Disclaimer

Nor even wish
Masashi Kishimoto-sama

COMIC

©LONGLIVE AUTHOR

Fic ini terinspirasi dari film COMIC 8 dari ANGGY UMBARA.

WARN : Penggunaan bahasa yang kasar dan kotor. Rated bisa berubah sewaktu-waktu.

CHAPTER 1

Konyol dan menggelikan

.

.

Apa kau percaya kalau agen rahasia itu ada?

.

.

Pagi itu Sakura keluar dari kamarnya dengan lesu. Setelah kejadian kemarin malam yang benar-benar tidak ia duga. Naruto mengajaknya berkeliling sampai matahari tenggelam sebelum mengantarkannya ke asrama wanita. Setelah Naruto meninggalkannya ia membuka pintu kamar dengan kunci yang di berikan Tenten si Ketua Pemandu Sorak. Ia sangat kaget ketika melihat seorang pemuda dan seorang gadis sedang...Ugh! Entahlah Sakura sendiri tidak mau mengingatnya. Mereka berdua bergelung dalam satu ranjang yang sama dalam satu selimut. Bahkan Sakura tidak bisa membedakan yang mana tangan si laki-laki dan yang mana tangan si perempuan. Hampir saja ia meniup peluit anti-pemerkosaan yang diberi oleh Tenten sebelum gadis itu berhenti dan menyuruh Sakura berhenti.

Sekarang Sakura benar-benar mengerti kenapa sekolah ini memberi sebuah peluit untuk siswinya. Anak muda jaman sekarang benar-benar gila—pikirnya. Gadis itu bernama Ino, dia adalah teman satu kamar Sakura dan dengan tanpa dosanya dia meminta maaf seolah tak terjadi apapun disana. Semalaman Sakura harus menahan mual karena mengingat adegan itu.

Pagi itu Sakura diantar oleh seorang guru untuk menuju kelasnya untuk memperkenalkannya sebagai murid baru.

"Selamat pagi semuanya!" Sapa seorang guru cantik bernama Kurenai Yuuhi.

"Pagi..." Balas para murid.

"Hari ini kita kedatangan murid baru, dia baru saja tiba di Konoha. Kuharap kalian bisa memperlakukannya dengan baik." Ujar sang guru pada intinya. Sakura masuk kedalam kelas dengan rambut sebahunya yang disisir rapi. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang nampak kusut karena kurang tidur.

"Sakura Haruno." Ujarnya singkat tanpa mengatakan apapun. Sebagian besar tak terlalu antusias dengan kedatangan murid baru. Namun beberapa ada yang menatapnya dengan tatapan sebal, bahkan ada seorang siswa yang menatap dengan tatapan seakan ingin memakannya hidup-hidup.

Tatapan Sakura berhenti pada pemuda jabrik dengan rambut pirang menyakitkan mata yang sedang tersenyum lebar kearahnya. Bangku sebelahnya kosong sudah pasti dia akan duduk disana karena tak ada bangku kosong yang lain. Lalu Sakura menatap siswa yang duduk di sebelah Naruto. Pemuda itu adalah Sasuke yang saat ini juga tengah menatapnya. Sakura tidak tahu apa arti dari tatapan itu. Yang pasti pemuda itu memakai topeng andalannya. Wajah datar yang dingin. Lalu bergeser pada seseorang yang duduk disebelah Sasuke, gadis berambut pirang platinum panjang dengan tatapan sangat angkuh. Sepertinya dia adalah tipe penindas. Dia adalah gadis yang menggelayut manja di tangan Sasuke kemarin sore. Hebat!—umpat Sakura.

"Silahkan duduk dibangku yang kosong, Haruno." Ujar sang guru. Gadis itu berjalan melewati beberapa meja lalu duduk disebelah Naruto yang persis seperti perkiraanya.

" Ini hebat bukan? Kita duduk bersebelahan Sakura." Kata Naruto riang.

"Memang seharusnya begitu,kan?" balas Sakura.

"Ayolah jangan begitu. Aku kan masih merindukanmu."

"Berhenti bersikap seperti anak kecil Naruto." Kata Sakura.

"Kita memang masih muda,kan?" ujar Naruto dengan tatapan jahil. Sakura mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto.

"Umur kita sudah dua puluh tahun dan dipaksa untuk menjadi anak SMA. Hal ini sangat menggelikan!" bisik Sakura tajam.

"Terimalah Sakura, kita masih terlihat muda. Kita awet muda." Balas Naruto santai.

"Tutup mulutmu payah! dan kau masih berhutang penjelasan padaku!"

Bel istirahat berdering. Sejauh ini untunglah Sakura masih ingat dengan semua pelajaran SMA terlebih lagi dia adalah orang yang cerdas. Jadi tidak terlalu sulit untuk sekarang. Sakura segera menyeret Naruto menuju kantin setelah ia merasa gerah melihat Sasuke dengan gadisnya keluar dari kelas.

"Sekarang jelaskan padaku!" paksa Sakura menyeruput jus jeruknya.

"Jelaskan apa Sakura?" tanya Naruto.

"Apa yang kau dan Sasuke lakukan di Grand Konoha Building dua hari yang lalu?" tanya Sakura dengan suara rendah.

"Tentu mengerjakan tugas kami Sakura. Memangnya apa lagi? Kami mengambil sidik jari orang kaya itu. Kami mengambil sidik jari Toneri Ootsutsuki." Jawab Naruto santai. Sedangkan Sakura menatap sahabatnya itu dengan pandangan—Yang benar saja?

"Kau menyandra enam puluh empat orang, mengancam untuk membunuh sandra, dan membuang banyak peluru hanya untuk mengambil sidik jari seorang pengusaha kaya bernama Toner Ootsutsuki itu? Kau adalah orang paling tolol yang ku kenal!" ketus Sakura.

"Memangnya kenapa? Kalau kau tahu seperti apa rumahnya, rumahnya seperti penjara! Penjaga dan alarm dimana-mana, password, sensor retina, sinar laser. Rumah itu lebih cocok dijadikan rumah pribadi presiden. Untuk apa susah-susah kalau dia akan berada di Grand Konoha Building malam itu? Harusnya dia menyewa tukang santet kalau tidak mau dijahati oleh seseorang." Jelas Naruto panjang lebar.

"Kau membuang amunisi dengan percuma. Apa kau tidak tahu berapa harga peluru dipasaran. Sangat mahal! Kau itu boros sekali, dan kau tahu apa yang mereka bilang? Mereka bilang 'Badut Sirkus gila masuk kedalam tempat pelelangan dan menyandra puluhan orang tanpa ada tujuan yang jelas.'" Tegas Sakura.

"Memangnya bagaimana cara kalian mendapatkan sidik jarinya?" tanya Sakura lagi.

"Haha...kami hanya menyuruhnya untuk memegang botol gelas dengan begitu kami mendapatkan sidik jarinya." Naruto nyengir lebar. Sedangkan Sakura memukul jidatnya sendiri. Ia tak habis pikir untuk hal sesederhana itu Naruto harus menyandra orang satu gedung.

"Lagipula Sakura, aku benar-benar tidak tahu kalau kau yang akan datang malam itu. Aku sungguh tidak percaya." Pandangan pemuda itu melembut seketika.

"Aku juga tidak tahu kalau itu kalian Naruto. Aku hampir saja menangis. Sudah lima tahun kita tidak bertemu." Ujar Sakura yang juga sudah melupakan kejengkelannya pada Naruto.

"Ya...lima tahun..." sambung Naruto.

Tap tap tap!

Terdengar suara langkah kaki yang mendekati mereka. Mereka berdua menoleh. Berdirilah seorang pemuda tampan itu dengan gadis yang setia berada disebelahnya. Pandangannya datar namun entahlah, pemuda itu sulit sekali ditebak. Sedangkan si gadis pirang platinum itu tampak sebal.

"Sasuke..."

Tiba-tiba saja pemuda itu mengulurkan tangannya.

"Lama tak jumpa." Singkatnya dan hal itu mengundang banyak tatapan iri atau bahkan banyak sekali tatapan membunuh.

Sebenarnya Sakura sangat enggan melihat pemuda itu walaupun ia sangat merindukannya. Hatinya sudah hancur ketika pertama kali melihat pemuda itu menggandeng perempuan lain. Gadis itu menghela napas sejenak lalu balas menatap si bungsu Uchiha itu.

"Ya, lama tak jumpa."

Entah hanya perasaanya saja atau Naruto memang melihat sebuah percikan api kecil di mata Sakura. Gadis itu menjabat tangan Sasuke yang terasa...dingin. Setelah beberapa detik mereka melepaskan jabatan itu secara bersamaan. Lalu dengan dinginnya pasangan itu berbalik dan pergi dari hadapan mereka. Seketika pandangan Sakura meredup.

"Malam itu, dia tak mengatakan apapun. Dia tak mengatakan apapun ketika kita bertemu di Grand Konoha Building. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan." Kata Naruto dengan nada bersalah.

"Tak apa, mungkin semuanya memang sudah berubah. Aku tidak peduli, aku akan bersikap profesional. Mungkin akan sulit untuk melupakan Sasuke. Tapi sepertinya aku akan menikmatinya sampai Sasuke kembali padaku atau aku berhasil melupakannya." Kata Sakura berusaha tegar.

"Sakura, apa kau yakin?" tanya Naruto tak percaya, ada rasa sedih dimatanya.

"Kita sudah dewasa Naruto. Mungkin tidak sebagai orang yang kucintai. Tapi Sasuke dan kau adalah pria-ku yang aku banggakan. Tak ada yang bisa mengubah itu." Jawab si gadis. Sakura menenggelamkan kepalanya di dada tegap Naruto, menyesap harum tubuh pria-nya yang menenangkan. Itulah kenapa Naruto sangat menyayangi Sakura lebih dari apapun. Ia tidak peduli seluruh penghuni kantin menatap mereka dengan tatapan iri bahkan termasuk Sasuke dan gadis-nya. Dia adalah wanita kuat yang patut dicontoh. Naruto meletakkan dagunya dipuncak kepala Sakura dan mengusap rambut merah mudanya penuh kasih sayang.

"Oke!" Naruto melepaskan pelukannya dan merangkul Sakura. "Sampai kau bisa melupakan Sasuke atau sampai Sasuke kembali padamu aku akan memberikan banyak cinta untukmu. Kita rajut kisah cinta ini menjadi sebuah puisi yang indah dan menjadi legenda tentang cinta suci kita. Kau boleh menganggapku kekasihmu Sakura. Kau tidak usah sungkan." Naruto nyengir lebar. Bicaranya sudah mulai melantur. Sakura tersenyum.

"Bodoh seperti biasa!"

Tiba-tiba Naruto menatapnya serius.

"Oke Sakura! Sekarang kau harus mendengarkan aku. Banyak hal yang ingin aku beritahu padamu!"

.

.

-Mission Impossible Theme Song – Played-

.

.

" Dengarkan aku Sakura, ada beberapa orang yang harus kau perhatikan disini. Aku masih belum tahu informasi seutuhnya tentang mereka. Tapi entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang tidak kita ketahui."

"Maksudmu apa Naruto?"

"Ada sesuatu yang orang-orang ini sembunyikan."

"Oke aku mendengarkanmu!"

"Kau melihat orang itu? Namanya Shikamaru Nara, dia orang yang paling malas dikelas. IQ-nya mencapai 200, dia adalah orang paling pintar disekolah ini."

"Apa masalahnya?"

"Dengan IQ seperti itu, dia seharusnya sudah menjadi Profesor Sakura. Aku pernah menemukannya merokok diluar sekolah dan sedang berada disebuah Casino belum lama ini. Itu sudah jelas dilarang. Lalu dia itu adalah ahli software yang sangat hebat. Aku sering melihatnya berkutat dengan laptopnya sambil berpikir keras. Sepertinya dia sedang membuat sesuatu."

"Lalu?"

"Lalu laki-laki gendut itu! Dia Chouji Akimichi. Dari luar dia tampak biasa dan baik hati, tapi aku juga pernah menemukannya membawa sekantung obat-obatan."

"Apa narkoba?"

"Aku belum yakin. Sekarang gadis bernama Ino Yamanaka."

"Yeah, dia teman sekamarku."

"Dia sering sekali membawa laki-laki ke kamarnya."

"Aku tahu itu!"

"Tidak hanya siswa, dia juga pernah membawa beberapa guru ke kamarnya."

"Apa?!"

"Itu tidak wajar. Selanjutnya Kiba Inuzuka. Diam-diam dia mempunyai anjing dikamarnya, aku pernah melihat anjingnya berlari dari taman belakang sambil membawa sebuah kotak di mulutnya. Lalu Shino Aburame."

"Pemuda yang bersamamu waktu aku pertama kali datang?"

"Tepat! Dia laki-laki yang aneh. Asal kau tahu dia adalah seorang penembak yang andal. Aku pernah melihatnya berlatih di sebuah arena latihan menembak. Tapi ketika aku tanya dia bilang dia sama sekali tidak bisa. Dia berbohong."

"Lalu?"

"Lalu Hinata Hyuuga, err—sebernarnya aku tidak terlalu memperhatikannya. Dia sangat pemalu tapi aku sering melihatnya berbicara serius dengan Shino. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu."

"Kurasa dugaanmu belum cukup kuat Naruto."

"Ada satu lagi. Aku pernah menyusup keruang kepala sekolah untuk mencari data orang-orang ini karena aku tidak yakin dengan data yang ada diruang penyimpanan. Apa kau tahu Sakura? Semua data dari orang-orang ini disamarkan! Disana tertulis kalau mereka sudah bersekolah disini dari awal tahu ajaran baru. Tapi kenyataanya tidak, mereka sama sepertimu, seperti kita. Mereka murid pindahan."

"Kalau begitu ini bukanlah sebuah kebetulan."

"Ya, tapi lebih baik kita cari tahu tentang ini nanti. Karena malam ini akan ada yang akan kita lakukan!"


Malam itu waktu hampir menunjukan pukul sembilan malam. Teman satu kamar Sakura Ino sedang bersiap siap untuk tidur. Sedangkan Sakura sedang menunggu Naruto.

"Wah, kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Ino.

"Aku ada janji dengan temanku, kami mau beli sesuatu." Jawab Sakura.

"Oh jadi Naruto itu benar-benar pacarmu?"

"Apa maksudmu? Tentu saja bukan."

"Ya ampun seantero sekolah sudah mengira kalau kau berpacaran dengan Naruto si jabrik itu. Di kantin tadi kalian sangat dekat sekali kalian membuat semua orang iri tahu." Uja Ino sambil menggosok kuku-kukunya.

"Tidak, tidak. Naruto itu temanku sejak aku masih sangat kecil. Sudah lama kami tidak bertemu. Tidak mungkin aku dengan Naruto. Kami bahkan pernah mandi dan tidur bersama." Ujar Sakura enteng. Sedangkan Ino menatap Sakura tak percaya.

"T-tentu saja waktu kami masih kecil." Ralat Sakura.

Tok, tok, tok!

"Ah itu dia datang. Aku pergi dulu." Kata Sakura.

"Oh ya, jam malam berlaku dari pukul sepuluh malam. Jangan sampai lebih dari jam sepuluh. Tidak baik jika kalian ketahuan petugas." Katanya memperingatkan.

"Baiklah, terima kasih."

Sakura membuka pintu kamarnya dan ia sangat kaget ketika Naruto menarik lengannya dan membawanya berlari keluar asrama.

"Ada apa Naruto?" tanya Sakura sesampainya mereka diluar.

"Gawat! Gawat! Gawat!"

"Gawat apa?:"

"Shino terus mengikutiku kemana-mana! Dia terus mengajak ku untuk mengerjakan tugas kelompok kami yang belum selesai. Untung sekali aku bisa kabur darinya utuk sementara."

"Itu salahmu karena tidak mengerjakan tugas, bodoh! Memangnya kenapa sih? Kau kan tinggal kabur saja." Tanya Sakura.

"Tidak bisa Sakura! Dia akan mencariku sampai kemanapun. Kalau dia bertanya pada murid yang lain. Mereka akan curiga dan kita akan ketahuan petugas kalau kita keluar pada jam malam." Ujar Naruto.

"Lalu bagaimana?"

"Pengirimannya tidak bisa dibatalkan. Kau akan pergi dengan Sasuke!"

"Apa?! Tapi—"

"Ingat Sakura! Kau harus profesional!" Sakura tidak bisa mengelak. Akhirnya dia hanya diam.

"Oke, Sasuke akan menjemputmu di gerbang depan. Kau tunggu saja disana."

Saat itu mereka berpisah. Naruto kembali untuk mengerjakan tugasnya dengan Shino dan Sakura pergi ke gerbang utama untuk menunggu Sasuke. Sebenarnya Sakura sendiri sedikit tegang. Mungkin sudah lama ia tidak berbicara dengan Sasuke. Belum lagi pemuda itu adalah pemuda yang amat dia cintai. Tapi seketika perasaan itu hilang ketika ia ingat dengan perempuan yang digandeng oleh Sasuke.

"Hentikan Sakura! Sasuke sudah berubah! Jadilah profesional. Kau bukan anak kecil lagi!" Ujarnya tajam pada dirinya sendiri.

Ia sudah sampai digerbang. Gerbang itu sepi dan ia melihat sebuah mobil baru saja datang melewati gerbang itu. Ia tidak bisa melihat siapa pengemudinya karena mobil itu menggunakan kaca satu arah. Namun ketika mobil itu melewati dirinya Sakura bisa meihat siapa didalamnya karena jendela depan dibuka. Dibangku sebelah supir ada seorang pria dengan rambut dengan style Bruce Lee sedang tertidur pulas dengan sedikit air liur disudut bibirnya. Sedangkan orang yang mengemudi adalah seorang pria dengan rambut perak dengan mata sedikit sayu. Hal yang menarik perhatian Sakura adalah masker yang menutup wajahnya. Aneh!

Siapapun akan berpikiran sama seperti Sakura ketika melihat seseorang yang menutup wajahnya sedang mengendarai sebuah mobil dan memasuki kawasan sekolah seperti sekarang. Tapi pria itu tersenyum kearahnya. Terlihat dari matanya yang sayu itu menyipit ketika melihat Sakura. Gadis itu membalas senyumanya layaknya murid biasa. Lalu mobil itu berlalu sampai tak terlihat dari pandangan.

"Maaf menunggu lama." Ujar sebuah suara yang muncul di belakang Sakura. Dia adalah Sasuke yang baru saja datang dengam motor sport-nya. Ada sedikit rasa canggung yang menyelimuti Sakura. Tapi ia segera menyingkirkan perasaannya.

"Kita harus cepat." Kata Sasuke. Tanpa tunggu lama Sakura menaiki motor itu dan memakai helm yang diberikan Sasuke.

Sakura harus menahan napas ketika Sasuke memacu motornya dengan cepat. Sekarang sakura merasa kembali menjadi remaja labil yang sedang kasmaran. Sebenarnya kalau hanya untuk mengendarai motor seperti ini ia juga bisa. Tapi apa jadinya kalau dia memakai motor seperti ini? Penyamarannya bisa terbongkar.

"Pegangan!" Teriak Sasuke dari balik helmnya. Tanpa ragu Sakura melingkarkan tangannya di pinggang Sasuke. Hal itu sontak menumbuhkan rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia sendiri tidak sadar ketika pelukannya itu semakin kencang.

Mereka melaju melaju melewati jalanan Konoha yang hanpir sepi. Namun selang beberapa menit mereka memasuki sebuah kawasan hiburan malam. Konoha Nocturne's Street—Kawasan Malam Konoha. Dinamakan seperti itu karena tempat ini memang penuh dengan tempat hiburan malam. Bar, hotel, Casino, dan tempat-tempat lainnya. Sakura sudah sangat terbiasa dengan pemandangan seperti ini—seharusnya. Sasuke memarkirkan motornya didepan sebuah hotel mewah yang ada disalah satu perempatan jalan. Mereka berdua masuk dan menuju lobby.

Seorang pria flamboyan tampan dengan dasi khas pegawai hotel sudah tersenyum ketika melihat mereka berdua masuk.

"Selamat malam. Malam yang indah bukan untuk sebuah pasangan muda?" ujarnya begitu mereka sampai di meja Receptionist . Sakura mengernyit itu bukanlah sapaan yang tepat untuk seorang resepsionis hotel. Tiba-tiba saja gadis itu merasakan sebuah tangan kekar tersemat dipinggangnya.

"Akan lebih indah jika kekasihku ini mau bercinta denganku." Jawab Sasuke. Mata Sakura membuat sempurna. Ia benar-benar tidak tahu kalau Sasuke jauh lebih bejat dari Naruto. Dengan segera ia menghentak tangan Sasuke yang berada di pinggang. Namun sama sekali tak ada ekspresi di wajah Sasuke seakan dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Sakura.

"Kalau begitu, ini kunci kamar kalian." Ujar si petugas. Sasuke segera mengambil kunci itu dan menggandeng tangan Sakura untuk pergi dari sana.

"Tidak mau! Apa yang mau kau lakukan padaku?" bentak Sakura. Wajah wanita muda itu tampak ngeri.

"Ayo Sakura!" Sasuke menarik kembali lengan Sakura.

"Apa yang kau maksud dengan bercinta? Lagipula siapa yang mau bercinta denganmu?! Dasar playboy! Kau bejat!"

Teriakan Sakura berhasil menarik perhatian para tamu yang lain. Beberapa Om-om yang sedang berduaan dengan wanita seksi tertawa mendengar teriakan Sakura. Sasuke memutar bola matanya malas.

"Ayo!" Dengan cepat Sasuke membawa Sakura melewati orang-orang dan menuju lift.

"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Sakura begitu pintu lift menutup.

"Harusnya aku yang tanya begitu, memangnya sudah berapa lama sih kau bekerja seperti ini? Kenapa kau seperti orang awam?" wajah tampannya tampak jengkel.

"Maksudmu apa?"

"Itu password agar kita bisa mendapatkan kunci ini. Kau pikir mereka tidak memberikan pengamanan khusus untuk barang yang akan kita ambil?" tanya Sasuke. Ia sama sekali tak menjawab. Sakura merasa bersalah. Ia memang sudah lama sekali melaksanakan tugas seperti ini.

"Maaf." Ujar Sakura singkat.

"Hn, lupakan!" balas Sasuke. "...dan terima kasih sudah memanggilku bejat."

Mereka keluar dari lift dan berhenti di depan kamar nomor 092. Saat mereka masuk mereka disuguhkan dengan pemandangan kamar hotel tipe President Suite yang luar biasa mewah. Kamar itu terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dan sebuah balkon yang mengarah langsung ke kota.

Setelah menutup pintu Sasuke segera melangkah ke arah kamar. Sakura mengikutinya dan terpana melihat kamar yang super mewah itu. Bayangkan saja. Ada beberapa paper bag berwarna-warni yang lumayan besar diatas tempat tidur. Sakura sempat berpikir mereka sedang mendapatkan hadiah natal.

Tapi Sakura terkejut ketika ia melihat Sasuke malah merebahkan dirinya dikasur itu dan menutup kedua matanya seolah mereka baru saja sampai dirumah. Kasur itu memang terlihat sangat nyaman dan menggoda, tapi pemandangan Sasuke yang sedang merebahkan diri dikasur itu jauh lebih menggoda. Mungkin sebentar lagi akan ada malaikat jatuh dari langit-langit kamar ini seperti di iklan sebuah parfum.

"Jika kau lelah tidurlah." Kata Sasuke tiba-tiba. Ia masih menutup mata. Jika Sakura tidak mengenal Sasuke sejak kecil mungkin ia akan langsung merebahkan diri disamping Sasuke dan mulai...—ah sudahlah.

"Kita harus cepat Sasuke, aku tidak mau membuang-buang waktu." Sakura meraih tas-tas itu lalu membuka isinya. Hampir semua isinya adalah kotak warna-warni dengan pita. Ada yang besar dan yang kecil. Saat Sakura membukanya tampaklah berbagai macam jenis amunisi peluru. Tanpa sadar Sakura menyeringai. Benar-benar penyamaran yang bagus, puluhan amunisi senjata didalam kotak hadiah.

"Seringaianmu itu menyeramkan Sakura." Komentar Sasuke yang ternyata sudah membuka matanya.

"Cepat, kita akan pergi sekarang." Kata Sakura tanpa menggubris perkataan Sasuke.

"Tunggu dulu!" Semua kotak-kotak itu berhamburan jatuh ke lantai ketika Sasuke menarik tangan Sakura hingga ia berbaring disebelah Sasuke . Dengan secepat kilat Sasuke menindih Sakura, tapi Sakura lebih cepat dia mengangkat satu kakinya hingga bisa menahan dan membuat jarak antara tubuhnya dan tubuh Sasuke.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Sakura.

"Kenapa tidak beristirahat sebentar?" tanya Sasuke dengan nada yang sangat menggoda. Malaikatpun akan meleleh ketika mendengar suaranya. Dengan bringas Sasuke menyingkirkan kaki Sakura yang membuat jarak diantara mereka. Kini tubuhnya telah menempel dengan sempurna dengan tubuh Sakura. Matanya penuh dengan nafsu dan ia hendak mencium Sakura.

"SASUKE!" Bentak Sakura. Pemuda itu berhenti. "Ingat, kau punya kekasih bukan?" Sasuke melepaskan tubuh Sakura dan membiarkan gadis itu bergerak bebas, Sebenarnya hampir saja jantung Sakura lepas. Tapi ia sudah berjanji untuk profesional dan tak bisa melibatkan perasaanya. Gila! Sangat Gila!—pikirnya.

Sakura memungut kota-kotak itu dan memasukannya kembali kedalam tas. Kemudian ia berjalan menuju pintu henda keluar. Tapi kembali sebuah tangan kekar membelenggunya dalam sebuah pelukan. Pemuda itu memeluknya dari belakang. Menciumi setiap inci lehernya dan mendesah kecil ditelinganya.

Bulu romanya berdiri lebih tinggi lebih dari ketika ia melihat Naruto berlari telanjang keluar rumah saat mereka masih SMP. Begitu menakutkan dan memabukkan disaat yang bersamaan.

"Aku merindukanmu Sakura." Bisik Sasuke mengeratkan pelukannya lalu kembali mengecup leher wanita-nya.

"Sasuke , aku harap kita bisa profesional." Ujar Sakura hampir kehilangan napasnya.

"Aku benar-benar merindukanmu." Suara itu bukanlah suara remaja yang asal bicara. Tapi suara seorang pria yang benar-benar berkata jujur.

"Aku tahu." Sakura berbalik masih dalam pelukan Sasuke.

" Terima kasih karena sudah merindukanku." Bisik Sakura tulus. Sasuke menarik leher Sakura untuk mendekatkan wajahnya dan Sakura juga mulai terbuai. Beberapa milimeter ketika bibir mereka hampir bertemu. Sakura berteriak.

"Oke! Cukup! Sekarang hampir jam sepuluh. Aku tidak mau hari pertamaku disekolah aku mendapatkan detensi dari guru. Jadi, ayo kita kembali Sasuke Uchiha!"

Dalam satu gerakan cepat Sakura sudah berada dipintu. Sedangkan pemuda Uchiha itu hanya mengedikkan bahunya bosan.

Konyol!


A/N ; Drama dimulai. Ambil yang baik, buang yang buruk oke. Review please : ) Salam Author.