Dracoco Mione : Wah, pas ada Umbridge dong :D Terima kasih sudah read dan Review!

Aryririn : Eh, sebelum Voldie tewas, setting tahun keberapa? :3 Terima kasih sudah read dan Review!

A/N :Saya sebenarnya sama sekali gak nyangka kalau bakal ada yang review dan baca cerita saya di crossover sepi ini :'"")) Really guys, we need to make this crossover alive!

WolfShad'z xx

.

.

.

Disclaimer : Kekkaishi hanya milik mbak Yellow Tanabe seorang. Harry Potter kepunyaan Bunda JKR.

Title : The Other Dimension

Genre : Adventure, Fantasy, Supranatural, Drama and a bit Romance.

Rating : T

Summary : Masamori mencoba menerobos masuk kedalam Shinkai untuk membebaskan Yoshimori dan Sen. Disisi lain, ikatan antara Yoshimori dan Tokine dan kekuatan Zekkai Masamori membawa mereka semua kedalam sebuah dimensi lain yang didalamnya terdapat kehidupan para penyihir. Apakah yang akan terjadi kepada Masamori, Yoshimori, Tokine dan Sen? Bisakah mereka kembali ke tempat mereka berasal?

Warning : Karakter yang mungkin OOC, Typo dan tata bahasa yang berantakan. Read with your own risk.

Setting : Saat pertempuran akhir di Kokuboro.

-Pikiran-

'Bahasa Jepang'

Flashback

Bahasa Inggris

Normal

.

.

.

Guncangan di dimensi Kokuboro semakin kuat, satu-persatu istana Ayakashi itu runtuh seperti kertas yang terkena air bah. Masih tidak ada tanda-tanda kemunculan dari Yoshimori, Masamori, Tokine maupun Sen. Mereka hilang tanpa bekas dalam sebuah cahaya yang menyilaukan, dengan gelombang yang membuat jiwa Shigemori dan beberapa orang dari Yagyo yang ikut ke Kokuboro menjadi merinding.

Shigemori memandang penuh kebingungan, dengan mata melotot lebih lebar dari biasanya. Urat-uratnya yang keriput semakin menegang, menandakan jika dirinya sedang panik. Ia menamatkan pandangannya sekali lagi ketempat orang-orang muda itu menghilang. Ia juga merasakan, pintu di keluar dari Kurosusuki yang dibuat oleh Tokiko mulai menyempit. Shigemori masih bimbang harus berbuat bagaimana.

"Shigemori-sama, kita harus kembali ke Kurosusuki sekarang juga," ujar Hakota kepada kakek yang berusia hampir tujuh puluh tahun tersebut dengan terbata-bata. Ia membayangkan akan mendapat omelan dari kakek itu.

"Kau bilang apa?" ia berteriak, menggenggamkan tangannya yang keriput keudara. Ia memprotes Hakota, padahal ia hanya mencoba untuk memberitahukan yang sebenarnya. "Dua cucuku menghilang, Hakota-san! Temanmu juga menghilang!" ia berteriak lagi. Mukade yang mendengar ucapan Shigemori ada benarnya.

"Tapi, Shigemori-sama, jika kita tidak meninggalkan Kokuboro, maka kita sendiri yang akan lenyap," ujar manusia berkepala karton.

Ia—Shigemori duduk lagi, nampak sedang menata pikirannya yang kacau. Ia tiba-tiba merasa menyesal tanpa alasan. Ia menyesal telah membiarkan Masamori dan Tokine melakukan itu sendiri. Ia menyesal tidak dapat melakukan apa-apa, padahal ia adalah seorang Kekkaishi yang kuat. Ia menyesal karena tidak menarik mereka ber-empat menggunakan nenshi. Ia harusnya menduga jika ikatan kuat antar dua Kekkaishi pewaris sah dapat membawa mereka ke dimensi lain. Dimensi yang bisa terletak dimana saja. Ia seharusnya tahu itu. ia harusnya tahu jika ini akan terjadi.

–Bodoh!- pikirnya.

"Hakota-san, apakah mereka baik-baik saja?" Shigemori bertanya. Ia tidak memandang lawan bicaranya sama sekali, hanya memandang dengan nanar tempat dimana Masamori dan yang lainnya menghilang.

Hakota memandang Shigemori. Ia juga khawatir akan ketua-nya, yang ikut terhisap kedalam portal itu. "Aku tidak tahu pasti. Tapi, aku sekilas melihat jika portal itu membawa mereka ke dimensi yang seimbang," ujar Hakota. Ia ikut menerawang kearah bangunan Kokuboro yang mulai runtuh.

"Jika benar begitu, maka aku yakin mereka akan baik-baik saja," ujarnya. Ia sudah sedikit tenang, tetapi pikirannya nampak sedang khawatir. Ia harus menemukan cara untuk membawa mereka kembali. Tuan Uro adalah yang pertama ada didalam pikirannya, namun mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk pergi ke Mushikinuma—Danau Tanpa Warna dan kembali ke Kokuboro lagi. Selain itu, ia tidak yakin bisa mengganggu tidur Uro-sma saat ini.

"Bagaimana kau tahu jika mereka akan baik-baik saja, Shigemori-sama,Hakota-kun?" Ohdo yang dari tadi diam akhirnya membuka suara. Ia dan saudaranya Hakudo adalah kepercayaan Masamori.

Shigemori diam beberapa detik. Jelas dia tahu jika mereka semua akan baik-baik saja apabila apa yang dikatakan Hakota kebenaran. "Mereka akan baik-baik saja. Cucu-ku bukan orang yang lemah," jawabnya. Ia berdiri menuju kepala monster milik Mukade, memandang portal yang akan mereka lewati semakin mengecil. "Mukade-san, kita pergi dari sini sekarang sebelum portal yang dibuat Tokiko tertutup," perintah Shigemori kepada Mukade.

"Baik," jawab Mukade.

-OooooO-

Langit tempat bernama Hogwarts begitu gelap, hanya terdapat cahaya remang-remang dari cahaya bulan sabit, mirip dengan luka dikening Masamori. Angin bertiup sepoi-sepoi, bersamaan dengan daun-daun kering berterbangan. Cahaya bulan sabit terpantul dari permukaan danau, bahkan Kekkai Yoshimori seakan-akan ikut memancarkan cahayanya sendiri. Tanah yang mereka injak sama sekali tidak bergetar, seperti tanah pada umumnya. Dimensi ini benar jauh lebih baik daripada dimensi Kokuboro. Mereka tidak merasakan apapun, seperti berada di Karasumori. Tempat ini sempurna.

Masamori berpikir mengenai tempat bernama Hogwarts yang disebutkan makhluk setengah raksasa tadi. Ia mungkin pernah mendengar Hogwarts beberapa kali di sela-sela perbincangan para Anggota Dewan Urakai. Jika ia tidak salah mengingat, Hogwarts atau dunia semacam ini adalah merupakan destinasi para monster seperti mereka. Masamori menjadi penasaran, jika ini benar Hogwarts, maka apa yang spesial dari tempat ini? apa yang membuat anggota dewan Urakai tertarik dengan dimensi ini? Memang tempat ini sempurna seperti dimensi tempat mereka tinggal, tapi apa yang membuat dimensi ini spesial?

"Hei, kau kau ini apa?" Yoshimori bertanya dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia siap untuk membuat Kekkai. "Tunjukkan dirimu!"

"Kalian berbicara apa? Bicaralah bahasa Inggris!" Ucap raksasa itu, masih belum menunjukkan wajahnya dari bayangan pohon besar yang menghalangi pemandangan mereka.

"Yoshimori, biar aku yang berbicara," ucap Masamori, ia menutup jari telunjuk dan jari tengah Yoshimori dengan tangan kirinya. "Tunggu tanda dariku sebelum menyerang, untuk berjaga-jaga," tambah Masamori. Ia berjalan mendekat kearah raksasa yang belum menunjukkan wajahnya itu.

"Dasar tukang pamer! Kau sama sekali tidak bisa berbicara bahasa Inggris!" Yoshimori memekik tajam kepada kakaknya.

Masamori berjalan perlahan sambil menopang tangan kanannya dengan tangan kirinya. Ia sudah membuat posisi siap menyerang seadanya. Ia tahu jiika ia mungkin tidak bisa menggunakan kekuatan maksimalnya dengan keadaan tangan yang patah seperti ini. Tapi apapun yang akan terjadi nanti, ia berharap Yoshimori bisa menanganinya. "Tunjukkan dirimu, Tuan. Kami tidak ada maksud buruk," ujar Masamori dalam bahasa Inggris.

Yoshimori tersentak mendengar kakaknya berbicara bahasa Inggris. Ia sama sekali tidak menduga jika kakaknya bisa menguasai bahasa asing. Wajahnya mengkerut seakan tidak pernah disetrika selama ratusan tahun. Ia merasa semakin kalah saing dengan kakaknya. "Akutidak tahu Masamori-san bisa berbahasa Inggris. Tidakkah itu keren, Yoshimori?" Tokine bersuara.

"Banyak hal keren yang tidak kau tahu tentang Ketua, Yukimura-san," Sen menyahut, Yoshimori semakin mendongkol. Sementara Tokine mengangguk setuju dengan ucapan Sen.

Tokine melemparkan pandangannya kepada Yoshimori. Ia melihat Yoshimori mengkeret, seakan-akan wajahnya meleleh. Ia tidak menyukai ekspresi Yoshimori seperti itu, membuatnya terlihat seperti orang yang lebih bodoh. Tokine merasa salah lagi, ia tahu jika dirinya tidak seharusnya mengatakan apapun tentang Masamori kepada Yoshimori. Karena, apapun tentang kelebihan Masamori kadang selalu membuat Yoshimori sakit hati dan merasa tidak berguna. Tokine mungkin harus mencoba untuk tidak berbicara apapun mengenai Masamori kepada Yoshimori.

"Kalian berdua diamlah!" Yoshimori memekik marah.

Ia—Masamori Sumimura memincingkan matanya, sekilas ia melihat raksasa itu berjalan kearahnya. Masamori semakin mempererat genggaman tangan kanannya yang patah, tidak mempedulikan rasa sakit yang menjalar sampai punggungnya. Ia punya kesempatan paling tidak untuk melingkup raksasa ini nanti jika ia berniat macam-macam. Kemudian ia akan mundur dan menyerahkan sisanya kepada Yoshimori. Saat raksasa itu mendekat, ia melihat manusia setengah raksasa dengan jenggot tebal. Ia juga melihat ia memiliki rambut panjang yang kotor dengan jaket bulu yang terlihat bau.

–Makhluk macam apa dia? Dia terlalu tinggi untuk ukuran manusia, tapi energinya positif untuk ukuran mosnter.- Masamori berpikir. –Aku harus waspada,- ujar otaknya.

"Ketsu!" Yoshimori berteriak.

Ia berhasil melingkup raksasa itu. Sontak, raksasa itu kaget dengan benda aneh berwarna biru terang yang mengurungnya. Ia menyentuh ujung kanan Kekkai Yoshimori, merasakan getaran aneh didinding-dinding benda itu. Teksturnya terlihat lembek, tetapi saat disentuh, raksasa itu bisa merasakan kekuatan besar yang mengalir. Ia bukan raksasa yang pintar, tetapi ia tahu jika benda aneh itu memiliki kekuatan magis tinggi.

"Yoshimori!" Masamori berteriak. Ia menambahkan, "Kubilang tunggu aba-aba dariku!" ia memekik dengan nada tinggi.

"Diamlah! Aku hanya berjaga-jaga!" ia menjawab, membalas teriakan Masamori.

"Hei! Benda apa yang mengurungku ini? kalian tidak boleh melakukan ini di Hogwarts!" ucap raksasa itu.

"Akan kupastikan benda ini tidak akan menyakitimu, Tuan." Masamori menyampaikan. Ia melemparkan pandangan kearah Yoshimori dengan pandangan dingin menusuk. "Sebelumnya, ijinkan kami memperkenalkan diri. Namaku Masamori Sumimura. Dan ini—" ia berhenti, menunjuk Yoshimori dengan tangan kirinya.

"Adikku, bernama Yoshimori. Gadis berambut hitam bernama Tokine Yukimura. Lalu yang terakhir berambut emas bernama Sen Kagemiya," ujarnya.

"Aku Hagrid. Rubeus Hagrid. Penjaga tempat ini," ia menjawab dengan datar. "Apa yang kalian lakukan di luar Hogwarts malam-malam begini? Itu berbahaya," ia bertanya lagi.

Hagrid agak curiga dengan para orang-orang Jepang ini. ia baru selesai berkeliling kastil untuk patroli malam, namun ia dikagetkan oleh suara orang sedang bercakap-cakap. Saat ia melihat, memastikan dengan cara mendatangi langsung ke sumber suara, ia melihat sekumpulan manusia muda berdiri diatas benda aneh berbentuk kubus. Benda kubus—kekkai itu bukanlah hal yang pernah dilihat Hagrid selama hidupnya.

Sen melihat kearah Hagrid, mempelajari setiap detil wajah Hagrid seakan-akan ia adalah patung karya Shakespeare. Tokine juga tak berkata apa-apa, ia paham apa yang diucapkan Masamori dan Hagrid mengingat Tokine adalah siswi terbaik di Karasumori. Ia selalu mendapat nilai bahasa Inggris tinggi dari Tatsumi Mino. Ia adalah pria muda yang tampan, walaupun memiliki sifat narsisme yang tinggi. ia juga terlalu membanggakan dirinya dan ketiga ayakashi ular yang bernama Joshepine, Roxanne dan Simone.

Insting Sen yang tajam mengatakan jika Hagrid tidak berbahaya, namun ia belum berani bersuara. Ia lebih mempercayai ketua-nya daripada dirinya sendiri. Bagi Sen, Ketua lebih tahu banyak ketimbang dirinya yang masih bocah. Jadi, lebih baik ia diam dan menunggu perintah dari Masamori.

"Kami ingin bertemu dengan pemilik tempat ini," ujar Masamori.

Ia memandang Hagrid tanpa emosi, seakan-akan sedang membaca pikiran Hagrid. Ia mempelajari tempat ini lagi dengan kedua mata hitamnya, mencoba melacak adanya aura apapun yang mungkin akan berhasil ia tangkap. Namun nihil, tidak ada aura negatif yang kuat. Ia bisa merasakan sekilas saja, namun langit malam itu yang begitu gelap membuat Masamori sedikit merinding. Ia bisa merasakan jika dunia ini merupakan dunia yang indah, namun sedang didalam cengkraman kegelapan.

–Tempat ini memiliki aura seperti Karasumori, tapi tidak memiliki kekuatan seperti Karasumori. Sialan, tempat apa ini?- ia terus berpikir.

"Pemilik? Maksudmu kepala sekolah?" Hagrid bertanya lagi.

-Kepala sekolah? Tempat ini adalah sebuah sekolah?- Masamori diam sejenak, ia nampak berpikir lagi. Namun ia lebih memilih pura-pura mengetahui segalanya daripada ia nantinya akan ditanyai yang tidak-tidak oleh raksasa ini. Ia memang kelihatan baik, tapi sebelum ia bisa menyimpulkan lebih jauh, lebih baik Masamori menyelidikinya lebih dulu. Paling tidak sampai ia bisa bertemu dengan pemilik tempat ini.

–Tempat ini memiliki banyak aura mistis yang kuat. Jika aku tidak salah menghitung, tempat ini mungkin lebih tua dari Karasumori. Tapi apa yang membuat tempat ini terasa begitu berbeda?-

"Benar, Hagrid-sama. Bisakah kau membawa kami ke Kepala Sekolah? Ada sesuatu yang harus kami tanyakan." Masamori meminta dengan sopan. Senyum palsu terlihat diwajahnya yang tampan, ia nampak belum mempercayai Hagrid sepenuhnya. Tapi, sebenarnya Masamori tidak mempunyai cukup alasan untuk tidak mempercayai Hagrid. Satu-satunya alasan adalah karena mereka tidak saling mengenal. Ia harus tahu sekolah macam apa yang dibangun ditengah hutan danau seperti ini.

"Aku harus tahu alasan kalian untuk bertemu dengan dia. Dia adalah pria yang sibuk," Hagrid bersuara lagi. Masamori nampak berpikir lagi. Ia mencari alasan yang tidak terbantahkan demi bisa bertemu dengan kepala sekolah tempat ini. "Dan demi janggut Merlin! Kenapa kalian mengurungku didalam benda aneh bercahaya ini?" Hagrid memandang Yoshimori tidak terima.

"Hei diam!" ia membentak Hagrid dengan kasar. Ia mengalihkan pandangannya kepada Masamori yang berada dua langkah didepannya. "Hei kakak! Kenapa kau diam saja? Dia ngomong apa?" Yoshimori menyahut. Teriakan adiknya itu membuyarkan lamunan Masamori lagi.

"Kau bisa melepaskan Kekkai-mu sekarang, Yoshimori. Dia tidak berbahaya," perintah Masamori kepada adiknya. Ia melihat Yoshimori sedang akan protes, namun ditundanya. Ia membuat gerakan diagonal dengan tangan kanannya sembari berbisik "kai" untuk menghapus Kekkai itu. "Ini adalah Hagrid-sama. Dan ia penjaga tempat bernama Hogwarts. Ayo, beri salam," Masamori bersuara. Entah kenapa ia memberikan senyum bodohnya didepan Tokine dan lainnya. Tak bisa dipungkiri, senyuman itu membuat pipi Tokine memerah. Ia pun menjadi yang paling pertama yang membungkukkan badannya. Sen dan Yoshimori mengikuti. Hagrid bingung harus bagaimana, ia hanya ikut membungkuk seperti yang dilakukan mereka. ia merasa bodoh.

"Kami memiliki berita penting dari Jepang untuk..Kepala sekolah. Kami tidak bisa menyebutkan detil dari informasi kami selain kepada kepala sekolah," ujar Masamori.

Ia teringat amplop Urakai yang terselip didalam jubahnya, kemudian mengeluarkannya sebagai manuver untuk membodohi Hagrid. Ia sebenarnya tidak suka membodohi orang, tetapi ini harus dilakukan. Ia cukup handal dalam hal berpura-pura. Sebagai agen ganda, ia tentunya memiliki skill acting yang bagus. Buktinya, ia bisa mengelabuhi Monster sekelas Ichiro Ogi dan yang lainnya. Masamori adalah agen ganda yang hebat.

"Ini adalah surat perintahnya," ujar Masamori. Menunjukkan surat dengan tulisan berbahasa Jepang yang tidak dipahami Hagrid, diatasnya terdapat lambang bintang Yagyo dari Urakai. Ia yakin Hagrid tidak akan curiga.

Hagrid memandang mereka dengan skeptis, tidak tahu apakah bisa mempercayai Masamori dan yang lain-lain. Hogwarts berada dalam masa-masa genting, dan itu berarti ia benar-benar harus memastikan jika pria bernama Masamori dan yang lainnya itu bukan kaki tangan kegelapan. Tapi Hagrid tidak mempunyai bukti apapun jika mereka adalah kaki tangan kegelapan. Selain itu, Hagrid juga percaya jika tidak akan ada yang berani macam-macam di Hogwarts selama Dumbledore berkuasa. "Baiklah. Ayo ikut aku," ujarnya.

Masamori tersenyum. "Terima kasih, Hagrid-sama," ujarnya santai.

Hagrid berbalik, dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju Hogwarts. Selama perjalanan, semua nampak diam. Mereka masih meng-stabilkan mental mereka yang masih kacau akibat bertukar dimensi. Hanya Yoshimori yang terlihat santai, ia nampak berpikir mengenai sesuatu. Ia memikirkan bagaimana bisa mereka sampai ke tempat ini. ia tahu seharusnya ia bertanya kepada kakaknya, yang satu-satunya tahu tentang apa yang terjadi kepada mereka. Tapi ia selalu menolak.

"Hei, Kagemiya! Kau tahu apa yang dikatakan kakakku kepada Hagrid itu?" Yoshimori bertanya kepada Sen, yang padahal pikirannya sedang sama kacaunya dengan Tokine.

Banyak sekali ingatan-ingatan tidak perlu yang tiba-tiba berterbangan didalam kepalanya. Ingatan dimana ia melihat Gen hampir terbunuh gara-gara menyelamatkan dirinya dari ayakashi penunggu lembah. Ia juga mengingat saat Gen menyembunyikan tubuhnya yang terluka dari semua orang. Ia nampak tidak suka diperhatikan dan tidak suka mencari perhatian. Sen tahu jika dirinya sebenarnya iri kepada Gen yang memiliki kekuatan jauh lebih besar darinya. Ia—Gen memiliki kekuatan layaknya monster. Tapi, setelah mendengar cerita Yoshimori tentang Gen yang berkorban untuk dirinya, Sen mengubah pemikirannya tentang Gen.

Yoshimori menceritakan jika Gen berubah menjadi ayakashi seutuhnya demi melindungi Karasumori. Iajuga menceritakan jika Gen tersenyum didetik-detik terakhir dalam hidupnya. ia berkata, ia puas. Entah apa yang ia puaskan, tapi rasa puas itu yang membawa kedamaian kedalam diri Gen yang sudah sekarat. Ia—Gen merasa senang bisa bergabung di Yagyo, walaupun hanya sedikit yang mau menerima dirinya. Nampak hanya Atora dan Masamori yang memperhatikan Gen sepenuhnya. Gen sebenarnya juga menyesal dan merasa bersalah kepada Masamori karena gagal dalam misi. Tapi ia tidak punya pilihan, Gen merasa jika dirinya lebih baik mati daripada gagal dalam tugas.

"Dia hanya menjalankan tugasnya, tapi ia gagal," ujar Kagemiya kepada dirinya.

Mendengarnya, Yoshimori melongo tidak paham. Ia melihat pandangan mata Sen kosong, tanpa ekspresi. Ia menoleh kearah Tokine, ia sama seperti Sen, linglung dengan ingatannya sendiri. Yoshimori mendesah kesal. "Hei, Tokine! Apa kau tahu apa yang dia katakan kepada Hagrid?"

Tidak ada jawaban.

"Kau bisa bertanya langsung kepadaku, Yoshimori," sahut seseorang bersuara dalam. Yoshimori mendongkol, ia melemparkan muka tak acuh kepada kakaknya yang nampak menahan sakit. Ia menyeringai sendiri melihat adiknya itu. mereka berdua benar-benar berbeda karakter, Masamori jauh lebih tenang daripada Yoshimori. Entah kenapa Masamori selalu mendengar suaranya yang sudah ia pelankan.

–Apa orang ini punya seratus telinga?- Pikir Yoshimori.

"Diamlah!" Yoshimori berteriak, Masamori hanya terkekeh pelan.

"Yare-yare, kau kasar sekali pada kakakmu. Kita berada di dunia sihir," jawabnya tanpa memandang lawan bicaranya. Masamori menggertakkan giginya, menahan sakit yang menjalar dari lengan kanannya. Rasanya lebih menyakitkan daripada tebasan pedang angin Ichiro Ogi. "Dan saat ini tepatnya kita berada di Hogwarts, sekolah para penyihir." Masamori menyelesaikan jawabannya.

"Apa?'" Yoshimori berhenti, diikuti oleh Tokine dan Sen yang sama kagetnya. Mereka tidak mengatakan apa-apa, pikiran mereka berdua masih kacau dan tidak bisa untuk diajak berpikir secara terang dan jelas. Nampak hanya Yoshimori dan kakaknya yang sadar sepenuhnya.

Yoshimori melotot tidak percaya. "Bagaimana kita bisa kemari?"

-H-A-R-R-Y—P-O-T-T-E-R-K-E-K-K-A-I-S-H-I-

Mereka berlima masuk kedalam kastil yang luar biasa megahnya, ditambah cahaya remang-remang obor yang menempel didinding-dinding kastil. Yoshimori tak henti-hentinya terpukau dengan keindahan Hogwarts yang saat ini sedang sepi. Ia menyentuh setiap detil dinding kastil dengan tangan kanannya. Yoshimori tiba-tiba teringat misi-nya yang tengah ia segel; misi yang sudah ada sejak ia masih kecil, yakni membuatkan Tokine istana kue kebarat-baratan.

Melihat kastil Hogwarts yang begitu megahnya, membuat tekat Yoshimori semakin menguat. Didalam pikirannya, ia merencanakan untuk menanyakan resep dan cara membuat kue yang baik. Dikastil sebesar dan semegah ini, tidak mungkin tidak ada pembuat kue yang lezat. Kalian tahu sendiri bukan bagaimana Eropa itu? Penuh dengan hal-hal yang cukup membuat kita, orang Asia terpukau.

"Yosh! Tokine, aku akan membuatkanmu istana kue Hogwarts!" Ia bergumam sendiri, lalu membuat tawa yang hanya dirinya yang paham.

"Hei, apa yang kau rencanakan?" Sen bertanya saat melihat ekspresi aneh Yoshimori.

Mendengar ucapan Sen, Yoshimori langsung berubah ekspresi, sedikit kaget saat Sen mendapatinya. Yoshimori tidak menjawab, hanya mempelajari setiap detil dan struktur yang ada didalam kastil ini. Jika ia bisa, Yoshimori akan langsung mebuat istana kue-nya begitu ia kembali di Jepang lagi. Mungkin, penyihir disini bisa mengajarkan Yoshimori bagaimana cara membuat kue yang indah dan praktis. Jika ia beruntung, ia mungkin akan mendapat resep rahasia dari penyihir disini. Yah, kau tahu, makanan Jepang agak berbeda dengan makanan di Inggris, terutama Hogwarts.

Mereka berhenti didepan sebuah patung berbentuk burung. Burung tersebut nampak hidup, karena Tokine dan Sen bisa merasakan mata patung Gargoyle itu memandang mereka. Kecuali Yoshimori, dirinya terlalu memikirkan istana kue idaman Tokine sehingga ia lupa jika ia masih berjalan tanpa memandang arah. Lamunannya langsung terhenti begitu ia merasakan membentur dinding kastil yang amat keras. Yoshimori memekik kesakitan, sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Seluruh rombongan melihat Yoshimori dengan aneh, sementara Tokine hanya mengusap wajahnya kesal. Yoshimori selalu saja begitu.

"Kau melamun lagi. Biar kutebak, kau pasti sedang memiikirkan cara membuat kue istana untuk To—"Ucapan Masamori terpotong oleh Yoshimori.

"DIAM!" Yoshimori berteriak. "KETSU!" Yoshimori tiba-tiba merapalkan Ketsu kearah kepala Masamori Sumimura. Masamori dengan mudahnya menghindarinya dengan melompat kebelakang.

"Hei! Kudengarkan dari tadi kalian hanya bertengkar saja." Hagrid berbicara, nampak sedikit terganggu dengan mereka.

Masamori berjalan mendekat lagi kearah Hagrid, masih memegangi tangannya. Ia lantas meminta maaf dan menjelaskan kenapa ia sering bertengkar. "Ah, Aku minta maaf, Hagrid-sama. Adikku memang agak sulit diatur."

Malam semakin larut, jam tangan Yoshimori menunjukkan telah pukul 3 pagi. Yang berarti, Yoshimori dan semuanya tidak tidur selama tiga hari sejak penyerangan terakhir Kokuboro di Karasumori yang dipimpin oleh Sakon. Dan kali ini mereka semua mengakui kepada diri mereka sendiri jika mereka benar-benar kelelahan. Selain itu, mereka juga belum makan apa-apa sejak itu. Dalam hati, Masamori berharap jika siapapun kepala sekolah di Hogwarts ini mau berbaik hati untuk memberikan makanan dan tempat untuk istirahat selama beberapa hari sembari memikirkan cara untuk bisa kembali ke Jepang. Ia yakin, kakek dan anggotanya pasti sedang bingung saat ini.

Berbicara mengenai jalan pulang, didalam pikiran Masamori yang hampir tak bisa berhenti berpikir, muncul ingatan mengenai jalan yang dibuat nenek Tokiko di Kurosusuki menuju Kokuboro. Namun itu tidaklah semudah kelihatannya, dan banyak sekali persiapan yang harus dibuat. Kertas segel, mantra, dan teknik yang kuat serta tenaga yang besar. Selain itu, ia membutuhkan celah gua yang besar untuk membuat portalnya.

Sebuah suara mengagetkan Masamori dari lamunannya. Ia melihat kearah Gargoyle yang sudah kembali keposisi semula, kali ini dengan pria tua berjenggot putih panjang. Ia mengenakan pakaian aneh bermotif bulan bintang, dengan kacamata bulan separo yang bertengger dihidungnya yang bengkok. Mata birunya memandang mereka berlima dengan bingung, kemudian menggaruk mengusap kepalanya yang tidak gatal, bersamaan dengan membenahi letak topi penyihir yang aneh.

Tokine mengangkat alisnya dengan mulut setengah terbuka. ia merasakan aura yang kuat dari pria tua ini, begitu juga dengan Sen, Yoshimori dan juga Masamori. Hanya saja yang aneh, bukan aura negatif yang mereka rasakan, melainkan aura positif yang belum pernah mereka rasakan selama menjadi Kekkaishi.

Pria tua itu melangkah keluar, turun dari tangga Gargoyle dan berjalan agak cepat menuju kehadapan Hagrid yang baru saja akan menyebutkan password ke kantornya. Lantas, pria tua itu membuka suara, "Hagrid? Ada apa ribut-ribut didepan ruanganku? Dan...siapa kalian?"

Hagrid mengerang sebentar, melihat kearah Masamori dan lainnya. "Kami minta maaf, Profesor Dumbledore." Hagrid menyampaikan penyesalannya. "Aku hanya ingin mengantarkan tamu dari Jepang untuk menemuimu, sir." Hagrid menegaskan.

Dumbledore memandang Hagrid bingung selama beberapa saat. Ia tidak mengingat mempunyai kenalan ataupun pemberitahuan akan menerima tamu dari negara bunga Sakur itu. Jikalau itu benar jika mereka memang tamu resmi dari Jepang, maka Dumbledore pasti setidaknya mendapatkan pemberitahuan jauh-jauh hari. Namun, nyatanya ia sama sekali tidak mendapatkan pemberitahuan. Ia pun melemparkan pandangannya kepada Masamori, pria yang paling tua diantara mereka berempat.

"Terima kasih, Hagrid. Kau boleh pergi sekarang," perintah Dumbledore. "Mari kita bicara diruanganku saja."

Dumbledore mengisyaratkan mereka berempat untuk mengikutinya. Menaiki tangga berputar seperti eskalator yang digerakkan oleh mesin. Empat orang dari Jepang ini terkesan dengan tangga batu yang berputar dengan patung makhluk aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. ditambah, mereka mencium aroma kastil tua yang lembab dan penuh misteri.

Eskalator sihir itu berhenti, menghadap tepat didepan ruangan Dumbledore. Pintu kantornya tidak tertutup, hingga Masamori bisa melihat apa yang berada didalam kantor Dumbledore. Tokine mengangkat alisnya tinggi, matanya yang lebar nampak berbinar-binar hingga kau bisa melihat sebuah cahaya yang terpancar didalamnya. Ia terlihat terkesan dengan rak-rak buku Dumbledore yang jauh lebih banyak daripada milik sekolah Karasumori. Tokine bersumpah, jika ia bisa mempunyai kesempatan tinggal disini lebih lama, maka ia akan menghabiskan waktunya di perpustakaan.

"Silakan duduk," Dumbledore mempersilakan tamu mereka untuk duduk.

Mereka semua duduk dikursi tamu dihadapan Dumbledore, berusaha untuk sesantai mungkin. Masamori diam-diam mempelajari setiap detil ruangan Dumbledore dengan matanya yang awas. Dan Dumbledore melihat gelagat Masamori seperti mencari sesuatu. Namun Dumbledore diam saja, ia tahu jika empat orang dihadapannya ini adalah orang baik.

Masamori yang menyadari mimik wajah Dumbledore seakan meminta penjelasan, langsung bangkit dari duduknya dan untuk memperkenalkan dirinya. Ia berjalan dengan wajah datar, namun mencoba untuk memberikan kesan yang ramah kepada Dumbledore. "Ijinkan kami memperkenalkan diri. Namaku Masamori Sumimura, dan ini adikku Yoshimori." Ia membungkuk. "Sen Kagemiya, yang berpakaian hitam. Dan Tokine Yukimura." Ucapnya sambil menunjuk kearah Tokine dan Sen.

"Namaku Albus Percival Wulfric Bryan Dumbledore, kepala Sekolah Sihir Hogwarts" Dumbledore ikut memperkenalkan diri. Ia ikut membungkuk untuk menghormati tamunya ini.

"Ini Albus Percival Wulfric Bryan Dumbledore, kepala sekolah disini."Masamori memperkenalkan Dumbledore kepada mereka semua. Ia juga mengisyaratkan mereka bertiga untuk memberi salam.

"Siapa?"Sen menyahut, tidak memahami apa yang dikatakan oleh Dumbledore, padahal ia hanya memperkenalkan diri.

"Salam kenal." Ucap Yoshi, dan Tokie hampir bersamaan. Sen menjadi yang pertama berdiri tegak lagi, setelah itu disusul oleh Yoshimori dan Tokine.

Pria tua berambut putih nan panjang itu menduga pastilah tiga remaja itu tidak bisa berbahasa Inggris, mengingat mereka dari tadi hanya diam dan menunggu aba-aba dari Masamori untuk menerjemahkan. Ia akhirnya mengambil Elder Wand miliknya dari jubah penyihir aneh tersebut, kemudian melambaikannya di udara selama beberapa kali.

Sebuah percikan cahaya berwarna merah lalu diikuti dengan warna biru seperti komet dengan ekor yang panjang. Mereka nampak terpukau, terutama Yoshimori yang nampak terkesan. Kedua bola cahaya itu merasuk kedalam diri Tokine, Yoshimori dan Sen. Mereka sedikit kaget dengan cahaya yang tiba-tiba masuk kedalam diri mereka, dan anehnya mereka tidak merasakan apapun yang aneh atau sakit.

"Apa itu tadi?" Sen membuka suara, tanpa menyadari suaranya berubah.

"Kalian tidak perlu khawatir, itu adalah mantra penerjemah. Jadi, kalian bisa memahami apa yang aku, dan Mr Sumimura katakan." Dumbledore memberitahukan.

"Hei! Kau bisa berbahasa—Oi, aku bisa berbahasa Inggris!" Yoshimori bersorak ketika menyadari bahasa yang keluar dari mulutnya berbeda dari bahasanya. Masamori terkesan, begitu juga dengan Tokine dan Sen. Ia tidak pernah melihat sihir semacam ini dalam hidupnya, dan ini benar-benar mengagumkan.

-Ia dapat mengubah bahasa hanya dengan lambaian tangan. Mengagumkan.- Masamori membatin, menggertakkan giginya. Sebuah percikan nampak dimata hitam onyx nya.

"Apa itu berarti kami tidak bisa berbicara bahasa Jepang lagi?" Tokine bertanya kepada Dumbledore.

Dumbledore tersenyum ramah, "Ah, tentu. Kalian bisa berbicara bahasa Jepang kapan pun kalian ingin." Ia menjelaskan kepada Tokine.

"Jadi," Dumbledore membuka pembicaraan. "Apa yang membawa kalian kemari?" Dumbledore ingin tahu.

Masamori yang selalu meragukan apapun, mau tidak mau harus menceritakan semuanya kepada Dumbledore. Ia tidak punya pilihan lain, mengingat mungkin hanya pria tua ini yang bisa membantu mereka kembali ke Jepang. Dan juga, pria ini mungkin bisa menjelaskan alasan lain kenapa mereka tersedot ke dimensi para penyihir.

"Kami adalah Kekkaishi, kecuali Sen, namun ia mempunyai talenta khusus. Dan kami terjebak masuk di Hogwarts ini saat sedang berusaha mengeluarkan Yoshimori dan Sen dari Shinkai. Tapi, saat Tokine-chan menerobos masuk kedalam Shinkai, kami terhisap begitu saja dan muncul disini. Lalu kami bertemu dengan Hagrid." Masamori menjawab dengan jujur.

"Kekkaishi?" Dumbledore bertanya. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di punggung kursi untuk mengingat-ingat sebuah memori yang tiba-tiba melintas didalam otaknya. Banyak yang ia ingat, namun untuk mencari sesuatu tentang Kekkaishi, ia agak kesulitan.

"Ya. Kekkaishi." Masamori menjawab dengan tegas.

"Kekkaishi yang dapat membuat kurungan berbentuk kubus, namun juga bisa memusnahkan sesuatu?" Dumbledore bertanya, memperjelas ingatannya yang sudah mulai terlihat walaupun kabur.

"Seperti ini?" Masamori bersuara, sambil membuat Kekkai kecil dihadapan Dumbledore. Kekkai itu melingkup pena bulu yang tergeletak.

Dumbledore menyentuhnya. Ia bisa merasakan tekstur yang keras, namun memiliki energi yang berdinamika. Ia berusaha mengambil penanya, namun tidak bisa karena kekkai Masamori. "Demi Kecap Merlin, jadi kalian benar-benar nyata?" Dumbledore bertanya. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut diwajahnya yang keriput, pupil matanya membesar.

"Kau pernah mendengar tentang kami sebelumnya?" Yoshimori bersuara, setengah berteriak agak terkejut. Para Kekkaishi pendahulu mereka selalu berusaha menyembunyikan identitas Kekkaishi mereka yang sebenarnya. Karena, menurut penemu teknik Kekkai, Hazama Tokimori, seorang Kekkaishi harus menyembunyikan identitas mereka. Menyembunyikan identitas disini berarti tidak menggunakan kekuatan didepan umum kecuali dalam keadaan yang benar-benar mendesak.

Dumbledore menghembuskan nafas panjang, kemudian memandang lawan bicaranya lagi. "Ya, ada dongeng mengenai Kekkaishi dikalangan orang-orang tertentu, jauh sebelum aku lahir. Tapi aku tidak benar-benar percaya jika kalian ada, sampai aku melihat kalian sekarang." Ia menegaskan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Apa yang kau dengar mengenai kami?" Tokine bertanya lagi.

Dumbledore mendesah panjang, lagi, kemudian membenahi posisi duduknya yang tidak nyaman. Ia menyebar pandangan kearah Masamori dan lainnya. Masamori menunggu penjelasan Dumbledore dengan sabar.

-Pasti tentang Tuan Hazama Tokimori.- Masamori berpikir.

"Cerita ini sangat populer saat aku kecil dulu, kira-kira 140 tahun yang lalu," Dumbledore mulai bercerita. Tokine matanya berkedut setelah mendengar ucapan Dumbledore. Serius? 140 tahun lalu saat ia masih kecil? Berapa umur pria ini sebenarnya?

"Yaitu entah ratusan atau mungkin ribuan tahun yang lalu, mengenai seorang Kekkaishi yang berkunjung ke dunia sihir untuk meminta bantuan pada empat penyihir pendiri Hogwarts; Godric Gryffindor, Rowena Ravenclaw, Helga Hufflepuff dan Salazar Slytherin. Saat itu empat pendiri Hogwarts telah meninggal, jadi Kekkaishi tersebut memanggil arwah mereka untuk meminta jawaban. Dari cerita yang kudengar ini, ia berniat untuk menyegel sebuah tanah yang dulunya tempat tinggal dewa, karena ia menagatakan jika tanah yang dulunya tempat tinggal dewa itu selalu memakan korban manusia tak bersalah oleh iblis, aku lupa apa sebutannya." Ia berhenti, menarik nafas panjang.

"Ayakashi?" Masamori menyarankan.

"Ya, Ayakashi." Dumbledore menjawab sambil menunjuk Masamori dengan ujung jarinya. "Ia datang kepada empat penyihir besar dengan memohon-mohon, ia menangis. Lalu akhirnya para pendiri Hogwarts memberikan satu-satunya jawaban; yakni jika ia memang ingin menyegel tempat berenergi tinggi seperti itu, maka satu-satunya jawaban adalah dengan mengorbankan jiwanya. Ia akhirnya kembali ke tempat ia berasal, dan menyegel tempat itu dengan jiwanya. Lalu akhir cerita, segel itu berhasil dan semua masyarakat disana menjadi tenang, tidak pernah menjadi korban Ayakashi lagi." Tutur Dumbledore. Ia bercerita dengan satu tarikan nafas.

Masamori menyeringai, kemudian memandang Dumbledore lagi. "Cerita itu benar adanya, Dumbledore-sama. Dan tanah yang disegel itu adalah Karasumori, yang kini menjadi sekolah. Setiap malam, ada Kekkaishi yang bertugas untuk berjaga, dan memusnahkan Ayakashi yang datang. Adalah Yoshimori dan Tokine yang berjaga disana setiap malam," jelas Masamori. Ia akhirnya bisa yakin untuk bisa bercerita lebih banyak dengan Dumbledore.

"Lalu, kau dan Mr Kagemiya?" Dumbledore bertanya.

Masamori menyeringai, lalu menjawab pelan, "aku adalah ketua Yagyo, atau Pasukan Bayangan—tempat dimana orang-orang bertalenta khusus berkumpul dan diajarkan untuk mengendalikan kekuatan mereka. Dan Sen adalah salah satu anggotaku. Tugas Yagyo yakni membasmi Ayakashi yang meresahkan masyarakat diluar Karasumori." Masamori menjelaskan, ia merasa sedikit bangga namun juga bingung mengenai cara mereka pulang nantinya akan seperti apa.

"Jika kalian bertugas secara terpisah, lantas bagaimana kalian bisa muncul di Hogwarts secara bersamaan?" Dumbledore bertanya. "Selain itu, kalian nampak habis mengalami pertarungan yang panjang dan melelahkan. Apa aku benar?"

"Benar. Dan itu juga alasan kami bisa berada disini..."

Masamori menjelaskan kejadian yang terjadi dengan sebenar-benarnya. Ia bercerita mengenai organisasi Ayakashi bernama Kokuboro yang mengincar Karasumori untuk menyembuhkan sang Putri—Hime. Dalam serangan Kokuboro yang pertama, seorang anak setengah Ayakashi bernama Gen Shishio tewas di tangan Ayakashi bernama Kaguro. Lalu karena kondisi Hime yang memburuk, Kokuboro menarik semua pasukannya untuk mundur, dan menyusun kembali strategi yang kuat. Masamori dan Yagyo datang terlambat, hingga Gen Shishio tidak berhasil diselamatkan. Masamori juga merasa satu-satunya orang yang pantas disalahkan atas gugurnya Gen.

Setelah itu, Kokuboro kembali menyerang dan saat ini Yagyo bersama para Kekkaishi di Karasumori untuk membantu. Pasukan Kokuboro kali ini dipimpin oleh Sakon, Ayakashi seperti kalajengking yang mengendalikan angin lesus. Angin Lesus dari Sakon bukan lesus biasa, melainkan dapat menghancurkan segalanya tanpa bekas. Tidak satupun anggota Yagyo bisa menandingi kekuatan Sakon, hingga akhirnya Masamori turun tangan dan menghancurkan Sakon dengan mudahnya menggunakan Zekkai.

Sementara mereka bertarung mempertahankan Karasumori, Yoshimori malah mempercayakan semuanya kepada Masamori. Dan dirinya masih berniat untuk membalaskan dendam Kaguro hingga bersedia dibawa dengan suka rela oleh Sion, menuju Kokuboro. Sion juga menangkap Sen dan membawa mereka kembali ke Kokuboro, meninggalkan pasukan utama. Tokine yang menyadari Yoshimori menghilang, akhirnya mencari Yoshi untuk mencegahnya dari berbuat bodoh.

Dan benar saja, Tokine terlambat. Yoshimori sudah berada di Kokuboro bersama dengan Sen yang awalnya hanya ingin mendengarkan pembicaraan Sion dan Yoshimori. Akhirnya Tokine mengejar Yoshimori sampai ke Kokuboro dengan menunggangi Ayakashi yang tengah melintas. Disana, setelah terjadi kejar-kejaran, mengelelingi Kastil yang besar, akhirnya Yoshimori berhasil bertemu dengan Kaguro dan melawannya. Kaguro bukanlah lawan yang pas untuk Yoshimori, namun itu sebelum Yoshimori mengeluarkan kekuatan terbesarnya berupa Shinkai untuk melindungi Sen dari pedang Kaguro.

Saat Masamori datang, Yoshimori dan Sen sudah berada didalam Shinkai. Masamori nekat membobol Shinkai milik Yoshimori dengan Zekkai-nya, namu sama sekali tidak berguna. Yang ada, dirinya yang kualahan. Melihat Masamori berusaha sendirian, Tokine akhirnya turun tangan. Ia mencoba menerobos masuk kedalam Shinkai dengan cara yang sama ia keluar dari Kekkai. Tokine mengira ia akan mati, namun ia salah. Ia berhasil masuk untuk membantu Sen membangunkan Yoshimori.

Dan saat itulah, saat tangan Yoshimori dan Tokine bersatu, sebuah energi besar muncul hingga membuat dimensi Kokuboro semakin tidak stabil. Energi itu pula yang membuat sebuah portal dunia lain terbuka, menghisap Masamori, Sen, Tokine dan Yoshimori kedalam sebuah dimensi lain.

Lalu disinilah mereka. di Hogwarts tanpa tahu cara untuk kembali.

"Jadi, kalian terhisap menuju Hogwarts?" Dumbledore sedikit terpukau mendengar cerita Masamori yang cukup detil itu.

"Benar. Dan kami tidak tahu bagaimana cara untuk kembali ke tempat kami berasal." Masamori berterus terang. "Apa kau tahu sesuatu mengenai portal menuju dimensi lain?"

Dumbledore menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi aku akan mencari tahu." Dumbledore menjawab dengan serius. "Tapi, aku menyarankan, lebih baik kalian tinggal di kastil ini untuk sementara sampai menemukan jalan untuk kembali. Lagipula, kalian pasti lelah dan lapar setelah pertempuran yang berat." Dumbledore menyarankan, memandang mata mereka satu persatu.

"Kami merasa terhormat." Masamori menjawab dengan seringai ramah dan serius dengan ucapannya. "Tapi kami memohon kepadamu untuk merahasiakan asal-usul kami." Masamori meminta dengan sopan. Ia tidak ingin identitas Kekkaishi dan Yagyo terungkap diluar Jepang, apalagi sampai terdengar oleh Ayakashi tingkat tinggi.

"Tidak perlu begitu Tuan-tuan dan Nona. Aku yang merasa terhormat bisa melayani kalian," ia balik merendah. Sungguh ia adalah pria tua yang baik. "Selain itu, semester baru akan dimulai dua pekan kedepan, jadi kupikir jalan terbaik agar tidak ada yang mengetahui identitas kalian adalah membaur dengan murid serta guru disini."

"Maksudmu, kami akan bersekolah disini—menjadi penyihir?" Sen bertanya, hampir bersamaan dengan Tokine.

"Benar."

"Kereen!" Yoshimori berselebrasi.

Dumbledore mengangguk, ia berbicara lagi dengan suara ramah tamahnya seperti biasa. "Kalian bertiga akan menjadi siswa, dan akan di masukkan ke asrama yang sesuai dengan kepribadian kalian. Sementara untukmu, Mr Masamori Sumimura, kau akan menjadi pengawas mereka dan murid disini. Ada beberapa situasi yang tak bisa kukendalikan, dan aku akan terhormat jika kau bisa membantuku."

Masamori mengangkat alisnya, wajahnya datar seperi biasa selama ia berbicara. "Maksudmu, mata-mata?" Ia bertanya untuk memastikan dugaannya. "Situasi apa yang tidak dapat kau kendalikan, jika kau tidak keberatan memberitahu kami."

Dumbledore diam, sedikit ragu untuk bercerita. Masamori membaca keraguan Dumbledore, lantas ia pun tersenyum, bukan, tepatnya menyeringai dengan mimik wajah serius tanpa dibuat-buat. "Kau bisa mempercayai kami. Jika aku tidak salah membaca aura disini, kalian sedang bertempur melawan kegelapan juga bukan?"

Dumbledore tidak menjawab, hanya mengangguk. "Kalau begitu kita di pihak yang sama." Tokine menyahut, Yoshimori mengangguk setuju.

Dumbledore baru akan membuka mulutnya, namun menjadi batal saat ada sebuah ketukan pintu dari luar. Dumbledore menganyunkan tingkat sihirnya, lalu pintu itu terbuka dan terdapat Argus Filch berdiri didepan pintu. Ia nampak sedang membawa sebuah surat. "Aku akan menceritakan semuanya kepada kalian besok. Untuk sekarang Argus akan mengantarkan kalian ke kamar tamu dan istirahat." Ia melihat Argus dengan wajah serius, namun squib tua yang ketus itu paham dengan perintah Dumbledore. Ia tahu jika Hogwarts kedatangan tamu lagi, Hagrid yang memberitahunya beberapa puluh menit lalu.

Masamori mengangguk paham. "Terima kasih atas kebaikan, Dumbledore-sama." Ia menambahkan. Yoshimori dan Sen mengangguk setuju, merasa terhormat bisa tinggal di Kastil sebesar ini.

"Dumbledore-sama, apa kami benar-benar bersekolah disini?" Sen akhirnya bersuara. Ia berbicara diiringi dengan menggerakkan dirinya, membenahi duduk yang mulai tidak nyaman.

Baru Dumbledore akan membuka mulut untuk menjelaskan, Masamori mendesis kesakitan. Sen tidak sengaja menyenggol tangan kanan Masamori yang patah, menghasilkan sensasi kesakitan yang menjalar disetiap urat dan sarafnya.

"Argh!" Ia memegangi tangannya.

"Ketua! Apa kau baik-baik saja?" Sen merasa bersalah. "Aku minta maaf!" Sen langsung berdiri, lalu membungkuk.

"Masamori-san!" Tokine memanggil namanya. "Tulangmu patah, tapi kenapa kau diam saja?" Tokine mengomel seperti ibu-ibu.

Masamori sejenak juga lupa jika tangan kanannya tengah patah gara-gara benturan Zekkai dan Shinkai beberapa jam lalu. Ia melihat tangannya, lalu tertawa ringan. "Ah, aku sampai lupa." Ia tertawa ringan lagi. "Ini karena Zekkai-ku terlalu dekat dengan Shinkai tadi. Beruntung tidak menghancurkanku." Ia menjawab jujur.

"Mari ikut aku ke Hospital Wings. Madam Poppy Pomfrey tahu apa yang harus ia lakukan." Dumbledore berdiri dari kursinya, kemudian mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya. "Selain itu, kalian pasti lapar dan lelah setelah pertempuran panjang itu."

TO BE CONTINUE...

A/N : Whoa, yeah! Akhirnya bisa update lagi setelah PC saya balik. Dan kenapa saya milih update cerita ini, yakni karena ide ini udah lama ada dikepala saya, dan meronta-ronta ingin ditulis. Jadi saya tulis aja daripada ntar lupa ehehe

Untuk WFM II dan The Contract masih dalam proses. Saya akan berusaha update dua minggu lagi paling lama (atau mungkin lebih). Yah, maklum baru kena author block, jadi agak susah buat menuangkan ide di tulisan. :"""

Masih dengan pertanyaan yang sama, setting waktu Hogwarts mana yang harus digunakan?

1,) Setelah Voldemort tewas

2, )Sebelum Voldemort tewas

3,) Tahun ke lima, enam atau tujuh? (Sebutkan)

4,) Tanpa Voldemort (Voldemort gak pernah ada)

5,) Era Marauders

Silakan diisi melalui kolom review, vote terbanyak akan segera ditampilkan di chapter ketiga.

WolfShad'z xx