Disclamer
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Canon

IF I STAY

©LONGLIVE AUTHOR


And I've swallowed my pride

Your the one that I loved

And I'm Saying Goodbye

Say Something I'm Giving up on you

-A Great Big World ft Christina Aguilera-


Aku sudah tidak sanggup lagi melihat Naruto menderita dan terus memaksakan dirinya untuk mencari Sasuke.

Raikage akan membunuhnya

Usaha terakhirku untuk membujuk Naruto agar melupakan Sasuke telah gagal

Anak itu memang keras kepala

Tapi aku sangat mengerti apa yang dia rasakan, selamanya dia tidak akan bisa meninggalkan Sasuke

Begitu juga denganku

Tapi ini adalah usaha terakhirku untuk menghentikan semuanya

Biar aku yang membunuh Sasuke

Aku sudah menyerah

Aku melihat Sasuke di ujung terowongan berair itu. Sebelumnya dia bilang akan menghancurkan Konoha ketika aku menawarkan diri untuk bergabung dengannya. Tak ada keraguan di matanya, begitu juga denganku. Aku tidak punya banyak waktu. Aku merasakan chakra Naruto dan Kakashi-sensei semakin mendekat.

Aku memegang kunai-ku dengan kencang. Ya...inilah waktunya.

Aku berlari di langit terowongan. Tanganku sama sekali tak bergetar namun jauh disana hatiku sudah lemas dan bergetar hebat. Ketika aku berlari, waktu seakan melamban dan terlintas keraguan. Aku takut apa yang ku putuskan ini salah. Tapi aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku sudah tidak tahan menunggu, aku sudah tidak tahan melihat Naruto terus menderita karena permintaan bodohku. Aku tidak tahan melihat Kakashi-sensei memandangku dengan pandangan iba. Aku bukan murid yang baik, juga bukan teman yang baik. Lalu apa gunanya aku? Aku tidak tahan menjadi tidak berguna.

Sial!

Aku hampir mencapainya. Ayolah, hanya satu tebasan di lehernya dan semuanya selesai. Namun di detik-detik terakhir dia berbalik. Menampakkan kedua mata merahnya. Tubuhku menegang dan kedua tanganku menjadi beku. Dengan sigap ia menangkap leherku dan mencengkramnya begitu kuat.

"S-sa-suke..."

Andai aku bisa tahu apa yang sedang kau pikirkan Sasuke.

Sekilas aku melihatnya menyeringai, dan aku merasakan chakra Naruto dan Kakashi-sensei sudah sangat dekat. Namun aku melihat cahaya yang begitu terang di tangan kanan Sasuke hingga memenuhi semua pandanganku.

Hal terakhir yang ku ingat adalah aku mendengar suara Naruto memanggilku sebelum semuanya menjadi gelap.

Dingin. Tubuhnya bergerak kedinginan disana. Mulutnya terbuka mencoba menggumamkan sesuatu. Tak lama kemudian kedua matanya terbuka. Menampakkan dua bola mata hijaunya yang bening.

"Dimana aku?" batinnya. Ia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi sebelumnya. Setelah beberapa saat ingatannya mulai kembali. Kemudian matanya melebar.

Sasuke, dimana dia? Lalu Naruto? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia pingsan? Gadis itu bangkit dan melihat keadaan sekitar. Dia masih berada di tempat yang sama sebelum dia pingsan.

"KAU BRENGSEK SASUKE!"

"APA YANG KAU LAKUKAN?!"

"NARUTO!"

Teriakan-teriakan itu menyadarkan gadis itu. Dia mencari sumber suara. Ketika ia menoleh dia melihat dua orang yang sangat ia kenal tengah bergelut di atas air. Naruto dan Sasuke. Tapi apa yang terjadi? Naruto sedang memukuli Sasuke membabi buta.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA SAKURA, HAH?!" teriak Naruto.

BUAGHH!

"BRENGSEK KAU SASUKE!"

Sakura berlari mendekati mereka berdua.

"Naruto, berhenti! Aku tidak apa-apa." Teriak Sakura tapi sama sekali tak di dengarkan oleh Naruto.

"Naruto, aku tidak..."

"NARUTO BERHENTI! KITA TIDAK PUNYA BANYAK WAKTU!"

Sakura mendengar suara Kakashi-sensei. Karena terlalu sibuk menghampiri Naruto ia sampai tidak sadar kalau disana juga ada Kakashi-sensei. Kakashi-sensei berdiri cukup jauh darinya. Namun apa yang ia lihat adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketika ia menoleh ia melihat Kakashi-sensei yang tengah menggendong 'tubuhnya'.

"Tidak mungkin..." gumamnya.

Sakura berlari menghampiri gurunya yang tengah menggendong sebuah sosok yang ia ketahui adalah dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ada dua Sakura di saat yang bersamaan?

"Kakashi-sensei, bagaimana mungkin..." tanya Sakura.

"NARUTO!" Teriak Kakashi-sensei. Suaranya lebih keras dan lebih tinggi dari sebelumnya, menandakan kalau gurunya itu sedang tidak main-main. Sakura menghampiri gurunya lebih dekat lagi dan Sakura mulai meneliti 'sosok' yang sedang di gendong gurunya.

"Ini, tidak mungkin!" Ujar Sakura setelah melihat sosok itu dengan jelas dan yang sedang digendong oleh Kakashi-sensei memang benar-benar dirinya. Namun sosok itu terlihat sangat mengenaskan. Banyak luka lebam dan ada sebuah luka besar menganga di dadanya. Mulutnya telah mengeluarkan darah.

"Kakashi-sensei! Itu tidak mungkin, aku disini. Aku disini! Naruto! Bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sakura. Dia berbalik dan melihat Naruto sedang melempar Sasuke.

"JIKA TERJADI APA-APA PADA SAKURA, AKU AKAN MENCARIMU SASUKE! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!"

Lalu setelah itu Naruto melompat, melesat menuju kearah mereka.

"Bagaimana keadaan Sakura-chan?" tanya Naruto.

"Kita harus cepat, Sakura kehilangan banyak darah." Jawab Kakashi. Seketika itu Kakashi dan Naruto berlari dari sana, melompat kearah hutan. Sakura mengikutinya dengan perasaan yang campur aduk.

Kenapa? Ada apa ini? Sebenarnya apa yang terjadi ketika aku pingsan? Lalu siapa yang di gendong oleh Kakashi-sensei? Bisa saja itu musuh, yang menggunakan Henge No Jutsu atau jutsu lainnya. Tidak mungkin ada dua Sakura disaat yang bersamaan...Kami-Sama...Apa yang terjadi?

"Kakashi-sensei! Naruto! Tunggu!" teriak Sakura.

Sakura terus memanggil-manggil Naruto dan Kakashi-sensei dalam perjalanan mereka kembali ke Konoha, namun mereka sama sekali tak menoleh. Keadaan ini benar-benar membingungkan Sakura. Bahkan ketika mereka sampai di Konoha pun Kakashi-sensei dan Naruto tak berbalik. Apa yang terjadi? Dia benar-benar tak bisa berpikir jernih.

Mereka melewati gerbang Konoha atau lebih tepatnya sisa-sisa dari gerbang Konoha. Kini desa Daun itu masih dalam proses pembangunan pasca penyerangan Pain. Tenda-tenda berjajar di tengah desa yang sudah bersih dari puing-puing bekas penyerangan. Kakashi dan Naruto berlari secepat yang mereka bisa menuju tenda medis yang menggantikan fungsi rumah sakit yang hancur.

"Shizune! Siapapun! Tolong, kami butuh bantuan. Ini darurat!" Teriak Kakashi. Seketika itu bermunculan para ninja medis dari dalam tenda. Mereka tampak terkejut ketika melihat 'tubuh' Sakura yang digendong oleh Kakashi.

"Ada apa ini?" Shizune yang baru datang dari arah lain juga ikut terkejut saat melihat 'tubuh' Sakura dalam keadaan sekarat. "Sakura? Kenapa dia?" tanya Shizune.

"Tidak ada waktu! Sekarang sembuhkan dia! Aku mohon Kak Shizune!" Kata Naruto yang sudah sekuat tenaga menahan tangisnya. Wajahnya sudah tidak karuan antara marah, sedih, dan panik.

"Nanti saja, sekarang bawa dia lebih dulu!" Dengan cekatan para ninja medis mengangkat 'tubuh' Sakura dan membawanya masuk kedalam tenda.

"Kalian tunggu disini!" Kata Shizune menyusul mereka kedalam.

"Ya ampun." Naruto tampak meremas rambutnya dan terlihat sangat terpukul. "Ini salahku, seharusnya aku bisa lebih cepat."

"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Naruto, tak ada yang menginginkan hal ini." Ujar Kakashi menenangkan Naruto meskipun ia sendiri sangat frustasi. Sementara itu Sakura yang sedari tadi mengikuti mereka kini telah berdiri dihadapan Naruto dan Kakashi. Ia berusaha mencerna apa yang terjadi saat ini. Otaknya sudah berpikir sejak tadi, namun ia masih ragu dengan apa yang ia pikirkan.

"Naruto..." Panggil Sakura lirih. Dalam hati ia sangat berharap kalau Naruto menaggapi panggilannya. Perlahan tangan Sakura terulur menggapai bahu Naruto. Sakura bisa merasakan bahu Naruto yang bergetar karena menahan tangis. Tapi ia sama sekali tak menyadarinya, Naruto tidak bisa merasakan sentuhannya. Kakashi-sensei dan Naruto tidak bisa melihat dan mendengarnya. Mereka tidak bisa merasakan kehadirannya. Apa mungkin dia...

Sakura berlari masuk kedalam tenda, terlihat para ninja medis sedang melucuti pakaiannya yang sudah ternodai bercak darah di banyak bagian dan menyelimutinya dengan selembar selimut tipis. Lalu sekelebatan ingatan yang hilang ketika Sasuke menyerangnya perlahan-lahan muncul di benaknya.

'S-Sa-suke'

Aku gagal... maaf Naruto, maaf Kakashi-sensei. Aku memang tidak bisa membunuhnya. Aku terlalu pengecut untuk melakukan itu. Apa ini akhirnya?

Aku sudah tidak bisa merasakan apapun lagi.

'SAKURA!'

Naruto apa itu kau?Apa kau yang menggendongku?Naruto, awas! Dibelakangmu!

Ugh! Apa aku bisa selamat? Apa aku masih bisa melihat kalian lagi? Selamat tinggal...

Ya, dia ingat semuanya. Dia terlempar ke reruntuhan batu saat Sasuke menyerang Naruto dari belakang. Lalu sekarang tak ada satupun yang bisa merasakan kehadirannya. Apa...dia akan mati?

"Bawa dia ke tenda operasi sekarang?" Teriak Shizune setelah membersihkan luka yang ada pada tubuh Sakura.

"Tapi, Nona Shizune, peralatan kita saat ini tidak memadai." Kata salah satu ninja medis.

"Pakai alat apapun yang bisa kita pakai, segera minta bantuan ke desa terdekat untuk peralatan medis!. Kita tidak punya waktu. Cepat!" teriak Shizune lagi.

Para Ninja medis pun membawa Sakura keluar dari tenda untuk memindahkannya ke tenda operasi dan sebagian lagi mencari peralatan tambahan ke desa tetangga untuk operasi. Shizune mendekati 'tubuh' Sakura yang di bawa dengan tandu dan berbisik di telinganya.

"Sakura, tetaplah bersama kami. Kami akan melakukan sebisa kami, Jika kau mati, jika kau hidup itu terserah padamu. Tetaplah bersama kami!"

Naruto hampir saja berlari saat melihat 'tubuh' Sakura di bawa keluar dari tenda, namun dengan segera Kakashi menghentikannya.

"Naruto! Kau hanya akan menyusahkan mereka jika pergi kesana!" ujar Kakashi.

"Tapi Sensei..." Naruto sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Sungguh malang, Sakura sekarat disaat-saat seperti ini. Desa masih belum pulih karena penyerangain Pain, mereka tidak memiliki alat yang memadai saat ini, belum lagi Nona Tsunade, ninja medis terbaik di Konoha belum siuman semenjak penyerangan. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Sakura.

Tak lama kemudian para Rookie mulai berdatangan.

"Kakashi-sensei, ada apa? Kami melihat para ninja medis berlarian. Mereka bilang kalau Sakura terluka parah?" tanya Ino yang sudah panik.

"Ceritanya panjang. Sekarang Sakura ada di tenda operasi." Ujar Kakashi yang masih menenangkan Naruto.

"Jadi itu benar?" tanya Ino. Air matanya mulai menggenang. "Aku harus membantu mereka." Tanpa menunggu lagi Ino langsung berlari menuju tenda operasi.

"Apa ini, karena dia?" tanya Shikamaru yang sudah tahu dengan tujuan Sakura dari awal. Kakashi tak menjawab.

"Tidak mungkin..." komentar Sai. Wajahnya yang sudah pucat entah bagaimana caranya sekarang lebih pucat dari biasanya. Sementara itu Rock Lee sudah terduduk lemas, sepertinya ia sama terguncangnya dengan Naruto.

"Sakura..." Ujar Hinata lirih.

'Sakura' keluar dari tenda dan melihat semua teman-temannya. Sekarang ia sedang berdiri tepat di sebelah Kakashi. Kakashi terlihat sedang memijit-mijit pangkal hidungnya.

"Sensei, apa kau benar-benar tidak bisa mendengarku? Ayolah..." tanya Sakura. Namun sama sekali tak ada reaksi seperti sebelumnya. Pandangan Sakura beralih pada teman-temannya yang juga sedang menunggu 'tubuhnya' yang sedang di operasi. Hinata sudah mulai menangis, Kiba mulai menenangkannya. Rock Lee yang paling bersemangat dalam segala urusan juga kini meringkuk dalam seperti Naruto. Neji, Shino, Chouji, Sai,juga Shikamaru tampak sekali ketegangan terpancar dari wajah mereka. Terlebih lagi Shikamaru, dia tampak berpikir keras dan khawatir disaat yang bersamaan. Tentu saja, keadaan ini sama persis seperti saat dia menunggui operasi Neji saat diserang oleh Ninja dari desa Otogakure ketika mereka masih genin dulu. Bagaimanapun juga Shikamaru merasa bersalah karena dialah yang memberitahu Sakura kalau nyawa Sasuke diincar oleh Raikage. Tapi dia tidak menyangka kalau akan begini akhirnya.

Tak lama kemudian terlihat Yamato muncul dari kejauhan.

"Senior Kakashi, apa yang terjadi pada Sakura?" tanyanya begitu ia datang. Untuk sesaat tak ada suara apapun selain suara isakan Hinata dan juga gumaman tak jelas dari Naruto.

"Sasuke telah menyerangnya." Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari muut Kakashi. Sedangkan Yamato yang sudah tahu ceritanya dari awal lebih memilih untuk diam. Dalam keadaan seperti ini tidak bijak rasanya kalau bertanya kejadiannya secara mendetil. Yamato lebih memilih untuk memperhatikan keadaan disekelilingnya dan ikut menunggu dengan mereka, siapa tahu ada sesuatu yang bisa dia bantu. Ia perhatikan, meskipun Kakashi terdiam dia tampak sangat kacau di mata Yamato. Tentu saja kacau, bagaimana tidak? Kakashi tahu betul efek yang ditimbulkan dari chidori. Mau tak mau ini mengingatkannya pada Rin yang mati di tangannya sendiri karena Raikiri-nya. Bagaimana hal itu bisa terjadi pada murid yang sudah ia anggap anaknya sendiri? Ia merasa tidak berguna.

Sementara itu Sakura beranjak dari sana menuju tenda operasi. Ruangan itu gelap dan hanya diterangi lampu seadanya. Sekarang ini tubuh Sakura sedang dikelilingi oleh sekitar lima ninja medis. Di sekelilingnya sudah ada segel yang menghubungkan kelima ninja medis dengan tubuh Sakura. Mereka sedang mencoba menutup luka yang ada di dada Sakura.

'Ino...' Gumam Sakura ketika melihat sahabatnya itu sedang mengalirkan chakra pada salah satu ninja medis. Gadis berambut pirang itu mencoba berkonsenterasi meskipun air mata merembes dari pelupuk matanya. Sakura bisa melihat sebuah benang chakra yang bergerak-gerak menutup lukanya.

"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau pergi, Sakura! Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!" Ujar Ino di sela-sela tangisnya.

Hari sudah beranjak gelap, namun operasi Sakura belum juga selesai. Ninja medis sedari tadi sudah bergantian keluar masuk tenda operasi membawa banya obat dan alat-alat medis. Ino dan Shizune juga belum keluar dari sana. Naruto memang sudah tenang tapi dia masih meneringkuk di depan tenda operasi menunggu perkembangan Sakura tanpa menghiraukan perutnya yang meronta kelaparan atau bebereapa luka di wajah dan tangannya yang telah mengering.

"Naruto, aku membawakan obat untukmu. Biar ku bersihkan luka-lukamu." Ujar Hinata yang baru saja datang membawa kotak P3K. Naruto tak menanggapinya. Ia masih tertunduk kaku. Namun Hinata mulai menarik kedua tangan Naruto. Untunglah pemuda itu tidak menolak dan Hinata mulai membersihkan luka-luka di tangan Naruto.

"Sakura pasti akan, baik-baik saja. Dia itu gadis yang kuat, dia pasti bisa melewati semua ini. Kau tidak perlu khawatir." Kata Hinata. Naruto tahu kalau Hinata hanya berniat menghiburnya, namun setidaknya itu cukup menenangkan Naruto.

"Ya, dia itu gadis yang paling kuat yang pernah ku temui." Balas Naruto. Ingatannya melayang pada hari-hari dimana dia dan Sakura menghabiskan waktu berdua, melaksanakan misi bersama, meski kebanyakan dari itu adalah bertengkar atau Sakura yang selalu memarahinya. Bahkan kenangan yang lebih jauh muncul. Ketika mereka masih diakademi, lalu, menjadi genin, dia tidak mau semua itu berakhir.

Jika Sakura tidak ada maka bagian tubuhnya juga akan ikut hilang, maka dari itu dia sangat takut. Ia masih tidak percaya Sasuke sampai tega melukai Sakura seperti ini? Dia benar-benar tidak akan memaafkannya jika terjadi sesuatu pada Sakura. Apa Sasuke tahu apa yang dia lakukan? Apa dia menyesal? Atau dia senang?

"Sakura..." gumam Naruto lirih. Kenapa semuanya serumit ini?

Setelah lebih dari lima jam, akhirnya Shizune dan Ino diikuti Sakura keluar dari tenda operasi. Wajah mereka tampak pucat dan sangat terlihat kelelahan. Seketika semua orang yang menungguinya berdiri.

"Bagaimana? Sakura baik-baik saja, kan?" Naruto yang bertanya paling dulu.

Shizune mengangguk, kelegaan tampak di wajah semua orang.

"Kami berhasil menyelamatkannya, tapi..." Semuanya kembali menahan napas, "tapi sepertinya karena tegangan tinggi dari jurus chidori, itu membuat otak Sakura tidak merespon apapun."

"Apa maksudnya itu?" tanya Naruto.

"Otaknya tidak merespon bahkan Sakura memerlukan alat bantu untuk bernapas karena memang secara tidak langsung otaknya tidak berfungsi untuk saat ini dan sampai Sakura sadar Sakura dinyatakan koma." Ujar Shizune. Penuturannya menohok semua orang disana. Setelah Nona Tsunade yang tak sadarkan diri berhari-hari kini giliran Sakura, salah satu kunoichi dan ninja medis terbaik di Konoha dinyatakan koma.

"Kapan dia sadar?" tanya Naruto.

"Kami tidak tahu."

"S-Sakura.." Ino tak kuasa menahan tangisnya, yang langsung di topang oleh Shikamaru.

"Sudah Ino, lebih baik sekarang kau beristirahat." Ujar Shikamaru. Dia dan Chouji pun memapah Ino menuju tenda lain.

"...otaknya tidak berfungsi untuk saat ini dan sampai Sakura sadar Sakura dinyatakan koma."

Kata-kata itu terngiang di telinga Sakura.

Aku dinyatakan koma? Bagaimana bisa? Jadi aku benar-benar sedang sekarat sekarang? Jadi seperti ini rasanya dekat dengan kematian?

Para Ninja medis membawa 'tubuh' Sakura ke tenda yang lain. Di tubuhnya sudah di pasangkan berbagai alat bantu. Naruto dan yang lainnya segera mengikutinya.

Kenapa rasanya begitu damai? Kenapa kematian terasa begitu mudah?

Sakura mengikuti mereka, terlihat Naruto sedang memakasa masuk untuk melihatnya.

"Aku mohon, aku tidak akan melakukan apapun." Pintanya.

"Baiklah." Kata sang ninja medis.

Naruto masuk kedalam tenda itu tanpa ia sadari sebenarnya Sakura berada disebelahnya, berjalan beriringan dengannya. Mereka berdua sama-sama melihat para ninja medis sedang membenarkan beberapa alat di tubuh Sakura. Beberapa lebam dan luka masih tampak baru di wajah Sakura. Dia harus memakai penyangga leher dan sebuah alat bantu pernapasan yang terhubung dengan tabung oksigen dan sebuah monitor yang menunjukan detak jantung Sakura yang lemah.

Raut penyesalan kembali tergambar di wajah Naruto. Kemudian Kakashi muncul dan berdiri di sebelah Sakura.

"Kenapa perempuan selalu melakukan hal yang bodoh?" Tanya Naruto.

"Maafkan aku Naruto. Ya, aku memang sangat bodoh." Jawab Sakura.

"Karena mereka berpikir dengan hati Naruto, itulah satu hal yang harus kau mengerti tentang perempuan." Jawab Kakashi.

"Sensei..."


A/N :Fic ini sebagai selingan aja di tengah-tengah pembuatan fic X Men: The Omega. Saya rasa saya butuh genre baru buat nge-refresh otak. Lumayan lah ya, tadinya mau dibikin satu chapter aja. Tapi kayaknya bakalan di bikin dua soalnya terlalu panjang rasanya kalo buat One shoot. Ga akan lama mungkin bakalan Complete dalam satu atau dua hari kedepan.

Mungkin fic ini agak sulit di mengerti karena ada dua 'Sakura' yang diceritakan disini. Tapi filmnya jauh lebih sulit karena alurnya maju mundur. Recommended: Sondtrack filmnya yang dia atas, soalnya enak bgt lagunya. Terus aku ga tau mereka OOC atau engga yang pasti agak lebay iya karna genrenya drama. Tapi ya lumayan buat hiburan...So Makasih buat yang sudah berkenan membaca. Baca & tunggu fic saya yg lain ya..keep fav, follow, and review :)Salam hangat Author