Misterious Book

.

.

Disclaimer: J.K Rowling

WARNING!

OOC, gaje, typo, alur kecepetan, dll

.

.

Pairing: Tom Riddle × Hermione Granger (ToMione)

Timeline: Tahun ketujuh di Hogwarts

Genre: Sci-fi, Romance, Mistery

Summary:

Hermione belajar gila-gilaan untuk NEWT tiga bulan lagi! Dan bila workaholic untuk penggila kerja, maka studyholic untuk Hermione yang penggila belajar. Tapi saat Hermione sedang melakukan sebuah riset, dia menemukan buku hitam yang aneh.

.

.

.

Happy Reading! ^_^

"Ayolah Mione! Kau bisa bersantai sedikit!" seru Ginny pada Hermione.

Gadis berambut merah ini mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Hermione. Harus kau tahu bahwa ini sudah ke-19 kalinya Ginny membujuk Hermione untuk turun makan malam.

"Gin, bilang pada Draco aku tak akan tidur di Ruang Ketua Murid. Jadi dia tak perlu menungguku untuk mengusiliku," Hermione membalas tak nyambung. Mata gadis itu masih terpaku pada buku di hadapannya.

"Mi—"

"Dan katakan padanya bahwa candaan tentang nilai troll dan rambutku ini garing,"

"Mi—"

"Oh ya, bilang padanya dasinya kusembunyikan di bawah sofa Ruang Rekreasi Ketua Murid dan —"

"HERMIONE!" Ginny menjerit dengan segenap hati. Dia cukup kesal karena omongannya di sela terus.

"Hm?" Gadis itu menyahut cuek. Merasa tidak bersalah menyela ucapan Ginny berkali-kali.

"Ini pertanyaan terakhir, kau mau ikut aku atau tidak?"

"Jika untuk mendengar ocehanmu dan kakakmu yang memberiku julukan studyholic, jawabannya sama. Aku tak mau,"

Ginny mengangkat tangannya menyerah. Lalu gadis itu berbalik ke pintu sambil berkata: "Terserahmu, Mione,"

Hermione, gadis itu memandang kepergian Ginny dengan mata coklatnya. Sesungguhnya dia kasihan pada Ginny yang sudah membujuknya berbagai macam cara supaya meninggalkan bukunya sebentar saja. Tapi Hermione merasa, belajar lebih penting.

Gadis itu mengembalikan perhatiannya kepada buku di hadapannya.

"Disini tak diterangkan begitu jelas tentang patronus. Bagaimana aku bisa memulai risetku?" Hermione bermonolog.

Dia memandang jam kayu di ruang rekreasi Gryffindor.

"Waktu yang cukup,"

Hermione melangkah menuju tempat yang baginya sudah seperti rumah keduanya, Perpustakaan.

Kakinya melangkah menuju buku-buku patronus. Gadis itu mulai mencari buku yang diperlukannya.

"Yang ini kurang lengkap,"

"Ini terlalu tipis. Kurasa tak terlalu detail,"

"Mmm, tak ada penjelasan khusus,"

"Ini— hei, ini apa?"

Hermione tertegun begitu didapatinya buku bersampul hitam legam yang cukup tebal. Gadis itu mengambilnya.

Tak ada blurb ataupun judul yang mengindikasikan buku apa itu.

Hermione berniat membuka lembar pertama.

"Miss Granger, anda sebaiknya segera kembali ke kamar anda,"

Suara Madam Pince.

Hermione membalikkan badan cepat. Dia menyembunyikan buku itu dari Madam Pince.

"Apa yang kau cari?"

"Hanya sekedar membaca," Hermione membalas cepat. Bahkan terlalu cepat.

Madam Pince menyipitkan matanya pada Hermione. "Segera pergi karena perpustakaan akan tutup," Lalu wanita tua itu berbalik meninggalkan Hermione.

Hermione menghela napas lega. Matanya memandangi buku itu dengan raut wajah penasaran. Dia yakin bila Madam Pince melihat buku itu, pasti beliau tak akan meminjamkan buku itu padanya.

Siapa sih, yang mau meminjamkan buku yang tak ada asal-usul yang jelas?!

Hermione berjalan cepat menuju Ruang Rekreasi Gryffindor yang baru saja ditinggalkannya.

Hermione merebahkan dirinya lelah. Gadis itu terdiam. Dia memandang ke tempat tidur yang tak jauh disampingnya dan menemukan itu masih kosong.

Ginny belum kembali.

Hermione kembali berfokus pada pemikirannya.

Belajar untuk NEWT memang melelahkan. Tapi lebih melelahkan melakukan riset yang— ah, riset!

Gadis itu bergerak cepat mengeluarkan buku itu. Tangannya membolak-balikkan buku itu dengan perlahan.

Lembar pertama, kosong.

Lembar kedua, kosong.

Lembar ketiga, kosong.

Hermione mengernyit. Dia membalik buku itu cepat.

Kosong, kosong, kosong, kosong!

Hermione terus membalik dan ketika sampai di pertengahan buku, dia terkejut.

Cahaya.

Hermione membanting buku itu ke lantai. Tetapi rupanya dia terlambat karena cahaya itu mulai menelannya.

~Mia Yumi~

Hermione POV

Aku terbangun karena cahaya matahari.

Perlahan, aku mengedarkan pandangan pada sekitarku.

Kamar Gryffindor.

Masih tetap sama. Berarti yang ku alami semalam hanya mimpi.

Aku turun dari tempat tidur dan berniat mandi, ketika kulihat rambut merah yang sedang menundukkan kepalanya di meja belajar.

Ginny? Sejak kapan dia suka belajar? Apa dia ketularan olehku?

"Gin, sejak kapan kau jadi suka belajar?" Aku bertanya usil.

Kepala merah itu mendongak lalu berbalik. Dan aku menemukan satu keanehan lagi.

Ginny memakai kacamata. Oh, bahkan aku tak tahu kalau kacamata jadi trend sekarang.

"Gin? Kau memanggil siapa, Mione?" Ginny bertanya bingung.

"Namamu Ginny kan?"

Ginny menggeleng. "Kau lupa? Namaku Keisha Weasley. Siapa yang kau panggil Gin?"

Aku tercekat.

Gin— oh, maksudku gadis yang mirip Ginny itu memandangku bingung. Tak ada raut pura-pura apapun di wajah beningnya.

Satu kemungkinan.

"Ini tahun berapa?"

"Eh, jelas tahun 1943, Mione. Kau ini kenapa sih?"

Aku menatap Ginny— ralat, Keisha horror.

End Hermione POV

Tom POV

Aku melangkah menuju meja makan Slytherin dengan bosan.

Jika aku diberi pilihan untuk tidak melanjutkan sekolah disini, maka aku akan dengan senang hati menurutinya dan memilih untuk fokus pada kelompokku.

Kelompok yang memang kupimpin sendiri untuk memberantas para Muggle kotor. Makhluk yang sama seperti makhluk yang meninggalkan aku dan ibuku sendirian.

Mataku menatap benci pada meja Gryffindor. Meja dimana hampir sebagian besar tak berdarah murni. Halfblood, bahkan Mudblood.

Lalu mataku terpaku pada sosok yang baru saja menuruni tangga dan ikut bergabung di meja Gryffindor.

Gadis itu...

"Malfoy, siapa gadis berambut coklat yang berjalan di sebelah Weasley?"

Kulihat Malfoy berusaha melihat apa yang kulihat.

"Granger,"

Granger? Namanya terdengar... asing. Padahal kulihat dia adalah anak tahun ketujuh. Harusnya aku pernah mendengar namanya setidaknya sekali.

"Granger?" tanyaku.

Malfoy mengangguk. "Hermione Granger, Princess Gryffindor. Gadis yang selalu bersaing denganmu dalam mendapat nilai terbaik,"

Aku semakin bingung. Saingan? Kalau memang si Granger ini sebegitu berpengaruhnya, kenapa aku tak pernah mendengar namanya?

"Jangan bilang kau... tidak tahu," Malfoy berspekulasi.

Aku menggeleng karena aku memang tak tahu. Aku meminum jus labuku dengan gaya aristokrat.

Kulihat dari pinggir mataku, Abraxas Malfoy memandangiku horror. Pandangan yang seharusnya tak dilakukan bangsawan sekelas dia.

Sebagai pengendali sebuah tim yang cukup kuat, aku mempunyai kemampuan membaca aura seseorang. Kemampuan yang sangat membantuku untuk merekrut anggota baru.

Dan gadis ini...

Aura gadis ini kuat. Dan aku tahu dia tidak lemah. Bahkan kurasa hampir menyamai Dumbledore, guru Transfigurasi yang kubenci walaupun aku masih tak berani melawannya. Tapi selain kuat, aura gadis ini juga terasa...

—asing.

End Tom POV

Hermione POV

Aku memandangi semua yang ada di meja makan dengan bingung.

Aku tak mengenal mereka. Maksudku, mereka mirip orang kukenal. Tapi aku tahu mereka bukan orang itu.

Aku tak menyangka bisa melompat tahun jauh kebelakang seperti ini.

Semuanya ramah. Tapi bahkan aku tak tahu nama mereka sehingga merasa asing.

Aku merasa diperhatikan. Aku menatap lurus kedepan dan mataku bertemu dengan iris hitam yang tampak elegan.

Tampan. Satu kata untuk laki-laki yang sedang memandangiku penasaran dari meja Slytherin disana.

Tapi kurasa dia tak asing.

"Mione, ayo makan! Kau pasti memikirkan NEWT lagi ya?" Keisha mengagetkanku.

Aku menoleh cepat menatap Keisha. Gadis ini memang sangat mirip Ginny. Hanya saja berkacamata dan lebih lembut.

"Pasti kau memikirkan cara untuk mengalahkan Riddle ya?" Terdengar suara dari arah depanku. Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Harry!

Laki-laki yang duduk di depanku ini memang benar-benar mirip Harry kecuali kacamata dan mata hijaunya. Mata laki-laki ini biru dan tanpa kacamata.

"Charles!" Keisha berseru riang. Dia melakukan kiss-bye jarak jauh dengan orang-yang-mirip-Harry yang dipanggilnya Charles tadi.

Dan Charles membalasnya.

Hanya dengan melihat itu membuatku tahu bahwa Keisha dan orang-mirip-Harry itu sepasang kekasih.

"Jawab pertanyaanku, Mione," Charles mendesak.

Eh, iya, tadi dia bertanya apa ya?

"Maksudmu?"

"Kau pasti memikirkan cara untuk mengalahkan Riddle ya?"

Aku bingung. Mengalahkan...? Dan... Riddle? Bukankah itu marga Voldemort sewaktu dia masih di Hogwarts?

"Aku tak mengerti. Apa maksudmu?"

"Begini Mione, Riddle merupakan saingan beratmu dalam akademik. Kau selalu berusaha mengalahkannya selama ini walaupun kau selalu berada di peringkat kedua," Charles berusaha menjelaskan padaku.

Nomor dua? Hei, aku selalu menjadi yang pertama!

"Riddle?"

"Tom Riddle. Prince Slytherin," Keisha menjawab.

Mendengar semua itu, membuat seluruh indraku lemas.

Setelah pelajaran Transfigurasi —yang ternyata masih diajar oleh Dumbledore— aku segera berjalan cepat menuju asrama Gryffindor.

Buku hitam itu ternyata membawaku jauh ke masa lalu. Ke masa di mana Voldemort masih menjadi anak sok-baik bernama Tom Riddle.

Tapi kenapa harus di masa ini?

Aku berhenti di depan lukisan yang merupakan pintu masuk Gryffindor. Memikirkan apa katasandinya tadi.

Aku memang bodoh, tak mendengar katasandi yang Keisha ucapkan karena terlalu memikirkan ini!

Mmm, apa tadi? Shut— shake— shakes—

"Maaf?"

Mengganggu saja. Aku membalikkan badan cepat dan membelalak.

Laki-laki yang memandangiku di meja makan tadi. Yang setelah kuingat bernama Tom Riddle yang berarti Voldemort muda.

Aku terpaku. "Ada... perlu apa?" Hhh, kenapa aku gugup sih?!

Riddle menyeringai. Membuat wajahnya semakin tam— ah, apa aku hampir saja memuji Voldemort muda? Dengan muka duanya itu?

"Well, ada yang harus aku bicarakan denganmu," Riddle memulai. Suaranya sangat lembut dan berkesan aristokrat. Pantas, dia mampu membius para guru dengan sikap sopannya!

Aku menaikkan sebelah alis bingung.

Riddle mendekat. Tubuhku memberi tanda menjauh tapi aku entah kenapa masih diam disitu.

Aura sihirnya sangat kuat.

"Aku tahu kau bukan penyihir biasa,"

Deg!

Riddle tahu! Bagaimana dia bisa tahu?

"Aku menyadari itu. Semua orang mengenal dirimu kecuali aku. Padahal semua orang bilang bahwa kita saingan," Riddle semakin mendekat. Kini hidung kami sudah bertemu.

Aku tak dapat berpikir apa-apa lagi! Kenapa aku seperti ini?!

Tidak, aku harus melawan. Dia Voldemort. Ya, aku harus melawan.

Lalu aku membayangkan Voldemort di depanku untuk lebih bisa merealisasikan apa yang ada di otakku.

Mata Riddle melebar. Lalu dia menjauh dariku.

"Kau... dari masa depan," katanya shock.

Aku pun tak kalah shock-nya. Aku berbalik hendak pergi ketika tangan dinginnya menarikku.

"Ceritakan apa yang kau tahu tentang diriku,"

"Aku... tak bisa,"

"Kenapa?"

"Kau tahu Riddle. Kita tak boleh mengubah masa depan!"

"Kumohon," Tatapan matanya memohon padaku.

Riddle memohon? VOLDEMORT MEMOHON?! MEMOHON PADAKU?!

Sebenarnya aku menghargai sikapnya. Dia tak memakai kekerasan padaku. Entah apa yang aku dan dia pikirkan.

"Kau akan menjadi makhluk terjahat di muka bumi ini dan musuhku. Rupamu akan sangat berbeda dari yang sekarang. Mungkin kau sudah melihatnya dalam pikiranku tadi,"

Aku pun melangkah pergi. Meninggalkan dia yang membeku bagai patung.

"Shakespeare," Spontan. Aku mengucapkannya. Oke, mungkin aku memang harus panik dulu supaya ingat.

Tapi untunglah aku ingat. Kalau tidak, aku tak bisa membayangkan di luar asrama Gryffindor sendirian.

Aku harus segera menemukan buku itu!

Buku hitam itu ada di kolong tempat tidur. Aku tak peduli apa yang aku alami hari ini tapi aku harus kembali.

Tanganku membuka sampul buku itu. Lembar selanjutnya kosong. Aku membaliknya cepat.

Sama seperti dugaanku, masih kos— hei, ada satu yang bertuliskan!

For only my Princess!

Tom Riddle

Tadi... bukannya tulisan ini tak ada?

Tiba-tiba saja tulisan itu bersinar, dan semakin bersinar.

Aku membanting buku itu dan semuanya putih.

~Mia Yumi~

Aku terbangun karena cahaya matahari. Dengan cepat aku menoleh ke meja belajar, dan melihat Ginny sedang menyisir rambutnya. Itu lebih baik daripada Ginny yang belajar.

"Gin? Apa kau punya leluhur bernama Keisha? Keisha Weasley?"

Ginny menoleh. Seperti Ginny yang kuharapkan. Berambut lurus merah rapi. Memakai lipgloss peach dan bedak halus tipis.

Bukan Ginny yang alamiah dan berkacamata.

"Keisha? Oh ya! Kata Mom, aku mirip sekali dengannya. Padahal melihatnya saja aku belum pernah," Ginny merengut.

Mata biru Ginny bersinar saat menatap jam. "Waktunya sarapan! Dan kali ini jangan memberontak! Aku tak menerima penolakan,"

Aku pun terdiam. Tanganku ditarik oleh Ginny dan didudukkan di kursi sebelahnya.

"Kau tahu Mione? Hari ini akan ada guru baru!" Ginny terlihat antusias.

"Oh ya?" Aku bertanya singkat.

Ginny mengangguk semangat. "Dan katanya dia tampan dan masih muda. Baru lulus dari Hogwarts 8 tahun yang lalu dengan nilai terbaik!"

Nilai terbaik...? Itu mengingatkanku akan Riddle. Lucu mengetahui aku kalah darinya dalam nilai terbaik.

"Selamat pagi semua!" Dumbledore menyapa para murid dengan semangat.

"Pagi, profesor,"

"Hari ini kita kedatangan Profesor baru, dia bekerja di kementrian Sihir Amerika. Merupakan lulusan Hogwarts 8 tahun yang lalu. Dan dia—"

Semua anak terdiam bagai patung saat Dumbledore ingin menyebutkan namanya.

"—Tom Riddle,"

APA?! Mataku membulat hampir keluar saat melihat Voldemort muda yang masih memiliki rupa tampannya saat di Hogwarts. Hanya saja dia kelihatan lebih dewasa.

Tapi... kenapa? Kenapa ini bisa terjadi?

Aku menoleh pada Ginny yang memandangi guru itu dengan pandangan berbinar-binar seakan menemukan berlian paling indah di dunia.

"Gin, dia kan Voldemort," Aku berusaha mengungkapkan apa yang kurasa pada Ginny.

"Voldemort?"

"Musuh bebuyutan kita. Yang sangat ingin memusnahkan Mudblood,"

"Musuh bebuyutan? Mudblood? Aku tak mengerti. Tapi yang jelas, Hermione, tak ada yang bernama Voldemort di dunia sihir ini,"

Penjelasan Ginny membuatku ternganga. Aku kembali melihat kedepan dan bertemu pandang dengan Riddle.

'Bagaimana rasanya bila sejarah berubah, my Princess?' Suara Riddle.

'Princess?'

'Aku tahu kau yang memiliki buku hitamku kan? Buku yang tak jadi kujadikan horcrux karena bertemu denganmu,'

Aku makin terbengong.

'Dan inilah ideku, aku memutar balikkan apa yang sudah kujalankan waktu itu dan berniat jadi anak baik-baik sejati. Dan aku meminta bantuan Dumbledore tentu saja,'

'Kenapa kau melakukan ini?'

'Kenapa ya? Mungkin karena aku mencintaimu?' Riddle mengedip padaku.

Oh... MY GOD!

Buku hitam yang misterius itu ternyata benar-benar membawa dampak besar pada diriku.

"Mom!" panggil seorang anak perempuan cantik itu padaku.

Aku tersenyum dan kembali menulis.

Dan dampak itu tak selalu negatif. Ada juga yang positif. Aku juga baru mengetahui kalau ternyata,

Menjalani hidup bersama ex—Dark Wizard tak selalu mengerikan.

Hermione Riddle

Aku pun menutup buku hitam yang dulu mempertemukanku dan Tom. Memandanginya sesaat. Sebelum akhirnya ikut bergabung bersama anak dan suamiku, Tom.

~TAMAT~

~Session Talkshow~

Author: Yup! Sekarang waktunya bagi aku untuk cuap-cuap. Aku panggilin asistenku ya! Draco, Hermione, ayo sini!

Draco: Apes sekali aku! Mia, kenapa aku? *memelas

Hermione: *menjitak Draco. Sudahlah, pirang, ini memang tugas kita.

Author: Nah, kayak Hermione dong!

Hermione: Hehe! Jangan lupa honornya tambahin ya Mia! *nyengir

Author: *tekor

Draco: Huahaha! Lihat Mia, dia saja begitu!

Author: Sudah, cepat baca balasan reviewnya! *ngasih kertas

Hermione: Oke dari aku.

WolfShad'z, emang Mia itu suka gaje. Humornya suka garing. Malah jayus kadang. Draco pingsan karena melihat kecantikanku *ngibas rambut *dapet deathglare Draco. Request kamu ditampung kok sama Mia.

Ariana Rose Riddle, oke. Ini fanfic request kamu! :) Walaupun aku musuh sama Voldemort, tapi kalau sama Tom sih beda lagi ceritanya XD

error394, boleh dong! Tapi Mia samasekali gak bisa bikin slash. Jadi maaf... banget katanya :( Kalau Snape sama Lily?

Draco: Sekarang giliran aku *tebar pesona *digetok Hermione dan Author

uni, Weasley sama Granger ya? Ditampung dulu oke? Mia soalnya kurang pengetahuan akan pairing yang satu ini :D

Arisu Nine, gaje itu apa? *Hermione ngebisikin Draco *Author pundung. Oh, emang! Si Mia emang gaje anaknya *semangat. Lucu ya? Lebih baik ketemu langsung aja deh sama anaknya! Somplak lah pokoknya! XD *dapet deathglare dari Author

Staecia, jangan bilang-bilang Mia ya! Ntar dia ngamuk. Sebenernya tuh aku akting pingsan doang. Soalnya udah ulang take sepuluh kali. Kalo aku salah lagi, Mia ntar bakal pecat aku jadi karakter di fanficnya! X3 *dijitak Author. Mia minta maaf karena gak bisa DraMione semua karena Mia juga ingin belajar nulis all pairing :D

Author: Kalian jahat banget sama aku! Ya udahlah, sekarang kita bahas tentang fanfic ini. Sebenernya tuh aku gak mau lanjutin fanfic ini. Kenapa? Karena aku banyak banget tugas dan gak sempet ngetik. Malah aku tadinya udah gak mau buka akun fanfictionku *peace. Karena aku lagi mulai nulis di wattp*d. Kunjungi aja akunku, mimiayudia. Tapi bukan fanfic ya! Cerita buatanku sendiri ini! :D. Tapi tenang aja. Fanfic di akun fanfiction ku tetap ku lanjut kok ;)

Hermione: Mia, ini list-nya!

Author: Oke. Mari dilihat!

Request Pairing

1. RonMione

2. Snape × (?)

3. Lucius × (?)

Nah, untuk semuanya, makasih mau denger curhat Author! See ya! Jangan lupa review ^_^

Hermione, Draco: See in next chapter! Don't forget review :)