Don't Make Me a Jerk

HunHan/Rated M/M-Preg

.

.

.

Suara gema tawa terdengar dari ruang makan rumah keluarga Oh. Tuan Oh dan Tuan Xi sibuk bercengkrama setelah sekitar empat tahun tak bertemu. Sementara Sehun hanya mampu tertawa kaku ketika di ajak berbincang oleh Yizhao sambil mengangguk-nganggukkan kepala lalu berbasa-basi.

Soeun sendiri hanya diam sambil meminum jus jeruknya sesekali memainkan kuku karena tak satupun dari mereka mengajak Seoun untuk berbincang, sesekali Nyonya Oh hanya menyuruhnya untuk mengambilkan makanan atau wine tambahan.

Disisi lain Sehun berusaha menutupi kecemasannya dengan ikut tertawa lantaran Luhan mungkin saja sebentar lagi datang. Ia rasanya ingin mati saja, tak terbayangkan bagaimana reaksi Luhan nanti. Ia tahu betul bagaimana Luhan membenci ayahnya sampai nekat kabur ke Seoul bersama ibunya dan hidup compang-camping dari uang seadanya.

Tiba-tiba kepala pelayan masuk dan memberitahukan bahwa ada seseorang yang mengantarkan berkas untuk tuan muda Oh Sehun. Sehun tanpa sadar menelan ludahnya dengan kasar, ayahnya memandangnya datar "sekretaris mu?"

Nafas Sehun memberat, ia menganggukkan kepalanya sedikit ragu, sementara Soeun hanya mampu mengerutkan keningnya, karena setahunya suaminya itu belum mendapatkan sekretaris baru.

Luhan masih diluar sambil memeluk dokumen yang kelihatannya sangat penting itu. Sesekali matanya berbinar, mengedarkan pandangannya pada rumah berkonsep tradisional itu, tidak seperti rumahnya di China yang bernuansa Eropa. Tunggu, rumah? Sejak kapan tempat itu menjadi rumah Luhan?

Entahlah, Luhan tidak sedang dalam keadaan ingin memikirkan kampung halamannya. Ia memerhatikan hoodie biru dan celana jeans di sertai sepatu biru yang senada dengan hoodienya. Apakah tadi seharusnya aku mengganti bajuku? Itulah yang dipikirkan Luhan. Sehun sama sekali tidak menyebutkan bahwa Luhan harus mengantarnya di sebuah rumah megah itu di tambah sepertinya sedang ada tamu besar di rumah itu.

Terbukti dari banyaknya bodyguard di depan rumah yang entah mengapa para wajahnya cukup familiar bagi Luhan, di tambah para pelayan yang sibuk memasak di dapur, Luhan bahkan dapat menghirup aroma dari berbagai makanan, membuatnya harus mati-matian menahan lapar.

"Luhan?!"pekik seseorang dengan suara yang sama sekali tak asing.

Luhan mengernyit dan menolehkan kepalanya menuju sumber suara. Luhan terperangah disana melihat seorang pria berlesung pipit tengah menatapnya haru. Luhan tahu betul siapa itu, salah satu bodyguard rumah yang selalu menjadi temannya selain Kris, dan ia tahu bahwa pria bernama Zhang Yixing itu mempunyai perasaan terpendam terhadap Kris.

"Yixing?!"pekik Luhan.

Yixing segera menghampiri Luhan "apa akhirnya kau kembali pada baba-mu Luhan?"Yixing menatap Luhan penuh haru.

"T-tunggu, apa?! Ayah?"detik ketika Luhan memekik tak percaya bahwa kemungkinan ayahnya berada di dalam ruangan itu, pintu ruang makan itu terbuka lebar.

Mengekspos dirinya di hadapan keluarga Sehun, dan yang paling penting adalah ayahnya Xi Yizhao tengah berada disana memandangnya dengan mata terbelalak. Tangan Luhan melemas, dokumen yang di peluknya jatuh ke lantai dengan mulus.

"Luhan!"teriak Yizhao.

Luhan terdiam disana, ia ingin berlari kencang,namun mengapa kakinya terasa lemas? Ia hanya mampu menjatuhkan air matanya dan mundur beberapa langkah. Sementara Kris yang sepertinya baru datang, akan melanjutkan langkah sebelum menyadari bahwa pria yang berada di tengah pintu adalah benar-benar Luhan.

"Luhan? Apa yang kau lakukan disini?!"teriak Kris menghampiri pria mungil yang sepertinya sama sekali tak mendengarkan kata-kata Kris selain menatap ayahnya yang sudah berdiri si ujung meja makan.

"Kris, tahan dia!"teriak Yizhao. Kris terdiam mendengar teriakan tuannya, disisi lain ia adalah orang yang setia seperti yang ayahnya ajarkan dulu, namun di sisi lainnya lagi ia mencintai Luhan dan tidak ingin siapapun melukai Luhan.

"Tuan Xi, a-aku"

Luhan mulai terisak, ia menarik nafasnya dalam-dalam "AKU TIDAK MAU PULANG! AKU BENCI BABA!"teriak Luhan, sementara keluarga Oh hanya mampu mematung disana.

Luhan akan segera berlari jika ayahnya tidak segera memanggil para penjaga untuk segera menahan Luhan di tempat. "LEPASKAN AKU! LEPASKAN! AKU TIDAK MAU PULANG! KRIS! YIXING! TOLONG AKU! KALIAN TEMANKU!"teriak Luhan pilu.

Sehun merasa sakit mendengarnya, sungguh sakit ketika teriakan-teriakan pilu itu terdengar, ditambah air mata Luhan yang tak kunjung berhenti. Ini kesalahannya, tak seharusnya ia hanya berdiam diri disana.

Sehun lantas berdiri dan menghampiri Luhan dengan cepat meninggalkan istrinya yang masih mematung, berusaha mencerna fakta bahwa Luhan adalah calon menantu keluarga Oh yang selalu di bangga-banggakan oleh nyonya dan tuan Oh di hadapannya.

"Tidak, jangan menyakitinya. Lepaskan dia, saya mohon tuan Xi, saya jamin Luhan tidak akan kabur lagi"Sehun merentangkan tangannya di hadapan Luhan seakan membuatkan benteng dengan sepenuh hatinya untuk Luhan.

Ia menatap Yizhao lirih, namun Yizhao hanya diam, tak mengatakan apapun. Merasa tak dapat jawaban, Sehun membalikkan tubuhnya dan menatap Luhan lirih penuh cinta. Sementara yang di tatap hanya menatapnya nyalang, Sehun mengerti, Luhan pasti akan membencinya.

Luhan menatap Sehun tajam, disertai air mata yang seakan tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya, tubuhnya masih di pegangi, namun Luhan tak berniat lagi untuk melawan, ia sudah terlalu lelah untuk semuanya.

"Kau sudah tahu dari awal, Sehun? Pengkhianat"desis Luhan.

Sehun menatap Luhan lembut namun pilu, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat "tidak, Lu. Kau salah paham"

Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan "percayalah, aku mencintaimu"bisik Sehun lembut.

"Tidak, aku membencimu"desis Luhan, tidak ada yang mendengar percakapan mereka yang di lakukan secara berbisik-bisik kecuali Kris ataupun Yixing yang berada dekat mereka. Kris mengepalkan tangannya, sementara Soeun hanya mampu menahan sakit di dalam hatinya, karena ia tahu apa yang akan dikatakan suaminya meski tidak ada suara apapun yang terdengar di meja makan.

"A-aigoo, jadi ini yang namanya Luhan? Oh astaga dia manis sekali!"nyonya Oh mendekati Luhan dengan cepat demi mencairkan suasana yang cukup membeku.

Para penjaga dengan cepat melepaskan tubuh Luhan segera setelah mendapat tanda dari Yizhao. Nyonya Oh dengan cepat menghapus air mata Luhan dengan lembut "aigoo, kau terlalu manis untuk menangis, berhentilah menangis."

Soeun meringis didalam, ia meneguk jus jeruknya dengan cepat. Rasanya sakit sekali, ibu mertuanya tidak pernah memperlakukannya semanis dan selembut itu. Sekalipun, bahkan dalam keadaannya yang sudah sakit-sakitan seperti ini mereka tidak pernah peduli. Hanya Sehun yang selalu ada disana, namun kini suaminya juga sudah mulai tak peduli lagi padanya.

Siapa lagi di dunia ini yang perduli padanya? Hanya adiknya yang ia miliki. Lalu setelah ia mati nanti, kepada siapa adiknya akan bersandar. Bagaimana kalau adiknya menikah nanti dan tidak punya keluarga satupun di dunia ini? Semua itu pasti akan terasa berat baginya.

"Bagaimana kalau Luhan ikut makan malam hm?"

Luhan hanya diam, sementara Yizhao lah yang bersuara "sepertinya tidak untuk hari ini Nyonya Oh, kita tahu bahwa ada sesuatu yang harus dibicarakan"

"Aigoo sayang sekali, yasudah lain kali saja. Dan Sehun bagaimana kau tidak bilang kalau kau kenal Luhan?"

Sehun ikut diam tak menjawab, yang berada dalam pandangannya hanyalah Luhan.

"Kris, Yixing, bawa Luhan"

.

.

.

Sepanjang perjalanan Kris hanya menyetir dalam diam, sementara Yixing sibuk menenangkan Luhan yang masih menangis di dalam pelukannya. "Sehun jahat, pengkhianat, aku membencinya"raung Luhan dengan nafas tersendat-sendat.

"Kris hyung, aku tidak mau bertemu Sehun lagi"isak Luhan masih di dalam pelukan Yixing.

Kris hanya diam, sampai akhirnya mereka sampai di kediaman sementara Keluarga Xi, rumah ketika mereka sedang ada urusan di Korea. Luhan tiba-tiba diam, tidak ada suara tangisan pilu lagi dari mulutnya. Ia keluar mobil dengan cepat diikuti Kris dan Yixing. Luhan menghela nafasnya, memandang rumah itu dengan sedikit tak rela "Kris hyung, tolong jaga ibuku. Katakan padanya, maafkan aku karena tidak sempat pamit"

Kris menghela nafasnya dan menatap Luhan lirih "heum, baiklah. Tuan muda"

"Tidak, jangan panggil aku tuan muda, aku mohon"Luhan mengepalkan tangannya, ia menahan isakannya namun semua itu tak menyembunyikan air matanya yang kembali mengaliri pipi tirusnya.

Kris menghela nafasnya, ia memeluk Luhan dengan cepat. Ia mengecupi kepala Luhan, menelusupkan jemarinya diantara helaian rambut Luhan dan membelainya dengan lembut "maafkan aku, Lu. Aku tidak bisa melindungimu, maafkan aku"

Luhan tidak keberatan dengan perlakuan Kris, memang yang di butuhkannya saat itu adalah sebuah pelukan. Ia terus terisak tanpa teringat bahwa Yixing yang memilih membalikkan tubuhnya ada disana. Yixing sudah biasa dengan pemandangan itu, sudah terbiasa dengan rasa sakit yang di rasanya. Ia juga tahu bahwa Luhan tidak mencintai Kris, dan untuk itu Yixing merasa berterima kasih pada Luhan. Setidaknya sekarang ia hanya akan menunggu Kris membukakan hatinya untuk orang lain.

"Kau akan baik-baik saja aku berjanji"bisik Kris hangat.

Luhan menganggukkan kepalanya, lantas melepaskan pelukannya tak lupa mengucapkan terima kasih. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah dan lansung menuju ke kamarnya.

Tak ada yang istimewa di kamarnya itu, lantaran itu hanya rumah sementaranya, berbeda dengan kamarnya di China yang bernuansa bola di campur hello kitty, membuat siapapun bingung menentukan pemilik kamar itu laki-laki atau perempuan.

Luhan merebahkan tubuhnya, ia sudah cukup tenang namun ia merasa sangat lelah. Ia terlalu lelah untuk mencerna apa yang akan terjadi setelah ini, ia sangat yakin bahwa setelah ini dia akan mendapat pembicaraan serius dengan ayahnya.

Setidaknya untuk sejenak saja, ia ingin memejamkan matanya, dan melepaskan rasa sakit di dalam hatinya. Namun, yang di lihatnya hanyalah wajah Sehun, selalu wajah Sehun. Luhan menggeram, ia mengepalkan tangannya, dan mulai kembali menangis "SIALAN! SIALAN! SIALAN!"teriaknya bergetar, ia bangkit dari tidurnya, lalu melempar barang apapun yang ada dalam jangkauannya ke sembarang arah, lampu, bantal, guci-guci mahal dan lainnya.

Luhan menatap pantulan dirinya dari cermin meja riasnya. Ia melihat jelas bagaimana keadaan hancurnya saat ini, matanya merah dan bengkak, rambutnya berantakan dan tangannya yang berdarah, entah terkena apa. Ia mengambil segelas air yang sepertinya memang sudah di siapkan sedari tadi di atas nakas samping tempat tidurnya.

Prang

Ia melempar gelas itu dengan geram ke arah cermin tersebut, membuat beberapa pecahan cermin sempat terlempar dan melukai keningnya. Luhan terduduk lemas di atas lantai kayu itu. Tubuhnya meringsut jatuh, ia terbaring disana dengan keadaan mengenaskan. Air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya mengaliri hidung mancungnya dan berakhir di lantai.

"Luhan!"teriak Yixing. Niatnya untuk mengantarkan makanan kini hilang, ia menjatuhkan nampan berisi makanan yang sudah di buatnya susah payah hanya untuk Luhannya yang terkenal manja itu. Namun yang di dapatnya adalah keadaan yang selalu membuat hatinya terluka. Selalu keadaan yang sama.

Ia segera berlari menghampiri Luhan, lalu menarik Luhan ke dalam pelukannya. "Tidak, tidak Luhan jangan seperti ini lagi, aku mohon"lirih Yixing, ia mendekap Luhan begitu erat, menepuk-nepuk punggungnya, tanpa terasa Yixing juga meneteskan air mata.

Selalu seperti itu, yang ia tahu pasti adalah emosi Luhan yang tidak stabil saat ini. Sejak kecil Luhan selalu seperti itu, dia memang bukan tipe orang yang pemarah, namun ketika Luhan benar-benar marah dan merasa sangat amat tersakiti atau bahkan luar biasa ketakutan, emosinya menjadi tidak stabil seperti ini.

Ia akan mengamuk dan berakhir melukai dirinya, lalu tertidur seperti sekarang ini, Yixing tahu betul anak itu sudah tertidur dalam pelukannya. Lalu besoknya Luhan tidak akan ingat apapun. Luhan sudah mengalami berkali-kali percobaan pembunuhan, dan selalu di anggap ayahnya seorang pewaris utama tanpa di anggap anak. Setiap kali Luhan mendapat nilai tinggi, ayahnya tidak pernah memberikan pujian, yang selalu di katakannya hanyalah "memang harusnya seperti itu" Yixing bahkan sudah hapal bagaimana intonasi dan nada yang di pakai Tuan Xi setiap memberikan kalimat itu.

Karena itulah, emosinya sering mengalami ketidakstabilan. Disaat-saat seperti itu, hanya Yixing dan Kris saja yang perduli, pernah suatu malam Luhan melompat dari balkon rumah tanpa benar-benar sadar, beruntung saat itu sebuah kolam renang berada tepat di bawah balkon, sehingga saat itu Kris dengan cepat masuk ke dalam kolam renang dan menyelamatkan Luhan yang pingsan.

Yixing sendiri sudah lama bekerja disana, seperti Kris yang merupakan anak sekretaris setia ayah Luhan, dirinya adalah anak dari ketua kemanan setia tuan Xi, dan sekarang dirinya lah yang menggantikan posisi tersebut. Maka dari itu ia sudah sering sekali melihat pemandangan seperti ini, dan berkali-kali juga hal ini menyakiti Yixing, lantaran Luhan sudah seperti adiknya.

Ia tahu penyebabnya mengapa Luhan seperti ini, yang pasti hal itu berhubungan dengan anak keluarga Oh itu. Yixing ingat bahwa Oh Sehun itu yang di katakan akan dijodohkan dengan Luhan, dan kabarnya menikahi gadis lain. Lalu bagaimana bisa Luhan kini mengenal pria itu? bahkan Yixing sempat mengalami serangan jantung ketika Sehun berbisik bahwa ia mencintai Luhan.

Tapi Yixing tidak mau terlalu memikirkan itu sekarang, ia harus cepat memindahkan tubuh Luhan, dan mengobati luka-lukanya.

"L-Luhan?!"pekik Kris.

Yixing tersenyum lirih "dia mengalaminya lagi Kris"ujar Yixing lirih.

Kris menghampiri Luhan yang masih berada di dalam dekapan Yixing, dan memeriksa keadaannya sejenak. Kris menghela nafasnya "mengapa seperti ini lagi?"

"Bawa dia ketempat tidur, aku akan mengambil kotak obat. Tangan dan keningnya terluka"pinta Yixing.

Kris menganggukkan kepalanya, lalu dengan sigap membawa Luhan pada gendongannya dan membawanya ke tempat tidur, sementara Yixing segera keluar untuk mengambil kotak obat. Kris menatap Luhan sayu, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia membelai rambut Luhan dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Sebulir kristal mengaliri hidungnya, dengan cepat ia mengusap air mata itu.

"Kris, kau tidak apa-apa?"tanya Yixing yang kini tengah berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah kotak obat.

Kris dengan cepat bangkit dari posisi duduknya "aku tidak apa-apa"

Yixing menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya "bisa tolong katakan pada kepala pelayan untuk membersihkan kekacauan ini?"

Kris mengangguk dengan cepat, dan bergegas keluar. Yixing duduk di bibir tempat tidur lalu mencubit pipi Luhan dengan gemas "kau begitu menggemaskan kalau sedang tidur seperti ini, pantas saja banyak yang mencintaimu, Lu"Yixing tersenyum kecut.

Lalu melanjutkan pekerjaannya mengobati Luhan dengan sangat telaten.

.

.

.

Luhan terdiam duduk si atas tempat tidur, dengan rambut yang masih kusut, matanya menatap sayu kearah cermin meja rias yang sudah tak berbentuk lagi. Meskipun tak ingat apapun, ia sangat yakin itu adalah perbuatannya. Kepalanya terasa pening dan berdenyut, perutnya seakan berputar-putar, terasa sangat tidak enak.

ceklek.

Terdengar suara pintu kamarnya di buka. Luhan masih dapat melihat pantulan Yixing dari cermin disana "selama pagi nona muda"Yixing tersenyum menampakkan lesung pipitnya yang terlihat begitu manis.

Luhan mengerucutkan bibirnya "aku bukan nona!"teriaknya.

Yixing terkekeh "baiklah, tuan muda. Ayahmu meminta sarapan bersama"ujar Yixing.

Luhan diam disana, ia tahu bahwa hari ini pasti akan datang juga. Ia menghela nafasnya, lalu kembali menatap cermin yang sudah hancur itu, seakan ia sedang menatap hatinya yang sudah hancur berkeping-keping "aku melakukannya lagi, Yixing?"

Yixing menghampiri Luhan, lalu menggenggam tangannya "kau melakukannya, dan semalam kau menangis meminta masakanku"ejek Yixing sambil tersenyum.

"Cih, kau ini. Dan ngomong-ngomong aku benar-benar rindu masakanmu~"rengek Luhan.

"Ohh tuan putri ini rindu rupanya"Yixing terkekeh "aku susah memasak hari ini hanya untukmu, dan untuk itu kau harus pergi ke meja makan, .rang"tekan Yixing.

"Baiklah-baiklah"jawab Luhan lesu, ia bangkit dari duduknya yang cukup lama, namun belum selangkah ia berjalan, kepalanya sudah berputar, perutnya pun ikut berputar-putar, ia dapat merasakan sesuatu akan keluar dari perutnya saat ini juga.

"Tunggu, Yixing"Luhan memucat, ia segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.

"Astaga Luhan, kau baik-baik saja?"Yixing dengan sigap membantu Luhan dengan mengurutkan pelipisnya sesekali menepuk-nepuk punggungnya.

"Humm, aku baik-baik saja"Luhan menghampiri wastafel lalu berkumur membersihkan mulutnya.

"Apa aku harus memberitahu ayahmu, kalau kau sakit?"tanya Yixing khawatir, seperti akan membunuh dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Luhan.

"Aku baik-baik saja sungguh, mungkin karena efek semalam aku terlalu banyak menangis"

Yixing menghela nafasnya dan menganggukan kepalanya, ia membantu Luhan untuk berjalan menuju meja makan, dimana ayahnya sudah disana tengah mengunyah sarapannya.

Luhan melepaskan diri dari genggaman Yixing, lalu duduk di hadapan ayahnya.

"Kau terlihat pucat"ujar ayahnya datar, sambil sibuk memotong-motong makanannya. Selalu seperti itu, ayahnya tidak pernah menatap matanya setiap mereka berbincang.

"Heum"jawaba Luhan lemah, ia ikut menyendokkan sesendok nasi goreng China buatan Yixing yang selalu disukainya. Namun entah mengapa kali ini terasa hambar, Luhan kembali merasa mual, namun ia memaksakan diri menelannya.

"Jadi, kembali Ke China?"tanya ayahnya singkat.

Luhan melepaskan sendoknya dan menatap ayahnya tajam "dengan satu syarat"

"Katakan"jawab ayah Luhan tanpa pikir panjang lagi.

"Beri kehidupan yang layak untuk ibuku"

Suara dentingan piring yang bertemu dengan sendok ayahnya kini berhenti, sunyi masuk dan menyelimuti mereka untuk beberapa waktu. "Diterima"jawab Yizhao.

Luhan menganggukkan kepalanya, lalu kembali menyendokkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Rasa mual itu kembali lagi, dan kali ini benar-benar akan kembali muntah.

"Aku permisi dulu"ujar Luhan bergegas masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamarnya, dan kembali memuntahkan isi perutnya, kepalanya kali ini terasa sangat berat dan berputar-putar.

"Luhan, kau muntah lagi?"tanya Yixing yang tadi sempat melihat Luhan berlari.

"Kita panggil dokter ya?"pinta Yixing yang sepertinya sangat khawatir.

Luhan menganggukkan kepalanya lemas.

.

.

.

Kris dan Yixing kini tengah menatap Luhan yang sedang dalam pemeriksaan dokter di kamarnya dengan tatapan khawatir.

"Sudah berapa lama kau mengalami mual-mual,Lu?"tanya Suho, salah satu dokter kepercayaan keluarga Xi di Korea, dan cukup dekat dengan Luhan.

"Baru hari ini, hyung"

Suho membenarkan letak kaca matanya, wajahnya terlihat tak menentu, sulit bagi Luhan untuk membacanya. Suho menatap Kris, Yixing dan Luhan bergantian.

"Tiga minggu Lu"ujar Suho pelan, sambil menatap Luhan sedikit ragu.

Luhan mengerutkan keningnya "maksudmu?"

"kau hamil. Dan pekiraanku, usia kandungamu sudah tiga minggu"

Seketika ruangan itu hening, Kris terperangah disana dan tak lupa Yixing yang seakan baru saja di siram air dingin. Sementara Luhan yang seakan baru saja di tampar, namun juga sangat bahagia, bahkan secara tak sadar air mata sudah jatuh dari ekor matanya.

"Kau pasti bercanda. Aku ini laki-laki"

"Lu, kau seorang Male Pregnant, kau pintar, dan aku yakin kau tahu istilah untuk apa itu"jelas Suho, ia sebenarnya penasaran bagaimana Luhan bisa hamil? Maksudnya dengan siapa? Setelah dikabarkan menghilang bertahun-tahun dan juga Suho sendiri di mintai tolong mencari Luhan di Seoul karena kabarnya anak ini kabur ke Seoul, lalu setelah pulang, dia hamil?

"Tidak, Lu. Yang benar saja? Kau... bersama Oh Sehun?"Kris menggenggam pergelangan tangan Luhan dengan erat dan menatap Luhan penuh amarah.

"K-Kris sakit..."

"Jawab aku Luhan!"bentak Kris, Luhan terdiam dengan suara teriakan Kris yang menggema di telinganya. Ia tidak pernah membentak Luhan sebelumnya.

Kris tak kunjung mendapat jawaban, Luhan hanya diam membeku disana, tanpa berniat menjelaskan apapun. "Tidak, ayo gugurkan Luhan. Suho, kau bisa kan?"

"Apa? Tidak! Aku tidak mau menggugurkannya!"teriak Luhan, ia menatap Kris tak suka. Bagaimana bisa ia memutuskan hal seperti itu.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?! Memberitahu ayahmu? Kau gila! Si Sehun itu sudah memiliki istri, kau tidak bisa menikahinya hanya karena kau memiliki bayinya!"teriak Kris murka.

"Apa yang akan terjadi dengan bayi ini adalah keputusanku atau Sehun! Aku ibunya! Dan Sehun adalah ayahnya! kau bukan siapa-siapa bayi ini! Aku yang menentukan masa depannya!"teriak Luhan bergetar, air mata kembali mengaliri pipi tirusnya, sementara Suho dan Yixing hanya mampu diam membeku.

Kris merasa tertohok. Benar, ia bukan siapa-siapa bayi itu, ia tidak berhak menentukan masa depannya. Matanya yang tajam kini melembut "lalu, apa yang akan kau lakukan, Lu? Membesarkannya sendiri? Bagaimana kalau ayahmu tahu?"lirih Kris.

Luhan mengusap air matanya "aku akan menyembunyikannya, aku punya rencana"

"Tapi kau tahu kau tidak bisa menyembunyikannya untuk selamanya"

Luhan menganggukkan kepalanya "aku tahu, setidaknya sampai ia lahir"lirih Luhan.

"Baiklah, aku dan Yixing akan mencoba membantu. Dan Suho, aku mohon jangan katakan pada siapapun tentang hal ini"

"Aku mengerti"

.

.

.

Luhan mengerjapkan matanya, sayup-sayup ia mendengar suara Yixing yang memanggil-manggil namanya. Tidurnya kali ini cukup nyenyak, entah karena efek hormon hamil, atau ia sedang merasa bahagia karena mengetahui ada sesuatu di dalam perutnya yang sedang tumbuh. Dan sesuatu itu adalah buah hasilnya bersama Sehun.

"Ada apa Yixing? Aku mengantuk sungguh"rengek Luhan.

"Kau harus bersiap, sepertinya akan ada tamu yang datang"Yixing membelai rambut Luhan lembut.

Luhan mengernyit "tamu?"

"Sepertinya..."Yixing menggigiti bibirnya dan memandang Luhan sedikit ragu "sepertinya keluarga Oh"

DEG.

Luhan merasakan jantungnya berdebar kencang. Ada perasaan benci namun juga rindu melihat Sehun, ayah dari bayinya itu. Ia menatap Yixing sayu "baiklah, aku akan bersiap-siap"

Luhan segera masuk kedalam kamar mandi tanpa menghiraukan tatapan Yixing. Luhan membuka bajunya dengan cepat lantas menghidupkan shower. Ia menatap dirinya di hadapan cermin kamar mandi. Ia ingat bagaimana dirinya mendesah karena sentuhan Sehun dia setiap inci tubuhnya, menghasilkan sesuatu yang kini berada dalam perutnya.

Ia mengelus perutnya dengan sayang "ibu berjanji akan menjagamu sepenuh hatiku, sayang"lirih Luhan. Disisi lain ia ingin sekali memberitahu Sehun tentang kehamilannya lalu membesarkannya bersama, ia sama sekali tak peduli dengan status pernikahan.

Namun, itu akan terjadi jika saja Sehun tidak mengkhianatinya seperti semalam. Ia seakan terlalu muak untuk melihat Sehun, meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa ia merindukan sentuhan Sehun.

"Meskipun ibumu ini hanya anak laki-laki berusia 19 tahun, ibu berjanji akan menjagamu sepenuh jiwa dan tenagaku. Kita akan bahagia, bahkan jika tanpa ayahmu. Ibu berjanji"

Luhan mengusap air matanya dengan cepat, ia mendapatkan semangatnya kembali hanya dengan menatap perutnya sejenak. Ternyata kehamilannya cukup membuatnya untuk bangkit dari keterpurukannya.

.

.

.

Suara dentingan gelas wine terdengar dari ruangan makan itu. Para pelayan nampak sibuk menyajikan makanan. Ruangan itu terdengar sunyi sejenak, ketika para tamu dan tuan rumah meneguk wine mereka.

" Domaine Leroy Musigny huh? kau benar-benar pintar dalam mendapatkan wine mahal seperti ini, Yizhao"puji tuan Oh.

Sementara Luhan hanya memilih meminum jus jeruk, selain karena ia masih di bawah umur, ia juga tidak ingin meminum hal lain mengingat kandungannya yang kata Suho harus lebih berhati-hati menjaganya. karena persentase keguguran sangat tinggi pada kehamilan pria dibanding wanita.

Luhan memakan makanannya dengan lahap untuk memberi makan bayinya yang entah akan menjadi perempuan atau laki-laki. Luhan sendiri tahu bahwa dirinya kini sedang berada dalam tatapan Sehun yang duduk tepat di hadapannya. Sementara Soeun tampaknya tak ikut, atau mungkin tidak di perbolehkan.

"Aigoo, putra Oh satu ini sepertinya sangat menyukai Luhan, sampai menatapnya seperti itu"goda nyonya Oh. Sehun tersadar dari lamunannya, dan hanya mampu tersenyum kaku sementara para tetua disana sibuk tertawa.

Luhan masih sibuk memakan makanannya, tanpa menghiraukan apapun.

"Sepertinya mereka sangat cocok"puji nyonya Oh lagi.

Tuan Oh terkekeh "apa menurutmu perjodohan itu masih berlaku, Yizhao?"

Yizhao tersenyum lebar "tentu saja, kita bisa mengaturnya"

Luhan menghela nafasnya, ia dan Sehun tahu betul akan kemana arah pembicaraan ini. Luhan menaruh sendok dan garpunya tanpa menimbulkan bunyi, sementara Sehun meneguk wine-nya sambil memerhatikan gerak-gerik Luhan.

"Ayah, aku ingin ke Amerika melanjutkan pendidikan"ujar Luhan tanpa berbasa-basi.

Seketika, ruangan itu menjadi sunyi.

TBC

Oke keknya aku bakal jarang update hueee. Karena UN sudah semakin dekat, jadi ada jam tambahan dan ditambah bimbel. Jadi ya gitu, tapi kalau ada waktu luang, pasti diusahain update.