Lee : How dare yah jitaking my husband's head! X( Ini updatenya btw ;)

Moku-Chan : Well, wait until you read the next chap huehee

Zielavienaz : Iyah, saya juga gak tau kenapa saya bisa ngetik yang manis-manis X'D

EnitaAndYka : Well, saya minta maaf atas typos yang kurang berkenan. Yang kedua, infact, saya agak kurang suka membuat readers menunggu, ditambah saya gak tau kapan bisa update karena kesibukan di dunia muggle x'( Untuk masalah konflik, saya sudah menyiapkan klimak di beberapa chapter kedepan. After all, saya minta maaf kalau chapter sebelumnya mengecewakan dan terima kasih sudah memberikan kritik dan saran. I hope you'll like this chap. Xx

WolfShad'z xx

.

.

.

A/N : Hei! I'm back. Maaf sudah membuat kalian menunggu, tapi deadline pekerjaan saya menumpuk mengingat ini udah akhir tahun :') dan, ini usaha saya selama selama kurang lebih lima belas hari sejak chapter 15 dibuat. I hope you'll like it.

.

.

.

Disclaimer : Milik JKR seorang kecuali beberapa OC yang ciptaan saya. Setiap cover di akun ini kepunyaan saya.

Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementerian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar sendiri?

Rating : T+ lah.

Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.

Note : Snape, Dumbledore dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film. Lucius 45 tahun, Luna 21 tahun.

Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.

Happy Reading!

.

.

.

Luna terbangun dari tidurnya pukul empat pagi. Satu jam lebih awal dari biasanya ia bangun. Langit diluar Manor masih gelap. Ia bangkit dari ranjangnya, meletakkan kaki-kakinya diatas lantai yang beton yang dingin. Ia menarik nafas panjang sebelum bangkit dari duduknya, untuk membuka jendela yang tirainya tak ia tutup. Saat ia membukanya, ia merasakan udara segar merangsek masuk kedalam kamarnya. Udara dingin yang menusuk kulitnya seperti jarum itu menerpa wajahnya, bersamaan dengan matanya yang terpejam. Ia mengusapkan tangan kanannya diperutnya yang sudah nampak benar-benar membuncit. Ia tersenyum, kemudian berbicara kepada janinnya.

"Aku senang kau hadir dalam hidupku. Mommy menyayangimu, sweetie," bisiknya. Mengusap perutnya lagi. Ia sungguh senang dengan hadirnya calon Malfoy Junior didalam hidupnya ini. ia tidak peduli bagaimana ia akan menghadapi serentetan masalah yang tiba-tiba muncul nantinya. Tetapi, selama ia bersama dengan Lucius, dan calon bayinya ini, itulah tempat yang Luna panggil rumah.

Well, setidaknya itu adalah harapan tertinggi Luna saat ini. Harapan yang membuatnya tetap hidup.

Ia memang senang, tetapi sesuatu yang lain selalu menerobos masuk kedalam hatinya. Ia tertidur dengan kekosongan dan ia juga terbangun dengan kekosongan yang luar biasa didalam dirinya. Benar memang Lucius memenuhi setiap kebutuhannya, memenuhi segala apapun yang diinginkan Luna. Dan, memberikan ijin Luna untuk melakukan apasaja sesuai kehendaknya. Bahkan, ia juga diberikan pelayanan khusus layaknya seorang ratu oleh para peri rumah. Intinya, Luna mendapatkan apa yang dulu pernah ia inginkan; berada sejauh mungkin dari Lucius.

Tapi ini terasa tidak benar. Awalnya, apa yang terjadi saat ini adalah yang ia inginkan dulu, sebelum terperosok kedalam perasaannya sendiri. Tetapi, setelah menghabiskan waktu cukup lama dengan Lucius, Luna menyadari jika kontrak yang ia ajukan kepada Lucius bukanlah hal yang ia inginkan. Dan Luna menyadari dirinya telah jatuh cinta kepada Lucius Malfoy. Ia menginginkan Lucius, , mantan death eater yang sombong, dingin, keras kepala menyedihkan untuk menjadi pendamping hidupnya.

Until the curtains fall.

Luna berjalan keluar dari kamarnya, menuju kedapur untuk mencari kudapan kecil. Ia benar-benar merasa kesepian, tapi ia lebih memilih untuk tidak mengganggu Lucius dengan rengekan-minta-ditemanin-nya. Ia tidak ingin menganggu penyihir elegan itu. Akan tetapi, ia memiliki ide yang lebih bagus daripada rengekan-minta-ditemani.

Ia berjalan melewati kamar Lucius, memandangnya beberapa saat. Senyuman tiba-tiba tertarik di ujung bibirnya, membuat Luna nampak seperti orang bodoh yang tersenyum kepada pintu. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum kemudian melanjutkan jalannya menuju dapur yang mirip seperti dapur restoran bintang lima. Luna bertanya-tanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh leluhur Malfoy untuk membangun istana semegah ini. Luna berani menjamin, rumah ini pasti tidak kalah misteriusnya dengan Hogwarts yang memiliki ruangan-ruangan tersembunyi.

Bentuk arsitekturnya, kekokohan dinding-dinding batu berwarna biru kehitaman pasti bukanlah seperti bentuk arsitektur modern yang cenderung lebih rapuh. Batu-batu yang disusun secara rapi itu pasti dari batuan-batuan terbaik yang ada di Bumi. Entah itu dari batuan vulkanis maupun tektonis, Luna tidak tahu pasti.

Kesimpulannya, Malfoy Manor lebih seperti istana raja pada tahun 1800-an daripada rumah. Bagaimanapun, ia berencana akan menanyakan ini—masalah struktur bangunan dan sejarah Malfoy Manor kepada Lucius. Yah, untuk memenuhi otak Luna yang selalu Ravenclaw-isme atau kelaparan akan ilmu-ilmu pengetahuan baru. Selain dirinya juga tertarik pada ilmu batuan, ini juga bisa menjadi topik pembicaraan yang bagus dengan Lucius. Lebih baik daripada hanya diam dalam kecanggungan.

Dugaannya benar, didalam dapur sudah sibuk terdapat dua peri rumah; Puffy dan Smitty. Dibanding dengan dua peri rumah itu, Luna menyukai Smitty. Entah kenapa, mungkin karena ia lebih talkactive daripada Puffy dan Kinki. Tapi itu bukan masalah sekarang. Yang jadi masalah adalah, apa yang harus ia masakkan untuk Lucius.

Oh, apakah belum disebutkan jika Luna akan membuatkan sarapan untuk Lucius? mungkin belum. But now you know, right?

"Hai Puffy, Smitty!" Luna menyapa mereka dengan ramah. Kedua peri rumah yang sibuk membuat salad dan menata roti itu tersentak kaget. Mereka bahkan tidak ingat kapan Lady of the Manor yang sebelumnya masuk kedapur.

"Selamat pagi, Mistress Luna," ucap Puffy dan Smitty bersamaan. Tak lama berselang, Luna mendengar Smitty berbicara lagi, "Apakah yang dilakukan Mistress Luna didapur pagi buta seperti ini?"

Luna tersenyum, kemudian menjawab, "Aku ingin membuatkan sarapan untuk Lucius." kedua peri rumah dihadapannya saling memandang satu sama lain. Mereka tak mengerti kenapa Luna ingin memasakkan sesuatu untuk Lucius sebagai menu sarapan. Yah, adalah hal asing bagi kedua makhluk yang dikenal setia ini. Tapi, bukankah itu hal yang wajar jika seorang istri menyiapkan sarapan untuk suaminya?

"Tidak! Mistress Luna tidak boleh memasak sendiri!" Smitty membantah, memberikan tanda dengan telapak tangannya seperti tanda 'stop.' Puffy mengangguk setuju.

"Kenapa tidak?" Luna bertanya. Ia memiringkan kepalanya.

Puffy memandang Smitty, kemudian menjawab dengan pandangan aneh. "Memasak adalah tugas peri rumah. Puffy dan Smitty akan merasa tidak berguna jika Mistress Luna melakukan sesuatu sendiri," ujarnya. Suaranya masih datar, mencoba untuk tidak mengucapkan suara yang menyinggung majikannya.

Luna tersenyum. Senyumnya membuat pupil mata Smitty membesar, telinganya bergerak-gerak beberapa kali. Luna tidak mengerti kenapa Smitty selalu seperti itu saat melihatnya tersenyum kepada peri rumah itu. "Kalau begitu, kalian harus membantuku. Setuju?"

Mereka saling melempar pandandang lagi, kemudian mengangguk senang. Luna berdeham, kemudian mengeluarkan kata-kata lagi dari mulutnya, "Puffy, apakah Priam sudah makan?"

"Belum, Mistress Luna."

"Kalau begitu, beri dia makan. Smitty akan membantuku didapur," Luna bersuara. Puffy mengangguk senang lagi. Ia kemudian menghilang dari hadapan Luna dan Smitty.

"Jadi, Smitty, apa makanan favorit Lucius, Smitty?" Luna bertanya.

"Master Lucius Malfoy sangat menyukai sandwich tuna, dengan sedikit campuran mayones, Mistress Luna," Smitty menjelaskan. Ia memandang Mistress-nya dengan berbinar-binar seperti biasa.

Luna tersenyum. Ia sangat ahli dalam mengolah sea food menjadi variasi makanan-makanan yang berbeda. Dan mendengar Lucius sangat menggemari ikan tuna, mungkin ia bisa menambahkan resep rahasia yang ia ciptakan bersama ibunya sewaktu kecil dulu. Luna percaya, jika resep ini, yang ia buat bersama almarhumah ibunya akan membuat Lucius terkesan karena mungkin resep ini tidak akan ditemuinya dibanyak restoran.

Ia mengambil ikan tuna dari ruangan pembeku—bukan kulkas. Ia mengambil ikan tuna berukuran besar, karena memang hanya ukuran besar yang tersedia. Ia mengasah pisau besar yang ada ditangannya dengan pengasah. Luna saat itu juga mulai mengiris ikan tuna itu tanpa jijik. Cairan merah mengalir dari tubuh ikan yang sudah teriris-iris itu, membasahi tangannya. Ia memotong bagian tubuh ikan itu, membentuk lingkaran tidak sempurna berdiameter delapan sentimeter.

Selesai dengan kegiatan potong memotong, ia mulai memeraskan beberapa tetes jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis. Luna memang sengaja tidak mencucinya, karena jika beberapa daging hewan yang dicuci saat akan diolah maka rasa khas yang dihasilkan akan menghilang. Itulah yang dipercaya Luna. Ia mulai menghaluskan bumbu rempah-rempah tertentu kemudian melumurkannya diatas tuna yang sudah diberi perasan air jeruk. Ia—Luna kemudian memanggangnya beberapa menit.

Ia membayangkan jutaan ekspresi Lucius. Pria itu memiliki emosi yang sulit ditebak, apalagi dengan alur pikirannya. Sebenarnya kedua belah pihak, baik Luna maupun Lucius memiliki beberapa sifat yang sama. Beberapa diantaranya merupakan; mereka sama-sama rasionalis—terlalu logis. Mereka sama-sama payah dalam hal rasa merasa, maupun membaca emosi lawan bicaranya atau bahkan emosi mereka sendiri. Mereka sama-sama seorang sapiosexual. [1]

Lamunannya terganggu oleh bunyi memekakan telinga akibat benturan gelas-gelas kaca yang membentur satu sama lain. Luna yang meracik kopinya, dan Smitty yang menuangkan. Smitty mengambilkan piring dan roti yang sudah dipanggang untuk tuna yang sudah berwarna merah kecoklatan itu. Smitty memberikan selada, bawang bombay, acar dan mayones kepada masing-masing keping roti. Smitty sudah memberikan saus pedas diatas daging tuna yang mengepulkan asap tipis. Asap-asap tipis itu menerobos masuk kerongga hidung Luna, membuat perutnya lapar.

"Ah, akhirnya selesai!" Luna berkata kepada dirinya sendiri. Ia melihat kearah Smitty yang ikut tersenyum melihat hasil kolaborasinya dengan Mistress-nya yang ternyata sangat pandai memasak. Smitty kemudian mendengar Luna bersuara, "Terima kasih sudah membantu, Smitty."

Pupiln matanya yang kembali membesar, telinganya mengepak beberapa kali. Senyuman yang sangat lebar disunggingkan kepada Luna. ia membalasnya, "Smitty merasa senang jika Mistress Luna juga merasa senang."

"Kau mau mencobanya?"

"Tidak, Mistress Luna. Smitty adalah vegetarian," jawabnya. Luna terkekeh mendengar itu, dan ia tak menjawabnya. Ia sebenarnya tidak tahu apa makanan dari peri rumah, jadi ia memberanikan diri saja untuk bertanya. Toh lagipula, hasil sandwich yang ia buat juga cukup banyak.

Ia melihat jam dinding yang ternyata sudah pukul setengah enam. Ia berencana kembali kekamarnya untuk mandi dan membersihkan dirinya dari darah ikan tuna yang menyemprot ke bajunya. Ia tahu ia sedang hamil, dan Lucius mungkin akan memarahinya karena melakukan segala sesuatu sendiri. Jadi, ia berpikir jika mungkin akan lebih baik Lucius tidak tahu tentang siapa yang membuatkannya sarapan. Selain itu, ia harus bergegas berganti baju dan mandi. Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang selesai melakukan pembunuhan terhadap ikan tuna yang tak berdaya. Ditambah bau anyir yang menyengat membuatnya mual.

-ooOOoo-

Pagi itu juga, Lucius bangun dengan malasnya, Ia merasakan tulang-tulangnya terasa nyeri, dan matanya terasa panas terbakar. Ia mencoba untuk bangun dengan sekuat tenaga, memaksakan tulang-tulangnya yang tiba-tiba terasa seperti dipatahkan satu persatu. Selain itu, Ia sudah berjanji kepada Luna untuk mengajaknya berjalan-jalan di London hari ini. Dan, Lucius tidak ingin membuat wanita yang mencuri hatinya itu kecewa hanya karena rasa sakit kecil yang dideritanya. Ditambah lagi, Luna sedang mengandung anaknya. Ia tidak ingin membuat Luna sedih, karena kondisi psikologis Luna juga akan mempengaruhi bayi yang dikandung istrinya itu.

Lucius keluar dari kantornya untuk mengambil beberapa botol root beer non alkohol dari penyimpanannya. Sejenak terbesit didalam pikirannya jika ia tak pernah mengajak Luna berjalan-jalan berdua. Ia berpikir, mungkin akan menyenangkan baginya untuk menunjukkan kepada dunia betapa Lucius sangat mencintai Luna. Ditambah, jika mereka didepan publik, ia bisa sedikit leluasa menunjukkan perasaannya itu. Yah, kalian tahu sendiri, mereka hanya bersikap saling mencintai hanya pada saat didepan publik.

Ia yang sudah berada dikoridor atas, mempunyai firasat jika Luna lagi-lagi menenggelamkan hidungnya didalam buku-buku miliknya. Lucius sama sekali tidak keberatan. Sama sekali tidak. justru ia merasa senang jika sesuatu yang ia miliki bisa membuat Luna senang. Apalagi, mereka memiliki hobi yang sama; membaca. Saat ia sudah membuka pintu perpustakaan, ia lagi-lagi melihat Luna sedang membaca dengan serius. Luna bahkan sama sekali tidak menyadari kehadiran Lucius yang sudah berdiri tepat dihadapannya.

Lucius berdeham, membuat Luna langsung menurunkan bukunya. "Lucius! sejak kapan kau kemari?"

"Maaf sudah mengganggu waktumu, Luna," ia menjawab, belum benar-benar selesai dengan ucapannya. Luna memandang Lucius dengan sabar, menunggu kata-kata yang keluar dari mulutnya. "Aku ingin tahu, apa kau sibuk besok?"

Luna mengangkat alisnya, memandang Lucius dengan skeptis. Tidak biasanya Lucius bertanya seperti itu, dan ini juga membuat pikiran Luna membuat hipotesa-hipotesa karangannya sendiri. Luna mengabaikan pikirannya, ia pun diam sejenak. "Selain membaca buku-buku ini, dan bermain dengan Priam, kurasa tidak. Aku tidak sibuk besok," Luna menjawab. Seringai Lucius melebar.

"Good!" ia bersorak pelan.

"Ada apa, Lucius?"

"Aku akan ke Diagon Alley besok. Aku ingin kau menemaniku besok," Lucius bersuara. Tak jelas apakah itu sebuah permintaan atau perintah. Luna memilih untuk membalik kalimat Lucius, bermain dengan kemampuannya mengolah kata-kata.

"Apa itu sebuah perintah? Wanita tidak suka diperintah, Lucius," Luna menjawabnya. Ia menutup buku yang ia baca, menandakan lebih tertarik kepada lawan bicaranya daripada dengan buku yang sudah dua jam menemaninya.

Lucius menyeringai, ia nampak sedang menutupi kegugupannya. Entah ini salahnya yang tidak benar-benar mengajak, atau salah Luna yang terlalu perfeksionis, Lucius tidak tahu. Ia akhirnya duduk dikursi dihadapan Luna, memandang wanitanya dengan seringai menawan. Ia diam-diam juga berencana membolak-balikkan kata-kata Luna. Yah, kalian tahu sendiri jika tidak ada yang lebih menyenangkan selain beradu argumen dengan orang yang kita cintai.

"Aku akan ke Diagon Alley besok, apa kau bersedia ikut denganku?" Lucius bersuara, seringainya masih belum hilang. Ia meletakkan kedua tangannya diatas pangkuannya sendiri, kepalanya sedikit kedepan memandang Luna dengan tajam; dengan harapan pandangannya akan membuat Luna salah tingkah sendiri.

"Wanita juga tidak menyukai pertanyaan, Lucius. Coba lagi," Jawab Luna. kedua pasangan ini tampak menikmati sesi-entah-apa-namanya yang terjadi diantara mereka ini. Secara kasat mata, mereka nampak biasa sekali, tidak ada konflik seru didalam diri mereka. Tetapi jika dilihat lagi, mereka akan nampak seperti pasangan yang aneh.

Maksudnya, lihat saja Lucius yang kadang begitu flirty, dan dilain waktu ia begitu dingin tetapi berapi-api. Ditambah Luna, yang terkadang begitu tenang, tak memiliki gejolak, tetapi terkadang ia masih bersikap seperti gadis muda yang polos tanpa dosa seperti anak-anak. Dilain sisi, ketenangan dan keanggunan yang dimiliki Luna dapat membuat api yang mudah sekali berkobar didalam tubuh Lucius menjadi tenang kembali.

Intinya, mereka mengisi kekurangan satu sama lain. Luna memiliki semua yang Lucius butuhkan. Dan hal ini juga berlaku sebaliknya.

"Kau harus ikut denganku ke Diagon Alley besok," Lucius bersuara, masih memandang Luna.

"Terlalu memaksa."

Lucius mendengus, ia mengangguk beberapa saat. Ia bangkit dari duduknya, berjalan mondar-mandir beberapa kali selama lima detik. Luna masih melihatnya dengan penuh harapan jika Lucius bisa mengalahkan bantahan-bantahan Luna dengan ajakan yang pas.

"Baiklah, ini adalah yang terakhir. Kuharap kau tidak akan menjawab tidak, Nyonya," Lucius berhenti dari mondar-mandirnya. Ia memiliki ide jenius, yang mungkin hanya ada dipikiran para pria. Dan, Lucius yakin kali ini Luna tidak akan menolaknya.

"Itu bukan sebuah ajakan, permintaan atau perintah," Luna menambahkan. Lucius mendengus lagi, sedikit tertawa.

"Aku belum mulai, Luna," ujarnya. Ia melihat lawan bicaranya tertawa sendiri akan kebodohan yang Luna buat sendiri. Lucius percaya diri dengan kemampuan verbalnya. Ia mengakui jika menjadi pengikut Dark Lord juga sedikit banyak memberinya skill yang bagus dalam bercakap-cakap.

"Oh, maaf. Lanjutkan."

Lucius memulai langkahnya menuju kearah Luna. Ia duduk disamping istrinya, memandangnya dengan mata kelabu yang berbinar-binar. Luna tidak bisa berhenti mengumpat dalam hatinya karena Lucius memberinya pandangan mata itu. Pandangan mata yang membuatnya terbayang-bayang Lucius didalam tidurnya. Pandangan mata yang menghantui hidupnya beberapa bulan belakangan.

Lucius masih memandangnya, dalam diam. Tetapi, tangannya yang besar diam-diam sudah merambat ditangan Luna yang berada diatas pangkuannya sendiri. Nafasnya tertahan ketika mendapati tangan Lucius sudah mengenggam tangannya. Ia melihat Lucius memainkan jemarinya dengan jari-jari Luna yang lentik. Lucius mencoba menyelaraskan telapak tangannya, dengan telapak tangan Luna. Ibu jarinya memainkan jemari wanita muda itu, membuatnya diam seribu bahasa.

Wanita itu diam, ia mengumpat menyesal karena menantang Lucius menjadi lebih genit lagi. ia sama sekali tidak menduga jika Lucius akan menyentuh tangannya seperti itu. Luna tidak tahu harus bagaimana. Tubuhnya bergetar hebat. Satu yang ia pelajari; jangan merayu orang genit. Or, you'll end up like Luna;

"Aku akan ke Diagon Alley besok. Aku akan merasa terhormat jika engkau mau menemaniku," ucapnya dengan lembut, kemudian mencium tangan Luna yang ia genggam.

Luna tersenyum, balik menggenggam tangan Lucius yang dingin. Lucius merasakan kehangatan yang hilang dari dalam dirinya. "Aku akan senang jika kau senang," Luna menjawab. Lucius tak menyahut lagi, hanya memandang tangannya yang masih menggenggam tangan Luna erat. Senyumnya semakin melebar, memperlihatkan jajaran gigi putih yang rapi dan berkilau.

Ia bangkit dari ranjangnya, tubuhnya terasa bergetar, seakan-akan ingin roboh. Ia menduga, pasti penyakit tahunannya menyerang lagi. Dan kali ini, ia merasa suhu tubuhnya terasa meningkat. Lucius tidak mengerti kenapa penyakitnya ini selalu muncul tiba-tiba, tanpa ada gejala yang spesifik. Ia sudah memprediksi jika satu atau dua hari kedepan, ia hanya akan berada diranjang seharian karena tidak kuat berjalan. Ini membuatnya terasa lemah, dan ia membencinya.

Ia membatalkan rencananya untuk mandi, ia sedang benar-benar tidak dalam kondisi baik untuk mandi dibawah air dingin yang segar. Jadi, Lucius hanya mengusap tubuhnya yang proposional menggunakan air hangat. Yah, sekadar untuk membersihkan dirinya dari keringat-keringat yang menempel. Kemudian menyemprotkan sedikit parfum beraroma kayu khasa ditubuhnya. Dalam lima menit, ia sudah siap untuk pergi kemanapun ia harus pergi bersama Luna.

For those he love most, he will sacrifice.

Ia berjalan keluar dari kamarnya, tak melupakan tongkat jalan berkepala ularnya. Yah, bukan hanya sekedar untuk membuat kesan dirinya elegan, tetapi juga untuk membantunya berjalan mengingat hari ini ia sedang sakit. Oh, tentu saja penyakit yang menurutnya ringan itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan cruciatus Lord Voldemort. Kutukan tak termaafkan yang membuatnya memuntahkan cairan hitam setiap malamnya. Ia sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa selamat dari kutukan sialan itu.

Ia keluar kamar hampir bersamaan dengan Luna. Wanita muda itu mengenakan dress panjang berwarna hitam kecokatan dengan bordiran-bordiran abstrak dibeberapa bagian. Ia juga mengikat rambutnya, tidak terlalu tinggi tetapi tetap membuatnya terlihat cantik. Wajahnya yang sudah cantik dari sono nya diberi sedikit polesan make up, membuat wajahnya semakin berseri-seri. Dilehernya menggantung sebuah kalung yang diberikan Lucius padanya dulu. Cincin batu green cyclops—cincin kawinnya juga melingkar indah dijari manisnya. Overall, she's perfect.

Lucius memandangnya tanpa berkedip, seakan-akan mengabaikan rasa sakit ditulang-tulangnya. Entah sudah berapa kali Lucius melihat Luna tampil cantik, tapi ia tetap saja terpikat seperti saat-saat awal perkenalan dulu. Ini membuat Lucius berpikir, jimat macam apakah yang digunakan Luna hingga ia bisa terus-terusan membuat Lucius jatuh cinta lagi dan lagi.

"Aku tidak tahu sudah berapa kau mendengar ini. Tapi, kau cantik sekali, my dear," puji Lucius.

Luna tersipu malu, ia menundukkan wajahnya beberapa saat sebelum memandang Lucius lagi. "Tiga kali darimu. Jika aku tidak salah ingat," jawabnya, memandang Lucius dengan mata birunya yang bersinar terang.

"Sejak kapan kau menjadi begitu statistik?" Lucius mencemooh, dengan seringainya yang sudah terbentuk. Luna tertawa kecil mendengar candaan yang kelewat garing itu.

"Kau tidak akan ingin tahu jawabannya," Luna menjawab.

Lucius mendengus. "Jadi, apa kita bisa sarapan sekarang?" Sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Lucius. Ia tiba-tiba tidak yakin apakah dirinya kuat untuk pergi berlama-lama diluar. Lucius mencoba mengabaikannya.

"Tentu saja," Luna menjawab.

Puffy dan Smitty yang menghentikan aktivitasnya saat melihat Luna dan Lucius turun bersama. Puffy bahkan hampir menumpahkan kopi yang ia tuang dicangkir untuk Lucius. Ia melempar pandangan kepada Smitty yang merebahkan senyum lebar. Pupil matanya jauh lebih besar dari biasanya, giginya yang kuning terlihat hampir mengering.

Lucius dan Luna tampak begitu cocok bersama. Luna yang bersikap begitu tenang, dan anggun dipadukan dengan Lucius yang perfeksionis dan aristokratis. "Master Lucius dan Mistress Luna sangat cocok sekali," puji Smitty. Kinki, dan Puffy mengangguk setuju.

Keduanya tersipu malu satu sama lain, tak berani memandang. Lucius berpikir jika para peri rumah itu benar-benar membuatnya malu—tersipu dihadapan Luna. "Sialan!" batin Lucius.

"Kalian boleh pergi!" Lucius memerintah kepada para peri rumahnya untuk meninggalkan mereka berdua. Lucius tidak ingin peri rumahnya menganggu acara sarapan (yang membosankan) bersama Luna.

Seperti biasa, Lucius duduk dikursi utama, sementara Luna berada tak jauh disebelah kirinya. Ia menyeduh kopinya beberapa kali. Saat sudah meminumnya, ia merasakan racikan yang berbeda. Ia merasa deja vu dengan kopi yang ia minum. Lucius pasti pernah merasakan racikan yang sama disuatu tempat, tetapi ia tidak ingat. Rasa kopi itu benar-benar kuat, rasa kopi arabika yang cukup tua, yang dipanaskan dengan suhu yang sangat tinggi dan kopi yang benar-benar murni.

"Ada apa, Lucius?" Luna bertanya. Ia mendapati Lucius sedang mengingat-ingat sesuatu.

"Aku pernah merasakan racikan kopi yang berbeda. Aku tidak ingat pernah menyuruh peri rumah mengubah racikannya," ia berujar. Masih memandang kopinya yang masih mengepulkan asap.

"Kau memang tidak pernah meminta mereka mengubahnya. Apa kau menyukainya?" Luna bertanya lagi. Ia penasaran apa Lucius akan menyukai kopi yang diraciknya sendiri itu.

"Ya. Ini...lebih baik dari kopi-kopi ku sebelumnya," Lucius menjawab. Masih mengagumi rasa kopi yang meledak-ledak didalam mulutnya.

"Bagus! Kau juga harus mencoba sandwich-nya," Luna memerintah.

Lucius tak menjawab, hanya mengangkat alisnya. Ia lalu meletakkan kopi yang lezat itu diatas meja, tangan kanannya mengambil sandwich yang nampak berbeda dari biasanya. Ia melihat roti yang dipanggang sampai matang, dengan telur yang nampak menyatu diatasnya. Dibawah roti itu, terdapat salada, acar dan daging yang berwarna kecoklatan dengan campuran mayones. Dibawahnya terdapat salada lagi dengan saus pedas.

Lucius mulai menggigit sandwichnya itu, Luna memandang ekspresi Lucius berubah lagi. ia kemudian mendengar suaminya mengerang. "Whoah! Ini lezat sekali!"

Luna tersenyum memandang Lucius yang nampak begitu girang sekali. Ia menggigit sandwich buatan Luna lagi, ia nampak menahan tata kramanya dengan tidak melahap sandwich itu bulat-bulat. Luna memandang pria itu dengan mata yang berbinar-binar, penuh harapan jika ia bisa membuatkan Lucius makanan setiap hari. Ia juga akan dengan hati menemani Lucius dengan kegiatan monotonnya yang membosankan itu. "Aku senang kau menyukainya," Luna bersuara.

Lucius berhenti mengunyah makanannya, melemparkan pandangan menuduh. Luna membalasnya pandangan itu dengan senyuman. "Kau yang memasak ini?" Lucius membuka mulut, tanpa menggerakkan tulang rahangnya.

Luna mengangguk. Sebenarnya ia tidak ingin mengaku, tetapi pandangan Lucius yang tajam itu benar-benar tak terelakkan. Pandangan yang membuat orang yang dipandangnya menjadi salah tingkah sendiri, seakan-akan tidak bisa berbohong.

"Kau sedang hamil, Luna. kau tidak seharunya memasak ini sendiri," ujar pria itu. Luna tidak tahu apakah Lucius sedang marah, perhatian atau menasihati. Entah dirinya yang tidak bisa membaca emosi orang lain, atau bagaimana, ia tidak tahu.

"Aku tidak ingin berbaring seharian, Lucius. Ditambah, aku juga harus bergerak agar bayi dalam kandunganku ini sehat," Luna menjawab. Yah, itu memang salah satu alasan bagi Luna agar Lucius tidak memprotes lagi. Suaminya ini benar-benar tukang protes.

Lucius mendengus, menggigit sandwich-nya lagi. Ini benar-benar sandwich terbaik yang pernah ia makan. Ia tidak bisa menolak itu. Lucius benar-benar merasa jika Luna adalah sosok istri idaman. Ia bisa memasak, tidak pernah menuntut ini-itu, dan tidak temperamental. Lucius memang butuh seseorang yang bisa menenangkan emosinya yang kadang-kadang cepat sekali naik.

"Tapi tetap saja kau tidak boleh memasak sendiri. Itu pekerjaan peri rumah," Lucius membantah lagi.

"Uhm, sepertinya aku tidak akan menurutimu untuk masalah ini," Luna membalas. Ia memberikan senyuman hangat yang membuat Lucius salah tingkah sendiri.

"Bagaimana jika aku memaksa?" Lucius menantang balik, menelan potongan terakhir dari sandwichnya. Ia memandang Luna dengan tatapan flirty-nya, ia berharap Luna akan memberinya hukuman seperti ia menghukumnya tempo hari.

Luna balik memandangnya, ia paham maksud Lucius. "Ah, aku tahu apa maksudmu, Lord Malfoy," timpal Luna, memincingkan matanya sambil tersenyum penuh misteri. "Kau ingin aku untuk menciummu, bukan?" Luna menyemburkan tawa, ia memukul meja pelan.

Lucius merasa senang melihat Luna tertawa. Ia juga tentu berharap Luna akan memberikan hukuman ciuman seperti kemarin, tetapi ia tidak ingin berharap terlalu tinggi. Karena, niat utamanya adalah melihat wanita-nya ini tertawa. Lucius tahu jika dirinya mempunyai selera humor yang buruk. Buruk sekali. Dan satu-satunya hal yang (ia ketahui) dapat membuat Luna tertawa adalah kegenitannya.

Mungkin ini sudah disebutkan berkali-kali, tapi itu adalah fakta.

"Sepertinya kau yang ingin dihukum," Lucius membalik perkataan Luna.

Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Luna seharusnya tahu jika suaminya ini sudah kategori tukang gombal yang parah. Sementara Luna sendiri bukan orang yang ahli merayu. Tapi kalian mungkin tidak tahu jika Luna diam-diam menulis nama Lucius di jurnal hariannya. Dan, tentu kalian ingat jika ia juga menyimpan potongan koran Weekly Witch tempo hari.

"Kau mulai merayu lagi," Luna akhirnya bersuara.

"Aku tidak akan merayu jika kau tidak memulainya lebih dahulu. Lagipula, kau terlalu cantik untuk tidak kurayu," Lucius menjawabnya dengan senyuman nakalnya lagi. Ia menggoda istrinya dengan menggerakkan alisnya sebelah, sebuah tanda yang menunjukkan jika ia cukup serius dengan rayuan maut itu. Lucius sama sekali lupa jika dirinya sedang sakit.

Luna tertawa kecil. Ia memandang rambut Lucius yang bersinar terkena pantulan cahaya mentari yang masuk dari jendela-jendela besar yang terbuka. Luna tiba-tiba menginginkan sesuatu dari Lucius. Sesuatu yang tidak yakin bisa ia tahan selamanya. Sesuatu yang benar-benar ingin ia lakukan. Luna tidak tahu dari mana keinginan itu muncul, yang ia tahu, ia tiba-tiba menginginkan itu. sangat menginginkannya.

"Uh, Lucius," Luna bersuara, agak gugup.

Lucius yang sedang menghabiskan kopinya memandang Luna dengan alis terangkat. Ia tidak menjawab, hanya menunggu Luna untuk mengatakan kalimat lain yang akan keluar dari mulutnya.

"Ada apa, Luna?" Lucius akhirnya bersuara, ia masih belum meletakkan cangkir kopinya. Ia sedang ingin menghabiskan kopi spesial buatan Luna itu. Sebenarnya, ia tidak pernah menghabiskan kopinya, apalagi jika sudah tidak lagi panas. Kopi yang dingin dapat membuat perut kembung, dan jantung yang berdebar-debar. Tetapi pagi ini adalah pengecualian, ia menghabiskan kopi itu sampai hanya tertinggal ampasnya saja.

"Boleh, aku meminta sesuatu darimu?" Luna nampak gugup. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk memintanya. Ini adalah permintaan yang bukan dari kehendaknya. Ini adalah keinginan dari bayi yang dikandung oleh Luna. Bayi yang merupakan hasil perbuatan Lucius.

"Tentu. Kau bisa meminta apapun dariku. Aku bisa memberimu apa saja," Lucius bersuara, ia mulai menyombong lagi. ia tidak menyukai sikap Lucius yang sombong itu. Maksudnya, apa keuntungan menjadi orang yang sombong?

"Uh, aku tidak yakin kau akan memberikan permintaanku yang satu ini," balasnya, mengabaikan kesombongan Lucius.

Lucius mengangkat alisnya sebelahnya, tidak paham dengan ucapan Luna. Ia berpikir permintaan makan apa yang akan diminta oleh Luna sampai-sampai ia berkata jika ia yakin jika Lucius tidak bisa memberikan permintaan yang aneh ini. Dan hal ini, membuat pikiran Lucius melayang-layang membayangakan hal yang tidak-tidak.

"Kenapa?" Lucius akhirnya membuka suara.

"Karena kau mungkin tidak akan memberikannya," Luna menjawab. Ia masih belum mengatakan permintaan macam apa yang diinginkannya.

Pikiran kotor Lucius mulai menyebar, meracuni otaknya. Ia tersenyum nakal lagi kepada Luna. lawan bicaranya tidak paham kenapa Lucius seperti itu. Luna mendengar Lucius bersuara lagi, "Oh, tentu aku tidak akan memberikannya. Kau sedang hamil, bukan?"

Luna mengernyitkan keningnya, ia tidak paham dengan maksud Lucius. Apa maksud dari ucapan itu? dan, Luna merasa Lucius tidak menangkap maksud dari keinginan macam apa yang dimaksud Luna. Permintaan itu terjadi disaat Luna sedang hamil, dan itu berarti ia sedang ngidam. Bukan hal lain yang menjurus ke hal-hal tertentu. Tapi ini memang salah Luna yang tidak mengatakannya to the point saja.

"Maaf? Apa maksudmu?" ujarnya spontan.

"Kau tidak paham? Wanita hamil dilarang melakukan you-know-what, my dear," Lucius bersuara.

Luna belum menjawab. Ia malah tertawa terbahak-bahak, kegugupannya menjadi hilang seketika setelah menangkap maksud dari ucapan Lucius. Lucius hanya memandangnya bingung, tak mengerti karena Luna tiba-tiba tertawa. Tetapi, kini Luna paham, Lucius mengsalah artikan permintaan Luna yang belum jelas itu dengan pikiran kotor yang merasuki kepalanya. Jelas ini mengundang gelak tawa Luna, ia tidak menyangka Lucius akan menghubungkannya dengan you-know-what.

"Astaga, Lucius! Pikiranmu kotor sekali," ucap Luna, masih berusaha menghentikan tawanya.

"Tunggu, apa yang kita bicarakan?" Lucius bertanya, menyadari kebebalan yang datang tiba-tiba ini.

"Aku sedang ngidam, Lucius. Bukannya you-know-what," Luna menjawab. Lucius mendengarnya, kemudian ikut tertawa untuk menutupi wajahnya yang benar-benar merah padam. Ia menyadari jika pikirannya benar-benar kotor.

"Astaga, Lucius, kau mempermalukan dirimu sendiri lagi," Lucius membatin sambil mengusap keningnya.

"Aku minta maaf," ujarnya. Masih tertawa bersama Luna, menahar rasa malunya. Ia menyambung pertanyaannya, "Jadi, apa yang kau inginkan?"

"Uh, boleh aku mengepang rambutmu sebelum kita pergi ke Diagon Alley?"

"YOU WHAT? Lucius berteriak.

BERSAMBUNG

A/N: Hooo bagaimana chapter ini? qu taq maw komen lah :'D

Jason : stfu, fraulein. I'll take over. *coughing* So, give me your review. Because, your review is the only payment I—we got from this story. I love you xx

[1] Sapiosexual : adalah kondisi dimana seseorang lebih tertarik kepada seseorang yang memiliki kecerdasan yang dia perkirakan. Atau, ringkasnya, kondisi dimana seseorang lebih tertarik dengan seseorang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi (atau lebih tinggi.)