Halo! Frylla balik lagi XD Jadi... selama sebulan ini, Frylla kebanyakan baca fanfic daripada nulisnya, hehe... Tapi Frylla enggak berbakat nulis romance, jadi ya kayak gini hasilnya :3 Semoga berkenan saja /?

Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom beserta segenap barisan tokohnya adalah milik Matsui Yuusei.

Warning: Bahasa abal-abal, dialog di mana-mana(awalnya malahan enggak mau nulis deskripsi sama sekali /plak), plot nggak jelas, judul section yang enggak nyambung, dll.

Happy reading!


Senasib

"...Aku masih tidak percaya kau masuk kelas E, Isogai. He, maksudku, kau salah apa coba?" sergah Maehara, "Nilaimu bagus-bagus terus, kau juga rajin dan bahkan ada cewek yang nolak aku gara-gara kamu!"

"Maehara," ucap yang berambut gelap dengan serius, "Ini namanya nasib."

"Nasib apanya, Isogai! Tunggu... Jangan-jangan... Kamu nggak sengaja mecahin barangnya ketua Dewan, ya?"

"Aku tidak seceroboh itu."

"Jadi kenapa?! Jangan-jangan kau 'itu-itu' sama ketua OSIS kita!" Maehara langsung main tuduh. Isogai menjitak jidat temannya itu dengan gemas.

"Mana ada! Jangan asal tebak!"

"Gimana mau benar nebaknya kalau diberi petunjuk aja enggak," ungkapnya kesal, memasang ekspresi cemberut. Isogai hanya memberikan senyum ikemennya yang telah dipatenkan. Senyum yang telah membuat hati banyak siswi Kunugigaoka luluh itu juga memiliki efek yang sama pada Maehara. Hanya saja, dia respon fisik yang diberikannya berbeda. Dia mendengus.

"Ya, sudah, Isogai pelit, ah!"

'Kalau kau tidak mau menceritakannya, aku mengerti, kok.'

Seharusnya, dia bersimpati pada sahabatnya itu. Tapi, Maehara merasakan dirinya... bahagia dengan kenyataan ini. Isogai masuk kelas E. Dulu, ia selalu berpikir bahwa Isogai itu seperti malaikat ('yang tidak mungkin disandingkan dengan manusia sepertiku') Dia baik, pandai, rajin menabung... Kadang, pemuda berambut oranye itu merasa rendah jika sudah dihadapkan dengan sahabatnya.

Dengan Isogai turun pangkat ke kelas E, dia merasa bahwa, mungkin, mereka bisa menjadi sederajat kali ini. Mungkin, Maehara memiliki kesempatan untuk...

'Tapi, perjalananku masih panjang untuk itu, ya?'

Di samping itu, ia tahu kalau hal ini juga berat bagi Isogai. Semuanya pasti merasa kecewa pertama kali mereka diturunkan ke kelas E. Maehara Hiroto memang playboy dan kadang menyakiti perasaan wanita, tapi, kalau sudah mengenai sahabatnya, ia tidak main-main.

...setidaknya untuk beberapa waktu khusus.

"Hei, kau yakin kau tidak melakukan 'itu' sama Asano? Aku nggak akan ember, kok."

"ENGGAK!"


Guru

Biasanya, segera setelah mereka menjauh dari area sekolah, Maehara akan segera berceloteh mengenai hal-hal yang menyenangkan maupun mengesalkan dalam pelajaran tadi. Namun, hari ini, dia bungkam. Kalau dalam keadaan biasa, Isogai akan segera khawatir jika ada sesuatu yang salah dari sahabatnya. Tapi, sekarang pikirannya dipenuhi oleh informasi yang baru saja mereka terima.

Wali. Kelas. Mereka. Adalah. Makhluk. Asing.

Entah apalah itu, terlihat seperti gurita dengan senyumnya yang mengerikan. Isogai masih belum yakin apakah makhluk itu alien, atau manusia yang berubah menjadi alien, atau robot yang diciptakan oleh manusia. Satu-satunya yang berhasil ditangkap Isogai dari pertemuan pertama mereka adalah kenyataan bahwa makhluk ini yang membuat Bulan mereka menjadi seperti yang sekarang ini. Oh, dan, makhluk. itu. sangat. cepat.

"Lucu, ya," gumamnya. Maehara melonjak.

"Aih, Isogai! Jangan ngomong mendadak gitu, dong!" Protesnya, "Lagipula, apanya yang lucu! Hari ini benar-benar gila! Kau lihat 'makhluk' itu?! Dia yang akan mengajar kita setahun ini! Ini mimpi, kan?! Isogai, bilang kalau ini mimpi! Ini tidak nyata, kan? Maksudku, memang aku dari dulu ingin ada sesuatu yang menarik terjadi tapi yang seperti ini pasti..."

"Maehara..."

"...karena tidak mungkin, kan, hal ini terjadi. Orang gila macam apa yang mau menyuruh anak-anak kelas 9 membunuh alien yang bahkan tidak bisa dibunuh oleh tentara dan..."

"Maehara."

"...ini semua pasti mimpi! Pukul aku keras-keras, Isogai, aku harus bangun dari..."

"MAEHARA!"

"..." Maehara tiba-tiba menghentikan langkahnya. Nafasnya terdengar memburu. Mata coklatnya bertemu dengan orb kuning Isogai, sarat dengan emosi. Kebingungan, keputusasaan, namun juga rasa penasaran dan semangat yang terlihat sangat salah di situasi semacam ini. Isogai menatapnya lekat-lekat.

"Maehara, kalau ini memang mimpi, apa pun yang terjadi, pada akhirnya, kau akan bangun. Kita akan bangun."

Setiap kata diucapkannya secara perlahan dan jelas, seperti berbicara dengan anak kecil. Maehara perlahan mengangguk.

"Lagipula, kalau kita berhasil membunuhnya, bayangkan saja betapa kerennya kalau kita bercerita dengan orang lain. Aku yakin kau akan semakin laku, Mae," Isogai tertawa kaku. Maehara lah yang biasanya membuat candaan seperti ini. Dia tidak berbakat sama sekali, sepertinya.

Maehara tersenyum. Senyumnya lebih lebar dari biasanya dan terlihat dipaksakan, tapi itu pun cukup.

"Tapi, Isogai, kalau nanti aku malah memikat gebetanmu gimana?" tanyanya santai.

"Kau akan kujitak dan kupukuli, Maehara."

"Kasar sekali! Kenapa cewek bisa suka sama kamu?!" Maehara memukul Isogai ringan, "Kau menipu mereka dengan senyum ikemen itu!"

"Kalau tindakanku dibilang menipu, yang kau lakukan itu apa lagi, Maehara?"

"Memanfaatkan kelebihan."

Masalah membunuh alien bisa disimpan untuk lain hari.


Ujian

"Huah... Peringkat kita meningkat drastis, ya, di ujian semester 1 ini." Maehara tersenyum lebar.

"Iya, syukurlah kita memenangkan taruhan dengan kelas A. Ini semua karena usaha keras semua orang." Seperti biasa, Isogai memberikan testimoni yang sangat menghangatkan hati.

"Heh, kau juga berjasa, Isogai! Yang dapat nilai 97 di mapel IPS itu siapa?" Maehara menonjok lengan Isogai sambil bercanda.

"Itu juga karena Korosensei membawaku langsung ke TKP. Mengingatnya menjadi jauh lebih mudah ketika kau melihatnya secara langsung."

"He... Beruntung, ya, kita memiliki guru seperti Korosensei. Kita terlepas dari kemungkinan menjadi budak kelas A."

"Maehara!" tegur Isogai, meskipun dia sendiri setuju dengan pernyataan itu. Tentu saja, dia juga merasa bersyukur dengan keberadaan Korosensei. Awalnya, Korosensei adalah alien aneh yang harus mereka bunuh sebelum bulan Maret. Sekarang, Korosensei adalah guru terbaik yang mereka punya.

'Yang tetap harus kita bunuh.'

"Hmm... Maehara, menurutmu, apakah kita memiliki kesempatan untuk membunuh Korosensei?" tanyanya. Beberapa bulan yang lalu, hal ini terlihat sangat mustahil baginya. Apalagi setelah melihat gerakan Korosensei yang katanya mencapai Mach 20 itu. Tapi, Karasuma-sensei, Irina-sensei, bahkan Korosensei sendiri telah memberikan mereka segudang ilmu asasinasi. Sembari mencari jalan untuk membunuh Korosensei, mereka juga telah menjadi jauh lebih baik dalam aspek lainnya. Sosial, studi... Korosensei telah membuat mereka bangkit dari titik terendah. Maehara merasa, jika mereka memang berhasil membunuh Korosensei ('Harus.'), dia akan merasa seperti ada di puncak tertinggi dalam hidupnya.

Failure kelas E menjadi pahlawan yang menyelamatkan Bumi. Siapa yang menyangka?

"Tentu saja, Isogai! Kalau tidak, untuk apa selama ini latihan kita?!"

Isogai tertawa.

Maehara tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba kawan ikemennya itu menyarankan mereka pergi ke penjual es krim terdekat. Dia tidak keberatan, tentu saja. Es krim adalah salah satu makanan kesukaannya. Biasanya Isogai melakukan hal ini kalau dia baru saja melakukan suatu hal yang baik atau 'berkenan' di hati yang berambut hitam. Sepengetahuannya, dia tidak melakukan apa-apa.

Ah, biarlah. Nanti dia yang akan membayar es krimnya, sebagai hadiah Isogai memperoleh nilai tertinggi IPS di ujian semester mereka. Tentu saja, meskipun Isogai kalah dari Asano pun, Maehara akan bersedia menraktir temannya itu tanpa perlu diminta dua kali.

.

TBC

Tee hee... Sebenarnya ini Frylla buat untuk sepupu Frylla yang berulang tahun hari ini XD Tapi juga untuk semua pembaca fandom Ansatsu :) Maaf kalau jadinya OOC atau banyak typo nya XD Dimohon saran dan reviewnya!

~Frylla