Halo, Frylla balik lagi!

Disclaimer: Ansatsu Kyoushitsu bukan milik saya (kalau iya, pastilah sudah dipenuhi dengan pairing aneh-aneh /duk)

.

Happy Reading!


Truth or Dare – Part 1.1

Dalam perjalanan pulang kali ini, Maehara tak henti-hentinya mengutuk kedua teman sekelasnya, yang berinisial NR dan OT. Berbagai ungkapan klise maupun tidak meluncur dari mulutnya, tidak terkontrol.

"Lihat saja nanti, semua keturunan mereka akan menerima pembalasanku! Akan kukutuk mereka jadi batu! Eh, jangan... Jadi katak! Tahu rasa nanti mereka mesti dicium sama 'putri-putrian'!"

Isogai, yang berjalan seiring dengan pemuda itu, hanya bisa menahan tawa. Sahabatnya yang ini sepertinya senang sekali menambah profesinya. Mulai dari murid, ditambah dengan pembunuh bayaran, sekarang disisipi lagi dengan nenek – maaf, kakek – sihir.

"Maehara, itu hanya dare." Isogai akhirnya memanifestasikan keinginan tertawanya yang besar menjadi hanya kekehan pelan. Memang, sih, hanya ada Maehara saja, tapi dia tetap perlu menjaga image di sini, kan? Siapa tahu mereka kebetulan berpas-pasan dengan murid-murid lain.

"Mereka mau minta aku mati lebih muda, apa?! Masih untung kalau Karma membiarkanku tetap hidup setelah itu!"

"Maehara, Karma-kun tidak akan membunuhmu hanya karena sebuah dare." Isogai menyuplai akal sehat ke dalam percakapan mereka (yang saat ini didominasi oleh kutukan dan keluhan yang berambut oranye).

"Ini bukan orang lain, Isogai! Ini Okuda Manami! Orang yang disukai Karma –"

"Itu, kan, karena dia menganggumi kemampuan Okuda-san untuk membuat ramuan... Mungkin saja dia tidak tertarik menjadikannya sebagai pacar."

Maehara menggelengkan kepalanya dengan dramatis, "Kau benar-benar tidak paham perasaan seorang pria."

"HEI!" Isogai akhirnya mengayunkan tasnya yang dengan telak mengenai lengan Maehara. Sang korban mengaduh keras dan menatap Isogai dengan kesal.

"Seminggu itu waktu yang lama! Masa, aku perlu jadi pacar Okuda selama seminggu?!"

"Bukan perlu, Maehara, tapi harus." Isogai tidak membantu sama sekali. Maehara mendengus.

"Lain kali, Isogai, kau harus ikut Truth or Dare-nya!"


Truth or Dare – Part 1.2

Keesokan harinya, Isogai menyadari bahwa mereka memiliki tambahan dua anggota asing. Gadis prankster berambut pirang beserta dengan pemuda berkepala setengah botak yang terkenal dengan mottonya, yaitu "Pornografi bisa menyelamatkan dunia", atau dikenal dengan Nakamura Rio dan Okajima Taiga.

"Halo, Isogai-kun~" sapa Nakamura Rio ceria, sebuah senyum jahil terulas di wajahnya.

"Yo, Isogai!" sapa Okajima santai.

Isogai menatap Maehara, menuntut penjelasan untuk kehadiran dua makhluk asing itu. Maehara hanya tertawa gugup. Nakamura, yang jauh lebih observan daripada yang mereka sangka, cepat-cepat mengatakan, "Maehara bernegosiasi jam istirahat tadi tentang dare nya yang kemarin."

Alis sang ketua kelas terangkat. Masalah macam apa lagi yang ditimbulkan oleh teman masa kecilnya ini.

"Jadi... dia meminta kami untuk mengganti dare-nya menjadi truth atau menggantinya dengan dare lain... Kami setuju, dengan syarat..." Nakamura berhenti, jarinya mengetukkan kedua pensil yang ada di genggamannya untuk efek pencilroll yang menambah tegang suasana.

Untuk sesaat, semuanya hening.

"Psst... Okajima..." Satu-satunya gadis yang berada di situ memelototi si penggemar majalah porno yang tidak peka akan gilirannya.

"Hah? Oh! Dengan syarat... dia harus membawa korban lain ke dalam permainan ini!"

Satu-satunya perubahan yang tampak dari Isogai adalah senyumnya yang berubah menjadi sangat manis dan menawan.

"Apakah kau yakin bahwa aku adalah orangnya, Maehara?" tanyanya dengan sangat tenang, hampir mengerikan.

Sebuah ancaman yang terselubung oleh ucapan semanis madu. Maehara mengangguk cepat, meski agak takut dengan ekspresi Isogai yang terlalu senang.

"Jadiii... Maehara-kun, truth or dare?" tanya Nakamura. Yang ditanya tersentak.

"Bukannya harusnya Isogai du—"

"Maehara dulu," tegas Okajima, sebuah senyum terulas pula di wajahnya. Maehara tidak menyangka Okajima bisa begitu mirip dengan Nakamura.

"...Truth." Apapun yang terjadi, Maehara tidak akan pernah memilih dare lagi. Sudah trauma.

"Hmm? Siapa orang yang kau suka, Maehara?"

Saat si pemilih truth membuka mulut, Nakamura sudah memotongnya,

"Jangan sebut nama mantan pacarmu, Maehara-kun. Kami tahu bukan itu orangnya."

Isogai sekarang menjadi penasaran. Sahabatnya menyukai seseorang (di luar mantan-mantan pacarnya yang selalu Isogai ingat dengan jelas), dan dia tidak tahu?

Sang korban hanya terdiam. Warna kemerah-merahan sudah mulai muncul di wajahnya. Nakamura dan Okajima sudah seperti akan berpesta pora, sementara si ikemen masih berada dalam kebingungan.

"Maehara-kun~ Tidak boleh berbohong untuk permainan ini, lho!" Nakamura menggoda.

"Ayoo~ Maehara! Laki-laki harus berani mengungkapkan perasaannya!" Okajima memberi semangat layaknya seorang cheerleader, "Aku bakal ngasih kamu koleksi terbaikku kalau kau ngaku, deh! Eh, tunggu... Tapi aku sayang sama majalah itu. Ah, pokoknya aku bakal ngasih sesuatu yang—"

"Emangnya aku tertarik dengan majalah porno?!" Maehara menjitak temannya itu tanpa ampun.

"Maehara... Kurasa aku juga penasaran." Isogai akhirnya angkat bicara. Ekspresinya saat itu terbagi antara penasaran dan kebingungan, kontras dengan ekspresi Nakamura yang sepertinya sudah siap dengan handphone nya untuk keperluan dokumentasi dan gosip—

"Aku..." Maehara menarik nafas dalam-dalam. Suasana menjadi sangat hening, bahkan burung yang seharusnya menganggu dengan kicauannya pun berhenti.

"Jadi, sebenarnya..."

Nakamura dan Okajima terlihat seperti ingin meledak karena situasi yang sangat intens nan penting ini. Saking tegangnya, Nakamura tak sengaja memencet 'start' dalam rekaman di HP nya.

.

.

"AKU GANTI JADI DARE AJA!"

"..."

Wajah Nakamura dan Okajima terlihat sangat menyedihkan sampai-sampai Isogai pun merasa agak kasihan pada mereka. Sebenarnya sang ikemen juga merasa kecewa, namun dia yakin kalau waktunya tepat, Maehara pasti akan mengatakannya padanya (kalau tidak dikatakan, berarti hal itu tidak penting dan itu hanyalah cinta monyet yang akan hilang sehari dua hari, benar kan?)

(Lagipula, Maehara selalu berbagi semuanya dengan Isogai.)


Interlude (Bonus)

Isogai membereskan kertas-kertas yang ada di laci mejanya dengan hati-hati. Semuanya diurutkan dan dimasukkan ke dalam tas. Ikemen berambut hitam legam itu menghela nafas, kakinya dilangkahkan dengan pelan melewati pintu. Udara sore menyambutnya dengan lembut.

Biasanya, Maehara sudah menunggu di bawah pohon, bisa sambil tiduran, atau sambil bermain dengan rumput dan apapun yang ada di sekitarnya. Tapi, di bawah pohon tidak ada siapa-siapa saat ini.

Ke manakah sobat setia ketua kelas 3E itu?

Jawabannya mudah. Sedang bersama Okano Hinata, mengantarkan sang gadis pulang ke rumahnya. Mungkin, mereka berhenti di tengah jalan untuk makan es krim atau melakukan hal yang lain. Mungkin juga Maehara berceloteh mengenai kejadian hari ini, sama seperti yang biasanya mereka lakukan. Entah kenapa, hal itu membuatnya merasa agak tidak nyaman.

Dare yang diberikan Nakamura dan Okajima, sebagai ganti truth yang gagal kemarin, adalah untuk menuliskan surat cinta kepada Okano, namun Maehara tidak boleh memberi tahu kalau itu adalah dare sampai seminggu setelahnya. Isogai tidak terkejut ketika gadis itu datang kepada Maehara dua hari yang lalu, dengan wajah merah, mengatakan bahwa ia menerimanya. Sang ketua kelas memang telah melihat 'tanda-tanda' bahwa Okano sebenarnya menyukai Maehara.

Dua hari ini, perjalanan pulang sekolah memang jadi agak sepi.

"Belum pulang, Isogai-kun?" Isogai nyaris melonjak ketika menyadari bahwa sosok kuning yang selama ini menjadi target mereka sudah berada di bawah pohon, menggantikan sosok Maehara yang sempat terbayang.

"Belum, Korosensei," ucapnya sopan.

"Tumben, Isogai-kun, kau sendirian. Ah, ngomong-ngomong, ke mana Maehara-kun?"

"Dia pulang duluan," jawab Isogai singkat, tidak ingin membeberkan detail ke gurunya yang terkenal sebagai tukang gosip itu, "dan saya juga harus pulang. Selamat sore, Korosensei."

Isogai hampir berhasil beranjak pergi jika tidak salah satu tentakel itu menyentuh bahunya, menahan pergerakannya.

"Tunggu dulu, Isogai-ku—"

Isogai dengan cepat menghunuskan pisaunya ke tempat tentakel sang guru berada sepersekian detik yang lalu.

"Masih berusaha membunuhku? Nufufufu~" Wajah Korosensei berubah menjadi kuning dengan garis-garis hijau.

"Lihat saja, Korosensei, kami akan berhasil melakukannya sebelum tanggal 13 Maret," ucap Isogai, meski dirinya sendiri agak sangsi dengan pernyataannya itu. Tapi, tidak boleh terlihat lemah atau ragu di hadapan lawan, itu salah satu dari sekian banyak ajaran Karasuma-sensei.

"Nufufufu~ Baiklah kalau begitu, Isogai-kun. Jadi, ada apa denganmu dan Maehara-kun?"

Tubuh Isogai seketika menegang. Matanya menyipit, menatap makhluk berkecepatan Mach 20 itu dengan tajam.

"Tidak ada apa-apa," jawabnya, dengan intonasi agak tinggi dan ia berbicara lebih cepat dari biasanya.

"Sensei bisa menjaga rahasia."

"Bohong," tukas sang ikemen. Korosensei adalah penggosip paling berbahaya, bagaimana mungkin dia bisa menjaga rahasia?

"Oh, sensei benar-benar bisa. Menurutmu, Isogai-kun, tidakkah selama ini sensei berhasil menyimpan rapat-rapat rahasia sensei?"

Isogai tahu betapa sedikitnya sebenarnya yang mereka tahu mengenai Korosensei. Bahkan, dengan kemampuan observasi Nagisa yang luar biasa, ada satu hal yang belum berhasil mereka ketahui; masa lalu guru bertentakel tersebut. Alasan dia mau mengajar di kelas E. Alasan dia tidak menghancurkan Bumi sekarang dan malah menunggu sampai tanggal 13 Maret (ada beberapa spekulasi mengenai hal ini, namun tetap saja, tidak ada yang tahu fakta sebenarnya).

Tapi Isogai menatap Korosensei, memasang wajah datar, dan mengatakan, "Tidak. Korosensei adalah tukang gosip, Korosensei menjadi lemah di air, Korosensei tidak tahan dengan kondisi lembab, Korosensei sok cari perhatian di depan atasan, Korosensei suka majalah porno Okajima, Korosensei pernah menyamar jadi perempuan untuk memuaskan nafsu semata, Korosensei..."

"Nyuaaaa! Cukup, Isogai-kun!" Wajah Korosensei sekarang memiliki semu merah.

Murid yang ada di depannya hanya tertawa kecil, "Baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu, Korosensei."

'Korosensei sudah berbuat banyak untuk kami, entah itu hanya berpura-pura atau sungguhan. Kami berhutang budi pada Korosensei. Kami tidak tahu apakah kami sanggup membunuh Korosensei. Kalau Korosensei memang sayang pada kami, kenapa Korosensei membebankan ini kepada kami? Kenapa kami yang harus membunuhmu?'

Korosensei memandang punggung murid berantena itu, sadar sepenuhnya bahwa Isogai berhasil mengalihkan perhatiannya dari tujuan awalnya.

.

A/N: Apa ini? Ini apa? Huee... Maafkan kurangnya MaeIso di chapter ini... Chapter depan akan dipenuhi MaeIso, Frylla janji! ;w;
Dan seperti biasa, dimohon saran dan reviewnya, hehe :3 Makasih banyak untuk yang sudah ngereview di chapter kemarin... Ini untuk kalian semua /loh

A/N 2 (barusan habis baca chap 142): Huee... Rasanya pengen di edit lagi bagian Interlude nya supaya makin canon tapi begitulah /? (Kokoro sudah hancur duluan)