Disclamer
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Canon

IF I STAY

©LONGLIVE AUTHOR


I'm so tired being here, Supresed by all my childish fear

And if you have to live, I wish that you would just live

Cause you're present still lingers here, and it want leave me alone

This wound won't seems to heal, this pain is just too real

There's just too much that time cannot erase

*Evanescence – My Immortal*

Sudah dua hari 'tubuhku' terkapar di tenda darurat ini, dengan segala alat yang membantu 'tubuhku' agar terus bernapas. Orang-orang mulai berdatangan meski mereka hanya diizinkan sebentar. Ayah dan Ibuku datang sudah kuduga kalau mereka akan histeris. Ibu langsung pingsan saat mengetahui keadaanku. Aku bisa melihat ketika Kakashi-Sensei dan Kak Shizune sedang menenangkan kedua orang tuaku.

Sekarang hanya ada Naruto di dalam tenda, sejak aku masuk kesini dia tak pernah meninggalkanku. Dia duduk di sebelah ranjang ku. Dia menangis. Matahariku menangis, untuk pertama kalinya Naruto menangis karena aku.

Aku sangat bodoh!

Kakashi masuk kedalam tenda diikuti dengan Hinata dan Shikamaru. Dia mendekati Naruto yang masih setia menunggui Sakura.

"Naruto, kau belum makan sejak kemarin. Ayo kita makan dulu." Ajak Hinata. Naruto sama sekali tak menggubrisnya.

"Hinata benar, Naruto. Kau belum makan, lebih baik kau makan dengan mereka." Ujar Kakashi.

"Bagaimana mungkin aku bisa makan?" timpal Naruto.

"Aku tahu kau bersedih, tapi jangan menyiksa dirimu sendiri Naruto!" Hening sejenak.

"Ayo, Naruto pergilah. Biar aku yang menjaga Sakura." Ujar Kakashi. Akhirnya Naruto bangkit dari kursinya dan pergi bersama Hinata dan Shikamaru. Sekarang tinggal Kakashi, Sakura, dan 'tubuhnya'.

Perlahan Kakashi mendudukkan dirinya di kursi bekas Naruto duduk tadi. Begitu juga Sakura yang duduk di seberang gurunya itu. Kini mereka hanya terhalang oleh tubuh Sakura. Hening, hanya ada suara dari monitor yang menunjukan detak jantung Sakura. Sakura melihat gurunya dan 'tubuhnya' secara bergantian. Tatapan gurunya begitu terlihat sendu memandangi 'tubuhnya' yang begitu menyedihkan.

"Kau tau Sakura? Dulu saat pertama kali aku melihatmu, di hari pertama Tim tujuh di bentuk. Aku sempat berpikir kalau kau tidak akan bisa diandalkan." Ujar Kakashi pelan. Sakura tersenyum kecut.

"Ya, dan aku masih tidak berguna." Balas Sakura meski ia tahu Kakashi tidak akan bisa mendengarnya.

"Tapi seiring berjalannya waktu kau berubah menjadi gadis yang kuat. Bahkan lebih kuat dari yang aku banyangkan, dan sekarang aku mengerti kenapa teman-teman mu begitu menyayangimu. Terutama Naruto..." Pria itu berhenti sejenak. Memperhatikan wajah Sakura yang tertidur begitu damai.

"Sepertinya, aku telah gagal menjadi guru yang baik untuk kalian..."

"Jangan bicara seperti itu Sensei."

"Aku bahkan tidak tahu kalau muridku menanggung beban yang begitu berat. Sampai kau harus melakukan hal yang membahayakan dirimu seperti ini." Ujar Kakashi lirih.

"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku telah salah." Cairan bening mulai turun dari pelupuk matanya.

"Dengar Sakura," Tangan Kakashi beranjak pada tangan kiri Sakura dan menggenggamnya pelan. "terkadang hidup membuatmu memilih, tapi pilihanlah yang membuatmu hidup"

"Kakashi!" Seseorang memanggilnya dari belakang. Tampak Shizune muncul dari luar. "Nona Tsunade sudah siuman." Katanya. Lalu tak lama kemudian Tsunade muncul.

"Hokage kelima." Ujar Kakashi seraya berdiri dari tempat duduknya. Tsunade berjalan ke arah ranjang Sakura.

"Aku sudah mendengar semua ceritanya. Bagaimana bisa Sakura memutuskan untuk membunuh Sasuke sendirian?" tanya Tsunade. Sepertinya Hokage kelima benar-benar sudah pulih. Tampak dari wajahnya yang segar bugar.

"Killer Bee adik dari Raikage telah di culik oleh Tim Taka yang dipimpin oleh Sasuke. Raikage memutuskan untuk membunuh Sasuke, berita itu terdengar sampai ke Konoha dan Sakura memutuskan untuk membunuh Sasuke sendirian agar menghindari dendam antar desa Konoha dan Desa Kumo." Jelas Kakashi.

"Anak ini...Tidak kusangka dia bisa senekat itu. Tapi...memang sepertinya tidak ada cara lain untuk menghentikan Sasuke." Sakura tertunduk sedih, memang itulah maksudnya. "Bagaimanapun juga dia sudah menjadi buronan di kelima negara." Sang Hokage kelima berjalan mengitari ranjang Sakura dan meletakkan telapak tangannya di kening 'tubuh' Sakura. Sedangkan Sakura kini berdiri disana berharap sesuatu yang baik terjadi.

"Guru Tsunade? Apa aku bisa kembali sadar? Apa ada kemajuan?" tanya Sakura meski ia tahu itu tak berguna. Cahaya redup kehijauan muncul dari tangannya. Dahi Tsunade berkerut setelah beberapa saat memeriksa keadaan Sakura.

"Bagaimana?" Tanya Kakashi. Tsunade menggeleng lemah.

"Sama sekali tak ada kemajuan," Jawab Tsunade, Sakura tertunduk lemas dan mundur beberapa langkah dari sana. Sejujurnya ia tidak ingin mendengar hal ini.

"Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?" tanya Kakashi lagi. Tsunade kembali menggeleng.

"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi akan ku lakukan yang aku bisa." Katanya. "Aku hanya takut kalau Sakura tidak bisa sadar dalam waktu yang lama, karena biasanya dalam kasus seperti ini hidupnya akan terus bergantung pada alat. Tanpa tahu kapan dia akan siuman. Aku takut..." Ujar Tsunade tanpa meneruskan kata-katanya.

Keheningan melanda ruangan itu lagi. Kakashi tampak sangat terpukul.

"Tolong jangan beritahu siapapun, terutama Naruto." Pinta Kakashi.

"Kami mengerti." Jawab Tsunade.

Sementara itu yang sebenarnya paling terguncang diantara mereka semua adalah Sakura sendiri. Dadanya terasa sesak dan napasnya tersengal meskipun ia tidak tahu apakah saat ini ia bisa menghirup udara atau tidak.

"Bagaimana ini?" batin Sakura.

Ia berlari ke luar tenda dengan telanjang kaki namun ia sama sekali tak merasakan dinginnya udara musim dingin. Begitu ia keluar ia menemukan kedua orang tuanya tak jauh dari pintu tenda. Haruno Mebuki, ibunya tengah menangis tersedu-sedu dan ayahnya yang sedang menenangkannya.

"Sudahlah, aku yakin Hokage kelima bisa menyembuhkan Sakura." Kata Ayahnya sambil sesekali mengusap punggung ibunya.

"Ayah...Ibu..." Panggil Sakura. Sekali lagi ia berharap agar kedua orang tuanya bisa mendengar suaranya. Tapi hasilnya sama seperti yang lainnya. Mereka sama sekali tak mendengarnya. Ia tahu ini sia-sia. Lalu Sakura berbalik, masih dengan air mata yang berlinang ia melihat beberapa Jounin yang sedang berkumpul tak jauh dari tenda. Sakura mendekati mereka dan berusaha mencuri dengar apa yang mereka katakan.

"...dia sama sekali belum istirahat sejak kembali ke Konoha. Aku sudah membujuknya tapi kalian tahu kan seberapa keras kepalanya dia." Kata guru Guy.

"Kau kira apa yang akan kau lakukan jika anak muridmu dalam keadaan koma?" tanya yang lainnya.

Awalnya Sakura tidak mengerti namun akhirnya ia sadar kalau mereka sedang membicarakan Kakashi-sensei. Ya ampun—Sakura menjambak rambutnya sendiri. Lihat apa yang sudah ia perbuat? Begitu bodohnya ia melakukan hal ini sampai ia terjebak dalam keadaan seperti ini. Sekarang ia tidak mati, juga tidak hidup. Disaat sekarat pun ia masih saja menyusahkan orang. Kenapa ia tidak mati saja saat itu. Agar tak ada lagi yang menderita lagi karenanya, agar semua deritanya juga hilang. Tapi lihat apa yang terjadi?

Tanpa sengaja Sakura melihat sosok pucat yang sedang duduk dibawah pohon. Sakura berjalan kesana dan ia menemukan Sai sedang duduk dengan buku gambarnya. Sakura duduk tepat di sebelahnya berharap Sai bisa merasakan kehadirannya walaupun hanya sedikit. Sakura memandangi buku gambar milik Sai. Dia sedang menggambar sesuatu dan sepertinya sudah selesai. Sai sedang menggambar wajah Sakura yang sedang tersenyum riang, begitu hidup dan begitu sempurna. Sebuah senyuman yang sangat jarang ditunjukkan Sakura, atau mungkin tak pernah.

"Sakura..." Panggil Sai. Sakura yang duduk disebelahnya tersentak kaget dan menatap Sai penuh arti.

"Kau melihatku? Tolong katakan kalau kau mendengarku..." Ujar Sakura.

"Jika kau berada disini, dengarkan aku." Wajah Sai menegadah ke langit yang mulai menguning karena matahari mulai turun keperaduannya.

"Kami semua disini menunggumu Sakura, tolong jangan pergi." Wajahnya terlihat sendu. "Kau adalah gadis pertama yang pernah memukulku, gadis pertama yang berani memarahiku, dan gadis pertama yang menganggapku sebagai teman." Katanya.

"Sai..."

"Yang kau lakukan itu tidak salah, aku memang belum lama mengenalmu. Tapi aku tahu seberapa besar kau mencintai Sasuke. Matamu selalu terlihat sedih saat membicarakannya. Kau dan Naruto sama-sama ingin menyelamatkan Sasuke, hanya saja cara kalian berbeda. Aku tahu, itu pasti sangat berat. Tapi kau adalah gadis yang kuat Sakura..." Ia tertawa kecil. "tidak hanya dalam artian sebenarnya tentunya." Sakura ikut tertawa kecil.

"Maafkan aku..." gumam Sai. Pemuda itu mencengkram dadanya sendiri seolah ada luka disana.

"Kalau saja waktu itu aku tak mengatakan yang sebenarnya tentang Sasuke yang diburu oleh Raikage, kau pasti tak akan pergi." Ujarnya.

"Yah mau bagaimana lagi?" balas Sakura.

"Sekarang aku mengerti kenapa Naruto sangat menyukaimu."


Sementara itu berpuluh-puluh kilo meter dari tempat itu seorang pemuda tengah melamun, menatap kosong matahari yang mulai beranjak tenggelam. Tubuhnya berada disana namun pikirannya? Tak ada yang tahu. Yang pasti sekarang menyendiri dan melamun telah menjadi hobinya. Bahkan ia terjaga pada malam hari hanya untuk memikirkan hal yang sama. Masih terlihat sebuah luka di ujung bibir tipisnya. Pemuda itu selalu merasa luka itu kurang. Seharusnya dia menerima pukulan lebih dari itu. Seharusnya dia menerima makian yang jauh lebih kasar.

Awalnya ia sangat yakin, awalnya ia tidak peduli, awalnya ia bisa membuangnya jauh-jauh. Namun perlahan-lahan suatu perasaan muncul. Suatu perasaan yang seharusnya tidak ada dalam kamusnya. Awalnya samar, namun semakin waktu berjalan perasaan itu semakin terasa jelas dan menyebabkan sebuah luka dan rasa bersalah di hatinya. Seolah ada pedang berkarat tak kasat mata menusuk dadanya perlahan-lahan. Begitu perih, begitu menyakitkan. Perasaan menyesal yang menyebar seperti virus mematikan.

Beberapa kali ia menggumamkan pertanyaan seperti "Ada apa denganku?" atau "Apa yang sudah ku lakukan?" seolah baru sadar akan sesuatu.

Teman-teman se-Tim nya pun tidak berani untuk menanyai nya.

"Sebenarnya ada apa dengannya?" tanya Suigetsu pada Juugo kala ia memperhatikan Sasuke dari jauh sedang duduk sendirian di dahan pohon.

"Entahlah, dia seperti itu sejak pulang. Mungkin karena...mereka." Jawab Juugo.

"Chakra Sasuke tidak stabil sejak ia pulang." Sambung Karin.

Meski begitu ia tak pernah menunjukkannya. Ia tahu betul apa yang dia rasakan. Tapi ia selalu menyangkalnya. Ia tidak mau terjerumus oleh perasaan seperti itu hingga membuat hatinya kembali ragu. Ia membuang semua sifat kemanusiaannya, namun apa daya? Tangan Tuhan telah bergerak menawarkannya, membukakan jendela agar ia bisa melihat apa yang telah ia lakukan. Bagaimanapun ia menolak, rasa itu tetap ada.


Hampir dua minggu Sakura dirawat dan masih tak ada kemajuan. Kabar terhangat adalah kalau para Kage sudah sepakat untuk membentuk aliansi. Root telah di ambil alih oleh Tsunade setelah kematian Danzou. Pembangunan desa semakin gencar dilakukan. Semua orang telah bekerja keras untuk membangun kembali rumah-rumah dan gedung-gedung. Sakurapun sudah di pindahkan ke tempat yang lebih layak. Ada sebuah bangunan darurat untuk rumah sakit dan orang-orang juga terus berdatangan menjenguk dan menemani Sakura.

Sedangkan Sakura sendiri sudah lelah melihat orang-orang yang terus berdatangan. Ia sudah menyerah, tidak ada yang bisa mendengarnya atau melihatnya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menunggu apa yang sedang direncanakan Tuhan untuknya. Selama ini dia terus disana disamping tubuhnya.

Setiap hari Ino membawakan bunga untuk Sakura dengan harapan agar sahabatnya itu cepat sadar.

"Sakura, aku tahu banyak hal buruk yang terjadi pada dirimu. Tapi kau harus kuat..." untuk kesekian kalinya Ino menangis di samping tubuh Sakura. Tangannya bergerak meremas pelan tangan Sakura. "..kau harus bangun. Aku rindu kau yang selalu memanggilku gendut, aku rindu, kau yang selalu cerewet. Aku rindu sahabatku..." Ia terisak rendah.

"Kau tidak sendiri Sakura..."

Lee yang saat itu ada disana mencoba untuk menenangkan Ino dengan mengelus pelan pundaknya. Lee membawa setangkai bunga teratai yang masih kuncup.

"Ino benar, Sakura. Kau tak bisa meninggalkan kami. Bahkan bungapun tak mau mekar jika kau tak ada." Lee menaruh bunganya di meja.

Sakura menatap kedua temannya itu lelah dan tak lama kemudian ia menggeleng. Dia tak tau harus berbuat apa. Dia sudah lelah dengan semua ini. Jika Tuhan ingin mengakhirinya seharusnya Ia sudah mencabut nyawanya, namun ia terjebak disini. Ia sudah lelah.

Deg!

Piiipp...!

Suara melengking panjang terdengar dari monitor yang menunjukkan kalau detak jantung Sakura semakin melemah dan kondisinya menurun drastis.

"Ada apa?" tanya Lee kaget.

"Tidak...! Nona Tsunade! Kak Shizune siapapun, cepat kemari!" Ino berlari ke pintu. Tak butuh waktu lama sampai para ninja medis berdatangan.

"Ada apa?" tanya Tsunade. Sedangkan Sakura sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Apa dia akan mati. Dia hanya bisa melihat orang-orang mulai panik.

"Kondisinya menurun drastis." Ino berusaha mengatur napasnya.

"Kalian tunggu dulu di luar" Ujar Shizune seraya mendorong Ino dan Lee keluar dari ruangan.

"Aku mohon selamatkan dia, j-jangan sampai sesuatu terjadi padanya." Teriak Ino.

"Aku akan melakukan yang kami bisa."

Jeritan Ino sukses membuat orang-orang yang sedang menunggui Sakura panik. Mereka semua berdiri dari tempat duduk dan mulai panik.

Sementara itu di dalam ruangan Tsunade mulai memeriksa denyut nadi dan detak jantung Sakura.

"Tidak Sakura, jangan sekarang, jangan seperti ini." Ino mengintip dari balik jendela.

"Ada apa? Apa yang terjadi pada Sakura?" tanya Naruto yang baru saja datang, napasnya terengah-engah karena berlari. Pemuda pirang itu mengikuti Ino mengintip dari balik jendela.

"Aku butuh pengejut jantung! Cepat!" Teriak Tsunade.

Terlihat salah seorang ninja medis membawa sebuah alat besar dan ia memberikan sepasang alat pengejut jatung kepada Tsunade.

"Sepuluh detik..."

"Lima detik..."

"Tiga"

"Dua...Satu...Aman!"

Apa aku akan mati?

Secepat ini?

"Detak jantungnya mulai stabil...tetapi masih lemah. Sama seperti sebelumnya." Ujar Shizune.

Tsunade membuang napas lelah. Semua orang yang berada di luar bernapas lega. Terkecuali Naruto yang tampaknya kemarahan telah menguasai hatinya saat ini. Pemuda berambut pirang itu berjalan cepat dan menerobos masuk kedalam pintu ruangan Sakura.

"Ada apa dengannya? Seharusnya dia sudah sembuh!" Teriak Naruto. Ia sudah tak bisa membendung kekesalannya. Dia sudah lelah menunggu Sakura sadar dari koma.

"Naruto?"

"Kami sudah berusaha semampu kami!" Kata Tsunade berusaha setenang mungkin karena dia mengerti apa kenapa Naruto bersikap seperti itu. Tentu saja. Semua orang mengerti apa yang Naruto rasakan, terlebih lagi Naruto adalah sahabat sakura yang paling dekat.

"Tapi, kalian adalah ninja medis terbaik. Kenapa bahkan sampai saat ini Sakura belum membuka matanya. Sampai kapan? Sampai kapan Sakura akan terbaring seperti ini!"

PLAKK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Naruto. Tsunade menampar Naruto dengan keras.

"Tenangkan dirimu. Semuanya butuh waktu. Berdo'alah agar Sakura cepat sadar dari koma nya." Kata Sang Hokage kelima serius. Naruto memalingkan wajahnya. Ia sudah mulai tenang meski kekesalan masih membendung di dadanya. Sebenarnya perasaannya sedang tidak karuan. Ia kesal karena tidak bisa melindungi Sakura, ia sangat takut kehilangan Sakura, dan ia marah pada Sasuke yang telah melakukan semua ini. Dia marah pada Sasuke.

Naruto berbalik dan meninggalkan ruangan. Sakura mengikutinya dari belakang. Ia merasakan hal yang tidak enak. Entah kenapa ia cemas pada Naruto.

"Naruto!" Panggil Sakura.

Naruto terus berjalan menjauh dari rumah sakit darurat. Tak lama kemudian ia berlari.

"Sasuke!" Dia menggeram. "Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!"

Sakura berhenti sesaat. Ia berpikir. Apa mungkin Naruto akan...

"Naruto, berhenti! Jangan bilang kalau kau akan menyusul Sasuke!" Teriak Sakura, ia ikut berlari menembus malam yang dingin.

"Naruto!" Percuma tidak ada yang bisa mendengarnya. Lalu bagaimana ini? "Siapapun hentikan Naruto!" Teriak Sakura. Sakura mulai menangis, ia tidak bisa menghentikan Naruto. Tidak! jangan seperti ini.

"Naruto! Jangan pergi! Aku membutuhkanmu!" Sakura hampir menyusul Naruto.

"Kami-Sama tolong hentikan Naruto! Siapapun tolong hentikan Naruto!"

"Sasuke!" Geram Naruto.

"Berhenti Naruto! Hiks...hiks... Jangan pergi!" Sakura berteriak tepat di depan telinga Naruto namun tak digubris.

"AKU MOHON BERHENTI!"

Tiba-tiba saja Naruto berhenti. Sakura ikut berhenti. Ketika ia berbalik ia melihat Hinata tengah menahan lengan Naruto. Tak lama kemudian Hinata menarik Naruto kedalam pelukannya. Hinata mendekapnya erat.

"Jangan pergi," ujar Hinata. Ia mengelus punggung tegap Naruto. "Aku tahu kau marah, tapi Sakura sangat membutuhkanmu sekarang."

Naruto membalas pelukan Hinata tak kalah eratnya. Ia sedang membutuhkan sandaran sekarang, dan Hinata muncul. Hinata telah menghentikan Naruto untuk Sakura.

"Aku tak berguna!" Ujar Naruto samar-samar di balik tengkuk Hinata.

"Jangan bicara seperti itu. Sakura tidak akan suka jika kau terus menyalahkan dirimu sendiri. Kita semua juga menunggu Sakura, kita hanya perlu bersabar." Suara Hinata yang lembut begitu menenangkan. Gadis itu melepaskan pelukannya. "Ayo, lebih baik kita kembali."

Perlahan-lahan Naruto dan Hinata menjauh pergi.

Sakura masih berada disana, ia sangat frustasi. Tubuhnya sangat lemas. Bahkan ia tidak tahu wujudnya ini apa. Mungkin semacam arwah gentayangan yang terjebak di antara dua dunia. Ia terduduk lemas di tanah. Jalanan itu sangat sepi. Perasaannya tak kalah campur aduknya dengan Naruto. Ia sangat marah pada dirinya sendiri, ia kecewa pada dirinya sendiri, ia kecewa pada Sasuke. Ia tak pernah menyangka bahkan bayangannya pun tak pernah terlintas di benak Sasuke. Ia kecewa menerima kenyataan kalau orang yang selama ini dia cintai, yang selama ini ia tunggu, yang selama ini ia bela dengan begitu tega melakukan semua ini kepadanya. Sekarang semuanya berantakan, ia tak tak tahu kepada siapa harus mengadu. Kepada dan untuk siapa ia menangis?

"ARRGGGHHH!"

"AKU INGIN SEMUA INI BERAKHIR! KUMOHON HENTIKAN!"

Jeritannya memecah lagit, namun tak seorang pun mendengarnya.


Jauh di dalam hutan, keempat orang itu menyusuri dahan-dahan pohon. Sudah berjam-jam rasanya mereka melompat dari dahan ke dahan lainnya. Udara semakin menusuk tulang menandakan waktu sudah jauh melewati tengah malam. Pemuda itu bilang ada urusan yang perlu ia kerjakan. Ia memutuskan untuk pergi sendiri. Tapi Ketiga orang lainnya memaksa untuk ikut dan pemuda itu tidak peduli.

"Sebenarnya ia akan pergi kemana? Ada urusan apa?" Tanya Suigetsu seraya melompat di dahan pohon. "Sudah empat jam kita berjalan dan sama sekali tak beristirahat." Ia memperhatikan punggung Sasuke yang sudah jauh di depan mereka.

"Aku tidak tahu ada urusan apa, tapi ini jalan menuju..." Ucapan Juugo terhenti.

"Konoha!"

Pukul lima dini hari. Hari ini sudah memasuki hari ke dua puluh dan semuanya masih menunggu. Saat itu hanya ada Ino, Sai, Naruto dan Sakura disana. Beberapa jam yang lalu Ino menyuruh orang tua Sakura pulang setelah melewati perdebatan panjang.

"Ino, ini sudah pagi. Kau beristirahatlah. Biar Sai yang mengantarmu pulang." Ujar Naruto.

"Naruto benar, kau perlu tidur. Biar aku mengantarmu." Tawar Sai. Ino mengangguk. Mereka pun beranjak pergi dari ruangan Sakura. Tinggalah Naruto sendirian disana, atau lebih tepatnya berdua.

"Kapan kau akan bangun Sakura?" gumam Naruto pelan. Ia memperhatikan wajah gadis merah mudanya itu. Luka-lukanya hampir sembuh bahkan hampir tak terlihat.

"Aku merindukanmu." Naruto mendekap tangan Sakura.

Perlahan hatinya tersentuh kembali, namun ia ragu apa jalan untuk kembali itu ada? Atau mungkin Tuhan sedang menunggunya untuk kembali kepada-Nya. Sakura mendekati Naruto.

"Aku selalu berada disisimu Naruto. Katakan, kalau aku menyayangi kalian semua. Katakan aku minta maaf untuk semuanya."

"Maaf Naruto, ini yang terakhir. Aku menyerah." Sakura menyentuh tangan Naruto yang mendekap tangannya.

Si pemuda tersentak, hatinya-tiba-tiba saja berdebar. Dia merasa ada seseorang yang menyentuh tangannya.

"Sakura?" tanyanya.

Namun sayang, sudah terlambat. Perlahan-lahan Sakura melangkah pergi dari sana.

"Naruto!" seseorang muncul dari pintu. Pemuda itu menoleh. Shikamaru berada disana.

"Hokage kelima memanggil kita semua."

"Tapi Sakura?"

"Tenang, saja. Ada banyak ninja medis yang menjaganya disini."

Naruto bangkit dan keluar dari sana meninggalkan tubuh Sakura sendirian.

Sementara itu Ino dan Sai masih dalam perjalanan menuju rumah Ino. Sesekali gadis berambut pirang itu menyeka air matanya.

"Sudahlah, Sakura akan baik-baik saja." Kata Sai.

"Aku tahu, dia adalah gadis yang kuat." Ino kembali berjalan. Namun tidak dengan Sai, dia tetap diam di tempat. Ino menoleh ka arah pemuda disampingnya. Sai tengah memperhatikan sebuah bukit yang penuh dengan pepohonan. Ino mengikuti pandangan Sai. Gelap. Tak ada apapun disana.

"Ada apa Sai?" tanya Ino.

"Ada seseorang disana." Ujarnya tajam.

Di pagi buta begini akhirnya mereka sampai. Pemuda itu dan tiga orang lainnya telah sampai di perbatasan Konoha. Dengan mudah si pemuda membuat petugas yang menjaga perbatasan tak sadarkan diri, dan sekarang mereka disini di perbatasan rumahnya yang dulu. Itupun jika ia pantas menyebut tempat ini rumah.

"Sebenarnya apa yang mau kau lakukan di Konoha? Desa ini sudah hancur lebur." Tanya Karin tak sabar.

"Ku bilang kalian tidak perlu ikut. Sekarang jangan ganggu aku!" Kata pemuda itu tajam.

Baru saja Karin akan berbicara lagi ia merasakan seseorang mendekat. Ia bisa merasakannya.

"Ada seseorang yang datang." Ujar Karin. Namun sudah terlambat, orang yang dikatakan Karin sudah berada dihadapan mereka. Mereka tidak menyadarinya karena keadaan desa yang masih gelap.

"Uchiha Sasuke!"

Dua sosok tengah berdiri dihadapan mereka. Ino dan Sai. Suigetsu sedikit merinding, bukan karena udara pagi yang menusuk tapi entah kenapa ia merasakan aura kebencian begitu kuat terpancar dari dua sosok yang baru saja datang itu. Mereka menatap mereka atau lebih tepatnya Sasuke dengan nanar seolah mereka akan dibunuh jika sedikit saja bergerak. Apalagi dari pemuda pucat itu.

Rahang Ino sudah bergemeletuk menahan amarahnya, berbeda dengan Sai yang hanya menatap mereka dengan tatapan tajam sekaligus jijik.

"Mau apa kau datang kesini, brengsek!" Secepat kilat Ino melesat menampar pipi kiri Sasuke. Membuat tiga orang di belakangnya terpekik kaget. Juugo sudah akan bergerak sebelum Suigetsu menghentikannya. Entah kenapa Suigetsu merasa kalau Sasuke sengaja menerima pukulan itu.

Sedangkan orang yang ditampar hanya diam tak mengatakan apapun.

"Mau apa kau kesini? Dasar bajingan, dasar brengsek! Apa kau sudah puas? Apa kau mau berusaha membunuhnya lagi?!" teriak Ino dalam gelap.

"Apa kau berniat untuk tertawa di atas kuburannya?!" teriak Ino lagi.

Deg!

Pemimpin dari Tim Taka itu tersentak kaget. Apa Sakura sudah mati? Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba dadanya sesak? Sesak sekali. Gadis pirang dihadapannya itu menegakkan dirinya. Ia menatapnya tajam.

'Sebenarnya siapa yang sedang mereka bicarakan?' batin Karin.

"Selama ini Naruto berusaha menyelamatkanmu. Ia hajar oleh ninja dari Kumo karena kau telah menculik adik dari Raikage. Tapi dia tidak pernah menjualmu. Dia bersujud di kaki Raikage memohon agar dia tak membunuhmu. Tapi sampai saat ini aku tidak pernah bisa mengerti untuk apa Naruto dan Sakura memperjuangkan sampah sepertimu?" Ujar Sai dingin namun begitu pedas.

Anak buah Sasuke sangat bingung dengan apa yang terjadi disini? Apa ini tentang pemuda pirang dan gadis berambut merah muda itu?

"Gadis itu lah yang bodoh. Kenapa dia berusaha membunuhku?" bahkan ucapannya sangat pedas ketika perasaannya berbanding terbalik dengan hatinya.

"Kenapa, katamu?" bentak Ino tak sabar. "Dia mempertaruhkan segalanya untuk melakukan itu. Jika Raikage yang membunuhmu, Naruto tidak akan tinggal diam dan akan membalaskan dendamnya. Begitu juga dengan Sakura, dia melakukan ini untuk mencegah peperangan antar desa terjadi. Karena mereka tidak akan rela kalau brengsek sepertimu di bunuh oleh orang lain."

"Apa kau tahu seberapa besar kau telah menghancurkan hatinya? Menghancurkan hati Naruto dan Sakura? Dia berniat untuk mengakhirinya sendirian. Meskipun dengan membunuhmu sama saja dengan mambunuh dirinya sendiri!"

Ino hampir saja menamparnya lagi sebelum Sai menahannya.

"Hentikan Ino!"

"Tapi kenapa Sai? Kenapa Sakura harus sekarat untuk orang seperti dia? Kenapa Sakura harus mencintai orang seperti dia?" Ino sudah terisak. Matahari sudah hampir terbit. Akan menimbulkan masalah jika ini diteruskan.

"Cukup, kita pergi. Biarkan dia melakukan hal yang dia mau. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia rusak disini. Semuanya sudah hancur."


Sekarang ia berada disini, di sebuah jalan setapak indah.

Di ujungnya ada sebuah cahaya terang

Terang sekali, perasaannya begitu damai

Seolah semua beban telah di angkat dari bahunya

Berat memang, tapi ia tidak mau menderita lagi

"Naruto, aku menyayangimu sebesar kau menyayangiku"

"Sasuke, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar aku menerimaku. Yang penting kau tau, kalau aku mencintaimu.

"Kakashi-sensei, kau adalah guru terbaik yang pernah ku kenal."

"Ino, kau harus lebih kuat dari aku."

"Semuanya, tumbuh bersama kalian adalah hal terindah dalam hidupku."

"Sampai disini saja..."

"Aku menyerah."

.

.

.

.

.

"Sakura!"

Deg!

Suara ini?

Langkahnya terhenti, sekali lagi ia berbalik.

"Sasuke?"

"Sakura!"

"Apa itu kau?"

Tidak...tolong jangan hentikan aku lagi. Jangan lagi...

"Sakura! Tetaplah tinggal!"

Ia tak bisa pergi.

Gadis itu berlari, terus berlari. Kembali!

Sakura kembali ke ruangannya, ia melihat seseorang disana. Ia melihat punggung seseorang. Punggung yang sangat ia kenal meski sudah lama ia tak melihatnya.

"Sasuke?" panggilnya. Dia benar-benar Sasuke. Ia tidak percaya ini, kenapa dia datang kemari? Apa dia yang memanggilnya? Apa dia masih peduli? Apa dia menyesal?

Wajah yang dingin itu terlihat sendu mentap tubuh lemah yang berada di hadapannya.

"Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan." Ia berbisik rendah.

"Aku menyesal." Ia menyentuh tangan Sakura. "Kau memang menyebalkan..."

"dan kau hanya gadis bodoh yang selalu mencintaiku, tapi tetap lah begitu. Tetaplah mengejarku, teruslah mencintaiku."

"Sasuke?"

"Jadi tetaplah tinggal."

Pemuda itu mengecup kening Sakura.

.

.

.

Dan mata itu akhirnya terbuka.

Tok...tok...tok...

"Masuk!"

"Tuan Hokage, Haruno Sakura sudah siuman."

.

.

.

Naruto adalah orang pertama yang kudengar suaranya setelah aku sadar, semua orang menangis bahagia disekelilingku. Namun dia tidak ada, dia telah meninggalkanku untuk kesekian kalinya. Disisi lain aku sangat bahagia karena ia menyesal. Kerena dia tak benar-benar membuang semuanya. Namun aku tahu semua yang ku alami bukanlah mimpi. Setelah ini aku tak akan pernah menyerah.

Terima kasih


A/N : No comment. Err... Any Comment? Keep fav, follow, and review. Just wait for another Fic. :) Salam Author.