Brilliant Hermione : Heiloooo qaqaq /alay kamu/ terima kasih sudah memberikan review yang penuh cinta ini. Saya baru buka email dan ada sekumpulan review-review dari qaqa. I don't know what to say :"""D entar ada part Hermione sama Krumnya kok ditengah-tengah chapter, don't worry. /eh/ Saya ucapin terima kasih banyaaaakkk atas review yang penuh cinta tersebut. *tebar cokelat *tebar cinta *mbrebes mili full of happiness. xx

Guest : Hai! Iya kak, Lucius mau saya nikahin sama Luna. Saya udah manggil penghulu kok /nak/ Ini updatenya, dan terima kasih udah menjadi reviewer pertama saya di fic ini. I don't know who you are, but I will find you, and I'll thank you. *mbrebes mili full of happiness. Xx

Terima kasih untuk Zielavienaz96sudah meng-fav fic ini *mbrebes mili full of happiness XX

.

.

.

A/N : Heyho balik lagi bersama saya, author dari kapal kecil dan nistah ini. seperti yang saya janjikan, chapter 2 akan dipublish begitu ada review yang masuk. Untuk chapter ke tiga, mungkin agak lama karena...susah. Bahkan itu saya maksa sekali ngetiknya. The begining always hardest part.

But yeah, everything I do, I do it for ya, readers and reviewers. Give me some asuvans nutrisi by write your lovely reviews for...this ship :p xx

WolfShad'z

.

.

.

Disclaimer : Milik JKR, kecuali beberapa OC. Kalau HP punya saya, saya akan ngapalin Lucius sama Luna terus punya anak yang namanya Heydez Malfoy dan Bressies Malfoy! / Jangan bacok saya tante JKR

Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementrian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar sendiri?

Rating : T untuk bahasa.

Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.

Note : Snape dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film.

Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.

Happy Reading!

.

.

.

Sebuah pagi yang cerah di hari selasa, dengan matahari yang mulai menyisir kediaman Malfoy dengan sinarnya yang menghangatkan tubuh yang kedinginan. Dinding-dinding batu berwarna hitam kecoklatan pun tak terlewatkan untuk dijilati oleh sinar mentari pagi. Hutan yang berada disamping Malfoy Manor nampak lebih cerah dari biasanya, karena tak ada lagi kegelapan yang menyelimuti rumah megah yang sudah berdiri sejak berabad-abad lalu itu.

Tak dibelakang manor, terdapat sebuah tebing yang tinggi dengan air terjun yang indah. Hamparan batuan berwarna yang berkelap-kelip menghiasi dinding-dinding batu dibalik air terjun tersebut. Pemandangan tersebut dapat dinikmati melalui ruang kerja Lucius, dan kamarnya yang hampir seluas lapangan basket. Tidak juga.

Tak jauh dari kediaman Malfoy, terdapat sebuah danau yang besar. Danau dengan hutan pohon-pohon besar diatasnya. Didalam danau tersebut terdapat banyak sekali makhluk hidup, mulai dari Kraken, sampai dengan bulus bahkan ikan ritok*. Ikan ritok adalah ikan yang hanya memiliki tulang dan kepala saja, tidak memiliki daging. Jadi bisa dipastikan ikan tersebut tidak dapat dikonsumsi. Selain itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat ikan tersebut.

Dari jendela lantai atas, bisa dilihat Lucius sedang menyeduh kopi hangat sambil membaca koran Daily Prophet di ruangannya. Ia nampak dalam mood yang baik hari ini. paling tidak lima menit sebelum pria berambut indah ini tiba-tiba ia tersedak. Ia tersedak begitu ia selesai membaca baris pertama koran yang memiliki foto bergerak-gerak itu.

"Demi Tuhan! Apa-apaan ini?" Pekik Lucius pada dirinya sendiri. Ia melihat sebuah judul besar dengan foto Kingsley sedang berjabat tangan dengan seorang pria asing bernama Harold Ester, yang mana merupakan kepala dari FWA. Ia juga melihat Hermione Krum sedang berdiri disamping mereka, didampingi oleh Ginny Potter.

KEMENTERIAN MENGESAHKAN UNDANG-UNDANG PERNIKAHAN TERIKAT

Daily Prophet, 2002. Menteri Sihir Kingsley Shacklebolt, akhirnya mengesahkan undang-undang pernikahan bagi penyihir yang diketahui tidak memiliki ikatan pernikahan. Undang-undang ini berlaku kepada seluruh penyihir yang masih lajang, ataupun single parent, janda maupun duda.

Undang-undang ini bersifat mengikat, dan bagi siapapun yang menolak akan dikenai sanksi; yakni dipenyegelan harta benda, bahkan percobaan penjara di Azkaban selama tiga tahun. Harapan dikeluarkannya undang-undang ini adalah untuk membatasi kelahiran Squib yang diperkirakan semakin meningkat pertahunnya.

Kelahiran Squib pertahun diperkirakan sebesar 3000 jiwa pertahun dari hanya 100.000 jiwa penyihir. Apabila hal ini dibiarkan, maka populasi penyihir akan menipis, bahkan punah.

"Kami, dari pihak kementerian memberikan paling tidak minimal lima tahun untuk para calon mempelai untuk hidup bersama.." Ujar Menteri Sihir Kingsley Shacklebolt kepada wartawan Daily Prophet.

Menteri Sihir juga menambahkan jika Kementerian tidak memberikan aturan yang memaksa calon pasangan suami istri untuk segera memiliki keturunan. Menteri Sihir yakin apabila dalam lima tahun kedepan, mereka sudah akan bisa menerima pasangan masing-masing beserta kekurangannya.

Lucius mendesah penuh amarah ketika membaca berita itu. semua penyihir yang tak terikat pernikahan berarti termasuk dirinya. Ia merasa murka, dan tak habis pikir dengan siapa yang menciptakan undang-undang gila ini. Menurut Lucius ini melanggar hak asasi mereka sebagai penyihir. Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan.

Ia melanjutkan membacanya yang terpotong ke halaman 15. Kali ini judulnya berubah,

Pro dan Kontra Warnai Pengesahan Undang-Undang Pernikahan

Seperti yang dilansir oleh Weekly Witch oleh Rita Skeeter, ia secara terang-terangan setuju dengan undang-undang ini. Karena menurut wanita berkacama mata ini, populasi penyihir lebih penting daripada hak asasi manusia.

Sementara itu, dari Hogwarts, Profesor Severus Snape, penerima penghargaan Orde of Merlin First Class menolak untuk memberikan pendapatnya. Kami juga mendengar sedikit kabar burung dari Kementrian jika Mantan Death Eaters, Lucius Malfoy yang sudah terbukti tidak bersalah, juga ikut tersangkut dalam undang-undang ini.

"Persetan! Apa-apaan ini?" Lucius mengutuk koran didepannya. Sementara gambar Kingsley nampak tersenyum penuh kemenangan dikoran itu.

"Ada apa, Lucius?" Tanya lukisan seorang laki-laki berambut pendek dengan jubah rapi. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan Lucius dan Draco. Ia adalah Abraxas Malfoy—ayahanda dari Lucius.

"Kementrian mulai gila lagi." Jawab Lucius datang.

"Memang kenapa?" Tanya ayahnya, memandang Lucius dari bentuk dua dimensinya.

"Ayah baca sendiri saja." Ujar Lucius, lantas tangannya menunjukkan koran yang dibawanya kearah barat daya, tepat lukisan ayahnya menempel.

Lucius menunggu sampai beberapa menit sampai ayahnya selesai membaca. Lucius mengharapkan nada ketidak sukaan dari ayahnya, tetapi yang ia dapatkan malah sebuah tawa. Abraxas tertawa ketika membaca bait terakhir dari korannya.

"Kenapa ayah tertawa? Apa ayah pikir ini lucu?" Lucius bertanya kepada ayahnya. Ia nampak tidak terima ditertawakan.

"Kau ini seorang Malfoy, Lucius. Kau bisa menggunakan wewenangmu di Kementerian, kan?" Abraxas bertanya lagi.

Lucius mendengus kesal, melemparkan pandangan kesal pada ayahnya. Dalam hati ia menyalahkan ayahnya, karena gara-gara Abraxas lah ia menjadi terseret kedalam Death Eaters. Jika dulu Abraxas mau mendengarkan mendiang ayahnya untuk tidak bergabung di organisasi terkutuk itu, maka tentu tidak akan berefek kepada anak cucunya.

"Ayah pikir aku bisa menggunakan wewenangku di Kementerian setelah mengetahui aku seorang Death Eater? Tidak seperti itu, father." Lucius memutar bola matanya, sementara Abraxas hanya diam memandang anaknya yang sudah beranjak dewasa.

Lucius melanjutkan membacanya yang terpotong.

Sementara itu, Dumbledore sangat setuju dengan undang-undang ini. "Aku tidak bisa membiarkan Hogwarts menjadi sekolah tak bersiswa di beberapa puluh tahun kemudian. Lagipula, aku tidak melihat celah untuk menolak alasan ini." Demikian ujar dari kepala sekolah berusia 154 tahun tersebut.

Adapun para kandidat akan menerima surat pemberitahuan beserta dengan nama calon pasangan. Dengan ini, diharapkan semua penyihir harap mematuhi peraturan ini dengan baik.

Lucius menyelesaikan membacanya dengan ekspresi tak terbaca. Ia tak habis pikir kepada siapapun yang setuju dan terlibat dalam undang-undang ini. kalaupun ia terseret,Lucius harus memiliki rencana dan alasan yang logis untuk meyakinkan Kingsley agar hal ini tidak terjadi pada dirinya.

Dirinya? Terseret di kedalam undang-undang ini? Bahkan dirinya tidak tahu menahu jika dirinya ikut terseret dan terikat. Kingsley dan kementerian tidak bisa seenak pusarnya sendiri seperti ini. Tapi Lucius juga sadar jika dirinya sudah tidak memiliki wewenang seperti dulu lagi. Wewenang yang masih ia miliki adalah dibagian Kementrian Olahraga Sihir. Itu tidak cukup untuk membuat dirinya terlepas dari undang-undang sialan dan gila ini.

"Tenang, Lucius. Itu baru kabar burung, bukan?" Suara Abraxas menggelegar dikepalanya lagi.

"Yang kau butuhkan hanyalah memastikan kebenaran kabar burung itu." Abraxas melanjutkan. Lucius tidak menjawab, hanya memandang lukisan ayahnya tanpa menyiratkan ekspresi yang jelas. Ia nampak sedang berpikir keras.

Tak lama kemudian, ia melihat sesuatu terbang di luar jendela. Lucius memiliki perasaan yang tak enak dengan kedatangan burung hantu yang membawa amplop yang rapi dengan tinta emas itu. Ia merasa tak ingin menerimanya, tapi ia penasaran dengan apa isi dari surat tersebut. Bagaimana jika itu bukan dari kementerian ? bagaimana jika itu lebih penting?

Geram, Lucius pun membuka jendela kantornya. Sebuah pemandangan hutan yang indah, dengan sebuah tebing dengan air terjun terpampang dihadapannya. Pemandangan di luar jendela sangatlah indah, tetapi ia sudah bosan. Mengingat ia sudah hidup ditempat ini selama puluhan tahun.

Ia mengambil surat itu, membukanya lalu membaca isinya. Burung hantu yang mengantarkannya langsung pergi sebelum Lucius memberikan sepotong makanan dari piringnya. Ia kembali fokus kepada suratnya.

Hatinya mencelos begitu membaca pengirimnya; Kementerian Sihir. Ia mengumpat beberapa kali sebelum tangannya membuka segel itu perlahan-lahan. Ia mengambil perkamen itu, dan mulai membaca tulisan yang indah dan rapi itu.

Yang Terhormat, Mr Lucius Malfoy.

Kami yakin Anda sudah mendengar kabar mengenai undang-undang pernikahan yang baru-baru ini disahkan oleh Kementerian. Maka, dengan datangnya surat ini kepada Anda, kami ingin memperjelas bahwa Anda telah terpilih untuk terikat dalam undang-undang Kementerian nomor XXVIII tentang pernikahan.

Lucius melanjutkan membacanya dengan raut wajah tak terbaca. Kabar burung tersebut ternyata bukan isapan jempol belaka. Ia mendapatkan surat pemberitahuan dari kementerian, dan itu berarti ia sudah mutlak terikat dengan undang-undang sinting Kingsley. Ia harus memberi balasan yang bagus kepada Kingsley untuk masalah ini.

Dengan demikian, kami ingin memberitahukan kepada Anda untuk datang ke Kementerian;

Hari : Kamis, 20 Maret 2002

Pukul : 10.00 Pagi

Tempat : Ruang Kementrian Sihir

Kami mengharapkan kedatangan Anda untuk mendapat pemberitahuan lebih lanjut mengenai undang-undang yang kami sebutkan diatas.

Atas waktu dan perhatian Anda, kami ucapkan terima kasih.

Hormat Saya

Sekertaris Family of Wizzarding Affair.

Hermione Krum

"Sialan!" Umpatnya begitu mengingat kedatangannya di kementerian beberapa hari lalu. Didalam pikirannya, Kingsley dan Weasley pastilah punya maksud selain menanyainya perihal buku harian Tom Riddle. Mereka pasti sudah merencanakan ini sejak awal, tetapi masih meragukan status Lucius yang sebenarnya.

Dan kemarin, Kingsley sempat menanyainya tentang mantan istrinya. Lucius tidak bisa berbohong, karena ia dalam efek Verittaserum saat itu. Dan ia berpikir, mungkin itu adalah alasan mereka memanggil Lucius. Mereka ingin tahu apakah Lucius sedang berusaha rujuk dengan mantan istrinya atau tidak. Lucius tidak berpikir jika Kementerian akan bertindak sejauh itu.

Okay, Lucius benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Ia murka karena Kingsley telah menyeretnya kedalam permasalahan lain yang lebih runyam. Bahkan, ia tidak tahu siapa calon pasangannya. Bagaimana jika ia adalah darah lumpur? Bagaimana jika ia adalah squib? Bagaiamana jika ia adalah penyihir dari keluarga miskin?

Lucius tak bisa fokus dengan pekerjaannya, ia hanya membaca kalimat yang sama berkali-kali. Pikirannya membawa dirinya memikirkan rencana untuk menolak pernikahan ini. Tapi berada di Azkaban lagi? Lucius tidak bisa menerimanya. Azkaban adalah tempat didaftar hitamnya yang tidak akan pernah ia kunjungi selain rumah Muggle. Ia tak bisa berkata-kata lagi selain mengumpat penuh rasa amarah.

Ia membaca kertas proposal permohonan dana untuk membeli tungku untuk membakar kayu. Keluarga Malfoy memiliki bisnis mebel terbesar sejagat sihir. Dan lagi, ia terus membaca kalimat yang sama berkali-kali. Ia sama sekali kehilangan fokusnya karena sesuatu yang akan merubah hidupnya. Ia harus memberi tahu Draco mengenai masalah ini.

Ia memang kesepian, tapi bukan berarti ia harus dipaksa menikah seperti ini. Dan ia tak pernah mendaftar kontak jodoh konyol semacam ini. Ini adalah hal terbodoh yang pernah terjadi dalam hidupnya selain bergabung di Death Eaters. Tapi dalam hatinya, ia mungkin akan menerima ini. Hitung-hitung sebagai penebusan atas dosa-dosanya selama ini.

-ooOOoo-

Di tempat lain, ada Luna Lovegood yang sedang membantu ayahnya memanen gandum diladang, tiba-tiba mendapatkan sebuah surat dari kementerian. Luna bekerja sebagai penanggung jawab dan pemilik Quibbler, menggantikan ayahnya. Saat sedang libur dari kantor Quibbler, ia membantu ayahnya untuk mengolah gandum atau sekadar menyiangi ladangnya.

Panas pagi ini begitu terik, membuat Luna benar-benar harus menggunakan pakaian yang agak tipis dan topi aneh dikepalanya. Topi itu dilengkapi dengan simbol-simbol rune futhark yang tak jelas. Menurutnya, rune-rune Futhark itu bisa mengurangi panas yang menerpa kepalanya.

Tangannya yang sedang mencabut gandum yang mulai meguning berhenti bergerak ketika kedatangan seekor burung hantu datang tepat dihadapannya. Ia sedikit terperanjat dengan menjatuhkan beberapa ikat gandum yang masih menempel di kantungnya. Ia melihat burung hantu yang berwarnah hitam kecoklatan dengan wajah bulat. Mirip dengan Hegwig, tetapi bulunya lebih gelap.

Tanpa banyak berbicara, Luna mengambil surat itu. Ia megelus kepala burung hantu itu sebelum kembali mengudara dan kembali melakukan tugasnya lagi.

Ia tercengang ketika melihat surat yang sama seperti yang diterima oleh Lucius. Kecuali pada bagian panggilan saja. Ia ingin tertawa, dan ingin menangis ketika dirinya mendapat surat kontak jodoh dari kementerian. Ia seharusnya tahu jika Kementerian telah ikut campur kedalam hidup pribadi penyihir terlalu jauh. Ia tak bisa berpikir jernih lagi. Ia lebih tak percaya lagi karena ia menerima surat ini saat masih memiliki hubungan dekat dengan Neville.

"Kau baik-baik saja, Luna?" Tanya ayahnya. Ia tak mendapat surat tersebut karena sudah terlalu...tua. Ia sama tuanya dengan Arthur Weasley. Kingsley membuat pengecualian untuk penyihir berusia diatas 50 tahun seperti ayah Luna, Xenophilius, karena dianggap sudah tidak produktif.

"Aku menerima surat dari kementerian."

"Apa isinya?" Tanya Xeno. Luna tak menjawab, hanya menyerahkan surat itu kepada ayahnya. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan ini pada ayahnya, jadi ia langsung saja memberikan surat itu agar disimpulkan sendiri. Toh, Xeno juga orang yang cerdas.

"Merlin's beard! Bagaimana bisa?" Tanya Xeno. Ia memandang Luna tanpa ekspresi. Ia terkejut karena surat itu menimpa putri semata wayangnya. Ia merasa ini bukan hal yang benar, terlebih lagi ia tidak tahu siapa dan bagaimana latar belakang dari calon menantunya.

Luna menggigit bibirnya, ia tak punya alasan lagi untuk menjelaskan kepada ayahnya. Ia sebenarnya tengah dekat dengan Neville, tetapi pria yang mengalami evolusi yang secara pesat itu tidak memberikan kepastian akan hubungan mereka. Dan kali ini, pertama kali dalam hidupnya, Luna merasa putus asa. Ia—Luna hanya memandang ayahnya, mencoba untuk mengatakan sesuatu, "Aku tidak tahu harus berkata apa, yah."

"Disini tertulis kau harus menemui calon suamimu besok pukul sepuluh. Apa kau siap?" Tanya Xeno. Ia tahu jika Luna sedang tertekan dengan datangnya surat itu. Tapi Xeno lebih tertekan lagi karena harus melepaskan anak satu-satunya kepada orang yang bahkan belum jelas identitasnya.

Luna tak bisa berpikir jernih hari ini. Terlebih besok ia harus menemui calon suaminya. Pikiran takut dan khawatir juga melintas dibenaknya. Bagaimana jika yang dinikahinya nanti adalah pria yang jahat? Sombong? Orang asing yang tak ia kenal? Atau bahkan orang yang ia benci?

"Tidak. Tapi aku penasaran." Jawab Luna, ia mencoba untuk terlihat tenang.

Xeno memeluk anaknya, lalu berbisik. "Siapapun pendampingmu nanti, ayah percaya jika ia pasti yang terbaik dari Tuhan."

"Aku tahu, yah. Aku juga berharap demikian." Balas Luna, menyandarkan kepalanya dipundak ayahnya.

Rasa penasaran terus menghantui dirinya, bahkan saat malam tiba ia terbayang-bayang sebuah mimpi. Mimpi yang sangat aneh. Ia belum pernah mengalami mimpi seaneh ini sebelumnya.

Didalam mimpi itu, ia melihat dirinya sedang makan malam berdua untuk merayakan hari pernikahan mereka. Ia tak bisa mengingat dengan jelas siapa pria itu, tapi ia nampak bahagia begitu pula dengan dirinya. Dalam mimpi itu pula, ia telah mengalami hari-hari yang sulit. Tetapi ia bisa melihat dengan jelas, jika suaminya nampak memendam perhatian khusus padanya. Dan Luna, secara diam-diam sudah menyukai pria itu.

Namun setelah makan malam pria itu mengajaknya berjalan-jalan ketempat yang indah, dimana bintang-bintang bertaburan dengan indahnya. Mereka disana tertawa berdua, saling menggoda, mengejek bahkan saling melempar kutukan. Luna merasa bahagia didalam mimpinya.

Dan dibawah bintang itu pula, pria yang menjadi suaminya itu memeluknya erat, seakan-akan tak ingin melepaskan Luna dari dekapannya. Pria itu, juga mengatakan "Aku mencintaimu, Luna" dengan berbisik tepat ditelinganya. Luna tak bisa menahan senyumnya, lalu jantungnya berdebar keras. Lalu ia juga mengatakan jika dirinya juga mencintai pria itu. Beberapa saat kemudian, mereka berciuman.

Luna terbangun seperti mayat yang bangkit dari kematiannya. Ia tak tahu apa maksud dari mimpi itu, tetapi terasa begitu nyata. Bahkan ia bisa mendengar bisikan pria itu didalam kepalanya. Ia merasa deja vu dengan suara pria yang tadi. Ia mungkin pernah mendengarnya disuatu tempat. Jika ia merasa deja vu, berarti ia akan menikahi pria yang ia kenal.

Mimpi itu pula, yang membuat Luna merasa lebih penasaran lagi. Tak sabar dengan hadirnya hari esok yang akan mempertemukan mereka. siapapun yang menjadi calon suaminya, ia akan mencoba untuk berbakti layaknya seorang istri pada suaminya. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia jelas tak bisa lari dari ikatan ini. kecuali ia ingin membusuk di Azkaban berssama para Death Eaters dibalik jeruji besi yang dingin, kotor, dan jauh dari rumah.

Luna tak sebodoh itu.

BERSAMBUNG

*. *Ikan ritok adalah ikan dari dimensi lain yang berada ada didaerah saya. Ikan tersebut benar-benar ada. Bentuk ikan tersebut seperti yang saya jelaskan diatas, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.

.

.

.

A/N : Om Xeno maapkeun saya udah membuat Anda tuaa. /run

Okay, sebenarnya agak susah untuk menulis karakter Luna disini. But, mungkin saya akan bikin Luna OOC untuk mempermudah jalannya fic ini. tapi bagaimanapun saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat karakter Luna ini tidak OOC.

As always, kesalahan murni milik saya. Ingatkan kalau salah, dan katakan kalau menyinggung.

So, review?

Xx