a Year Of Memories

Rated M, Boys love

romance, angst, comedy

warning! no plagiat! special for HunHan Indonesia Giveaway

Dia tidak Punya Ingatannya

Aku tidak punya ingatan?

Semua orang punya ingatan, lalu mengapa otakku begitu kosong?

aku tak butuh otak jenius ini

Anakmu, dan investasi.

tidak ada cara lain

.

.

.

Sehun membolak-balikkan halaman bukunya, matanya terpaku pada buku tersebut. Sesekali tangannya mengorek-ngorek kertas, mencoba mengerjakan soal matematika demi mendapatkan pikirannya kembali. Namun tetap saja, pikirannya sedang tak ada disana. Ia beberapa kali menghembuskan nafasnya gelisah membuat beberapa orang di sekitarnya yang sibuk dengan buku mereka masing-masing merasa sedikit terusik.

Apa yang sebenarnya di pikirkan pria itu? Ia sama sekali terlihat tak tenang sedari tadi. Tentu saja, xi luhan. Si mungil itu tiba-tiba saja menghilang sejak jam istirahat tanpa mengatakan apapun padanya bahkan menyapanya pun tidak. Hanya satu lengkungan manis yang di selipkannya di depan kelas tadi pagi. sehun ingin melihatnya sekali lagi, ia ingin memastikan apakah yang di depan tadi itu benar-benar luhan? atau hanya harapannya yang menjadi halusinasi?

mengapa ia menjadi seperti ini? ia baru saja bertemu luhan semalam tapi sejak saat itu jantungnya selalu bergetar ketika mengingat nama xi luhan, belum lagi bayangan senyum manisnya yang selalu terputar di benaknya membuatnya benar-benar tak bisa fokus

Tiba-tiba sebuah tangan terulur menyodorkan sekotak kecil susu stroberi, tangan mungil yang tak asing lagi. Sehun mendongak dan mendapati senyum manis luhan disana, tangan sehun sontak menerima susu stroberi itu, seakan tersihir dengan senyum luhan yang menghangatkan dan membuat dirinya terbayang cerahnya musim panas.

Luhan terkikik "kau seharusnya membaginya terlebih dahulu lalu kau menemukan sudutnya"luhan tersenyum sambil menggedikkan dagunya ke arah coretan matematika milik sehun.

"Ahhh"sehun tersenyum tipis, lalu menatap luhan dalam diam. Ia bangkit dari duduknya, detik berikutnya ia sudah menarik tangan luhan ke arah atap sekolah. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke atap sekolah, meski luhan harus kelelahan mengikuti langkah besar sehun. "Wuaah! Disini sangat menyegarkan!"teriak luhan sembari merentangkan tangannya dan menghirup udara dalam-dalam.

Sehun hanya diam dengan wajahnya yang datar. "Pelajaran guru tadi sungguh membosankan, aku kan sudah menguasainya ketika usiaku 9 tahun"sungut luhan.

Kening sehun sontak mengerut, ia bertanya-tanya seberapa jenius pria mungil di depannya itu. Luhan terkikik melihat wajah sehun yang tiba-tiba berubah bingung. "Kau pasti bertanya seberapa jenius aku ini"tebak luhan.

Kerutan di kening sehun hilang menjadi datar, ia diam tak menjawab. Luhan tersenyum "kau punya ponselkan?"

Sehun mengangguk lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya lalu menunjukkannya pada luhan. "Kau pikir siapa yang membuat itu?" Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya sembari menatap ponsel dan luhan bergantian, ia baru menyadari betapa jeniusnya si mungil yang kini berdiri di depannya dengan senyum menggemaskan.

"Lalu, mengapa kau memilih masuk sekolah sekarang, jenius?"tanya sehun sarkastik namun terdengar lembut.

Luhan tersenyum, lalu tiba-tiba ia melompat dan memeluk dengan "Ya! Apa-apaan ini lepaskan aku!"teriak sehun.

"Tidak mauuu! Aku ingin memeluk sehun, aku suka sehun, aku suka aroma sehun!"luhan mengeratkan pelukannya lalu mengendus-ngendus dada sehun, merasakan aroma maskulin sehun yang menusuk hidungnya dan membuat dadanya bergetar.

"Yaahaa lepaskan aku, ayo hahaha lepaskan"sehun mulai tertawa karena luhan tak kunjung melepaskan pelukannya, sementara ia berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan maut luhan.

"Tidak mauuu mehrooongg"luhan menjulurkan lidahnya sambil terus memeluk sehun.

Sehun tertawa, meskipun ia meminta dilepaskan dalan hatinya ia berharap luhan tak melepaskan pelukan itu. ini pertama kalinya sehun tertawa lepas seperti itu. tanpa akting dan tanpa paksaan. selama ini ia selalu melakukan praktik tertawa di depan cermin demi ayahnya. karena ayahnya adalah seorang pengusaha yang tentunya akan berkunjung ke pesta atau makan malam bersama kolega-kolega bisnisnya. dan sehun harus memaksakan tawanya ketika berada disana. jika tidak? siapa yang dapat menebaknya. sehun bahkan pernah di lempar satu kotak sampah besar oleh ayahnya disertai dengan kata-kata sampah dan monster. Selama ini yang dilakukannya adalah akting belaka. dan sekarang, ia tertawa. tertawa dengan lepasnya tanpa harus memaksakan diri dan berakting. ternyata suatu hubungan itu mampu membuat seorang mosnter berubah. cinta itu menakjubkan, manusia itu menakjubkan.

Benar, beginilah bagaimana manusia tertawa seperti yang seharusnya.

Karenanya...

.

.

.

"Sehun lihat ini!"teriak luhan sambil menunjuk sebuah poster dengan mata berbinar seperti bayi yang baru pertama kali memakan coklat.

Sehun mengarahkan pandangannya sesuai jari telunjuk luhan dan melihat sebuah poster dari klub band yang sepertinya tengah mencari dua anggota, satu gitaris dan satu bassis, Sehun menaikkan satu alis matanya, dan menatap luhan, dengan tatapan 'lalu?' Miliknya.

"Ayo kita mendaftar!"luhan menatap sehun antusias.

Sehun memejamkan matanya lalu menghela nafasnya "luhan, dengar ya aku ini tipe manusia yang tidak suka bergaul, jadi aku tidak mau bergabung di klub atau apapun yang memiliki banyak orang. Aku lebih suka tenang dan sendirian"jelas sehun.

Luhan terlihat kecewa, senyumnya luntur, dan cahaya matanya terlihat meredup. Ia menundukkan kepalanya "sehun suka sendiri ya, berarti sehun juga tidak suka luhan. Luhan hanya hama bagi sehun"setetes air mata jatuh membasahi pipi putih susunya itu.

"B-bukan itu mak-"belum sempat sehun menyelesaikan kalimatnya, luhan sudah melesat berlari meninggalkan sehun.

Lucunya, rusa manis itu tidak berlari jauh. Ia hanya berlari sekitar 5 meter lalu bersembunyi di balik semak-semak. lihat, betapa imutnya tingkah rusa manis itu, Sehun bahkan tertawa melihat tingkah luhan yang menggemaskan itu. Ia lalu bergegas menyusul luhan yang bersembunyi di balik semak.

Sehun mendapati luhan tengah meringkuk, dengan wajah yang disembunyikannya di balik tekukan kakinya, bahunya bergetar dan terdengar sesenggukan beberapa kali. Rasa bersalah mulai menggerayangi hati sehun, ia menepuk bahu luhan dengan lembut membuat si empunya bahu mendongak dan menatap sehun.

Sehun sedikit terkejut mendapati pemandangan di hadapannya. Rambut coklat madunya berantakan, wajahnya basah akan air mata dan matanya memerah. Sehun menatap luhan merasa bersalah, apa yang telah ku lakukan pada rusa semanis ini?

Sehun menghembuskan nafasnya, lalu menghapus air mata luhan dengan lembut, sehun diam menatap betapa jernihnya mata rusa luhan, seperti permata, seperti ada bintang yang terselip di balik kedua bola mata itu. "kita harus pergi mendaftar sekarang, kalau tidak nanti posisinya sudah di ambil orang"sehun tersenyum hangat.

Bahu luhan berhenti bergetar, air matanya mulai berhenti mengalir berganti dengan binar-binar dan mata yang mengerjap imut. ia lalu tersenyum"eumm!"angguknya.

Rasanya, es di dalam sehun mulai retak

.

.

.

Trek tek tek tek...

Terdengar suara stik yang terjatuh kelantai dari ruangan klub musik itu. Semua anggota band terdiam, semuanya hanya terpaku pada satu fenomena aneh.

Oh sehun.

Pria yang dingin itu, pria yang tak pernah bicara itu, pria yang selalu sendiri itu, pria yang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan itu kini berdiri di hadapan mereka dan meminta menjadi anggota band mereka?

Sehun menatap langit-langit merasa malu atas semua pandangan yang kini tertuju padanya "a-aku bisa bermain gitar dan bass sedikit"katanya merona, toh selama ini image-nya adalah seorang pangeran es.

"Itu jika kalian mau menerima kami"sehun bersuara kembali. Anggota band masih tak percaya dengan kehadiran pria dingin itu. Chanyeol si drummer, baekhyun vokalis serta kyungsoo keyboardis masih melongo dengan fenomena tak lazim di depan matanya.

"Tolong ajari aku dan sehun ya!"teriak luhan antusias dengan satu lengkungan manis yang lebar. Anggota band beralih menatap luhan yang masih tersenyum seperti anak kecil dengan tatapan lalu-siapa-kau? milik mereka. "Ahh aku belum memperkenalkan diriku ya? Hehe"luhan nyengir polos sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

"Perkenalkan namaku xi luhan!"

Trek tek tek tek...

Satu buah stik lagi milik chanyeol jatuh kelantai. Anggota band kembali melongo. Luhan? Si nomor satu yang tak pernah muncul di sekolah itu kini muncul di hadapan mereka dan meminta mereka menjadi anggota band?

"Heol"ucap baekhyun tanpa sadar.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya "aku benar-benar tidak bermimpi apapun semalam sampai-sampai kita mendapat dua orang jenius ini"

Kyungsoo tertawa kecil lalu memberikan dua buah kertas pada masing-masing luhan dan sehun. "Silahkan isi formulirnya, selamat datang di klub band kami yang sederhana ini!"

"Selamat datang!" Kini si pendek baekhyun yang bersuara setelah menyadarkan dirinya dan kembali ke dunia nyata, sementara chanyeol di belakang mengangguk-ngangukkan kepalanya.

Amuraedo nan niga joha, Amureon maldo eobsi utdeon nareul anajwo babe

Oneureul gidaryeotjyo

Geudae dalkomhan nareul bwayo geudae ye

Jikyeojulgeyo babe

Maeil maeil kkumeul kkujyo

Geudae soneul japgo naraga yeongwonhi eonje kkajina

Bogo sipeun naui sarang unmyeong ijyo

Pihalsudo eobtjyoe

Every day i'm so lucky

Sumgyeowatdeon nae mameul gobaek hallae neoreul saranghae

Suara musik dari klub band itu tiba-tiba saja berhenti dan suasana menjadi hening. Chanyeol bangkit dari duduknya, wajahnya terlihat sangat kesal dan matanya tertuju pada satu orang, oh sehun.
"Ya! Mengapa kau terus berhenti di tengah permainan!"teriak chanyeol

"Apa kau pernah merekam permainan band ini?"tanya sehun

"Apa?"

"Permainan drum-mu begitu buruk park chanyeol! Dan kau kyung soo, permainan keyboarmu terus terusan keluar nada, cara menyanyi baekhyun juga benar-benar buruk! Dan kau xi luhan!" Luhan terdiam ketika sehun meneriakkan namanya. Sehun terdiam menatap luhan tajam, ia lalu meletakkan bass-nya dan berlalu meninggalkan ruangan Tubuh luhan bergetar hebat, itu pertama kalinya sehun membentaknya dan menatapnya dengan cara seperti itu.

Mata luhan mulai memerah dan berair "luhan kau tidak apa-apa?"tanya kyungsoo terlihat khawatir, luhan menggelengkan kepalanya, lalu meletakkan gitarnya dengan tubuh bergetar kemudian melesat pergi menuju kamar mandi.

Ia bersembunyi di salah satu bilik toilet. Tubuhnya masih bergetar, dan tetesan air mata mulai membasahi pipi tirusnya. Luhan takut, mata sehun tadi begitu mengingatkannya pada mata bell. Mata pembunuh, mata hewan yang begitu liar. Luhan tau bagaimana mata bell ketika ia menguasai tubuh luhan karena luhan berkomunikasi dengan bell lewat pesan video. Mata yang penuh kegelapan dan kehausan akan darah, begitu persis dengan mata sehun ketika menatapnya tadi. Ia benci mata itu, ada apa dengan sehun? Kemana sehun? Apa yang terjadi dengannya?

Luhan sungguh-sungguh tak bisa melihat semua ini. Ia ingin menghilang, ia berharap ia menghilang. Dan Harapannya kini menjadi nyata. Luhan menghilang sepenuhnya dan datang berganti dengan bell, si psikopath. Suasana seketika menjadi hening, tak ada lagi suara isakan dari rusa kecil itu. Mata hangat luhan berubah seketika menjadi sepasang bola mata penuh kegelapan. ada rasa haus akan darah yang menguar dari bilik toilet itu.

"Apa ini? Kau menangis xi luhan? Karena itulah kau lari dan mendorongku keluar?"bell mengerutkan keningnya "aneh sekali, biasanya kau bahkan tak mau mendengar namaku"bel menyeringai, ia tau bahwa di setiap kesulitan yang tak bisa di hadapinya, luhan selalu memanggil bell di lubuk hatinya yang paling dalam. dan bell dengan senang hati keluar. mengapa tidak? itu adalah kesempatan baginya untuk membunuh, walaupun yang di bunuhnya hanya hewan setidaknya setengah dari rasa hausnya akan membunuh sudah terpenuhi.

"Sepertinya kau memutuskan masuk sekolah ya luhan? Baiklah, selama ada kesempatan mari kita berjalan-jalan"

.

.

.

Mengapa luhan bisa mengalami DID (dissociative identity disorder)? Hanya ayahnya dan bibi han yang tau rusa kecil itu mengidap penyakit kepribadian ganda.

Semuanya berawal dari ayahnya yang sering memukulinya ketika ia sedang mabuk. Ayahnya yang selalu bersikap hangat itu berubah dalam sekejap sejak ibu luhan meninggal dalam sebuah kasus tabrak lari. Wajah luhan tak pernah libur dari babak belur. Masih kurang, ayahnya memakainya sebagai alat bisnis. Ia dipaksa dan di kurung untuk meningkatkan teknologi baru sebagai produk untuk perusahaan ayahnya. Ia bahkan tak di perbolehkan bermain dengan anak-anak seumurannya. Ini semua karena kejeniusannya, ia benci kejeniusannya, ia benci ayahnya. jika saja ia terlahir di sebuah keluarga normal, jika saja ia terlahir sebagai seorang anak yang normal. ia bahkan sering bertanya-tanya, apakah kejeniuasannya itu anugerah atau sebuah bencana? karena ia tidak pernah merasa bahagia atas apa yang dimilikinya sebagai seorang anak

Suatu hari seorang teman ayahnya berkunjung ke rumah mereka. Luhan seperti biasa mengenalkan dirinya dengan sopan dan polos seperti anak pada umumnya. Namun teman ayahnya itu mulai setiap hari mengunjungi rumahnya dengan alasan ingin bermain dengan luhan, ia juga mulai mengunjungi rumah mereka tanpa sepengetahuan dari ayahnya.

akhirnya suatu waktu, ia mulai meraba-raba luhan, dan memaksakan kejantanannya memasuki luhan yang ketika itu baru berusia 6 setengah tahun. Ia bekali-kali memperkosa luhan. dan setiap hari luhan harus melihat wajah seorang monster yang tanpa rasa bersalah menyetubuhinya, wajah yang begitu dibenci luhan. Di dalam hatinya ia terus mengatakan, aku akan membunuh kalian, aku akan membunuhmu dan juga membunuh ayah, semuanya, aku benci semuanya.

Namun luhan merupakan kepribadian yang polos, ceria dan manis. Ia tak mampu menahan semua tekanan itu, terutama bagi anak yang baru berusia 6 tahun dan ia juga tak mampu membunuh orang dewasa, ia terlalu takut bahkan memegang pisau pun ia tak berani.

Karena itulah, otaknya menciptakan satu kepribadian pembunuh yang mulai muncul ketika ia berulang tahun yang ke tujuh tahun. Kepribadian itu menamai dirinya sendiri sebagai death bell, karena ia memanglah lonceng kematian. ketika malam ulang tahun luhan, Pria itu kembali mengunjungi luhan dengan membawa iming-iming kado boneka rusa.

Namun saat itu kesadaran luhan benar-benar hilang. Bell-lah yang menguasai tubuhnya. Dengan wajah sadis dan mata yang penuh akan kehausan membunuh, bell menikmati bagaimana ia menusuk perut pria itu berkali-kali malam itu. Ia bahkan menikmati bagaimana darah berhamburan keluar dan mengalir di tangannya. ia menikmati bagaimana suara pria itu menjerit-jerit kesakitan, hal itu adalah hal paling menyegarkan bagi bell. suara rintihan, suara kesakitan, dan darah.

Kasus itu ditutupi oleh ayah luhan, dan luhan semenjak itu rutin bertemu psikiatri. Sejak itulah diketahui bahwa luhan menderita penyakit DID yang disebabkan fisik dan sex abuse. Setelah mendengar apa yang terjadi selama ia diperkosa pria itu, dan bagaimana ayahnya memukulinya, tuan xi tanpa rasa bersalah membuang luhan dan mengirimnya ke sekolah elit itu, dan meminta pihak sekolah merahasiakan keberadaannya. Tentu saja ayah luhan harus membayar biaya yang cukup besar setiap tahunnya. ia bahkan tak pernah menemui luhan selama sepuluh tahun terakhir, yang ia lakukan hanya menumpukkan uang di rekening luhan, dan mengirimkan alat-alat pekerjaan untuk produk baru yang harus di buat luhan.

Tapi luhan tak ingat satupun dari semua ingatan masa lalunya.

Karena memorinya terhapus.

Setelah mengancam bahwa ia akan berhenti membuat produk untuk perusahaan ayahnya, akhirnya ayahnya mengizinkannya untuk bersekolah pada umumnya dengan syarat, ia harus merahasiakan tentang bell, dan tidak boleh membiarkannya keluar.

Namun luhan baru saja melakukkanya, ia baru saja melanggar janjinya.

Bell itu sangat menakutkan. Ia kejam. aku benci padanya, tapi ia selalu menolongku ketika aku sedang kesulitan.

.

.

.

Sehun berlari ke ruangan klub band dengan nafas terengah, namun ia tak mendapati luhan berada disana. Ia menatap kyungsoo, baekhyun dan chanyeol yang balik menatapnya dengan raut bingung.

"Luhan?"tanya sehun pelan.

"Tadi dia berlari keluar sambil menangis, kami kehilangan dia. Aku mohon temukan dia, aku sangat mengkhawatirkannya"kyung soo terlihat cemas, pria bermata bulat itu memang memiliki aura keibuan.

Sehun menganggukkan kepalanya dan mulai berlari keluar mencari luhan, Sementara bell, berkeliling sekolah sambil memikirkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pembunuhan. Bahkan ketika ia hanya melihat sebuah garpu di kantin, ia langsung berpikir "sepertinya bagus jika kutancapkan itu pada dada seseorang"sembari terkikik senang.

Bell lalu memilih duduk di halaman belakang sekolah yang sepi di bawah rimbunnya pohon. "Kira-kira pria yang semalam itu siapa? Apakah ia salah satu alasan luhan bersekolah?"

Bell menghela nafasnya "yahh, bukan urusanku. Apa bibi han ada di rumah ya? Aku ingin mengejutkannya"bell tersenyum sinis lalu bangkit dan mulai melangkah menuju gedung tempat tinggal luhan yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan gedung utama sekolah.

"Luhan!"suara itu terdengar menggema di tengah taman yang lenggang itu.

Bell menoleh dan mendapati sehun tengah berdiri di ujung jalan dengan nafas terengah. "Eoh? Pria yang semalam itu! Yaah xi luhan, kau benar-benar mendapat tangkapan yang bagus"bell memandang sehun sambil tersenyum.

"Sepertinya kami akan cocok jika berteman, toh kami sama-sama pembunuh. Iyakan luhan?"ujar bell pelan. Sehun segera berlari menghampiri luhan dengan kecepatan atlet pelari. Ia lalu menarik luhan kedalam dekapannya, dan merengkuh tubuh mungil itu. Bell terdiam, ia tak tahu harus apa ketika pria itu tiba-tiba memeluknya. Ia merasa... nyaman? Ia merasa hangat? Ini pertama kalinya ia merasakan hal itu. jantungnya bergetar ada sesuatu yang berterbangan di dalam perutnya, perasaan apa ini? keinginan dan kehausan bell akan membunuh seperti terbang menuju langit ketujuh dan menghilang secara misterius. ada rasa yang tak biasa, rasa yang pertama kalinya di rasakan bell. Tiba-tiba air mata jatuh mengaliri pipinya.

"Se-sehunnie?"itu luhan, luhan datang menggantikan bell.

"Maafkan aku, aku tadi tidak bermaksud membentakmu. Maaf"ujar sehun lembut, ia mengelus punggung luhan dengan sayang. Air mata mengalir dari ekor mata luhan, ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya di bahu sehun.

Sehun melepaskan pekukannya dan menatap luhan yang menatapnya dengan mata merah dan pipi yang basah.

Apa yang telah kulakukan pada anak semanis ini.

Sehun mengacak rambut luhan dengan lembut sambil tersenyum hangat."Ayo band kita menunggu"sehun menarik tangan luhan sementara luhan tersenyum di belakangnya.

Amuraedo nan niga joha

Amureon maldo eobsi utdeon nareul anajwo babe

Oneureul gidaryeotjyo

Geudae dalkomhan nareul bwayo geudae ye

Jikyeojulgeyo babe

Maeil maeil kkumeul kkujyo

Geudae soneul japgo naraga yeongwonhi eonje kkajina

Bogo sipeun naui sarang unmyeong ijyo

Pihalsudo eobtjyo

Every day i'm so lucky

Sumgyeowatdeon nae mameul gobaek hallae neoreul saranghae

suara baekhyun menggema dari ruangan klub band itu, suara yang begitu cocok dengan aluanan nada dari lagu ciptaan chanyeol, Harmoni di ruangan klub itu berakhir dengan lembut

.

.

.

"Klub kita akan tampil di camp site saat acara perjalanan sekolah 2 minggu dari sekarang, aku benar-benar akan berlatih dengan keras"

Sehun tersenyum "jangan terlalu keras, kau juga harus beristirahat"ucapnya lembut.

Luhan tersenyum mendengar kalimat perhatian yang terlontar dari bibir sehun itu. Ia lalu berlari dan menggandeng tangan sehun kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu sehun.

"Apa ini? Lepaskan tanganku"sehun terlihat canggung dan malu-malu.

"Tidak mauuu! Lagi pula tidak ada orang disini!"

Sehun tertawa kecil, toh hanya menggandeng tangan terlebih lagi sekolah sudah sepi, siswa lain sudah pulang sedari tadi. Suasana menjadi hening, kaki mereka melangkah berirama, dan hanya angin yang sedari tadi bertiup kesana kemari menemani mereka.

"Nah, kau sudah sampai di rumahmu"sehun terkekeh sambil mengacak rambut luhan. Luhan mengerucutkan bibirnya tanda tak rela berpisah dengan sehun, ia lalu memeluk sehun dengan erat. "Yaahh, lepaskan aku, nanti ada yang lihat"sehun terkikik sambil mencoba melepaskan dirinya dari luhan.

Sebenarnya bukannya sehun tidak mau berpelukan dengan luhan, ia takut ia akan tergoda berbuat lebih pada luhan. Toh mereka belum ada status berpacaran, terlebih lagi sehun ingin mengenal luhan lebih jauh terlebih dahulu. Ia ingin tahu bagaimana luhan ketika ia sedang sedih, ada masalah, atau ketika ia senang. Ia ingin tahu setiap ekspresinya, ia ingin menjadi seseorang dimana luhan akan merasa seperti di rumah ketika bersamanya.

"Heunggg, aku belum mau berpisah"luhan mengusal-ngusalkan wajahnya pada dada sehun.

"Kita bisa bertemu besok, masuklah"ujar sehun sembari terkekeh ringan. Luhan dengan tidak relanya melepas pelukannya lalu menatap sehun. "Masuklah"sehun menggedikkan dagunya menyuruh luhan masuk.

Luhan menjinjitkan kakinya lalu mengecup pipi sehun sekilas. Mata sehun membulat, ia menatap luhan tak percaya. Luhan tersenyum tipis dengan wajah merona lalu melesat masuk ke dalam gedung rumahnya.

Sehun tertawa, betapa imutnya tingkah rusa itu. Tapi setidaknya ia mendapatkan satu buah kecupan di pipi dari bibir yang sangat ingin dicicipinya itu.

Ciuman itu menjadi hal paling manis, untuk menutup hariku hari ini.

Tbc