Hello Everyone,

Actually the idea of making this came a long time ago, but due to some reasons, RL stuff, WB, etc, I started this chapter just now.

It's my big project so far, and it's been so much fun writing it.

I hope you guys enjoy this as much as I am as I wrote it.

Happy Reading~


Disclaimer: Mobile Suit Gundam SEED and all of its characters belongs to Yoshiyuki Tomino, Sunrise, and Bandai respectively

Rate: T, well, this chapter sounds light, but I think just in case for later chapters

Genre(s): Drama, Friendship, Family, etc

Warning(s): Next Generation Fic, Post-GSD, OOC-ness, Typo(s), ER, FT, etc

Pairing(s): None for this chapter, may change in later chapters


Daughter of Spring and Autumn

The Girl with Red Ribbon

Kaoru Hiyama

2015


Pulau Onogoro, 19 September CE 85

"Berapa harga yang harus kubayar agar kau mau mengajakku ke PLANTs?"

Ashlyn menatap anak perempuan kecil yang mengajaknya bernegosiasi itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, mengamatinya. Pegawai magang asal PLANTs yang baru saja akan kembali ke rumahnya di koloni luar angkasa itu terkesan.

Rambut anak itu pirang, sedikit bergelombang, dipotong sebahu dan berponi lurus di bawah alis. Sebuah pita merah besar bersarang di atas kepala sebelah kirinya, menyerupai hiasan rambut boneka prancis kuno yang dilepaskan dari bonekanya dan dipakaikan di rambut pemiliknya. Matanya hijau, bulat dan bercahaya, namun mengintimidasi seperti tatapan seorang yang kedudukannya tinggi. Mengingatkan gadis itu akan seorang pria yang menjadi atasannya selama masa magang. Pria yang memiliki wewenang atas seluruh pasukan ORB.

Sang ketua kemiliteran ORB, Athrun Zala.

Secara keseluruhan ia mengintimidasi, meski ucapannya terdengar seperti memohon. Hanya sebuah boneka teddy bear klasik besar—kira-kira setengah ukuran pemiliknya—berwarna coklat tua dengan syal merah yang dipeluknya erat yang memberi kesan bahwa usianya kelihatan tak lebih dari sepuluh tahun, menurut pandangan Ashlyn.

Ia menghela napas "Maafkan aku, Dik" katanya dengan senyuman membujuk "Tapi aku tidak bisa membawamu ke PLANTs."

Si gadis kecil merengut, kemudian menghela napas berat "Please, aku benar-benar harus ke PLANTs sekarang juga" ia mulai terdengar parau dan Ashlyn kalah mental nyaris seketika, tidak pernah mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan tangisan anak kecil.

"Ke-kenapa?" tanya gadis itu, panik dan khawatir "Apa ada masalah?"

Gadis kecil itu merunduk, matanya sekilas tampak berkaca-kaca "Kau tidak akan mengerti…"

"A-apa? Ada apa?" Ashlyn mendapati dirinya bertanya lagi, kali ini terdengar begitu cemas "Apa kau punya keluarga di sana?"

Anak itu mulai terisak, napasnya terdengar putus-putus "Y-Ya… ibuku… dia, dia ada di PLANTs, dan… dia sedang sakit."

Kedua alis gadis itu melengkung penuh kebingungan, tak mengerti dan ikut merasakan kekhawatiran si anak yang dalam "Ba-Bagaimana dengan ayahmu? Apa dia tidak mengizinkanmu ikut dengannya?"

"Ayah... ayahku sedang dinas keluar kota, dia tidak tahu…" katanya "Kumohon, aku khawatir ini akan menjadi pertemuan terakhirku dengan ibu…"

Ashlyn menelan ludah, cemas. Ia berada dalam dilema mengenai anak perempuan kecil itu. Di satu sisi, ia merasa berkewajiban membantunya, bagaimanapun mereka berasal dari tempat yang sama; yaitu PLANTs. Dan anak itu sedang dalam kesulitan yang hanya dirinya yang bisa menolong. Tetapi di sisi lain, ia ragu, apakah anak ini benar-benar mengatakan yang sebenarnya?

Karena jika tidak, dan ia membawanya begitu saja. Ia akan harus berhadapan dengan kedua orangtua anak itu yang sebenarnya.

Sekali lagi kedua alis milik gadis berambut hitam itu melengkung, kali ini secara independen. Ekspresinya saling bertarung dengan diri sendiri—kemanusiaan dan logika—kemanusiaan yang menang. Ia akan mengikuti kata hatinya yang tersentuh oleh kesedihan si gadis kecil, tak peduli apapun risiko yang menantinya atas keputusannya itu.

Tak peduli apapun risikonya?

Oh, seharusnya dia peduli.

Seandainya saja dia tahu bahwa gadis itu—yang matanya mengingatkannya pada sang ketua kemiliteran ORB—benar-benar adalah anak perempuan dari atasannya.

Dia adalah Maple, anak perempuan tunggal dari pasangan penguasa ORB, Athrun Zala dan Cagalli Yula Zala—dulu Athha—yang masih berusia delapan tahun sampai tanggal 18 di bulan Oktober nanti.

Dan pada saat yang sama ketika Ashlyn membantunya dengan memesankan sebuah tiket agar gadis kecil itu bisa ikut bersamanya ke PLANTs, dia sedang dicari oleh Ledonir Kisaka—tangan kanan kedua petinggi ORB itu, sekaligus pengawal utama gadis itu—ke seluruh ORB.

Karena berita tentang Maple yang tidak ada sekolahnya di ORB International School ketika Ledonir Kisaka dan Manna menjemputnya baru saja sampai di telinga orangtuanya.


Maple membiarkan Ashlyn menyeret kopor merah-hijau mungil yang tadi dipegangnya—yang tampak seperti kopor anak-anak edisi natal karena warnanya, sementara sebelah tangannya memeluk Rouge—nama si beruang—dan tangan satunya bergandengan dengan Ashlyn yang menuntunnya menyusuri shuttle-port ORB di Kaguya, menuju ke arah shuttle yang akan terbang ke PLANTs sebentar lagi.

Sambil menyanyikan senandung kemenangan dalam hati—demi meyakinkan si pegawai magang bahwa ia adalah gadis malang yang mencemaskan ibunya di PLANTs sementara ayahnya masih dalam perjalanan dinas dan belum bisa kembali—Maple berjalan mengikuti langkah demi langkah yang dilakukan Ashlyn untuk menuju lokasi penerbangan shuttle.

"Ngomong-ngomong, gadis kecil, siapa namamu?" tanya Ashlyn, menoleh pada Maple hingga menutupi gadis itu dari pandangan seorang pegawai suruhan Kisaka yang tengah mencarinya.

Maple sudah mengantisipasi pertanyaan ini "Maze" katanya "Maze Dawn."

"Maze Dawn?" alis Ashlyn berkerut "Nama yang unik, orangtuamu kreatif sekali"

Maple nyaris tertawa, tapi teringat bahwa seharusnya ia tidak bisa tertawa, bahkan pada ucapan yang terdengar seperti lelucon itu "Yah, orangtuaku…"

"Oh, maafkan aku..." ucap Ashlyn buru-buru, menyadari kesalahannya nyaris seketika "Aku benar-benar minta maaf."

Tetapi gadis kecil berpita merah itu tetap menunduk, poninya menutupi alis dan mata dalam keadaan seperti itu "Tidak apa-apa… aku hanya…" ia menjaga suaranya terdengar sendu.

"Kau akan segera bertemu dengan ibumu, iya kan? Tenanglah, dengan teknologi yang ada sekarang, PLANTs bisa dicapai dalam waktu singkat."

Maple mengangkat kepalanya perlahan-lahan, menurut film yang ditontonnya, itu memberikan efek dramatis yang akan membuatnya terlihat berusaha untuk pulih, bukannya pulih dengan cepat. "Semoga saja"

"Ooh…" Ashlyn tersenyum iba, ia lalu melipat lututnya dan menyejajarkan matanya dengan mata Maple sebelum memeluk gadis kecil itu "Hanya 3 jam dan kau akan segera bertemu dengan ibumu, Dik. Jangan khawatir."

Maple membalas tatapannya, tetapi melirik singkat ke arah si pegawai yang berjalan dengan panik karena tak mampu menemukan dirinya, kemudian berganti dan mengangguk pada ucapan Ashlyn, merasa lega dan menunjukkannya secara dramatis.

"Ngg"

Kemudian Ashlyn berdiri, memutar tumitnya dan kembali meneruskan perjalanan menuju shuttle-nya. Sungguh keberuntungan seorang temannya di PLANTs bisa membantunya meloloskan anak kecil itu untuk duduk di sampingnya. Ia akan merasa cemas sepanjang penerbangan jika Maze duduk berjauhan darinya.

Maple mempererat genggamannya pada tangan Ashlyn ketika mereka telah berada di dalam kabin shuttle, rasa lega menyusup perlahan sementara ia bersandar dan memikirkan prospek rencananya. Sebentar lagi ia akan tiba di PLANTs dan bisa menjalankan tahap selanjutnya dalam rencananya.

Rencana untuk merayakan ulangtahun pernikahan kedua orangtuanya.

Mata zamrudnya terarah ke langit-langit kabin yang terang benderang di bawah perpaduan cahaya lampu dan sinar matahari diluar jendela dengan pandangan nanar dan menerawang. Ia membayangkan bagaimana keadaan orangtuanya, mereka pasti mencemaskannya dan membuat prajurit ORB berkeliling mencarinya dengan sia-sia sepanjang hari. Rasa bersalah menyerangnya saat benaknya sampai pada pemikiran mengenai kekhawatiran dan kecemasan yang ia berikan pada kedua orangtuanya sekarang ini. Tetapi rasa itu cepat memudar, berganti dengan kecemasannya sendiri.

Maple mengkhawatirkan kedua orangtuanya, sungguh.

Ia delapan tahun, sudah cukup dewasa—menurut pendapatnya secara pribadi—untuk menyadari ketidakberesan di antara kedua orangtuanya, sekalipun mereka tampak damai seolah tak terjadi apa-apa.

Karena keheningan di meja makan saat makan malam bersama, percakapan yang terasa hambar antara keduanya, serta frekuensi pembicaraan mengenai urusan kenegaraan dengan nada formal yang belakangan menjadi lebih banyak daripada percakapan pribadi jelas tidak bermuara pada sesuatu yang baik dalam suatu bentuk hubungan, ia mendengarnya sendiri dari ucapan wali kelasnya ketika menasehati orangtua salah satu teman sekelasnya yang juga bekerja dengan papa dan mamanya di Mansion Pemerintahan ORB.

Maple menghela napas panjang dan bersandar ke kursinya.

Ia benar-benar harus melakukan sesuatu sebelum ibunya mengganti nama belakangnya kembali.


Kira Hibiki berkesah tak nyaman. Lacus Clyne—sekarang Lacus Hibiki—di lain pihak, menghela napas panjang yang terkesan frustasi.

Sementara dari kamar sebelah—kamar anak-anak mereka yang terhubung dengan kamar mereka melalui sebuah pintu—terdengar suara prang yang menggema.

Sepasang suami-istri itu beradu pandang, seolah bertanya giliran siapa sekarang melalui telepati. Keduanya melirik jam dinding di atas pintu kamar mereka—yang bukan pintu penghubung—dan Kira mendengus berlebihan. Sekarang gilirannya.

Mantan pilot Freedom itu bangkit dari tempat tidurnya yang nyaman dan meletakkan buku yang tadi dibacanya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Di belakang punggungnya, Lacus meminta maaf tanpa suara lalu kembali merosot ke dalam selimut untuk melanjutkan perjalanannya ke alam mimpi.

Ini malam yang panjang, sungguh. Dan Kira seharusnya sudah tidur karena besok ia harus menghadiri rapat penting di pagi hari. Tapi kesepakatan ini dibuat sepuluh tahun yang lalu dan Lacus tak mau berkompromi. Sekali tugas, tetap tugas.

Dan menurutnya, tugas dalam keluarga lebih penting daripada tugas terhadap negara. Apapun taruhannya, apapun keadaannya. Dan Lacus bisa menjadi sangat persuasif—atau sangat intimidatif—jika menyangkut masalah prioritas ini.

Langkah kaki pria itu terdengar malas. Meski demikian jarak antara tempat tidurnya dengan pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar anak-anaknya tidak jauh, dan bisa ditempuh dalam waktu singkat. Suara tawa lepas yang berganti-gantian antara kedua anak kembarnya terdengar begitu Kira mendekat ke pintu, dan ia mendadak merasa jengkel.

Daun pintu itu bergeser ketika ia berada sangat dekat dengannya, dan pemandangan dua bocah laki-laki hiperaktif yang sedang duduk di atas karpet tebal yang memenuhi satu ruangan, tertawa lepas penuh keriangan—yang berhenti perlahan-lahan saat keduanya melihat dirinya di ambang pintu—serta pecahan lampu tidur yang berserakan di atas karpet yang sama dengan sebuah bola keras mungil di dekat pecahan itu, adalah hal pertama yang menyambut kedatangan Kira di kamar itu.

"Maaf, Dad" kedua anak itu berujar serempak, suaranya lirih dan menggantikan tawa yang sebelumnya dipenuhi kebanggaan "Kami benar-benar menyesal"

"Ehem" Kira berdeham, berusaha tidak terpengaruh meski tatapan dua pasang bola mata bulat dan besar itu nyaris memadamkan panasnya amarah yang sebelumnya memenuhi kepalanya. "Noir, Blanc," katanya, suaranya datar "Bagaimana kalian menjelaskan lampu tidur yang pecah itu?"

Mata amethyst Kira tak beranjak dari kepingan kaca yang tadinya bingkai lampu tidur dan bohlamnya, dan dipenuhi api meski warnanya keunguan dan bukan oranye seperti warna dasar api pada umumnya.

"Itu…" didorong insting sebagai seorang kakak—ini benar-benar sudah dibuktikan karena Kira tak mau lagi kasus 'siapa-kakaknya' atau 'aku-yang kakak' terulang pada anak-anaknya—Noir berusaha menjawab. Tapi tampaknya ia tidak berhasil—Kira juga menyadarinya—bukan dia yang jahil dan kepalanya dipenuhi ide-ide gila. Itu semua bakat Blanc—kalau bisa disebut bakat—dan sudah terbukti, seperti halnya masalah siapa yang kakak di antara keduanya itu.

Kira mengangkat jari telunjuk kanannya, mengisyaratkan pada Noir untuk diam, sementara ia berjalan ke arah Blanc yang masih menunduk, tampak sangat menyesal meski Kira meragukan kesungguhannya, SANGAT meragukannya. "Blanc, aku tahu ini semua idemu"

"Aku?" tanya Blanc, terkesan membangkang "Demi semua hal baik, Dad. Tadi ada Gilbert Durandal disana, dan karena aku tahu dia itu orang jahat, aku melemparnya dengan bola yang dibelikan Aunt Shi—Shiho—tapi ternyata dia cuma hantu dan bolanya jadi jatuh mengenai lampu tidur kami.

"Apa aku salah?"

Kira mendengus, menyerah nyaris seketika.

"Tidak" katanya, dan ia bergerak ke lemari terkunci di sudut ruangan yang berdekatan dengan pintu kamar mandi, untuk mengambil benda-benda yang dibutuhkannya. Sebuah alat pembersih, otomatis dan tidak menyakitkan. Lagipula, aman.

Ia menyalakan alat pembersih itu, lalu berjalan ke arah kedua putra kembarnya dan mengangkat mereka ke atas tempat tidur sebelum bersih-bersih "Tapi jangan salahkan aku kalau ada mainan yang tersedot" kata Kira mengumumkan.

"Dad" dua anak itu berujar memelas "Taruh saja di dalam kotak harta"

Dan Kira melakukannya, meski rasanya ia seperti diperbudak oleh kedua darah-dagingnya. Tapi yah… mau bagaimana lagi. Mungkin seharusnya ia mengumumkan hal itu sebelum menaikkan mereka ke tempat tidur.

Kemudian ia mulai bekerja. Dan saat dirinya berada cukup dekat dengan tempat pecahan itu berserakan, suara Blanc terdengar lagi "Dad, jangan buang bolaku, please."

Kira menghela napas panjang "Yang itu, apa boleh buat. Anggap saja sebagai hukuman karena memecahkan lampu, dan karena belum tidur selarut ini"

"Tapi tadi ada…"

"Apapun alasannya" Kira memotong ucapan putranya, berusaha kukuh dengan pendiriannya meski sebagian lain dari dirinya memikirkan yang sebaliknya "Aku akan tetap membuangnya."

Dan kali ini Blanc tidak bisa protes lagi.

Setelah selesai membersihkan kamar itu, Kira kembali meletakkan alat pembersihnya di dalam lemari dan menguncinya. Lalu memasukkan kunci itu ke dalam sakunya, karena meninggalkan kunci itu di sini sama saja dengan membiarkan anak-anak memainkan peralatan bersih-bersih khusus yang diletakkan di lemari itu.

Kira bertahan sebentar di pintu sembari melirik ke arah dua bocah laki-laki hiperaktif-nya, mereka tertidur—semoga sungguhan—dan terlihat sangat menggemaskan, dan tak berdosa, dan… polos. Seolah mereka tak pernah melakukan sesuatu yang membuatnya marah. Tapi mereka anak-anak, kan?

Dan tugas anak-anak—pada 10 tahun pertamanya—adalah bermain dan membuat orangtuanya marah karena sesuatu yang mereka rusak saat bermain.

"Jadi?"

Wanita berambut merah muda itu—yang telah memotong rambutnya hingga sebatas leher karena khawatir akan menjadi mainan anak-anaknya jika lebih panjang dari itu—menyapanya begitu Kira kembali ke kamar. Guratan kantuk yang semula menghiasi wajah lembutnya masih terlihat meski tak se-intens sebelumnya.

"Hanya lampu tidur yang pecah," jawab Kira, suaranya terdengar seperti gumaman malas "Bukan masalah."

"Senang mendengarnya" Lacus tersenyum, selembut sinar rembulan. Ia menepuk-nepuk bagian tempat tidur di sisinya, mengisyaratkan pada Kira untuk duduk di sana.

Dan Kira mengiyakan.

Ia segera ke sana, masuk ke dalam selimut dan duduk di samping Lacus, kemudian menarik selimut dan tidak mengambil buku yang tadi diletakkannya. "Hanya alasan mereka yang membuatku terkejut, Lacus"

"Alasan?" Lacus memiringkan kepalanya, matanya memancarkan tanda tanya "Memangnya mereka mengatakan apa?"

"Mereka mengatakan" kata Kira, tarikan ke atas di bibirnya membentuk senyuman tipis yang cerdas "Tadi ada Gilbert Durandal di kamar mereka, dan mereka harus memukulnya dengan bola untuk mengusirnya"

"Ya ampun" gumam Lacus, terkejut.

"Yah, dan membuatku bertanya-tanya… Lacus" Kira memerosotkan dirinya sampai selimut itu menutupi dadanya "Darimana mereka mendengar nama itu?"

"Entahlah" jawabnya, lalu mengikuti gerakan Kira dan mematikan lampu "Sepertinya besok aku harus bertanya pada guru mereka di kelas"

Kira memposisikan dirinya siap tidur, tapi menyempatkan diri untuk berujar dengan suara serupa gumaman "Ya, kau harus menanyakannya"


Maple menghilang dari pandangan si gadis magang yang membantunya setibanya mereka di Aprilius City, PLANTs. Dan ia tak terkejut ketika beberapa menit setelahnya ia mendengar Ashlyn memanggilnya dengan namanya yang asli dan mencari-carinya dengan frustasi. Terlambat. Amat sangat terlambat.

Karena sekarang mereka sudah ada di PLANTs dan tak ada yang benar-benar memperhatikan sosok anak perempuan kecil berambut pirang dengan bando pita merah besar di kepala, sundress hijau lembut di balik jaket merah, dan sepasang sepatu bot setengah lutut hijau di PLANTs.

Di PLANTs, ia hanya sosok dalam kerumunan.

Begitu juga PLANTs dalam pandangannya.

Koloni luar angkasa, PLANTs, tampak seperti lapangan bermain luas yang asing di mata Maple yang baru berusia delapan tahun—sebenarnya. Ia mengeratkan pelukannya pada bonekanya dan pegangannya pada kopornya. Merasa benar-benar tersesat dan butuh pada bantuan yang cepat.

Maple melirik pada alamat yang ia tulis di kertas dan tertempel di bagian belakang kopornya, alamat tujuannya. Ia tahu nama pemiliknya Kira Hibiki, dan ia sangat yakin bisa mencarinya. Seingatnya Kira Hibiki adalah saudara kembar mamanya, orang terdekat yang bisa dianggap sebagai saudara—atau keluarga—oleh papanya, pilot Freedom yang legendaris, pejabat tinggi kemiliteran—atau sekarang mungkin sudah berstatus dewan—PLANTs, suami dari diva PLANTs; Lacus Clyne, dan… orang yang sangat baik, meski kekanakan, katanya.

Maksudnya, tidak akan sulit mencari Kira Hibiki di PLANTs, semua orang pasti mengenalnya.

Dan Maple akan memulainya dari yang paling umum, yaitu petugas keamanan kota.

Sebenarnya, mereka semua prajurit—kebanyakan berpangkat green coat—tapi karena sekarang ini negara sedang dalam kondisi aman, damai, dan kondusif, mereka yang masih pemula pun mendapatkan tugas-tugas seperti patroli di seluruh penjuru negeri, setiap kota, setiap ruas jalan. Dan yang harus mereka lakukan dalam patroli itu mudah; membantu masyarakat.

Tetapi tetap saja mengejutkan bagi para green coat pemula itu ketika pada suatu sore, mereka ditemui oleh seorang gadis bertubuh mungil yang membawa kopor mungil dan sebuah teddy bear, dan menanyakan dimana ia bisa bertemu dengan Kira Hibiki.

"Kira Hibiki?" sang petugas menaikkan sebelah alisnya secara independen, takjub dengan pertanyaan si gadis kecil "Maksudmu Dewan Hibiki?"

"Ya, itulah" Maple menegaskan hingga terdengar serius, begitu serius "Pilot Freedom yang legendaris—kalau kau tahu maksudku—dimana aku bisa menemuinya?"

Si petugas nyaris tertawa—atau lebih tepatnya dia sedang menahan tawa—ketika mendengar ucapan anak itu. Menemui orang yang begitu penting di PLANTs seorang diri dan tanpa perjanjian resmi? Jangan bercanda.

"Ini urusan penting!" seru Maple, ia merasa diremehkan karena si petugas terlihat seperti tidak serius mau membantunya "Aku harus menemuinya!"

"Penting? Se-penting apakah itu, kalau aku boleh tahu, Nak?"

Wajah muda gadis itu mengerut seperti buah yang diperas tangan, tatapannya menghujam, tetapi tentu saja tidak terlalu dianggap. Bagaimanapun, duabelas tahun sudah berlalu sejak kedua orangtuanya—atau setidaknya ayahnya—mempunyai kedudukan tinggi di antara para prajurit PLANTs. Duabelas tahun sejak Athrun Zala menjadi prajurit kebanggaan PLANTs, dan meninggalkannya. Dan lagi ia tidak membawa identitas atau tanda apapun yang bisa mereka kenali sebagai sesuatu milik orangtuanya. Kecuali yah, tentu saja, kalung yang dulu diberikan oleh Cagalli pada Athrun, dan oleh Athrun pada Maple. Tapi… tentu itu bukan sesuatu yang bisa dikenali oleh prajurit PLANTs.

Seorang pria berambut hitam menyadari adanya kehebohan di salah satu tempat patroli ketika ia sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya pada sore itu. Dan pria itu—Shinn Asuka—berpikir untuk turun dari mobil yang dikendarainya lalu mencari tahu apa yang sedang terjadi. Atau mengapa seorang prajurit tidak langsung saja menolong seseorang—dalam kasus ini seorang anak kecil—yang butuh bantuan mereka?

"Ada apa ini?" tanya Shinn nyaris seketika setelah ia turun dari mobilnya. Segera ia menghampiri si prajurit dan si gadis kecil, melewati beberapa orang yang mulai berkerumun di sekitar mereka.

"Commander Asuka" si petugas terkejut, segera membalikkan tubuhnya, menghadap pada Shinn, dan memberi hormat "Selamat sore"

"Sore" sahut Shinn datar, mengangguk dan kembali memusatkan perhatiannya "Apa ada masalah, prajurit?"

"Tidak" kata prajurit itu dengan nada segan.

Tetapi Maple dengan cepat memotongnya "Tuan White Coat yang terhormat, prajurit green-mu ini tidak menghargaiku, dia tidak mau membantuku" katanya dengan sedikit dramatisasi.

Shinn menoleh pada gadis kecil itu, mengamatinya.

Ia mungil—kemungkinan tak lebih dari sepuluh tahun—memeluk boneka dan menyeret kopor mungil bernuansa natal—yang agak mengganggu karena ini masih bulan September—dan kombinasi warna pada rambut dan matanya terasa familier. Shinn menyipitkan mata, mencoba menelusuri kebenaran tanpa bertanya.

Meski akhirnya menyerah dengan cepat—terlalu banyak kemungkinan karena kombinasi rambut pirang dan mata zamrud bukan sesuatu yang jarang ditemui—dan memutuskan untuk bertanya "Siapa namamu, Nak?"

"Maz—Maple, namaku Maple" jawab gadis itu dengan nada bicara yang tegas dan jelas, bukannya nada merengek dan manja seperti anak kecil penduduk sipil pada umumnya, seolah ia sudah tahu bagaimana cara berbicara yang benar ketika berhadapan dengan seorang prajurit.

Kemudian pria itu menghela napas, dan menurun tubuhnya hingga ia bisa menyejajarkan matanya dengan mata zamrud gadis kecil itu.

"Baiklah" ia memulai "Jadi, Maple. Katakan padaku, apa yang kau maksud dengan 'prajurit green' ini tidak menghargaimu?"

"Aku bertanya padanya 'dimana aku bisa menemui Kira Hibiki?'" terang Maple, dan sementara si petugas berusaha mengklarifikasinya, Shinn mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat pada si prajurit untuk diam. "Dan dia menertawakanku. Apa kau juga akan menertawakanku, Tuan White Coat yang terhormat, Commander Asuka?"

"Tidak" Shinn menjawab, mata merahnya tertuju pada si prajurit dengan tatapan tajam "Aku tidak akan menertawakanmu, Maple. Asal kau bersedia menjelaskan kenapa kau harus menemuinya"

Maple menghela napas panjang, terlihat ragu-ragu dan tak yakin, meski akhirnya memilih untuk menjawab "Karena hanya dia yang mungkin akan bisa berbicara kepada kedua orangtuaku…"

Kemudian ia menambahkan dengan mata dan suara yang mulai sendu "Aku tidak mau orangtuaku berpisah, dan… Kira Hibiki, hanya dia yang bisa menolongku"

Kedua mata merah Shinn membulat dan alisnya bertautan sementara benaknya sibuk mencari tahu siapa yang dimaksud oleh anak ini dengan sebutan 'orangtuaku' dan hanya mendengarkan Kira Hibiki.

Namun dugaan yang kemudian terbersit membuatnya terkesiap.

Rambut pirang bergelombang, mata bulat jernih yang tajam dan mengintimidasi—yang mungkin akan mempengaruhinya seandainya ia tidak terbiasa menghadapi orang-orang semacam itu, nada bicara yang tegas, pemilihan kata yang tepat dan mengena, serta kesan berkuasa yang dilemahkan oleh kepolosan khas anak-anak, namun… tidak dikenal oleh prajurit PLANTs.

Athrun Zala dan Cagalli Yula Athha.

Kemungkinan besarnya mengarah pada mereka.

Oh tidak…

"Baiklah" ujar Shinn, menghela napas "Aku akan mengantarmu"

"Tapi Commander Asuka…" si prajurit tampak bertanya-tanya.

"Berhati-hatilah lain kali" katanya, lebih kepada peringatan untuk prajuritnya "Dewan Hibiki tidak akan senang mendengar apa yang kalian lakukan pada kepada anak ini"

Shinn mengulurkan tangannya pada Maple yang mengerti isyaratnya yang meraihnya segera, tak menyia-nyiakan waktu. Lalu ketika ia menoleh sedikit ke belakang dan mendapat kesan bahwa si prajurit masih tidak mengerti. Dan ia tidak sepenuhnya bisa menyalahkan mereka, karena seandainya ia berada di posisi mereka, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama. Karena itulah ia harus melakukan sesuatu untuk membuat mereka mengerti.

Sesuatu seperti bertanya pada Maple.

"Maple, boleh aku tahu siapa nama lengkapmu?" tanya Shinn, sengaja agak mengeraskan suaranya agar si prajurit ikut menyimak "Aku khawatir Dewan Hibiki tidak segera mengenalimu jika dia hanya mendengar nama depanmu. Maksudku, mungkin saja ada lebih dari satu Maple di dunia ini, atau ada anak lain yang bernama Maple di PLANTs"

Maple terdiam sesaat, tampak memikirkan atau mungkin merekam kemungkinan seperti ini untuk ke depannya, namun tak lama dia berujar "Namaku Maple Zala, Paman Asuka"

"Oh" kata Shinn, lebih pada mengarahkannya agar didengar oleh si prajurit—yang jelas terlihat sangat terkejut begitu mendengarnya. Dan ia tak perlu melihat untuk tahu bahwa sekarang tampang si prajurit dan rekannya pasti pucat pasi begitu mereka mengetahui siapa gadis kecil itu. Atau setidaknya tahu nama lengkapnya.

Dan dia langsung memanggilku 'Paman'. Pikir Shinn. Mulai bertanya-tanya mengapa ia heran bagaimana dia bisa sampai ke PLANTs, seorang diri, pada awalnya.

Anak yang nekad dari orangtua yang nekad. Menurutnya, tapi setidaknya gadis ini tidak se-brutal orangtuanya, atau mungkin… belum.

Oh, tunggu sampai Kira melihat keponakan kecilnya.


Kira baru menyelesaikan rapat terakhir dari seluruh rapatnya yang memusingkan pada hari ini. Proyek pembangunan gedung baru, maintenance gundam lama yang masih tersimpan, ide seorang insinyur untuk membuat kubah—seperti kubah Artemis dulu, ekspansi keberhasilan successor plan—alasan bagaimana ia dan seluruh coordinator di PLANTs bisa memiliki keturunan pada akhirnya, dan lain-lain. Laki-laki itu menghela napas panjang. Cukup. Tak boleh lagi ada kegilaan pada hari ini atau dia akan ikut gila.

Tetapi kemudian ia mendengar kabar dari asistennya. "Tuan Hibiki, Shinn Asuka meminta untuk bertemu dengan Anda, penting dan pribadi, katanya"

Kira kembali menghela napas panjang.

Shinn? Ya Tuhan, semoga saja bukan masalah besar. Sungguh, Kira sudah terlalu lelah untuk itu. Tetapi Shinn adalah orang yang standar pentingnya tidak main-main, jadi… jika dia bilang itu penting, maka itu benar-benar penting.

Ia melirik jam tangannya, sebentar lagi waktu makan malam. Kira berkesah, lalu kembali menghubungi asistennya ""Baiklah" kata Kira, suaranya terdengar pasrah dan tanpa tenaga "Atur pertemuan di jam makan malam, jika itu memang penting, dan pribadi, seperti katanya. Dan sampaikan kepadanya aku menunggunya di rumah pribadiku mengingat topiknya bersifat 'pribadi'" kata Kira lagi, meninggalkan bagian akhir untuk dirinya sendiri.

Setelah itu Kira kembali ke ruangannya. Menghela napas panjang, dan mulai merapikan beberapa arsip yang harus dibawa pulang. Serta meninggalkan yang sebaiknya ada di sini, apapun itu, mengingat ia masih punya dua bocah laki-laki di rumah yang mungkin akan mengaca-acak arsipnya jika dibiarkan berada di rumah.

Bicara soal bocah… Kira kembali menghela napas, kali ini terdengar lebih pada mengeluh. Dia masih ada satu pertemuan dengan Shinn, di rumah, sementara Lacus dan kedua putranya menunggunya di tempat yang sama.

Ya Tuhan, semoga saja semuanya berjalan lancar.

Di tempat lain, Shinn mengemudi dengan tenang menuju rumah Kira setelah mendapatkan kabar dari asisten pria itu bahwa ia bisa ditemui di rumahnya. Yang berarti tugasnya menjadi lebih mudah sekarang. Dia hanya bertugas mengantar si gadis kecil ke rumah Kira, dan setelah itu, ia bebas. Jadi sungguh wajar jika ia tidak kepusingan seperti halnya Kira. Tapi sebelumnya ia harus menelpon Luna dan memberitahunya bahwa malam ini dia akan pulang sedikit terlambat.

Pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan menekan nomor istrinya.

"Luna" kata Shinn, membuka percakapan "Kau dimana?"

"Aku masih di tempat Meyrin, membantunya—yah, kau tahu lah—Rei juga bertanya padaku apa aku bisa mengadopsi Sky agar bocah itu benar-benar menjadi adiknya, yang kutahu jawabannya tidak. Meyrin tak akan memberikannya, tentu saja" terang Luna, suaranya santai dan ia tertawa-tawa "Kurasa sebaiknya kau datang dan menjemput kami, aku khawatir Rei tak akan mau kuajak pulang"

Shinn menaikkan sebelah alisnya, tak begitu terkejut dan menemukan dirinya sendiri merasa terhibur "Katakan padanya aku akan datang sebentar lagi, masih ada satu pekerjaan yang harus kutangani disini, Luna"

"Oh ya?" tanya Luna dengan nada terheran-heran "Seingatku kau selalu tepat waktu"

"Well, ini pengecualian. Dan sebenarnya… aku tak sabar menceritakan padamu tentang apa yang menjadi pengecualian ini"

"Oh, dan aku tak sabar menantikannya. Baiklah, kurasa itu sepadan" jawab Luna, terdengar begitu antusias "Sampai bertemu nanti, Shinn"

"Hm"

Lalu Shinn menutup telepon dan menoleh pada gadis kecil yang tertidur di sampingnya. Perjalanan dari port di Aprilius One ke rumah Kira di Maius One memakan waktu cukup lama, sekitar 3 jam jika ditempuh dengan kendaraan. Dan Shinn tak begitu heran mendapati si kecil itu telah tertidur, dia sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh pada hari ini.

Ketika akhirnya rumah milik mantan pilot Freedom itu terlihat, Shinn tak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak tersenyum. Pertemuan ini akan sangat menyenangkan untuk disaksikan secara langsung, sebenarnya. Dan pasti akan lebih menyenangkan lagi jika semua orang ada di sini. Tapi untuk saat ini… sepertinya sudah cukup.

Shinn memarkir mobilnya di depan gerbang—merasa tak perlu repot-repot memasukkan mobil karena ia hanya akan mengantarkan seorang tamu—dan ia bergegas membangunkan gadis kecil yang tertidur itu.

"Maple, bangun, kita sudah sampai di rumah Kira Hibiki" kata Shinn, mengguncang-guncang bahu gadis kecil itu pelan, tak bermaksud membuatnya terlalu terkejut.

Maple membuka sebelah matanya perlahan, lalu keduanya, dan menghela napas lega menyadari dirinya sudah berada di tempat tujuannya; rumah Kira Hibiki di PLANTs.

"Paman Shinn, terima kasih" kata Maple, suaranya terdengar mengantuk dan lemah "Aku tak akan sampai di sini tanpa bantuanmu"

"Sama-sama, Maple" jawab Shinn, tersenyum "Mari, aku akan mengantarmu padanya"

Sekali lagi, pria itu mengulurkan tangannya kepada Maple, dan gadis kecil itu menyambutnya. Dan sekali lagi, Maple membiarkan Shinn menyeretkan kopor mungilnya untuknya sementara ia menggandeng tangan pria itu dengan satu tangan dan memeluk bonekanya dengan tangan lain.

Kira—yang telah memikirkan matang-matang dan yakin bahwa suasa di dalam rumahnya tidaklah kondusif untuk menerima tamu penting—sudah menunggunya di beranda rumah.

Shinn menggenggam tangan Maple dan menuntunnya memasuki gerbang rumah Kira, dan berjalan ke arah sang Dewan yang sudah duduk di kursi di beranda rumahnya.

"Shinn" katanya begitu melihat laki-laki itu mendekat "Apa maksudmu dengan 'penting' dan 'pribadi'?"

"Maksudku ini, Kira" dia menarik tangannya yang menggenggam tangan Maple dan membuat gadis kecil itu berdiri di antara Kira dan dirinya "Aku kemari untuk mengantarkan keponakan kecilmu"

"Keponakanku?" tanya Kira, tatapan dan suaranya bertanya-tanya "Seingatku aku tidak—"

"Paman Kira!" seru Maple begitu ia sadar sepenuhnya siapa yang ada di hadapannya, dengan cepat ia berlari dan langsung memeluk Kira di pinggang—karena perbedaan tinggi badan, tentu saja—tak peduli mengenai kopornya yang oleh Shinn sudah dilepaskan di belakangnya "Aku… aku…"

Kira membeku di tempat sementara matanya mengerjap-ngerjap—masih syok—dan ia menatap ke arah Shinn dengan tatapan yang meminta penjelasan atas apa yang sedang terjadi. Dan Shinn hanya tersenyum tipis, kemudian berkata "Dia bisa menjelaskan semuanya, Kira. Percayalah padanya. Hubungi orangtuanya jika kau tidak percaya. Oh, dan… aku harus segera pulang, Luna sudah menungguku"

Lalu dia berbalik dan pergi.

Sementara Kira masih bertahan dalam keraguan. Terombang-ambing antara keinginan untuk percaya dan skeptisme. Di belakangnya, Lacus menghampirinya dengan niat menyuruhnya masuk karena kedua putra mereka sudah menunggu sang ayah, dan terheran-heran dengan kenyataan bahwa Kira berdiri dengan canggung di beranda, padahal seingatnya tadi Kira berkata dia menunggu Shinn.

"Kira?" tanya Lacus, membuka pintu dan melangkah sedikit ke sisi Kira dari belakang.

"Bibi Lacus!" Maple melepaskan Kira dan berganti memeluk wanita itu, yang sama herannya dengan Kira, meski lebih bisa mengatasi situasi dengan cara yang tak secanggung Kira.

"Ya" kata Lacus, melepaskan pelukannya dan merengkuh kedua bahu gadis mungil itu "Dan kau?"

"Aku Maple" jawab gadis kecil itu, tersenyum penuh kelegaan "Maple Zala"


Makan malam, rumah Hibiki. Dan seorang tamu asing yang seharusnya tak asing.

"Menurutmu, apa sebaiknya kita menelepon Athrun dan Cagalli, Lacus?" tanya Kira dengan nada berbisik, sementara matanya tertuju pada si tamu asing—kalau tidak salah namanya Maple—yang tampak menjadi pusat perhatian dari kedua putra kembarnya dikarenakan minimnya anak perempuan seusia mereka di PLANTs.

Lacus memandang ke arah yang sama dengan arah pandang Kira, dan tersenyum "Aku jadi ingin punya anak perempuan…" katanya, suaranya bergumam dan kentara sekali tidak mendengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.

"Lacus!" Kira memanggilnya, nada bicaranya naik satu oktaf meski ia mempertahankan suaranya tetap sepelan bisikan.

"A-Apa?" Lacus menggeleng-gelengkan kepala dan menoleh kepada Kira dengan tatapan bingung "Kau bilang apa?"

"Aku bertanya padamu" Kira menghela napas berat, sebagian karena tak ingin mendengar apa yang tadi dikatakan oleh Lacus, meski ia sudah terlanjur mendengarnya. Dan sebagian lagi karena ia agak enggan mengulang pertanyaannya "Apa kita harus menelepon Athrun dan Cagalli?"

"Menurutku…" Lacus kembali mengarahkan pandangannya kepada si gadis kecil, yang dengan cepat sudah akrab dengan kedua sepupunya, seolah sudah kenal lama. Ia menghela napas dan tersenyum tanpa sadar "Kita harus mengabari mereka… lagipula kita kan sama sekali tidak mendengar kabar soal kedatangannya, bagaimana jika Athrun dan Cagalli juga… oh tidak!"

Alis Kira mengernyit, heran sekaligus terkejut "Apa?"

Lacus menutup mulut dengan kedua tangannya, terkejut oleh pemikirannya sendiri "Kita tidak mendengar apapun soal kedatangan Maple, Kira!"

Kemudian ia menoleh pada suaminya "Bagaimana jika mereka juga tidak tahu dia pergi kesini?"

"Ya Tuhan" Kira ikut terkesiap, seketika terbayang olehnya seheboh apa ORB karena hilangnya Maple. Meski kemudian ia juga teringat akan pertemuannya dengan Cagalli di Heliopolis, kenekatan saudarinya itu, dan secara refleks mempertanyakan apakah hal semacam itu bisa diturunkan melalui faktor genetik. Tetapi ia segera menyudahinya, itu bisa dipikirkan nanti. Yang terpenting sekarang adalah memberitahu orangtuanya

"Ya, ya, kita harus menghubungi mereka" ia memberitahu Lacus, kemudian berdiri dan menuju tv, mengingat akan lebih mudah memberitahu orangtuanya tentang Maple melalui transmisi.

"Maple" Lacus beranjak menuju gadis kecil itu, "Apa orangtuamu tahu kau disini?

Maple yang sedang bercanda dengan kedua sepupunya cukup tersentak mendengar ucapan Lacus, dan saat ia menoleh, tatapannya sendu "Bibi Lacus, papa-mama…"

"Ada apa, Sayang?" tanya Lacus dengan nada khawatir, digenggamnya tangan mungil gadis itu.

"Papa dan mama sepertinya akan berpisah…" ujar Maple yang mulai terisak, dan gelombang keterkejutan segera mengenai Lacus yang berada di depannya, juga Kira yang tengah mengatur sambungan.

"Ya Tuhan" pekik Lacus "Apakah itu yang membuatmu datang kesini?"

Maple mengangguk, airmata tampak mulai menggenangi matanya "Ya, kupikir jika paman Kira bicara pada mereka, mungkin mereka akan mendengarkan…"

"Maple…" Lacus menarik gadis kecil itu ke dalam rangkulan hangat, bermaksud menenangkannya "Maaf, kami tidak tahu"

Kira memejamkan mata dan menghela napas, seingatnya ia tadi sudah sungguh-sungguh berdoa agar tidak lagi diberi masalah mengerikan untuk hari ini, dan… yang terjadi benar-benar tidak sesuai dengan kehendaknya. Keponakan kecilnya—yang ia bahkan tidak tahu keberadaannya sampai hari ini—datang dan mengatakan kalau Athrun dan Cagalli… saudari kembar dan sahabatnya, akan bercerai.

"Mungkin sebaiknya kau tidur, Maple" kata Lacus, suaranya melembut dan dipenuhi kemuraman "Besok pagi, kita akan berbicara dengan orangtuamu…"

"Tidak mau…" Maple berusaha protes, bersikukuh ingin menyelesaikan masalahnya sekarang, meski mata dan tubuhnya terasa begitu berat, seperti dibebani semacam besi tak kasatmata. "Besok… mama… besok mungkin papa… akan…"

Dan ia tertidur di pelukan Lacus, tak kuasa melawan kelelahan yang seharian telah menggerogoti dirinya dari dalam.


"Demi Haumea, Kira… kenapa tiba-tiba menghubungi, tidak biasanya. Apa ada sesuatu yang terjadi disana? Semoga saja tidak ada. Tapi, kalau begitu kau tidak akan melakukan transmisi atau menelpon dengan sambungan pribadi, jadi—"

Berbanding terbalik dengan Lacus, Cagalli malah membiarkan rambutnya memanjang. Kira dapat memastikannya hanya dengan melihat bentuk gelungan rambutnya yang rapi, mengingat gelungan se-rapi itu tidak mungkin terhasil dari rambut sebahu acak-acakan Cagalli duabelas tahun yang lalu. Hanya poni rambut dan gaya berpakaiannya saja yang sama, dan meyakinkan Kira bahwa ia sedang berbicara dengan saudari kembarnya, bukan wanita asing yang menyamar menjadi saudarinya.

"Cagalli" Kira memotong dengan cepat, alisnya melengkung sebelah, keheranan "Kapan kau akan mengizinkan aku mengatakan sesuatu?"

Cagalli menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan diri sendiri dari pikirannya yang kacau "Oh Haumea" ia berkata lagi "Maafkan aku"

"Apa Athrun bersamamu?" tanya Kira, suaranya terdengar santai dan jauh lebih stabil daripada saudarinya.

"Athrun?" dahi Cagalli mengernyit "Tidak. Dia sedang sibuk, ada sesuatu yang terjadi"

Kira menghela napas, nada bicara Cagalli saat mengatakan 'ada sesuatu yang terjadi' mengesankan kekhawatiran yang bisa diduganya. Kemungkinan besar 'sesuatu' yang dimaksud—secara tersembunyi—oleh Cagalli adalah hilangnya Maple. Dan naluri kemanusiaan Kira membuatnya tak tega, ia merasa harus mengatakan sesuatu.

"Oh" tetapi pada akhirnya dia hanya mengatakan hal itu untuk memulai, kemudian "Kalau begitu sebaiknya aku bertanya padamu saja, boleh?"

"Tentu" jawab Cagalli, kecemasan masih terdengar dari suaranya meski Kira yakin saudarinya telah berusaha keras menutupinya "Tanyakan saja"

"Baiklah" Kira menarik napas "Yang pertama…

"Mengapa aku tak pernah mendengar kalau aku… mempunyai seorang keponakan perempuan?"

Ini dia. Bom telah dijatuhkan.

Cagalli terkesiap. Matanya membulat terkejut dan ia bahkan tak mampu mengatupkan bibirnya selama beberapa detik. Setelah itu, ada beberapa kali ia mencoba mengatakan sesuatu, meski selalu gagal.

Sampai akhirnya—lima menit setelah Kira menuturkan pertanyaannya—baru Cagalli bisa berbicara lagi, tetapi saat itu matanya sudah digenangi airmata yang membuatnya tampak berkaca-kaca dan tarikan napasnya terdengar lebih keras, seperti sedang terisak "Demi Haumea, Kira… aku… astaga… apa dia bersama kalian di PLANTs?"

Kira mengamati perubahan ekspresi saudarinya, dan melihat adanya kelegaan di matanya yang semula tampak begitu cemas, kemudian memutuskan untuk mengatakan apa adanya "Ya"

"Oh Haumea…" Cagalli bernapas dengan gemetar "Oh Haumea…"

"Dan kedua" mengabaikan reaksi Cagalli, Kira melanjutkan pertanyaannya "Apa kau dan Athrun akan berpisah?"

Cagalli belum benar-benar pulih dari efek keterkejutan setelah mendengar bahwa anak perempuannya ada di PLANTs bersama Kira, tapi ia kembali terkejut mendengar pertanyaan kedua ini "Apa? Tentu saja tidak! Darimana kau mendengar hal itu?"

"Maple yang mengatakannya" Kira menghela napas, "Katanya dia tidak mau kalian berpisah, karena itulah dia datang kesini, menemuiku"

"Oh Haumea, Maple…" Cagalli menghembuskan kelegaan yang tak bisa disembunyikan "Maafkan aku, sungguh. Tapi kami baik-baik saja, dan Maple sendiri… apa dia baik-baik saja? Dimana dia sekarang? Bisakah aku bicara padanya?"

"Cagalli, satu-satu"

"Baiklah" kata Cagalli, kemudian ia mengernyit "Tunggu"

Lalu ia mengalihkan pandangannya menuju sambungan lain "Aku akan memberitahu Athrun"

"Jadi Cagalli" setelah Cagalli selesai bicara di telepon, Kira kembali bertanya "Kenapa kau dan Athrun tidak memberitahu kami soal Maple?"

"Well, aku dan Athrun… ehm, memikirkan kalian—sedikitnya—kami mendengar kalau di PLANTs semua bayi yang lahir pada tahun itu laki-laki. Jadi sepertinya tidak bijaksana kalau tiba-tiba kami mengumumkan kelahiran bayi perempuan pada kalian, akan sangat heboh"

Kemudian Cagalli menambahkan "Dan Maple sudah cukup menjadi kehebohan di ORB. Aku tak yakin dia akan sanggup menahan kehebohan dari PLANTs"

Kira mengingat reaksi Lacus tadi malam, gumamannya tentang ingin punya anak perempuan, betapa terpusatnya perhatian Noir dan Blanc pada sepupu mereka, dan merasa bahwa alasan Cagalli bisa dibenarkan. Demi kebaikan semua orang—terutama Maple sendiri—keberadaannya lebih baik disembunyikan sampai ia cukup besar untuk menerima semua euforia itu. Dan meskipun yang terjadi di rumahnya semalam itu diluar rencana siapapun, setidaknya hal itu bisa ditangani dengan baik.

Kecuali—tentu saja—jika beritanya bocor.

Dan mendadak Kira merasa khawatir. Noir dan Blanc sekolah hari ini, mereka bisa saja menyebarkan berita itu kepada seluruh teman-temannya di sekolah, lalu Lacus… Lacus–lah menemani Maple hari ini. Tadi pagi ia hanya mendengar bahwa mereka akan berjalan-jalan supaya Maple bisa menenangkan diri..

Oh Tuhan, semoga saja ia tidak mengajak Maple berjalan-jalan jauh.

"….apa aku harus menjemputnya?" tiba-tiba suara Cagalli terdengar kembali dan menyadarkan Kira dari lamunan imajinya yang semakin liar.

Kira menggeleng, kemudian menarik napas "Mungkin. Dan secepatnya kalau bisa"

"Aku mengerti" ujar Cagalli dengan suara yang mulai stabil. Tampaknya ia sudah bisa mengendalikan diri.


A/N: AAAAAAHHHH FINALLYYYYYYY!

FINALLY I CAN PUBLISHED THIS, YEAAYYY~

So what you guys think?

If you have anything to say, don't hesitate to send me review, I'd love to know your thoughts regarding this, hehe.

And by the way, this story opens for ideas too! You could sent me some prompt, or character names, anything~

Stay tuned and I'll be right back~

UP NEXT: Athrun's Birthday, hehehe

Have a nice days~

Cheers,

.

K. Hiyama