Don't Make Me a Jerk

angst, romance, lil bit comedy.

HunHan, boyxboy, Rated M!

.

.

.

Seorang wanita yang terduduk lemah di atas kursi roda itu sedari tadi terlihat tersenyum-senyum sembari menatap ke arah ponselnya sesekali mengusap layar pada ponselnya.

"Apa yang kau lakukan hum?"suara berat seorang pria terdengar, gadis itu dapat merasakan sepasang tangan kekar tengah memeluknya dari belakang saat ini.

Wanita itu tersenyum manis "jo eun mengirimkan foto-foto minguk padaku, lihat betapa lucunya dia"kim so eun memperlihatkan foto seorang balita laki-laki yang saat ini terpampang di ponselnya pada pria di belakangnya.

Pria itu tersenyum "kau ingin bayi seperti itu juga?"tanyanya sembari mengecup pelipis so eun.

Air muka so eun berubah keruh, matanya sedikit berkaca, ia lalu tersenyum kecut dan mengangguk. Pria itu tersenyum kecil, lalu mengecup kening so eun sejenak "nanti, saat kau sembuh, kita akan membuat banyak bayi"

So eun terkekeh geli mendengar perkataan konyol suaminya itu "baiklah, baiklah oh sehun, aku akan cepat sembut"

Oh sehun, pria itu menatap istrinya itu sambil mengerucutkan bibirnya. Ia sedikit tidak suka jika wanita kesayangannya itu memanggilnya 'oh sehun' so eun tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu lantas mengecup bibir sehun sekilas "maksudku, sayangku, suamiku"ujarnya mengkoreksi perkataannya sebelumnya.

Sehun tersenyum lebar, lalu mengambil ponsel so eun dari tangannya. "Sayang, sebentar lagi saja, aku masih ingin melihat foto minguk"rengek so eun.

Sehun menggeleng tegas "kau tidak boleh berlama-lama memegang gadget, dan sekarang waktunya meminum obatmu dan pergi tidur. Wajah so eun terlihat sedikit kecewa, ia tahu kalau sehun adalah orang yang tegas kalau sudah menyangkut kesehatannya, bahkan jika telat meminum obat selama 5 menit pun, sehun akan memarahinya habis-habisan.

Namun semua itu adalah bukti betapa besarnya cinta sehun pada so eun. Mereka bertemu saat kuliah, saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan oh sehun yang dulunya terkenal playboy itu mampu di sihir oleh kecantikan so eun yang ketika itu menjadi mahasiswi paling cantik di kyunghee university.

Berpacaran selama 5 tahun, semua berjalan lancar, melanjutkan ke jenjang pernikahan, pergi bulan madu dan saling mencumbu di atas ranjang. Namun semua kebahagiaan itu seakan sirna di lahap api ketika diagonsis mengatakan bahwa so eun menderita kanker darah.

Meski begitu, mereka tetap berusaha tertawa di atas penderitaan. Berusaha tertawa ketika mereka harus berjalan di atas pecahan beling. Mereka berusaha bahagia sekuat tenaga selama satu tahun terakhir ini.

Sehun kini membaringkan so eun di atas tempat tidur dan membenahi letak selimutnya. So eun menatap sehun sedikit tidak suka "hari ini tidurlah, kau selalu pulang dalam keadaan mabuk, aku tidak suka. Aku takut kalau terjadi apa-apa, tidak lucu kalau kau pergi ke surga lebih dulu daripada aku"meskipun sehun tidak suka, so eun sudah menganggap kematian itu hanya lelucon baginya.

Sehun hanya diam tak mengindahkan perkataan so eun tentang kematian. "Tidurlah"jawabnya datar, so eun menghela nafas dan menurut. Tak lama kemudian wanita yang terlihat seperti cinderella di bawah remang sinar bulan itu terlelap.

Setitik air mata mengalir di pipi tirus sehun. Ia tidak akan pernah bosan memandangi wajah manis itu, ia akan selalu merindukannya. Namun apa yang bisa di lakukannya? Bahkan hartanya yang bertumpuk pun sama sekali tak berguna. Apa gunanya mereka tertawa ketika mereka di beritahu waktu hidup wanita itu hanya tinggal menghitung bulan.

Sehun meringis ketika teringat akhir-akhir ini so eun sering pingsan dan frekuensi mimisannya lebih sering daripada biasanya. Sehun yang hanya mampu membantu so eun menelan obatnya dan memeluknya ketika wanita itu meraung dan berteriak kesakitan karena kepalanya seakan ditusuk berkali-kali.

Bahkan ketika so eun berada di hadapannya saat ini, jantungnya tak bisa berhenti untuk gugup. Ia takut sewaktu-waktu so eun pingsan lagi dan tak pernah kembali lagi.

Sehun mengusap air matanya lantas mengecup kening so eun dengan lembut. Ia lalu keluar apartement untuk sekedar melepas stress dengan minum soju di kedai sekitar area gedung apartementnya.

.

.

.

Luhan menghela nafasnya lesu, sesekali melirik berkas lamaran kerja yang kini bertengger di atas pahanya. Sudah seharian ini ia mencari kerja, berkeliling kesana dan kemari namun yang di dapatnya hanya kata-kata tolakan.

Tentu saja, siapa yang mau menerima pria berbadan mungil yang hanya lulusan SMA itu? Ia hanya anak miskin yang bahkan memakai kaos kaki berlubang. Ia sebenarnya anak yang pintar, selama sekolah ia mendapat beasiswa penuh dengan nilai-nilai tingginya, namun ia tak dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi ketika suatu kecelakaan menimpa ibunya yang kini hanya memiliki satu kaki saja.

Keinginannya untuk bekerja begitu kuat. Dengan bekerja sebagai pegawai yang di bayar perjam, uangnya hanya bisa dipakai untuk makan dan beberapa kebutuhan lain. Ia begitu ingin menjadi pegawai tetap, dan membelikan ibunya kursi roda. Tapi bagaimana? Ia rasanya ingin menangis dan mati saja karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Bahkan ketika ia merelakan tubuhnya untuk bekerja sebagai kuli bangunan pun ia di tolak karena ukuran tubuhnya yang terlalu kecil.

Mau sampai mana letak kesialan luhan? Luhan menghela nafasnya kembali, lalu masuk ke dalam bis ketika bis datang. Ia sudah merindukan suara dan senyum ibunya yang mampu mengangkat segala bebannya. Luhan menatap bayang wajah manisnya di kaca bis yang tengah berjalan. Pikirannya kembali kepada kata-kata baekhyun, laki-laki yang menjajakan tubuhnya di sebuah diskotik, dua hari lalu ketika ia bekerja sebagai supir pengganti.

"Wajahmu manis, dan tubuhmu lumayan. Kau akan mendapat banyak uang dari para ajhussi tak normal itu jika kau bekerja sepertiku. Melayani orang tua itu tidak sulit, kau hanya harus menikmati penis mereka di lubangmu dan mendesahkan nama mereka, setelah itu kau akan dapat setidaknya uang 1 juta won. Lagipula tak semua dari mereka itu ajhussi tua, ada juga direktur muda. Kalau keberuntunganmu bagus kau bisa menikah dengan salah satu dari mereka, seperti yixing"

Kata-kata yang panjang dan vulgar itu berputar di kepalanya rentetan demi rentetan. Ia lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat "tidak luhan, kau bukan seorang pelacur. Kau adalah putra paling berharga untuk ibumu"ujarnya dalam hati.

Tak lama bis berhenti. Luhan tersadar dari lamunannya dan segera turun lantas berlari kencang menuju rumahnya yang tak jauh dari halte bis, hanya masuk beberapa gang kecil dan sekarang ia sudah sampai di rumah-flat- nya yang kecil dan kumuh.

"Aku pulang~"teriak luhan lantas masuk dan menemukan ibunya sudah duduk di atas meja kecil mereka dengan semangkuk sup berisi toge dan tahu.

"Aahh putraku sayang kau sudah pulang? Bagaimana?"

Luhan menghela nafasnya dan menggeleng pelan. Ibunya tersenyum canggung, lalu menepuk lantai menandakan luhan harus duduk disana "tidak apa-apa, kau pasti dapat suatu hari nanti, makanlah, ibu sudah memasak"

Luhan terlihat sedikit merengut "eomma! Sudah kubilang, ibu tidak perlu masak. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada ibu?"omel luhan.

Ibu luhan tertawa geli "aigoo, ini hanya sup taoge dan tahu, tidak akan membahayakan hanya memasak ini. Lagi pula ibu kan punya seya"ujar ibu luhan sembari menggedikkan dagunya ke arah sebuah tongkat kayu yang di beri nama seya.

Luhan hanya mampu menatap ibunya pasrah, ia lalu duduk di hadapan semangkuk sup itu, tanpa nasi ataupun makanan sampingan. Dalam keadaan ini luhan sudah tahu kalau mereka kehabisan beras lagi dan memilih diam tanpa harus bertanya dimana nasi? Atau dimana kimchi? Ia tau mereka tak punya uang cukup untuk bulan ini, jadi ia memilih tak bertanya dan memakan supnya dengan lahap.

Setelah selesai makan, luhan membersihkan meja dan mencuci mangkuk. Lalu membaringkan ibunya tak lupa menyampirkan sebuah selimut. Bahkan mereka hanya punya satu selimut. Luhan hanya memilih mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tidak kedinginan sama sekali meski pada faktanya malam itu begitu dingin. Yang luhan inginkan hanya ibunya selalu berada di sampingnya dan tersenyum padanya.

Ia mengecup kening ibunya sekilas"selamat malam"

"Selamat malam"

.

.

.

Sehun menghela nafasnya, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursinya. Rasa penat mendera seluruh tubuhnya setelah seharian berkutat dengan berkas-berkas yang tak akan di mengerti oleh orang biasa. Ia memijat kepalanya yang terasa berdenyut, rasa pening mulai menggerayangi ini dikarenakan dirinya yang semalam mabuk total, dan hanya dapat tidur selama tiga jam karena pagi ini dia punya jadwal meeting.

Tak lama suara pintunya terdengar diketuk.

"Masuk"ujarnya datar. Seorang pria berkulit tan kini masuk dan duduk di atas sofa tanpa meminta izin dari sehun.

"Aigoo, kau terlihat berantakan oh sehun ckckck"decak jongin, melihat sepupunya dengan perawakan berantakan. Matanya merah, rambutnya tak teratur, dan bibirnya pucat.

Sehun hanya diam tak menjawab sembari memejamkan matanya. "Apa istrimu membiarkanmu pergi dengan perut kosong lagi? Ahh, tentu saja, istri sedang sakit seperti itu apa yang bisa oh sehun harapkan?"ujar jongin terdengar sarkastik.

Sehun membuka matanya dalam sekejap lantas menatap jongin tajam. "Jika tidak punya urusan lain, sebaiknya kau pergi, kai"sehun berkata tajam. Jika sehun sudah memanggil jongin dengan sebutan kai-nama lain jongin- itu artinya dia sedang marah. Sementara yang di tatap hanya tertawa geli.

Sehun mulai merasa sedikit terusik dengan kehadiran jongin. Ia mengambil jas yang tergantung di tiang lalu melangkah pergi, namun langkahnya terhenti ketika suara jongin terdengar lagi "sehun, kau tau? Sebaiknya berhenti berakting seakan semuanya akan baik-baik saja. Kita semua tau so eun tidak punya harapan, jadi berhenti memasang wajah datar dan senyum itu. Jika kau pikir so eun bahagia dengan kau menutup-nutupi rasa tangismu, kau salah. Kau malah membuatnya sakit. Ia tau, ia tau kau menangis setiap malam, ia tau segala rasa sakitmu sehun"ujar jongin terdengar tajam.

Mata sehun mulai berkaca. Ia lalu bergegas menuju tempat parkir demi menyembunyikan air matanya. Mobilnya mulai melesat membelah Jalanan seoul, air matanya mengalir deras, dadanya sesak dan kepalanya seakan sedang di pukul dengan linggis.

Ia menghentikan mobilnya di depan gedung apartement mereka. Matanya menatap lurus ke arah so eun yang sedang bermain di taman depan gedung dengan adik iparnya. Nafas sehun tercekat, dadanya kembali sesak, air mata seakan tak pernah berhenti mengalir dari matanya.

Apa yang harus dia lakukan? Mengapa setelah ia menemukan cinta sejatinya, Tuhan mengubah takdir itu? Apa sehun melakukan suatu kesalahan besar? sehun rela melakukan apa saja demi mendapat kesehatan so eun kembali.

Sehun mencoba menenangkan dirinya lalu mengusap air matanya ketika tubuh so eun tiba-tiba ambruk dan adik iparnya terlihat panik di ujung sana. Sehun lantas bergegas menuju posisi so eun, jantungnya berdetak cepat, pikirannya kalut.

"Oppa, c-cepat! Bawa so eun unnie!"teriak so jung.

Sehun segera menggendong tubuh so eun dengan air mata yang kembali mengalir dan membaringkan tubuhnya di kursi belakang. Tangannya bergetar sampai kunci mobilnya pun terjatuh, ia mengambil kuncinya kembali, namun kunci itu tak kunjung masuk karena tangan sehun yang bergetar hebat.

"Arggggh!"teriak sehun frustasi lalu mengusap air matanya dengan kasar. Dengan tenang ia memasukkan kunci, lalu menginjak pedal gas melesat menuju rumah sakit.

Tubuh so eun kini di pindahkan ke ruang emergency. alat monitor jantung berbunyi begitu panjang, dan garis yang tertera disana begitu lurus tanpa ada sedikitpun gelombang. Para dokter mulai menempelkan alat pengejut jantung pada tubuh so eun. Sementara sehun terdiam dengan tubuh bergetar hebat dan pikirannya yang kalut. Sudah berulang kali ia mengucap doa agar istrinya itu kembali. Ia tidak mau berpisah tanpa mengucapkan selamat tinggal, terlebih lagi dia belum siap, hatinya sama sekali belum siap.

"Dia kembali"sang dokter mengumumkan. Tali yang mengikat sehun kuat-kuat seakan terlepas dan membuatnya lebih leluasa untuk bernafas. Rasa berat di bahunya seakan hilang entah kemana. Ia memejamkan matanya seiring dengan air mata yang jatuh sembari menepuk-nepuk dadanya pelan.

So eun kini terbaring lemas di atas tempat tidur ruang vvip. Sehun membelai rambut so eun dengan sayang tanpa melepaskan tatapannya pada wajah cantik so eun yang kini terlihat begitu lemah dan pucat.

Sehu menghela nafasnya, lalu mengecup kening so eun, menyalurkan segala rasa sayangnya pada so eun. Lalu melangkah keluar sekedar melepas rasa sakit yang kini menderanya sambil minum soju di kedai sekitar rumah sakit.

.

.

.

Sehun sudah setengah mabuk, tujuh botol soju yang kosong berdiri tegak di atas mejanya. Ia bangkit sempoyongan sambil mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan menaruhnya di atas meja. Ia lalu melangkah keluar dengan jalan yang sempoyongan.

Rasa dingin seakan menusuk kulitnya tanpa ampun, namun semua itu tidak menganggunya. Segala perasaan dan pikirannya sudah dikuras habis hanya untuk so eun. Seorang gadis ceria yang suka mengomel padanya ketika mereka masih kuliah.

Satu sudut bibirnya naik ketika ia mengingat kejadian-kejadian lucu saat ia dalam masa pendekatan dengan so eun. Rasanya ia ingin kembali memutar waktu, lalu menghentikan waktu agar bisa bersama so eun lebih lama.

Tapi, enam bulan? Apa yang harus dilakukannya untuk so eun? Enam bulan ini sangat berharga baginya dan juga bagi so eun. Hanya enam bulan tersisa bagi mereka untuk bersama jika vonis dokter benar-benar tepat. Lalu bagaimana jika tidak? Bagaimana jika kejadiannya lebih cepat? Sungguh ia tak mampu membayangkan so eun sudah terbuju kaku, ia terlalu takut untuk itu.

Ia menatap ujung sepatunya seiring dengan langkahnya yang kini tengah menuntunnya ke tengah jalan untuk menyebrang. Setitik air mata kembali mengalir di pipinya, ia terdiam sambil menahan nafas disana. Kakinya berhenti melangkah dan seakan tidak akan pernah melangkah lagi.

Teeeeeet! Suara klakson terdengar begitu panjang. Matanya mengedip ketika silaunya cahaya lampu mobil tengah melaju ke arahnya saat ini.

Sret, brukkk

Sehun terjengkang ke samping jalan, sementara seseorang kini tengah terduduk lemas di atas aspal. Kadar alkohol dalam darah sehun seakan hilang, dan masalah so eun terlupakan. ia terlihat terkejut lantas menghampiri lelaki yang tadi menyelamatkannya.

"Ya! Tak bisakah kau lihat bahwa lampu lalu lintas tadi berwarna hijau?!"teriak seorang pengemudi yang tadi hampir menabrak sehun.

Sehun terlihat sedikit murka "maaf, tapi kau juga salah. Kecepatan mobilmu itu sudah melewati batas aturan!"teriak sehun membuat si pengemudi terdiam namun terlihat masih menggerutu.

"Kau tidak apa-apa?"tanya sehun sembari menatap lelaki mungil di hadapannya.

Lelaki mungil itu mendongak dan mata mereka bertemu dalam jarak yang cukup dekat. Sebuah mata rusa yang seakan terselip sebuah bintang disana, sangat indah. Ini pertama kalinya sehun menganggap mata seseorang itu indah selain mata so eun, terutama orang tersebut adalah seorang laki-laki.

Luhan, nama lelaki mungil itu, ia tersenyum "aku tidak apa-apa. Hanya saja lain kali kau harus lebih hati-hati"

Jantung sehun bergetar melihat bagaimana bibi plum mungil itu kini tengah tersenyum padanya. Memang untuk taraf laki-laki, pria di depannya sangat terlihat cantik. Sehun tersadar dari lamunannya ketika luhan berusaha bangkit sambil mengerang pelan.

Kakinya terasa sangat sakit, mungkin terkilir ditambah luka besar yang saat ini tengah bertengger di lututnya. Sehun bangkit dari posisi jongkoknya "biarkan aku mengantarmu ke rumah sakit"

luhan menggeleng sambil tersenyum "Aku tak punya uang untuk ke rumah sakit. Lagipula ini hanya luka kecil, aku akan baik-baik saja!"teriaknya ceria.

"Ajhussi, sebaiknya kau pulang saja kau sepertinya habis minum"kata luhan sembari memegangi lututnya.

Sehun menatap luhan sedikit marah karena panggilan ajhussi dicampur perasaan bingung "kau tau darimana? Dan hey aku bukan ajhussi, usiaku 27 tahun "

Luhan tertawa geli, lalu menempel jari telunjuknya ke pipi sehun. Lagi-lagi jantung sehun bergetar, ada rasa hangat ketika tangan pria mungil itu menyentuh kulitnya.

"Pipimu merah. Usiaku 19 tahun, jadi bagiku ajhussi itu seorang ajhussi"

"Usia kita hanya terpaut delapan tahun, jadi jangan panggil ajhussi, aku tidak suka itu"gerutu sehun, ini pertama kalinya ia mengeluarkan lebih dari dua kata pada orang asing.

Luhan hanya tertawa "ya, terserah saja. Kalau begitu saya pergi, tuan"ujar luhan, namun langkahnya terhenti ketika dirasakannya sebuah tangan kekar tengah melingkar di pergelangan tangannya.

Luhan menolehkan kepalanya dan mendapati sehun tengah memegang pergelangan tangannya saat ini. Sehun merasa terkejut dengan dirinya sendiri, ia sontak melepaskan genggamannya. Ini pertama kalinya tangannya bergerak sendiri menyentuh orang asing yang di temuinya sekitar enam menit yang lalu.

Luhan mendekatkan wajahnya pada wajah sehun, menatap mata elang milik sehun lalu tersenyum "aku tidak akan ke rumah sakit, tuan. Aku baik-baik saja dan sehat"ujar luhan meskipun rasa sakit tengah mendera kakinya saat ini, rasa pening mulai mendera kepalanya, namun ia berusaha untuk tetap tegar, ia tidak mau merepotkan orang lain dan menunjukkan sisi lemahnya.

Kata ibunya, ia harus belajar berdiri sendiri dan membantu orang tanpa mengharapkan imbalan serta dengan hati yang tulus. Dengan begitu, dunia akan menyukainya.

Sementara jantung sehun kini tengah berdetak kencang seperti akan melompat dari singga sananya, tenggorokannya tiba-tiba saja kering. Mata rusa yang jernih dan senyum manis itu membuat perutnya tergelitik.

"Siapa kau sebenarnya?"ujar sehun berbisik, namun masih dapat di dengar oleh luhan.

"Aku? Namaku xi luhan, senang bertemu denganmu"ujar luhan, lalu mulai melangkah pergi sebelum pandangannya menjadi gelap.

TBC