A/N : Okay, saya datang lagi dengan kapal nista yang masih belum juga berlayar. But, gak masalah yang penting saya menulis :D Dan, ini BUKAN sekuel dari Wait For Me dan TIDAK ADA hubunganya dengan cerita saya tersebut. Tapi bisa dikatakan saya udah menyiapkan sekuel untuk Wait For Me. Jadi bagi yang penasaran bagaimana kelanjutan hubungan dari Luna dan Lucius, keep in touch with me.

WolfShad'z xx

.

.

.

Disclaimer : Milik JKR seorang kecuali beberapa OC yang ciptaan saya.

Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementrian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar sendiri?

Rating : T untuk bahasa.

Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.

Note : Snape dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film.

Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.

Happy Reading!

.

.

.

Lima tahun setelah perang berakhir, Lucius masih harus menjalani beberapa pemeriksaan terkait kesalahan terbesarnya; yakni bergabung kedalam organisasi gelap Death Eaters atau Pelahap Maut. Ia tak pernah berpikir jika usahanya mencari kekuatan yang lebih besar bersama Tom Marvolo Riddle membuatnya berakhir seperti ini. Harta dan kekayaannya tak bisa menyelamatkan diri Lucius dari mimpi buruk. Kemungkinan terburuk yang bisa dibayangkan adalah membusuk di Azkaban. Walaupun para Dementor sudah tidak dipergunakan lagi, bukan berarti para sipir akan begitu saja memberi kelonggaran. Yang ada, Azkaban semakin ketat dan...tetap mengerikan.

Bagaimanapun, Lucius tetap pasrah menerimanya, karena faktanya, ia sudah akan keluar dari Pelahap Maut sejak mengetahui mantan istrinya—Narcissa Black telah mengandung putranya yang bernama Draco Malfoy. Tetapi hal yang tak ia bayangkan terjadi. Voldemort tau jika keluarga Malfoy memiliki pengaruh besar di dunia sihir. Dan memang itu yang menjadi alasan Voldemort menggunakan imperius curse untuk membuat keluarga Malfoy terus bergabung didalam Pelahap Maut.

Hingga enam belas tahun kemudian, Narcissa melayangkan gugatan cerai kepada Lucius dengan alasan tidak mampu melindungi keselamatan keluarganya dari cengkraman Voldemort. Menurut Narcissa, karena Lucius-lah dirinya dan Draco ikut terseret kedalam organisasi terkutuk itu.

"Ceraikan aku, Lucius!" Pekik Narcissa, berdiri didepan perapian. Ia melempar pandangn penuh amarah kepada suaminya.

"Narcissa, kita bisa—"

"Kita bisa apa? Mengajak Dia-Yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya untuk minum teh bersama dan berunding untuk membebaskan kita dari cengkraman kegelapan" Ujar Narcissa lagi, mata cokelatnya memandang Lucius seakan-akan ia ingin menelan pria berambut pirang yang panjang itu.

Lucius mengusap keningnya, tak tau harus berkata apa-apa. Ia juga tak ingin situasi ini terjadi kepada dirinya dan keluarganya. ia mencintai Narcissa, dan ia juga mencintai Draco. Ia mencintai keluarganya. Tapi tak bisa dipungkiri lagi jika ia memang tak pantas dimaafkan.

Bagaimanapun, Lucius tetaplah seorang manusia. Seorang manusia yang melakukan kesalahan, yang terkadang melakukan hal bodoh. Ia sudah menyesalinya, dan berusaha menebus kesalahannya. Tapi bagi Narcissa itu tak akan pernah cukup. Tidak karena hampir membuatnya terbunuh setelah ia gagal mendapatkan bola ramalan Harry di kementrian.

"Kau sangat egois, Lucius! Yang kau pikirkan hanyalah kemasyuran, nama baik dan dirimu sendiri. Kau bahkan menghabiskan sisa umurmu yang menyedihkan itu dengan menjadi budak kegelapan. Apa bisa lebih buruk lagi?" Tanya Narcissa, bersamaan dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.

Lucius tak kuasa melihat istrinya yang ternyata sangat kecewa pada dirinya. Lucius tak tau harus bagaimana lagi. Ia tak tau harus melangkah kemana lagi. Kalaupun Narcissa benar-benar menggugatnya untuk bercerai, ia sudah tak peduli lagi dengan hidupnya yang menyedihkan ini.

"Apa yang harus aku lakukan lagi, Narcissa? Kau berjanji untuk menjalani ini semua denganku! Kemana semua janjimu?" Balas Lucius, memandang istrinya penuh harap. Ia menyentuh pipi istrinya dengan tangannya yang besar, tetapi tangannya langsung disingkirkan oleh Narcissa.

"Aku mencintaimu, Narcissa. Aku mencintai Draco. Dan aku juga tidak ingin terperangkap di situasi ini. Kumohon, jangan lakukan ini padaku." Lucius memohon, mengenggam keduatangan Narcissa didadanya.

"Aku bisa menerima kau gagal menjadi seorang suami, Lucius, tapi paling tidak cobalah untuk menjadi ayah yang baik!" Balas Narcissa, lalu meninggalkan Lucius.

Lucius menarik tangan Narcissa, ia ingin mengatakan sesuatu sebelum akhirnya Narcissa berhenti. Ia melemparkan pandangan pada Lucius lagi. "Aku akan ke kementrian besok. Surat gugatanku akan datang akhir pekan ini, Dolores sudah mengatur semuanya." Ia melangkah keluar. Meninggalkan Lucius yang diam tanpa kata. Ia hanya memandang punggung istrinya yang semakin menjauh.

Lucius akhirnya menyadari jika Narcissa sudah benar-benar membencinya. Lucius juga sadar jika ia pantas menerima itu. Tapi kenapa sekarang? Kenapa Narcissa meninggalkannya disaat-saat dimana Lucius sedang rapuh dan butuh tempat bersandar. Kenapa sekarang?

"Kau benar, Narcissa. Aku adalah seorang ayah dan suami yang buruk." Batinnya.

Ia merasa hancur, berharap Dark Lord untuk membunuhnya saat ini juga.

Lucius berjalan memasuki ruang pemeriksaan di kementrian. Ia melihat Arthur Weasley dan Percy Weasley sedang mendampingi Kingsley Shacklebolt, selaku Mentri Sihir yang baru. Lucius berjalan dengan rasa penuh keyakinan jika dirinya tidak bersalah atas semua yang ia lakukan. Karena faktanya memang ia tak bersalah. Ia dalam pengaruh imperius curse.

Ia nampak segar hari ini. Dengan mengenakan jubah hitam khasnya, tanpa melupakan tongkat jalan berkepala ular yang selalu dibawa olehnya kemanapun ia berada. Tangannya yang besar berbalut sarung tangan kulit yang juga berwarna hitam. Jika dilihat lagi, akan menunjukkan gambar ular yang samar. Overall, ia terlihat mempesona.

Pada saat ia berjalan, beberapa penyihir wanita seusianya nampak sedang tertawa cekikikan saat melihat Lucius berjalan dihadapannya. Lucius memandang mereka sebentar, lalu dengan nistanya, mereka malah tersipu malu.

"Astaga, aku harap aku bisa dipasangkan dengan dia." Ujar seorang wanita bernama Shelly Hayley, kepada temannya Varieta Collas.

"Tapi dia kan mantan Death Eaters. Aku sih, mending sama anak nya saja. Imut-imut gitu." Balas Varieta, ia memiliki tubuh gemuk dengan wajah yang imut.

"Ternyata kau ini sukanya berondong, ya! Lagipula, anaknya kan sudah menikah dengan Greengrass. Kita hanya dipasangkan dengan penyihir-penyihir yang lajang ataupun duda." Balas Shelly.

"Jadi kau mau dengan...duda?" Tanya Varieta.

Shelly tersenyum malu, memandang Lucius yang sedang melemparkan pandangan aneh padanya. Ia tak berani menatapnya lalu berujar lagi kepada Varieta, "Kalau dudanya seperti dia, jelas aku mau." Ujarnya, sambil menunjuk Lucius dengan jari telunjuknya. Mereka cekikikan.

Lucius yang mendengar obrolan mereka hanya memutar bola matanya dengan kesal. Walaupun sebenarnya ia bersyukur masih ada beberapa orang yang mendukungnya, termasuk dari majalah Quibbler. Mungkin sesekali ia harus bertemu dengan Xenophillius, barangkali hanya sekadar mengucapkan terima kasih.

Tapi ngomong-ngomong soal dukungan, Lucius tiba-tiba mengernyitkan dahinya. Dua wanita tadi, yang membicarakan dirinya tadi menyinggung sesuatu tentang dipasangkan. Ia kenal dengan dua gadis itu, ia adalah pegawai kementrian yang baru bekerja selama beberapa bulan.

Tapi apa yang akan dipasangkan, dan kenapa. "Dipasangkan dengan yang lajang atau duda? Apa maksudnya?" Pikir Lucius.

Ia mengingat-ingat lagi, apakah ada berita terbaru dari Kementrian akhir-akhir ini. Atau mungkin ia mencoba mengingat-ingat lagi undang-undang ataupu kebijakan yang mengandung kata 'dipasangkan' atau 'lajang' atau 'duda'. Tapi Lucius tak mengingatnya, karena memang tidak ada. Belum.

Ia sampai di ruangan dimana ia biasa diperiksa. Hanya sebuah ruangan kecil dengan dua buah kursi dan sebuah meja yang berdiri didalamnya. Ia juga melihat ada sebuah jendela besar.

"Good morning, Shacklebolt. Weasleys" Sapa Lucius, mencoba untuk terlihat ramah. Ia memasuki ruang pemeriksaan dengan jubahnya yang melambai-lambai. Rambut pirang-nya nampak bersinar terkena sorotan cahaya dari lampu sihir yang berada diatasnya.

Mereka tak menjawab, hanya mengangguk. Kingsley menyuruhnya untuk duduk. Dan seperti biasa, mereka akan menginterogasi Lucius seolah-olah ia adalah agen mata-mata musuh yang tertangkap. Setidaknya, itu yang ada dipikiran Lucius saat ini. Ia sudah lelah menjelaskan, dan telah menawarkan diriya agar diberi Verittaserum.

"Entah berapa kali aku harus mengatakan pada kalian jika aku tak bersalah. Demi Tuhan, ini sudah lima tahun, Kingsley!" Lucius berkata, memandang mata orang-orang yang ada dihadapannya.

Kingsley memandang Percy, lalu mengangguk seakan mengisyaratkan sesuatu. Lucius tidak tau apa yang akan mereka lakukan pada dirinya, karena faktanya ia sudah tidak peduli. Ia kehilangan Narcissa, yang kini sudah menikah dengan sepupu dari Pius Thicknesse bernama Altair Thicknesse.

Percy nampak meletakkan secangkir teh dihadapan Lucius. Ia memandang teh itu beberapa saat, lalu kembali memandang kepada Kingsley. Pria berkulit hitam itu akhirnya membuka mulut dan berbicara.

"Ini, adalah teh dengan campuran Verittaserum." Ujar Kingsley.

Ah! Sudah kuduga!

Pria berjubah aneh itu memandang Lucius lagi, "Mr Weasley hanya ingin menanyakan beberapa hal lagi padamu terkait masalah buku harian Tom Riddle yang kau selipkan di kuali Ginny."

Tanpa diminta, Lucius meminum teh dengan campuran verittaserum itu seakan-akan sedang meminum teh dirumah. "Kalian tau, semua akan lebih mudah jika kalian melakukan dengan cara ini sejak dulu. Tanpa menghabiskan waktu lima tahun memeriksa setiap sudut rumahku hanya untuk mencari 'kesalahanku'." Balas Lucius, menyeduh ujung teh itu beberapa kali. Lalu meletakkan cangkir itu kembali dimeja.

"Kami kehabisan bahan-bahan untuk membuat Verittaserum akibat perang. Beberapa tumbuhan tidak tumbuh dalam satu atau dua tahun, Malfoy." Kingsley menjelaskan.

Lucius mendengus, lalu menyeringai. Ia meletakkan kedua tangan yang bersarung tangan dimeja, memandang Kingsley tajam. Ia sudah bisa merasakan efek Verittaserum dilidahnya.

"Apa kau Lucius Abraxas Malfoy?" Tanya Arthur.

"Ya." Jawabnya, sambil menyandarkan punggungnya dikursi dengan santainya.

"Apa kau seorang Pelahap Maut?" Tambah Arthur lagi, kali ini memandang Malfoy dengan tajam.

"Mantan."

Dari sekian pertanyaan, Lucius menjawabnya dengan tangkas. Dari raut wajahnya sangat jelas menunjukkan jika ia tengah santai menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Ia tak bisa mengendalikan perkataan yang keluar dari mulutnya sebagai efek dari Verittaserum. Ia bisa melakukan ini sepanjang hari jika kementrian tak juga percaya padanya.

"Apa yang terjadi pada istrimu?" Tanya Kingsley yang akhirnya membuka suara. Ia masih sedikit meragukan Verittaserum buatan Horace Slughorn. Lucius sedikit tercekat saat mendengar pertanyaan Kingsley. Masalahnya, tak banyak yang tau tentang kabar Narcissa setelah mereka bercerai. Kabar terakhir yang mereka—Lucius dan Draco dengar adalah Narcissa sudah memulai hidup baru.

"Kami bercerai. Ia menikah lagi dengan sepupu Thicknesse dan pindah ke Itali. Setelahnya, aku tak pernah mendengar kabar tentangnya." Lucius menjawabnya. Ia tak ingin menjawab pertanyaan itu, karena hanya mengungkit luka lama yang masih terasa perih.

"Lalu, dimana anakmu, Draco Malfoy setelah menikahi Astoria Greengrass?"

'Apa mereka benar-benar ingin tau kehidupan pribadiku?' Batin Lucius.

"Mereka tinggal di Perancis. Mereka akan berkunjung dalam beberapa minggu kedepan." Jawab Lucius, memandang sarung tangannya.

Kingsley memandang Arthur, ia mengangguk. Pria berambut merah sekaligus ayah dari Percy Weasley itu kemudian mulai bertanya lagi. Kali ini wajahnya lebih serius dari sebelumnya. Mata cokelatnya memandang manik kelabu milik Lucius sedalam mungkin. Ia berusaha untuk mencari kliatan keboongan yang mungkin terpancar dari matanya. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan; "Mata adalah cermin jiwa."

Lidahmu mungkin berbohong, tapi tubuh tidak bisa berbohong. Sebagai contoh, saat kita terluka karena sesuatu maka kulit kita akan menimbulkan bekas luka. Beberapa bekas luka ada yang hilang dalam beberapa tahun, dan beberapa tidak akan pernah hilang. Terutama mata. Mata tak bisa menyembunyikan siratan ekspresi tertentu.

"Apa kau yang memasukkan buku harian Tom Riddle di kuali putriku Ginevra Weasley, Malfoy?"

"Ya. Aku yang menyelipkannya." Jawab Lucius, memandang Arthur semakin tajam. Wajahnya tak berekspresi sedikitpun.

"Siapa yang memerintahkanmu?" Tanya Arthur lagi.

"The Dark Lord."

"Apa kau benar-benar berniat melakukannya atau kau dalam pengaruh sihir?" Tanya pria berambut merah dengan kemeja biru itu.

"Ya, aku dalam pengaruh sihir. Aku tidak sadar atas apa yang kulakukan sampai akhirnya Dumbledore menceritakan semuanya di penghujung semester. Sejak saat itu aku sadar jika aku selalu dalam pengaruh sihirnya." Jelas Lucius dengan sangat enteng.

"Siapa yang melakukannya padamu?" Tanya Artur.

"Aku tidak tau." Jawab Lucius.

"Apa kau berbicara jujur?" Tanya Arthur Weasley sekali lagi. Ia benar-benar ingin memastikan jika Lucius tidak berbohong. Mereka tak pernah akur sejak berabad-abad silam. Tak ada yang tahu kenapa keluarga Weasley dan Malfoy selalu bermusuhan, bahkan sebelum lahirnya Voldemort.

"Every word." Tangkas Lucius. Ia melipat tangannya setinggi dada. Mengangkat kepalanya dengan angkuh, tak berekspresi sedikitpun.

Arthur mengangguk, kemudian Kingsley mempersilakan Lucius untuk keluar dari ruangan. Mereka menunggu sampai Lucius benar-benar pergi untuk membicarakan penerapan undang-undang yang direncanakan oleh kementrian baru-baru ini. Sebuah undang-undang yang amat mengikat.

"Jadi ia benar-benar bersih sekarang?" Tanya Arthur Weasley.

Kingsley membenarkan pecinya, lalu berujar lagi pada bapak dan anak ini. "Ya, dia bersih, Arthur. And, Percy, beritahukan kepada Mrs. Krum untuk memasukkan Lucius A. Malfoy kedalam daftar penyihir pria."

"Baik, Pak Mentri." Balas Percy. Ia meninggalkan Arthur dan Kingsley yang kali ini sedang serius membicarakan masalah lain.

-ooOOoo-

Hermione yang sedang berkutat dengan banyak sekali nama-nama penyihir dikagetkan oleh kehadiran Percy. Ia masuk kedalam kantornya tanpa memberi sebuah ketukan pun. Hermione, yang sekarang sudah menjadi Hermione Krum, hampir terjatuh dari kursinya saat melihat Percy tiba-tiba muncul.

"Demi batuan dan tujuh lautan, Percy!" Teriak Hermione, ia mengusap wajahnya.

Hermione menikah dengan Krum dua tahun setelah perang selesai. Ia bertemu dengan Krum pada saat ia berada di tahun ke-7 nya. Harry dan Ron sudah menjadi Auror, sementara Hermione masih harus menyelesaikan studinya agar ia bisa masuk dan bekerja di kementrian.

Krum, yang saat itu bersama siswa Durmstrang, membantu mendirikan Hogwarts lagi. Kebetulan saat ia disana, Hermione juga berada disana. Hermione melihat perubahan yang drastis dari Krum yang dulu menurutnya sangat posesif, menjadi lebih dewasa dengan rambutnya yang tak lagi gundul. Ia juga terlihat lebih pintar dari beberapa tahun lalu saat the Yule Ball. Dan Saat itu pula, saat ia melihat Krum setelah berpisah bertahun-tahun, Hermione jatuh cinta kepada Krum. Benar-benar jatuh cinta.

"Aku minta maaf, Hermione. Pak Mentri ingin kau memasukkan nama Lucius A. Malfoy kedalam daftar pria." Jelas Percy.

"Siapa?" Potong Hermione, ingin memastikan telinganya tak salah dengar.

"Lucius Malfoy." Jawab Percy, ia memberi penekanan di setiap suara yang ia ucapkan.

Hermione memandang Percy dengan aneh. Ia nampak tak percaya dengan apa yang didengar oleh telinganya. Mungkin kah ia terlalu lelah sampai mulai berhalusinasi? Tapi faktanya, Hermione memang lelah dan ia tidak berhalusinasi.

"Apa aku tidak salah dengar, Percy? Bukankah dia masih dalam pemeriksaan?" Tanya Hermione lagi.

"Tidak, Mrs. Krum. Kami baru saja memberikan Verittaserum pada Mr. Malfoy untuk mengatakan yang sejujurnya. Dan Pak Mentri sendiri yang mengatakan ia bersih dan terbukti tidak bersalah."

"Setelah lima tahun kalian baru menggunakan Verittaserum? Kemana saja kalian?" Balas Hermione, terkekeh ketika ia merasa kementrian bertindak lambat dalam menangani kasus ini.

Percy berdeham, "Masalahnya, Hermione, dunia sihir kehabisan persediaan Verittaserum untuk menginterogasi para Death Eaters yang berjumlah ribuan itu. Selain itu, bahan-bahan untuk membuat Verittaserum tidak tumbuh dalam satu atau dua tahun." Percy menjelaskan, Hermione menggelengkan kepalanya.

"Baiklah. Aku akan mulai memasangkan para penyihir yang sudah ada didalam daftar untuk membuat ini lebih mudah. Kapan deadline yang diberikan Kings—maksudku, Pak Mentri padaku?"

"Aku belum tau, Hermione. Untuk berjaga-jaga, selesaikan sebelum hari senin petang. Ginny dan aku akan membantumu." Balas Percy.

Hermione mendengus kesal. Sebelum senin petang berarti empat hari dari sekarang. Dan ia masih harus membaca arsip-arsip para masing-masing penyihir yang akan dipasangkan. Ia jelas tak bisa asal memasangkan penyihir karena mereka harus benar-benar—paling tidak—saling mengenal. Tidak secara dekat, hanya sebatas kenal. Undang-undang pernikahan ini benar-benar membuat dirinya pusing.

Sementara itu, Lucius kembali kedalam rumahnya setelah terhisap oleh kobaran api berwarna hijau. Ia berjalan masuk kedalam rumahnya yang amat megah, tetapi juga amat sepi. Setelah perang berakhir, Lucius benar-benar tinggal seorang diri bersama peri rumah bernama Smitty. Ia hanya menghabiskan hari-harinya untuk tidur, memebaca buku di perpustakaannya, melihat perkembangan bisnis keluarga, lalu kembali kerumah untuk makan malam kemudian tidur. Seperti itu setiap hari.

Bosan?

Sangat bosan sekali. Terlebih, Draco yang sudah hidup di Paris bersama istrinya—Astoria. Mereka menikah beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang hanya tinggal dirinya, seorang pria yang kesepian. Kehadiran Smitty jelas tak banyak membantu. Ia hanya mengerjakan pekerjaan rumah, tak berani untuk mengajak berbicara Tuannya.

Lucius harus bertahan sendirian tanpa Narcissa dan Draco. Walaupun ia kerap kali berpikir jika ia mungkin tidak akan sanggup. Tidak akan pernah.

Atau paling tidak itu yang dipikirannya sekarang.

BERSAMBUNG

A/N : Ahaaa bagaimana bagaimana? Apakah sudah...cukup bagus? Semoga iya yah. Lel. Okay, sebenernya saya bingung mau ngavalin Hermione dengan siapa, jadi saya kavalin sama Krum aja. Toh mereka pernah dekat kan hueeeheee

Dan jugaa, disini saya sangat menikmati membuat Lucius sebagai tokoh utama. Trust me, asik rasanya bermain-main sama karakter Lucius yang hampir 70% gue bengeet. /apalu

Okay, abaikan.

Kalau bertanya-tanya dimana Luna, maka jawabannya adalah di chapter selanjutnya. Mungkin akan agak seru daripada chapter satu ini. maklum lah masih permulaan, jadi gak asik kalau langsung klimak. Chapter 2 akan segera terbit ketika sudah ada review. :D

Anyway, kritik dan saran akan selalu diterima dengan kelapangan hati asalkan tidak flaming.

Xx