Moku-Chan : Ehehehe... terima kasih sudah read dan review ;)

EnitaAndYKa : Ehehehe, terima kasih kak sudah read dan review! Ini chapter tiga-nya.

Lee : Dia setengah sadar setengah enggak, jadi dia linglung sendiri. Terima kasih sudah read dan review

Welly : Whuaah makasih banget kaaak! Ini update-nya!

Zhoeuniquee : Ha, kan ada Lucius yang sukak sama Luna ehehehe btw ini update-nya.

Sisca11367 : Soalnya saya cinta sama mas Lucius eheheheh

.

.

.

A/N : Well, FYI, chapter ini mungkin agak membosankan dan sulit ditulis. Bagi yang belum membaca WFM I, maka saya sarankan buat membacanya terlebih dahulu karena ada poin-poin penting yang mungkin tidak tercantum di fic ini. :)

.

.

.

Disclaimer : Punya JKR tercinta, tapi kapalnya punya saya /hush/

Warning : OOC yang sangat parah, tata bahasa yang mungkin agak berantakan. BERLAWANAN dengan isi buku ataupun film.

Title : Wait For Me II : The Path

Rating : T wae lah

Genre : Romance, Drama, dan Action dikit.

Sumarry : "Saat ia harus mengorbankan jiwa dan raganya untuk orang-orang yang ia cintai, hal yang ia takutkan akihrnya muncul didepan matanya. Lucius kehilangan arah untuk menuju."

.

.

.

Luna masih tidak sadarkan diri, ia masih terkapar diatas lantai penjara bawah tanah Malfoy Manor tanpa daya. Ia menahan sakit cruciatus yang diberikan oleh Lord Voldemort dan Lucius. Mungkin, Malfoy Manor adalah tempat terakhir yang ia lihat, dan mungkin hari itu juga adalah hari terakhirnya. Luna pasrah, ia tahu jika dirinya tidak akan pernah bisa melawan. Tetapi, ia memiliki sebuah harapan jika suatu nanti, Lord Voldemort akan bisa dikalahkan, dan tak ada yang hidup dalam ketakutan lagi.

Sedikit didalam hatinya, Luna masih berharap jika Lucius masih peduli terhadapnya, barangkali untuk tetap membiarkannya hidup atau membantunya untuk kabur. Luna tidak tahu jika Lucius sebenarnya diam-diam sudah berpihak ke Dumbledore, bahkan sebelum Snape menjadi mata-mata. Luna juga tahu jika Lucius meng-crucio-nya karena sebuah alasan. Alasan yang menurut Lucius, lebih baik dirinya yang memberikan kutukan yang terlarang itu kepada Luna dari pada Voldemort yang memberikannya.

Tentu rasa sakit yang dihasilkan berbeda, antar Voldemort dan Lucius. Jika Lucius yang memberikannya, maka rasa sakitnya tidak akan separah yang diberikan Lord Voldemort. Luna menyimpulkan demikian karena ia yang merasakan. Rasa sakitnya berbeda. Cruciatus dari Voldemort terasa seperti sengatan listrik berjuta-juta volt yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Sementara dari Lucius, ia hanya merasakan sengatan listrik yang menjalar disetiap uratnya.

Tapi, intinya adalah cruciatus tetap menyakitkan walau level terendah sekalipun.

Sementara Luna masih mencoba untuk duduk dan mengatur nafasnya untuk meredakan rasa sakitnya, Lucius masih nampak gusar. Ia berjalan dari ruang penyimpanan ramuan, menuju ke Snape yang masih menunggu dirinya sambil menikmati segelas wine. Ia meletakkan wine-nya di meja, melihat Lucius jalan sambil membawa nampan. Diatas nampan itu terdapat sepiring makanan, air putih dan segelas ramuan penangkal rasa sakit cruciatus. Ia memandang kawannya ini dengan kesal,

"Lucius, kenapa tidak kau sendiri saja yang mengantarkannya? Kau terlihat benar-benar panik," ujar Snape. Ia menyilangkan kedua tangannya diatas dada, membuat kesal seakan dirinya ikut kesal melihat Lucius. "Mungkin kau akan lega setelah melihatnya sendiri." Severus menambahkan.

"Tidak, Severus! Kau harus membantuku, aku tidak siap," ujar Lucius. pria berambut pirang platina itu mendengar Snape mendesah kesal. "Tolong, berikan makanan dan ramuan ini padanya. Dan tolong pastikan, ia menghabiskannya."

"Astaga, Lucius! kau membuatku seolah-olah aku ini kekasihnya," Snape mencemooh, memberikan sarkasme disetiap nadanya. Lucius tidak memprotes lagi, ia menyerahkan nampan itu kepada Snape yang diterimanya dengan santai.

-OoooOoooO-

Severus Snape menuruni menuruni tangga yang gelap menuju tempat dimana Luna ditahan. Merapalkan mantra pengedap suara dan mantra khusus agar tidak ada yang bisa masuk kesana. Tangannya memegang sebuah gelas berisi ramuan penghilang rasa sakit yang ia ambil dari lemari ramuan. Ketika sampai, Lucius melihat Luna masih tergeletak dengan nafas tidak beraturan. Nampaknya Voldemort telah menyiksanya dengan Crucio tertingginya sehingga ia bisa terluka separah ini.

Luna samar-samar mendengar seseorang datang, namun dirinya terlalu lemah untuk membalikkan badannya yang terkapar, apalagi untuk berdiri. Langkah kaki itu berat, dan ia tidak tahu siapa itu.

"Lumos maxima." Snape berbisik.

"Si-Siapa disana?" Luna memanggil pelan-pelan begitu melihat cahaya datang.

"Miss Lovegood!" Severus mempercepat langkahnya menuju Luna yang terkapar.

Snape meletakkan nampan yang ia bawa di meja kecil yang tak jauh disampingnya. Ia kemudian membantu Luna untuk bersandar di dinding. Snape merasa iba dengan sandra sekaligus salah seorang muridnya yang cerdas ini. Ia merapalkan beberapa mantra untuk membantu Luna menghilangkan rasa sakit di dalam tubuh Luna.

Saat Snape menodongkan wand-nya ke Luna, ia bisa merasakan semua isi perutnya bergelombang. Ia juga merasakan ada cairan anyir dari dalam mulutnya, membuat Luna mual dan memuntahkan darah kental agak kehitaman. Tangan Snape mencegah Luna agar tidak terjatuh, namun nampaknya Luna terlalu lemah. Snape pun membaringkan Luna di ranjang tanpa kasur, ia sekali lagi harus memastikan Luna meminum ramuan yang ia racik sebagai persediaan obat untuk keluarga Malfoy. Ia sudah menjadi kepercayaan Lucius sejak lulus dari Hogwarts.

"Profesor Snape?" Luna berbicara, ia agak terkejut. Ia mengira orang yang menolongnya adalah Lucius, tapi ia salah.

"Miss Lovegood." Snape balik memanggilnya. Ia berjalan mengambil ramuan yang ia letakkan di meja kecil tadi.

Snape memberikannya kepada Luna, menyuruhnya untuk meneguknya sampai habis. Ramuan itu tidak menghilangkan rasa sakit sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat Luna bisa beristirahat sementara tubuhnya menyembuhkan diri secara alami. "Minum ramuan ini, Miss Lovegood. Dan kau tidak perlu khawatir aku akan meracunimu." Snape bersuara dengan nada sinis seperti biasa.

"Dimana Mr Malfoy?" Luna bertanya, langsung pada inti pembicaraan.

"Dia sedang pergi." Snape menjawab dingin.

Ia memandang Luna dengan mata hitamnya yang tajam, wajahnya tak berekspresi namun ia didalam pikirannya terdapat jutaan pikiran yang melayang-layang. Ia tidak begitu mengenal sosok Luna Lovegood, tapi Snape ingat jika ia mendapat nilai cukup bagus di pelajarannya. Selain itu, kedekatan Luna dengan Potter juga membuat Snape lebih waspada untuk mengantisipasi Dark Lord menculik orang-orang terdekat Potter.

"Pergi kemana?" Luna bertanya, kemudian meneguk ramuan itu sampai habis.

Snape tidak menjawab apapun, ia hanya melihat Luna dengan pandangan mata dingin. Snape tidak akan menjawab, dan sama sekali tidak mempunyai rencana untuk memberikan jawaban kepada Luna. Walaupun tidak mengenal Luna, tapi ia tahu jika Luna seorang Ravenclaw, dan jelas ia tidak akan berhenti pada satu pertanyaan saja. Ia aka terus menggali sampai menemukan apa yang ia cari. Gali terus sampai menemukan harta karun, kira-kira begitu analoginya.

Snape langsung berbalik, meninggalkan ruang bawah tanah. Langkah kakinya yang berat semakin terdengar samar seraya Snape sudah mencapai ujung ruangan. Ia mengambil tongkat sihirnya, berencana untuk mematikan lampu sihir yang keluar dari tongkat sihirnya.

"Profesor Snape, tunggu!" Luna bersuara, mencegah Snape dari kegiatannya; meninggalkan ruang penjara bawah tanah Malfoy Manor.

"Ada surat dibawah piringmu. Itu dari Lucius." Snape menjawab, seraya berjalan keluar tanpa meng-nox kan lumos maxima nya.

-ooOOoo-

Lucius duduk di singgasananya dengan jutaan pikiran. Ia tampak seperti pengembara yang tidak tidur selama beberapa hari—atau bahkan mungkin beberapa minggu. Meskipun Narcissa sudah membujuknya, tapi ia masih belum bisa tenang. Pasalnya, ia mengambil taruhan yang besar demi menyelamatkan Luna beserta keluarganya. ini adalah janji yang harus ia penuhi atau dia sendiri yang akan mati oleh janjinya yang ia ingkari. Ia seharusnya memikirkan semua ini sebelum memberikan sumpahnya kepada Dumbledore dulu.

Yah, benar apa kata pepatah yang berbunyi; "hidup tidak seperti meminum cokelat panas. Melainkan hidup itu seperti memakan sepiring cabe; apa yang kau makan hari ini, mungkin baru akan membakar bokongmu besok."

"Lucius, kau baik-baik saja?" Tanya Narcissa, membuyarkan lamunan suaminya. Ia langsung duduk disofa, sebelah Lucius. "Kau benar-benar harus istirahat," sambung Narcissa.

"Uh, aku baik-baik saja," jawabnya datar, ia sama sekali tidak memandang Narcissa.

"Jangan bohong padaku, Lucius. Kau tidak tidur selama tiga hari!" Suara Narcissa agak memekik, tapi ia berkata begitu karena ia peduli dengan suaminya yang terlihat seperti gembel.

"Bagaimana aku bisa tidur jika pikiran ku tidak tenang, Cissy," Lucius mendesis, namun ia menjaga nada bicaranya tetap datar jadi ia tidak harus bertengkar karena hal yang tidak perlu dengan istrinya.

"Aku mengerti, Lucius. Tidak mudah berada diposisimu, tapi kau juga harus memperhatikan kondisimu. Lihatlah ke cermin! Kau bukan seperti orang yang ku kenal dulu," balas Cissy. Tidurnya sendiri juga tidak bisa setenang dulu. Jauh dalam dirinya, ia mendukung Potter. Hanya dia satu-satunya yang bisa mengakhiri Voldemort dan membebaskan dunia dari cengraman kegelapan. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti permainan yang dibuat Voldemort. Jikalau ada kesempatan untuk menyerang, ia akan melakukannya demi putranya; Draco.

Sementara Lucius, merasa ada suara didalam hatinya jika ia harus menceritakan ini kepada Narcissa. Ia mungkin bisa sedikit membantunya nanti, tapi akan ada harga yang harus ia bayar. Akan ada tangan kenyataan yang akan menampar wajahnya dengan keras. Tapi ia tetap tidak akan menceritakan ini kepada siapapun termasuk Narcissa—belum. Meskipun keberadaan Dumbledore masih tidak diketahui; pria tua itu setidaknya telah membantu secara diam-diam dengan memberi perlindungan kepada beberapa penyihir penting yang dianggap target oleh Voldemort.

Ia belum tahu tentang penculikan Luna Lovegood.

Sebuah ingatan tiba-tiba terbesit didalam pikiran Narcissa. Rasanya begitu aneh, saat ia melihat Luna rasanya ingatan-ingatannya saat sekolah dulu selalu muncul. Ingatan dimana banyak kejanggalan saat Luna datang dan mengaku sebagai siswa pindahan dari Amerika. Yang pertama, nada bicaranya sama sekali tidak menunjukkan jika Luna memiliki aksen Amerika. Dan yang kedua, yang mana ini merupakan hal paling mengganjal, saat Luna meninggalkan tahun 1971, tidak ada pemberitahuan atau perpisahan yang dibuat oleh Hogwarts.

Kenapa Narcissa berpikir ini aneh? Karena biasanya jika ada siswa yang pindah maka satu hari sebelumnya pasti ada pesta perpisahan. Namun saat itu tidak ada. Hanya pemberitahuan dari Dumbledore jika Luna kembali ke Amerika untuk urusan keluarga mendadak. Itu terdengar janggal ditelinga Narcissa. Yang jauh lebih aneh lagi, ia diberi oleh Luna sebuah tutup botol butterbeer yang masih ia simpan. Ia ingat betul kejadian di Hogsmead saat itu.

"Hey Butter! Kemari kau!" Teriak Bella dari meja tempat ia duduk.

"Hai Bellatrix!" sahut Luna dengan wajah datar. Narcissa mengangguk, seolah mengatakan 'Kau boleh meninggalkanku sekarang, Bella.' Tanpa bertanya lagi, Bella meninggalkan mereka berdua dan memberikan kesempatan bagi Narcissa untuk berbicara dengan Luna.

"Hai Butter! Aku Narcissa Black." Ucap wanita yang akrab disapa 'Cissy.'

"Hai, Narcissa Ma—Black. Aku Luna Butter, panggil saja aku Luna." ucap Luna agak kikuk karena hampir menyebut nama Narcissa Black dengan Narcissa Malfoy.

"Panggil aku Narcissa."

Luna bertanya"tanya apa gerangan yang menyebabkan Narcissa Black memanggilnya dan mengajak dia bicara empat mata. Luna menerka"nerka jika ini pasti ada kaitannya dengan Lucius. Ah, apapun itu, ia akan mencoba untuk menjawab sebisanya.

"Yahh..." Ucapanya terpotong. Suara seorang wanita paruh baya menggangggu percakapan mereka, wanita berpakaian kusam dengan apron yang masih menempel di badannya.

"Bisa ku catat pesanan kalian, nona-nona yang cantik?" tanya wanita itu sopan. Ditangannya, terletak sebuah buku catatan kecil dengan pena yang siap mencatat apapun yang mereka pesan.

"Aku ingin segelas coklat panas, please." Balas Luna santai dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.

"Dan, bagaimana dengan Anda, nona Black?"

"Secangkir teh panas saja." Balas Cissy dengan nada biasa.

"Baiklah nona, silakan tunggu." Balas pelayan itu ramah. Mereka menunggu sampai wanita paruh baya itu meninggalkan tempat mereka.

Narcissa menghela nafas, "Jadi, Luna, aku ingin bertanya sesuatu padamu."

"Tanyakan saja, Narcissa. Akan ku jawab sebisaku." Balas Luna.

Narcissa terkekeh mendengarnya, "Jadi, kudengar kau sedang dekat dengan Lucius, kan?"

Deg...

Dugaannya benar jika Narcissa repot-repot memanggilnya hanya ingin tau tentang dirinya dan Lucius. "Aku hanya berteman dengannya, Narcissa. Teman dekat, seperti Lily dan Snape, tidak lebih dari itu." Jelasnya. Faktanya, jika memang mereka hanya sedekat Lily dan Snape, kenapa mereka berciuman tempo hari?

Sekejap, ia merasa ada rasa cemburu yang tiba-tiba datang menghampirinya. Akan tetapi ia mencoba untuk tetap memasang wajah datar dan menyembunyikan rasa terbakar dalam dirinya.

"Tapi setahuku, ia jarang berteman dengan siapapun. Apalagi dari kalangan non-Slytherin sepertimu." Balas Cissy yang masih bersikeras untuk tidak percaya pada Luna. Jika harus dikatakan, maka keduanya sama-sama cemburu . Terdapat puluhan gadis yang dipatahkan hatinya oleh Lucius, tetapi seakan para gadis itu tidak lelah untuk menaklukan hati seorang pangeran Slytherin yang pesonanya tiada tara itu. Termasuk dua gadis muda yang tengah mengobrol ini.

"Seseorang memiliki hak untuk berteman dengan siapa saja. Jika aku jadi Lucius, aku akan mencari banyak teman..." Luna berhenti sebentar, dan mengangkat alisnya.

"Tunggu sebentar, apakah kau cemburu padaku, Narcissa?" Tanya Luna ceplas-ceplos.

Terlihat ekspresi kaget dari wajah Cissy yang cantik nan elegan. Sebuah seringai muncul, "Kami sudah dijodohkan sejak kami masih kecil. Aku sudah menyukainya sejak pertama aku melihatnya. Terdengar sangat konyol memang jika 'perjodohan' masih saja ada di tahun 1970, tapi memang itu yang sedang terjadi."

Luna tercengang saat mendengar itu dari Narcissa. Ia bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, 'Kenapa ia tidak pernah menceritakan hal ini padaku?'

Luna tersenyum getir mendengar ucapan Narcissa, dengan raut wajah yang tidak berubah ia meyakinkan Narcissa, "Aku tau bagaimana perasaanmu, Narcissa. Tapi, percayalah padaku jika dia akan menjadi milikmu." Balas Luna dengan nada dan ekspresi serius.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu? Aku melihat jika ia merasakan sesuatu padamu juga."

Luna menghela nafas lagi, memandang mata Narcissa. "Aku tau karena aku yakin. Dan aku yakin karena aku tau." Balasnya, membuat Narcissa semakin bingung.

Percakapan mereka terhenti ketika pelayan paruh baya itu membawakan pesanan mereka. "Ini pesanan kalian, nona-nona. Selamat menikmati!" Ucap pelayan itu dengan ramah.

"Terimakasih." Balas Luna dan Cissy hampir bersamaan. Pelayan itu mengangguk dan meninggalkan mereka.

"Lantas, bagaimana kau bisa tau?" balas Narcissa.

"Entahlah, aku hanya yakin. Aku tidak akan lama kok disini." Balas Luna.

"Maksudmu?" Tanya Narcissa penasaran.

"Maksudku, aku akan kembali ke Amerika dalam beberapa hari atau beberapa bulan atau beberapa minggu kedepan." Jelas Luna, berbohong.

"Kenapa?" tanya Narcissa lagi.

"Karena masalah keluarga, mau tak mau aku harus kembali kesana lagi." Luna mengambil coklat panasnya, dan menyesapnya sedikit.

"Oh, bisa ku lihat." Balas Narcissa singkat. Luna dapat melihat sedikit ekspresi lega diwajah lawan bicaranya. Seakan ia senang jika satu-satunya penghalangnya akan pergi. HA!

"Percayalah padaku, Narcissa. Dan satu hal lagi..." Luna terhenti, melepaskan kalung dari lehernya. "Ambillah ini!" sambungnya sambil menodongkan tangan kanannya ke arah Narcissa.

"Untuk apa?" tanya Narcissa.

"Ini bukan kalung yang mahal, tapi aku berikan ini agar kau mengenali aku esok hari." Jelas Luna. Narcissa menerima kalung itu. Kata 'esok hari' yang di ucapkan Luna terdengar ambigu di telinga Narcissa. Membuatnya semakin bingung saja.

Ia meraih kalung tutup butterbeer dari tangan Luna, "Terima kasih. Tapi apa maksudnya?" Narcissa semakin bingung.

"Kau akan mengerti jika waktunya tiba, Narcissa." Ucap Luna. Narcissa membalasnya hanya dengan anggukan, meskipun dalam hati ia masih bertanya-tanya kenapa Luna memberikan kalung aneh itu padanya.

Narcissa langsung menjingkat dari duduknya, membuat Lucius langsung memandangnya. Wajahnya seakan-akan telah menemukan sesuatu yang hilang didalam kepalanya. "Ada apa, Cissy?"

Narcissa memandang Lucius penuh horor, seakan-akan matanya berlubang. "Dia memberikan aku sesuatu." ucapannya terpotong. Narcissa berbalik, mengambil sesuatu dari kotak yang berada di samping perapian. Kotak itu nampak tidak terjamah selama bertahun-tahun, namun tetap bersih karena pekerjaan peri rumah keluarga Malfoy.

"Siapa?" Lucius bertanya, tidak tahu apa yang dimaksud oleh istrinya.

Ia membukanya, melihat kalung tutup botol butterbeer itu masih disana. Ia memungutnya perlahan-lahan—sedikit dramatis. "Dia memberikanku ini." Ujar Narcissa, sambil menunjukkanya kepada Lucius. Lucius mengambilnya dari Narcissa, dan melihat benda itu dengan seksama.

Wajahnya langsung mengeras. Ia hanya tahu siapa satu-satunya orang yang mengenakan kalung aneh seperti itu. Ditambah, ia kenal betul dengan tutup botol butterbeer itu karena kalung yang dibawa Narcissa itu adalah kalung yang digunakan Luna saat ia muncul. Bagaimana bisa ia tidak ingat kalung itu jika ia pernah menyentuh benda itu? Tapi, kapan Luna memberikannya? Lucius tidak mengingat Luna dan Narcissa pernah berbicara satu sama lain.

"Tutup botol butterbeer? Apa maksudnya, Cissy?" Tanya Lucius, ia berpura-pura tidak sengaja menjaga ekspresinya seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Dan memang ia tidak tahu apa-apa.

Narcissa menggeleng, tapi ia memberikan kalung itu kepada Lucius. Laki-laki berambut pirang platina itu memandangnya lagi, kali ini lebih lekat. Nafasnya semakin tertahan begitu mengetahui jika kalung itu benar-benar milik Luna. "Butter memberikan ini kepadaku," Narcissa mengatakan.

"Luna Butter?" Narcissa mengangguk. "Tapi...apa maksudnya?" Suara Lucius lirih, ia terguncang.

Narcissa menggelengkan kepalanya, rambut yang ia tata sedikit berantakan, hampir menutupi keningnya. "Ia hanya mengatakan jika tujuannya memberikan kalung ini adalah agar ia bisa mengenali dirinya suatu saat nanti," jelas Narcissa. "Aku masih tidak paham maksudnya sampai saat ini," Narcissa menambahkan, sama bingungnya.

"Tapi, apa maksudnya?" Lucius bertanya lagi, kali ini ia memandang Narcissa dengan kedua matanya.

"Entahlah, Lucius. Saat aku melihat Lovegood, rasanya aku langsung teringat pada Butter." Itu bukanlah jawaban yang diharapkan Lucius. Jawaban yang ingin didengar Lucius adalah jawaban dari pertanyaan 'kenapa ia memberikan tutup botol butterbeer kepada Narcissa? Apa yang ingin diberitahukan oleh Luna kepada Narcissa?'

"Butter mungkin hanya memberikan itu sebagai tanda pertemanan. Ia mungkin mencoba berteman denganmu karena kau dan Bella selalu sinis kepadanya," Lucius mencoba memberikan penjelasan logis. Ia tidak ingin Narcissa sampai menduga, apalagi mengetahuinya. Walaupun sebenarnya, Narcissa sudah merasakan ada yang janggal dengan Butter.

"Tapi Lovegood juga mengenakan kalung tutup butterbeer," Narcissa akhirnya membantah. Lucius terasa seperti dicekik oleh Hagrid. "Apa jangan-jangan Butter adalah Lovegood?" Dugaan Narcissa berhasil menohok Lucius lebih keras lagi. Ia bahkan tidak bisa menelan ludah, meskipun wajahnya terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.

Lucius menarik nafas panjang, mencoba mencari alasan-alasan yang logis. Ia membenarkan duduknya untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Lalu setelahnya ia melemparkan pandangan kepada Narcissa dengan dengusan seakan-akan Narcissa sedang melucu. Lucius bersuara, "Jangan konyol, Cissy! Itu hal paling mustahil yang pernah kudengar. Jika Butter adalah Luna, maka tidak mungkin ia bisa sama." nadanya begitu biasa.

"Tapi mereka begitu mirip, Lucius. Aku tahu kau memikirkan hal yang sama." Suara Narcissa agak meninggi walaupun lebih berkesan seperti ditahan.

Lucius tertawa aneh, seakan-akan menganggap itu adalah lelucon. Namun faktanya, ia sedang mentertawakan dirinya dan hidupnya yang menyedihkan. Ia memijit keningnya, lalu berkata, "Harus kuakui jika mereka memang sedikit mirip. Tapi mengatakan jika Butter adalah Luna merupakan hal konyol, dan kau sendiri tahu jika itu tidak mungkin." Lucius memilah-milah setiap katanya dengan baik sebelum mengucapnya.

Narcissa memandang Lucius lebih dalam lagi, mencoba mencari-cari apapun yang ditunjukkan oleh Lucius dimatanya. "Mungkin kau benar. Banyak penyihir yang mempunyai wajah mirip sekarang," jawab Narcissa menyerah. Lucius diam-diam merasa lega karena Narcissa akhirnya menyerah. Ini adalah pertama kali dalam pernikahan mereka, Lucius dan Narcissa membahas tentang Butter. Lucius seperti janjinya, berlaku seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi.

Ia harus melakukan ini—berbohong kepada siapapun termasuk kepada Narcissa atau bahkan kepada dirinya sendiri. Ia harus terus menekan angka kematian siapapun serendah mungkin melalui hal kecil sekalipun; seperti memilah-milah perkataan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Lucius tidak bisa menerima resiko apapun. Ia harus memikirkan setiap langkah dengan bijak.

-ooOOoo-

Luna selesai dengan ramuan yang diberikan Snape. Ia meminumnya sampai habis meskipun rasanya begitu menyedihkan. Tapi setidaknya ia bersyukur karena Snape masih mau memberikan makanan dan ramuan kepadanya. Ia bahkan tidak mematikan Lumos Maxima yang ia ucapkan. Jika Luna tidak salah menghitung, mungkin Lumos Maxima itu akan benar-benar meredup dalam beberapa menit. Saat ini sudah mulai meredup karena penggunanya berada di jarak yang cukup jauh.

Luna memindahkan piring itu kedekat pintu agar diambil oleh siapa saja yang akan mengambilnya nanti. Namun saat ia merasakan ada sesuatu yang menempel di bawah piring. Ia tidak menyadari itu karena tenaganya terlalu terkuras untuk memperhatikan hal detil. Ia mengambilnya, dan itu merupakan sebuah surat yang ditulis dengan cepat disebuah berkamen tua berukuran sepuluh sentimeter dimasing-masing sisinya.

Luna mendekatkannya lagi dicahaya yang mulai meredup. Ia agak kesulitan membaca tulisan itu, namun ia mengenali siapa yang menulis surat kecil tersebut. Lantas ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, meskipun belum mengetahui apa isi dari surat tersebut.

Luna Lovegood,

Aku minta maaf atas apa yang telah terjadi, dan apa yang telah kulakukan padamu. Aku tidak punya pilihan lain, karena Dia akan menyiksamu lebih sakit daripada yang aku lakukan padamu. Aku akan mengerti jika kau mungkin akan membenciku setelah ini.

Aku berjanji untuk memastikan keselamatanmu, meskipun kau mungkin harus tertahan disini agak lama. Aku akan tetap mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sini dengan selamat. Selain itu, aku mohon, aku mohon kepadamu untuk tidak melakukan hal-hal bodoh yang akan membuatmu berada dalam bahaya. Itu adalah satu-satunya cara agar kau tidak disiksa seperti tadi, dan memperbesar peluangmu untuk selamat.

Untuk sekarang, aku hanya bisa memintamu untuk bersabar dan teruslah berdoa jika semua akan baik-baik saja. Aku akan mengupayakan yang terbaik untukmu.

Bertahanlah, Luna.

Lusie.

P.s. : surat ini akan terbakar sendiri jika kau menghendakinya. Tapi jika kau ingin menyimpannya, pastikan hanya dirimu yang mengetahuinya. Aku tahu kau mempunyai banyak hal untuk disampaikan kepadaku. Kau bisa mengatakannya kepada Snape, dia akan menyampaikannya padaku.

"Dari sekian banyak nama samaran ia memilih 'Lusie'?" Luna bergumam sendiri. "Kau benar-benar aneh, Lucius." Ia berkata demikian seakan-akan surat itu adalah Lucius.

Dan disana, surat itu benar-benar berakhir. Luna tidak bisa menahan senyumnya saat membaca tambahan di bagian bawah. Ia—Lucius masih begitu percaya diri jika Luna akan menyimpan suratnya. Yah, meskipun kenyataannya Luna akan menyimpan surat itu. Bukan karena alasan khusus seperti 'kenang-kenangan' dari Lucius atau semacamnya.

Melainkan, ia percaya jika suatu hari nanti kesulitan akan menjerat Lucius begitu Dark Lord kalah. Dan ia berencana menggunakan surat itu untuk membela Lucius jika memang benar-benar tidak ada yang membelanya. Mungkin jika hanya Luna satu-satunya pembela, setidaknya hukuman bagi Lucius akan sedikit berkurang nantinya. Dan Luna tidak harus merasa bersalah jika orang yang menolongnya menjadi tersiksa. Lagi, ini bukan alasan pribadi.

Dirinya saat ini dalam proses 'mencoba melupakan Lucius' atau 'move on'dari Lucius. Ia sudah tidak ingin memiliki perasaan terlarang kepada seorang yang sudah beristri. Selain itu, ia menemukan dirinya tengah menyukai Neville. Bukan suka dalam artian lebih tinggi, melainkan hanya sebatas suka. Cintanya yang sebenarnya masih kepada Lucius; entah Lucius tahun 1971 atau Lucius tahun ini, Luna tidak tahu pasti. Mereka tetap orang yang sama.

Tapi rasa suka bisa tumbuh bukan? Itu berarti ada kesempatan bagi Luna untuk mencintai orang lain. Yang muda dan single.

Dan Luna memanfaatkan Neville untuk bisa pergi dari kehidupan Lucius. Terdengar kejam memang, tetapi ia harus melakukan ini atau akan ada hati yang terluka. Narcissa misalnya.

Yah, segala sesuatu tidak bisa dipaksakan memang. Luna masih mencintai Lucius, dan itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan untuk saat ini. Keadaan yang buruk membawanya kembali bertemu dengan Lucius, dan membuat perasaan itu semakin dalam. Kadang ia merasa, sebanyak apapun ia menyukai Neville, namun pada akhirnya kepada Lucius-lah cintanya berlabuh.

Luna tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Cinta bukanlah hal yang bisa dikendalikan oleh manusia

Benar, bukan?

Luna melipat surat itu dan menyelipkannya di kaos kaki yang ia pakai. Setidaknya, dengan surat itu ia tidak harus merasa benar-benar sendiri. Meskipun hanya secarik surat yang ditulis dengan buru-buru oleh Lucius, itu dapat menghangatkan hatinya.

TO BE CONTINUE...

A/N Whoah! Akhirnya saya update setelah sekian bulan hiatus. Hasil yang buruk, and i know it. Saya akan terus berusaha menulis dan menyelesaikan fic-fic multichapter yang saya buat meskipun harus memakan waktu bertahun-tahun.

Saya juga minta maaf karena update di chapter ini sangat buruk. Dan jujur ini update terburuk saya di WFM II. Saya benar-benar akan berusaha sekuat tenaga :')

So, sebagai permohonan maaf, saya mau minta voting.

Kepada siapa Luna harus dikapalkan?

A* Lucius

B* Neville

C* Lainnya.

Silakan ditulis di kolom review. Setiap kritik, saran dan masukan akan selalu saya terima dengan senang hati. Jika ada pertanyaan, silakan ditanyakan. Akan saya jawab sebisanya :)

Need answer: itu Lumos Maxima bisa meredup sendiri yah? Soalnya saya pernah baca di forum HP kalau lumos maxima bisa redup.