COMIC

©LONGLIVE AUTHOR

Fic ini terinspirasi dari film COMIC 8 dari ANGGY UMBARA.

WARN : Penggunaan bahasa yang kasar dan kotor. Rated bisa berubah sewaktu-waktu.

Meet the freak!

.

.

Apa kau percaya kalau agen rahasia itu ada?

.

.

Sakura berjalan memasuki gerbang. Entah apa yang akan ia temukan berikutnya. Jika ada sesuatu lagi yang membuat ia harus berhenti pasti ia benar-benar akan diculik oleh Naruto. Yah itu memang konyol, tapi kadan Naruto tidak bercanda. Baru saja ia memasuki gerbang ia sudah kembali berhenti ketika melihat 'sesuatu'. Ah ia tidak peduli kalau ia akan diculik oleh Naruto, tapi ini adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan.

Sakura melihat Kakashi Hatake dan seorang wanita berambut ungu berjalan didekat lapangan. Wanita itu menguncir rambutnya yang kira-kira sebahu dengan tinggi, ia belum tahu siapa nama wanita itu tapi sepertinya dia salah satu staff sekolah atau mungkin guru. Kening sakura berkerut, rasanya hari ini dia selalu bertemu dengan wanita dengan rambut ungu. Tadi Yugao sensei, sekarang wanita ini. Apa mungkin wanita ini yang dimaksud dengan guru berambut Bob tadi?

Mari berspekulasi.

1. Si Guru berambut bob ada janji dengan Kakashi dipusat hiburan tadi.

2. Si Guru berambut bob menelepon Kakashi karena Kakashi terlambat datang.

3. Kakashi bilang kalau ada wanita yang menghalanginya pergi.

4. Merka janjian disana untuk memata-matai Yugao Sensei

5. Lalu Sakura menemukan Kakashi sedang berduaan dengan wanita berambut ungu itu.

6. Jadi dengan kata lain wanita itu yang mengganggu Kakashi sampai dia datang terlambat.

Sakura menyeringai puas dengan spekulasinya itu. Ia merasa seperti Sherlock Holmes. Kembali ia menatap dua sosok itu.

"Ayolah, malam ini saja. Anggap saja itu sebagai ucapan selamat datang." Kata wanita itu, terdengar dari nadanya kalau ia memaksa.

"Tidak bisa. Anda dan saya sama-sama guru. Kita tidak bisa melakukan itu. Kita harus profesional Anko-san." Balas Kakashi. Sakura menyipitkan mata. Guru bernama Anko itu terus menempel pada Kakashi seperti permen karet. Sakura menjulurkan lidahnya. Ugh! Murahan!—pikirnya.

"Aku sudah ada janji malam ini. Aku tidak bisa, dan jika kau tidak keberatan aku benar-benar harus pergi." Kata Kakashi berusaha untuk melepaskan tangannya dari tangan Anko.

"Jadi, malam ini kau ada janji dengan siapa? Apa kau berencana untuk tidur dengannya?" tanya Anko ketus.

Ya ampun!—Sakura memukul jidatnya sendiri. Tidak murid, tidak guru semuanya sama saja. Apanya yang peraturan ketat? Sekolah ini begitu bebas.

GREBBB!

"Mmmm!—Mmm!"

Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang membekap mulut Sakura hingga ia tidak bisa bernapas sama sekali. Sakura tidak bisa melihatnya karena orang yang membekapnya itu ada dibelakangnya. Orang itu menarik Sakura mundur, menjauh dari sana. Dia mencoba untuk melawan tapi sialnya dia memakai rok sekarang dan lagipula siapa yang berani-berani membekapnya disaat matahari masih cerah seperti ini. Orang itu pastilah sangat bodoh.

Sakura mencoba untuk menendangnya karena kedua tangannya juga ditahan oleh orang itu. Tapi seakan sudah tahu gerakannya orang itu dengan mudah menghindar. Orang ini pastilah hebat karena bisa membaca pergerakan Sakura. Tanpa ia sadari sekarang Sakura sudah berada di koridor sepi didekat asrama laki-laki. Sakura merutuk dalam hatinya, kenapa sekolah ini sepi sekali hingga tak ad a yang melihatnya diseret oleh seseorang? Ia tak tahan, Sakura memasang kuda-kuda. Lalu dengan cekatan ia membanting orang yang membekapnya itu kedepan hingga jatuh terlentang dihadapannya. Kemudian ketika Sakura melihat orang itu ternyata adalah—

"NARUTO!"

"Aduh Sakura-chan sakit sekali. Kau kan tidak perlu membantingku seperti itu." Kata Naruto masih dalam posisi terlentang sambil meringis kesakitan.

"Ya ampun! Demi foto telanjang Sasuke! Apa yang kau lakukan bodoh?!" bentak Sakura.

"Aku kan sudah bilang kalau aku akan menculikmu kalau kau lama. Jadi aku menculikmu. Tapi kau malah membantingku." Naruto bangkit sambil menepuk bajunya yang kotor.

"Naruto aku serius. Kita harus ke psikiater, karena kebodohanmu semakin hari semakin meningkat." Kata Sakura dengan wajah serius.

"Kau berlebihan Sakura." Ia meletakkan tangannya di kepala Sakura dan mengusapnya lembut.

"Apa maskudmu?" Sakura tak mengerti. Gadis itu mulai curiga karena tatapan Naruto tiba-tiba melembut seperti tokoh seorang Gary Stu. Seolah mendukung Naruto, angin tiba-tiba bertiup lembut dan mentari sore menyinari mereka berdua seperti sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.

"Aku sanggup menjadi pria yang bodoh, asalkan selalu menjadi nomor satu dihatimu Sakura."

Narutopun mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura dan dengan mesra mengelus rambut gadis musim semi itu. Tapi—

TOWEEEWW!

PLAKK!

"Hentikan ocehanmu Naruto. Ayo kita pergi." Gadis itu mendorong wajah Naruto dengan telapak tangannya lalu berlalu pergi. Sedangkan Naruto hanya memutar matanya malas. Entah keberapa kalinya ia gagal merayu Sakura.

"Sakura adalah satu-satunya gadis yang tidak mempan aku rayu! Huh.. Ayolah

Sakura-chan setidaknya berpura-puralah tersipu!" teriak Naruto.

"Tidak! Ayo pergi!" balas Sakura dari kejauhan.

Malam itu Sakura keluar dari kamarnya sekitar setengah sepuluh malam. Kamar mereka kosong, Ino belum kembali. Entahlah mungkin ia sedang bermalam dengan seorang laki-laki saat ini. Ia tidak peduli. Baru beberapa hari ia berada disini Sakura sudah tahu rute mana yang aman yang harus ia lewati agar tidak bertemu dengan petugas tata tertib. Namun terkadang yang menjadi kendala adalah dirinya yang kadang tersesat karena semua bentuk bangunan disekolah ini sama persis hingga ia harus sangat teliti.

Setelah sampai didepan asrama laki-laki hampir saja ia berlari ketika ia meliha Naruto sedang berada diluar asrama bersama seorang perempuan. Sakura tidak tahu siapa karena si perempuan memunggungiya. Sepertinya ia tengah berbicara sesuatu dengan Naruto. Lalu setelah Sakura perhatikan lebih detail ia ingat.

"Bukankah itu Hinata Hyuga?" gumam Sakura dari balik tiang koridor. Namun tak lama kemudian Hinata berbalik dan melangkah pergi dari sana tepat menuju kearah Sakura. Akan repot kalau ia kepergok oleh Hinata sedang bersembunyi. Jadi Sakura mulai melangkah maju kearah yang berlawanan dengan Hinata hingga akhirnya mereka berpapasan. Sakura heran karena wajah Hinata sangat merah bahkan kalau ia tidak salah ia melihat asap tipis diatas kepalanya.

"Selamat malam Haruno-san." Sapanya sambil menunduk dalam.

"Selamat malam Hyuga, apa kau tidak apa-apa?" tanya Sakura.

"Ah, t-tidak apa-apa. Aku permisi." Lalu ia menjauh setengah berlari.

Bagitu sampai didepan Asrama ia langsung disambut oleh Naruto.

"Akhirnya kau datang juga." Kata Naruto.

"Hey, apa yang kau lakukan pada gadis Hyuga itu sampai wajahnya seperti kepiting rebus? Jangan bilang kalau kau melakukan hal yang aneh padanya." Tanya Sakura.

"Jangan kasar begitu Sakura, aku tidak mungkin seperti itu. Aku ini laki-laki sejati. Dia memang sudah seperti itu saat datang." Kata Naruto.

"Memang dia mau apa?" tanya Sakura.

"Kau cemburu?" goda Naruto.

"Aku serius!" Sakura jengkel.

"Entahlah, aku sedang menunggumu lalu dia datang dan memberiku ini. Dia bilang sebagai ucapan terima kasih karena telah membantunya mengerjakan tugas waktu itu." Kata Naruto. Ia memperlihatkan sebuah jam sport yang sangat indah.

"Apa tidak berlebihan, sampai memberi hadiah?" tanya Sakura sedikit curiga.

"Kau cemburu?"

"Naruto!"

"Iya—iya. Aku tidak tahu, mungkin dia menyukaiku. Lagi pula aku suka hadiah ini, akan kupakai." Ujar Naruto seraya memakainya.

"Jika ada yang menyukaimu, itu mitos!" kata Sakura

"Kau jahat Sakura-chan."

Merekapun masuk kedalam dan beranjak kekamar Sasuke dan Naruto. Terlihat Sasuke sedang mengecek barang barang yang akan mereka bawa.

"Semuanya siap?" tanya Sakura.

"Ya. Kita bisa berangkat sekarang." Balas Sasuke.

Lalu dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar dari sekolah. Sekarang mereka melewati pintu rahasia yang tempo hari dipakai oleh Chouji untuk melakukan transaksi. Dengan mudah Naruto membuka gembok gerbang kecil itu dan mereka berhasil keluar dari sekolah tanpa ada yang mengetahui. Sempurna.

Tak jauh dari sana sebuah mobil Porsche berwarna biru metalik terpakir elegan didekat trotoar.

"Sial! Kau membawa mobil ini, membuat aku iri saja." Kata Naruto ketika mereka menaiki mobil.

"Kau seharusnya tidak terlalu menghemat uangmu. Kau sudah kaya dobe!" Kata Sasuke yang sudah berada di kursi pengemudi.

"Hemat itu pangkal kaya!" balas Naruto.

"Terserah!"

Mereka bertiga akan pergi kesebuah pertunangan salah satu pengusaha kaya di Konoha. Salah satu petinggi kerajaan bisnis dagang bernama Kimimaro. Namun target mereka adalah seorang direktur dari perusahaan IT terkenal bernama Akasuna Sasori. Sasori akan ada disana sebagai tamu undagan karena ia merupakan kolega dari Kimimaro. Setelah mendapatkan sidik jari Toneri Otsusuki, kini mereka harus mendapatkan scan retina mata dari Sasori dan dengan itu mereka menjadi lebih dekat untuk mendapatkan Ocean's star.

Namun sebelum mereka pergi kesana mereka berhenti disebuah motel kecil di pinggiran kota mereka harus menyamar jika ingin pergi kesana. Mereka memesan satu kamar untuk bersiap-siap.

"Bagaimana?" tanya Sakura setelah ia berganti baju dengan gaun berwarna hitam selutut yang tampak sangat elegan. Selain itu memakai wig berwarna hitam sepunggung membuatnya benar-benar seperti wanita dewasa.

"Kau terlihat cantik malam ini." Ujar Sasuke, ia meraih tangan Sakura dan menciumnya membuat pipi Sakura merona. Begitu juga dengan Sasuke yang mengenakan setelah Tuxedo berwarna senada dengan pakaian Sakura. Ia jauh dari kesan remaja labil seperti biasanya. Ia sangat menawan dan gentle dengan pakaian itu. Dia menyisir rambutnya kebelakang hingga tak ada helaian poni yang menutup wajahnya. Dia benar-benar cocok berperan menjadi direktur muda yang tampan dan kaya.

"Apa kau siap..." Sasuke menyematkan cincin perak ke jari manis Sakura, "Nyonya Uchiha?" lanjut Sasuke.

Hampir saja Sakura pingsan, ini seperti mimpi kecilnya menjadi kenyataan. Andai saja dia benar-benar menjadi Nyonya Uchiha.

Sementara itu kita lihat keadaan Naruto. Ia sepertinya sangat sebal pada pasangan dibelakangnya. Ia sedang merutuk sambil membelakangi mereka.

"Kenapa mereka yang harus jadi Tuan dan Nyonya, sedangkan aku menjadi pelayan? Huh dimana keadilan itu Tuhan?" Naruto terus komat-kamit sambil memakai kaus kaki yang salah satunya sudah bolong dibanyak tempat.

Mobil berwarna biru metalik itu melaju kencang menuju kawasan elit di Distrik Barat Konoha. Kawasan itu tampak seperti Dubai dimalam hari. Mobil-mobil mewah berlalu-lalang dijalanan. Hingga akhirnya mereka melihat sebuah hotel mewah yang memiliki sembilan puluh tujuh lantai dengan puncak menara berkelap-kelip seperti bintang raksasa. Konoha Giant Resort.

Tak jauh dari hotel itu mereka berhenti.

"Hei Dobe, kau turun disini. Mereka akan curiga kalau kau datang bersama kami." Kata Sasuke.

"Kenapa begitu?" tanya Naruto sebal.

"Karena kau pelayan sedangkan kami, Tuan dan Nyonya." Kata Sasuke dengan penekanan pada kata pelayan.

"Sialan kau Uchiha!"

"Sudah cepat turun!" Naruto turun dengan berat hati dari mobil mewah ini dan meninggalkan Naruto sendirian dipinggir jalan sambil membawa kotak buah.

Sementara itu Sasuke dan Sakura terus melaju menuju Konoha Giant Resort.

"Seharusnya kau tidak perlu sekasar itu pada Naruto." Kata Sakura.

"Kau yang terlalu memanjakannya Sakura. Jadi dia selalu manja padamu." Kata Sasuke.

"Kau cemburu?" goda Sakura sambil tertawa. Sebenarnya Sakura tidak mengharapkan jawaban dari Sasuke tentang pertanyaanya tapi ternyata Sasuke menjawab.

"Sudah jelas, kan?"

"Eh?"

"Sikapmu pada Naruto selalu membuatku cemburu Sakura." Ujar Sasuke. Sakura tidak tahan untuk melihat wajah Sasuke. Wajah itu datar namun bergitu tenang disaat yang bersamaan. Jarang sekali mereka memiliki waktu berdua seperti ini. Dan sejujurnya Sakura tidak mengerti dengan sikap Sasuke. Disatu sisi kadang dia bersikap dingin, kadang bersikap sangat manis seperti ini. Disisi lain ia memiliki kekasih tapi dia mengatakan kalau dia sangat merindukan Sakura, hingga pernah ia berusaha untuk menciumnya. Sakura menggelengkan kepalanya mencoba menhilangkan pikiran-pikiran itu di kepalanya tanpa ia tahu Sasuke tersenyum geli disebelahnya.

Tak lama kemudian mereka sampai dihotel mewah itu. Sakura memberikan kunci mobilnya untuk diparkir dan mereka melangkah masuk kedalam hotel.

"Undangan Khusus untuk pertunangan Tuan Kimimaro." Sasuke menyerahkan surat undangan berwarna hitam itu pada seorang pelayan.

"Tentu, Tuan dan Nyonya Rei. Lewat sini." Seorang pria tinggi besar dengan kumis aneh menuntun mereka ke Ball Room khusus untuk acara pertunangan.

Sakura tampak kaget ketika Sasuke mengulurkan tangannya untuk ia gandeng.

"Ada apa sayang? Aku ini suamimu, jadi tidak usah malu." Ujar Sasuke, sontak membuat wajah Sakura memerah. Dengan malu-malu Sakura menggandeng lengan Sasuke.

"Pasangan muda memang suka malu-malu Tuan." Kata si pelayan.

"Ya begitulah." Sasuke menyentuh dagu Sakura dengan tangan kanannya. Meskipun Sakura seorang agen yang hebat, tetap saja dia seorang wanita. Tapi menurut Sasuke ini adalah keuntungan tersendiri. Mereka menyamar sebagai pasangan muda yang baru menikah dan Sakura tidak perlu berpura-pura malu karena itu.

"Sudah sampai." Kata Si Pelayan.

"Terima kasih." Ia meninggalkan Sakura dan Sasuke.

Sementara itu kita lihat keadaan Naruto. Setelah berjalan agak jauh ia akhirnya sampai di hotel dan masuk lewat pintu karyawan. Sepanjang jalan dia mengoceh tentang betapa sialnya dia dan bertapa beruntungnya Sasuke. Sebelum ia memasuki hotel dia diperiksa oleh petugas keamanan dan mereka memeriksa kardus buah yang Naruto bawa. Pemuda piran itu berhasil masuk tanpa mereka tahu kalau sebenarnya didalam kardus buah itu Naruto sudah menyimpan semua peralatannya.

Tok Tok Tok!

Naruto mengetuk pintu menuju dapur dan seseorang membukanya.

"Hei darimana saja kau? Apa kau tidak tahu ini jam berapa? Kenapa kau baru datang?" kata orang berkepala botak itu. Sepertinya dia kepala pelayan.

"Memangnya darimana? Aku sudah berjalan jauh mencari buah ini dan sekarang kau memarahiku? Mereka menyuruhku membeli ini!" balas Naruto jengkel.

"Ya sudah masuk! Dan kerjakan tugasmu."

Tanpa tunggu lama Naruto langsung masuk kedalam ruangan pendingin untuk menyimpan kotak buah itu, tapi tujuan sebenarnya adalah untuk memasang alat-alatnya. Dia memasang sebuah alat semacam clip on dibelakang celananya lalu mengambil beberapa senjata bius yang ia selipkan juga dibelakang celanya. Setelah itu ia mengambil kacamata yang sudah ia rancang khusus menyerupai layar plasma super kecil yang bisa menunjukan denah dari hotel ini. Ia memakai kacama itu lalu mengaktifkannya dengan menyentuh ujung bingkai kacamatanya. Kacamata itu langsung menunjukan posisi Sasuke dan Sakura. Sebelumnya mereka telah memakai chip yang bisa dipasang digigi geraham yang berfungsi sebagai penunjuk lokasi dan mikrofon agar mereka bisa berkomunikasi satu sama lain.

"Aku tak akan mau jadi pelayan lagi!" Gumam Naruto.

Sementara itu Sasuke dan Sakura memasuki Ball Room mewah dengan nuansa putih yang glamour. Hiasan perak dimana-mana dan ruangan ini penuh dengan tamu-tamu penting bahkan walikota ada disana.

"Sasuke, kita harus berhati-hati. Banyak orang penting disini dan pengamananya sangat ketat. Bahkan orang tua itu Ibiki Morino ada disini." Bisik Sakura mengeratkan pegangannya pada lengan Sasuke.

"Aku tahu, santai saja Sakura." Kata Sasuke. Ia menyentuh tangan Sakura yang menggandeng lengannya agar Sakura tenang. Sakura selalu teliti pada hal apapun hingga membuatnya sedikit paranoid.

"Jadi sayang, sekarang beritahu aku tentang apa yang ada dipikiranmu?" tanya Sasuke dan sekarang mereka berjalan kesalah satu sudut ruangan. Sebenarnya ia hanya mengalihkan pikiran Sakura agar sedikit rileks.

"Apa maksudmu?"

"Apa yang kau pikirkan sekarang?" tanya Sasuke.

"Kau aneh, lima tahun tak bertemu dan aku menemukanmu sudah punya kekasih dan sekarang kita berjalan menjadi sepasang suami istri." Jelas Sakura.

"Kau cemburu pada Shion?" tanya Sasuke.

"Aku hanya tidak mengerti dengan hubungan kalian. Apakah benar-benar menyukainya." Tanya Sakura akhirnya.

"Tidak." Kata Sasuke singkat. Sakura merengut heran.

"Dia yang menyatakan perasaannya padaku duluan. Aku menolaknya dan dia hampir bunuh diri karena aku tolak. Aku harus menjaga penyamaran kita, akan repot kalau sampai dia kenapa-napa." Ujar Sasuke, kini tangannya berpindah pada pinggang Sakura. Mereka berjalan sampai sudut ruangan didekat jendela besar yang sedikit jauh dari orang-orang.

"Apa? Lalu bagaimana? Apa yang akan terjadi jika kau meninggalkannya?" Tanya Sakura.

"Aku tidak tahu, tapi kurasa aku bisa mengatasinya." Jawab Sasuke. Lalu ia berdiri dihadapan Sakura.

"Sudahlah Sakura, kenapa kau menyuruh suamimu untuk cemas pada wanita lain? Kau benar-benar menghancurkan mood-ku Sakura." Bisik Sasuke menggoda, mau tak mau Sakura tersenyum.

"Kau tahu Sakura kalau aku tak pernah mau meninggalkanmu dan tak sedetikpun aku tidak mengingatmu."

"Aku juga Sasuke, aku juga." Lengan Sasuke di leher Sakura begitu hangat dan sangat nyaman hingga Sakura tidak mau melepaskannya. Deru napas Sasuke seperti hembusan angin lembut yang menerpa wajahnya. Hidung mereka telah beradu dan kedua insan itu seakan benar-benar seperti pengantin baru yang dimabuk cinta.

Bibir mereka hampir bersentuhan...

NGIIINNGGG!

"Sial!"

"Bisakah kalian fokus?" Sakura langsung menjauhkan tubuh Sasuke begitu ia mendengar suara Naruto di mikrofon. Sedangkan Sasuke hanya mengumpat keras karena merasa aktifitasnya dengan Sakura diganggu.

"Ya, Naruto kami mendengarmu." Kata Sakura membenahi rambutnya yang sedikit berantakan dengan canggung.

"Dimana posisimu Naruto?" Tanya Sasuke.

"Aku ditangga." Jawab Naruto.

Sakura dan Sasuke menolehkan kepalanya ke arah tangga dan menemukan seorang pelayan berambut pirang terang berkacamata sedang membawa nampan berisi minuman. Sebenarnya sedikit lucu melihat rambut Naruto yang biasanya selalu berantakan kini tersisir rapi dengan gaya dibelah dua. Membuatnya seperti seorang kutu buku. Ia melakukan penyamrannya dengan sangat baik. Meski ia konyol, tapi dia sangat bisa diandalkan dalam hal ini.

"Sasori berada tak jauh dari altar, dia sedang berbicara dengan Kimimaro." Kata Naruto. Sonta Sakura dan Sasuke langsung menolehkan kepalanya menuju altar dan mereka melihat seirang pria berambut merah tengah berbincang-bincang dengan Kimimaro sendiri.

"Oke, kami melihatnya. Naruto berhati-hatilah banyak interpol disini." Kata Sakura.

"Aku tahu." Jawabnya.

"Kau siap Sakura?" tanya Sasuke.

"Aku selalu siap, Sasuke." Balas gadis itu.

Lalu tak lama kemudian mereka melihat Sasori berjalan menjauh dari altar. Inilah kesempatan mereka.

"Sekarang saatnya! Hajar dia Sakura-chan." Kata Naruto.

"Ayo, aku akan mengawasimu." Kata Sasuke.

Sakurapun pergi dari sisi Sasuke dan dia berjalan diantara kerumunan tamu untuk mendekati Sasori. Sedikit sesak untuk Sakura berjalan karena banyaknya tamu, apalagi pria tua gendut yang membawa begitu banyak makanan. Ia hampir saja menabrak Sakura tapi untunglah dia bisa menghindar.

BRUKK!

"Ouh, maaf Tuan aku tidak sengaja." Kata Sakura yang dengan sengaja menabrak Sasori.

"Tak apa." Kata Sasori, untunglah Sasori berhenti sebentar itu berarti kesempatan bagus untuk Sakura.

"Sangat banyak orang disini." Ujar Sakura ia membenarkan rambutnya dengan gerakan manja. Sasori memandang Sakura dengan tatapan nafsu. Terlihat jelas kalau mata zamrud Sasori terarah pada bagian dada Sakura. Dalam hati Sakura berteriak jijik pada pria hidung belang di depannya. Tapi dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Semakin cepat semakin bagus.

"Kemarilah Tuan, biar aku bantu untuk membersihkan pakaianmu." Kata Sakura seraya menarik dasi hitam Sasori. Tak butuh waktu lama agar Sasori mau mengikutinya. Mereka berdua berjalan menuju toilet pria. Sakura tidak canggung karena ia memang sedang berakting menjadi wanita nakal. Toilet itu sepi dan dengan sengaja Sakura mengunci pintunya.

"Kemarilah Tuan Sasori." Sakura mendekatkan tubuhnya pada tubuh Sasori dan mulai meraba-raba tubuh Sasori. Pria itupun tidak mau kalah, dia tahu persis apa yang sedang di lakukan Sakura dan berusaha untuk membalasnya dengan menarik tubuh Sakura lebih dekat lagi.

"Aku tahu apa maumu nona." Bisik Sasori menggoda.

"Benarkah?" Sakura berpura-pura menyibakan rambutnya yang padahal sebenarnya ia sedang menekan tombol pada anting-antingnya agar memunculkan sensor retina yang tak kasat mata. Dengan sengaja Sakura mengarahkannya ke mata Sasori. Setelah kira-kira beberapa detik dan dirasa cukup, Sakura memalingkan wajahnya. Ia sudah tidak tahan karena tangan Sasori terus menggerayangin tubuhnya. Sakura merutuk dalam-dalam.

Tap...tap...tap!

"Tuan Sasori?!" Pekik seorang perempuan dari belakang mereka. Sakura terlonjak kaget. Sontak mereka berdua langsung menoleh kebelakang. Ada seorang gadis berambut coklat panjang sedang menatap mereka dengan wajah kaget.

"Siapa kau?" Sakura bertanya balik. Ini sangat aneh. Bagaimana mungkin dia bisa masuk? Bukankah Sakura sudah mengunci pintunya? Sakura melirik ke arah pintu dan memang pintunya masih terkunci. Kecuali kalau perempuan ini memang ini ada di dalam toilet pria sejak tadi.

"Tuan Sasori apa yang sedang anda lakukan?" Perempuan itu terlihat sangat terguncang melihat adegan yang sedikit 'vulgar' dihadapannya.

"Tenang saja, dia adalah sekretaris baruku. Nami, sedang apa kau disini?" Tanya Sasori. Tanpa menghiraukan pertanyaan Sasori, perempuan bernama Nami itu mendekati Sakura dan memelototinya.

"Apa yang kau lakukan dengan Tuan Sasori?" Tanya Nami galak.

"Siapa kau mencampuri urusanku?" balas Sakura.

"Urusan Tuan Sasori adalah urusanku, aku adalah sekretaris pribadinya." Kata Nami.

"Oh aku memang bisa lihat itu. Sekretari pribadi." Ujar Sakura tajam.

"Apa kau bilang?!" dan terjadilah adu mulut antar dua orang perempuan yang tak saling mengenal ini. Sakura marah karena merasa 'pekerjaannya' jadi terganggu karena ada perempuan ini. Sedangkan perempuan bernama Nami ini marah entah karena apa. Mereka berduapun mulai saling menjambak dan mencakar satu sama lain.

"Hei apa yang kalian—"

DUAGH!

BRUGH!

Keduanya terdiam melihat tubuh yang baru saja terjerembab itu. Darah segar sudah mengalir dari hidung tuan Sasori. Hidung Sasori yang tidak bersalahpun menjadi korban. Hidungnya tersikut oleh Nami ketika ia sedang memisahkan mereka berdua.

"Lihat, apa yang kau lakukan?" Bentak Sakura.

"Ini semua salahku? Kau yang mulai duluan!" bantahnya dan ia mulai menjambak rambut Sakura. Tapi sayang Sakura jauh lebih cepat, tangannya lebih dulu meraih rambut Nami dan menjambaknya sekuat tenaga.

Srett!

Aww!

Hening.

Sakura tertegun, ia baru saja menarik rambut Nami hingga lepas semua. Tunggu—apa ? Apa rambutnya rontok semua? Tidak! Ini rambut palsu. Gadis bernama Nami itu memakai rambut palsu.

"Arrrgg! Rambutku!" Jerit Nami.

Tunggu! Sakura tahu suara ini. Suara ini sangat familiar. Sakura menatap perempuan didepannya itu. Ia meihat perempuan itu ternyata berambut pirang dan dia mengikat ketat rambutnya agar tidak menjuntai. Suara nyaring, rambut pirang panjang. Ia lihat lagi gadis itu dengan seksama.

"Ino?!" Pekik Sakura.

"Tunggu—Sakura?!" Balas Ino.

Check Mate!

Mereka berdua tertangkap basah satu sama lain dan sebuah pertanyaan yang sama kini memenuhi otak mereka.

"Sedang apa kau disini?" pekin mereka berdua.

Ya, tentu saja untuk apa mereka disini dan belum lagi mereka menyamar.

"Apa yang kau lakukan disini Ino? Dan apa maksudnya kau adalah sekretaris pribadinya?" tanya Sakura masih terguncang.

"Itu urusanku! Dan sedang apa kau? Rambut hitam dan pakaian ini? Kau sedang menyamar?" Ino balik bertanya.

Cekrek! Pintu terbuka dan munculah seorang pria kurus dengan rambut lurus sebahi mengenakan stelan bodyguard. Untuk sepersekian detik Sakura sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Ia hampir saja menendang pria itu ketika Ino berteriak lagi.

"Shikamaru?"

"Apa? Shikamaru juga?" tanya Sakura.

"Ada apa ini?" Kata Shikamaru membelalakan matanya.

"ino kau juga bersama Shikamaru?" tanya Sakura.

Dengan otak Shikamaru yang pintar, ia bisa dengan mudah mengerti keadaan mereka disini. Penyamaran mereka terbongkar.

"Kita bahas nanti, kita ketahuan. Kita harus segara pergi dari ini." Kata Shikamaru.

"Ino, pakai wig-mu!"

Tanpa menunggu lama mereka bertiga pergi dari sana meninggalkan Sasori tergeletak di lantai.

"Ngiing!"

"Sakura dimana kau? Kita ketahuan, apa kau sudah mendapatkannya?" Kata suara Sasuke diseberang sana.

"Ya, kita bertemu di selasar."

"Cepat lewat sini!" ujar Shikamaru. Ketika mereka memasuki Lift ada seorang Om-Om tinggi besar berwajah datar. Dia tampak biasa saja, hanya satu hal yang ganjil. Paman itu tengah memakan satu bungkus besar keripik kentang. Sangat kontras dengan penampilannya yang seperti eksekutif besar.

"Berhenti makan! Kau bodoh!" Ino merebut keripik kentang itu dari sang paman.

"Tapi Ino—"

"Siapa dia?" tanya Sakura.

"Aku Chouji." Pria tambun itu senyum lebar.

"Apa?!"

TING!

Pintu lift terbuka. Keadaannya masih biasa saja, Sakura menyimpulkan kalau berita tentang adanya penyusup belum menyebar. Ia melihat Sasuke sudah berada di Lobi dan berdiri dengan tenang seolah tidak ada yang terjadi.

"Dimana Naruto?" tanya Sakura. Dengan entengnya Sasuke mengangkat bahunya.

"Cepat!" Shikamaru berbisik dari sudut bibirnya.

"Siapa mereka?" Tanya Sasuke.

"Ceritanya panjang, nanti aku jelaskan." Mereka bergegas keluar dari hotel dan ketika tidak sudah cukup sepi mereka bergegas ke parkiran. Tak butuh waktu lama untuk mereka mengetahui dimana letak mobil mereka. Begitu ketemu, Shikamaru, Ini dan Chouji langsung masuk kedalam mobil mereka. Begitu juga dengan Sakura dan Sasuke.

NGEEENGG!

Baru sepuluh detik mereka berjalan menjauh dari hotel mereka baru menyadari sesuatu. Keduanya menoleh.

"NARUTO!"

"HEI...! TUNGGU!" Jauh dibelakang mereka Naruto sedang berlari-lari mengejar mobil mereka.

Tik...tok...tik...tok...

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Tanya Shikamaru. Singkat cerita kini mereka berlima sedang berada di sebuah mini market kecil yang buka 24 jam tak jauh dari Konoha Youngster's School.

"Bagaimana kalian berdua bisa ada disana?" Tanya Ino.

"Bertiga!" Tiba-tiba pintu mini market terbuka dan Naruto masuk kedalam mini market dengan tampang sangat kacau.

"Naruto juga?" kini Chouji yang bertanya.

"APA KAU TAHU SEBERAPA JAUH HOTEL ITU? AKU NAIK TRUK YANG PENUH DENGAN AYAM AGAR BISA SAMPAI KESINI!" Teriak Naruto emosi. Mereka semua terkesima melihat tubuh Naruto yang dipenuhi dengan bulu ayam.

"PASTI SASUKE! PASTI SASUKE YANG MENINGGALKAN KU!" Naruto berjalan sembarangan dan hampir untuk meninju Sasuke.

"Berhenti Naruto! Kita punya persoalan yang lebih penting disini." Ujar Sakura.

"Ya, aku tahu." Balas Naruto.

"Jadi kau tahu?" tanya Sasuke menyelidik.

"Aku baru tahu tadi, aku melihat Chouji di pesta itu. Dia menghabiskan semua pie yang aku bawa." Jelas Naruto.

"Oh jadi kau pelayan yang itu." Tukas Chouji.

Hening kemudian. Mereka masih terguncang karena pada kenyataannya mereka bertemu pada sebuah misi seperti ini. Mereka sama sekali tidak menyangkanya dan bingung harus berkata apa sekarang.

"Oke, biar ku simpulkan semuanya." Kata Shikamaru. "Ku tebak kalian bertiga kesana untuk mengambil sample retina Akasuna Sasori, kan?"

"Ya, dan kalian juga hendak melakukan hal yang sama kan?" balas Sasuke.

"Sial! Kenapa ini bisa terjadi?" Umpat Shikamaru.

"Jadi kalian yang malam itu membuat keributan di Grand Konoha Building? Aku tidak percaya." Kata Ino

"...dan kalian yang mencuri berlian di Konoha Jeweleries Museum?" Tebak Sakura.

"Oh F*ck! Kita benar-benar tertangkap basah!" Kata Naruto yang lebih terlihat seperti orang mabuk daripada orang frustasi.

Hening kemudian.

"Apa tujuan kalian?!" Ucap keenamnya bersamaan.


A/N: Haiiiiiiiiiiiiiiiii... Senang kembali kesini lagi. Ya ampun, I miss this website. Parah. Kuliah itu parah. Aku takut kehilangan kemampuan menulisku. I will trying so hard, agar ff ini tidak terbengkalai. But, thanks untuk para readers yang sudah review. Can't wait of your comment. So, keep review, follow, and fav. Salam Author :)