A Year of Memories

HUNHAN/YAOI/NC

.

.

.

Disinilah Sehun dan Bell, di sebuah taman bermain dimana banyak pasangan memilih berkencan disana. Sehun menatap bell sedikit kasihan, ia sempat memohon pada Sehun tadi untuk bisa berkencan dengannya, ini mungkin terakhir kalinya Bell akan hidup dan melihat langit biru yang indah.

"Sehun, apa kita boleh bergenggaman tangan?"tanya Bell matanya menatap penuh harap ke arah Sehun, dan tentu saja Sehun tidak akan menolak, toh meskipun sifat dan nama mereka berbeda, Bell tetaplah Luhan, dan Luhan tetaplah Bell. Karena Bell adalah bagian dari Luhan dan serpihan hati Luhan yang terluka. Mereka sama.

Sehun tersenyum lembut dan menggenggam tangan Bell dengan erat "ayo bersenang-senang hari ini"ujar Sehun hangat, Bell merasakan hatinya bergetar, Sehun tidak takut dengannya ia memperlakukan Bell sebagai seorang manusia, bukan parasit.

"Terima kasih"

Keduanya kemudian memulai kencan mereka, bermain semua wahana, tertawa menikmatinya bersama, bernafas di satu tempat yang sama, makan es krim vanilla dan permen kapas, membeli bando kelinci, mereka berkencan layaknya muda-mudi normal. Melupakan semua masalah yang ada bersama-sama.

Bell menatap matahari yang mulai terbenam di atas sana, dari dalam sebuah bianglala bersama dengan Sehun. Udara terasa begitu hangat, namun tatapan Bell masih terlihat dingin, keheningan menyelimuti mereka cukup panjang.

"Aku tidak pernah menganggap dunia ini indah"Bell memecah keheningan, Sehun menatap Bell sementara Bell masih menatap matahari terbenam.

"Karena semua yang aku punya hanyalah kenangan pahit dunia ini, begitu banyak iblis dan monster. Manusia begitu menakuti iblis, monster dan semacamnya, namun mereka tidak sadar bahwa mereka sendiri adalah monster"

Sehun diam mendengarkan Bell, ia mengerti rasa sakit yang dialami Bell. "Tapi, ini pertama kalinya aku merasa matahari terbenam ini sangat indah"setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Bell. Ia menatap mata Sehun begitu dalam, dan untuk pertama kalinya tatapan Bell menghangat dan penuh cinta "karena aku menikmatinya bersamamu"

Sehun merasakan hatinya terenyuh, Bell benar-benar sendirian di dunia ini, dan Sehun mengerti semua itu. Perasaan ditinggalkan, ditakuti, dan di benci. Perasaan yang membekukan hati nurani.

"Terima kasih Sehun sudah mengajarkan apa artinya cinta dan kehangatan"Bell tersenyum hangat dan itu adalah pertama kalinya seumur hidup. Ia menyodorkan tangannya pada Sehun dengan air mata yang masih berderai, Sehun menggapai tangan tersebut, menjabatnya dan menggenggamnya dengan hangat. Bell lantas menarik tangan Sehun dan mencium bibir Sehun, Sehun terdiam membiarkan Bell mengambil ciumannya. Setidaknya ini bisa menjadi salam perpisahan, dan dengan ini Sehun ingin agar Bell tidak merasa kesepian lagi dan kembali bersatu dengan Luhan sebagai hati yang utuh.

Luhan menjauhkan tubuhnya dari Sehun setelah menemukan dirinya telah mencium Sehun. "S-Sehun?!"

Sehun tersenyum "ya sayang, aku disini"Sehun menarik Luhan dan mendekapnya lalu mengecupi puncak kepalanya "aku mencintaimu"

"Aku juga mencintaimu Sehun. Ada apa? Apa yang terjadi Sehun? "

Sehun membelai rambut Luhan dengan sayang "nanti, akan kujelaskan nanti, ok?"

"Hum"Luhan mengangguk pelan lalu mengeratkan pelukan mereka.

.

.

.

"Sehun"Luhan menatap Sehun dalam remang sinar bulan di dalam kamar mereka yang hangat.

"Hum?"Sehun menyahut, membuka matanya yang sempat tertutup lalu menatap Luhan.

"Terima kasih"ujar Luhan pelan, jemarinya membelai wajah Sehun dengan lembut, menyalurkan perasaannya yang hangat dan kasih sayangnya terhadap Sehun.

Sehun tersenyum, baginya tidak masalah jika itu untuk Luhan, maka ia pun rela jika harus meregang nyawa. Semuanya hanya untuk pria mungil bermata rusa yang indah itu. Baginya Luhan lah permata dari harta karun yang butuh bertahun-tahun dan perjuangan keras untuk mendapatkannya. Luhan segalanya, Luhan prioritasnya dan selamanya akan begitu.

Sehun mencium kening Luhan dengan lembut "tidak masalah sayang"ucapnya lantas memeluk Luhan, tanpa Sehun sadari Luhan telah meneteskan air matanya. Ia membenamkan wajahnya di leher Sehun dan tak lama kemudian keduanya tertidur.

.

.

.

Sehun terbangun dari tidurnya ketika merasakan Luhan tak lagi ada di sampingnya. Kamar terlalu gelap untuk sekedar melihat sekelilingnya lantas ia menghidupkan lampu di atas meja dan menemukan Luhan duduk di sofa dengan sebuah boneka yang kemarin dinamakan Luna oleh salah satu kepribadian Luhan.

Sehun mengerutkan keningnya "Luhan?"panggil Sehun.

Luhan yang menyembunyikan wajahnya di balik boneka, menyembulkan kepalanya menatap Sehun. Matanya polos dan cerah menatap ceria ke arah Sehun "ajhussi!"ujarnya sambil tersenyum.

Sehun balas tersenyum kecil, kepribadian Luhan yang satu lagi telah keluar, mungkin ini akan kembali menjadi salah satu perpisahan. sepertinya kondisi Luhan yang semakin stabil dan bahagia membuat luka-luka masa lalu Luhan mulai menghilang dan serpihan-serpihan hatinya pun mulai menyatu kembali dengan dirinya. Adanya Sehun bersamanya membuat Luka itu mulai mengabur.

Sehun melangkah menghampiri Luhan, lalu bersimpuh di lantai, sambil tersenyum ia mengacak gemas rambut Luhan, meski sudah sekolah menengah Luhan masih sangat cocok bertingkah seperti anak kecil. Benar-benar Lucu.

"Mengapa bermain sendiri tengah malam begini hm?"tanya Sehun lembut.

Luhan mengerucutkan bibir sembari menggelengkan kepalanya "humm aku tidak bermain"ia menundukkan kepalanya.

Sehun mencubit pipi Luhan gemas "ada apa? Mengapa tiba-tiba terlihat sedih?"

"Karena aku harus mengucapkan selamat tinggal pada Luna, aku... akan sangat merindukannya"

Sehun menatap Luhan sedih "apa kau sedih?"

Luhan menggelengkan kepalanya "aku tetap akan bertemu dengannya nanti meski aku menghilang nantinya"ujar Luhan sambil tersenyum.

Sehun mengangguk mengerti ia lalu membelai rambut Luhan dan menatapnya "berbahagialah, mari kita buat kenangan bahagia bersama dan tinggalkan kenangan pahit. Bersama-sama kita bisa, Lu"Sehun menggenggam tangan Luhan erat.

Luhan tersenyum polos dan menganggukkan kepalanya "eum!"

Sehun berjanji dalam hatinya ia tetap akan berada di samping Luhan apapun yang terjadi kecuali maut memisahkan mereka. Ia berjanji akan membuat Luhan hanya mengingat kenangan-kenangan bahagia bersamanya.

.

.

.

"Sehun! Luhan!" Terdengar suara kyungsoo dari ujung lapangan di pagi yang berembun itu.

Luhan melambaikan tangannya kepada Kyungsoo, Baekhyun dan Chanyeol yang sedang duduk di ujung lapangan basket sekolah, mereka benar-benar seperti kumpulan para musisi. Luhan berlari meninggalkan Sehun yang melangkah santai di belakangnya sambil tersenyum. Sudah lama rasanya mereka berkumpul lagi dan membahas musik.

Sehun merindukan momen ini.

"Apa ada sesuatu? Kalian sepertinya senang"tanya Luhan menatap Kyungsoo.

"Ayo tebak"Baekhyun mengedip manja ke arah Luhan, sementara Luhan hanya terkikik dan mulai berpikir "ummm festival band?"tebaknya asal.

Baekhyun tiba-tiba merengut dan mengerucutkan bibirnya "Luhannie! Tidak seru! Bagaimana bisa kau benar hanya dalam satu kali tebak?"sungutnya.

Chanyeol terkekeh "as expected, a genius"ujar Chanyeol sembari memutar-mutar stik drumnya dengan wajah sok keren.

"a genius and of course, he is mine"ujar Sehun dari belakang sembari mengacak-ngacak rambut Luhan gemas, membuat sang empunya pun tersenyum malu-malu.

"Aaaaw! Berhenti Sehun, aku tidak suka mendengar ini"ujar Kyungsoo bergidik ngeri, Kyungsoo paling benci mendengar gombalan dan semacamnya. Yah, ini semua karena Jongin yang mengejar-ngejarnya dan mengiriminya sms penuh gombalan, dia benar-benar menyeramkan menurut Kyungsoo.

"Jadi! Apa kita akan membuat lagu baru?"tanya Luhan bersemangat.

"Tentu saja!"jawab mereka serentak.

.

.

.

"teman-teman sangat bersemangat untuk festival bandnya"kekeh Luhan sembari mengeratkan genggamannya pada Sehun. Keduanya berjalan beriringan dengan menggenggam tangan satu sama lain ditemani langit sore sepulang sekolah, layaknya sepasang kekasih pada umumnya.

Sehun tersenyum menatap Luhan "tentu saja mereka mencintai musik, dan aku juga mulai merasa menyukainya"

"Aku juga!"teriak Luhan sambil mengayun-nganyunkan genggaman mereka.

Tiba-tiba Luhan terjatuh, kakinya terasa sangat lemas dan rasa sakit tiba-tiba menjalari kepalanya, beberapa ingatan bersama Sehun kemudian mulai mengabur dari kepalanya, seakan direnggut paksa dari otaknya.

"L-Luhan! Kau tidak apa-apa?"Sehun menatap Luhan khawatir. Luhan menatap Sehun terperangah, matanya penuh rasa ketakutan dan sakit. "S-sehun"panggilnya dengan nafas terengah-engah, tangannya mencengkram lengan baju Sehun dengan erat, tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai mengucur dari keningnya.

"Malam pertama..."Luhan menatap Sehun dengan ketakutan, nafasnya tersengal-sengal membuatnya hanya mampu mengeluarkan beberapa patah kata.

"Malam pertama kita..."air mata mulai mengaliri pipi Luhan, bibirnya bergetar hebat "menghilang"kata itu akhirnya lolos dari bibirnya, ia mulai terisak jemarinya menunjuk-nunjuk kepalanya, ia menjambak rambutnya dan mulai menangis histeris.

Benar, Sehun Lupa akan hal paling penting itu. Bagaimana? Bagaimana ia bisa Lupa hal sepenting itu? Padahal ia sudah di beri tahu. Ia pikir kebahagiaan akhirnya datang pada mereka, namun ia salah. Masih ada sebuah bongkahan besar di hadapan mereka yang butuh mereka pecahkan untuk menghadap sang surya.

"Sayang, Lu tenanglah aku disini"Sehun mencoba tenang dan tak ikut menangis saat ini, ia memeluk Luhan dengan erat, menciumi pelipisnya dan menepuk-nepuk punggungnya berusaha memberi ketenangan.

"Aku takut hiks Sehun aku takut"raung Luhan, air mata mengaliri wajahnya begitu deras, tangan mungil memeluk Sehun erat.

"Aku disini sayang"Sehun mengecup kening Luhan menyalurkan seluruh cintanya. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk menenangkan Luhan saat ini.

.

.

.

Luhan terbaring lemah di atas tempat tidur Sehun, peluh terus membahasahi wajahnya, bibirnya pucat pasi dan matanya masih terpejam sesekali ia terdengar mengigau.

"Kita batalkan saja untuk tampil di festival, kita masih punya banyak kesempatan kan?"Baekhyun buka suara, mereka sudah mengerti dengan apa yang terjadi setelah Sehun menjelaskannya.

Kyungsoo mengangguk "ayo kita buat kenangan indah untuk Luhan, meskipun dia akan melupakannya... setidaknya dia tidak akan memiliki kenangan buruk lagi."

Chanyeol hanya diam menatap Luhan prihatin, rasa bersalah mulai menghantuinya, ia tidak menyangka setiap tahun Luhan akan menghadapi sesuatu yang menyakitkan seperti ini.

"Apa yang harus kita lakukan untuknya?"tanya Sehun frustasi.

Chanyeol mengepalkan tangannya "aku punya sebuah villa di bukit bintang. Bagaimana kalau kita bawa dia kesana? malam ini langit akan cerah, bintang-bintang mungkin akan mengurangi rasa sakitnya"

Sehun, Baekhyun dan Kyungsoo serentak menatap Chanyeol sambil menganggukkan kepalanya. Bintang sepertinya bisa menjadi hadiah terindah untuk Luhan. Bersama-sama dengan kekasih dan sahabat-sahabatnya.

.

.

.

Sehun memeluk Luhan yang masih tertidur nyenyak di sampingnya tak lupa memasangkan selimut dengan tepat. Mobil masih berjalan menuju bukit bintang, suasana jalan mulai sepi, dan suasana dalam mobil juga terlihat menyedihkan.

"Chanyeol kau bilang villa itu villamu, maksudmu apa?"Baekhyun buka suara.

"Ya itu propertiku"ujar Chanyeol santai, mulai sekarang ia ingin memperlihatkan jati diri nya sebagai direktur muda pada Baekhyun dan bukan anak kurang mampu seperti yang Baekhyun ketahui selama ini.

"Hahaha kau bercanda! Makan saja kadang kau masih minta traktir denganku!"tawa Baekhyun pecah, sementara Sehun hanya tersenyum kecil sambil membelai Luhan dengan Lembut.

"Sehun dia tidak percaya"rengek Chanyeol menandakan bahwa ia ingin Sehun memberitahukan identitasnya pada Baekhyun agar Baekhyun percaya.

"Chanyeol menjalan sebuah perusahaan"ujar Sehun singkat.

"Perusahaan? Perusahaan apa?"tanya Baekhyun bingung.

"PARK Corp. Dia seorang presdir muda"ujar Sehun lagi dengan sabarnya, tangannya tak henti membelai wajah Luhan.

Baekhyun tiba-tiba merasakan tangannya lemas, dia menatap Chanyeol yang sudah memasang wajah sok keren. "Heol. Anak ini generasi kedua keluarga chaebol yang hanya bisa kudengar sebelumnya... daebak"ujarnya terkejut.

Kyungsoo mengangguk-nganggukkan kepalanya, pantas saja ia tidak pernah merasa kalau Chanyeol itu anak kurang mampu, wajahnya benar-benar wajah anak orang kaya.

"J-jadi kalau aku menikah denganmu, aku akan menjadi orang kaya?"

Chanyeol terkekeh mendengar pertanyaan Baekhyun "tentu saja!"

"A-apa kau punya maid?"

"Banyak, dan nantinya mereka akan memanggilmu Nyonya Park"

"Aaaaww berhenti menggombal! Itu menjijikan Park Chanyeol!"sela Kyungsoo.

Semuanya tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Kyungsoo, setidaknya ini bisa mengurangi rasa sedih mereka.

.

.

.

Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat. Bintang adalah yang pertama kali dilihatnya, ia menyadari ia kini berada dalam dekapan Sehun "kita.. dimana Sehun?"tanya Luhan dengan suara parau.

Sehun tersenyum lalu berbisik "Lihat sekelilingmu"

Luhan menuruti Sehun dan melihat sekelilingnya "Luhan! Surprise!"teriak Chanyeol, Baekhyun dan Kyungsoo. Luhan tersenyum lebar menemukan sahabat-sahabatnya ada disana. Mereka duduk di dekat api unggun begitu juga dirinya di temani Sehun dan sehelai selimut.

"Lihat juga di atasmu sayang"bisik Sehun lagi, Luhan kembali menuruti perkataan Sehun, ia menenggakan kepalanya dan menemukan jutaan bintang bertabur di atas sana. "Woah!"ujarnya girang, tanpa sadar ia sontak berdiri, bintang-bintang yang bertabur, lampu-lampu perkotaan di bawah sana dan rerumputan hijau di tambah api unggun, Sehun dan sahabat-sahabatnya, ini semua sungguh membuatnya hangat dan gembira.

Luhan mencoba berlari karena terlalu senang, namun kakinya terlalu lemas hingga ia terjatuh kembali. "Kau tidak apa-apa Lu?"tanya Sehun khawatir, Luhan terkekeh lalu mengangguk. Sehun tertawa kecil lantas mengacak rambut Luhan lalu dengan perlahan membawanya kembali ke dalam dekapannya.

Luhan terlihat sangat menikmati waktunya disana, mendengar Baekhyun bernyanyi dan mendengar suara Kyungsoo bernyanyi untuk pertama kalinya, suara Chanyeol juga terdengar sama sekali tak buruk. Sesekali Baekhyun membuat lelucon dengan meniru suara-suara selebriti atau adegan-adegan dalam film.

"Ah"Luhan meringis merasakan kepalanya kembali sakit.

"Lu, sakit lagi?"tanya Sehun

"S-sedikit"ujar Luhan terbata, nafasnya kembali tersengal.

"Kau istirahat saja ya?"pinta Sehun. Luhan menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia menjauhkan sedikit tubuhnya dari Sehun lalu mencoba berdiri sekuat tenaganya. Ia lalu melangkah mendekati pemandangan lampu-lampu perkotaan di bawah sana. Ia terdiam sesaat menikmati semilir angin yang menyapanya dan mengatakan bahwa sudah saatnya.

Luhan membelakangi pemandangan itu lalu menghadap teman-temannya dan Sehun. "Aku takut"ujar Luhan bergetar, ia mengepalkan tangannya berusaha menahan air mata, sementara Sehun dan lainnya berusaha mati-matian untuk tidak memeluk tubuh mungil itu.

"Aku takut kehilangan semua kenangan kita. Bersama Sehun dan juga bersama kalian"air mata mulai mengaliri pipinya "bagiku semua itu sungguh indah, sungguh menghangatkan. Semuanya, terima kasih telah mengisi kekosongan hatiku hari demi hari" Luhan mulai terisak "aku... hiks menyayangi kalian"

Kyungsoo mulai berdiri "aku.. tidak peduli berapa kali pun kau hilang ingatan, aku akan tetap berada di sampingmu! Dan selalu dan tetap akan membawamu menciptakan kenangan baru yang indah! Aku... berjanji lu!"teriak Kyungsoo yang juga mulai menangis.

"Hiks Luhan! Aku menyayangimu, aku akan selalu bersamamu!"teriak Baekhyun yang juga ikut berdiri.

"Luhan maafkan aku karena telah menyakitimu! Aku juga berjanji akan selalu disampingmu!"giliran Chanyeol yang bersuara.

Sehun mengepalkan tangannya dan mulai ikut berdiri "tidak peduli berapa kali kau akan lupa padaku, aku akan tetap mencintaimu Luhan. Ayo kita buat kenangan yang menyenangkan setiap hari bersama-sama!"teriak Sehun.

Luhan terisak keras, semuanya mulai menghampirinya dan memeluknya. Tanpa kata-kata mereka saling menyalurkan perasaan mereka melalui air mata.

Dan bagi Sehun tak peduli berapa kali Luhan bertanya "siapa kau?" Ia akan selalu menjawab "kekasihmu" tak peduli berapa kali Luhan akan bertanya "siapa aku?" Sehun akan menjawab "Luhan, kekasihku". Tak peduli berapa kali pun Luhan lupa akan kenangan mereka, Sehun bersedia mengulang kenangan itu dan membuat yang baru setiap harinya. Ia juga tidak akan bosan mengatakan "aku mencintaimu" setiap harinya.

END