The Lucky Boy

.

Naruto kepunyaan Masashi Kishimoto

Dan HS DXD kepunyaan Ichiei Ishibumi

.

.

.

.

Chapter 2

"Jangan marah ya, Akeno-chan" tenang Naruto semanis mungkin.

"N-A-R-U-T-O K-U-N" Akeno mengangkat dan mengepalkan tangan kanannya.

"AHH. Ampuni aku, Akeno-chan.."

!Bug!

Akeno memukul keras kepala Naruto untuk menyalurkan amarahnya. Dengan itu, teriakan memohon Naruto menghilang. "Aduh.. ke-kepalaku" Naruto merasa kepalanya benjol oleh pukulan 'kasih sayang' Akeno. "Itu balasan karena berduaan dengan wanita lain tanpa seizinku, Naru-kun" Akeno tersenyum sadis lalu meninggalkan Naruto yang merunduk kesakitan di depan rumah.

"Uh.. Dia memang mirip Kaa-chan jika sedang marah. Aduh.. Kalau terus begini, wajah rupawanku bisa hancur" ucap Naruto sedikit eksis sambil meraba – raba wajahnya. Emangnya wajahmu itu tampan !? Hohoho.

...

"Ne. Akeno-chan. Kau sudah tak marah lagi kan ?" tanya Naruto. Sementara Akeno masih diam sambil memotong sayuran di dapur. Naruto hanya memandang Akeno dari belakang sambil memduduki meja makan.

"Oh.. Ayolah, Akeno. Kau masih ngambek ya ?" Naruto melangkah dan memeluk Akeno. Dan tak ada jawaban. Naruto pun membelai rambut hitam milik Akeno. "Jangan katakan kau... cemburu. Benarkan, Akeno-chan ?" goda Naruto. !Prak! Akeno berhenti memotong sayurannya dan berkata lirih.

"Eh. A-aku.. mana mungkin ce-cemburu, Naru-kun.."

"Oh, jadi begitu. Kau cemburu ya, Akeno-chan." Goda Naruto lagi

"Ti-tidak. Aku tidak ce-cemburu, Naru-kun" teriak Akeno dengan muka yang sudah memerah malu. "Lalu kenapa kau gugup dan jantungmu berdebar" Naruto memegang dada (bukan oppai) Akeno yang bergemuruh.

"I-ini,.. NARU-KUN !" Akeno berteriak marah lalu menyikut perut Naruto.

"Aduh... Pacarku ini galak sekali ya."

"Ayo cepat ! Lanjutkan masaknya, Akeno-chan. Aku sudah lapar. Em,,, bagaimana kalau aku temani masak. Lagian aku ingin tahu perkembangan teknik memasakmu, Akeno." lanjut Naruto dan terus memerhatikan cara memasak Akeno sambil memeluknya dari belakang.

"Naru-kun. Aku ini sudah jago memasak sepertimu. Ayo bertaruh, pasti rasanya lebih enak dari masakanmu." ucap Akeno bangga. "Kau menantangku ? Pasti kuladeni, Akeno" balas Naruto dengan bangga.

Akhirnya mereka terlarut dalam kegembiraan sepasang kekasih dan melupakan kejadian tadi. Tapi berbanding terbalik dalam nasib sang penulis yang termenung di pojok sambil menulis cerita dengan berlinangan air mata karena belum pernah merasakan itu seperti yang ditulisnya sendiri. Kasihan aku. Haha.

...

"Masakan sudah siap."

Kali ini Akeno memasak sup sayur dengan memasukkan bunga kol, lobak, wortel, kacang dengan taburan bawang goreng dan kaldu yang beraroma sangat kuat dan lezat. Akeno lalu menyajikannya dalam mangkok dan mengangkatnya ke meja makan.

"Naru-kun, cobalah" Akeno menghidangkan nasi dan semangkok sup buatannya ke Naruto. "Wah.. kelihatannya enak. Itadakimasu." Naruto menempelkan telapak tangannya setelah itu mengambil sendok dan mencoba merasakan kuahnya.

'Rasanya... hampir mirip seperti yang kuajarkan. Hebat sekali, Akeno' batin Naruto. "Enak sih. Tapi masih kalah dari punyaku, Akeno." seringai Naruto tak mau kalah. Dia akan mempertahankan gelar juru masaknya. Di akademi, ia bahkan mengalahkan perempuan dalam hal memasak. Padahal keluarganya adalah seorang pengusaha, tapi entah kenapa Naruto sangat pandai dalam urusan mengolah makanan dan lebih jago dari pada murid dan guru di sana.

"Aih.. Naru-kun. Kau curang, bukannya kau belajar dengan seorang chef sendiri." ucap Akeno cemberut. "Ahahaha. Bukannya aku juga mengajarimu, Akeno. Jadi jangan cemberut dong. Mau aku suapi" tawar Naruto romantis.

"Ah.. Aku ma-mau. Aaa"

Akhirnya mereka makan bersama dengan Naruto yang menyuapi Akeno, kekasihnya. Kegiatan romantis itu kemudian selesai lalu mereka bersantai – santai menikmati liburan mereka dengan menonton TV bersama di ruang keluarga.

...

"Akeno..." ucap Naruto menggantung.

"Ada apa Naru-kun ?" tanya balik Akeno.

"Umm. Bagaimana kalau nanti malam kita ke bioskop ? Ada film roman baru kesukaanmu yang keluar, lho." tawar Naruto kepada gadisnya, eh wanitanya.

"Benarkah.. Kali ini kita sendiri yang pergi, Naru ?" tanya kembali Akeno penasaran.

"Yup."

"Asikk.. Aku mau Naru-kun" Akeno kemudian memeluk erat kekasihnya. "Iya, kali ini tak seperti kemarin. Kita tidak akan terganggu Akeno" ujar Naruto sambil mengelus – elus pucuk kepala Akeno. "Tapi, aku akan keluar sebentar dulu Naru-kun. Barang yang kupesan darimu tidak kau belikan. Terpaksa aku yang beli deh." Akeno kemudian melepas pelukannya dan menatap cemberut Naruto.

"Ahahaha... Tapi itu bukan hal yang seharusnya aku beli, Akeno-chan" tawa canggung Naruto. "Tak apalah. Biar aku saja yang beli keluar sebentar." Akeno lalu berjalan keluar dan mengambil sepatunya. "Aku keluar sebentar dulu, Naru-kun." Akeno lalu keluar menuju minimarket dengan komplek rumah mereka dengan sepeda miliknya.

...

Dret, dret, dret

Smartphone milik Naruto bergetar. Dan dilayarnya menunjukkan panggilan dari 'Kaa-chan'.

"Moshi – moshi, Kaa-chan" Naruto mengangkat pangilan ibunya.

"Ah.. Naru-chan. Bagaimana kabarmu ? Kaa-chan di sini sehat – sehat saja. Hanya Tou-san mu saja yang sibuk di sini. Dan maaf ya, Kaa-chan belum bisa mengunjungimu di Kuoh." suara dari telepon sampai terdengar keras. Menandakan 'semangatnya' Kushina Uzumaki menghubungi putra kesayangannya.

"Ah.. Aku sehat kok, Kaa-chan. Tak apa jika kalian masih sibuk. Malah aku senang kok. Ehehe." jawab Naruto sambil tertawa ringan. 'Memangnya siapa yang ingin diganggu jika sedang bermesraan dengan kekasihnya di rumah' batin nista Naruto.

"APA ?! Jadi kau tak suka jika kami datang ke Kuoh, Naruto. Apa jangan – jangan kau punya wanita penghibur di rumahmu. ? Benarkah Naruto ?!" bentak Kushina lewat telepon.

"Ahaha. Tak mungkin, Kaa-chan. Aku ini tidak suka dengan hal itu. Lagi pula pacarku bisa lebih baik dari itu.. Ups. Aku hanya bercanda, Kaa-chan." tawa canggung Naruto yang hampir kelepasan.

"Jadi kau sudah punya kekasih, Naru-chan. Siapa namanya ? Lain kali kenalkan pada, Kaa-chan ya."

"Ah.. Sudah dulu ya, Kaa-chan. Aku lagi sibuk nih. Banyak tugas."

"Terima kasih sudah menelpon. Aku sayang, Kaa-chan. Dah"

Tut

Naruto segera mematikan sambungan teleponnya, takut Kushina, ibunya bertanya hal yang lebih jauh padanya. "Huft,.. Untung tadi aku tak kelepasan. Bisa - bisa aku dihajar jika Kaa-chan tahu aku tinggal dengan perempuan." kata Naruto pada dirinya sendiri.

...

"Ah. Bocah ini, seenaknya saja memutuskan sambungan. Dasar ! Awas saja jika di rumah kau ketahuan bermain dengan wanita, Naru-chan. Ufufu" ucap Kushina sambil tertawa jahat.

"Kushina-sama. Kita sudah sampai di Kuoh."

"Oh. Sudah sampai ya, Genma. Kita mampir ke minimarket dulu. Lalu kita mampir ke rumah kenalanku di komplek yang sama dengannya, sebelum ke rumah bocah itu." jawab Kushina kepada sopirnya, Genma. "Baik, Kushina-sama." lalu Genma mengubah arah kemudinya menuju arah komplek rumah Naruto.

'Ah. Aku sudah tidak sabar bertemu malaikat kecilku.' batin girang Kushina yang akan segera bertemu puteranya.

...

"Ah. Persediaan di rumah sudah lengkap." kata Akeno sambil melihat tas belanjaannya. "Pambalut dan dalamanku sudah siap. Lalu kondom Naru-kun sudah kubeli" seringai nista Akeno, lalu ia lanjut pergi keluar dari minimarket itu. Tak sengaja ia bertemu seoarang wanita berambut merah panjang yang sedang kesusahan mengangkat barang belanjaanya.

"Ah. Obaa-san. Sini biar saya bantu." tawar Akeno padanya. "Ah. Beruntung sekali aku. Terima kasih ya. Maaf jadi merepotkanmu, gadis manis." wanita itu menerima tawaran Akeno dengan senang hati dan tersenyum manis kepadanya.

"Tak apa, Obaa-san."

"Sepertinya Obaa-san bukan warga sini, ya ?" lanjut Akeno sambil meneteng belanjaan wanita itu.

"Iya. Obaa-san dari Osaka, tapi lahir di sini." Jawab wanita itu

"Lalu Obaa-san mau kemana ?" tanya lagi Akeno. "Um. Baa-san ingin mengunjungi saudara di sini."

"Ah. Kita sudah sampai di mobilku, gadis manis. Terima kasih sudah membantuku, ya" ujar wanita itu berterima kasih pada Akeno.

"Tak apa, Obaa-san. Saya pamit dulu" Akeno pun menaruh belanjaan wanita itu ke dalam mobilnya dan melangkah pulang. "Tunggu dulu, siapa namamu gadis manis ?" tanya wanita itu kepada Akeno lagi.

"Hajimemashite. Watashi wa Akeno Himejima desu. Yoroshiku Onegai Shimasu" jawab Akeno lalu berojigi menundukkan badannya. Lalu Akeno pergi menggayuh sepedanya. "Sampai jumpa, Obaa-san" Akeno melambaikan tangannya dan meninggalkan wanita itu kembali ke rumah menggingat hari sudah sore.

"Wah, manisnya. Coba saja calon menantuku nanti seperti Himejima-san. Ufufu" senyum girang wanita itu. "Ayo, Genma. Kita lanjut ke rumah kenalanku." Lanjutnya

"Ha'i, Kushina-sama." Ternyata itu mobil Kushina, ibu 'kesayangan' Naruto. Dan dia sudah bertemu calon menantunya sendiri secara tidak sengaja. Bagaimana tanggapanmu, Naruto ?. Lalu Genma sang sopir mulai mengemudikan mobil itu menuju ruamah milik kenalan Kushina.

...

"Tadaima, Naru-kun." Akeno lalu membuka pintu rumahnya dan menemukan Naruto yang sedang bermain game kesukaannya di kamar. "Okaeri, Akeno" sahutnya masih bermain game.

"Jangan main terus, Naru-kun. Nanti kalah, lho." ejek Akeno

"Ah.. Kalah." Naruto kemudian membanting joy sticknya ke kasur. Tepatnya kesal karena kalah.

"Tumben lama, Akeno." sekarang perhatian Naruto beralih ke Akeno dan menghampirinya yang tiduran di ranjang.

"Tadi aku membantu ibu – ibu yang kesusahan membawa barangnya, Naru-kun." Ucap Akeno sambil memainkan pipi Naruto."Owwh.. bwegituw yyaaw." Naruto pun mengambil posisi berbaring malas di samping Akeno.

"Sebentar lagi ujian ya, Akeno ?" tanya basa - basi Naruto memecah keheningan di antara mereka. "Yup. Sekitar 6 minggu lagi, Naru-kun. Kau sudah siap ujian belum ?" tanya Akeno sambil berguling lalu merengkuh wajah kekasihnya itu.

"Kurasa aku siap, Akeno-chan. Tapi untuk matematika aku tak tahu. Ahahaha." tawa canggung Naruto. Hahaha malangnya nasibmu Naruto, kali ini kau kubuat lemah soal hitung – hitungan angka. Rasakan !

"Mou, Naru-kun. Makanya jangan mengajak 'bermain' terus."

"Kau juga harus tahan dengan godaanku. Ufufufu." Akeno mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto dengan senyuman menggoda. "Nah. Kau tak tahan kan ? Wajahmu merona, Naru-kun. Lucu banget ya ?" goda Akeno melihat wajah Naruto yang memerah.

"Sial. Kau ini, Akeno" Naruto langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Ufufufu. Nanti nonton jam berapa, Naru-kun. ?" Tanya Akeno. Naruto lalu memalingkan wajahnya ke Akeno dan menjawab, "Nanti jam 7 malam filmnya sudah diputar. Dan ini sudah jam setengah 5, ayo kita bersiap, Akeno."

"Baiklah, aku mau milih pakaian dulu, Naru-kun. Kau yang mandi dulu sana." Akeno kemudian bangun. "Eh, tunggu dulu, Akeno." cegah Naruto lalu menarik Akeno dalam pelukannya.

"Ayo bermain sejam dulu, Akeno."

"Kita masih punya 2 jam" ujar Naruto dengan penuh aura mesum, "Dan kurasa, lebih baik mandi bersama. Bagaimana ?" lanjutnya lagi. Akeno mengerucutkan bibirnya, cemberut. "Tadi kita sudah bermain. Apa kau kurang puas, Naru-kun." Akeno menengadah menghadap wajah pemuda mesum itu.

"Anggap saja ini persiapan ke bioskop. Ahaha"

!Cup!

Tanpa aba – aba lagi Naruto mengecup bibir pink Akeno. Saling mencium bibir itulah kegiatan asik mereka sekarang. Tak lama kemudian, ciuman ringan itu berubah ganas ketika mereka sudah dikuasai napsu. Akeno memegang kepala Naruto menekan kearahnya sehingga ciuman mereka lebih panas. Lidah mereka saling menjilat dan menghisap.

...

"Itu, Genma. Rumah yang warnanya hijau sebelah kanan." tunjuk Kushina kepada sang sopir. "Ha'i." lalu Genma sang sopir membelokkan setirnya dan berhenti di sebuah rumah berwarna hijau muda.

Tok, tok, tok

"Siapa ya ?" suara perempuan muncul dari dalam rumah itu.

"Ini aku, Mei-san. Kushina !" jawab Kushina yang menunggu di depan pintu

Mei, perempuan berambut merah tua panjang dan menutupi sebelah matanya dan pipinya membuka pintu dan menyapa Kushina, "Ah. Kushina-san. Lama tak bertemu, anda masih tetap awet muda, ya." "Kau berlebihan, Mei-san. Kau juga tambah cantik kok." puji balik Kushina. "Terima kasih pujiannya, Kushina-san. Ayo masuk." lalu mereka masuk ke dalam rumah.

"Kebetulan aku membuat teh hangat. Kau mau, Kushina-san ?" tawar sang pemilik rumah. "Oh, tidak usah repot – repot. Aku cuma mau berkunjung sebentar kok" tolak Kushina halus.

"Jadi, tumben Kushina-san berkunjung ke sini ? Ada apa" tanya Mei penasaran pada Kushina yang sudah duduk di sofa. "Um. Begini Mei-san. Aku bermaksud minta tolong padamu." jawab Kushina kepadanya. "Aku ingin kau mengajari puteraku, Naruto itu. Kebetulan sebentar lagi mau ujian kelulusan, tapi nilai Matematikanya selalu tidak tuntas." jelas Kushina kepada sahabatnya.

"Biar kutebak. Kau ingin aku memeberi pelajaran tambahan unutk Naru-kun, ya ?" tebak Mei. "Benar. Aku ingin kau memeberi pelajaran tambahan di rumahnya. Soal biaya, kau mau berapa, aku akan mentrasfernya ke rekeningmu ? Bocah itu bisa saja merepotkan kita, huft." sambung Kushina.

"Oh, kalau cuma mengajari Naru-kun tak usah kau khawatirkan. Tak usah dibayar juga tak apa. Aku juga ingin membuat siswa kesayanganku itu pintar. Ufufu" tawa ringan Mei dengan senyuman yang tak dapat diartikan.

'Senyuman itu, aku harus waspada terhadapnya. Bisa – bisa ia menerkam anakku' batin Kushina menjerit khawatir. "Ne, Mei-san kau masih sendiri ? Belum menikah ?" tanya Kushina basa – basi. "I-itu. Aku masih menunggu pria itu cukup umur" ucap Mei dengan muka suram. 'Kyaa.. Seram' Kushina menggigil mendengarnya. "Kau ini, Mei-san. Wanita cantik sepertimu sudah waktunya memilih pasangan. Apalagi umurmu sudah 25 tahun. Cari saja pria lain, Ufufu ?" saran Kushina dengan candaan yang tawar.

"Ti-tidak, Kushina-chan. Pria itu imut sekali, aku tak rela melepaskannya ?" ucap lembut Mei dengan senyuman manisnya. "Ngomong – ngomong, kapan aku bisa mengajar Naru-kun ?" tanya Mei dengan antusias lagi. "Besok saja kita bicarakan di rumahnya. Kau tahu rumahnya kan ? Oh, ya. Ini sudah petang. Ma'af tak bisa lama – lama di sini. Aku ingin ke rumah putraku" lalu mereka keluar rumah.

"Jaa ne, Mei-san" ucap Kushina. Setelah selesai cipika cipiki, Kushina dengan mobilnya beranjak pergi ke rumah Naruto meninggalkan rumah Mei. "Terima kasih sudah berkunjung, Kushina-san" balas Mei.

...

"Kita sudah sampai, Kushina-sama." Genma membuka pintu mobil Kushina dan membawa tas barangnya keluar. "Terima kasih sudah mengantarku, Genma. Kau bisa kembali. Aku ingin menginap selama seminggu di sini." ucap Kushina kepad sopirnya. "Ha'i, Kushina-sama" lalu Genma berbalik arah kembali ke Osaka.

"Kok sepi, sih. Tapi lampunya masih menyala." gumam Kushina

Tok, tok, tok

Kushina mengetuk pintunya sampai 3 kali, tapi tidak ada tanggapan. 'Hei, ini masing jam 6, mana mungkin dia tidur.' batin Kushina. Bukan tidur Kushina, tapi lihatlah sendiri kelakuan anakmu. !Kriet! pintunya tidak terkunci rupanya. Lalu Kushina masuk dan meneteng tas dan barangnya.

"Naru-chan, Kaa-chan datang." teriak Kushina.

'Ahh... te-terush,,.. Naru-ku.. Ah'

'Uhh,, Akeno' terdengar suara desahan dan rintihan dari dalam kamar Naruto. "Eh !" Kushina terkejut mendengar suara itu. 'Jangan – jangan...' batin Kushina menggantung lalu melangkah cepat menuju kamar Naruto, anaknya. Memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.

"Ahh... te-terus Naru-kun" desah sang gadis dalam kamar, Akeno. Akeno sedang menungging dan dadanya diremas Naruto. Tak lupa Naruto menggerakkan pinggulnya menusuk bagian intim Akeno dari belakang, untuk mengisi permainan mereka

Brak

Suara pintu dibuka dengan kasar. Kushina, ia melihat puteranya sedang bercinta dengan seorang gadis yang sedikit familiar dengannya. Dia terkejut setengah mati dengan apa yang dilakukan anaknya. "KYAA.. Na-naru-chan.. Apa yang kau lakukan, hah ?!" Kushina berteriak marah pada Naruto. Dia mengepalkan tanggannya kuat – kuat sampai udara di dekatnya bergetar.

Naruto dan Akeno kaget melihat seseorang membuka pintu kamar mereka. Dan rupanya itu adalah ibu Naruto. "Ka-kaa-chan,, Aa-aku bisa jelaskan ini." ucap gemetar Naruto pada ibunya dengan posisi masih bercinta dengan Akeno.

"Apa yang kau lakukan dengan gadis ini ?" Kushina menggeram marah, lalu menghampiri mereka dan menarik gadis Naruto kesampingnya. Lalu memandangi keduanya dengan tatapan sendu. Kushina mengamati gadis di sampingnya, dia terkejut bukan main terkejut. Karena gadis yang disampingnya adalah Akeno Himejima, gadis yang ia temui tadi sore.

"Apa – apaan ini. Tega sekali kau melakukan ini pada Himaejima-san, NARUTO !"

BUG

Kushina menendang keras kemaluan anaknya, Naruto. "A-aduh.. Ka-kaa-chan" Naruto meringkuk kesakitan memegangi kemaluannya yang ditendang ibunya. Kemudian, Kushina mengambil selimut untuk menutupi tubuh Akeno dan menggandengnya keluar kamar.

"Segera kenakan pakaianmu dan temui Kaa-chan di ruang keluarga sekarang." perintah marah Kushina dan meninggalkan Naruto yang masih meringkuk kesakitan.

...

Di ruang keluarga, Kushina duduk dengan memeluk Akeno sambil menangis.

"!Hik! Himejima-san, berapa kali Naru-chan melakukan ini padamu ? Apa !Hik! dia menyakitimu ? !Hik! A-apa di sudah menghamilimu ? !Hik! Ka-katakan – katakan semua yang ia lakukan padamu pada obaa-san !" Kushina bertanya pada Akeno sambil berlinangan air mata. Ia tak menyangka puteraya, Naruto bisa berbuat hal seperti ini. "!Hik! ka-katakan, Himejima-san." pelukan Kushina semakin erat diiringi tangisanya.

Akeno pun ikut menangis. Ia tak menyangka, wanita yang ia temui di minimarket tadi adalah ibu Naruto, kekasihnya. Ibu Naruto sudah memergoki perbuatan mereka. Akeno malu dengan dirinya sendiri. Apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada hal lain selain berterus terang.

"Aku t-tidak apa, Obaa-san. Naru-kun tidak menyakitiku, kok. Obaa-san, tenanglah."

"Lagi pula kami saling mencintai. Jadi, Obaa-san tak perlu khawatir. Naru-kun itu orangnya bertanggung jawab. Aku bersyukur bisa mencintai anakmu, Obaa-san" tenang Akeno pada Kushina. Ia mengelus punggung Kushina agar ibu Naruto ini tenang tidak menangis lagi.

"!Hik! terima kasih sudah mencintai anakku, Himejima-san" Kushina masih menangis dalam pelukan Akeno. Lalu, munculah Naruto yang sudah berpakaian. Ia menunduk sedih, ia malu karena Ibunya memergokinya.

"Kaa-chan.." panggil Naruto

"Kaa-chan.. A-aku bisa jelaskan ini.." tetapi tak ada sahutan dari ibunya. Kushina, ibunya masih menanggis dalam pelukan Akeno.

"Kaa-chan.. Ini bukan salah, Akeno."

"A-aku sendiri yang meminta dan melakukan padanya. Jadi, aku mohon padamu Kaa-chan. Jangan salahkan dia" Naruto memohon dan bersujud di hadapan ibunya.

Tapi tak ada jawaban dari ibunya. Naruto merasa bersalah atas kejadian ini. Ia juga tak tahu jika ibunya akan berkunjung. Hahaha, sial untukmu Naruto. Lalu, Kushina melepaskan pelukannya dan menghampiri anaknya, Naruto.

Bug

Sekali lagi, pukuran keras mendarat ke kepala Naruto. Kita lihat, Kushina masih marah terhadap Naruto. "Ceritakan ! Ceritakan kenapa ini bisa terjadi, Naru-chan" perintah sang ibu yang masih sesenggukan. Naruto pun menceritakan tentang hubungannya selama ini dengan Akeno, termasuk bagaimana ia bisa tinggal serumah dengan Akneo dan melakukan hubungan layaknya suami istri walau masih di bawah umur.

...

"A-apa ! Kau sudah berbuat ini puluhan kali dengan Akeno-chan" ucap Kushina tak percaya, ia mendelik marah kepada Naruto. "Ne, Akeno-chan. Apa orang tuamu tahu tentang ini ?" tanya Kushina kepada Akeno yang masih ia peluk.

Akeno menggeleng pelan, lalu ia berkata, "Belum, Baa-san. Ayahku tinggal di luar negeri, ia jarang mengunjungiku dan hanya mengirimiku uang tiap bulan. Lalu, ibuku sudah lama tiada." Akeno sedih mengatakan itu. Begitu juga dengan Naruto, ia sudah lama tahu tentang hal itu.

Kushina terkejut lagi. Gadis yang ditiduri oleh puteranya rupanya hidup sendirian. Lalu, Kushina memegang wajah Akeno. "Jadi begitu, Akeno-chan. Jangan bersedih, ya. Ada baa-san di sini. Anggap saja aku ini ibumu jika kau merindukannya. Ma'af, Naruto mungkin telah banyak merepotkanmu" tenang Kushina, kemudian ia memeluk erat Akeno.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan Kushina sudah merasa lelah, ia terbebani dengan ulah Naruto. Sekarang ia tak tahu harus melakukan apa. Mungkin menerima hubungan mereka adalah jalan yang terbaik.

"Cukup, ! Naruto kau bisa jelaskan ini lain waktu. Kaa-chan sudah lelah. Dan ini waktunya tidur." ucap tegas Kushina kepada puteranya.

"Dan Akeno-chan. Kau tidur denganku. Tidak baik gadis cantik tidur dengan lelaki mesum seperti dia."

"Ini hukuman karena melakukan hal tadi di belakang Kaa-chan." lalu Kushina menarik tangan Akeno menuju kamar lain untuk tidur bersamanya. Naruto hanya bisa terdiam mendengar hal itu.

"Tapi, tapi Kaa-chan. Akeno itu..."

Brak

Ucapan Naruto tak didengar Kushina, ibunya. Ia keburu menutup pintu kamarnya. Terpaksa kini Naruto harus tidur sendiri tanpa kekasihnya, Akeno. Naruto pun pergi ke kamarnya. Menenangkan pikirannya sejenak lalu baru beranjak tidur. Dan kejadian tadi menggagalkan rencana kencan mereka ke bioskop malam ini. Kasihan kau, Naru.

...

Sementara di dalam kamar yang di tempati Kushina dan akeno. Mereka sudah berbaring di kasur dengan selimut menutupi tubuh mereka, tetapi mata mereka masih terbuka. Lalu Kushina mendekatkan tubuhnya menggapai Akeno. "Aku lupa kalau Akeno-chan belum berpakaian. Lalu bagaimana Akeno-chan mau memakai pakaian punyaku ?" tawar Kushina.

"Tidak, Baa-san. Aku biasa tidur begini." Akeno tersenyum gugup dengan wajah agak memerah. Kushina tersenyum maklum. "Ah. Jadi seperti ini ya kelakuan gadis zaman sekarang. Kau nakal juga ya, Akeno-chan. Sini biar baa-san peluk." lalu Kushina memeluk Akeno dan mulai terlelap.

"Mulai sekarang kau Akeno-chan, panggil aku 'ibu' saja ya. Oyasumi nasai, Akeno-chan. Semoga mimpi indah." Kushina pun terlelap dalam tidurnya. Akeno terharu mendengarnya, matanya berkaca – kaca. Sudah lama ia tidak menyebut nama itu. "Oyasumi nasai, Okaa-san." Akeno mempererat pelukannya dan ikut terlelap tidur.

.

.

.

Bersambung

.

Good Morning, ladies and gentleman !

.

Salam para hentaiers. Maaf ceritanya masih pendek (Oh. Ayolah, ini 9 lembar F4, bung. Apa kurang banyak ?) Maklum aja, masih pemula.

Saya janji deh. Chapter selanjutnya akan full. :D

Terimakasih sudah mampir.

Datang lagi ya.. !

.

N.B :

- Terima kritik, saran dan pujian.

- Laporkan typo di kotak review. Biar saya perbaiki.

- Soal pairnya Naruto, saya sudah punya 2 perempuan. Dan salah satunya adalah Akeno.

- Clue Pair Naruto : Cantik, Sexy dan Sadis :D

- Cuma sampai 7 chapter.

See you next week ! Bye !

Question ;

Sebenarnya warna rambut Mei Terumi itu apa ? soalnya di wikipedia ditulis pirang.