A/N : Hoooyy ada yang kangen sama saya? Gak ada? Okay, it's okay. So jadi hari ini author yang kece ini balik dengan kapal yang sama tapi ceritanya beda. Ini alurnya di HPDH 1 tapi isinya berlawanan sama buku aataupun filmnya. * ditimpuk Lucius pake cinta*

Dan yah, saya pengen kapal saya yang nistah ini menjadi kapal pesiar /hus/ Yah, pokoknya kalau pengen tau gimana sih ceritanya sampe Lucius yang kece sampe jatuh cinta sama Luna yang Looney(?) ini, saya sarankan baca fic saya yang pertama, judulnya "Wait For Me." *promosi*

Atau yang suka kapal, atau pairing ini bisa baca cerita saya yang berjudul The Contract ;)

Author Note nya kepanjangan. :3

WolfShad'z XX

.

.

.

Disclaimer : Punya JKR tercinta, tapi kapalnya punya saya /hush/

Warning : OOC yang sangat parah, tata bahasa yang mungkin agak berantakan. BERLAWANAN dengan isi buku ataupun film.

Title : Wait For Me II : The Path

Rating : T wae lah

Genre : Romance, Drama, dan Action dikit.

Sumarry : "Saat ia harus mengorbankan jiwa dan raganya untuk orang-orang yang ia cintai, hal yang ia takutkan akihrnya muncul didepan matanya. Lucius kehilangan arah untuk menuju."

.

.

.

Hari senin cerah selalu menyenangkan. Karena bagi Luna tidak ada yang menyenangkan selain minum teh bersama ayahnya dan membaca review dari the Quibbler oleh para kritikus majalah. Beberapa diantaranya merupakan dukungan mengenai sikap Luna dan Xenophilius terhadap Harry Potter, sisanya berupa kecaman maupun ejekan-ejekan yang sama sekali tidak bermutu.

Ia membaca sebuah komentar, kemudian menginformasikannya kepada Xeno. "Lihat, ayah, kita mendapat banyak dukungan dan banyak juga kritikan," Ucap Luna, tangannya menyodorkan lembaran-lembaran perkamen yang baru dicetak.

Xeno menghentikan gerakan tangannya dan mengambil lembaran-lembaran yang disodorkan oleh Luna dan mulai membacanya. Sebuah komentar (atau lebih pantas dipanggil ejekan) dari seorang komentator Anonim mengatakan; "Majalah ini hanyalah omong kosong para orang-orang bodoh. Para pendukung Harry Potter sama bodohnya dengan majalah ini. Kehadiran Potter tidak menghasilkan apa-apa kecuali hanya memperburuk keadaan."

Xeno terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambut pirang platina-nya ikut bergoyang-goyang saat ia menggeleng. "Aku tidak tau kenapa penerbit mengeksposnya," Ucap Luna, kembali duduk ke singgasana nya ditemani teh hijau hangat. Ia menghirup aroma teh hijau yang khas, merasakan kehangatan merasuk kedalam paru-parunya.

"Ah, aku tidak peduli dengan ejekan-ejekan ini. Aku mendukung Harry Potter sepenuhnya," Ucap Xeno kepada dirinya sendiri. ia kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

Lalu Luna menimpalinya, "Benar sekali. Aku percaya jika Harry akan berhasil mengalahkan Voldemort."

Ayahnya mengangguk setuju, sembari menyesap teh hangat yang dituangkan anaknya kedalam cangkir berwarna bening dengan hiasan kelinci lucu dipegangannya. Lalu ia meletakkan cangkirnya lagi setelah menyesapnya sampai setengah berisi. Ia—Xeno kemudian bangkit dari duduknya. Ia berdiri memandang ladang gandum yang sudah menguning, siap untuk dipanen.

"Aku akan ke ladang, persediaan gandum kita habis. Kau mau ikut?" tawar Ayahnya.

Luna tersenyum kepada ayahnya, "Tidak, aku ingin bersantai disini saja," Balas Luna sambil membalik majalah yang tengah ia baca ke halaman selanjutnya. Ia melihat artikel-artikel aneh lagi, senyumnya perlahan mulai memudar ketika ia melihat daftar buronan Auror. Salah satu diantaranya, ia melihat nama Lucius Malfoy.

Moodnya yang sedang baik tiba-tiba menjadi datar. Ia sebenarnya tak perluu terkejut jika Lucius memang dimasukkan dalam daftar buronan Auror, mengingat dari kabar yang beredar, ia kabur dari Azkaban. Setidaknya, itu yang diketahui Luna melalui kabar yang beredar. Tetapi kebenarannya adalah, Lucius dibebaskan oleh Dumbledore sendiri dari Azkaban. Lucius dan Dumbledore membuat rencana untuk memberi kesan jika pembebasan itu seperti rencana melarikan diri.

Satu bulan kedepan, ia akan kembali ke Hogwarts untuk menyelesaikan tahun-tahun terakhirnya. Paling tidak, itulah yang ia harapkan. Apalagi sekarang Snape yang menjadi kepala sekolah, jelas mempermudah akses Dark Lord maupun Death Eaters untuk mengambil alih sekolah.

Suasana di Hogwarts kabarnya semakin kacau semenjak kepergian Dumbledore. Posisi Dumbledore sudah terjepit, ia tak punya pilihan lain selain pergi dari Hogwarts untuk sementara waktu, dan menyerahkan semuanya kepada orang-orang kepercayaannya. Kepergian Dumbledore bukan tanpa alasan, melainkan ia harus meyakinkan Dark Lord dan pengikutnya jika Snape berhasil membunuhnya. Ia hanya berharap jika keadaan akan berjalan sesuai dengan rencana yang sudah ia buat dengan dua agennya.

Yang ia khawatirkan bukan siapa yang menjadi kepala sekolah, tetapi yang ia khawatirkan adalah jika kini Hogwarts sudah tidak lagi sama. Bisa dibayangkan jika senyum-senyum kegembiraan para siswa tidak akan terlihat sama lagi. Ditambah lagi suasana di luar Hogwarts sama mencekamnya, terjadi pembunuhan terhadap siapapun yang mendukung Harry Potter. Tetapi, Luna akan mencoba untuk bersikap setenang mungkin, ia hanya harus berusaha untuk memperbaiki skill bertarungnya. Lucius sudah memperingatkannya jauh-jauh hari, dan Luna pun sudah memperingatkan yang lainnya jika sesuatu yang lebih besar akan terjadi.

Awalnya, enam dari sepuluh orang yang ia beritahu, menolak untuk percaya. Tetapi setelah kabar yang mengatakan kematian Dumbledore, mereka baru berbondong-bondong percaya kepada Luna. Diam-diam, tanpa pengetahuan Carrow bersaudara, Luna dan para pasukan Laskar Dumbledore masih berlatih di ruang kebutuhan. Hogwarts membantunya. Hogwarts membantu mereka untuk memberikan perlawanan, dan itu berarti keamanan ada dipihak mereka.

Ditambah lagi, seperti rumor yang beredar jika Burbage, guru Telaah Muggle Hogwarts juga ditangkap Death Eater karena menurutnya penyihir darah murni dan muggle born maupun non-penyihir itu sama. Bahkan kementrian juga sudah diambil alih oleh Death Eaters dengan pembunuhan Ruffus Scrimgeur. Harry, Ron, dan Hermione tidak terlihat sejak tanggal satu September 1997 di Hogwarts.

"Baiklah," Balas Xeno, meninggalkan rumahnya dan menuju ladang yang lettaknya tidak jauh dari rumah.

Berbicara tentang Lucius, Luna tiba-tiba menjadi teringat pria itu lagi. Luna tidak percaya jika ia akhirnya kembali ke jamannya dengan perasaan yang aneh. Masih mendapati dirinya jatuh cinta dengan pria yang puluhan tahun lebih tua darinya. Parahnya, Luna sama sekali tidak keberatan dengan itu. Toh, mencintai seseorang bukanlah sebuah kejahatan. Karena, semua legal dalam cinta dan perang. Haha. Tidak semuanya.

Walaupun demikian, Luna masih sedih ketika ia mengingat kenanangannya bersama Lucius di tahun 1970. Ia masih mencintai pria itu, pria yang merebut hatinya untuk yang pertama kalinya. Ia berharap, jika suatu saat bisa bertemu dengan Lucius lagi, Luna akan menanyakan kejelasan dari akhir hubungan mereka. Luna tidak mengerti kenapa (mantan) pacarnya itu tidak memberikan kejelasan tentang akhir hubungan mereka.

Dan hal ini, mau tidak mau membuat Luna berpikir hal yang aneh dan tidak masuk akal. Bagaimana jika Lucius masih mencintainya? Bagaimana jika Lucius masih ingin melanjutkan hubungannya dengan Luna? bagaimana jika pada suatu saat Lucius akan meniggalkan keluarganya demi Luna? Dengan tegas, otak Luna memberikan sangkalan BIG NO atas pikiran-pikirannya yang tidak masuk akal ini. Ia tidak bisa jika harus menjalani hidupnya dengan berbahagia diatas penderitaan orang lain.

Atau, mungkin saja, Lucius ingin Luna menyimpulkan sendiri mengenai akhir dari hubungan mereka. Tapi ia tidak bisa. Tidak cukup bukti yang menguatkan jika hubungan mereka telah benar-benar berakhir. Belum lagi, ciuman terakhir mereka saat itu masih sangat jelas tergambar didalam otak Luna. Cara Lucius dewasa menciumnya saat itu, masih sama dengan cara Lucius muda menciumnya dulu. Luna masih bisa merasakan getaran itu, kehangatan itu dari dalam diri Lucius. Luna bisa menyimpulkan, itu bukan sekadar ciuman selamat tinggal biasa.

Ia tidak tahu, dan terus berpikir mengenai pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalanya. Pikiran-pikiran itu, membuatnya hampir tidak tidur berhari-hari hanya demi sebuah jawaban. Kalaupun sudah menemukan jawaban, tapi tak ada satupun dari jawaban itu bisa diterimanya. Yang jelas, hanya Tuhan dan Lucius yang tahu jawaban dari pertanyaan ini.

Belum jauh ia melangkah, ada beberapa orang berpakaian hitam menghampiri rumahnya. Xeno curiga jika mereka adalah Death Eaters yang akan melakukan protes terhadap tulisannya dan ingin berniat buruk kepada mereka.

"Mencariku, tuan-tuan?" ucap Xeno dan menghampiri mereka. Orang-orang yang dikenal bernama sebagai duo Lestrange dan Dolohov itu hanya tertawa mendengar ucapan Xeno.

"Jadi, kau yang bernama Xenophilius Lovegood? Ternyata tampangmu se gila majalahmu, ya?!" ucap seorang Lestrange sambil tertawa.

"Apa mau kalian?" tanya Xeno. Matanya menatap kedalam wajah lawan bicaranya, ia mendapati kilatan-kilatan jahat yang menari-nari di sana. Ia sudah mencengkram tongkat sihirnya, siap untuk menyerang.

"Dimana anakmu?" tanya Lestrange lagi.

"Dia tidak disini!" sentak Xeno, mulai khawatir jika mereka akan membawa Luna. Yah, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, semua yang berpihak kepada Harry Potter akan disiksa dan dibunuh. Dan Xeno tidak ingin hal serupa terjadi kepada putri semata wayangnya ini. ia akan melakukan apapun agar Luna-nya selamat.

"Bohong! Stupefy!" ucap Death eater itu yang sontak membuat Xeno terlempar dan pingsan. Lalu pria-pria berbadan kekar itu mendobrak masuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu hingga roboh. Luna tersentak dari duduknya dan mengacungkan tongkat sihirnya, tetapi terlambat karena ia sudah di expelliarmus terlebih dahulu sebelum sempat mengucap mantra. Tongkat sihirnya terlempar satu meter diatasnya lalu menancap di atap rumahnya yang juga terbuat dari jati tua.

Dolohov maju kedepan, dan mendekati Luna dengan senyum yang mengerikan. Luna tidak bergerak, dan mencari celah untuk kabur, namun tidak ada celah. Dolohov pun mendekatkan wajahnya ke wajah Luna dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Luna bisa mencium aroma dari Death Eater ini, membuatnya bertanya-tanya kapan ia terakhir mandi.

"Kau cantik juga." Bisik Dolohov.

Luna menanduk kepala Dolohov sampai ia hampir terjatuh. Luna bisa merasakan sakit dikeningnya. Ia mendapati Dolohov menggelengkan kepalanya, lalu ia kembali melihat Luna dengan tatapan mata yang penuh amarah. Seringai licik masih tersungging dibibirnya. "Tidak buruk untuk gadis lemah sepertimu," Ia bersuara sambi memegangi kepalanya.

"Aku menantangmu berduel!" Sebuah suara terdengar ditelinga Dolohov. Ia melempar pandangan kepada duo Lestrange dibelakangnya.

"Gadis sepertimu menantangku?" Dolohov bersuara. Luna mengangguk.

"Baiklah. Jika aku menang, maka kau akan ikut dengan kami," Death Eater bernama Antonin Dolohov menjawabnya dengan enteng. Kedua temannya tertawa terbahak-bahak, mereka sudah tentu akan menang.

Duo Lestrange merasa deja vu saat melihat gadis dihadapannya itu. Mereka saling berpandangan, tetapi tak ada satupun dari mereka yang mengingat siapa Luna. Mungkin, mereka berpikir jika itu hanya pikiran mereka saja karena jaman sekarang cukup banyak penyihir yang memiliki wajah kembar. Rabastan dan Rodolphus mencoba mengabaikannya.

"Dan jika kau kalah, kalian harus pergi dari sini," Luna bersuara. Ia sudah tahu jika dirinya tidak akan menang melawan Dolohov. Kalaupun ia menang, Luna pasti akan tetap dibawa oleh mereka. Ia masih belum memiliki ijin untuk apparating, ataupun menggunakan sihir diluar Hogwarts. Tetapi persetan. Kementerian sudah dilumpuhkan, Hogwarts sudah diambil alih. Jadi, ia tidak akan terkena masalah. Toh, Luna sudah tahu jika dirinya kalah jumlah, tetapi ia tidak ingin ikut mereka tanpa perlawanan. Dan keberuntungannya kali ini patut dicoba.

Luna mencabut tongkat sihirnya yang menancap dilangit-langit. Ia mulai mengacungkannya kearah Antonin Dolohov yang nampak santai. Luna tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pria yang tiga tahun lebih muda dari Lucius ini.

"Expelliarmus!" Luna mendapati dirinya menyerang Dolohov tiba-tiba. Tetapi dengan mudahnya ditangkis oleh pria berjenggot cukup tebal itu. Luna hanya bisa memandangnya dengan menelan ludah, sementara Dolohov masih saja santai.

"Stupefy!" Luna berteriak lagi, kali ini dikembalikan oleh Dolohov ke Luna. Terjadi tangkis menangkis mantra selama beberapa menit. Dolohov nampak sangat bosan dengan adu mantra yang membosankan itu. Ia melemparkan satu Sectumsempra yang berhasil mengenai lengannya. Ia juga melemparkan Expelliarmus lagi hingga tongkat Luna menghilang entah kemana. Luna memegangi tangannya yang tergores mantra yang bisa menghasilkan sayatan pedang itu dengan erat. Baju merah yang ia gunakan menjadi semakin merah. Tangannya semakin mencengkram kuat lengannya dengan tangan kanannya, mencegah darah untuk keluar.

Pria itu memandang Luna dengan pandangan mata yang dingin, seakan-akan mencoba untuk tidak menerkam Luna saat ini juga. Ia—Luna, hanya bisa berjalan mundur hingga akhirnya langkahnya terhenti oleh dinding kayu dibelakangnya. Dolohov berjalan mendekat lagi, kemudian Dolohov menampar Luna lumayan keras. Luna jatuh terkulai di lantai, namun masih sadar. Cairan kental berwarna merah mengalir dari bibirnya, tapi tak menghentikan Dolohov untuk mengikat tangan Luna dan menyeretnya keluar. Tak lama kemudian, mereka meninggalkan rumah dan berapparate. Meninggalkan Xeno yang masih pingsan di ladang.

Lima detik kemudian, mereka muncul disebuat rumah yang megah seperti kastil para bangsawan dengan kubah-kubah yang menjulang tinggi. Suasana dirumah itu mencekam sekali, Luna merasakan bulu kuduknya merinding dengan suasana mencekam itu. Para penjaga gerbang membukakan gerbang yang luar biasa megahnya itu. Luna yang masih setengah tersadar, melihat ada air mancur megah dengan ukiran ular-ular yang besar. Ia juga melihat patung basilisk berdiri dengan megahnya diatas air mancur itu. Luna, yang diseret jalan oleh Dolohov dan duo Lestrange. Mereka nampak sama sekali tak peduli jika Luna masih terluka.

Diatas rumah itu, ia bisa melihat tengkorak berlidah ular menyelimuti rumah bergaya tahun 1500 an itu. Satu hal yang mengganggu pikirannya, ia tampak tak asing dengan rumah itu. Mungkin ia pernah melihatnya disuatu tempat, tapi ia tidak ingat pasti. Kepalanya terlalu berputar-putar, membuat dirinya tidak ingat apapun selain dirinya sedang diculik. Itu saja.

"MALFOY MANOR"

Sebuah tulisan berhuruf perak terpampang diatas pintu rumah itu berhasil ditangkap oleh manik biru Luna yang menahan rasa sakit. Sejenak ia sedikit terkejut karena Malfoy Manor adalah rumah dari para Malfoy, yang mana termasuk Lucius Malfoy—yang terakhir kali ia temui satu tahun lalu. Disamping itu, Luna mengira Death Eaters akan membawa mereka di Riddle Manor, bukannya ke Malfoy Manor. Dan hal lain yang muncul dikepalanya adalah, ia akan bertemu Lucius lagi. Entah ini keberuntungan atau malapetaka, ia hanya bisa berharap yang terbaik...

BERSAMBUNG

A/N : Yosh, bagaimana chapter satu ini? I always bad at the beginning! DAMMITT!

*tarik nafas* as always, kritik dan saran serta masukan akan selalu diterima dengan baik. Kesalahan-kesalahan murni punya saya. So, kalau ada kesalahan monggo silakan diingatkan saya-nya.

Jason Isaacs : Wherever you go, whatever you do, I will be right here waiting for you~~

Shad'z : ciee nyanyi ciee

Jason Isaacs : I sang for you, my love.

Shad'z : Awww thank you hun :*

Jason Isaacs : *sigh* So, review? *Smile*