Naruto © MK | SasuHina | Romance, Drama, & Hurt/Comfort | Canon | MA

Warning : Standard Warning

Saya mengambil kejadian setelah chapter 699, dimana Sasuke pergi keluar dari desa.


.

.

.

.

Wish © Kurosaki Mikasa

Chapter 4

Setelah selesai mengecek keadaan Sasuke, Sakura meninggalkan kediaman Uchiha dan segera kembali ke rumahnya untuk menyiapkan perlengkapannya besok. Dalam perjalanan Sakura berpikir, 'Siapa yang akan menggantikanku ya?'

Di tengah kebingungan, iris Emerald Sakura melihat Hinata yang sedang berada di depan sebuah toko benang.

"Hinata-chan!" Panggil Sakura.

"Heh, ingin membeli apa?" Tanyanya.

"A-ah, tidak. Aku h-hanya melihat saja." Jawab Hinata sambil menundukkan wajahnya.

"Souka ne. Apakah kau besok dan lusa ada kegiatan penting?" Tanya Sakura lagi.

"U-um, tidak ada." Hinata menggeleng.

"Kalau begitu, bisa tidak kau membantuku?"

"Bantu apa?"

"Jadi, karena besok aku akan pergi menjalankan misi. Aku mohon kau menggantikanku melihat keadaan Sasuke-kun selama 2 hari dan melaporkan hasilnya padaku." Terang Sakura.

Mendengar nama Sasuke disebut, raut wajah Hinata berubah menjadi tegang. Padahal, Hinata sudah mulai tenang karena tak melihat Uchiha bungsu itu selama beberapa hari ini. Tetapi, karena mendengar permohonan dari sahabatnya satu ini, Hinata kembali menjadi gusar. Apalagi, Hinata bilang bahwa besok ia tidak ada kegiatan penting. Jadi, alasan apa yang harus Hinata gunakan untuk menolak?

"Hu-um, a-ano Sa–" Hinata hendak menolak namun, perkataanya terpotong oleh Sakura.

"Aku mohon ya? Kalau kau yang melakukannya aku jadi tenang." Sakura memasang tampang memelas penuh permohonan.

"Haah, baiklah." Hinata menghela nafas berat dan merutuki dirinya yang tak bisa menolak. Kau memang terlalu baik Hinata.

"Benarkah? Syukurlah! Aku percayakan padamu, Hinata-chan." Seru Sakura bahagia. Hinata hanya mengangguk lemah.

"Jadi begini, ..." Sakura mulai menjelaskan apa saja yang harus Hinata lakukan.

Dalam hati, Hinata bingung harus bagaimana. Ia sangat tidak ingin bertemu dengan Sasuke, tetapi dia telah terlanjur menyanggupi permintaan Sakura. Apa yang akan kau lakukan Hinata?

.:: Impossible Love ::.

Melangkahkan kaki ke arah dapur saat jam 6 pagi, tiba-tiba Hinata berhenti. Cukup lama merasakan keheningan yang ia ciptakan sendiri, hingga sebuah suara memanggilnya.

"Ohayou, Nee-san." Sapa Hanabi.

Namun yang disapa tak kunjung memberika respon. Hanabi lalu mendekati Hinata yang diam berdiri di depan dapur.

"Nee-san?" Panggilnya lagi.

"E-eh, iya? A-ada apa?" Sahut Hinata yang sepertinya baru sadar dari lamunannya.

"Ini masih pagi lho, tapi Nee-san sudah melamun." Kata Hanabi. Sedetik kemudian Hanabi menyeringai.

"Hmm, pasti Nee-san sedang memikirkan Naruto-nii ya?" Sambung Hanabi dengan nada jahil di dalamnya.

"Mouu, Ha-hanabi-chan!" Seru Hinata dengan wajah merah padam kala teringat dengan pujaan hatinya. Ia pun langsung masuk ke dalam dapur dan menghiraukan Hanabi yang tertawa kecil melihatnya.

"Nee-san mau masak apa?" Tanya Hanabi yang masuk ke dalam dapur.

"Sarapan, dan juga bento untuk makan siang." Jawab Hinata sembari memotong sayuran.

"Bento? Untuk siapa? Naruto-nii?" Hanabi mulai menggoda Hinata lagi.

"Bu-bukan!" Hinata menjawab dengan suara lantang seperti memberi sebuah penekanan.

"Lalu untuk siapa?" Hanabi kembali bertanya.

"A-ano, itu untuk Sasuke-san." Jawab Hinata dengan nada tak rela.

"Heh, apakah hatimu sudah berpindah haluan?"

"A-ah, bu-bukan seperti itu."

"Aih, kau mengakuinya. Kau benar-benar mencintai Naruto-nii ya? Fufufu."

Hinata merah padam saat baru mengetahui bahwa ia terjebak dengan pertanyaan adiknya. Dasar, Hanabi memang sangat suka menggoda Hinata.

"S-sudahlah. Sebaiknya kau membantuku, Hanabi-chan."

.:: Impossible Love ::.

Matahari mulai naik agak tinggi, dan sepasang kaki mungil berdiri tepat di depan pintu rumah Sasuke Hinata sudah membulatkan niatnya untuk datang, namun ketika telah sampai di depan Mansion Uchiha ia berpikir untuk membatalkan niatnya . Apakah Hinata sebegitu takutnya dengan Sasuke? Ayolah ia hanya memeriksa keadaan Sasuke saja. Tidak sulit bukan? Harusnya iya, jika Hinata tak memiliki pengalaman buruk dengan bungsu Uchiha itu.

"Masuk." Terdengar suara dari dalam rumah. Hinata yakin itu adalah suara Sasuke.

"Pe-permisi." Hinata melangkahkan kakinya memasuki rumah Sasuke. Bangunannya sedikit mirip dengan Mansion Hyuuga yang bergaya tradisional Jepang.

"Jadi, kau yang menggantikan Sakura?" Tanya Sasuke setelah mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

"Ha'i." Jawab Hinata.

"Hn." Gumam Sasuke yang tengah duduk sembari membersihkan kusanagi kesayangannya.

"A-ano, Sasuke-san. Bu-bukannya tangan kirinya belum boleh digunakan?" Tanya Hinata.

"Terserah." Jawab Sasuke ketus.

"Ta-tapi, bagaimana k-kalau tangan kiri Sasuke-san ada apa-apa?" Hinata masih memperingati Sasuke.

Sasuke menghentikan aktivitasnya, ditaruhnya pelan kusanagi itu di atas tatami. Beranjak dari tempat duduknya dan perlahan mendekati Hinata, hingga jaraknya dan Hinata hanya tinggal selangkah.

"Jika ada apa-apa, kau yang akan tanggung jawab bukan?" Kata Sasuke diiringi sebuah seringai.

Hinata diam membatu. Terlihat jelas dari mimik wajah Hinata, bahwa ia sedang takut. Melihat seringai Sasuke, mengingatkannya akan kejadian yang sangat ingin ia lupakan. Hinata segera berbalik hendak meninggalkan Sasuke. Namun, dengan cepat Sasuke menarik lengan Hinata.

"Tunggu! Apa kau mau lari dari tanggung jawabmu sekarang?" Tanya Sasuke dengan nada menuduh.

DEG!

Benar. Sakura telah mempercayakan hal ini pada Hinata, dan Hinata bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab bukan? Tentu bukan. Hinata akan melaksanakan amanah dari Sakura.

"Ti-tidak akan." Jawab Hinata sambil menggelengkan kepalanya.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Tanya Sasuke lagi.

"A-aku tahu." Jawab Hinata.

"Kalau begitu lakukanlah." Kata Sasuke.

Sasuke POV
Mendekatiku dengan sebuah kotak medis, Hinata lalu duduk tepat di depanku. Kuperhatikan dirinya. Kulitnya yang putih, pipinya yang merona secara alami, matanya yang melirik sedikit ke arahku, serta bibirnya yang sedikit ia gigit. Damn! Dia terlalu menggemaskan! Ah, bukan. Lebih tepatnya menggoda.

Saat Hinata menyentuh lenganku, dapat kurasakan kehangatan dan kelembutan darinya. Entah itu benar, atau hanya opiniku saja. Tetapi, sel ini sepertinya memang telah menyatu sempurna dengan selku.

Perlahan ia lepaskan lilitan perban yang ada di lengan kiriku. Lalu mengoleskan obat dan melilitnya kembali dengan perban yang baru. Setiap sentuhnnya benar-benar memabukan. Ck, sial! Aku sangat ingin menyerangnya sekarang!

"A-aku sudah selesai mengganti perbannya." Katanya.

"Hn." Responku singkat.

Ia pun bangkit dan mengambil sebuah kotak yang kutebak adalah bento.

"U-um, Sakura-san bilang untuk membawakan makanan. J-jadi, aku membuatkanmu b-bento." Katanya sembari menyodorkan kotak bento itu.

Kuterima kotak bento itu dan meletakannya di atas meja bulat berkaki pendek di sebelahku. Segera kubuka kotak itu, mengingat sekarang waktunya makan siang. Hinata mengambil kotak bento yang lain dan membukanya.

"Ittadakimasu." Seruku dan Hinata bersamaan.

Lain Sakura, lain juga Hinata. Jika biasanya Sakura hanya melihatku makan tepat di seberang meja, Hinata justru ikut makan, hanya saja ia memilih duduk berjauhan denganku.

Mengambil nasi dan lauk dengan sumpit, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyah, dan meresapi rasa yang berada dalam mulut. Enak! Sungguh! Selain masakan Kaa-san, bento yang Hinata buat sangat enak.

"Gochisousama." Seruku, meletakan sumpit, menyudahi acara makan siangku.

"B-bagaimana ra-rasanya?" Tanya Hinata yang mengambil kotak bento yang telah tandas isinya.

Kenapa setiap perempuan selalu menanyakan rasa dari hasil masakannya kepada orang yang memakannya? Apakah komentar orang yang memakannya itu penting?

"Lain kali perbanyak tomatnya." Komentarku, dan Hinata hanya mengangguk.

Setelah membereskan peralatannya, Hinata pamit pulang.

"S-Sasuke-san, a-aku pulang dulu. Nanti sore aku akan datang lagi." Katanya sebelum menutup pintu depan.

Normal POV
Seperti yang Hinata katakan, ia kembali saat sore hari. Membawakan Sasuke makan malam. Hinata bersyukur karena tidak terjadi apa-apa siang tadi, dan ia berharap malam ini juga demikian. Ya, itu hanya harapanmu Hinata. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

"Permisi" Hinata memberi salam sebelum memasuki kediaman Sasuke.

Tidak mendapat jawaban dari pemilik rumah, Hinata kemudian mencari sosok Sasuke. Hinata mendapati pemuda berambut raven itu baru keluar dari sebuah ruangan yang ia yakini kamar pemuda itu.

"A-aku membawakan ma-malam." Kata Hinata sembari meletakan makanan yang ia bawa di atas meja bulat berkaki pendek di depannya.

"Aku akan memakannya nanti, setelah menyiapkan air hangat untuk mandi." Kata Sasuke hendak memasuki kamar mandi.

"..."

Setelah meyiapkan air hangat, Sasuke melangkah mendekati meja bulat tersebut. Mengambil tempat duduk di depan kotak makanan yang Hinata bawa, lalu membuka kotak makanan tersebut. Seperti yang Sasuke minta sebelumnya, Hinata membawakan makan malam berupa nasi yang dicampur dengan tumisan tomat. Tak lupa ia juga membuat ayam kaarage, dan tumis sayur brokoli wortel.

Terdiam tanpa gerakan, membuat Hinata bingung dengan Sasuke.

"A-ada apa?" Tanya Hinata.

"..."

"Ap-pa S-sasuke-san tidak suka?" Tanya Hinata lagi dengan nada ketakutan.

Sasuke masih terdiam dan kini menatap Hinata dalam. Yang ditatap menjadi semakin bingung dan gelisah. Sasuke menghela nafas berat lalu mengambil sumpit. Setelah mengatakan 'Ittadakimasu' Sasuke memulai acara makan malamnya.

Sasuke membatin, bahwa masakan Hinata memang sangat lezat.

"Hyuuga, kau tidak makan?" Tanya Sasuke ditengah kegiatan mengunyahnya.

"E-eh, aku s-sudah makan." Jawab Hinata gugup.

"So'u"

"N-nani?"

"Nandemo nai."

"..."

"…"

Tak ada yang bersuara lagi, dan Sasuke melanjutkan makan malamnya dengan tenang.

"Gochisousama." Sasuke meletakan sumpitnya.

Setelah meminum ocha yang tadi dibuat Hinata, pria bermanik jelaga itu bangkit dari posisinya dan melangkahkan tungkainya ke kamar mandi. Sedang wanita bermanik pearl membereskan peralatan makan yang selesai digunakan oleh si pria.

Hinata yang sibuk dengan kegiatannya menyiapkan peralatan medis di atas tatami menurunkan kewaspadaanya, sehingga ia tak menyadari bahwa Sasuke perlahan mendekatinya. Jarak mereka hanya selangkah ketika Hinata mencium aroma citrus segar dari belakangnya. Dan saat Hinata hendak berbalik–

GREEP!

Tiba-tiba Sasuke memeluknya dari arah belakang. Hinata dapat merasakan pelukan hangat dari Sasuke. Deru nafas Sasuke menggelitik leher dan telinganya sangat teratur. Hinata sangat panik ketika menyadari Sasuke hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

"Sa-sasuu-ke-san?" Panggil Hinata gagap.

"Hn, biarkan seperti ini dulu." Sasuke memejam matanya.

"A-apa kau ti-tidak kedinginan?" Tanya Hinata.

Memang benar bahwa suhu memang turun saat malam hari.

"Khe, kau tahu bahwa aku selalu merasa terbakar bila bersamamu." Jawab Sasuke sembari mempererat pelukannya.

"Lagipula, sudah lama aku tak 'menyentuhmu' bukan?"

Sasuke mulai menurunkan resliting jaket Hinata, hingga jaket putih-lavender itu tanggal dari tubuh sintal Hinata. Beruntung Hinata masih mengenakan kaos lengan panjang, ia segera berontak berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Sasuke. Tentu saja percuma, mengingat bahwa tenaga Sasuke berkali-kali lebih besar darinya, apalagi saat ini Sasuke memiliki tangan yang lengkap. Sasuke langsung merobek kaos lengan panjang yang Hinata gunakan, jadilah tubuh Hinata hanya terbalut oleh bra putih dan celana panjang.

Pelan Sasuke meremas payudara Hinata. Membuat pijatan-pijatan tersendiri yang memabukkan.

"Ngghh!" Erangan Hinata bagai pemicu Sasuke untuk lebih bersemangat.

Setelah menarik bra putih Hinata ke atas, Sasuke segera mengulum puting payudara yang telah mengeras itu. Rakus layaknya seorang bayi yang tengah menyusu, Sasuke juga memainkan payudara Hinata yang lain dengan kasar.

"Ngguh! Akh– " Desah Hinata saat Sasuke menggigit putingnya.

"S-saakit Sa-sh– "

Tak menghiraukan perkataan Heiress Hyuuga, bungsu Uchiha itu terus melakukan aksinya. Lidah tak bertulang itu terus melumuri payudara besar Hinata dengan saliva.

Cium.

Jilat.

Kulum.

Gigit.

"Aah... uummm aghhh! Oh!"

"Ouch! Uuhhhh... ah ah ahhh"

Tangan kanan Sasuke dengan lihai bermain di atas payudara Hinata. Betapa ahli Sasuke memanjakan payudara wanita. Caranya memelintir puting itu membuat semua wanita akan keenakan dan ingin minta lagi. Percayalah, karena hal itu yang kini Hinata rasakan.

Cubit.

Tarik.

Tekan.

Remas.

"Hah, haa-ah!"

"Yaa-yamette, ghhh!" Hinata berusaha mendorong Sasuke menjauh, namun tangannya seolah jeli, lemas.

Sasuke kini menciumi bibir Hinata. Berawal kecupan menjadi lumatan kasar yang penuh dengan nafsu. Dari bibir lalu ke pipi, hidung, mata dan telinga. Tak ada satu bagian wajahpun yang Sasuke lewatkan. Seakan tak pernah puas untuk mencumbu Hinata, tangan kanan pria itu menekan bagian belakang surai Indigo, menyampingkan wajahnya agar dapat memperdalam ciumannya. Lidahnya mulai masuk dalam mulut Hinata menuntut untuk meminta balasan.

Sembari terus melumat bibir mungil Hinata, Sasuke mengangkat tubuh Hinata dan memindahkannya ke atas Futon hangat di kamarnya.

"Hoosh, hosh." Deru nafas Hinata tak karuan. Entah sudah keberapa bibirnya bertemu bibir Sasuke.

Sungguh Hinata tak bisa menolak, karena ada sesuatu di dalam dirinya yang menginginkan itu. Dan tiap kali Sasuke menyentuhnya, hati Hinata berdebar tak karuan. Gila.

"Sas-sukeeh, cukuup." Lirih Hinata.

"Cukup? Aku belum selesai."

Dengan cekatan Sasuke melepaskan celana beserta celana dalam Hinata. Melihat bagian bawah Hinata yang sudah basah, tanpa babibu lagi Sasuke langsung memasukkan lidahnya ke dalam vagina Hinata.

"Ugghh... ah... Sas-su!"

Sasuke terus mendorong lidahnya masuk, mengobrak-abrik liang Hinata.

"geeeh.."

"Uhh..."

"Ah.. ah.. ah"

"A-aku, ke-eluar, AAHHHH!" Jerit Hinata saat ia klimaks.

Air cinta mengalir dari lubang Hinata. Sasuke langsung menjiilati cairan tersebut, seperti membersihkan vagina itu.

"Kau manis, dan sangat lezat." Sasuke berbisik pelan ke arah telinga Hinata.

Tak tahan dengan gejolak nafsu dan hidangan yang disuguhkan, Sasuke langsung melepaskan handuk yang melilit pinggangnya. Penisnya telah tegak sempurna siap bertempur. Awalnya Sasuke mendekatkan ujung penisnya ke vagina Hinata. Memutarnya, mencari sensasi yang dirasa.

Pelan, Sasuke mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang senggama Hinata. Sulit sekali, karena lubang itu sangat rapat. Dapat Sasuke pastikan bahwa Hinata tak pernah melakukan seks kecuali dengannya.

"Haaaah! Sa-sasukeeeh... hentikan!" Cegah Hinata.

"Se-sedikit lagi uggh!" Sasuke terus mendorong batangnya agar dapat terus masuk ke dalam Hinata.

Merasa sudah cukup dalam, Sasuke mencabut penisnya dan memasukkannya kembali dengan cepat hingga menyentuh dinding rahim Hinata.

"Hiyaaaaaaaah! Sasukeeeh!" Jerit Hinata saat merasakan benda tumpul membentur dinding rahimnya. Rasanya sangat sakit ditusuk benda tumpul yang keras.

Sasuke mendiamkan penisnya beberapa saat di vagina Hinata, merasakan kenikmatan dunia. Sementara itu, deru nafas Hinata sirat akan kelelahan terus berhembus. Perlahan Sasuke mulai menggerakkan batangnya.

"Ghee uh!"

Desah Hinata seakan membuat libido Sasuke semakin terbakar. Pria itu membuat gerakkan maju mundur beraturan. Lama kelamaan gerakkan maju mundur penis Sasuke semakin cepat dan kasar. Alih- alih sedikit lagi ia akan mencapai klimaksnya, Sasuke memlilih untuk lebih lama menikmatinya sebelum ia keluar. Bibir Sasuke langsung menyambar bibir mungil Hinata. Melumatnya kasar.

"Buka mulutmu." Titah Sasuke.

Tanpa berpikir lagi, Hinata segera membuka mulutnya.

"Keluarkan lidahmu."

"Balas ciumanku."

Segala perintah Sasuke langsung Hinata lakukan. Entahlah, rasanya seperti hal ini yang harus Hinata lakukan.

Lidah Sasuke mengobrak-abrik mulut Hinata. Menjauhkannya, lalu melumatnya kembali. Sering terjadi pertemuan antara dua lidah mereka. Begitu penuh kejutaan. Begitu sensasional. Begitu bergairah. Naluri, tanpa komando apapun, kedua tangan Hinata melingkari leher pria bersurai raven itu. Hinata meremas surai gelap Sasuke. Saat Sasuke memperdalam ciumannya, maka remasan Hinata juga akan semakin kuat.

'Semakin cepat dan kasar.' Hinata membantin ketika Sasuke menambah tempo gerakkan penisnya.

"Auugh aaah~"

Hinata kesakitan ketika buah zakar Sasuke menabarak bibir vaginanya.

CLOP!

CLOP!

CLOP!

CLOP!

Hanya suara gesekkan kedua kelamin yang saling bertabrakkan serta desahan dan erangan seorang wanita yang memenuhi kamar bergaya tradisonal tersebut.

"Sas-suuuh-keeeh, a-aku m-mau ke-e" Hinata tak tahan. Wajahnya terlihat merah dan tegang.

"Ssedi-kit laagih! –Ugh!" Sasuke juga sebentar lagi akan mencapai klimaksnya.

"Ahh!"

"Nggeuhh~"'

"Teriakan namaku saat kau keluar."

"Sas-suh uuh!"

"Saass"

Sasuke semakin cepat menggerakan penisnya.

CLOP!

CLOP!

CLOP!

"Sial! Akan kukeluarkan di dalam." Sasuke merasakan batangnya berdenyut hendak mengeluarkan cairannya.

"Ja-jangan keluarkan di-di-!" Hinata bersuaha memohon agar Sasuke mencabut keluar penisnya yang besar itu. Namun, terlambat.

CROOT!

CROOT!

CROOT!

"SAAS... SSSUUH...KEEEEH!" Jerit Hinata

Dengan sekali hentakan terakhir yang sangat kuat, mereka berdua mencapai klimaksnya.

Hinata merasakan kehangatan membanjiri rahimnya. Sasuke menyemprotkan banyak sperma tepat di dalam rahim Hinata. Terlalu banyak, sehingga beberapa mengalir keluar. Sasuke masih mendiamkan penisnya yang baru saja mengamuk di dalam vagina Hinata.

Tak ada respon, hanya deru nafas yang sesak. Tak lama setelah itu, Sasuke mendengar isakan kecil.

"Hiks... hiks..."

Isakan itu begitu pelan namun terdengar sangat pilu. Sasuke mencabut penisnya keluar dari lubang Hinata dan menoleh ke arah wajah Hinata.

"Ssst... " Sasuke berusaha menenangkan Hinata yang terisak.

"Ke-kenapa kau melakukan hal itu pa-padaku, hiks?" Tanya Hinata di selah isak tangisnya.

"Karena aku menginginkannya." Jawab Sasuke sembari memeluk tubuh polos Hinata.

"T-tapi kita bukanlah pa-pasangan."

"Aku tidak bisa terikat dalam suatu hubungan."

"Se-seharusnya kau tidak melakukan hal itu."

"Aku tahu."

"…"

Tidak ada percakapan lagi di antara kedua anak adam yang sama-sama polos itu. Hinata sudah tertidur karena kelelahan dengan aktivitas panasnya dengan Sasuke. Sedangkan Sasuke masih betah mencium aroma tubuh Hinata.

.:: Impossible Love ::.

Tubuh polos itu menggeliat di atas futon. Perlahan kelopak mata itu terbuka, menampilkan sepasang iris pearl. Hinata memiliki kebiasan untuk bangun sebelum matahari terbit. Ia mengerjapkan mata dan merasakan ada tangan yang memeluk erat pinggangnya. Hinata ingat betul kejadian semalam yang ia lakukan bersama pria yang tengah memeluknya. Hinata tak dapat berbohong bahwa sebenarnya ia menikmati permainan panas mereka. Namun, ia terlalu malu dan bingung dengan perasaannya sendiri.

Gadis itu mengangkat tangan yang berada di pinggangnya dan bangun dari futon. Sebelum pergi keluar kamar, Hinata menatap wajah tidur Sasuke di sampingnya. Ia pun mencari-cari pakaiannya dan segera menggunakannya.

Kaki Hinata melangkah ke arah dapur untuk membuat makanan sebagai sarapan pagi untuknya dan Sasuke. Jemari lentik itu terampil sekali dalam mengolah bahan makanan.

Aroma sedap dari arah dapur membangunkan Sasuke dari tidurnya. Pemuda itu segera memakai kaos hitam polos serta celana pendek yang berada di Oshiire. Ketika melangkah menuju meja makan, Sasuke melihat Hinata yang meletakan sarapan di atas meja. Sasuke pun mendekat dan melihat semangkuk nasi nori dan sepiring tamagoyaki di sampingnya.

Hinata yang melihat Sasuke telah duduk, menarik bangku di depan Sasuke dan segera duduk. Hinata mencoba bersikap senormal mungkin, walaupun hatinya saat ini berdegup kencang Mereka berdua akhirnya malam dalam keheningan.

Setelah selesai makan, Sasuke meletakan sumpit yang ia pakai. Ia menatap Hinata yang masih memakan sarapannya.

"Hyuuga." Panggil Sasuke.

Hinata hanya menoleh dan menatap Sasuke.

"Ikutlah bersamaku." Ucap Sasuke lagi.

"Ha-haah? A-apa maksudmu?" Hinata bingung dengan perkataan Sasuke yang tiba-tiba.

Sasuke menghelah nafas dan membereskan peralatan makan yang telah ia gunakan. Hinata yang bingung akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sarapannya.

.

.

.

.

Gw sangat berterimakasih karena telah menunggu dan mereview fic Wish. Wish akan gw usahakan sampe tamat kali ini :(( Dan jika berkenan, silahkan mereview fic ini. Karena review, follow, favorite yang kalian berikan sangat berarti untuk kelangsungan fic ini :D

05 April 2021, Salam Hangat
Kuro_Mikasa