Tittle : a Year Of Memories Chapter 1

Genre : romance, sad, angst, yaoi

Rated M, boy x boy.

Warning! No Plagiat!

FOR HUNHAN INDONESIA GIVEAWAY

.

.

.

"Mengapa manusia saling menyakiti satu sama lain?"

"Tapi sebelum kau menjawab pertanyaan itu, mengapa manusia tidak boleh menyakiti satu sama lain?"

Di dunia ini manusia bermacam-macam jenisnya. Iri satu sama lain, saling menyakiti dan melukai. Meninggalkan dan menelantarkan satu sama lain. Bersaing membangun masa depan cerah, hingga membunuh satu sama lain.

Ada yang dianggap sampah dan dianggap seonggok daging tak berguna. Hanya asa yang menemani tubuh kosongnya.

Yang diinginkan manusia hanya uang dan kekuasaan. Mereka bahkan dapat menelantarkan satu anggota keluarga agar nama baiknya terjaga. Miris, namun itulah kenyataannya. Kenyataan dimana begitu kejinya hati manusia. Kenyataan dimana dunia itu terlalu kejam.
Uang menjadi segalanya di dunia ini. Cinta? Apakah hal itu bahkan ada di dunia yang kotor ini? Dunia yang sudah sedemikian rupa di ciptakan Tuhan kini sudah kotor oleh perbuatan manusia.

Kemiskinan, kegelapan, kesepian, penelantaran,kelaparan, dan bahkan pembunuhan.

Pembunuhan

mengapa manusia tidak boleh menyakiti satu sama lain? Bukankah orang-orang jahat itu patut di bunuh? Mengapa pembunuh dianggap monster? Mengapa manusia begitu rumit? Dunia ini begitu rumit dan kejam.

Aku tidak mengerti apa itu perasaan.

Pria itu berdiri di tengah kerumunan, wajahnya terlihat mengeras dan cahaya matanya terlihat meredup. Ia mengepalkan tangan kirinya, sambil menatap tajam ke arah deretan sepuluh nama yang tertera di atas kertas putih yang di tempel di depan sana.

Ia menatap namanya yang berada di posisi kedua. Dan nama seseorang yang selalu berada di posisi pertama dan selalu mengalahkannya. Ia benci kalah, karena saat itulah ayahnya akan merendahkan dirinya. Menatapnya seakan ia hanya sampah dari keluarga ternama itu. Ayahnya yang selalu membanggakan kakaknya karena selalu berada di posisi pertama ketika masih sekolah hingga masuk harvard.

Sedangkan ia hanya seseorang yang selalu mendapat posisi kedua. Ayahnya selalu menatapnya seakan ia hanya seonggok daging yang tak berguna dan patut di buang. Ini semua karena satu orang itu, seseorang yang selalu mendapat posisi pertama.

"Xi luhan"ucap pria itu nyaris seperti bisikan. Ia melangkah cepat, nafasnya menderu, darahnya berdesir cepat naik ke ubun-ubun. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di atap sekolah
Buk kepalan tangannya dengan cepat mendarat di tembok.

Nafasnya terengah, ia benci dirinya. Sangat benci. Bagaimana para pelayan, kakak, dan bahkan ayahnya selalu berbisik di belakangnya dan menatapnya sebagai seorang mosnter, ia sangat benci itu. Ini semua hanya karena satu kejadian dan kata-kata yang terlontar dari mulutnya ketika ia menginjak usia tujuh tahun.

Sepuluh tahun lalu, ibunya dibunuh tepat di depan matanya. Oh Sehun, seorang anak berusia 7 tahun itu, menyaksikan bagaimana seorang pria bertubuh tinggi menusuk ibunya berkali-kali dengan pisau dapur. Meskipun ketika itu ibunya sudah terlihat tak berdaya, ia masih mau melawan demi melindungi sehun.

Pisau yang di pegang sang pembunuh terlempar tepat di depan sehun berkat perlawanan sang ibu. Ibunya sudah terkapar sekarat bersimbah darah di lantai. Aneh, sehun sama sekali tak merasa takut dan kasihan sedikitpun. Ia menatap ibunya tanpa rasa sedih, hal itu adalah hal yang sangat aneh untuk seorang anak kecil. Ia mengambil pisau yang terletak tepat di depan kakinya.

Pembunuh ini menghampirinya dan mencoba merampas pisau yang ada di tangan sehun. Namun anak itu menghindar, dan dalam beberapa detik tangannya menusuk si pembunuh itu dengan cepat.
Sekali, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.

Ia menusuk pria itu sambil menghitungnya dan tersenyum menikmatinya.
"Aaaaaa!" Suara nyaring seorang pelayan terdengar menembus telinga sehun.

Sejak saat itu semua berubah. Ayah sehun menutupi kasus pembunuhan itu dan membuat sehun rutin bertemu psikiatri. Sejak itu semua orang selalu menatapnya ngeri dan selalu berbisik di belakangnya. Semua menatapnya seakan ia monster. Atau apakah memang ia monster?

"Mengapa manusia saling menyakiti satu sama lain?"

"Tapi sebelum kau menjawab pertanyaan itu, mengapa manusia tidak boleh menyakiti satu sama lain?"

Kalimat yang dilontarkannya di hadapan sang ayah dan psikiatri ketika itu membuatnya keadaan semakin memburuk. Selama ini sehun memang tidak pernah merasakan apa-apa. Ia tidak tahu bagaimana itu simpati, empati, dan cinta.

Dan sejak saat itu sehun semakin menutup diri dan mulai berakting seakan-akan ia merasakan perasaan sebagaimana manusia selayaknya. Dia berusaha untuk menjadi 'lebih manusia'. Ia tidak mau dianggap monster.

Sehun terduduk sambil bersandar pada tembok. Ia menghela nafasnya, bayangan masa lalu selalu berputar di benaknya. Ia menghela nafasnya lagi, ayahnya akan menganggapnya sampah lagi. Bahkan daun-daun yang rontok itu seakan menertawakannya, dan burung-burung seakan bercicit mengejeknya.

Ia benci satu nama itu. 'Xi luhan' siapa yang tidak tau nama itu? Nama yang selalu berada di posisi pertama itu, tapi tidak pernah menampakkan wajahnya. Memang benar, meski nama luhan selalu berada disana, ia tidak pernah muncul disekolah bahkan sekali saja tidak pernah.

Setiap sehun bertanya kepada pihak sekolah, mereka tidak pernah menjawab, dan itu membuat sehun kesal. Bagaimana seseorang yang bahkan tidak pernah muncul di sekolah selalu mendapat posisi pertama? Memikirkannya saja membuat sehun merasa kesal.

.

.

.

"Dasar sampah, kau membuat malu keluarga ini! Apakah kau bahkan benar-benar putraku?!" Suara ayah sehun bergema dari ruangan lantai dua.
Sehun terlihat menundukkan kepalanya, ia sudah tak familiar lagi dengan hal ini.
Sampah dan monster adalah namanya di rumah ini. Rumah? Apakah bahkan tempat itu pantas di sebut rumah bagi sehun?

Tidak, tempat itu adalah neraka dengan kamuflase rumah. Karena rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman di dunia ini. Namun bagi sehun tempat paling nyaman adalah perpustakaan sekolah.

Jika saja ayahnya menggenggam tangannya ketika itu, dan membantunya untuk menghilangkan monster yang tumbuh dalam dirinya itu, ia pasti akan tumbuh baik dan normal seperti remaja lain bukan seperti ini.

Kata-kata sampah dari mulut ayahnya itu sudah menjadi kata sehari-hari yang didengar sehun. Sehun menahan semuanya sendirian bahkan ketika keluarganya tidak ada yang menganggapnya manusia, ia tetap berdiri tegar dan berusaha sendirian untuk menjadi seorang manusia. Meskipun tak ada yang menggenggam tangannya dan menuntunnya ke arah cahaya, ia akan terus melangkah dan membuat orang-orang itu berhenti memanggilnya sampah dan monster.

Aku akan menjadi manusia

"Keluar kau dari ruanganku! Sampah sepertimu sungguh membuatku muak! Kau bahkan tidak pantas disandingkan dengan kakakmu!"

Sehun menghela nafasnya, lalu membungkukan tubuhnya dan melangkah pergi. Jika sudah begini ia hanya akan kembali ke sekolah dan memainkan bola basketnya sekadar melepas stres dan penat yang bertumpuk di bahunya.

"Posisi dua lagi?"suara yang tak asing itu terdengar. Sehun menghela nafasnya malas, lalu membalikkan badannya menatap pria yang tingginya di bawah sehun.

Oh jumyeon.

"Ya begitulah"sehun menatap jumyeon datar dengan mata elangnya yang tajam.

"Ohh ayolah, kau benar-benar pecundang."jumyeon tersenyum sinis, lalu menepuk bahu sehun pelan dan berlalu meninggalkan sehun.

Sehun mengepal tangannya menahan amarah. Jika saja keinginan sehun untuk menjadi manusia tidak kuat, mungkin saat ini ia sudah mengambil pisau lalu membunuh ayah dan kakaknya itu.

Tapi tidak, bukan itu jawabannya. Sehun adalah manusia. Sehun ingin dianggap manusia sebagaimana seharusnya. Ia ingin orang-orang menatapnya hangat, tersenyum padanya dan memujinya atas kerja kerasnya.

Sehun tersenyum miris, sepertinya hal itu hanya akan menjadi mimpi saja baginya. Karena ia sendiri pun belum menganggapnya manusia. Ia belum merasa menjadi manusia.

.

.

.

Jam sudah menujukkan pukul tujuh malam. Namun sehun masih setia bermain bersama basketnya. Itu adalah salah satu cara baginya melepaskan stress sekedar mengistirahatkan otak dan hatinya yang sudah terlalu lelah menghadapi hari yang panjang ini.

Sehun menghela nafasnya, lalu membaringkan dirinya di lapangan yang sepi itu. Hening. Peluh mengalir di keningnya, angin yang berhembus menyapa kulitnya dan membelainya sejenak. Hanya ribuan bintang yang bertebaran luas di atas langit itu yang menemaninya. Andai saja, andai saja dia adalah salah satu bintang itu dan dapat mengawasi setiap nyawa yang hidup di dunia ini dari atas sana. Akankah dia menyaksikan hal yang indah di atas sana? Atau mungkin sebaliknya? Akankah ia menyaksinya banyak darah berhamburan?

Hanya ada suara hembusan nafasnya yang teratur, suasana begitu gelap dan hening, dan matanya mulai terpejam.

Sehun selamatkan dirimu!

Sehun larilah!

Sehun jangan...

Sehun jangan lihat ini...

Mengapa manusia tidak boleh menyakiti satu sama lain?

Monster

Kudengar ia sama sekali tak menangis ketika ibunya meninggal

Kudengar ia membunuh si pembunuh itu.

Dia bahkan sama sekali tidak ketakutan

Monster

Dia benar-benar seperti monster

Dia menakutkan

Sampah

Kau sampah bagi keluarga ini

Kau bukan anakku

Dasar sampah

Sehun dengan cepat bangun dari tidurnya, nafasnya terengah, dan peluh membanjiri pelipisnya. Ia nampak terkejut mendapati dirinya berada di lapangan. Ia melirik arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya, menemukan jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.

"Sial, aku harus cepat pergi sebelum penjaga sekolah menemukanku" ia melangkah cepat menuju gerbang sekolah. Sayangnya gerbang yang menjulang mewah lambang sekolah elit itu sudah terkunci rapat.
"Sial!"teriak sehun

"Hey siapa itu?!"

Derap langkah kaki terdengar mendekat dan sinar lampu senter terlihat sedang mencari-cari dirinya. Sehun berdesis kesal dan mulai berlari menyembunyikan diri.

"Hey berhenti kau!"

Sehun melesat dengan cepat, dan mencoba membuka pintu gedung sekolah. Sayangnya pintu itu sudah terkunci rapat, sehun semakin merasa kesal. Ia melanjutkan larinya dan menemukan gedung sekolah yang tidak dipakai. Mungkin hari itu hari keberuntungannya, karena pintu itu sama sekali tidak di kunci.

Suasana ruangan begitu gelap dan sunyi. Menurut sehun keadaan ruangan itu sama sekali tidak buruk, masih sangat bagus. Aneh, sekolah elit itu tidak memakai gedung itu. Namun sehun tak mau berpanjang-panjang memikirkan hal yang sama sekali tidak penting baginya. Ia masih bersembunyi sesekali melirik keluar dan menatap sinar lampu senter itu gugup, jantungnya berdentum dengan kencang.

"Astaga" sehun terlihat terkejut dan sontak menggeser tubuhnya kebelakang.

Ia terdiam dengan mata bulatnya sambil menelan ludahnya. Rambut coklat madu, bibir mungil plum, kulit putih halus dan mata rusa seperti permata yang sedang menatapnya.
Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali meyakinkan bahwa sosok indah di hadapannya itu benar-benar ada.

Dia nyata. Keduanya terdiam dalam sunyi. Pria mungil itu merogoh sakunya dan menyodorkan sebungkus permen dengan tatapan polosnya. Sehun berdehem memecahkan kesunyian dan mengambil permen itu. Tiba-tiba lampu di gedung itu menyala, sehun mengernyit dan berusaha membiasakan matanya dengan cahaya lampu.

Kini wajah pria mungil itu menjadi lebih jelas. Cantik. Pria itu bangkit dari posisi jongkoknya dan melangkah menghampiri penjaga sekolah yang berdiri tepat di depan gedung itu. Sehun menelan ludahnya, berharap dalam hatinya bahwa pria itu tidak akan memberitahukan keberadaannya.

"Ahh tuan, maafkan saya karena terlambat menyalakan lampu. Tadi ada orang berlari ke sekitar sini, saya khawatir dia akan menemukan anda. Apakah ada seseorang disini?"

Pria itu menggeleng pelan dengan wajah polosnya. "Ahh baiklah kalau begitu saya pergi dulu"

Pria itu mengangguk dan tersenyum tipis. Lalu kembali masuk kedalam dan mendapati sehun yang masih setia terduduk disana. Ia mengulurkan tangannya pada sehun, sehun menatap tangan mungil itu sejenak lalu menggenggamnya.

Hangat. Ada sensasi hangat yang menjalar ke lubuk hatinya ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan halus pria mungil itu.

"Kau bisa pulang sekarang"ujar pria itu lembut sambil tersenyum hangat.

jantung sehun berdebar kencang. Walaupun penjaga sekolah sudah pergi, mengapa jantungnya masih berdentum dan menggema ke seluruh tubuhnya? Ini pertama kalinya seseorang menatapnya hangat dan tersenyum padanya. "Namamu?"sehun menatap pria mungil itu dengan lembut-tanpa menyadarinya-

Pria mungil itu menatap mata elang sehun sejenak, mata indah yang tadi tak dapat dilihatnya dengan jelas yang kini menatapnya lembut "Xi Luhan"jawabnya sambil tersenyum tipis.

Sehun terhenyak. Pria yang selalu posisi pertama itu, pria yang tak pernah muncul di sekolah itu, pria yang selalu membuatnya iri itu, kini tengah berdiri di hadapannya. Siapa yang menyangka dia akan bertampang semanis ini?

"Kau xi luhan?"

Luhan mengangguk "kau?"tanyanya.

"Aku... oh sehun"jawab sehun sedikit ragu.

Keduanya terdiam sejenak masih terpesona dengan masing-masing mata. Mata rusa yang indah milik luhan, dan mata elang yang terlihat dingin namun terselip kehangatan milik sehun.

"Aku tidak bisa pulang, gerbang sudah di tutup"kata sehun bernada datar.

Luhan mengerjapkan matanya imut"kau bisa tidur disini! aku akan meminjamkanmu baju! Dan... dan kita bisa nonton bersama lalu... lalu makan dan bermain! Iya bermain!"

Sehun terdiam dan sedikit terkejut karena luhan yang tiba-tiba terlihat sangat ceria dan antusias.

"tidur disini? Kau tinggal disini?"Sehun menatap luhan penasaran

Luhan menganggukkan kepalanya lalu menarik tangan sehun dan mengajak sehun kekamarnya. Sehun mengernyit, manusia yang tidak pernah menampakkan dirinya di sekolah itu nyatanya berada di sekolah setiap hari? Bahkan tinggal disana? Itu aneh. Mengapa sekolah tak mengatakan apa-apa? Apakah itu alasan mereka tidak menggunakan gedung ini?

Terlebih lagi sekarang tangan yang terasa lembut itu kini tengah menggenggam tangannya. Membuat nafasnya tak teratur dan jantungnya berdetak begitu kencang seakan bisa meledak sewaktu-waktu.

"Ini kamarku!"ujar luhan terlihat antusias.

Sehun tersentak dari lamunannya. Ruangan itu sungguh luas dan tertata rapi. Desainnya juga terlihat elegan. Bagaimana warna hitam dipadukan dengan warna putih. Satu tempat tidur king size berwarna putih di ujung ruangan dekat dengan jendela yang dihiasi tirai berwarna hitam. Dinding yang di cat berwarna putih, dengan satu sofa besar berwarna putih di tengah ruangan dihiasi bantal-bantal berwarna hitam. Dan sisa ruangan itu diisi dengan perpustakaan pribadi, dan satu meja makan kecil.

"Kau tinggal sendiri?"tanya sehun datar.

Luhan mengangguk "tapi ada pelayan yang mengurus semuanya"

Sehun mengangguk, tak heran lagi dengan adanya kata pelayan. Karena dirinya pun juga begitu. Luhan terlihat sibuk dengan isi lemarinya sedangkan sehun melihat-lihat buku yang berderet rapi di lemari.

"Ini bajumu. Ukurannya agak kecil. Disana kamar mandinya"luhan tersenyum manis sembari menunjuk ke arah kamar mandi. Sehun mengangguk dan melangkah masuk ke kamar mandi lalu menutup pintu.

Sehun menghela nafasnya nyaman sambil bersandar pada bathub dan berendam, merasakan hangatnya air menyentuh kulitnya. Pening yang mendera kepalanya tadi kini perlahan hilang. Ia memejamkan matanya nyaman.

Satu detik, dua, tiga, empat, lima

Cklek sehun membuka matanya setelah mendengar suara pintu. Detik berikutnya mata sehun membulat mendapati luhan sudah polos hanya di balut celana dalam tipisnya.

Sehun menelan ludahnya "a-apa yang kau lakukan?"tanyanya terbata.

Luhan tak menjawab dan hanya masuk ke dalam bathub bersama sehun.
"Aku juga ingin mandi, tidak boleh?"tanya luhan polos dengan tatapan manisnya.

Wajah sehun memerah, hatinya berdebar kencang. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini. Sebelumnya, beberapa kalipun wanita dan laki-laki menggodanya, tidak ada yang mampu membuatnya berdebar dan membuatnya menelan ludah seperti sekarang ini.

Luhan menundukkan kepalanya "sehun-sshi"

Sehun diam tak menjawab. "Boleh aku memanggilmu sehun?" Luhan mendongak dan menatap sehun dengan mata rusanya yang berbinar itu.

Sehun berdehem mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang di dalam sana"mmhm"jawabnya sambil mengangguk.

Luhan tersenyum lebar "terima kasih!"

Manis, sungguh senyum itu adalah hal termanis bagi sehun.

"Sehun"

"Hmm?"

"Mau melakukan sex denganku?"

"Mmhm"

Luhan menatap sehun berbinar "benarkah?"

"... iya sex, benar"

"Tunggu, a-apa?!"sehun membelalakkan matanya, dan diam-diam mengutuk mulutnya yang bekerja tanpa disuruh itu.
"Tidak boleh?"tanya luhan terlihat memohon.

"Kau gila. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau katakan kepada orang yang baru pertama kali kau temui"jawab sehun datar dan berusaha mengalihkan pandangannya.

Luhan menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat begitu kecewa dan hal itu membuat sehun merasa bersalah. Tapi hal itu memang ada benarnya. Mereka baru bertemu dan tidak bisa melakukan sex, itu gila jika mereka benar-benar melakukannya.

"Kau... kau orang pertama yang berbicara denganku selama sepuluh tahun ini selain bibi han, pelayanku" wajah luhan terlihat sendu, cahaya matanya meredup.

sehun diam, ia memang merasa penasaran dengan cerita hidup luhan. Namun ia sama sekali tak berniat menanyakannya, karena ia memang seharusnya tak mencampuri urusan orang lain. Toh dia baru bertemu luhan sekitar sejam yang lalu, jadi dia masih orang asing.

"Aku tinggal disini sejak usiaku 7 tahun. Ayahku membuangku, karena aku ini monster"luhan tersenyum miris, air mata mengalir dari pelupuknya.

Sehun membeku. Monster? Apakah ia sama sepertiku? Tapi ia sama sekali tidak terlihat seperti monster. Dan ia juga menangis. Monster seperti sehun itu tidak tahu bagaimana cara menangis.

"Orang-orang takut denganku. Kurasa kau juga ya sehun"ujarnya parau.

Sehun merasa bersalah. Ia mengulurkan tangannya dan mulai menghapus air mata luhan. Mata rusa yang basah dan redup itu, sehun membencinya. Ia menyukai mata rusa indah yang tadi menatapnya hangat.

Luhan mendongakkan kepalanya dan menatap sehun. Mata elang, hidung mancung dan rahang yang terpahat sempurna itu membuat perutnya tergelitik dan jantungnya bergetar. Sehun tersenyum mendapati mata rusa itu kembali cerah. Sehun sampai-sampai tidak menyadari bahwa sekarang untuk pertama kalinya ia tersenyum.

"jika kita melakukannya, aku mungkin tidak akan berhenti. Lagipula normal bagi manusia yang baru bertemu menolak melakukan sex. Kita harus mengenal satu sama lain terlebih dahulu"ucap sehun dengan nada lembut

Luhan menatap sehun dengan matanya yang berbinar. Ia benar-benar menyukai bagaimana suara berat sehun itu bernada lembut ketika berbicara dengannya. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang bersarang di perutnya. Geli dan hangat.

Luhan tersenyum "kalau begitu, aku boleh mengenalmu kan? Aku boleh menjadi temanmu kan? Sehun?"luhan terlihat antusias.

Sehun terdiam sejenak menatap mata rusa yang benar-benar terlihat antusias itu. "Tentu"jawab sehun.

Sehun pikir ketika bertemu xi luhan ia mungkin akan membunuhnya. Namun siapa sangka pria mungil di hadapannya itu mampu membuatnya terpesona hanya dalam hitungan detik.

.

.

.

luhan menatap sehun yang tertidur pulas di lantai sambil tersenyum-senyum. Wajah sehun benar-benar terpatri dengan sempurna, ia bahkan menyukai bagaimana suara nafas sehun yang teratur.

Lama menatap wajah sehun, mata luhan mulai terkatup perlahan dan jiwanya jauh di bawa oleh mimpi. Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi luhan untuk tertidur. Lalu sepuluh menit berikutnya ia terbangun.

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menjelaskan penglihatannya. Remang sinar bulan menembus jendela dan menyinari separuh ruangan dan wajah sehun dengan indahnya. Seperti malaikat kematian, namun indah.

Luhan terdiam melihat pemandangan itu. "Siapa pria ini? Woww xi luhan, kau punya pacar?"

Luhan, tidak bukan luhan. Wajahnya terlihat seperti luhan, namun siapapun yang mengenal luhan tahu bahwa ia bukanlah luhan. Caranya menatap, caranya bernafas, caranya mengerjapkan matanya, caranya tersenyum, dan caranya berbicara berbeda 100% dengan luhan.

Mata itu mata yang sama seperti sehun, mata pembunuh dan senyum yang keji. Luhan kemudian beranjak turun dari tempat tidurnya dan menghampiri sehun lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah sehun.

"Eoh? Dia punya keahlian yang sama denganku"luhan menaikkan satu sudut bibirnya

"Pembunuh"ucapnya datar, "sekali lihat saja sudah kelihatan kalau kau sama denganku. Kita sama-sama pembunuh"

Pria mungil yang mirip luhan itu tertawa sinis "ohh xi luhan, apakah dia tahu kau punya dua kepribadian? Jika ia tahu menurutmu bagaimana reaksinya? Aku penasaran"

"Yahh walau bagaimanapun. Perkenalkan namaku death bell, kau bisa memanggilku bell" bell menaikkan satu sudut bibirnya lalu tertawa kecil.

Tiba-tiba tubuh luhan meringsut jatuh dan tertidur di samping sehun. Kedua terlihat tertidur pulas dan saling berhadapan. Bell pergi entah kemana, lamanya bell berada di tubuh luhan tidak teratur kadang seharian, atau bahkan tak sampai 5 menit. Karena itulah luhan di jaga ketat.

Demi mencegahnya membunuh orang, ayahnya membuangnya dan mengirimnya ke sekolah elit itu. Karena kejeniusannya, ia hanya dianggap alat oleh ayahnya. Karena dengan otaknya yang super jenius itu, dialah yang membuat ponsel yang sekarang banyak di pakai anak remaja, dia juga membuat alat-alat teknologi dan teori-teori darinya begitu terkenal.

Meskipun begitu, namanya tidak pernah di kenal toh ayahnya selalu menyembunyikannya, jadi ia tidak memakai nama asli. Ia juga setidaknya merasa masih berguna bagi ayahnya dan bagi orang-orang. Selama sendirian dan terpuruk disana, ia selalu berusaha mengisi kehidupannya dengan senyumannya.

Ia selalu mencoba untuk ceria. Ia ingin hidup.

Sehun membuka matanya dan mendapati luhan berbaring meringkuk di sampingnya, seperti bayi. Sehun tersenyum tipis, ia lalu membagikan selimutnya dengan luhan dan kembali terlelap.

Rasanya sangat hangat.

.

.

.

Sehun menatap jauh keluar jendela sembari bermain-main dengan pulpennya. Kebiasaannya setiap pagi. Tidak ada yang berbeda dengan sehun kecuali dengan wajahnya yang bersemu merah sambil sesekali tersenyum tipis. Jantungnya sudah berdetak kencang sejak pagi tadi, ia merasa dunia sedang menjadi miliknya. Ada sesuatu yang menggelitik dadanya untuk membuatnya terus tersenyum. pagi itu menjadi pagi paling cerah baginya tanpa adanya kemuraman yang mengganggunya.

Ada bayang-bayang luhan yang terus menari di benaknya membuat jantungnya terus berdetak kencang tanpa ampun. Semua ini karena si mata rusa itu. Pria mungil yang mampu, Membuatnya bertingkah seperti orang bodoh hanya dalam waktu 5 detik, ia bahkan tak mendengar guru yang sudah masuk ke dalam kelas.

"Anak-anak hari ini ada murid baru"

Kelas menjadi hening, sehun masih bergelung dalam dunianya sambil tersenyum-senyum seperti seorang idiot.

"Hmm sepertinya tidak tepat jika di sebut murid baru, kalian pasti sudah mengenalnya hanya mendengar namanya"

"Silahkan masuk"guru park tersenyum menyambut si murid. Detik ketika murid itu melangkahkan kakinya ke dalam kelas, para siswi di kelas itu terlihat heboh dan mulai berbisik-bisik.

Lihat, betapa imut dan tampannya pria mungil itu. Tak hayal lagi jika para siswi menjerit senang, mendapat seorang siswa tampan dan manis di kelasnya. Sedangkan sehun masih tak menghiraukan kehadirannya.
Pria itu tersenyum "hai semuanya. Namaku luhan, xi lu-han"tekannya, sambil tersenyum lebar sesekali melirik sehun.

Sehun tersentak mendengar nama luhan, ia menolehkan kepalanya dan mendapati luhan tengah berdiri di depan kelasnya sambil tersenyum lebar.
"Luhan?"panggil Sehun, lebih tepatnya ia berbisik.

Luhan tersenyum dan menatap kearah sehun. Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menyadarkan dirinya. Ia masih tak percaya luhan benar-benar berada disana. Keduanya saling menatap dalam diam, dan waktu seakan terhenti dalam tatapan yang menyalurkan dan mengindahkan segalanya.

Tatapan yang akan menjadi garis pemulai bagi segalanya.

Tbc

so this is my first FF after a couple months sorry guys! gomen gomen! TT aku hiatus tanpa bilang-bilang. tapi aku really busy with life, maklum udah kelas 3 SMA hikseuuuuu TT

btw ini FF jadi FF comeback sekaligus buat ikut HunHan Indonesia giveaway. iseng sih, lagian author ga pernah ikut kompetisi. kalaupun ga menang, di review sama reader pun udah bahagia#eakkk