Lee : Hai kak! Terima kasih sudah mampir, dan meninggalkan jejak! Ini updatenya x x

Moku-Chan : Haii kak Moku! Terima kasih udah mampir dan meng-fav fic ini! ini updatenya x x

A/N : Heyhooo! Saya balik lagi ^^ semoga tidak bosan sama saya dan kapal nista yang tak kunjung berlayar ini. Terima kasih untuk setiap review yang masuk. You have my heart, guys 3 selain itu, saya abis nonton Rosemary's Baby. Aaand, FOR THE GOD SAKE'S! JASON ISAACS IS SO FFFFING HOT AS FFFF I CANT HELP MY SELF TO NOT TO SCREAM BUT I STILL DID AHHHH DAAAMMNN YAH JASON ILYSM

-Chill out, Fraulein! You'll still get crazy of me no matter how many times you see me from your screen.- Jason said.

-Hauuupppttt I'm so in love with you, Mein Herr!- I said, still can't take my eyes off him.

-I know.- He replied with a smirk. –Back to your story, or crucio-ing you!- I nodded.

*tarik nafas* *hembuskan* Okay, untuk masalah warna mata Narcissa, seinget saya sih cokelat. Soalnya di film HP HBP keliatan cokelat. Atau mungkin saya yang salah lihat?

WolfShad'z xx

.

.

.

Disclaimer : Milik JKR seorang kecuali beberapa OC yang ciptaan saya.

Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementrian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar?

Rating : T untuk bahasa.

Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.

Note : Snape, Dumbledore dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film. Lucius 45 tahun, Luna 21 tahun.

Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.

Happy Reading!

.

.

.

Lucius sampai di kementerian pukul sepuluh tepat. Ia langsung memasuki bagian FWA. Disana ia menemukan beberapa orang yang nampaknya suda hadir terlebih dahulu. Lucius bisa melihat beberapa staf FWA sedang beradu argumen dengan calon pasangan yang merasa tidak terima dengan peraturan yang semena-mena ini.

Disana, ia disambut oleh Ginny Potter yang sekaligus juru bicara kementerian. Dimata Lucius, Weasley tetaplah pengkhianat yang selalu membuatnya jijik. Ia tidak menyukai caranya memandang Lucius, seolah-olah menganggap dirinya paling baik dan paling pintar. Hah, jelaslah, ia kan teman dari si Nyonya-tahu-segalanya yang menyebalkan dan Anak-Yang-Beruntung, Harry Potter.

"Selamat pagi, Mr Malfoy. Menteri sudah menunggu Anda diruangannya," Sapa Wanita yang kini sudah menjadi Mrs Potter. Dari cara bicaranya, Lucius bisa menyimpulkan jika ia masih memendam benci pada Lucius. Ayolah, itu sudah hampir sepuluh tahun lalu.

"Tentu saja, Mrs Potter," Lucius membalas dengan sebuah seringai khasnya. Mata kelabunya memandang dalam kemata cokelat Weasley. Sejenak ia merasa bersalah karena pernah hampir membuat wanita ini terbunuh dimasa kecilnya. Tapi Lucius tak harus menyalahkan dirinya sendiri karena ia dalam pengaruh imperius curse saat melakukannya.

Lucius berjalan mengikuti wanita berambut merah itu dengan perlahan. Tangan kanannya mengenggam tongkat jalan berkepala ular itu. ia tak bisa menahan diri untuk tidak berkeringat dingin, karena hari ini adalah hari dimana hidupnya sudah tak akan pernah sama lagi. Beruntung sarung tangan mahalnya menutupi tangan yang berkeringat itu.

"Tunggu sebentar," Ginny berkata, memandang pria itu sedingin mungkin.

Lucius tak menjawab, hanya memberi sebuah anggukan. Ia berdiri dengan tegapnya didepan pintu kementerian sementara Ginny sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Lucius tak bisa menahan diri untuk tidak penasaran siapa yang di jodohkan dengannya. Walau kalaupun ia sudah tau siapa yang akan menjadi jodohnya, ia akan terus menolak. Tak peduli bagaimana caranya.

"Mr Malfoy sudah kemari, Pak. Apa Anda ingin menemuinya sekarang?" Tanya Ginny yang samar-samar dapat didengar oleh Lucius dari luar. Ia mempertajam pendengarannya lagi, tapi sudah tak mendengar apapun selain suara orang-orang yang mengobrol.

"Halo, Mr Malfoy!" Sapa seorang gadis.

Lucius hampir kaget saat ada wanita muda yang berambut sama pirang nya dengan dirinya sedang berdiri disampingnya. Ia memiliki mata biru yang indah, selalu mengeksplorasi sekitarnya, dengan alis yang nampak selalu berpikir. Ia mengenakan celana panjang biru dengan jaket putih bergaris merah yang sepertinya dirajut sendiri.

"Mrs Lovegood!" Lucius menyapa dirinya balik, memberi sebuah anggukan. Ia kembali mempertajam pendengarannya untuk mendengar suara Ginny yang tengah mengobrol dengan Kingsley.

Suara wanita muda itu mengacaukannya lagi, "Apa yang kau lakukan disini, Mr Malfoy?"

Lucius menarik nafas panjang, ia mencoba untuk terlihat sedatar mungkin. "Menteri memanggilku kemari," Jawab Lucius, mencoba untuk mengabaikan Luna Lovegood.

"Ia juga memanggilku kemari," Jawab Luna. Lucius mendengarnya dengan jantung yang hampir melompat keluar, tapi ia mencoba untuk tidak berpikir aneh-aneh. Siapa tau saja, wanita ini ada perihal lain yang harus dibicarakan dengan Menteri. Lucius benar-benar tidak bisa mengendalikan pikirannya yang kacau dari undang-undang ini.

'Sialan kau, Kingsley!' Batin Lucius, mencengkram tongkat jalannya semakin erat.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Luna.

Lucius menarik nafas lagi, lalu menjawab. "Aku baik-baik saja, Mrs. Lovegood," Suaranya datar tanpa emosi, seperti biasa.

Dari dalam, terdengar suara Ginny nampak sedang beradu argumen dengan Kingsley. Mereka bisa mendengar Ginny yang keras kepala sedang berusaha meyakinkan Kingsley jika ini bukan hal yang bagus. Tetapi Lucius dan Luna menolak untuk berpikir lebih jauh karena tidak tau apa yang dimaksud oleh mereka berdua.

Pikiran mereka sudah melayang kemana-mana. Baik dibenak Luna maupun Lucius, muncul sebuah pikiran jika hari ini bukan hari keberuntungan mereka. bagaimanapun, kedua manusia ini tidak bisa menyimpulkan sebelum mengetahui yang sebenarnya. Apapun itu, pikiran negatif tetaplah pikiran negatif, yang kadang-kadang tak bisa dengan mudahnya pergi.

"Tapi apa Anda benar-benar yakin dengan rencana Anda, Pak?" Tanya Ginny.

Sang menteri tertawa ringan, "Tentu saja, Ginny. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Kau pikir untuk apa aku memanggilnya kemari tempo hari kalau tidak untuk masalah undang-undang ini?"

Ginny menghela nafas, "Aku pikir Anda masih...belum benar-benar percaya padanya. Tapi, maksudku, kenapa dia dengan dia?" Kingsley mendengar Ginny protes. Lucius mengangkat alisnya sebelah. Siapa 'dia'; dalam kata ganti perempuan, yang dimaksud oleh Ginny Potter.

"Kau akan melihat kekuatan cinta nanti, Mrs Ginny Potter. Sekarang, tolong suruh dia untuk masuk. Aku tidak suka membuat orang menunggu." Ujar Kingsley.

Ginny membuka pintu, ia nampak terkejut ketika mendapat dua orang sedang berdiri dihadapannya. Ginny memandang mereka tanpa ekspresi beberapa saat yang kemudian langsung dikacaukan oleh sapaan Luna. Lucius berpikir, apa gadis ini benar-benar suka menyapa semua orang?

"Hai Ginny."

"Hai, Luna." Ginny membalas, lalu memberi pelukan kepada sahabatnya ini. Lucius memandang drama dihadapannya sambil memutar kedua matanya bosan. Ia teringat kejadian semasa sekolahnya dulu, dimana ia selalu jadi rebutan para gadis-gadis. Bahkan, saat ini, diusianya yang menginjak empat puluh lima tahun pun ia masih menjadi idaman gadis-gadis remaja. Lucius tidak menyalahkan mereka, karena ia menyadari pesona dirinya yang tiada tanding. Aaah!

"Maaf," Ujarnya, melepaskan pelukan Luna. Ia memandang Lucius sebentar, lalu berkata lagi, "Pak Menteri sudah menunggu kalian didalam." Ia menyambung lagi kalimatnya, lalu berpamitan kepada mereka untuk segera kembali kekantornya.

"Ah, kebetulan yang pas sekali. Masuklah!" Suara dari seorang pria bertubuh besar tegap berkulit hitam terdengar di telinga mereka. Sorot mata Lucius memancarkan kekagetan ketika ia mendengar suara Kingsley mengatakan 'kebetulan yang pas.' Apakah itu berarti...?

'Sialan! Tentu saja tidak!' Pikir Lucius melirik Luna sebentar, kemudian melempar pandangan kepada Kingsley.

Lucius membiarkan Luna melangkah terlebih dahulu, sementara dirinya mengekor dibelakangnya dan menutup pintu. Mereka duduk dikursi kayu dihadapan Kingsley dengan perasaan was-was yang luar biasa. Sementara Kingsley memandang mereka seolah-olah menahan senyum diwajah ovalnya itu. Terdapat kilatan menari-menari didalamnya.

"Apa kalian sudah mendapat surat dari kami?" Tanya Kingsley.

"Ya, sudah,"Luna menjawab.

"Aku tak ingat jika aku pernah mendaftar kontak jodoh, Kingsley," Sebuah kalimat keluar dari mulut Lucius. Ia memandang Kingsley tajam penuh ketidak sukaan, terlebih atas undang-undang yang menyeret dirinya.

"Kau tak akan ingat, karena ini bukan kontak jodoh, Lucius,"Balas Kingsley, kali ini melempar pandangannya kepada Luna yang hanya diam mendengar pembicaraan antara dua pria ini.

"Jadi apa kau bisa menjelaskan kepadaku, kenapa aku harus berada disini?" Tanya Lucius, Luna mengangguk setuju. Kingsley belum menjawab, hanya mengusap-usap tangannya sendiri.

Terjadi keheningan selama beberapa saat. Kingsley nampak membenarkan cincin batu berwarna merahnya ke posisi yang benar sebelum ia mulai berbicara lagi. Lucius dan Luna menunggu dengan seksama untuk mendengar apa yang akan keluar dari mulut pria ini. Luna nampak sedang berusaha menata pikirannya yang sedang berkelana kemana-mana.

Ia menarik nafas panjang. "Kalian akan menikah," Sebuah kalimat terlontar dengan mudahnya dari mulut Kingsley.

"Kami apa?" Ucap Luna dan Lucius hampir bersamaan karena hampir mati terserang rasa terkejut. Raut wajah Lucius yang tak terbaca, menjadi raut wajah terkejut.. Ia melotot kepada Kingsley, menuntut penjelasan lebih lanjut kepada Kingsley. Pria ini tidak cepat-cepat memberi penjelasan, ia lebih senang menikmati rasa terkejut mereka.

Wajah tanpa ekspresi Luna hilang seketika saat mendengar ucapan Kingsley. Ia hampir kehilangan detak jantungnya saking tidak percayanya. Dia masih belum mempercayai apa yang ditangkap oleh telinganya. Ini tidak mungkin. Kingsley sudah kehilangan akalnya.

Kingsley membenahi posisi duduknya, lalu mengselonjorkan tangannya diatas meja. "Aku yakin kalian sudah mendengar perkataan ku dengan baik. Tapi, untuk memastikan lagi, akan kuperjelas. Kau, Lucius Abraxas Malfoy, akan menikahi nona Luna Lovegood."

Lucius melempar padangan kepada Luna, yang tulang rahang bawahnya hampir terbuka lebar. Ia sama terkejutnya dengan Lucius saat mendengar Kingsley mengatakan hal itu. Lucius mengusap keningnya yang kali ini mengkerut. Surai indahnya terurai dipundaknya, berkilau terkena lampu sihir yang ada diatasnya.

Ini tidak lucu. Tentu saja tidak lucu sama sekali. Gadis disampingnya jauh lebih muda darinya. Ia lebih pantas menjadi menantu ketimbang istrinya. Ia bahkan lebih muda dari Draco. Astaga, apa ini benar-benar terjadi atau hanya didalam kepalanya saja? Ia tidak mungkin bisa menikahi gadis yang setengah dari umurnya.

"Aku menolak." Luna akhirnya angkat bicara. "Good, me either." Sambung Lucius.

Kali ini Kingsley melemparkan pandangan penuh tandatanya kepada Luna. Sorot matanya tidak terbaca, tapi tajam menusuk kedalam mata biru yang nampak di terjang oleh badai. "Bisa kau jelaskan alasan kalian menolak?"

Luna berpikir sejenak, mencari-cari alasan yang tepat. Luna, dan Lucius berharap jika penjelasan yang akan keluar bisa membebaskan mereka dari undan-undang ini. "Pertama, aku tidak mengenalnya. Tidak secara pribadi. Kedua, dia mantan Death Eaters. Ketiga, aku tidak bisa menikahi Mr. Malfoy, kami tidak saling mengenal. Dan aku tengah menjalin hubungan dengan Neville Longbottom," Jelas Luna, Lucius mengangguk setuju. Kingsley semakin memandang mereka seakan-akan mereka ini adalah makhluk luar angkasa.

"Nona Lovegood, undang-undang tetap undang-undang." Ujar Kingsley dengan ringan.

"Kemana arah pikiranmu, Kingsley? Bagaimana bisa aku menikahi gadis yang bahkan lebih muda dari putraku!" Ujar Lucius, hampir memekik penuh amarah.

Ia tak bisa melakukan ini. ia tidak bisa melakukan ini kepada Malfoy. Ini tidak benar. Bagaimana bisa kementerian membuat aturan-aturan konyol? Ini bukan sesuatu yang mudah, terlebih ia kenal siapa Kingsley. Ia bukan orang yang mudah ditaklukan dengan kata-kata.

"Kecuali kalian ingin berakhir di Azkaban seperti Gerda Manson dan Killian Finch. Penderitaan tidak berakhir disana, karena anggota keluarga kalian akan sepenuhnya dilarang mengunjungi kalian. Selain itu, aset-aset kalian akan disita," Kingsley membalasnya dengan sebuah seringai penuh kemenangan.

"Aku setuju dengan Mrs. Lovegood. Aku tidak akan menikah dengannya atau dengan siapapun. Dan kau, Menteri Sihir Yang Terhormat, tidak bisa memaksaku," Jelas Lucius, nada bicaranya sangat datar dan berbahaya. Penuh intimidasi, membuat Luna teringat akan masa-masa gelap.

"Oh, tentu saja bisa. Aku, sebagai Menteri Sihir Yang Terhormat, memiliki wewenang untuk...memaksa," Bantah Kingsley. Matanya menari-nari penuh kemenangan, sebuah seringai diwajahnya membuat seringai Lucius memudar.

Lucius menggertakkan giginya, mencoba untuk tetap terlihat tenang meskipun diwajahnya tersirat ekspresi yang menunjukkan ia siap meledak kapanpun. Ia sekarang memijit keningnya tak tau harus berkata apa lagi. Dirinya menikahi Lovegood? Astaga apa kata dunia?

"Apa ini benar-benar diperlukan?" Tanya Lucius lagi, kali ini nada bicaranya sudah sedikit tenang. Ia memandang Kingsley dengan pasrah, lalu memandang gadis yang duduk disebelahnya. Ia sama menahan ekspresinya, Lucius melihat kearah matanya. Dan ia tau jika ia sedang menahan air mata.

"Aku tak bisa menikahi Mr Malfoy, Pak Menteri. Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak kucintai!" Jelas Luna lagi, ia saling memandang dengan Lucius beberapa saat dengan mata berkaca-kaca. Kemudian kembali untuk memandang menteri itu.

"Aku setuju dengan Mrs. Lovegood." Jelas Lucius.

"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Ada pepatah dari bahasa Jawa yang mengatakan, 'Awiting tresno jalaran saka kulina.' Yang berarti, 'Cinta berawal karena terbiasa.'" Wajahnya menjadi lebih menyebalkan, membuat Lucius teringat akan wajah Dumbledore yang selalu membuat lelucon.

"Dan kau percaya dengan...takhayul itu?" Tanya Lucius, Luna meliriknya.

"Ya, Lucius. Aku percaya."

"Kalian akan menikah, dan kalian tidak bisa mengubah keputusan Kementerian." Kingsley mengayunkan tongkat sihirnya, lalu terbanglah selembar kertas dari laci dibelakang Lucius. Kertas itu mendarat tepat ditangannya yang sangat besar itu, ia membancanya beberapa saat.

"Aku akan memberi waktu kalian untuk berdiskusi. Ini adalah aturan yang berlaku. Semoga kalian membuat keputusan bijak," Ujar Kingsley tersenyum sedikit, menyerahkan selembar kertas yang ia baca tadi kepada Lucius. Ia menerimanya dengan tangan kanan.

Lucius sedikit mendekatkan kertas itu kepada Luna agar ia ikut membaca. Lucius mengernyitkan dahi berkali-kali saat membaca itu. ia tak bisa menjelaskan apa yang terjadi didalam kepalanya saat ini. Terlalu banyak yang ada didalam kepalanya untuk dikeluarkan. Bahkan ia tak yakin Pensieve bisa menampungnya.

KEMENTERIAN SIHIR NOMOR XXVIII

UNDANG-UNDANG PERNIKAHAN

Pasal I

Pasangan yang telah ditetapkan tidak diperkenankan untuk menolak. Apabila menolak, maka harus diberikan sanksi yang seberat-beratnya.***) ****)

Pasal II

Pasangan yang sudah ditetapkan harus melaksanakan upacara pernikahan selambat-lambatnya 30 hari setelah menerima surat pemberitahuan dari Kementerian.***) ****)

Pasal III

Masing-masing pihak dilarang keras melayangkan surat gugatan perceraian selambat-lambatnya lima tahun dari hari pernikahan.***)

Pasal IV

Pasangan yang telah menikah dilarang keras untuk tinggal diatap yang terpisah.*)***)

Pasal V

Suami harus memperhatikan istrinya. **) ***)

Pasal VI

Bagi mereka yang menolak dengan undang-undang yang tersebut, maka kementerian secara legal akan memberi hukuman berupa penyitaan aset, dan pidana di penjara Azkaban selama batas waktu yang telah ditentukan. Dengan denda sebesar 8000 Galleon. ****)

*) Aktivitas didalam rumah sepenuhnya wewenang masing-masing pasangan.

**) Berlaku sebaliknya.

***) Sanksi seberat-beratnya akan diberikan kepada pelanggar.

****) Bersifat mutlak dan tidak dapat dirubah tanpa surat resmi dari Menteri Sihir.

Lucius berhenti membaca, ia memandang Luna beberapa saat. Pikirannya kacau. Ia memandang jam pasir dibalik kursi Kingsley sambil berpikir. Luna juga diam, tak berkata apa-apa. Ia hanya mendengar nafas Lucius yang berat. Ia merasa benar-benar harus mendiskusikan ini dengan Luna saat ini juga.

Sebuah ide terbesit dibenak Lucius. Sayangnya, kali ini ia tidak bisa melakukannya sendiri.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Lucius, memberanikan membuka suara. Ia memecah keheningan, mencoba untuk bertukar argumen. Ia sedikit berharap jika gadis Lovegood ini memiliki ide ataupun saran yang bagus.

Luna mendongak, memandang Lucius dengan anehnya. Pandangannya seolah ingin mengatakan, 'Apa maksudmu?'

Ia juga sedang berpikir, sama seperti dirinya. Hanya saja, kali ini yang dipikirkannya tidak jelas. ia tidak tau bagaimana harus mengatakan ini pada ayahnya, dan pada teman-temannya. Ginny dan Hermione tau kunci dari permasalahan ini karena mereka yang mengatur. ia juga tak tau bagaimana ia haru menjelaskan ini kepada Neville. Ia mencintai Neville, bukan siapapun. Ia ingin menikah dengan Neville Longbottom, bukan dengan Lucius Malfoy.

Dan besok, mungkin ia akan menemui Ginny untuk meminta penjelasan. Penjelasan tentang bagaimana ini bisa terjadi pada dirinya. Dan bagaimana bisa ia dipasangkan dengan seseorang yang tidak ia sukai seperti Lucius Malfoy. Semoga ayahnya tidak akan mendepaknya dari rumah.

"Apa kita tampak punya pilihan lain?" Ia menjawab, memberikan pandangan pasrah.

"Ya, melarikan diri. Dan mereka akan membuat hidup kita sengsara." Lucius menjawab, dengan sarkasme disetiap nada bicaranya. Ia—Luna tak tau apakah Lucius serius dengan ucapannya tadi. Semoga tidak.

"Itu bukan pilihan, Mr Malfoy. Tapi sepertinya kau punya ide. Apa aku benar?" Tanya Luna, ia bisa melihat kilatan licik dimata Lucius yang indah itu. ia tidak tau rencana apa yang ada didalam kepalanya, yang jelas Luna berharap itu akan membawanya jauh dari kesulitan ini.

"Ya. Aku punya ide." Lucius menjawab dengan nada dingin, seperti biasa.

"Excellent! Apa itu?"

"Aku tak bisa mengatakannya disini. Penyadap dimana-mana. Aku tidak bisa melakukan rencana ini sendiri. Intinya adalah, kau harus setuju untuk menikah denganku," Wajah Lucius semakin serius. Ia—Luna bahkan tak bisa melihat ekspresi dingin yang selalu terpancar dimatanya.

Luna tercekat mendengarnya. Ia hanya memandang mata kelabu itu dengan penuh keheranan. Ia tau jika Lucius jelas tidak ingin menikahinya. Kalaupun ia ingin menikah lagi, Luna bukanlah pilihannya. Sudah jelas, ia penyihir kelas atas, untuk apa ia menikahi penyihir dari kalangan biasa seperti Luna. Begitupun Luna, sudah jelas dan amat pasti tidak akan pernah menikahi mantan Death Eater seperti dia. Lebih baik melajang seumur hidup.

"Tidak ada jalan lain, Mrs Lovegood. Kecuali kau ingin membuat kita dalam masalah yang lebih besar." Ia terhenti lagi.

"Aku—" Luna berhenti berkata.

"Kau tidak berpikir jika aku benar-benar ingin menikahimu, kan? Rencana ini tidak akan bekerja jika kau menolak," Lucius mengulang penjelasannya. Lucius menambahkan, dengan alis yang terangkat sebelah. Luna mendongak, memandang Lucius penuh pertimbangan. Ia masih bingung harus mengambilnya atau tidak.

Tapi Kementerian benar-benar ikut campur atas kehidupan pribadinya. Lucius berharap bisa membalas dendam kepada kementerian suatu hari dalam hidupnya nanti. Untuk kali ini, ia masih belum memikirkan rencana lain.

"Kau yakin rencanamu akan berhasil?" Luna akhirnya bertanya dengan kepala yang sedikit dicondongkan kekeiri.

"Kita tidak akan pernah tau sampai kita mencobanya," Ia terhenti, mengambil nafas dalam hingga Luna bisa melihat dada pria itu mengembang. Luna hanya diam mengedipkan matanya pelan, membuat Lucius semakin geram.

"Kau pikir aku mau terjebak dalam undang-undang pernikahan ini? Aku tahu kau membenciku, Mrs Lovegood. Tapi untuk sekarang, kau harus berpikir jernih."

Lucius memandang Luna lebih dalam lagi, ia berharap Luna akan setuju dengan rencana yang sudah ia pikirkan ini. Lucius tidak bisa menjalankan ini sendirian. Kalaupun rencana mereka ketahuan, mereka akan tetap masuk Azkaban. Dan ini adalah harga yang diambil Lucius untuk terhindar dari kemungkinan yang terburuk. Mereka tak punya pilihan lain.

Ia memandangnya lagi lebih dalam, ia melihat mata yang menyorotkan sinar penuh harap padanya. Ia berpikir untuk mengambil jalan pintas, atau rencana lain. Tapi pikirannya terlalu kalut.

"Aku tidak punya pilihan lain, Mr Malfoy. Jadi, ya. Aku setuju," Jawab Luna, memandang Lucius pasrah. Ia menahan air mata dikelopak mata indahnya. Lucius tak menjawab lagi, hanya menyeringai tajam.

Kingsley kembali, ia nampak berseri-seri tak sabar ingin mendengar jawaban mereka. Ia memandang Lucius yang kini memberikan senyuman licik pada Kingsley. Ekspresi mereka nampak berubah saat Kingsley pergi dan saat ia kembali. Lucius sedang menata rencana-rencanya yang ada didalam kepalanya.

"Kalian nampaknya sudah memiliki jawaban."

"Ya, kami akan menikah." Jawab Lucius.

Senyuman Kingsley nya semakin lebar. Gigi putih terlihat didalamnya, dan kini Lucius nampak lebih tenang dari biasanya. Ia menepuk tangannya sendiri, kemudian membuka mulut untuk mengatakan hal lain. "Bagus! Aku tahu kalian akan membuat pilihan yang bijak."

"Apa kau senang, sekarang?"

"Aku akan lebih senang jika kalian membuat ini lebih mudah sejak awal tadi. Harus ku ucapkan terima kasih atas partisipasi kalian," Ia terhenti. "Aku butuh tanda tangan kalian disini sebagai persetujuan kontrak," Ujar Kingsley. Ia menyodorkan kertas berisi sebuah perjanjian kepada Lucius; satu lembar lagi untuk Luna. Kurang lebih surat yang diberikan kepada Lucius tersebut berisi;

SURAT KONTRAK

Saya, Lucius Abraxas Malfoy, telah menyetujui undang-undang pernikahan Kementerian Sihir. Dengan bertanda tangan dibawah ini, maka Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyetujui hal-hal sebagai berikut :

*.* Bersedia untuk memperlakukan istri dengan hormat dan bermartabat

*.* Bersedia untuk tidak bercerai atau pisah atap selama batas waktu yang ditentukan.

*.* Bersedia menerima sanksi apabila melanggar.

Dengan ini saya menyetujui kontrak ini dengan sebenar-benarnya.

Kementerian Sihir, 20 Maret 2002

Yang menyetujui

Lucius Abraxas Malfoy

"Terserah." Ujar Lucius, ia berdiri dari duduknya, kemudian menanda tangani kertas kontrak tersebut dengan pena dihadapannya. Luna melakukan hal yang sama setelah Lucius selesai.

Ia menyambung perkataannya lagi, "Sekarang, jika kau tidak keberatan, aku harus membicarakan tentang..." Ia melirik Luna, yang masih akan berdiri.

"...pernikahan kami. Secara pribadi." Sambungnya. Ia mengembalikan sorot matanya ke arah Kingsley. Kingsley mengangguk, mempersilakan mereka untuk pergi. Ia tersenyum penuh kemenangan.

BERSAMBUNG

A/N : Serius ini saya sendiri udah gak sabar sama chapter selanjutnya. Tolonglah! :''D

Anyway, chapter ini dan chapter selanjutnya sulit sekali untuk dikerjakan karena saya agak kesusahan me-manage aturan-aturan yang diperlukan. Selain itu, saya juga harus lebih mendalami karakter Lucius sama Luna dengan membaca lagi chapter-chapter yang bersangkutan di novel dan menonton lagi film-film Harry Potter. Bahkan saya juga membaca buku 16 Kepribadian MBTI untuk lebih mengenal dua karakter ini, demi kelancaran kapal nista ini.

Jadi, intinya, saya akan berusaha yang terbaik untuk kelancaran fic ini walaupun harus ada palang rintangan yang menghalangi.

Saya, WolfShad'z, mewakili Lucius dan Luna mohon untuk kritik dan saran. xx