Special Birthday Present

Rate : T

Pair : SasuNaru,GaaNaru

Warning : Sho-ai, Typo, de el el.


*X*

Dihari ulang tahunnya, seperti harapan semua orang aku hanya ingin bahagia. Setelah merasakan ciuman pertama pada orang yang kucintai, selanjutnya kukira hidup ini hanya harus dihadapi dan disikapi. Tapi mengapa anak kecil misterius ini datang ke apartemenku? Tuhan.. apa ini termasuk kebahagian?


Hari ini hari ulang tahunku. Mungkin bagi sebagian orang hari ulang tahun meraka adalah hal yang patut dirayakan, misalnya bersama keluarga atau teman. Aku juga ingin merasakan hal yang sama, dan aku bersyukur hari ini aku untuk pertama kalinya, meniup lilin berbentuk angka 18 di atas kue tart pemberian 'mereka', sahabat-sahabatku. Orang yang paling berharga diduniaku setelah meninggalnya kakek angkatku, Jiraiya.

Kiba, Gaara dan Lee, mereka bahkan rela datang ke apartementku yang sederhana ini,mempersiapkan semuanya, membuat pesta kejutan ulangtahunku, memberikan kado ulang tahun. Untuk seorang yatim piatu sepertiku hal seperti ini sangat berharga dan aku tak bisa melupakannya maupun membalasnya.

"Arigatou minna"

Airmata tak dapat kutahan, kuusap airmata ku dengan cepat. Sebelum mereka mensehatiku, maksudku hanya 'si penggila anjing' dan 'si hijau' di depanku ini.

"Yo Naruto, potong kuenya! Jangan berterimakasih terus, kau tidak lihat air ludahku sudah mau mengalir ha?!"

"Kiba benar Naruto-kun! Sebagai generasi muda kau tak boleh menyia-nyiakan waktumu. Aku benar kan Gaara?"

"..."

"Ha'i. Kalian ini cerewet sekali."

Kuambil pisau pemotong kue namun belum lagi kupotong kue tart coklatnya, kurasakan tepukan lembut dipunggungku.

"ada apa Gaara?"

"Bukannya sebelum memotong kue, orang yang berulang tahun harus meniup lilinnya?"

"Ah! Gara benar. Dan setelah itu kau harus membuat harapan" sambung Kiba dengan antusiasnya.

"Mengapa kita sampai lupa ya? Sebagai generasi muda kita tak boleh lupa lagi"

"Sudahlah Kiba, Lee! Aku akan tiup lilinnya dan membuat harapan" lerai ku

Kutiip lilin didepanku ini dengan perasaan bahagia. Lagi-lagi air mata ini hendak mengalir. Kuterpaku sesaat dan setelah suara lembut Gaara menyuruhku untuk segera membuat harapan, kutundukan kepalaku dan kutautkan kedua tanganku tepat didadaku, kuberdoa kepada Tuhan : Aku ingin kabahagian untuk kedua orangtuaku yang telah meninggal di alam sana, kebahagian untuk teman-temanku, dan kebahagian untuk diriku sendiri; Tuhan aku berharap, aku memiliki keluarga yang baru, dengan orang yang selalu berada disampingku. Amin.

"Ne..ne.. Naruto, apa yang kau doakan? Ayo Beri tahu kami! Kau juga penasarankan Gaa-chan~?"

Hey kenapa nada bicara terakhir Kiba terdengar seperti menggoda Gaara? Sikut tangannya menyikut lengan Gaara yang tampak tak peduli. Sedangkan Lee yang kini memakai kaus super ketat berwarna hijau sudah memotong kue bahkan memakannya.

"Aku hanya ingin kebahagian"jawabku.

"Hanya itu saja?" tanya Gaara padaku. Haha sepertinya dia antusias.

"Sebenarnya aku ingin punya keluarga juga. Tapi kurasa itu sudah termasuk dalam konteks bahagia. hehe"

"Wah..wah sepertinya Sabaku-san harus cepat-cepat melamar Namikaze-chan dan membuat sebuah keluarga"

"KAU GILA, KIBAKA?" teriakku pada manusia menyebalkan itu, apa dia sudah beralih menjadi seorang fujodanshi? . Dan tawanya itu sangat menyebalkan sekali.

"Aku setuju dengan Kiba, bukannya nikah muda juga sedang tren didunia?" tambah Lee.

"MENGAPA TIDAK KALIAN SAJA YANG MENIKAH HA?! Gaara, bantu aku menghadapi Fujodanshi ini?"

"Kalian ini, berhenti bersikap seperti anak-anak!" perintah Gaara.

Dan aku bersyukur mereka 'sejenak' berhenti menggodaku dan memakan kue mereka. Kalau tidak wajahku pasti bisa mengalahkan merahnya rambut Gaara. Namun aku tak bisa menyangkal detak jantungku yang terasa semakin cepat. Tanganku terasa dingin. Kupandangi Gaara, wajahnya yang putih pucat itu juga sedikit merah. Dia juga sedang memakan kue dengan gaya makannya yang layaknya bangsawan itu, ya aku menyukainya.

Saat pandangan kami bertemu, kupaksakan bertindak seperti biasanya. Sedikit memasang cengiran lebarku dan mengucapkan :

"Arigatou Gaara"

"Kau tak perlu berterimakasih. Aku bertindak seperti biasa bukan?"

"Ya,dan selalu membantu. Mengapa mereka membuat guyonan gay seperti itu? Aku bahkan tidak merasa ingin tertawa sedikitpun" ucapku sedikit pelan agar hanya Gaara yang mendengar, kubuat nada bicaraku sedikit sebal.

"Kau phobia pada gay?" tanya Gaara sambil manatapku tajam. Lalu kuhindari tatapan matanya dengan memotong kue dan meletakkan dipiringku. Aku tahu dia tidak suka. Dan aku tahu mengapa..

"Aku tak ada bilang aku phobia pada gay, aku hanya tidak suka becandaan meraka" oh Tuhan, bahkan aku tak berani menatapnya.

"Oh.. lagian kau tahu mereka hanya becanda. Dan juga.."

Ku beranikan diri menatapnya, menunggu dia melanjutkan perkataannya.

"Kita berdua straight kan?" tanyanya, Gaara bagai mencari jawaban dimataku

Kutelan air ludahku yang terasa sangat berat

"Ya. Kau benar Gaara...Kita straight!" ucapku tersenyum.

Kenapa denganku? Kenapa dengannya? Mengapa?

Kue yang kumakan rasanya hambar. Dan godaan Kiba dan Lee padaku dan Gaara tak kubalas lagi aku hanya tersenyum dan sesekali sedikit melawan godaan mereka dan meminta pembelaan pada Gaara yang seperti biasanya membelaku.

Kami bertindak seperti biasanya. Aku, Kiba, Lee dan Gaara hanya bersahabat dan aku tak tahu bagaimana kelanjutannya..

Pukul jam 22.00 mereka pulang ke rumah, maksudku hanya Kiba dan Lee yang pulang setelah sesi buka-buka kado. Sedangkan Gaara masih membantuku membereskan kekacauan yang telah kami buat.

"Terimakasih Gaara. Kau banyak membantu hari ini. Hehe, kau memang sahabat terbaik!"kataku bersemangat sambil memasang cengiran lima jari ku.

Saat ini kami sedang duduk di sofa sambil menonton tv yang bahkan acaranya tak kuketahui. Aku terlalu sibuk untuk menenangkan detak jantungku ini.

"Sahabat ya..?" desah Gaara. Mungkinkah dia kecewa?

"Tentu. Kau,Kiba dan Lee, sahabat terbaikku!"

"Jadi di matamu aku sama dengan mereka?"

Dia mencengkram bahuku membuatku harus bertemu dengan matanya yang sedari tadi kuhindari. Aku tahu perasaan kami sama. Ya aku yakin. Rasa yang salah, tak patut kami rasakan. Aku ingin marah, tapi jika itu kulakukan maka hubungan persahabatan ini akan hancur. Sahabat pertamaku, orang yang sudah kuanggap keluarga.. aku tak mau semuanya hancur tepat dihari ultahku.

"Hehehe.. tentu saja tidak. Kau yang terbaik Gaara" kulepaskan tanggannya dari bahuku. Lalu berpura-pura menikmati acara di Tv. Dan sesaat kami saling terdiam dan detak jantung ini sangat bising rasanya.

"Gaara.. bukannya lebih baik kau pulang ke rumah? Aku yakin Temari nee-chan akan mencarimu"

"Baiklah. Kau juga langsung tidur." Ucap Gaara setelah ia bangkit dari duduknya.

Aku mengantarnya sampai depan pintu.

"Aku pulang dulu" pamitnya.

Sungguh aku merasa bersalah, aku merasa berdosa karena munafik pada Gaara.

"Tunggu Gaara" kutahan tangannya sehingga membuatnya menghentikan langkahnya. Ya aku tahu aku nekat. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan..

"Ada apa Nar.."

'cup'

Kucium sudut bibirnya selama beberapa detik. Kujauhkan wajahku yang kuyakin sudah memerah. Gaara bahkan tampak bingung dan seperti linglung. Aku yakin dia terkejut. Tentu saja semua orang pasti terkejut jika dicium tiba-tiba. Terlebih kau laki-laki dan sahabat priamu menciummu! Oh Tuhan, aku sungguh malu.

"Ciuman persahabatan. Itu ciuman persahabatan.." ucapku karena Gaara tak kunjung membuka mulutnya.

"Hehehe..Arigatou Naruto. Lain kali aku yang akan memberi ciuman persahabatan kepadamu" senyum terukir dibibirnya. Perasaan malu ini sedikit berubah menjadi bahagia.

"Jangan lebih dari yang tadi ya Gaara! Atau itu bukan ciuman persahabatan lagi namanya" godaku

"Haha...Aku tak janji. Sudahlah aku pulang dulu"

"Hati-hati dijalan"

Kami saling melambaikan tangan. Setelah ia masuk kedalam lift aku pun masuk kedalam apartemenku. Aku senang, Gaara lebih banyak tertawa tadi. Berkat ciuman itu ia lebih bahagia. Lalu setelah ini apa yang akan terjadi? Bagaimana jika perasaan ini tak bisa dipendam lagi?


Kiba memberikan sekotak ramen instan, Lee memberikanku topi bulu berbentuk wajah rubah yang sangat imut. Aku kira Lee akan memberikanku sesuatu yang aneh mengingat dia juga sedikit aneh. Hehe..

Gaara memberikanku boneka Kyubi yang sangat kuinginkan pada saat kami berdua melewati etalase toko boneka. Padahal dia sempat mengejekku yang seperti anak kecil, dan sekarang dia bahkan yang membelikanku boneka rubah berekor sembilan ini. Aku yakin harganya pasti mahal. Dia itu memang sih anak orang kaya tapi mengapa boros sekali. Mungkin aku harus memarahinya sesekali.

Hari ini sungguh menyenangkan, dan hari ini adalah hari ulang tahunku yang paling bahagia. Terlebih ketika insiden ciuman pertamaku yang kuberikan pada Gaara. Ya aku bahagia namun malu juga. Aku berharap Gaara tak menganggap aku orang yang agresif. atau lebih buruknya seorang Gay!


'tok..tok'

Aku sudah siap untuk tidur, seandainya suara gedoran pintu itu tak mengusikku. Siapa yang bertamu ke apartemenku malam-malam begini bahkan sudah jam 12 malam.

"Ya, sebentar"

Dengan rasa malas dan amat terpaksa kubuka pintu dan

'cklek'

Tak ada seorang pun. Aku yakin semua penghuni apartemen seudah tidur atau paling tidak mereka sedang melakukan 'olahraga malam'. Mungkinkah hantu? aku sudah merinding ketakutan, kalian tahukan aku paling takut dengan hantu..

"tolong adopsi aku"

"UWAAAA!"

"Adopsi aku, baka!"

"Siapa kau?"

"Adopsi aku!"

Sungguh aku sudah hampir kencing dicelana. Bagaimana caranya anak kecil ini (kurasa umurnya sekitar 8 -10 tahunan) bisa tahu apartemenku? Lalu mengapa dari sekian banyak rumah dan manusia, mengapa harus aku yang harus mengadopsinya! Dan ini sudah tengah malam!sekali lagi, MENGAPA?

Aku yakin tak akan yang percaya bahwa anak ini adalah gelandangan atau orang yang sedang kesusahan. Yang kulihat sekarang, anak ini seperti anak orang kaya. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam mengkilap, belum lagi bajunya , sepatunya, dan aromanya. DIA TAK PANTAS DITOLONG.

Ah, mungkinkah dia tersesat karena kehilangan orangtuanya lalu tak punya Hp untuk menghubungi keluarganya dan butuh tempat menginap? Atau dia ini sedang ada masalah dengan orangtuanya dan kabur dari rumah? Ya alasan kedua pasti benar. Jahat sekali aku jika tak membantunya! Baiklah akan aku izinkan ia bermalam diapartemenku dan besok aku akan mengantarnya pulang. Ide bagus!

"Adik kecil, Aku tak bisa mengadopsimu, tapi aku akan biarkan kau bermalam diapartemenku. Kau pasti capek kan adik kecil? Masuklah"

"Hn"

Apa-apaan dengan sikapnya itu? Padahal aku berharap ia mengucapkan 'Terimakasih banyak nii-san' padaku. Tapi apa yang kudapatkan? Hanya gumaman..

"Hei bocah, siapa namamu?" tanyaku setelah kami duduk di sofa. (aku hanya punya satu sofa)

"Sasuke"

"Marga mu?" tanyaku. Bukankah sangat aneh ketika kau hidup di Jepang namun kau tak memiliki nama keluargamu setelah nama kecilmu.

"Tidak ada. Cukup panggil aku Sasuke saja. Dan namamu Namikaze Naruto kan?"

"Darimana kau tahu namaku Sasuke?" sungguh aneh anak ini.

"Tentu saja aku tahu, hal sesederhana itu sangat gampang bagiku"

'twitch'

"Oh ya, kau ada makanan apa? Aku lapar"

'twitch'

"Setelah makan aku mau tidur di kasur, aku tak mau tidur di lantai. Jadi aku mau kau mengalah demi aku"

'TWITCH'

"ARGGHHHH! Apa-apaan kau ini ha?! Kau pikir kau raja dan aku ini pelayanmu? Ini apartemen ku! Jangan sok berkuasa, dasar kau penumpang kurang ajar! Jangan karena kau anak kecil kau bisa memperlakukan aku sesuka hatimu!" kujambak rambut pirangku menahan amarahku. Apa anak kecil jaman sekarang tak ada sopan santun?

"Hn"

Hanya dua kata? Hanya itu jawabannya?

"ARGHHHH... BESOK KAU HARUS PERGI DARI APARTEMENKU!"

"Tidak bisa" jawabnya singkat.

"Tentu saja bisa! Aku akan mengantarmu pada keluargamu!"

"Keluargaku tidak ada di Jepang, atau dibelahan bumi mana pun"

Oh sial. Apa dia yatim piatu sepertiku juga?

"Lalu dimana keluargamu? Atau adakah orang yang kau kenal di sini? Mengapa kau minta aku untuk mengadopsimu Sasuke?"

"Mengapa kau bodoh sekali sih. Kelurgaku tak ada di belahan bumi manapun. Dan tak ada seorang pun yang kukenal maupun yang mengenalku. Aku disini juga karena kau dobe!"

Karena aku? Atau jangan-jangan dia ini anak dari wanita malamnya kakek ? aku tahu kakekku itu orang yang mesum tingkat akut. Jadi mungkinkah dia anaknya kakek yang minta diasuh karena ibunya sudah meninggal? Bagaimana aku harus mengurusnya?

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Bisa-bisa otakmu yang dobe itu konslet"

'crush'

'twitch'

"AKU TIDAK DOBE, TEME! DAN DARI MANA KAU DAPATKAN TOMAT ITU?" apa dia pesulap?

"Hn. Entahlah. Aku tak akan memberitahumu"

"ARGHHH!"

Tuhan, bukankah yang kuharapkan hanyalah kebahagian? Mengapa kau mendatangkan iblis kecil ini ke apartemenku? Bisa-bisa kebahagian itu hanya menjadi mimpi belaka jika ia terus bersamaku. Pokoknya aku harus menyingkirkannya dari kehidupanku.


Sasuke tidak mau makan masakanku padahal aku rela dengan mata mengantuku,aku memasakannya telur dadar. Dan aku mencoba sabar dengan sikapnya yang sombong itu yang tidak mau makan telur dadar buatanku yang sedikit kehitaman. Lalu dia juga tidak mau tidur di sofa atau dimanapun kecuali dikasurku yang ukurannya tak seberapa itu. Dan jadilah dia tidur dikasur yang sama denganku. Kepalanya berbantalkan bantal yang sama denganku dan itu membuatku harus mengalah agar kepalanya yang berambutkan pantat unggas itu dapat secara penuh merasakan bantalku, dan bahkan gulingku juga sepenuhnya ia yang mengusai. Dan untunglah kami tak bersatukan selimut. Mungkin aku akan menjerit semalaman karena menahan kesal dan amarah. Sebenarnya siapa yang berstatuskan tuan rumah dan penumpang disini?

Namun aku senang, untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya aku memiliki teman tidur. Terlebih aroma mint dari tubuh Sasuke sangat menenangkan. Mengapa ia sangat wangi padahal dia tak mandi?

Dan suhu tubuhnya sangat hangat.. ya suhu tubuh anak-anak memang hangat. Ternyata sempitnya kasurku menghasilkan sedikit kelebihan. Dan satu lagi, wajahnya saat tertidur sangat imut sekaligus tampan.. Hhehe...


Aku merasa bagai terbang keawan, ah mimpi yang indah. Sayap-sayapnya bak malaikat dengan bulu-bulu halus berwarna hitam yang berterbangan itu menyelimuti tubuhku lalu tangannya yang besar dan kekar dan besar memelukku. Bau Sasuke..


To be Continued..