Hinata dalam perjalanan pulang dari misi seorang diri. Semua berjalan sangat baik hingga ia bertemu dengan seorang pemuda dan terjebak dalam hubungan rumit bersama pemuda itu.

Naruto © MK | SasuHina | Romance, Drama & Hurt/Comfort | Canon | MA

Warning : Standard Warning

Saya mengambil kejadian setelah chapter 699, dimana Sasuke pergi keluar dari desa.


.

.

.

.

Wish © Kurosaki Mikasa

Perang pun telah usai dengan kemenangan aliansi shinobi. Berbagai peristiwa menegangkan yang ada diakhiri dengan pertarungan antara dua sahabat. Beberapa bulan setelah perang dunia ninja ke-4. Keadaan desa perlahan-lahan membaik. Bahkan, para shinobi sudah mulai kembali menjalankan misi seperti biasa. Tak terkecuali Hinata. Sang Heiress Hyuuga kini tengah menjalankan sebuah misi seorang diri. Misi yang cukup mudah, hanya memberi pesan dari Hogake kepada seorang kepala desa.

Walau misi yang sedang Hinata jalani tergolong mudah, namun perjalanan dari Konohagakure ke desa tersebut cukup jauh. Sehingga membutuhkan 2 hari semalam bagi Hinata untuk dapat sampai ke desa tersebut. Tak ada hambatan yang berarti, misi ini Hinata selesaikan dengan sempurna. Saatnya Hinata kembali ke Konohagakure untuk melaporkan hasil dari misinya.

Gadis bersurai Indigo itu tengah melompati dahan-dahan pohon di hutan perbatasan Otogakure dengan Konohagakure. Merasa matahari mulai tergelincir dan langit mulai kehilangan cahaya, Hinata memutuskan untuk beristirahat malam ini dan akan melanjutkan perjalanannya besok. Hinata bermalam di pinggir sungai dengan aliran yang tenang. Air sungai yang mengalir begitu jernih menggoda Hinata untuk membasuh dirinya di sana.

Hinata melepaskan jaketnya dan meletakannya di pinggir sungai. Menyisakan celana dalam dan baju jaring yang melekat pada tubuhnya. Perlahan gadis bermanik Amethys itu mencelupkan kakinya, lalu kemudian menenggelamkan badannya. Entah mengapa, Hinata merasa air di sungai itu tidak terlalu dingin cendrung hangat, walaupun udara malam telah dingin.

Lama ia berada dalam air menyegarkan tubuhnya. Setelah merasa cukup, Hinata beranjak dari air. Pakaiannya yang basah melekat pada tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuh Hinata yang proporsional. Ketika Hinata hendak mengambil jaketnya, ia baru merakasan cakra seseorang yang begitu kuat. Hinata tak tahu pasti, siapa pemilik cakra yang datang mendekat.

"BYAKUGAN!" Serunya mengaktifkan kekkei genkai utama clannya.

Namun sayang. Entah ia yang terlambat menyadari, atau musuhnya yang terlalu cepat bergerak? Yang jelas sekarang ini, sebuah pedang kusanagi berada tepat 1 cm di belakang punggungnya. Seketika itu tubuh Hinata membatu, diam tak bergerak sedikit pun.

"Hoo, lihat siapa gadis ini?"

Suara bariton khas pria terdengar mengerikan di telinga Hinata. Hinata tahu pemilik suara itu. Seorang pemuda yang ia tahu dingin dan kejam. Seorang pemuda yang membantu dalam aliansi shinobi dalam perang dunia ninja ke-4. Seorang pemuda yang kehilangan tangan kirinya saat pertarungan dengan rivalnya. Seorang pemuda yang merupakan rival sang pujaan hati. Dia Uchiha terakhir yang masih hidup saat ini.

Uchiha Sasuke.

Sasuke POV
Gadis itu membelakangiku. Khe! Dia hanya menggunakan baju dalam jaring dan celana dalam. Aku hanya dapat melihat lekuk tubuhnya yang sangat indah. Surai Indigo panjangnya yang basah menambah kesan seksi di mataku.

"Jangan bergerak! Satu gerakan saja kutebas lehermu!" Ujarku dengan nada dingin dan setajam mungkin.

Kutarik kusanagiku. Memutari gadis itu, hanya untuk melihat wajahnya. Dan ternyata ia bukan gadis biasa. Ia seorang Kunoichi Konoha. Dapat dilihat dari mata Lavendernya yang kini telah mengaktifkan kekkei genkai, ia adalah seorang Hyuuga. Ah! Aku ingat gadis ini. Gadis yang dulu saat di akademi kalah melawan sepupunya sendiri. Gadis lemah yang sangat menyukai Naruto.

Tak kusangka ia akan berubah menjadi gadis cantik yang sangat seksi dan menggoda. Um, siapa namanya? Hyuuga... Hyuuga... cih, aku tak peduli.

"Hm, rupanya gadis Hyuuga yang menyukai Naruto itu, heh?" Kataku sinis.

Gadis itu meneguk ludahnya. Ku dekatkan ujung kusanagiku tepat ke atas dadanya. Ia ketakutan, hal itu jelas terlihat di wajahnya.

Kupandangi wajahnya. Kulitnya putih bersih. Alisnya agak tipis namun rapi. Walaupun sedang menggunakan Byakugan, iris Amethys gadis itu tetap terlihat indah dengan kelopak matanya. Beralih ke hidung mungilnya, lalu ke kedua pipi yang agak chubby. Pipinya agak memerah, menambah kesan imut gadis itu. Terakhir, kupandangi bibir mungil yang berwarna peach itu. Bibir ranum itu sedikit terbuka seakan menggodaku untuk melumatnya. Aku jadi penasaran dengan rasa bibirnya. Ck! Apa yang kupikirkan?!

"U-uchiha-san?" Katanya gugup dengan bibir yang bergetar. Hal itu membuat libidoku semakin naik. Ku rasakan sesak di bagian bawah tubuhku.

"Hn."

"A-ada apa?" Tanyanya.

"…"

Aku hanya diam, sibuk memperhatikan tubuhnya yang menggoda.

"A-apa yang kau i-inginkan?" Pertanyaannya sukses membuatku menyeringai.

"Hm, apa yang kuinginkan?–

Yang kuinginkan adalah–" Sengaja kugantungkan kalimatku dengan nada mengintimidasi untuk membuatnya penasaran. "KAU." Ya! Yang kuinginkan saat ini adalah dirinya, seluruhnya. Aku ingin melumat bibir mungilnya, merasakan sensasi saat tubuh kami beradu. Meraba setiap inci tubuhnya. Intinya aku ingin ia memuaskan hasratku.

Cih! Jangan salahkan aku jika aku berfantasi liar tentang dirinya. Hey, aku ini pria normal yang akan tergoda dengan pemandangan di depanku saat ini. Seorang gadis dengan tubuh sintal hanya menggunakan pakaian tipis yang basah. Terlalu sayang untuk dilewatkan bukan?

"Ha-hah?" Gadis itu menunjukan wajah bingung, tak mengerti perkataanku.

Perlahan kutarik kusanagiku menjauh dari tubuhnya. Dengan cepat kutarik pinggangnya lebih mendekat ke arahku. Memperpendek jarak diantara kami. Sedikit memiringkan kepalaku untuk mempermudah aksiku. Kukecup bibirnya. Seketika itu, gadis Indigo mebelalak matanya kaget. Awalnya hanya menempelkan, namun lama kelamaan berubah menjadi lumatan kasar.

Gadis yang tengah ku cium bibirnya itu gelagapan. Mendorongku, mencoba melepaskan pagutan kami. Entah karena ia yang terlalu lemah atau aku yang terlalu kuat. Tentu hasilnya nihil. Aku mendorong tengkuknya, memperdalam ciuman kami. Bibirnya sangat menggoda. Sensasi yang baru pertama kali kurasakan. Manis dan lembut.

"Mmmphh– "

Karena kehabisan oksigen, dengan sangat sangat tak rela aku melepaskan bibir kami. Benang saliva pun tecipta saat aku menjauhkan bibirku darinya. Ia terengah-engah dengan semburat merah di wajahnya.

Perlahan kuelus pipi chubbynya. Sensasi aneh seperti sengatan listrik ringan kurasakan saat aku menyentuh pipinya. Kulitnya terlampau halus dan lembut. Wajahnya memerah hingga ke telinga seperti tomat. Ingin sekali aku 'memakannya' saat ini. Apa benar dia seorang kunoichi?

Normal POV
"Akan kulanjutkan yang tadi. Dan aku ingin lebih." Tegas Sasuke mentapa manik mutiara Hinata.

'Tidak! Aku tidak mau! Kami-sama, tolong aku.' Hinata membatin. Hinata dapat melihat kabut nafsu di manik Obsidian gelap Sasuke. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Jelas ia bukan tandingan seorang Uchiha, levelnya jauh berbeda. Jadi apa yang bisa Hinata lakukan saat ini?

"Aku akan melakukannya. Dengan atau tanpa seizinmu." Kata Sasuke mendorong tubuh Hinata sehingga mereka berdua terjatuh di atas rumput dengan Sasuke yang menimpa Hinata.

.:: Impossible Love ::.

BRUUUK!

Dari lengah kanan Sasuke muncul seekor ular putih kecil yang mengunci kedua pergelangan tangan Hinata ke atas. Perlahan Sasuke mulai membuka baju jaring Hinata, sehingga gadis itu hanya menggunakan pakaian dalam. Saat Sasuke akan membuka bra Hinata, perlahan kelopak mata gadis itu mengerjap dan menampakan berlian Amethyst cantiknya. Gadis bersurai Indigo itu nampak ketakutan ketika melihat Sasuke menindih tubuhnya.

"U-uchiha-san... Ke-kenapa?" Takut Hinata.

"Tentu saja kau sudah tahu." Jawab Sasuke berbisik di sebelah telinga Hinata.

Sasuke menyeringai, lalu mengecup daun telinga Hinata. Mendapati wajah Hinata yang merona, Sasuke langsung meremas payudara besar Hinata. Awalnya pelan, namun menjadi cepat dan kasar. Hinata menggigit bibir bawahnya ketika Sasuke semakin kuat meremas payudaranya. Dengan cepat, Sasuke melepaskan pengait bra Hinata.

"Keh, aku suka kau menggunakan warna hitam. Tapi-" Sasuke menggantungkan kalimatnya. Hinata memekik ketika Sasuke melepaskan branya dengan paksa.

"Aku paling suka saat kau tak memakai apapun." Kata Sasuke sembari mendekatkan wajahnya ke perpotongan leher Hinata.

Sasuke kini mulai menciumi leher Hinata dan memberikan tanda merah di sana. Sesekali ia menjilati leher Hinata sehingga membuat si empunya mengerang. Setelah puas dengan leher indah Hinata, Sasuke beralih melihat payudara besar Hinata. Hinata menggeliat, berusaha melepaskan jeratan ular ditangannya.

"Hyuuga, diamlah"

"T-tapi..."

Perlahan Sasuke mulai menciumi payudara Hinata membuat gadis itu mengerang. Mendapat reaksi begitu, Sasuke semakin gencar memainkan kedua bukit kembar Hinata. Sasuke menjilat, melumuri puting pink itu dengan salivanya.

"Mmm, nggh!" Hinata menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya.

Sasuke menghisap puting Hinata dengan kuat seakan ada air susu yang akan keluar. Menjilati puncak bukit itu di dalam mulutnya.

"Aaakh! J-jangan Uchiha-saaaan..uh!" Desah Hinata saat Sasuke mulai memasukan puting yang telah mengeras ke dalam mulutnya.

Tak sampai di situ, tangan kanan Sasuke mulai kembali meremas payudara kanan Hinata. Memainkan puting merah muda milik Hinata, mengelusnya, memilinnya, mencubitnya, menyentilnya, dan menusuknya dengan jari telunjuk.

"Ah.. He-een.. tikan! Ahn, ah!"

"Kenapa? Kau menyukainya'kan Hyuuga."

Lidah Sasuke yang tadi asyik dengan payudara Hinata kini turun ke perut ramping Hinata. Ia menjilati perut itu. Hinata merasakan sensasi geli yang aneh. Ia kembali menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tak kembali mendesah. Sasuke yang menyadari hal itu dan langsung menarik celana dalam Hinata, hingga Hinata benar- benar dalam keadaan telanjang, tanpa sehelai benang satu pun.

"Kenapa kau berhenti mendesah? Aku sangat suka dengan desahanmu."

Hinata masih tetap menggigit bibir bawahnya. Sasuke menjadi sedikit kesal, kemudian ia elus lembut kemaluan Hinata. Sasuke menggerakan jarinya kiri ke kanan, atas ke bawah, kadang ia juga membuat gerakan memutar agar vagina Hinata terangsang. Hinata melenguh.

"Mendesahlah, aku tahu kau menikmatinya. Lihat kau sudah basah begini."

"U-uchiha-saaann!"Desahan pun lolos dari bibir mungil Hinata.

"Sasuke, panggil aku Sasuke."

'Ck, sempit sekali.' Batin Sasuke yang sedang memasukkan jari tengah dan telunjuknya ke dalam lubang vagina Hinata yang telah basah.

"Ah, ahn, haaa!... Mmm!"

"AARRRRGGH! Sss-sassu...keeh!" Rancau Hinata.

"Ya! Begitu! Mendesahlah, dan panggil namaku." Ujar Sasuke. Ia menyeringai dan mulai memaju mundurkan jarinya.

Hinata terus mendesah hingga suaranya terdengar sedikit serak. Tubuh Hinata tiba-tiba menjadi tegang dan tiba-tiba bergetar. Sasuke tahu, bahwa gadis itu sebentar lagi akan mencapai klimaksnya. Namun, sebelum hal itu terjadi, Sasuke segera mencabut jarinya dari lubang Hinata.

"Haaah... Haaah, Ssssh!" Hinata lemas.

"Akan lebih enak, jika kita keluar bersama."

Sasuke menggesekan penisnya yang sedari sudah tegang ke bibir vagina Hinata. Ia melebarkan paha Hinata agar mempermudah aksesnya untuk masuk nanti.

"Ti-tidak... Jangan!" Hinata mencoba menghalangi Sasuke.

"Ck, diam dan nikmati saja!"

Tanpa ba bi bu lagi, Sasuke langsung mendorong kuat kejantanannya masuk.

"AAAHHHHHHHN! SASS...SSUU...KEEEEEEEEHH!" Hinata berteriak sangat kencang saat penis besar Sasuke menembus selaput darah Hinata.

'Hangat.' Batin Sasuke. Tak berapa lama, cairan merah kental meluncur turun melumuri penis Sasuke. Sasuke membelalak matanya tak percaya.

"Kau–"

" –masih perawan?" Tanya Sasuke.

Hinata tak menjawb pertanyaan bodoh Sasuke. Ia hanya terisak setelah mengetahui bahwa ia tak dapat mempertahankan hartanya yang paling berharga.

"Hem, aku merasa sangat terhormat dan beruntung menjadi yang pertama untukmu Hyuuga." Ucap Sasuke tanpa rasa sesal.

Bukannya berhenti, Sasuke justru mulai memaju mundurkan penisnya dengan tempo pelan. Hinata terkejut, ketika batang Sasuke semakin dalam memasukinya.

"Ss-sakit, Sas..."

"Ooh, hmmmmm, aah... oh... oh!"

"Ah, ah... tidaaak!"

Seakan tuli, Sasuke hanya menganggap erangan dan rancauan Hinata sebagai angin lalu. Ia fokus untuk menyentuh titik terdalam dalam lubang kenikmatan yang tengah ia rasakan. Penis Sasuke yang panjang dan besar berkedut di dalam vagina Hinata yang hangat.

"Sasss-sukeeh, i-itu tidak mu-muat... Arrrgh!"

Tubuh Hinata berguncang hebat saat Sasuke terus menambah kecepatan pinggulnya. Membuat Hinata membusungkan dadanya dan meletakan tanganya di bahu Sasuke. Hal ini membuat Sasuke mengerang merasakan sensasi nikmat dinding vagina Hinata yang menjepit kuat penisnya.

"Uugh!, kau nikmat sekali Hyuuga." Kata Sasuke saat penisnya berkedut.

Sedikit lagi Sasuke akan mencapai klimaksnya, begitu juga dengan Hinata. Dengan sekali hentakan kuat, Sasuke berusaha memasukan seluruh penisnya dan membentur rahim Hinata.

"Uhhggg!" Erang Hinata saat merasakan sakit yang teramat sangat.

"HUAAAAH! Arrghhh... haah." Desah Sasuke yang telah menyemprotkan spermanya tepat ke dalam rahim Hinata. Spermanya sangat banyak hingga tumpah keluar dari vagina Hinata.

Kesadaran Hinata perlahan mulai menghilang seiring dengan lelah pada tubuhnya, ia pun terlelap dalam pelukan Sasuke dengan tubuh mereka yang masih menyatu.

Hinata POV
Perlahan aku membuka mata, melihat keadaan sekitarku. Tempat ini gelap, namun hangat dan empuk seperti –err kasur? Di-dimana aku? Kepalaku pusing. Seluruh tubuhku pegal, lemas, dan sakit. Apalagi bagian 'pribadi'ku terasa sangat perih. Aku mencoba untuk bangun dari posisiku. Baru kuketahui bahwa saat ini aku dalam keadaan polos, tanpa sehelai benang pun menutupiku. Aku mencoba mengingat-ingat kembali kejadian semalam.

Sungai.

Kusanagi.

Uchiha Sasuke.

Dan …

Seks.

"Kami-sama..." Gumamku.

Aku ingat sekarang. Seorang pemuda bermarga Uchiha itu menyerangku saat di sungai. Dan –dan lalu, aku –dia, um maksudku kami... Argh! Ini sangat memalukan. Bagaimana ini? Aku sudah tidak perawan lagi. Tidak akan ada lelaki yang mau menikah denganku. TIDAK!

Ta-tapi, bukannya semalam aku berada di pinggir sungai. Mengapa saat ini aku berada di sebuah kamar?

"Sudah bangun rupanya." Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara.

Di depan sebuah pintu, pemuda berambut Raven itu berdiri hanya dengan handuk putih yang melingkar di pingganggnya, sengaja ia memperlihatkan badan kokohnya. Walaupun tanpa tangan kiri, Pemuda itu masih tetap saja mempesona. Sepertinya ia baru selesai mandi. Rambutnya masih basah, tetesan air turun dari ujung helaian rambutnya. Hal itu membuat Sasuke sangat tampan dan seksi. E-eh?! Tidak, tidak! Apa yang tadi kau pikirkan Hinata?

Dengan alis mengkerut dan bibir yang tertutup rapat, aku pun menolehkan pandanganku ke arah lain. Tak ingin jatuh ke dalam pesona seorang Uchiha Sasuke. Sasuke perlahan mendekat ke arahku. Aku reflek langsung mundur.

"Kau takut hm?" Katanya dengan sebuah seringai di wajahnya.

Normal POV
Sasuke semakin mendekat ke arah Hinata, hingga gadis Indigo itu membentur sandaran ranjang yang terbuat dari kayu. Sasuke dengan cepat menarik dagu Hinata, memaksa untuk menatap ke arahnya. Namun, Hinata malah memejamkan matanya, karena ia takut dengan jarak antara dirinya dan Sasuke.

"Kau adalah milikku." Kata Sasuke.

"A-aku bukan mi-milikmu!" Kata Hinata dengan nada agak tinggi, namun terdapat rasa takut pada kalimat yang ia lontarkan.

"Setelah apa yang terjadi semalam, hm?" Sasuke menyeringai.

Hinata menggigit bibir bawahnya. Hal ini malah membuat Sasuke menjadi memperhatikan bibir mungil Hinata. Sasuke memajukan wajahnya lebih dekat ke arah Hinata, memiringkan kepalanya, dan menghapus jarak di antara keduanya. Ia mengecup bibir ranum Hinata. Awalnya hanya kecupan lembut, tetapi lama-kelamaan menjadi lumatan kasar penuh gairah.

Hinata gelagapan dengan tindakan Sasuke. Ia lalu memegang kedua bahu Sasuke, bermaksud mendorong pria itu menjauh. Akan tetapi, dorongan Hinata tak berarti apa-apa bagi Sasuke. Padahal Sasuke hanya punya satu tangan.

Akhirnya Sasuke melepaskan pautan mereka. Menjauhkan bibirnya dengan bibir Hinata. Setidaknya Hinata bisa bernafas lega, namun tak cukup lama, karena detik berikutnya Sasuke malah beralih ke lehernya. Bibir Sasuke menjilat, mengecup, dan menggigit leher jenjang Hinata. Meninggalkan tanda merah kepemilikkan di sana.

"He-hentikan Uchiha-san!" Teriak Hinata.

"Panggil aku Sasuke. Seperti semalam saat kau mendesahkan namaku. Apa perlu aku mengingatkanmu tentang kejadian semalam hm?" Bisik Sasuke erotis tepat di sebelah telinga Hinata.

Perkataan Sasuke sukses membuat Hinata mengingat kejadian semalam. Wajah Hinata menjadi semakin bersemu merah. Sedetik kemudian, Sasuke menggigit ujung telinga Hinata dengan pelan.

"Aaaah!" Desah Hinata.

Sasuke akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Hinata dan mengambil pakaiannya yang tergantung di dinding.

"Ingat, kau adalah milik Uchiha Sasuke." Kata Sasuke membelakangi Hinata lalu berjalan ke arah pintu kamar mandi.

Sasuke memutar gagang pintu dan sedikit menoleh ke arah Hinata yang ternyata kini menatapnya.

"Dan tak akan ada pemuda yang mau dengan gadis yang sudah tak perawan." Kata Sasuke sinis, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.

Mendengar perkataan Sasuke membuat Hinata tersadar, dan menundukan kepalanya. Perlahan, setetes demi setetes cairan bening mulai turun dari sepasang mata indah Hinata, membasahi pipi putihnya. Hinata terisak sambil memeganggi dadanya. Kenapa? Kenapa pemuda itu tega melakukan hal seperti itu pada Hinata? Padahal, selama ini Hinata tak pernah mengusiknya.

Hinata turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai akibat perbuatan Sasuke semalam. Dengan cepat Hinata memakai kembali pakaiannya. Rencananya, setelah selesai berpakaian, ia akan segera pergi kabur dari tempat ini. Melupakan segala hal yang telah terjadi antara dirinya dan bungsu Uchiha itu. Namun, itu hanyalah sebuah rencana. Tepat saat Hinata baru saja selesai berpakaian, Sasuke keluar dari kamar mandi. Kini keduanya saling berpandangan. Onyx bertemu Lavender. Keduanya seakan terhipnotis masuk ke dalam indahnya manik pasangannya. Hinata yang duluan tersadar dari kelamnya Obsidian Sasuke segera menolehkan pandangannya ke arah lain.

"U-uchiha-san." Panggil Hinata. Jujur saja, saat ini ia sangat gugup dan takut dengan Sasuke.

"Sudah kubilang'kan panggil aku Sasuke." Kata Sasuke.

"I-itu..."

"…"

"Bu-bukannya semalam kita be-berada di …" Hinata hendak bertanya perilah lokasi mereka yang saat ini berada di sebuah kamar.

"Setelah kau pingsan aku membawamu ke hotel ini. Dan saat kau sadar kita bercinta lagi dengan lebih liar berkali-kali." Jawab Sasuke yang mengerti dengan kebingungan Hinata.

"E-eh! A-apa?" Hinata sontak kaget Ketika Sasuke mengatakan mereka bercinta lagi. Tapi Hinata tidak terlalu ingat akan hal itu, rasanya samar. Apakah saat di hotel, Hinata merasa tidak sepenuhnya sadar.

"Hn." Hanya dua konsonan ambigu yang Sasuke lontarkan. Tentu Hinata tak mengerti apa artinya.

Sasuke pun berjalan pelan keluar kamar, diikuti Hinata di belakangnya. Hingga keduanya keluar dari penginapan yang beberapa malam ini Sasuke tempati.

"Kau boleh pergi, namun kau tak bisa lari dariku." Ujar Sasuke kemudian mencium kening Hinata.

Sasuke lalu menjauhkan dirinya dengan Hinata. Lalu berlari dengan cepat meninggalkan Hinata yang wajahnya masih memerah.

.

.

.

.

.

Ini gw re-upload sambil ngerapihin ceritanya. Gw sangat berterimakasih karena telah menunggu dan mereview fic Wish. Wish akan gw usahakan sampe tamat kali ini :(( Dan jika berkenan, silahkan mereview fic ini. Karena review, follow, favorite yang kalian berikan sangat berarti untuk kelangsungan fic ini :D

28 Maret 2021, Salam Hangat
Kuro_Mikasa