Buat para readers : Black Angel itu artinya dalam bahasa indonesia Zyzi bikin Malaikat Iblis, bukan Malaikat hitam karena menurut Zyzi hitam itu kan warnanya iblis jadi gitu deh... harap maklum ya. Zyzi merasa lucu aja kalau nyebut Sasuke itu Devil Angel, lebih keren lagi Black Angel. Kalau mau komplain atau bertanya kirim PM aja ya.. Zyzi akan balas :)


Hidup ini membosankan bagiku. Aku tlah hidup abadi selama puluhan ribu tahun lamanya. Menjalankan aktivitas yang sama, menemui orang yang sama, dan banyak hal yang membosankan lainnya. Kematian bagiku, seorang malaikat iblis, pewaris tunggal tahta kerajaan ini, adalah hal yang tak mungkin jika aku trus terkurung di dalam jeruji raksasa yang disebut istana ini menunggu kematian Kakek tua itu dan menjadi Raja penggantinya yang tak pernah kuinginkan.

Setiap hari, setiap saat, setiap helaan nafasku, aku selalu mendengar doa dari semua makhluk yang ada di dunia ini. Doa mereka rata-rata sama ; mereka ingin bahagia, tentunya dengan versi yang berbeda dari semua makhluk.

Prajurit malaikat suci mengabulkan doa mereka dan mereka selalu lalu lalang mengitari jagad raya ini, mengunjungi para pendo'a, memberkahi mereka lalu melaporkan hasil pekerjaan mereka kepada Raja ; Uchiha Madara. Aku bosan! Aku ingin mati dan lenyap dari dunia in seperti keluargaku yang lainnya. Aku sendirian didunia ini, tanpa orang tua, saudara, bahkan makhluk yang kusebut teman atau kekasih.. Jujur saja, aku ingin seperti para prajurit, atau para budak kaum kami (malaikat iblis), setelah melakukan tugas mereka,melapor,dan bereproduksi maka mereka akan mati. Sangat menyenangkan.

Malaikat iblis, dua jiwa berbeda dalam satu tubuh, merupakan makhluk pilihan Dewa. Kami membantu makhluk yang taat dan menghukum mereka yang ingkar.

Ayahku, Ibuku, dan Kakakku tlah mati karena mereka hanya kaum malaikat suci, yang putih bersih.

Dan aku? Aku seharusnya seperti mereka jika saja aku tidak mengabulkan doa penduduk yang akan bahagia jika negara tetangga mereka dilanda kemiskinan, kesukaran dalam hidup, sampai akhirnya mereka(negara tetangga musuh mereka) semua mati.. Setelah itu aku dihukum. Diarak oleh prajurit menuju istana sambil tubuh kecilku dicambuk.. Pada waktu itu aku baru saja terlahir kedunia, aku tak tahu apa salahku! Karena kukira tugas kami, malaikat suci hanyalah mengabulkan do'a. Do'a apapun itu..

Dihadapan raja yang murka dan tlah berubah menjadi iblis, aku hanya terdiam. Aku tak memohon ampunan nya. Aku merasa aku berada di jalan yang benar.

Saat ia menyuruhku untuk sujud, aku tak melakukannya. Kubalas tatapan murkanya dan setelah itu dengan sangat cepatnya ia muncul dihadapanku dan setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi.

Ketika aku terbangun, sayap putihku berubah menjadi hitam. Dan aku sadar.. aku bukan malaikat suci lagi. Aku tak tahu sudah berapa lama aku tertidur, tapi saat itu tubuh kecilku tlah berubah menjadi dewasa. Bahkan kini aku sudah memiliki nama keluarga Uchiha; keluarga bangsawan, di namaku. Tak lama kemudian,dia makhluk yang paling kubenci ; Uchiha Madara pun mengumumkan pada semua prajurit, dan budak : Aku lah yang akan menjadi pewaris utama tahta kerajaan setelah kematian Uchiha Madara, yang entah kapan akan terjadi. Dan kehidupan membosankan pun dimulai..


"Tuhan, Aku ingin kabahagian untuk kedua orangtuaku yang telah meninggal di alam sana, kebahagian untuk teman-temanku, dan kebahagian untuk diriku sendiri; Tuhan aku berharap, aku memiliki keluarga yang baru, dengan orang yang selalu berada disampingku. Amin"

Aku mendengar doa dari seorang pemuda pirang, bernama Namikaze Naruto, Seorang yatim piatu. Para prajurit yang sedang sujud dikakiku selalu siap sedia untuk pergi ke bumi setelah aku mengatakan ; 'Do'a mu kukabulkan' lalu mereka pergi atau 'do'a mu tidak dikabulkan' dan mereka, para prajuritku terus bersujud kepadaku.

Aku tertarik dengan do'a nya. Terlebih dia sama sepertiku, tidak memiliki keluarga. Aku ingin mengabulkan do'a nya dan menjadi seseorang yang ia anggap keluarganya. Aku ingin aku yang menjalankan tugas ini! bukan para prajuritku. Ini kesempatanku untuk lari dari kerajaan saat tidak ada kakek tua itu yang kini sedang menghadap dewa dan berada di dimensi lain.

Kuaktifkan mata merahku, seketika sayap hitamku mengembang, dan aku pun menjadi malaikat iblis yang ditakuti. Kumanipulasi ingatan mereka, para prajuritku dan budakku yang ta'at agar mereka lupa tentang diriku.

Akhirnya aku bisa bebas dari istana neraka itu. Aku tak takut dengan murkanya kakek tua itu, jika ia membunuhku maka aku akan sangat bersyukur pada Dewa. Aku ingin merasakan indahnya hidup, sebelum aku menjadi Raja atau sebelum aku disiksa olah Madara.


Saat aku sampai di bumi, planet tempat pendo'a yang bernama Namikaze Naruto itu, aku terkejut dengan perubahan drastis tubuh dewasa ku menjadi sosok sebelum aku menjadi malaikat iblis. Aku kembali menjadi anak kecil. Wujud saat aku mengabulkan do'a yang salah. Mungkin perubahan fisikku ini disebabkan oleh perbedaan waktu antara bumi dan dimensi tak menjadi masalah bagiku.

Ketika aku sampai di tempat tinggalnya, kulihat ia tengah mencium pria berambut merah, tentu saja aku tahu nama pemuda itu adalah Sabaku Gaara. Aku terkejut dan ada sedikit penyesalan telah datang kebumi dan mengabulkan do'a nya secara langsung. Apakah aku mengabulkan do'a yang salah lagi?

Namun saat melihat wajah mengantuknya saat membuka pintu untukku, kurasa wajar saja si pria berambut merah itu cinta padanya, karena Namikaze Naruto itu sangat indah. Dan kutarik lagi kata kalau aku menyesal mengabulkan doa nya, karena aku ingin dia bahagia karenaku. Aku tak tahu, mungkin aku menyukainya. Karena hanya dia yang tidak bisa kubaca pikirannya..


"Pesanan untuk meja 8 sudah siap~" ucap Kiba, koki di restoran tempatku bekerja, dan tentu saja dia sekaligus menjadi sahabatku.

Aku ingin mengambil nampan itu, jika saja tidak diambil Sasuke duluan.

Karena belum ada yang bisa kukerjakan, Kuhampiri Kiba yang sedang memilah milah daun salada.

"Yo Kiba, butuh bantuan?"

"Hehehe, kalau kau jawabannya pasti tidak! Tapi kalau Sasuke yang membantuku, aku pasti sangat senang"

"Kau ini menyebalkan sekali!"

Kiba hanya mentertawakanku. Aku sebal dengan Kiba, dan terlebih Sasuke! Aku baru tahu kalau ia sangat giat bekerja dan merebut semua pekerjaan yang harusnya kulakukan. Dia disukai banyak pelanggan, padahal dia tidak mengeluarkan ekspresi apapun, tapi mengapa mereka bilang kalau Sasuke itu imut? Beh... dia itu iblis kecil yang sombong!

"kau iri ya pada Sasuke karena dia lebih baik dari pada mu?" tanya Kiba padaku.

"Aku iri pada anak kecil sepertinya? Huh..mana mungkin!"

"Aku tahu pasti berat bagimu untuk mengakuinya. Sejujurnya aku juga iri padanya"

"kau juga?" tanyaku, aku sangat tertarik menunggu jawaban Kiba.

"Tentu saja. Bukannya aneh anak kecil sepertinya adalah seorang work holic? Karenanya kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu kan?"

Yang dibilang Kiba benar.

Aku hanya memandang kedepan, dari kaca yang membatasi dapur dan kasir kulihat Sasuke sedang mengobrol bersama sepasang suami istri dan anak perempuan mereka yang berambut pink. Aku tak tahu bagaimana perasaan Sasuke saat tangan gadis kecil seusianya itu menarik tangannya dan memaksa Sasuke harus duduk bersama mereka. Apa dia bosan? Apa Sasuke merasa senang?

"Dia itu sepupumu kan?"

Pertanyaan Kiba membuatku berhenti dari lamunanku. Sasuke sepupuku? Lebih baik kujawab iya.

"Ya"

"Dari pihak ayah atau ibumu?"

Apa yang harus kujawab? Aku bingung.

"Dia..dia dari pihak.. pihak ibuku"

"Ibumu itu seorang uzumaki kan? Bukannya rambut klan uzumaki identik dengan warna merah?"

Keringat dingin mengalir dari pelipisku. Aku ingin secepatnya menjauh dari Kiba dan memaksa Sasuke untuk menjelaskan semuanya. Mengapa otak Kiba sangat encer saat ini?

"Bibiku yang berklan uzumaki menikah dengan ayah Sasuke. Sasuke hampir 100 persen mirip ayahnya" jelasku. Semoga saja Kiba percaya.

Tapi aku yakin ini tidak akan cepat berakhir, karena wajah kiba menggambarkan ketidak puasan.

"Jadi, apa nama klan ayahnya Sasuke, Naruto?"

"Oh, itu..Klan ayah Sasuke adalah.."

Aku bingung harus menjawab apa. Jujur saja, aku tidak pandai berbohong. Aku juga tak mau menjadi pembohong.

'Sasuke tolong bantu aku'

"Uchiha. Klanku adalah Uchiha"

"HEE?!"

Aku dan Kiba terpelongoh melihat Sasuke yang entah dari mana datangnya ini. Bukannya ia masih melayani pelanggan. Dia meletakkan nampan yang sudah kosong itu lalu mencucinya di washtafel.

"Jadi nama lengkapmu adalah Uchiha Sasuke?" tanya Kiba lagi.

" ada yang ingin kau tanyakan, tanya saja langsung padaku" kata Sasuke dingin.

"Ah, lain kali saja. Hari ini sudah cukup" kata Kiba, lalu bersiap-siap membuatkan kertas pesanan yang Sasuke antarkan tadi.

Saat pandangan kami bertemu, aku mengucapkan terimakasih padanya. Dan hanya di jawab dua kata 'Hn' .. hanya itu!


Gadis kecil yang baru kuketahui namanya itu, Haruno Sakura, hampir setiap hari datang kerestoran tempat ku bekerja. Bahkan saat aku dan Sasuke mendapat shift malam pun dia selalu datang bersama orang tuanya. Dia tidak mau dilayani selain Sasuke dan setelah itu maka mereka akan menahan Sasuke dengan obrolan mereka yang tak kuketahui membahas apa karena aku hanya selalu memandang dari kejauhan.

"Pesanan meja nomor 3 sudah selesai" ucap Lee. Dia adalah asisten Kiba.

"Biar aku saja Sasuke, kau mengantar pesanan yang lain saja" dengan cepat ku ambil nampan yang berisi pesanan itu dari tangan Sasuke. Karena aku tahu Haruno Sakura dan keluarganya berada di meja nomor 3.

Wajah Sasuke terlihat kebingungan dengan aksiku dan kupat-patkan kepalanya agar dia tak marah karena aku mencuri pekerjaannya. Lalu kuhampiri meja no.3 itu. Aku melakuakan ini bukan karena aku cemburu atau apa, aku hanya ingin melihat reaksi gadis kecil itu jika bukan Sasuke yang melayaninya.

"Ini pesanan anda. Selamat menikmati" ucapku mencoba ramah

Aku tersenyum melihat Sakura mempoutkan bibirnya sebal, mungkin dia tak suka aku yang mengantarkan pesanannya. Sedangkan orangtuanya tersenyum padaku.

"Mengapa bukan Sasuke yang mengantarkan pesananku nii-chan?"

"Maaf, Sasuke sedang mengantarkan pesanan dimeja lain"

"Sudahlah sakura.. Maafkan anak kami, tuan.." ucap wanita cantik yang kuyakini adalah Ibunya Sakura itu.

"Namikaze Naruto.. panggil saja Naruto nyonya"

"Oh..Jadi kau sepupunya Sasuke?" tanyanya lagi. Aku mengernyitkan keningku, dari mana dia bisa tahu?

"Hheehe.. Apa Sasuke yang memberi tahu anda?"

"Dia banyak bicara tentang mu. Iya kan Sakura?"

Sasuke, apa saja yang ia bicarakan tentang ku pada mereka? Memikirkannya membuatku sangat senang.

Kulihat Sakura yang sedang menyantap makanannya, lucu sekali melihatnya, bahkan mulutnya kini belepotan makanan dan itu malah membuatnya tambah imut.

"Dan itu membuatku kesal karena Sasuke tidak mau menjadi temanku!"

"Kenapa Sasuke tidak mau berteman dengan gadis cantik seperti Sakura?" tanyaku penasaran

"Dia bilang, dia mau berteman denganku jika Naruto-nii mengizinkan"

Kedua orang tua Sakura hanya tersenyum maklum melihat anak mereka yang sudah siap-siap akan menangis.

Sasuke, apa dia tak tahu bagaimana caranya berteman? Dia tak perlu meminta izinku hanya untuk memiliki teman.

"Baiklah, aku akan mengizinkan kalian berteman. Bilang pada Sasuke karena mulai dari sekarang kalian adalah teman, oke Sakura-chan?"

"Arigatou Naruto-nii"

"Sama-sama"


Saat ini aku dan Sasuke sedang berjalan menuju ke apartemenku. Hari ini restoran lumayan ramai dan itu membuat tubuhku letih. Rasanya aku ingin tidur dengan ditemani aroma tubuh Sasuke yang rasanya sudah menjadi canduku sebelum aku tidur.

"Apa kau mau kugendong ?"

"Kau gila?! Apa kata orang nanti jika seorang anak kecil sepertimu menggendongku ha?! Baka!"

"Aku hanya tak tega melihatmu yang seperti zombi itu. Mengapa tubuhmu itu lemah sekali dobe?"

'twitch'

"kalau aku lemah, aku tak mungkin bisa bertahan menghadapi sikapmu! Kau tahu itu?!"

"Ya, mungkin kau bisa mati kan?" tanyanya

"Huh! Mana mungkin aku mati karena anak kecil sepertimu!"

"Kalau ternyata aku bukan anak kecil bagaimana?" tanya Sasuke serius.

"Kalau kau seorang remaja atau orang dewasa mungkin aku..

'akan mencintaimu'

"..Aku bisa saja mati" jawabku

"Hahaha..mana mungkin aku akan membunuh orang yang ingin kubuat bahagia"

"Terserah apa katamu"

Kupalingkan wajahku,menyembunyikan wajah merahku dari iblis kecil disampingku ini.


Aku tak tahu aku menyesal atau tidak, tapi semenjak Sakura tlah menjadi teman Sasuke dia kini bahkan berani datang ke restoran sendirian, lagi pula rumahnya hanya beda beberapa blok saja dari sini jadi dia bisa datang kerestoran kapan saja. Banyak karyawan restoran tempat kubekerja yang bilang kalau mereka sangat serasi sebagai pasangan, dan setelah itu mereka akan menggodaku untuk cepat-cepat melamar Sakura untuk Sasuke dan aku hanya bisa tersenyum dan bilang kalau 'Sasuke dan Sakura hanya berteman'. Ya hanya berteman!

Hari ini Sakura membawa beberapa temannya ke restoran untuk menemui Sasuke dan itu membuat restoran rasanya seperti taman bermain. Mereka terlihat senang, kecuali Sasuke yang terus memandang kearahku dengan wajah risihnya, dan aku hanya melambaikan tanganku dari kejauhan padanya. Dan setelah itu ia tak akan memandang kearahku lagi.

"Dari pada melamun, lebih baik kau antarkan pesanan ini ke meja no.15" suruh Kiba yang membuatku sedikit terkejut.

"Baiklah"

Aku pun langsung menuju ke meja no.15 yang ternyata berisi dua pria berseragam Sma. Ah, mereka sering datang ke sini sebelumnya hanya saja mereka selalu memakai baju biasa.

"Selamat menikmati"

Namun saat aku ingin kembali ke dapur untuk mengobrol bersama Kiba, tanganku ditarik oleh seorang anak sma itu.

"Ah maafkan kami nii-chan, bisakah kau disini sebentar, ada yang ingin temanku katakan padamu. hey Konohamaru, cepat katakan!"

"Baiklah. Apa yang ingin kalian katakan kepadaku?"

Kulihat wajah bersemu anak yang baru saja kuketahui bernama Konohamaru. Aku tak mau terlalu jauh menerka apa yang berada dalam pikirannya. Aku hanya tetap berdiri sambil memegang nampanku selama beberapa saat lamanya karena Konohamaru hanya diam saja dan temannya sibuk menyikut lengan Konohamaru.

"Kalau tidak ada yang ingin kalian bicarakan, aku pergi dulu.."

Baru beberapa langkah aku berjalan, suara Konohamaru ah, lebih tepatnya teriakannya membuat langkahku berhenti ,

"WA..WAJAH NII-CHAN SANGAT MANIS KALAU TERSENYUM. A..AKU SUKA SENYUM NII-CHAN!"

Dan mendadak suasana menjadi hening. Aku pun menjadi pusat mata para pelanggan dan bisikan mereka yang mengalahkan bisikan tetangga itu membuat kupingku panas.

"A..Aku.." jawabku tergagap

Kubungkukan badanku didepannya

"Arigatou..Tapi tolong jangan ucapkan itu lagi"

"GOMEN..GOMEN.." Konohamru juga menundukan badannya berulang-ulang kali. Aku ingin lari dari sini.

Kurasakan genggaman ditanganku, dan seperti biasa Sasuke yang melakukannya. Tangannya dingin sekali.

"Dia milikku. Jika kau menyukainya maka kau berhadapan denganku"

Oh Tuhan, apa Sasuke sadar saat ini kami telah menjadi pusat perhatian. . Aku yakin mereka pasti berpikiran yang tidak tidak. Tapi aku heran, tak ada satu pun yang melerai atau pun tertawa. Bukannya lucu melihat sikap overprotektif Sasuke?

"Maafkan kami Nii-chan, kami pergi dulu dan ini tagihannya"

Mereka pergi terbirit-birit meninggalkan restoran. Aku heran mengapa mereka sampai sebegitu takutnya dengan ancaman anak-anak seperti Sasuke? Apa yang Sasuke lakukan pada mereka?

"Aku berhasil hari ini. Kau ini mengapa tidak bisa membela diri sendiri dobe?" ucap Sasuke setelah melepas tanganku.

"Lagi pula dia tidak melakuakan kejahatan apa pun. Dan kau berhasil apa?"tanyaku penasaran.

"Berhasil mengendalikan emosiku. Sudahlah, kembali bekerja!"

"Kau bukan boss ku, Teme!"

"Hn"

Dia berjalan duluan meninggalkanku dengan menyisakan sejuta pertanyaan dibenakku. Berhasil mengendalikan emosinya? Bukannya dia jarang menunjukan ekspresi apapun diwajahnya selain wajah angkuh dan poker facenya itu?

'puk'

"Cuitt..cuit..Wajah Nii-chan sangat manis saat tersenyum~.. uh..Kawaiii" goda Kiba yang entah kapan disampingku dan bertingkah seperti banci.

"Berhenti menggodaku!" ku percepat langkahku meninggalkan Kiba dan mulut jahilnya itu

"Hoho..'Dia itu milikku. Jika kau menyukainya maka kau berhadapan denganku~' .. wah Naru-chan ternyata disukai banyak berondong ya?"

"Aku tidak dengar apa pun" kututup telingaku lalu masuk kedapur dengan wajah memerah.


Beberapa waktu yang lalu, di dimensi lain

"Aku mati dengan tidak wajar! Kitab takdirku berbeda dengan yang kualami sekarang. Bukankah aku akan mati saat berusia 72 tahun, hidup bahagia dengan cinta pertamaku? Aku bahkan mati sebelum aku sempat menjadikan dia milikku seutuhnya. Mana tanggung jawabmu sebagai dewa?!"

Gaara, seorang pria yang tlah mati saat berusia 20 tahun ditangan seorang black angel (malaikat iblis) sedang bersimpuh dihadapan Dewa takdir dan protes terhadap apa yang dialaminya sekarang.

"Aku..seharusnya aku hidup bahagia bersama Naruto! Iblis terkutuk itu mengambil Naruto, memanipulasi ingatannya dan semua orang. Dia bersalah! Mengapa kau tidak menghukumnya?"

Namun Gaara tidak mendapat jawaban apapun..

Sekarang ini dia tak depenuhnya mati dan tak bisa juga dibilang sebagai manusia yang hidup. Hal ini membuatnya harus bertahan di langit ke-6 sampai ajalnya menjemput tepat diusia 72 tahun hitungan dibumi.

"Aku ingin kembali kedunia. Aku ingin hidup! Aku ingin merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!"

"HAHAHHAHA... KAU TAK AKAN BISA MENJADI MANUSIA LAGI"

"Mengapa aku tidak bisa? Takdirku bukan seperti ini!"

"YANG MEMBUNUHMU ADALAH SEORANG BLACK ANGEL DAN TAKDIRMU TELAH DIPERBAHARUI"

'BUGH!'

Sebuah kitab tebal dan berukuran raksasa turun dari langit, halamannya terbuka lebar dan tepat berisikan jalan hidup pria itu yang berbeda dengan kitab sebelumnya.

"Jadi kau tak bisa membantuku? Kau ini Dewa kan?"

"AKU BISA MEMBANTUMU, TAPI BUKAN HIDUP SEBAGAI MANUSIA"

"Baiklah, Aku terima. Aku ingin membalaskan dendamku pada makhluk licik seperti dia dan aku ingin merebut semua yang telah menjadi milikku!"

"KAU CUKUP BIJAK ANAK MUDA. AKU AKAN MENGABULKAN PERMINTAANMU.. TAPI AKU TAK BISA MERUBAH APA YANG TELAH DIUBAH OLEH nya"

"Cepatlah.. Cepat ubah Aku"

"PERMINTAANMU KU KABULKAN"


Waktu sekarang, Konoha 23.30, Apartement Naruto.

"Pesanan anda sudah siap. Segelas kopi dengan sedikit gula dan dua boah tomat siap dinikmati" ucapku setelah meletakkan segelas kopi dan tomat yang diinginkan Sasuke dimeja. Saat ini aku berpura-pura menjadi pelayan yang melayani Sasuke.

"Hn. Bisakah aku minta senyum anda yang sangat manis itu Nii-chan?"

"Berhenti membahas hal itu lagi Sasuke! kau ini tidak asyik"

Kuhempaskan badanku disofa dan duduk disamping Sasuke yang tengah mengunyah tomatnya dan tak mempedulikanku.

"Kau marah padaku Sasuke?"

"Tidak ada alasanku untuk marah dobe!"

"Huh.. Kau akhir-akhir ini juga sangat dekat dengan Sakura.."

Bodoh! Mengapa aku berbicara seperti itu.

"Dia yang mendekati ku. Aku hanya menganggapnya sebagai pelanggan. Kau tak usah cemburu"

"AKU TIDAK CEMBURU IDIOT! Aku malah senang kau punya teman seusiamu"

"Hn"

Sasuke meraih gelas kopinya lalu meminumnya. Wajahnya mengernyit sesaat.

"Kopi buatanmu buruk sekali. Takaran gulanya tidak pas"

'twitch'

"Seharusnya kau mengucapkan terimakasih. Bukan malah protes. Lain kali kau buat sendiri saja"

"Bukannya tadi kau yang sangat ingin membuatkan kopi untukku, hm? Kupikir tadi kau mau main pasangan suami istri denganku jadi aku tak menolaknya. Kau tahu Aku dan Sakura sering bermain hal seperti itu dan Sakura lebih pandai bersandiwara sebagai istri yang baik"

"Kau pikir aku mau memainkan permainan konyol anak-anak seperti itu ha?! Dan kalau kau menyukai Sakura-chan, aku sebagai sepupu palsumu aku akan sangat bahagia"

Mengapa aku harus marah?

"Benarkah?"

"Tentu saja" kupalingkan wajahku karena Sasuke terus memandang wajahku.

"Kalau begitu, katakan dengan memandang wajahku kalau kau bahagia jika aku bersama Sakura"

Kuberanikan untuk menatap wajah Sasuke

"Aku..Aku akan bahagia.."

Sasuke mendekat kepadaku, lalu tangan kecilnya menangkup wajahku. Dia menanti aku melanjutkan ucapanku. Tapi aku tak bisa melanjutkan perkataanku, aku tak bisa berbohong. Jujur aku sangat ingin Sasuke tetap menjadi Sasuke yang sombong dan hanya peduli kepadaku. Aku ingin Sasuke untuk diriku sendiri.

"Aku..aku bahagia jika..Jika kau selalu berada disampingku"

"Permintaanmu, Kukabulkan" Sasuke tersenyum. Senyum yang hanya ditunjukannya untukku.

'cup'

Aku tak menolak saat Sasuke mencium bibirku dan sedikit melumatnya. Kupejamkan mataku menikmati saat ini. Aku malu dengan diriku sendiri yang mencintai Sasuke, seorang anak-anak yang tak jelas dari mana asal usulnya. Aku tak dapat menahan air mataku. Perasaan sedih dan bahagia bercampur dipikiranku.

'Naruto.. Aku sangat mencintaimu'

'Aku mencintaimu Sasuke'


Konoha, Apartement Naruto, jam 2.00

'Tok-tok'

'Tok-tok'

"Kurasa Naruto sudah tidur, dia pasti letih setelah bekerja.. Hehe, anak itu. Lebih baik aku datang lagi besok dan merebut dia kembali untukku"

'Syupp'

Sayap putihnya pun mengembang dengan indahnya..


To be Continued..

Semoga pertanyaan para readers di review sebelumnya dapat terjawab di chap ini.

See you again