Veei

### 14###

Disclaimer :

Naruto © Masashi K.

Harry Potter © J.K. Rowling

a. YU-GI-OH! © Kazuki Takahashi

b. La Clef du Royaume © Kyoko Shitou

rating : T

π SasuNaru π

ππDraRryππ

Warning!'

1• Fic ini mengandung Shounen-ai, jadi gak jadi Yaoi, Dengan segala hormat, yang tidak suka bisa menepi atau meninggalkan fic ini... #berasa turun pangkat.

2• Gagal EYD masih ada...

3• M-preg mengikuti...

4• Typo masih berseliweran... walaupun Est udah berusaha menguranginya...

['`:_:'`]

{•_•}

V

"Baa-chan, apa bisa Naru melahirkan secara normal?" Penuh harap Naruto bertanya pada Tsunade. Mengacak rambut blonde bocah dihadapannya gemas, Tsunade hanya menanggapi dengan senyum penuh misteri.

"Kita bicarakan ini lain waktu saja, karena aku perlu memeriksamu secara menyeluruh."

"Baiklah, ayo ke rumah paman. Suke, kau yang jelaskan kepaman Sev yah..." tidak ada sedetik setelah melambaikan tangannya pada Sasuke, duo pirang tersebut menghilang dengan mengiggalkan kilatan kuning, tanpa perduli mereka meninggalkan Orochimaru yang cengo, sedangkan Sasuke ia hanya bisa menghela nafas pasrah kerena tingkah ukenya yang terkadang semaunya sendiri, juga suka memerintah ini itu, apalagi kalu sudah nyidam, semua anggota Orde dan Club Duel pasti kena kejahilannya. Dalam hati ia berharap semoga anaknya tidak akan semerepotkan Naruto nya.

Mengiring Orochimaru dan diikuti oleh Severus dan Remus (yang mengajar kembali kelas pertahanan terhadap ilmu hitam menggantikan Dolores Umbridge). Melangkah keluar dari Aula Besar, Severus yang memegang pundak kanan Remus, sedangkan pundak kiri Remus dipegang oleh tangan kanan Sasuke, dan Orochimaru sendiri sudah perpegangan dengan lengan kiri sang Uchiha satu-satunya tersebut dan menghilang.

Di Mansion Namikaze, selang beberapa menit setelah kedatangan Naruto yang hampir mengagetkan Louwis beserta Sirius karena kehadiran yang tiba-tiba tersebut. Naruto langsung memperkenalkan Tsunade pada Louwis, James dan Sirius yang masih disana kerena menunggui Regulus yang hingga saat ini belum sadar.

"Baa-chan... bisa bantu sembuhkan paman Regulus? Kasihan Karin-nee" pinta Naruto dengan mata berkaca-kaca penuh harapan.

"Nenek? Kenapa kau memanggilnya nenek Naru?" Tanya Louwis memiringkan kepalanya.

"Kau benar-benar mirip Minato yang selalu ingin tahu"

"Ne... tentu saja Naru memanggilnya nenek, kan umur Tsunade-baa-chan sudah kepala enam"

"Eeh... yang benar saja?" koor Louwis, James dan Sirius kompak tidak percaya.

"Masih..."

Glek

Menatap bagian dada dengan yang sedikit banyak(?) Terbuka dengan wajah memerah, dua duda dan satu perjaka(?) Tua tesebut mengalihkan pandangan mereka sambil menutup hidung

"KUSO GAKI" desis Tsunade dengan aura horor yang ketara.

"Ehem," deham seseorang yang baru saja datang.

"APA?" Desis Tsunade dengan mata memicing tajam.

"Kau memang sudah tua Tsunade," ucapan ringan dari Orochimaru semakin membuat mantan Hokage tersebut tersulut emosi, tahukan kalau wanita selalu sensitif soal umur.

BRAk Krakk

Tatapan ngeri dari para penyihir dan beberapa ninja diarahkan pada sannin ular yang kini terpelanting menabrak dinding hingga roboh. Membersihkan debu yang menempel pada bajunya, Orochimaru kembali mendekati Tsunade yang masih mengambil ancang-ancang dalam pukulannya. Sasuke yang mengelengkan kepalanya malu akan tingkah kedua sannin yang merubuhkan dinding rumah mertuanya. Dan Naruto yang menyaksikan kerusakan dinding yang dibuat oleh Tsunade dan Orochimaru bersiap untuk meledakan amarahnya.

"Kalian... BERANI-BERANINYA... KALIAN MERUSAK RUMAHKU..." teriak Naruto.

"Berani kau membentak ku BOCAH"

"TENTU SAJA NARU BERANI..."

"Sudah! Kalian semakin membuatku pusing," ucap Sasuke menengahi pertengkaran dua pirang tersebut, beruntung pirang yang satu lagi (Louwis) tidak ikut juga.

"Kfufufufu... Setuju dengan Sasuke-kun," ucap Orochimaru yang sudah duduk nyaman disofa dan menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.

"Kan kan... apa ku bilang, kalau mereka ada pasti makan korban," dengan semangat Suigetsu menprofokatori penolakan tentang kedatangan kedua sannin tersebut.

"Tsunade-sama, bukannya tujuan anda kemari untuk menangani kelahiran Naruto? Alangkah baiknya anda memeriksa keadaan Naruto?" Usul Karin mencoba mengalihkan kemarahan Tsunade. Sedangkan Louwis hanya bisa mendesah lelah karena lagi lagi harus memperbaiki kerusakan yang ada di Mansion tersebut dengan sihirnya.

"Baiklah, ayo Naruto!"

"Baa-san, sebelumnya tolong bantu sembuhkan juga paman Regulus" pinta Naruto dalam mode seriusnya.

"Regulus? siapa dia?"

"Akan Naru tunjukan," setelah itu Naruto menuju ke kamar yang kini ditempati Regulus.

Membuka pintu yang bercat coklat dengan pelan, mereka lalu memasuki kamar tersebut dan mendapati seorang pria yang sampai saat ini masih tertidur dengan selang infus yang terpasang ditangan kanannya.

"Dia orangnya?"

"Iya baa-san, kemungkinan sudah lebih dari sepuluh tahun dia tertidur." Terang Naruto dengan tatapan sendu menandang Regulus.

"Bisa kau jelaskan lebih rinci Karin?" Menatap kebelakang Naruto, mata beriris coklat berpupil hitam tersebut dengan pandangan seriusya.

"Baik. Dari pemeriksaan yang Severus dan aku lakukan Regulus meminum racun, yang berasal dari sari nektar Daphne atau spurge laurel Daphne, serta ada tambahan racun yang belum diketahui, yang mampu menetrarisir efek Daphne tapi berefek untuk melambatkan fungsi sel dalam tubuh," terang Karin.

"Hmm... racun yang menarik, bukan begitu Tsunade?"

"Yea... mau ber-eksperimen kembali?" Tanya Tsunade pada partnernya.

"Khufufufufu... kau tahu apa yang ku inginkan Tsunade," balas Orochimaru dengan seringaian ularnya.

.

..

...

...

...

Sementara itu di Manor Riddle, terdengar teriakan mengelegar dari dari Sang Dark Lord dihadapan para pengikutnya hingga membuat wanita berambut keriting(?) hitam yang berada tepat didepannya mundur selangkah dengan tubuh bergetar. Sedangkan pengikutnya yang lain hanya bisa menundukan kepala mereka, karena tidak ingin mendapat sesuatu yang buruk dari sang "Tuan".

"Ma maaf My Lord, tapi itu bukan kesalahan Bella"

"Lestrange... dapatkan kembali piala itu! Atau nyawamu serta istri dan adikmu yang akan kujadikan Horcrux pengganti," setelah mengeluarkan(?) Ancamannya, Voldemort menarik lengan kiri Bellatrix dan menyentuhkan ujung tongkat yew miliknya pada tanda kegelapan yang ada pada lengannya.

Sedangkan Bellatrix yang merasakan sihir tuannya memasuki paksa pori-pori kulitnya hanya meringis dengan senyum maso(?)nya.

"Severus Snape, jika dia datang suruh dia keruanganku!" Titah Voodemort pada bawahannya, setelah mengucapkanya ia langsung keluar dari ruangan luas tersebut.

.

.

.

.

.

Di mansion Namikaze, Severus yang meringis pelan sambil mencengkeram lengannya kuat, berhasil mengalihkan perhatian dari orang yang berada diruangan tersebut.

"Ada apa?" Tanya Juugo khawatir.

"Ada panggilan kah?" Tanya Sirius yang sudah terang-terangan mencemaskan 'mantan' musuhnya.

"Ya, dan aku harus segera pergi menemuinya," jawab Severus dan langsung menuju ke perapian, guna meneleportnya ke Hogwarts, setelah sampai di Hogwarts ia langsung menuju ke Manor Riddle, setibanya ia di Manor Riddle, ia sudah ditunggu oleh salah satu Death Eathers yang menyuruhnya segera ke ruangan Sang Dark Lord. Memasang kembali pokerfacenya, Severus dengan yakin memasuki ruangang berpintu ganda tersebut, dan mendapati Voldemort sedang duduk di Singahsananya dengan kaki yang kiri berada di paha kanannya.

"My Lord," salamnya pelan, sambil membungkukan tubuhnya.

"Apa yang kau dapatkan untuk ku, Severus?"

"Maaf My Lord, aku hanya mendapatkan informasi kalau para anggota Order of the Phoenix mendapatkan bantuan dari Namikaze yang kembali menampakan diri, serta beberapa ninja yang datang dengan Namikaze Naruto" terang Severus

"Namikaze Naruto?"

"Yes My Lord, dia adalah putra dari Namikaze Minato. Orang yang pernah melawan anda secara langsung,"

"Minato, Khehehehe... tidak kusangka dia sudah memiliki anak, pemuda yang dulu berhasil membuatku hampir mati karena kecepatannya." Ucapnya dengan penuh seringai "lalu seorang yang memiliki rambut raven pantat ayam?"

"Dia Uchiha Sasuke, suami Namikaze Naruto."

"Suami. Khe, dapatkan Naruto untukku, akan ku balas kau Uchiha,"

"Ta tapi My Lord, tidak akan mudah mendapatkan Naruto yang selalu bersama dengan Uchiha dan para penjaganya,"

"Jebak dia, dapatkan kepercayaannya, dan bawa dia kemari! Ku beri kau waktu satu bulan untuk membawanya kehadapanku."

"Yes My Lord" jawab Severus pelan.

"Bagus, akan ku balas Kematian Nagini. Pergilah!" Usir Sang Dark Lord sambil mengibaskan tangannya bagaikan mengusir lalat.

.

...

.

...

.

Memasuki pertengahan musim semi, tepatnya pertengahan bulan Mei yang mulai panas, terlihat Naruto tengah duduk menghadap lapangan rumput luas yang terbentang dihadapannya, sambil mengelus perutnya yang sudah besar, sambil meringis pelan karena tendangan yang kuat dari calon bayinya, ia memejamkan mata dengan tenangnya. Terkikik pelan karena merasakan bayinya cegukan, sambil bersenandung kecil ia mengabaikan rambut pirangnya yang bergoyang pelan karena terpaan angin musim semi.

"Bagaimana keadaanmu Naruto?" Tanya suara barithon yang berasal tepat ditelinga kirinya. Serta tangan hangat yang melingkar di diperut buncitnya.

"Sasuke," bisik Naruto dengan mata terpejam, meresapi rasa hangat yang jarang ia dapatkan dari pemuda Raven yang akan menjadi ayah dari bayi yang ia kandung.

"Bagaimana, apa masih sering sakit?" Tanyanya sambil mengelus perut tersebut penuh sayang, sesekali dia juga merasakan tendangan dari kaki kecil sang putra.

"Tidak papa... tapi, chakra negatif Kurama dan yang lain, walaupun sudah dimurnikan dan kurama tekan sampai titik terendah masih sering bocor keluar. Dan itu membuatku sering merasa takut, dan... membuatku sesak nafas, Suke" jelas Naruto sambil memainkan tangan Sasuke yang berada diperutnya.

"Bertahanlah! Dan, maaf aku tidak bisa selalu menemanimu disini,"

"Tidak papa, aku seharusnya berterimakasih, kau sualdah mau membantu melawan Dark Lord, yang telah meresahkan masyarakat sihir disini."

"Hem... ayo kita masuk, kau harus lebih banyak istirahat dan tidur Naru,"

Setelah mencium pucuk kepala Naruto ia lalu mengangkat sang pujaan hati menuju kekamar mereka dengan bridal style, karena kamar yang sebelumnya Sasuke tempati kini telah digunakan untuk ruang perawatan Regulus yang kini sudah sadar, walau masih belum bisa berdiri dan berbicara secara lancar. Membaringkan Naruto di ranjang King size miliknya ia lalu menyelimuti Naruto dengan selimut tebal bergambar rubah sampai sebatas dada. Setelah memberi kecupan singkat dibibir ia mengacak rambut halus Naruto.

"Disini saja Sasuke, jangan pergi" pinta Naruto sambil menahan kepergian(?( Sasuke darinya.

"Apapun untukmu," ucapnya pelan dan ikut berbaring di samping Naruto.

"Terimakasih, Teme"

.

.

.

.

.

(Hogwarts)

Setelah jam makan siang berakhir, terlihat Harry tendah berlari keluar dari kamar asrama menuju ke kelas Transfigurasi yang seharusnya akan dimulai tiga menit lagi, mempercepat larinya, tanpa perduli sekitar, remaja berambut hitam acak-acakan tersebut bahkan hampir menabrak deretan baju zirah yang ada disepanjang koridor, bahkan sesekali dia menabrak siswa ataupun siswi yang berjalan dikoridor. Tanpa berniat menghentikan larinya dia hanya mengucapkan kata maaf dengan agak keras.

Brak

"Hosz, hosz... maaf Professor, tadi saya ketiduran, are?" Ucapnya pelan saat tidak mendapati sang Professor aka. Professor McGonagall. Mengidarkan pandangannya dan mendapati teman-temannya yang sedang menahan tawa karena melihat penampilannya yang sangat acak-acakan...

"Ehem, ada apa kau didepan kelasku Mr. Potter?" Dehemnya pelan "dan Mr. Potter, rapikan penampilanmu!" Memasuki ruang kelasnya McGonagall lalu menuju ke mejanya. Setelah mendapati Harry Potter telah duduk dengan rapi akhirnya dia memulai pelajaran Transfigurasinya dengan tenang.

Sedang di ruangan lain tepatnya ruang kepala sekolah, terlihat Severus Snape tengah berjalan mondar-mandir dihadapan lukisan Dumbledore yang masih setia mengawasinya dalam diam.

"Tenanglah Sev, kau pasti mendapatkan jalan keluarnya,"

"Dia akan semakin mencurigaiku jika aku tidak bisa membawanya,"

"Kau bisa berhenti menjadi agent ganda ini"

"Tidak bisa, tugasku belum selesai, dan aku memiliki tanda kegelapan di lenganku yang membuat dia bisa mengetahui lokasiku, bahkan mengendalikanku"

"Kau lupa, dulu Lucius juga memiliki tanda sama denganmu, walaupun tidak bisa hilang, tapi tandanya sudah tidak berfungsi bagi Pangeran Kegelapan. Cobalah minta bantuan pada ninja Konoha tersebut, mungkin dintara mereka bisa melakukan hal yang sama dengan Minato dulu,"

"Akan ku fikirkan" ucapnya lalu keluar dari ruangannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah satu minggu sejak Severus mengatakan perintah Voldemort pada Dumbledore, sejak saat itu pula dia memikirkan usul pendahulu(?)nya tersebut. Dan kini dia menuju ke perapian guna menuju ke Mansion Namikaze. Dalam hitungan detik kini dia telah berada didalam perapian Namikaze, membersikhan jubahnya dari bubuk floo dengan ayunan tongkat sihirnya. Mendapati ruang keluarga kosong, dia langsung menuju keruang tamu yang letaknya berada tepat disebelah ruangan yang biasanya jadi tempat berkumpul.

"Oh... Sev, ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Louwis, orang 'pertama' yang mendapati Severus bergabung dengan mereka. Terlihat pula Sirius dan James yang sedang bertanding catur sihir dengan serius, Louwis yang memangku putrinya sambil memegang buku yang penuh dengan gambar, Sasuke yang sedang membaca gulungan sambil mengelus kepala Naruto yang tidur dipahanya.

"Aku, mendapatkan tugas dari Voldemort untuk menculik Naruto"

"Untuk apa dia menginginkan Naruto?" Tanya Louwis sambil mengusap punggung putrinya yang menegang saat Severus menucapkan nama Voldemort. "Tidak papa Lisy, kauselalu aman sekarang," bisiknya di telinga kiri sang putri.

"Membalas dendam pada Namikaze Minato."

"Dia mengenal Hokage keempat?"

"Uuh... kalian berisik!" Ucap Naruto dengan suara serak.

"Maaf Naru,"

"Hemm teme, elus lagi!" Perintahnya sambil meletakkan tangan kanan Sasuke keatas perut buncitnya.

"Naruto,"

"Umm... iya paman?" Walau masih mengantuk, Naruto masih bisa mendengar panggilan pelan dari Severus.

"Apa kau bisa melakukan penyegelan pada tanda kegelapan?"

"Umm... bisa sih... tapi chakra Naru masih kacau, tapi Sasuke juga bisa paman,"

"Segel apa" tanya Sasuke yang masih fokus pada gulungan yang dibacanya.

"Fūja Hōin Suke,"'

"Hn,"

"Cepat lakukan! Mumpung paman Sev mau menerima tawaranku dulu,

"Hn?" Gumam Sasuke sambil menangkat satu alisnya.

Melihat tatapan serius dari Sasuke, Naruto bangkit dari acara berbaring nyamannya dipaha Sasuke.

"Dulu, aku menawari paman Sev untuk berhenti jadi Death Eathers. Yahh... sekalian uji coba Fūja Hōin yang pernah Kakashi-sensei ajarkan," mengaruk belakang kepalanya ia menjelaskan hal yang terjadi dulu.

"Kfufufufu.. aku menyukai idemu menjadikan manusia sebagai kelinci percobaan Naruto-kun," diiringi tawa nista Orochimaru yang baru bergabung mendengar penjelasan Naruto ikut menimbrung(?) Percakapan mereka.

"Khehehehe... aku menyontoh kelakuanmu Orochi-sensei"

"Senang memiliki murid pandai sepertimu Naru," dengan semangat ke-ularan(?) Ia duduk disamping Naruto dan merangkul pundak Naruto dengan tangan kirinya. Melihat tangan pucat merangkul kekasihnya dengan teganya Sasuke menjauhkan tangan tersebut dan duduk di tengah mereka (Orochimaru dan Naruto)

"Jangan dekat-dekat dengannya Naru!" Perintah Sasuke posesif.

"Tidak mau, Orochimaru enak diajak sharing masalah fuinjutsu atau jutsu baru yang membutuhkan pembahasan ilmiah," tolak Naruto ngotot.

"KALIAN BERISIK! LIHAT AKU JADI KALAH LAGI DARI JAMES..." teriak Sirius yang mulai frustasi karena mengalami tiga kali kelalahan beruntun. padahal didua babak awal dia selalu memenangkan pertandingan.

"Itu karena kau bodoh" tanpa perasaan Sasuke menyahuti teriakan Sirius dengan nada datarnya.

"Ka kau bocah Uchiha bin anak ayam..." tuding Sirius yang mulai meledak.

"Dan kau orang tua bau tanah yang berani mengatai Tou-sama anak ayam." Desis Sasuke sambil mengirimkan deathglare pada Sirius.

"Kau berani pada orang tua bocah durhka"

"DIAM! KAU SASUKE PERGI LAKUKAN PENYEGELAN PADA SEVERUS! DAN KAU SIRIUS, AKAN KU CABIK KAU SETELAH BAYI INI LAHIR KARENA MEMBUAT PARTNERKU KEMBALI STRES" teriakan murka Naruto yang dikendalikan oleh Kurama, membuat suaranya semakin berat dan serak. Apalagi dengan chakra merah yang kembali keluar setelah hampir tiga hari yang lalu membuat Naruto berteriak kesakitan.

"Sasuke cepat tekan kembali chakra Kyuubi, kita lakukan oprasi sekarang!" Perintah Tsunade yang langsung datang saat merasakan tekanan chakra negatif yang meningkat pesat.

Mengabaikan rasa panas yang membakar kulit tangan dan dadanya akibat bersentuhan dengan chakra merah Kurama yang sudah membuat sebagian besar kulit Naruto terkelupas, walaupun cukup lambat laju penyebarannya karena ditahan Kurama dari dalam, tetap saja akan sangat membahayakan bagi tubuh Naruto dan bayinya jika sampai mengalami kercunan chakra. Dengan berlari, Sasuke mengendong Naruto menuju ke ruangan yang sudah disiapkan oleh Tsunade dan Karin sebelumnya.

"Sasuke cepat tahan Segel Kyuubi, gunakan Sharingan untuk mengembalikan ketitik terendah!" Perintah Tsunade kembali sambil menbuka jubah Naruto.

"Apa kita perlu melakukan Anestesi Tsunade-sama?"

"Gunakan Anestesi Lokal dan tetap pantau detak jantung dan pernafasan! Sasuke usahakan tetap berkomunikasi dengan Naruto agar membuatnya tetap sadar!" Perintahnya sambil mengarahkan pisau bedah keperut Naruto bagian bawah dan...

Crass...

Dengan cepat Tsunade membedah perut Naruto secara melintang, mengabaikan darah yang terus keluar ia lalu mengeluarkan bayi yang selama sembilan bulan ini berada dalam perut Naruto. Setelah memotong tali pusarnnya Tsunade lalu membawa bayi tersebut untuk menyelimutinya supaya tetap hangat.

"Karin bersihkan sisanya dan jahit kembali lukanya!"

"Hai' Tsunade-sama."

"Kau merasa lelah Naru?" Tanya Sasuke membisikan disamping telinga Naruto.

"Hemm..." dengan lemas Naruto mengelengkan lepalanya pelan. Masih memjamkan matanya, tanpa bisa ia bendung terlihat lelahan air mata bahagia meluncur cepat dipelupuk matanya. Begitu pula denga Sasuke yang masih menangis karena menyaksikan bagaimana pisau tajam milik Tsunade membedah perut Narutonya, dan bagaimana tangan Tsunade mengeluarkan bayi yang sudah ia nanti selama ini dari perut Naruto. Melihat rambut raven yang dihiasi semburat warna pirang yang masih lengket karena air ketuban, kelopak mata yang masih terpejam itu juga masih dihiasi bercak kemeraha dari darah sang ibu. Dia seakan merasa kembali kemasa lalunya dimana sang ibu dengan susah melahirkan dirinya, bagaimana perasaan ayahnya yang sangat cemas menunggui ibunya. Tanpa bisa ia tahan ia memeluk Naruto dan menyembunyikan wajahnya dileher jenjang Naruto.

"Hiks... terimakasih sudah menahan penderitaan ini Naru, terimakasih sudah mau menerima dan mempertahankan anakku, anak kita. Terimakasih... termakasih," karena masih lelah dan lemas, walaupun sudah mendapatkan transfisi darah, ia tetap merasakan lemas beserta perutnya yang masih mati rasa. Karena tidak tega melihat Sasuke menangis dan OOC ia hanya memgangkat tangannya dan mengelus punggung lebar Sasuke yang selama ini sering ia lihat dari kejahuan.

"Hemm... terimakasih juga karena telah menjadi ayah dari anakku, Suke." Balasnya pelan "aku ingin tidur Sasuke..."

"Jangan tidur dulu, kita perlu membahas nama untuk putra kita,"

"Aku sudah dapat nama"

"Siapa?"

"Menma"

"Tidak, tidak... Menma terlalu mainstteam. Bagaimana de-"

"Tidak mau, kalau tidak setuju dengan nama Menma, pergi sana cari anak lain!" Dengan kejam Naruto memotong ide Sasuke. Karena tidak ingin mendapat penolakan dari Sasuke ia lalu memungungi Sasuke dan menutup kepalanya dengan bantal.

"Haah... baiklah, namanya Menma. Apa kau tidak ingin melihat anak kita Naru?" Tanyanya sambil mengelus rambut Naruto dengan penuh sayang.

"Mana Menma?"

"Dia sedang dimandikan Karin," jawab Tsunade sambil mengecek kondisi Naruto kembali.

"Perutku rasanya semakin melar"

"Hemmm... memang, itu terjadi karena bayi yang ada didalamnya sudah keluar"

"Tapi yang ada difilm-film bisa langsung kecil lagi dan langsing,"

"Sudahlah kau ini,"

"Naru, lihat anak kita!" Sambil mengendong Menma Sasuke lalu duduk dipinggir ranjang.

"Mou... kenapa warna revennya lebih banyak daripada pirang?"

"Karena aku yang membuatnya"

"Yak, kau Teme ero," teriaknya sambil mengeplak kepala raven besar dihadapannya.

"Itu faktanya dobe, wajahnya saja mirip denganku"

"Berisik, bawa keluar sana!" Usirnya marah.

"Hn, aku akan memperlihatkan pada yang lain" mengambil kembali Menma dari pangkuan Naruto,

"Tunggu dulu, Naruto-kun harus menyusui Menma-chan dulu Sasuke-kun," cegah Karin saat Sasuke mau beranjak keluar sambil membawa Menma. Dengan semburat merah dipipinya, karin membantu Naruto menyamankan posisi duduknya.

.

.

.

.

.

Di Hogwarts, Draco dan Harry yang mendapat tugas dari Professor Slughorn untuk menyerahkan ramuan di Ruangan Sreverus, kini hanya mendesah kecewa karena mendapati sang Professor tidak berada diruangannya. Menaruh tabung kaca di meja kerja Severus, Harry lalu menghadap kearah lukisan Dumbledore sekedar menyapa.

"Permen Lemon Harry?" Tawar Dumbledore sambil menyodorkan sebiji permen lemon dengan tangan kanannya, "kalau kau mau, kau bisa memgambilnya dilaci meja Severus,"

"Errr, tidak Professor, ngomong-ngomong Professor Sanape dimana?"

"Tadi dia bilang mau ke Mansion Namikaze, coba kau tanyakan pada Phineas"

"Dia memang masih disana, baru saja aku mendapat kabar dari lukisanku yang dipindah paksa oleh Sirius kalau Naruto sudah melahirkan, dan mungkin dia akan lama disana." Terang Phineas sambil menghirup aroma secangkir kopi yang masih mengeluarkan asap.

"Eh, benarkah Naru-nii sudah melahirkan?"

"Kau meragukan informasi dariku bocah pirang?"

"Itu kabar bagus, ayo Dray kita beritahu yang lain!" dengan semangat Harry menarik Draco keluar dari ruangan.

.

.

.

.

"Jangan terburu-buru Harry,"

"Kita harus cepat Dray, aku ingin melihat keponakanku secepatnya. Selain itu aku lupa menyerahakan Horcrux yang kutemukan pada Sasuke-san" ucapnya lirih diakhir kalimat, walaupun sudah lirih tapi masih ada seorang lagi yang mendengarnya selain Draco.

Sesampai di Kamar Kebutuhan yang kini sudah dipenuhi oleh para anggota Club Duel, Harry lalu mengngumumkan berita bahagia tersebut kepada teman-temanya dan langsung ditangapi antusias oleh mereka, apalagi si kembar Weasley,

"Kami benar-benar ingin kesana," ucap Fred sambil mengacak rambutnya.

"Tidak kalian saja, kami juga ingin melihat anak Naruto. Kyaa, pasti sangat imut, manis dan unyu-unyu(?) Gabungan antara ayah yang tampan dan ibu yang manis," teriak Pansy sambil menutupi pipinya yang blusshing.

"Kalian mungkin lupa, pintu lain yang sengaja disiapkan oleh Professor Snape dan Mr. Louwis untuk mengungsikan para murid keluar Hogwarts, tepatnya ke Mansion Namikaze yang memiliki pertahanan sempurna yang sudah dibuat oleh Naruto-san dan Sasuke-sensei beserta para penyihir hebat lainnya," ucap Luna dengan nada riangnya.

"Benar juga, kita hanya perlu mencari pintu tersebut," sahut Ron

"Masalahnya, bagaimana kita mencarinya tanpa menimbulkan kecurigaan? Karena diantara para murid pasti menjadi mata-mata si Voldy, apa lagi setelah perekrutan besar-besaran oleh Death Eaters terhadap murid Slytherin," ungkap Blaise yang membuat mereka semua terdiam.

"Darima kau tahu info itu Blaise?" Tanya Theo tertarik.

"Aku melihat tanda kegelapan dilengan Malcolm Baddock dan Graham Pritchard yang usianya lebih muda dari kita, dan saat aku mencari tahu dengan bertanya langsung pada salah satu dari mereka bilang kalau dia menjadi anggota Death Eaters karena dipaksa untuk selalu memantau pergerakan pasuka Dumbledore,"

"Nekat sekali kau bertanya langsung pada Mereka, bagaimana kalau si Voldy menngetahuinya?"

"Tentunya aku memiliki persiapan untuk menghadangnya langsung Pans,"

"Dengan Obliviate?" Tebak Draco yang langsung mengenai sasaran.

"Aku tahu letak pastinya, tapi... kita tidak bisa kesana karena berada di tempat yang sering dilalaui oleh siswa maupun Professor," bagaikan angin sejuk yang menyegarkan kepala yang sedang frustasi.

"Dima tempatnya Luna?" Tanya Harry ingin tahu.

"Dibelakang meja para guru, tepatnya di balik bayangan kursi kebesaran kepala sekolah," terang Luna sambil menautkan kedua tangannya dibelakan punggung sambil memainkan kakinya.

"Haah... berasa jadi percuma, lagian kita tidak mungkin ikut semuanya, akan sangat mecolok jika empat puluh siswa menghilang secara bersamaan,"

"Aku tidak ikut," mengangkat tangannya, Marietta Edgecombe sambil memainkan tangannya takut ia menatap Harry "lagian, aku masih memiliki tugas dari Professor Vector( Septima Vector pelajaran Arithmancy)"

"Kau masih belum mengerjaknnya?" Tanya Cho Chang mendapati teman akrabnya belum mengerjakan tugas yang seharusnya dikumpulkan senin nanti.

"Belum,"

"Tidak semua dari kami bisa ikut Harry, jangan lupakan Agustus nanti kita mulai memasuki OWL dan NEWT," ucap Angelina mengingatkan kelas lima dan tujuh tentang ujian yang akan segera mereka hadapi.

"Kami mengerti, jadi siapa saja yang akan ikut?

"Aku"

...

...

...

...

...

..

.

Malam menjelang disalah satu ruangan yang sudah dilapisi oleh mantra peredam, terlihat Severus yang tengah duduk ditengah-tengah aksara yang ditulis dengan darah Sasuke melingkarinya bahkan sampai di tubuh dan lengannya, tepatnya pada tanda kegelapan miliknya. Merangkai beberapa segel tanga dengan cepat lalu ia meepukan tangan kanannya pada tanda kegelapan tersebut hingga aksara yang ditulis sebelumnya mengeluarkan cahaya redup dan lalu memasuki tanda kegelapan ditangannya.

Mengigit bibirnya dengan kuat guna meredam teriakannya karena merasakan sakit dan panas yang melebihi mantra Crusio yang pernah diterimanya dari Dark Lord.

"AAAARRRGGGGH...hah haah," teriak Severus sambil mencekram lengan tangannya tepatnya pada tanda kegelapannya. Sedangkan Sasuke sendiri masih berdiri dihadapannya tanpa melakukan apapun.

Setelah selesai melakukan penyegelan, Severus yang masih lemas dipapah Sasuke keluar dari tempat tersebut menuju keruang keluarga, tentunya setelah membantu Severus mengenakan bajunya terlebih dahulu. Setelah mendudukan Severus kesofa panjang, dia lalu memasuki Kamar Naruto guna mengecek kembali keadaan Menma dan Naruto. Mendapati Tsunade yang sedang memeriksa Naruto, dia lalu duduk disamping ranjang Naruto.

"Tsunade-sama, kenapa tadi Naruto sampai kehilangan kendali seperti itu?" Tanya Sasuke mengawali pembicaraan.

"Hemm... selain perubahan emosi yang terlalu ekstrim, kondisi kehamilan pada laki-laki juga menjadi kendala, kau tahu sendiri, laki-laki tidak diciptakan untuk bisa mengandung Uchiha,"

"Lalu, baaimana keadaannya sekarang?"

"Cu-"

"Tenang saja Ayam, Naruto baik-baik saja," sela Kurama yang kini sudah bisa keluar bebas lagi.

"RUBAH BULUK, berani-beraninya dia menyela ucapanku," desis Tsunade murka

"Hn, wanita tua berdada besar"

"Astaga, Kami-Sama," desah Sasuke lelah

.

.

.

.

Ketika jam dinding berdentang sembilan kali dikediaman Namikaze, Severus yang mendengar dentingan tersebut akhirnya terbangun dari tidur singkatnya. Menyandarkan punggungnya disandaran sofa, dengan tubuh yang masih terasa sakit dia hanya bisa menatap langit-langit berwarna putih, hingga lamuannya terganggu dengan kehadiran seseorang yang dulu merupakan musuhnya.

"Kau sudah bangun Sev? Ini minumlah!" Sapa James sambil menyodorkan segelas air putih.

"Terimkasih," ucapnya sambil menerima gelas berisi air putih tersebut dan meminumnya.

Masih dalam suasana yang terasa kaku, James akhirnya beranjak dari duduknya, dan melangkah menjauh, baru dua langkah dia berhenti karena mendengar suara dari balik lukisan Arata yang kosong.

Ngiiik

"Cepat-cepat sebelum ketahuan Filch!"

Suara itu, James hafal suara yang didengarnya. Setelah melihat Lukisan Arata begeser dari tempatnya, keluarlah sepuluh remaja yang satu diantaranya belum ia kenal.

"Waaah... benar katamu Luna,—"

"kita bisa langsung sampai di Mansion Namikaze," seru Fred dan George dengn gaya bicara mereka.

"Ka li an..." desis Severus melihat kesepuluh siswanya dengan bergerombol keluar dijam malam juga keluar dari teritorial Hogwarts.

"Err... Hai Professor Snape," sapa Draco kikuk,

"Kami hanya ingin melihat anak Naru-nii... sunguh, tidak ada maksud lain."

"Siapkan diri kalian untuk detensi besok!"

"Hemmm... lima Gryffindor, empat Slytherin, dan satu Ravenclaw, Wahhh kalian hebat, pertahankan keonaran kalian dan buat Hogwarts agar tidak semakin membosankan!" Perintah James menyemangati kesepuluh anak yang melangar peraturan sambil bersorak gembira karena ada juga yang menjadi penerusnya.

"JAMES POTER... SEKALI LAGI KAU MENGAJARI MURIDKU UNTUK MELAKUKAAN KEONARAN BODOHMU KUPASTIKAN KAU TIDAK AKAN MELIHAT MATAHARI LAGI" teriak Severus lepas kendali setelah mendengar sorakan James, mengabaikan keadaanya yang masih lemas dia mengacungkan tongkat sihirnya dengan memasang muka garang.

"Ada apa ini, Kenapa kalian berisik sekalih? Harry?"

"Err... hai Naruto-nii!"

"Kenapa kalian berada disini?" Tanya Naruto sambil berdecak(?) pinggang

"Kami ingin melihat anak Naru-senpai,"

"Kau ikut juga Luna, dan bagaimana jika ada yang mengetahui kepergian kalian?"

"Tenang, kami diajari Harry membuat duplikat diri—

"Dengan transfigurasi"

"Sesuai ajaran Naru-nii," jawabnya sambil melirik Severus takut-takut.

"Ho, kau sudah menemukan kekurangannya? Jadi bisa bertahan berapa lama?"

"Ada pada kapasitas sihir yang kita keluarkan, dan bertahan paling lama sepuluh jam Nii-san" jawab Harry semangat kerena akhirnya bisa membuat copian dari jurus Kagebunshin milik Naruto, yahhh walaupun masih belum bisa melakukan apapun selain tidur.

"Naru, Menma bangun lagi" dengan suara seraknya karena baru bangun tidur, Sasuke mengendong Menma sambil sesekali menguap lebar.

"Kyaaa... manisnya..." teriak ketiga gadis tersebut, sambil mendekati Sasuke yang langsung mundur beberapa langkah karena takut jika Menma kecilnya menjadi korban tubrukan ketiga gadis bar-bar dihadapannya.

"Sensei, ijinkan aku mengendongnya," pinta Hermione penuh harap.

"Aku ingin mencium pipi gembilnya" sahut Pansy berbinar karena melihat pipi gembil Menma yang masih terlihat merah segar.

"Boleh aku menculiknya?"

Doeengg

"Lu Luna, kau ingin mati ditangan Sensei ayam ini?" Bisik Pansy ditelinga Luna karena menanggapi pernyataan Luna yang sangat melenceng dan membahayakan jiwa dan raganya.

"Hn, tidak boleh!" Tolak Sasuke mutlak.

"Naru-nii..." pinta sebagian besar siswa tersebut dengan puppy eyes karena melihat Menma dibawa masuk kembali oleh Sasuke.

"Maaf, ini sudah malam dan waktunya Menma-chan tidur, tapi kalian bisa bermain dengan Menma-chan besok"

"Jadi, kami akan menginap disini kan?"

"Boleh kan Paman Sev, sehari saja... lagian besokkan hari Sabtu" pinta Naruto pada Severus untuk mengijinkan teman-temannya menginap.

"Untuk kali ini, dan bersiaplah besok kalian dengan detensi!"

"Kami mengerti—

"Lagian kitakan menderita—

"Bersama-sama"

"Baiklah, kalian bertiga tidur bersama Karin-nee disana!" Sambil menunjuk kearah pintu yang tercantum nama Uzumaki Karin. "Dan kalian bagi dua kelompok untuk tidur dengan Suigetsu dan Juugo di kamar sebelahnya!"

ππππππππ

Pagi hari di Mansion Riddle yang tenang, terlihat seorang pria yang membawa sebuah surat menuju kamar Sang Dark Lord.

Tok tok tok

"Saya Fenrir, My Lord,"

setelah mengetuk pintu tiga kali dengan pelan. Pria itu, Fenrir Greyback langsung memasuki kamar tersebut setelah mendapat perintah masuk dari Sang Dark Lord, setelah mencium ujung jubah hitam yang menyentuh lantai, dia lalu berdiri dan menyerahkan surat yang diterimanya dari salah satu mata-mata kecilnya yang berada di Hogwarts. Membaca surat tersebut dengan teliti, hingga dibaris tertentu matanya menyipit dibarengi dengan senyum miring menghiasi bibir ratanya(?)

"Apa kau sudah mencari tahu kebenaran surat ini?"

"Sudah My Lord,"

"Hyahahahaha... tidak kusangka mereka sudah bertindak sejauh itu. Menarik, sangat menarik... suruh salah satu dari mereka untuk memata-matai Namikaze Mansion!"

"Maaf My Lord, tapi kelima siswa Death Eatres kita memasuki pintu tersebut hanya menemukan ruang hampa yang dijaga oleh kura-kura bermata satu dan berekor tiga yang menembakkan peluru air pada mereka dan melemparnya keluar ke Dedalu Perkasa,"

"Kura-kura ekor tiga?"

"Yes My Lord,"

"Pergilah! Dan pangilkan Bellatrix sekarang!"

"Yes My Lord," mencium lagi unjung jubah Voldemort, dia lalu keluar dari kamar tersebut.

.

.

.

.

.

"Kyaaa... manisss, aku mau jadi babby sisternya(?)" Girang Pansy yang pagi-pagi langsung masuk kamar Naruto dan mengangkat Menma tanpa meminta ijin dari kedua pria yang masih tidur.

"Kau hebat Pans, berhasil menculik Menma tanpa ketahuan,"

"Kalian ini, Sasuke-kun dan Naru-chan pasti sudah tahu, hanya saja mereka membiarkanmu mengambil Menma-chan," jelas Karin.

"Begitu yah,~"

"Jangan kau fikirkan, itu tandanya mereka sudah sangat mempercayaimu," hibur Karin saat melihat muka suram Pansy.

"Benarkah?"

"Hai, kalian sudah pada bangun Hooamm..." sapa Theo.

"Selamat pagi," Sahut Blaise

"Dimana Harry dan Draco?" Tanya Ron yang bangun tadi sudah mendapati tempat tidur yang kosong, bahkan dengan kindisi kasur yang kembali normal. (Sudah tidak dalam pengaruh mantra perluasan)

"Tadi aku melihatnya bersama Juugo dan Suigetsu lari pagi mengelilingi mansion," jawab Karin sambil mengendong Menma

"Mau dibawa kemana?" Tanya Hermione tidak ikhlas.

"Aku harus memandikannya"

"Ikuuut" koor ketiga siswi konpak.

.

.

.

.

.

Siang hari di Penjara bawah tanah Azkaban, terlihat Voldemort menuruni satu persatu anak tangga menuju ke ujung penjara gelap tersebut. Menemui seorang penghuni tahanan yang telah lama menghuni sel gelap yang dijaga oleh Dementor. Ya, seorang yang dulu pada masa kejayaanya disebut sebagai Dark Lord Grindelwald, entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, tapi setelah Voldemort mengacungkan tongkat yew miliknya akhirnya Grindelwald memberitahukan tentang rahasia tongkat Elder serta tentang tiga Relikui kematian. Setelah mendapat info yang dia butuhkan, Voldemort lalu keluar dari sel sempit tersebut.

Hingga sore hari yang kelabu, didekat danau Hitam yang berada disamping Hogwarts, tepatnya disebuah makam yang berhias batu marmer putih dan ditengah-tengahnya terdapat peti yang terbuat dari Marmer putih yang terlihat elegan(?) Membuka peti tersebut dengan sihirnya. Voldemort lalu memasuki peti besar itu dan menyingkap kain beludru ungu yang menutupi jasad Albus Dumbledore. Dengan jemari kurus dan panjangnya dia mengambil paksa tongkat Elder dari genggaman tangan Dumbledore yang berada diatas dadanya. Setelah mendapatkan satu dari Relikui Kematian dia bangkit dan tertawa keras, tak lupa mengacungkan tongkat Elder keatas langit dan meluncurkan sihir kebangaanya, 'Mors Morde' yang langsung menciptakan tanda kegelapan berupa tengkorak yang dililit ular.

.

.

.

ππππππππππππ

.

.

.

^_^Tbc^_^

.

.

.

Pojok est :

Errr, hai minna-san...

Maaf est sangat lama up datenya, est akui est salah, soalnya habis sakit dulu, est ngak langsung ngerjain tapi malah tersesat di dunia hill climbing, hihihi... dan setelah bosan est malah kehabisan ide veei^_^''

Udah itu saja pembelaan(?) Est. Ada yang mau memaafkan est?

.

.

.

.

Balasan review est, :

-Namie : hihihi... #garuk kepala. Maaf, est banyak urusan di dunia nyata est, ihhh... makasih sudah menunggu fic est yang penuh kekurangan ini. Maaf... juga kalo banyak typonya, soalnya akhir-akhir ini mata est agak buram kembali. Dan tambah words, .. akan est usahakan nambah di chap ini...

- retvianputri12 : bagi yang baca memang pendek, ttapi bagi yang nulis rasanya puanjang senpai... hihihi... pengen saja est ngapa-ngapain si nona Hokage... berubung Orochimaru lagi baik, jadi Orochimaru-sama mu bantu est ngapa-ngapain Tsunade.#apa maksudnya coba(-_-?)

- Blueonyx Syiie : hihihi... est salah lagi yah nyebut nama... hikz... dulu Lucius-san sekarang Remus-san... #geleng kepala.

- lolipopkwon88 : hihihi... benarkah? Senag rasanya bisa menebak benar... makasih...

- hyunnie02 : un un... apa yang diatas udah banyak belum? Lagian hyunn tahukan alasan est.

- AkarisaRuru : chap ini^_^

- lusy jaeger akerman : iya Lusy-san...

- Widia267 : terimakasih idah menunggu cerita est yang enuh kekurangan ini...

- Byakuren Hikaru83 : iya... terimakasih udah review...

- Vilan616 : hai, gak tentu Vilan-san, est up date tergantung keadaan. Dan terimakasih udah nunggu cerita est.

- Lisa Amelia : oh... syukurlah... ini udah est lanjutin. Umm... est buat baru, kalo gak salah judulnya Before my Heart Stpos Beating. #plakk... ff sendiri dilupain judulnya... tolong jangan dicontoh otak est yang susah ngapalin ini.

- Lee Yaa 714 : iya... makasih sudah review...

- putrilestarilibra164 : ini sudah lanjut putrilestarilibra-san...

- pink cherry : udah est up date fic um... rikuest? Nya...

- asyifaaulia31 : laki laki...

- askasufa : hihihi... eet ngak kepukiran sampai disitu senpai... un, makasih udah nuempetin review...

- Vandalism27 : ummm... terimakasih masukannya, apa yang diatas sudah pendek? Mungkin karena dulu pas baca novel pertama tuh paragrafnya panjang, jadi mungkin kebawa. Dan maaf kalo ff est bikin pusing. Dan koma akan est selalu est ingat.

- Guest : sudah tidak ada, paling nanti sesuai rencana sasuke untuk membangkitkan Keempat Hokage...

- Iyeth620 : un.. lagian est gak tega buat papi James jadi jahat... est bawaannya tuh ngak ngak tahan kalo ada orang ganteng jadi jahat... um, akan est usahakan perangnya.

- fatan : hiks... maaf est gak bisa up date cepet...

- hanny fitriyani : ummm... udah est bilang dan est warningin sbelumnya kalo fic est banyak typo. Padahal sudah est baca ulang, juga kelemahaa est yang berada di bahasa est yang sering ambruladur, terus, est juga sering kesusahan bedain antara r sama l juga masih menjadi kendala, apa lagi kamus bahasa est yang lagi dipinjam seseorang yang est lupa siapa, jadi gak bisa diambil kembali #curcol. Um... est up date pakai hp touchscreen yang kotaknya kecil kecil jadi kadang gak muat dimasukin jempol est#alasan yag mulai melantur. Dan terimakasih sudah menyampaikan unek uneknya di kotak review est. Semoga chap ini typonya berkurang.

- Uchizuu Ryuusuke : sekarang lanjutnya... ^_^ maaf membuat Uchizuu-san menunggu lama.

- shunji da yumi : sekarang Updatenya, maaf juga sudah membuat shunji-san menunggu lama.

~~~~ akhir kata est ucapkan banyak-banyak terimakasih pada para senpai, para senior dan para silent reader-san yang sudah mau membaca dan menreview cerita est.

~~~~~ akhir kata (lagi?) Kotak revier est selalu terbuka buatenerima uneg-unek yang berupa Review... hihihi...

.

.

.

Jaa...

.

.

~~~Omake~~~

Disebuah kerajaan yang berada dipedalaman yang dihuni oleh para suku Naga, yang masih terlihat asri. Kita fokuskan perhatian kita pada sebuah bagunan yang terlihat sangat luas tepat dibawah sebuah pohon besar yang dikelilingi rumah kristal, terdapat segudang senjata yang dilengkapi armor tempur terbuat dari titanium(?) Bahkan ada yang berbentuk menyerupai helm untuk kepala naga.

Sreeet trank

Terdengar suara gesekan pedang dengan sarungnya yang berasal dari seorang pria berambut raven lurus seleher tengah mengeluarkan pedang besar dari sarungnya hingga mengeluarkan suara gesekan tajam.

"Sudah lama sekalih aku tidak memegangnya," ucapnya yang masih memandangi pedang ditangannya.

"Bukankah anda yang menginginkan bergabung dalam perang ini Pangeran?" Sahut seorang yang kita kenal sebagai Badrias Yulius, sang panglima yang menjaga keamanan Rommle.

"Ini kulakukan untuk seluruh keluarga kita Bad, aku tahu mereka mulai muak dengan hidupnya dan kutukan ini, kutukan keabadian yang dibawa dengan datangannya Gandora,"

"Aku mengerti, dan aku akan selalu mendukung semua keputusanmu, Yang Mulia~" ucap Badrias sambil menepuk pundak kiri Winslot dengan tangan kanannya.

"Hemm... terimakasih Bad,"

.

.

.

Kamarpjk, 2016-03-05 /

/09:04 PM