kata 'Jalang' yang selalu kau lontarkan untuk memanggilku? Anak ini begitu manis saat tersenyum.

"Ya, aku akan berusaha." Aku balas senyumnya.

Setidaknya aku semakin mengenal sisi lain idiot itu. Dan sebahagia inikah ketika kau dipanggil 'Hyung'? Selain itu, aku harus semakin ekstra sabar menghadapi kebodohan si aniki yang kesepian.

TBC—


Glossary :

Aniki : Sebutan untuk kakak laki-laki

Otouto : Sebutan untuk adik laki-laki

Okaa-san : Ibu/eomma

Otou-san : Ayah/Appa

Oyasumi : Selamat Malam

Baka : Bodoh


Thanks to:

Guest; Shun Akira; teflon-nim; vipbigbang74; vipbigbang74; winterdaisy; anoncikiciw; bngtnxoap; jusocj; lupaakun; YulJeon; es; Jvz1230; privateyira; ruka17; Albino's Deer; Kim728; nadhoot; Fika137; Kira ; Buruandipostdong; vkook jjang; Lucky Miku; bootae; LKCTJ94; Bunny Alien; kim. .77; RealDe; ceekuchiki; kthjjk; blueewild951230; kimtehaw; TaeTia; vjeon; MinYeolKook; Aprieelyan; conversehigh; readersebelumnya; CindiWhitesides; siscaMinstalove; shinyangcho; Bunny Lily; 1; PxnkAutumnxx; boobear; vkookieuke; Rapp-i; ahneugene; winterhun; fay; JEYMINT; Jelbanh; Vteo; kukikookie; Gypsophila; Jeon360. Dan juga yang nge-follow dan nge-favorite XD

Hallo readers~ jangan bosen ketemu aku lagi XD Aku seneng liat review kalian. Ada yang nebak, request, bahkan ada yang mau kirim foto telanjang si alien buat penyemangat haha. Oiya mau jawab beberapa pertanyaan ini buat di klarifikasi ...

Apa ada slight couple lain?— Eum, liat nanti deh ya ini aku lagi fokus sama Jungkook biar peka sama Taehyung dulu wkwk kalau kalian mau request bisa aku tampung ;)

NC nya kapan thor?— Tiap update pasti ini pertanyaan paling banyak XD Aku cuma bisa bilang sabar ya, soalnya Vkook itu highclass couple. Harus ada tempat dan suasana yg pas buat mereka ena ena wkwk

Apa hubungan 'gay' udah biasa di setting cerita itu?— Kita anggep udah biasa aja, biar ga ribet XD

Sekalian mau tanya, kalian suka kalau ada orang ketiga di hubungan Vkook gak? Jawab di review ya xD

Akhirnya Jungkook dapet restu dari adeknya Taehyung! Oiya kalian bisa request mau aku masukin siapa buat tokoh tokoh yang bakal muncul di chapter-chapter depan. See you next time~

Jangan lupa review lagi XD

Salam Elephant couple, Dubsmash couple and Summer couple (Soalnya banyak vkook moment di BTS Summer package di Kota Kinabalu kemarin xD)—