Disclaimer : I don't own the idols.


Latibule

(n.) a hiding place; a place of safety and comfort


Choi Siwon menekan salah satu tombol berderet dan menghempaskan punggungnya pada dinding lift. Ia mengerling jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya, berjengit saat menyadari bahwa ini sudah lewat tengah malam. Hembusan napas panjang lalu keluar dari bibir lelaki itu. Siwon melepas kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, menampakkan lingkaran hitam yang menghiasi mata. Ia mengernyit, tangannya bergerak memijat keningnya. Kepalanya sakit sekali.

Seperti biasa, pekerjaannya bertambah tiga kali lipat setiap akhir tahun mendekat. Suatu hal yang mengharuskannya datang ke kantor pagi-pagi sekali dan pulang larut malam hampir setiap hari dalam keadaan lelah. Siwon tidak suka itu. Belum lagi kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya hampir dibilang tidak ada. Ia suka dengan pekerjaannya, tapi saat-saat seperti ini rasanya ia ingin mengajukan surat pengunduran diri saja.

Saat pintu lift terbuka, lelaki itu bergegas melangkah keluar. Ia ingin cepat-cepat sampai ke apartemen dan menghempaskan diri ke tempat tidur, tepat di sebelah kekasihnya yang kemungkinan besar telah pulas tertidur. Tentu saja, Siwon tak menyalahkannya. Ia sendiri yang meminta kekasihnya agar tidak menunggunya pulang seperti yang biasa ia lakukan—tahu bahwa bulan ini jadwalnya memadat dan jarum jam selalu melewati angka dua belas setiap kali ia tiba di apartemen yang mereka tinggali bersama.

217… 218… ah, itu dia.

Lelaki berambut hitam itu menekan kombinasi digit apartemen 219. Disertai bunyi klik pelan, Siwon memegang gagang pintu dan mengayunkan pintu ke dalam.

Kegelapan menyambutnya.

Tak bergeming, Siwon menutup pintu. Gelapnya apartemen tidak menghambat lelaki jangkung itu untuk berjalan menuju ke ruangan dimana ia yakin kekasihnya berada saat ini. Tanpa suara ia melangkah, dengan mudah menghindari barang-barang yang sekiranya akan mengusik ketenangan yang menyelimuti jika tak sengaja tersenggol.

Langkah kaki Siwon terhenti saat ia melihat cahaya mengintip di balik pintu yang saat ini berada di hadapannya. Kerutan halus menghiasi dahi lelaki itu. Kekasihnya belum tertidur. Mengangkat alis, Siwon lantas membuka pintu kamar, dan mendapati kekasihnya masih terjaga ditemani oleh sebuah buku. Kekasihnya itu mendongak saat mendengar bunyi pintu dibuka.

"Wonnie?"

Suara lembut Jungsoo tertangkap oleh indra pendengaran Siwon. Segera ia menyeberangi ruangan, dengan sembarangan melempar dasi dan jasnya ke lantai dan merebahkan diri di sebelah kekasihnya, memeluk erat pinggang ramping itu.

"Chagiya..." kata Siwon. Kelopak matanya perlahan menutup. "kenapa kau belum tidur?"

"Ah," lelaki berambut hitam itu mendengar bunyi buku yang ditutup. Sedetik kemudian ia merasakan belaian lembut teratur pada rambutnya. "aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak minum kopi pagi ini," kata Jungsoo, setengah malu.

Kalau Siwon tidak suka kopi, maka lain halnya dengan Jungsoo. Kekasihnya yang satu ini tidak bisa hidup tanpa kopi di pagi hari.

Siwon menggumam tak jelas, terlalu lelah untuk dapat merangkai kata-kata lagi. Lelaki itu mengeratkan dekapannya.

"Tidurlah," kata Jungsoo kemudian, masih dengan suara lembut dan belaian adiktif pada rambutnya yang benar-benar membuat Siwon merasa seperti seekor kucing yang tengah dimanja oleh pemiliknya. "Aku tidak akan kemana-mana."

Menghirup dalam-dalam aroma khas kekasihnya, Siwon mengangguk tanpa suara. Berada dalam dekapan hangat seperti itu, tak butuh waktu lama bagi Siwon untuk hanyut dalam mantra Morfeus.