Hallo semuanya.

Ini adalah chap terakhir, jadi saatnya Nisa membalas sebagian review.

oka : Ini sudah saya lanjut dalam waktu sehari. Kebetulan Nisa sudah menyelesaikan di suatu tempat, jadi Nisa lanjutkan sampai chap terakhir. Makasih ya sudah mau membaca fict Nisa.

gyumin4ever :

Haha, bisa dibilang sakit senpai. Makasih senpai sudah mau membaca fict Nisa.

Reader :Anggap saja seperti itu senpai. Saya harus memaksakan Sasuke untuk beromantis-romantisan bersama Sakura.

Terima kasihsudah mau baca fict Nisa senpai.

Spesial thanks :

Miki Hibiki, oka, gyumin4ever, SapphireOnyx Namiuchimaki, Mifta cinya, Reader.

Dan orang-orang yang sudah membaca fict Nisa.

Bagian 3

"T - tenanglah, waktuku sudah habis di sini" Kata Naruto seraya mencegah Sasuke pergi dari ruangan tersebut.

"Apa maksudmu bodoh! Aku harus segera memberi tahu dokter!" Teriak Sasuke seraya melepaskan tangan Naruto. Tetapi setelah tangan Naruto terlepas tiba - tiba Naruto kembali meringis keras membuat Sasuke semakin panik.

"T - tidak, apa yang sudah kulakukan? Bertahanlah Naruto!" Sasuke mebungkukkan badannya serta kepalanya, mengecup kening Naruto lama. Naruto semakin meringis sakit, tetapi wajahnya terus tersenyum. Seakan ia bahagia, seakan semuanya akan baik - baik saja. Sasuke melepaskan kecupannya lalu menggenggam tangan Naruto erat, seakan tak membiarkan Naruto pergi dari sisinya.

Ya, Naruto tak akan pergi! Ia percaya itu!

"S - sasuke, dengarkan aku. Ugh! Aku mencintaimu l - lembih dari apapun, aku t - tak memerlukan balasan cinta darimu. Tapi aku senang, kau mengetahui semuanya. Ugh! S - selamat tinggal, S - Sasuke" Tangan Naruto melemas di genggaman Sasuke. Mata Sasuke membulat, tidak. Ini bukan akhir yang seharusnya!

"Tidak, Naruto! Hei, bangunlah! Aku belum membalas cintamu bodoh! Bangunlah!" Sasuke berteriak frustasi.

.

.

.

Sasuke POV

Aku terdiam memandang tubuh itu ditutupi oleh sehelai kain putih. Hinata terus menangis di sampingku, sedangkan aku? Entahlah, mungkin penampilanku sangat hancur hari ini.

Bagaimana tidak? Pemuda yang menjadi sahabatku, rivalku, sekaligus orang yang mencintaiku, meninggalkanku hari ini. Entah apa yang harus kulakukan, aku tak mengerti.

Pantaskah aku dicintai oleh pemuda yang lembut sepertinya?

Pantaskah aku dicintai oleh pemuda yang terluka karenaku?

Ya, ini salahku. Semua ini salahku, andai saja aku menyadari semuanya dari awal. Andai saja aku dapat merasakan perasaannya saat itu, semua ini tak akan terjadi. Kurasakan mataku menghangat, sepertinya aku menangis lagi.

Kau lihat ini bodoh? Pemuda yang kau cintai ini ternyata adalah pemuda yang sok tegar dan lemah. Kenapa kau pergi bodoh? Aku belum membalas cintamu, tetapi kau pergi begitu saja.

"Maafkan aku, Naruto. Semua ini salahku, ya salahku" Kudekati ranjang tempat Naruto di baringkan di sana. Pemakaman akan dilakukan besok pagi, dan akulah yang akan mengatur pemakamannya. Dia adalah seorang pemuda yang hidup sendirian sejak umur 5 tahun, kedua orang tuanya meninggal karena sebuah insiden. Dia hanya dirawat oleh tetangga dan orang - orang terdekatnya.

Dan saat itu kami bertemu, Naruto selalu iri dan menjadikanku sebagai rivalnya. Kami sering bertengkar dan selalu beradu mulut saat itu. Dan hal itulah yang membuat kami sedekat ini, aku mengajak dirinya untuk tinggal di sebuah apartement. Kami menyewa apartement itu dengan uang milikku dan Naruto. Padahal aku ingin menyewakannya memakai uang milikku, tetapi pemuda bodoh itu malah bersi keras untuk menyewa apartement itu bersama sama.

"Bodoh, kau memang bodoh. Kenapa kau tak pernah mengatakan semuanya?"

.

.

.

.

'Sasuke, kau itu menyebalkan!'

'Mengapa kau itu begitu pintar? Aku kesal saat gadis gadis itu memujimu!'

'Aku sepertinya bisa mempercayai semuanya padamu, Sasuke'

'Kau teraktir aku ramen, ya?'

'Sasuke! Ayo kita bersenang senang!'

'Selamat ulang tahun, Sasuke jelek!'

"Cih, kau memang menyebalkan Naruto" Kupandangi batu nisan bertuliskan 'Namikaze Naruto' itu. Ya, tempat peristirahatan terakhirnya. Kutaruh sebuah pigura berisikan foto miliknya bersama dengan sebuket mawar putih. Semua orang - orang sudah meninggalkan makam Naruto. Mungkin karena cuacanya yang tidak mendukung, membuat mereka semua pulang agar tidak terkena hujan.

"Kuharap kau tetap mencintaiku, Naruto. Maka aku akan melindungi cintamu yang sangat berharga lebih dari apapun, bahkan nyawaku sendiri."

'Kau tahu? Aku tak bisa lagi menggapaimu saat ini. Kau sudah terlalu jauh untuk kugapai, namun aku senang. Aku senang pada akhirnya kau mau menerima perasaanku. Seharusnya kau yang mengungkapkan perasaanmu, Sasuke jelek! Tapi tak apa, lagi pula aku sudah tenang sekarang. Tentu saja aku tetap mencintaimu bodoh! Walaupun kau mempunyai orang lain, aku akan tetap mencintaimu!'

End

Ohayou, minna - san!

Maafkan Nisa kalau cerita ini bikin kalian muntah. Dan maaf jika cerita ini tidak sesuai dengan harapan kalian. Terima kasih buat yang sudah mendukung dan memberi masukan atas cerita ini. Nisa sungguh berterima kasih sekali.

Sekali lagi terima kasih atas masukan dan dukungannya.

~ Salam hangat Nisa untuk semua