Bagian 2

Sasuke POV

"Sasuke, boleh aku bicara padamu sekarang?" Kata seorang gadis berambut indigo pendek seraya menatapku serius. Aku mengangguk kecil, aku sempat mengenali gadis ini melalui Naruto. Kalau tak salah gadis ini bernama Hinata Hyuuga.

Hinata mengambil tempat untuk duduk di sampingku, kulihat matanya sedikit sembam. Mungkin karena tangisannya tadi yang menghawatirkankeadaan Naruto. Aku juga sempat frustasi dan berjalan kesana kemari untuk menenangkan pikiranku, tapi rasanya tak ada yang berubah. Dokter masih berada di dalam ruangan untuk menganangi Naruto, kuharap ia baik - baik saja.

"Apa Naruto - kun, sudah memberitahu perasaannya padamu?" Tanya Hinata sambil menunduk. Mataku membulat, aku ingat sebelum ia jatuh pingsan ia mengatakan kata - kata yang menghangatkan dadaku. Aku menatap gadis itu tak percaya, jangan bilang ia mengetahui semuanya?

"Aku tanya sekali lagi, Uchiha Sasuke. Apa ia sudah memberi tahu perasaannya padamu?" Tanya gadis itu kembali seraya menatapku datar. Aku mengangguk pelan, tak bisa untuk beralasan sedikitpun.

"Begitu, lalu kau tak tahu bagaimana kondisi Naruto - kun selama ini, apa aku benar?" Lagi, aku mengangguk untuk kesekian kalinya. Apa maksud dari semua ini?

"Kau tahu? Selama ini Naruto - kun menyembunyikan penyakitnya darimu" Mataku kembali membulat, jadi selama ini Naruto menyembunyikan penyakitnya dariku? Mengapa ia melakukan itu?

"Dia melakukannya karena ia tak ingin kau merasa sedih dan ingin kau mengetahuinya sendiri tanpa ada yang memberitahumu" Kata gadis keturunan Hyuuga itu seakan dapat membaca pikiranku.

"Apa penyakit yang dialaminya?" Tanyaku sambil menahan amarah. Tidak, aku tidak marah pada gadis ini, apalagi pada Naruto. Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku tak bisa menyadari kondisi Naruto saat itu?

"Dokter bernama Tsunade itu berkata bahwa penyakit yang dialami Naruto adalah kangker otak"

Mataku membulat kembali, kali ini mataku terasa menghangat dan pandanganku memburam. Apa dia bilang? Kangker otak? Kami - sama, mengapa harus dia?

"Jangan menangis, Sasuke. Naruto tak akan pernah memaafkanmu jika melihat kau menangis seperti itu" Aku tersentak ketika Hinata berkata seperti itu. Kuraba mata kananku, terasa basah. Apa aku menangis untuk Naruto?

"Dia ingin mengungkapkan perasaannya kepadamu, tetapi ia terlalu takut. Takut jika kau akan memandang jijik Naruto - kun dan membencinya. Hehe, aku ingat saat Naruto - kun berkata 'Aku akan mengungkapkan perasaanku padanya pada saat terakhir, mungkin' Aku sempat marah padanya saat itu, tetapi ia bilang 'Aku bercanda' Tapi kenyataannya memang seperti itu" Hinata terkekeh pelan saat berkata padaku. Apa? Pada saat terakhir? Tidak, ini bukan saat terakhirnya bersamaku. Ini bukan saat terakhirku bersamanya, itu tak akan terjadi!

"Sasuke, apa yang akan kau katakan pada Naruto - kun nanti? Apa kau akan membalas perasaannya dan melindunginya?" Tanya gadis itu lalu tersenyum lembut kearahku. Aku tercengang, apa yang harus kukatakan padanya nanti?

"Jika kau bingung kau bisa mengikuti kata hatimu, Sasuke" Aku terdiam, mengikuti kata hatiku? Apa yang ingin hatiku ucapkan padanya? "Jika kau bertemu dengan orang yang ingin hatimu temui, maka kau tanpa sadar akan berbicara sesuai dengan hatimu. Itu yang kuketahui" Aku memandang gadis itu terkejut, apa ini akan berhasil?

Cklek!

Pintu operasi terbuka, menampilkan seorang wanita berambut pirang dengan jas dokter miliknya. Wanita itu berjalan kearah kami. Aku dan Hianata bangkit dan menatap dokter itu serius.

"Maafkan aku, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, dia tak akan bisa betahan lebih lama lagi"

Terdiam...

Hinata dan Sasuke terdiam di tempat mereka. Seakan ada petir yang menyambar mereka, seakan waktu membeku membuat mereka terdiam seketika.

'Tak dapat bertahan lebih lama lagi'

Kata - kata itu terus berputar di otak mereka. Seakan hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu pemuda yang sangat mereka sayangi itu. Memori tentang keceriaan Naruto muncul di ingatan Sasuke.

'Sasuke! Ayo kita pergi ke festival bersama!'

'Tolong kerjakan ini ya, Sasuke!'

'Bintang - bintang itu indah ya!'

'Ugh, aku sakit kepala. Sepertinya aku tak bisa pergi ke sekolah'

'Kau tahu? Mungkin aku tak akan pernah bisa menggapai dirimu, Sasuke. Begitu juga kau yang mungkin tak bisa menggapaiku'

'Selamat tinggal, Sasuke!'

Sasuke terdiam dengan peluh bercucuran di wajahnya. Kenangan miliknya bersama Naruto membuat pemuda berusia 18 tahun itu menyesali semuanya.

Mengapa ia tak menyadari perbuatan Naruto padanya selama ini?

Mengapa ia tak bisa menyadari kondisi kesehatan pemuda berambut pirang itu?

Sasuke menggerang frustasi lalu mencoba untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Hinata sempat melarang Sasuke tetapi Tsunade membiarkan Sasuke masuk ke dalam ruangan. Hinata terisak kecil, ia tak menyangka akhirnya akan seperti ini.

.

.

.

"Naruto..."

Lirih, panggilan Sasuke terasa sangat lirih. Sasuke kembali terdiam di samping ranjang Naruto. Tangan kanan miliknya terulur menggapai wajah pemuda berambut pirang itu. Saat tangan miliknya menyentuh pipi Naruto, dirinya tersentak saat merasakan suhu tubuh Naruto yang tidak wajar.

'Tidak, ia tak akan pergi! Ia akan tetap bersamaku! Aku akan menjadi kekasihnya dan selalu melindunginya! Kami - sama, jangan ambil dia dariku'

"S - Sasuke... Tanganmu terasa hangat"

Sasuke tersadar dari pikirannya saat mendengar sebuah suara. Nyaris seperti bisikan tetapi masih terdengar di telinga miliknya. Sasuke memandang Naruto sebentar lalu terkekeh pelan.

"Tentu saja bodoh, aku masih hidup. Jadi suhu tubuhku terasa hangat" Kata Sasuke seraya tersenyum tulus. Air mata terus mengalir dari kedua pelupuk matanya. Tidak, ia tak siap kehilangan Naruto.

"B - begitu, berarti suhu tubuhku saat ini dingin ya? Karena rasanya aku akan mati sebentar lagi" Lirih Naruto seraya menggenggam tangan Sasuke yang masih berada di pipinya. Sasuke menggeram marah, tak suka atas perkataan Naruto yang tak biasanya.

"Jangan pernah berkata seperti itu, aku tak suka jika bicaramu seperti itu" Tegas Sasuke lalu menatap tajam Naruto. Naruto terkekeh pelan, ia tak menyangka Sasuke bisa semarah itu padanya.

"Khekhe, jangan marah. K - kau akan cepat tua jika s - seperti itu"

"Jangan bicara apapun lagi, beristirahatlah. Aku akan terus menjagamu di sini"

"Sudahlah, k - kau pasti tahu apa yang s - sudah terj - Ugh!" Naruto meringis pelan saat kepalanya berdenyut nyeri.

"N - Naruto!"

Bersambung…