~Session Talkshow~

Author: Halo para readers! Iya, aku masih hidup disini! Sori karena tidak meng-update fanfic ini dalam waktu lama T_T. Lalu malah memutuskan untuk update Dramione. Bahkan untuk menulis ini, aku harus menemukan scene unyu antara Draco dan Hermione sejak tahun pertama, dan aku menonton HarPot ulang, guys! Hm, dan aku lagi kesel banget sama Ron sampai sekarang di film Harry Potter and the Goblet Fire karena seakan dia tuh gak setia kawan bang—

Harry: Dramione? Maksudnya ini fanfic tentang Draco dan Hermione lagi? Ampun deh, Mia! Kapan kamu mau bikin tentang aku dan Ginny?!

Ginny: *blushing mendadak*

Author: Aduh, sebenarnya aku mau bikin fanfic request-an selanjutnya dengan pair Lucius-Narcissa. Tapi kok gak selesai-selesai ya? Waktu itu hampir selesai tapi aku hapus lagi karena kurasa terlalu bertele-tele. Makanya aku gak update-update. Dan waktu itu ada yang nanyain di wattp*d, apakah aku akan membuat Dramione lagi atau bagaimana? Dan karena aku nulisnya di laptop dan di wp perlu diedit lagi, aku kirim aja kesini.

Ginny: Mia lagi gak ada inspirasi. Maklum, abis diselingkuhin XD

Author: Oh gitu ya, Gin. Tenang kok, di chapter ini juga ada cerita selingkuh-selingkuhan kesukaan kamu. Berdoa aja semoga bukan Harry yang selingkuh *smirk

Ginny: Ah, aku tarik ucapanku. Mia sih gampang dapetin cowok soalnya Mia kan cewek paling terkenal di Hogwarts...

Harry: Terkenal karena keanehannya :v. Eh, Mia, omong-omong ngapain kita dipanggil kesini? Biasanya ini kan tugas Draco dan Hermione!

Author: Bantuin baca review lah. Draco dan Hermione ngambek minta cuti karena lagi-lagi aku menyuruh mereka berperan di chapter ini. Ujung-ujungnya mereka juga memerasku, meminta duit untuk ke Pantai Kuta X3. Tadinya mau manggil Tom biar kita berdua aja gitu #digamparfansTom XD, tapi aku gak bisa melacak keberadaannya.

Harry: Gausah curhat *roll eyes. Mana sini reviewnya? Aku mau jalan sama Ginny abis ini!

Author: Iya iya, sabar dong *ngeluarin tumpukan kertas.

Ginny: Untuk Van Lily Ren dan ekspuulsoh, Scorpius-Lily dan Remus-Tonks masuk daftar request ya!

Harry: Halo Miss Tari-Khai, ini Dramione-nya. Tapi di part ini aku gak sama Hermione :D. Guest, ini kesalahpahaman ya, hehe. Pair utama di chapter kemarin memang Blaise-Luna. HarMione? Masuk daftar. harry luna berjaya, oke, aku sama Hermione masuk daftar!

Harry: Kok kesannya aku playboy banget ya?

Ginny: *jealous.

Author: *ngakak.

Ginny: Bagi yang comment di part 2. Ranakim9382, Mimiperi? :v. Tadinya Mia mau pake username ituloh... XD Aliza858, yah ToMione juga pair kesukaan Mia sih. Sekarang aja Dramione mucul tanpa rencana, tinggal tunggu aja kemunculan ToMione tanpa rencana dari Mia :v.

Harry: Coba cek daftar request. Takutnya ada request yang belom masuk.

Request Pairing

1. Lucius x Narcissa (delay) [process]

2. Scorpius x Rose

3. Harry x Ginny

4. Scorpius x Lily Luna

5. Remus x Tonks

6. James x Lily

8. ToMione (?)

9. HarMione (?)

Author: Segini aja. Sebelum Session Talkshow-nya lebih panjang daripada ceritanya. Oh iya, kalo kalian bersedia, aku minta bantuan untuk request fanfic selanjutnya ya! Tolong bantu cariin fanfic tentang pasangan Lucius-Narcissa supaya aku terinspirasi XD.

Harry & Ginny: Happy reading guys! ^_^

~ EYES ~

[Masih ada sangkut-pautnya dengan chapter sebelumnya)

Pairing: Draco Malfoy x Hermione Granger (slight Harry-Ginny)

Genre: Romance

Timeline: Cerita "Unexpected Love" (chapter sebelumnya)

Disclaimer: Kalo Harry Potter punya aku, pasti aku bakal buat Hermione jadian sama Harry atau Draco. Tapi sayangnya, Harry Potter hanya milik J.K Rowling

.

WARNING!

Voldemort mati di tahun ke-5 Harry Potter, Cedric Diggory masih hidup, OOC, typo, gaje, alur agak kurang jelas (jadi disarankan untuk membaca lebih teliti), kemungkinan beberapa pairing selanjutnya akan menjadi sekuel oneshot ini.

.

Summary:

Draco Malfoy yang notabene seorang pewaris Keluarga Malfoy nan angkuh juga punya cinta sejati. Dan Draco tahu bahwa dia tidak bisa mengelak bahwa orang yang sering dia panggil Rambut Semak-lah seseorang itu. Dan percaya tidak? Draco tahu gadis itulah orangnya ketika menatap dalam-dalam mata coklat Hermione. Draco percaya, mata tidak pernah berbohong.

.

HAPPY READING!

.

DRACO Malfoy tahu apa itu cinta. Seperti yang sering tanpa sadar ditunjukkan Lucius pada Narcissa begitupun sebaliknya. Namun sayang, kedua orangtuanya sering merasa gengsi sehingga komunikasi yang mereka lakukan tidak berjalan lancar.

Seperti apa yang terjadi dua tahun lalu. Dimana ayahnya terpaksa menjadi budak dari penguasa kegelapan karena ingin melindungi dirinya dan juga ibunya. Namun kesalahan Lucius adalah, karena dia tidak pernah meminta pendapat Narcissa dalam hal ini. Sehingga semuanya harus berakhir dengan ayahnya yang dikurung di Azkaban selama tiga tahun.

Draco pernah merasakan cinta. Saat-saat dimana jantungnya bekerja dua kali lipat dibanding biasanya saat menatap mata cemerlang milik seorang gadis.

FLASHBACK [ON]

Tahun pertama di Hogwarts...

Setelah berjam-jam berada di toko Madam Malkin dan berbincang dengan anak aneh berkacamata, Draco memilih meloncat ke ke toko buku daripada menunggu Lucius.

Saat ini ayahnya memang di toko buku, jadi Draco berharap ia dapat bertemu ayahnya dan langsung menuju Narcissa yang sedang mencari tongkat—padahal Draco ingin memiliki pengalaman memilih tongkat tapi ibunya kelewat khawatir.

Jadi disinilah dia sekarang. Sedang sibuk mengaduk-aduk buku hanya untuk membuang waktu. Dia tidak suka menunggu. Sambil tak henti-hentinya membatin, dia mengambil asal buku di tumpukan paling bawah.

"Wah, berani sekali," Seorang anak perempuan yang manis menunjuk-nunjuk dirinya.

"Apanya?" Draco membalas tersinggung. Tidak pernah ada seorangpun yang berani berkata apalagi menunjuknya seperti itu.

"Bukan dirimu. Tapi itu," Gadis itu menunjuk buku di tangan Draco, membuat pemuda itu ikut menoleh kearah bukunya. "Berani sekali pemilik toko menjual buku yang ada kaitannya dengan sihir hitam, karena dari yang pernah kubaca, hal itu sangat bertentangan dengan pemerintahan sihir yang sekarang."

Oh iya.

Draco juga baru menyadari buku yang dia pegang saat ini memiliki judul 'Sihir Hitam beserta Mantra'. "Suka-suka penulisnya, kenapa jadi kamu yang repot."

Mata coklat gadis itu melotot, membuat Draco hampir saja terpesona oleh mata dengan sinar atraktif itu, kalau saja sang gadis tidak berkata, "Tetap saja itu buku yang tidak baik. Tidak sepatutnya dibuat oleh penyihir. Merusak generasi penyihir saja."

Pemuda bermata perak ini membelalak. Lupa menanyakan hal yang selalu dia tanyakan pada orang yang baru ditemuinya pada gadis itu. "Kau penyihir, kan?"

"Tentu saja," Gadis itu menyahut angkuh dan merebut buku ditangan Draco, menguburnya ke bagian bawah buku dan menumpuknya supaya tidak dapat ditemukan lagi. "Nah, dengan begini buku itu aman."

Mata coklat mempesona gadis ini melirik ke arah Draco sekali lagi. "Jangan bengong seperti itu. Seolah kau tidak pernah melihat gadis berkelakuan sepertiku saja."

"Kau bukan Darah Murni ya?" cetus Draco. Tentu saja, setiap gadis Darah Murni selalu diajarkan manner yang sempurna dan juga wajah yang sangat cantik bak dewi.

Oke, gadis itu cantik. Tapi tentu saja bukan jenis kecantikan seperti Greengrass Bersaudara yang dapat membuat Kaum Adam melongo bermenit-menit ketika pertama kali melihatnya.

Tak disangka, gadis itu malah menampilkan wajah bingung yang terlihat cute dimata Draco. "Eh, Darah Murni itu apa ya? Tak pernah tercantum di buku manapun."

Sebenarnya yang Draco inginkan adalah menyampaikan pidato tentang kemuliaan Darah Murni dan alasan mengapa Muggleborn harus ditendang jauh-jauh dari Dunia Sihir. Namun pemuda itu malah berkata, "Kau bersekolah di Hogwarts kan?"

Binar mata gadis itu kembali dan Draco mendapati dia agak terhibur melihatnya. "Ya! Dan aku akan menghadiri sekolah itu seminggu lagi."

"Kalau begitu kita sama," Draco tahu sejak tadi dia tidak pernah mengubah nada bicaranya yang terkesan dipanjang-panjangkan, namun sampai sekarang ia heran mengapa gadis itu belum menampakkan reaksi yang mengindikasikan bahwa dia bosan seperti orang kebanyakan saat mengobrol dengannya. "Jadi, aku harus memanggilmu apa? Sepertinya terlalu awal untuk mengetahui nama masing-masing."

Gadis itu terlihat berpikir dan Draco tak lepas memandangi matanya cantiknya yang berbinar khas. "Mione!"

"Draco!" Suara tegas ayahnya terdengar. Membuat Draco menoleh ke belakang dan mendapati ayahnya yang berdiri murka.

"Ayo pergi. Father masih punya banyak urusan di perusahaan."

Tanpa pamit, Draco meninggalkan gadis yang kembali berkutat dengan buku-buku tersebut. Sambil menoleh ke belakang, Draco meyakinkan diri bahwa mereka akan bertemu lagi.

"Kau bertemu dengannya? Aku juga."

Perkataan Lucius membuat Draco bingung. Namun Lucius menggeleng, tak berniat menjelaskan kalimatnya barusan.

Seminggu setelahnya, Draco kembali bertemu gadis itu didalam kompartemen.

Kala itu Draco benar-benar sedang badmood. Kenapa ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Pansy Parkinson yang jelas-jelas tidak punya otak yang setara dengannya!

Pintu kompartemen bergeser terbuka. Draco yang menyangka itu Crabbe atau Goyle, bergumam malas. "Belikan aku sesuatu dari troli, Crabbe."

"Aku bukan Crabbe," Suara yang menjawab jelas terdengar kebingungan.

Draco menoleh dan tersentak. "Kau?"

Gadis itu agaknya mengenali Draco. "Eh, kau? Er—" Gadis itu agak tergagap karena tidak tahu nama pemuda di hadapannya.

"Draco. Draco Malfoy," Cara pengucapan Draco membuat Blaise yang sedang mengamati interaksi mereka terlonjak kaget.

Kenapa? Karena biasanya Draco akan memperkenalkan marga dulu, sebelum nama depannya. Hal yang membuatnya langsung paham bahwa Draco amat membanggakan keluarganya. Tapi didepan gadis itu?

Gadis itu hanya mengangguk sebelum bertanya, "Apa ada yang melihat seekor kodok? Kodok milik seorang anak bernama Neville hilang."

"Neville? Longbottom?" Blaise bersuara. Membuat gadis itu akhirnya menoleh pada Blaise yang berada di ujung kompartemen. "Ah, namaku Blaise Zabini. Mmm, kami memang mengenal orang yang kau sebut 'Neville', namun kami tak pernah melihat apapun peliharaannya. Termasuk kodok."

"Ah," Kelihatannya gadis itu mengerti dengan penjelasan Blaise yang cenderung bertele-tele, Draco melirik Blaise dengan tajam karena hal ini. "Maaf. Kalau begitu aku permisi."

Senyum terakhir yang diberikan gadis itu sempat membuat Draco terpana. Kalau saja Blaise tidak mengacaukannya dengan sikutan dan ucapan jail, "Itukah gadis yang kau ceritakan padaku? Seleramu bagus ternyata."

Draco mendelik. "Jangan asal bicara, Blaise."

Padahal Draco tidak tahu kalau senyum yang dilihatnya adalah senyum terakhir yang ditujukan gadis itu padanya. Setidaknya selama 6 tahun kedepan.

Dan senyum itulah yang juga membuat Draco sadar bahwa sejak saat itu, hatinya bukanlah miliknya lagi.

FLASHBACK [OFF]

Dan orang yang sedang dipikirkannya juga-lah yang sedang dicarinya sedari tadi.

"Granger!" panggil Draco di depan Hutan Terlarang. Walaupun dia tidak dapat memastikan, dia tahu kalau Hermione berada di sana saat ini.

Benar saja.

Gadis yang penampilannya sudah banyak berubah di tahun ketujuhnya bersekolah ini muncul dengan mata mendelik, "Kenapa?"

"Aku tahu kau suka kesini dan aku tidak berniat mengadukan itu, kalau kau mau ikut rapat untuk Pesta Kelulusan nanti," Draco menyampaikan maksudnya dengan mulus.

Tentu saja sebagai Ketua Murid tahun ini, Draco dan Hermione turut berperan serta pada hampir semua kegiatan di Hogwarts. Dan kali ini, bersama para Prefek, mereka berniat menyelenggarakan Pesta Kelulusan.

"Jangan bilang disana ada Cedric," Wajah Hermione masih mendung. Draco menyaksikan dengan geli dan menyadari bahwa Hermione benar-benar serius tidak ingin datang kali ini.

Cedric Diggory adalah mantan Hermione, dan salahsatu yang masih serius untuk balikan dengan gadis itu. Namun Hermione tipe orang yang tidak suka membuang-buang waktu dengan memberikan kesempatan kedua. Cowok itu memilih mengajak Cho Chang waktu itu, tentu saja Hermione tidak membiarkannya dan memilih menerima ajakan Viktor Krum. Dan begitulah. Sebenarnya hanya gengsi yang memisahkan mereka saat itu.

Kemarin Draco tidak mengatakan kedatangan Cedric sebagai Pembimbing mereka, jadi Hermione tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha bersikap normal. Sungguh, Draco kira Hermione baik-baik saja bertemu mantannya. Sampai Draco harus tidur diluar karena kata sandi Ruang Rekreasi Ketua Murid diganti oleh Hermione, cowok itu baru sadar Hermione ngambek.

"Jangan bohong," desis Hermione begitu mendapati Draco berusaha membuka mulutnya.

"Oke," Draco mengangkat tangannya ke atas, menyerah. "Disana memang ada Diggory. Tapi itu bukan alasan untuk tidak datang ke rapat, Semak! Demi Merlin, sejak kapan kau menjadi kekanakan dan tak bertanggungjawab seperti ini?!"

Hermione menggigit bibirnya, mungkin mempertimbangkan mengapa dia harus membeberkan alasannya pada Draco. Tapi pada akhirnya dia tetap mengatakan, "B-bukan begitu, Musang. Aku hanya... hanya..."

"Malu?" Sepertinya Draco menebak dengan tepat karena Hermione langsung menunduk. "Itu gengsi, Granger. Ya ampun, ternyata berang-berang memang makhluk bergengsi besar."

Hermione mendelik. Sementara Draco mengabaikannya.

Tentu saja Draco masih ingat bagaimana sikap Hermione di tahun pertama mereka dulu. Draco selalu mengejeknya, dan gadis itu membalasnya dengan selalu menjadi nomor satu di setiap kelas (kecuali Ramalan) untuk tetap mempertahankan eksistensi dan harga dirinya di hadapan Draco.

"Jadi, kau malu karena sampai sekarang belum menemukan pengganti Diggory?"

"Kira-kira seperti itulah."

Pengakuan ringan Hermione membuat Draco facepalm. "Kau ini bodoh sekali. Tinggal mengakui kalau kau sekarang sudah punya pacar. Ayo balik, pasti rapat sudah berjalan setengah jalan sekarang!"

Hermione menahan tangannya yang ditarik Draco. "Tunggu dulu! Aku tidak biasa berbohong, Malfoy! Bagaimana kalau dia menanyakan siapa pacarku itu? Aku lebih baik tidak mengatakan apa-apa!"

"Kita balik dulu!" Draco masih bersikeras menarik tangan Hermione.

"Kau tidak berhak memaksaku, Malfoy!" Hermione melotot. "Kita bukan teman! Partner pun karena terpaksa! Singkatnya, kita bukan siapa-siapa!"

Mendengar Hermione berkata begitu, Draco tentu saja terperangah. Dia pikir sejak kebersamaan mereka selama empat bulan ini, gadis itu mulai menerima Draco di hidupnya. Draco sendiri pun sudah menerima Hermione. Rasanya sangat aneh bila belum bertengkar dengan gadis itu dalam satu hari. Apalagi dengan kejadian 'ciuman tak sengaja' di Aula Besar minggu lalu (*baca chapter sebelumnya).

"Mudah kan? Kalau begitu anggap saja aku pacarmu. Jadi kau bisa lolos dari Cedric sekaligus aku bisa menyuruhmu apapun."

Untuk sejenak, Hermione menatap makhluk yang masih memegang tangannya dengan raut seolah Draco adalah makhluk paling bodoh di muka bumi ini. "Jangan mengada-ada, Musang. Aku tak sudi menjadi pacarmu walau itu hanya pura-pura. Lagipula, menjadi pacarku bukan berarti aku akan menuruti semua maumu."

"Aku tahu. Tapi kau takkan punya keberanian lagi mengatakan 'kita bukan siapa-siapa' dengan mudah."

"Tetap saja—"

"Acara tawar-menawar berakhir!" Draco berseru sambil membopong Hermione menaiki Sapu Terbang dan melesat pergi kembali ke Hogwarts.

"Sejak kapan kau membawa sapu terbang, MUSANG?!" Hermione yang walaupun shock sepertinya masih mementingkan egonya karena memilih berpegangan pada ujung sapu.

Sambil membimbing tangan Hermione agar memeluk pinggangnya, Draco tertawa. "Kau pikir dengan apa aku ke Hutan Terlarang? Apparate? Itu jelas tidak mungkin, Granger."

Hermione mendengus mendengarnya. Dan menggerutu, "Aku tidak akan mengakuimu sebagai pacar! Bodo amat dengan Cedric!"

Draco hanya tertawa menanggapinya.

~ EYES ~

Hei...

Kenapa?

Kau tahu? Dia melakukan itu lagi.

Kali ini apa?

Dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Tapi aku tak suka. Dia melakukannya seolah itu adalah permainan.

Ada saatnya permainan juga dapat menjadi lebih serius daripada perkiraan kita. Kita ikuti saja arusnya.

Draco melangkah dengan suasana riang menuju kelas terakhirnya hari ini. Dia menyeringai, jelas masih mengingat kesuksesan yang ditorehkannya kemarin.

Awalnya Hermione memang enggan sekedar mengakui kalau Draco adalah pacarnya. Tapi setelah puluhan flirt yang dilancarkan oleh Cedric —yang jujur saja membuat Draco menahan muntah di sisa waktu rapat. Namun pada akhir rapat, Hermione menoleh tegas pada Cedric dan berkata, "Kau tidak mengerti kata putus, Cedric? Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa. Lagipula aku sudah bahagia bersama seorang Musang Pirang yang bodoh tapi sombongnya minta ampun."

Yah, walaupun Draco agak terpaku dengan cara pengakuan Hermione yang ekstrim, dia maklum. Bukan Hermione namanya jika tidak mengejutkan.

Kelas terakhirnya kali ini adalah bersama Gryffindor, dan itu berarti dia akan bertemu Hermione lagi. Sayang sekali, Draco sudah berkata kalau dia akan merahasiakan status ini. Kalau tidak, mungkin berita ini sudah membuat seluruh Hogwarts heboh.

Semenjak kematian Profesor Snape, yang mengajar Ramuan adalah seorang wanita berkelahiran Bulgaria bernama Vanessa Krum. Krum! Ya, kalian tidak salah baca. Tepatnya, wanita itu adalah ibu dari Viktor Krum. Jelas sekali keadaan membuat wanita tegas itu 'agak' melonggarkan peraturannya untuk Hermione.

Yang Draco tidak suka, wanita yang kerap disebut Profesor Krum tersebut sering memanggil Hermione dengan 'Calon Menantu Yang Tertunda'. Maksudnya apa ya?

Eh, tapi kenapa Draco harus tidak suka ya?

Mmm, karena dia sedang bahagia, dia akan mengabaikan hal-hal yang berpotensi membuatnya galau. Contohnya dengan memikirkan panggilan Profesor Krum pada Hermione.

Dengan langkah tegas yang terkontrol, Draco melangkah tepat menuju pertengahan kelas. Saat Profesor Snape yang mengajar, Draco tidak pernah absen duduk di bangku terdepan. Namun saat ini? Entahlah. Dia menyukai pelajaran Ramuan, sungguh. Tapi sepertinya Draco adalah orang yang objektif, jadi dia agak malas mengetahui fakta bahwa 'Ibu Viktor Krum'-lah yang mengajarnya.

Dia memutar bolamata. Siapa sih yang menyangka cowok kekar itu ternyata punya ibu anggun yang jenius dalam Ramuan?!

Tak berapa lama, terlihat Hermione masuk bersama Harry sambil tertawa-tawa. Tangan gadis itu terlihat memeluk lengan Harry. Bukan pelukan yang mesra sebenarnya, namun entah kenapa Draco sama sekali tidak suka melihat kedekatan dua sahabat yang terlalu kompak itu.

Bilang saja kau iri, Draco. Kau bahkan belum pernah menyentuh tangan Granger kan? Ciuman tak sengaja di Aula Besar waktu itu sih tidak masuk dalam kategori skinship.

Draco menggeleng-geleng mengusir pikiran jeleknya. Aneh, ada apa dengan dirinya?

Awalnya dia bingung mengapa kedua orang itu masih berada di pintu. Namun akhirnya Draco menyadari bahwa dua kursi kosong tersisa didekatnya. Draco menyeringai. Apakah Yang Mulia Raja Potter dan Ratu Granger mau mendudukinya?

Voila! Mereka tidak punya pilihan lain dan akhirnya duduk.

Tak lama Profesor Krum masuk sambil membawa sebuah perkamen. "Murid-muridku, kali ini kita akan mempraktekkan cara membuat Ramuan Veracerto. Ada yang tahu kegunaannya apa?"

Seperti dugaan. Tangan Hermione teracung ke atas dan menjawab lancar, "Ramuan Veracerto memiliki khasiat selayaknya Veritasserum, namun dengan dosis yang lebih rendah. Tapi bukan berarti kekuatan ramuannya melemah. Justru Veracerto dapat mengungkapkan apa yang ada di hati terdalam manusia. Ramuan ini sulit diidentifikasi dan biasanya yang terkena efek ramuan ini tidak sadar. Biasa digunakan pada tawanan Azkaban sebelum dijebloskan ke penjara untuk membekukan kenangan mereka. Sehingga setidaknya Dementor tidak mengambil kenangan yang merupakan jati diri mereka."

Mata kelam Profesor Krum terlihat berbinar. "Kau tahu bagaimana efeknya?"

"Terlalu lancar membicarakan masalah pribadi dan keinginan diri yang bahkan tidak kita sadari sebelumnya. Namun karena efeknya seperti ini sangat sukar untuk menduga-duga apakah kita sedang dalam pengaruh Veracerto."

"Great. 15 poin untuk Gryffindor," Profesor Krum tersenyum, lalu mulai membagikan perkamen di tangannya. "Disana sudah ada bahan-bahan dan langkah pembuatannya. Aku tidak keberatan kalian mengubah beberapa diantaranya, asalkan ramuannya berkhasiat. Buat kelompok dengan tiga orang dan kerjakan dalam waktu satu jam!"

"Kau masih ingat cara membuat Ramuan Veritasserum kan, Mione?" tanya Harry setelah beberapa menit mereka bekerja. "Kalau tidak salah pembuatannya sama dengan ramuan ini. Yang membedakan hanyalah kulit jeruk yang telah disinari cahaya bulan sabit selama 15 menit."

Draco menggeram mendengar Harry dengan ringannya memanggil Hermione dengan 'Mione'.

"Ah, kau benar," Hermione berpikir sejenak. "Tapi kan kau yang lebih jenius membuat Ramuan daripada aku."

Harry terkekeh. "Kau selalu nomor satu di setiap kelas, Mione. Aku kan mendapat nilai tertinggi karena mempunyai tutorialnya," Harry tersenyum penuh arti.

Lalu mereka terkekeh. Draco bertanya-tanya apa yang lucu dari pernyataan itu? Sambil memotong-motong jahe dengan kekuatan berlebihan.

"Mione," Harry menyenggol Hermione sehingga dia yang sedang sibuk mengupas cangkang keong menoleh pada Harry. Cowok itu menunjukkan sesuatu pada Hermione yang membuat Hermione terlihat menoleh ke arah Draco, sambil tersenyum penuh arti. Hermione hanya merespons dengan tawa.

Sementara Draco yang melihat interaksi mereka terus menerus memotong jahe dengan suara keras. Mengundang Theo memperhatikan cowok itu sambil berkata tanpa suara, 'kau-gila-ya?'.

Tapi Draco sudah terlanjur tidak mempedulikan hal itu.

(===)

"Ginny, apapun yang terjadi kau harus tetap mempercayai Harry."

"Hah?" Ginny terbengong. Bagaimana tidak? Begitu masuk Ruang Rekreasi, Hermione tiba-tiba mengucapkan itu dengan wajah serius. "Hei, Mione. Kau disini? Aku senang. Setidaknya kau keluar dari sarang Ketua Mur—"

"Kau harus tetap mempercayai kami, Gin," Hermione menyela ucapan Ginny dengan random. Sebelum Ginny dapat bertanya lebih lanjut, Hermione sudah bergerak pergi.

Ginny berkedip bingung. Dia mengambil beberapa buku yang terjatuh karena sempat kaget dengan ucapan Hermione. Lalu bangkit menuju Asrama Putri.

"Er... Harry?" Ginny bertanya gugup begitu mengetahui Harry berdiri di persimpangan Asrama.

"Ginny," Harry menghampiri Ginny. "Kau percaya padaku?"

"Er..." Ginny membatin ragu. "Y-ya?"

"Bagus," Terdengar nafas lega Harry. "Tetaplah percaya padaku apapun yang terjadi."

Lagi. Sebelum Ginny sempat mengatakan apapun, Harry telah pergi menuju Asrama Putra.

Ginny terdiam.

"DEMI MERLIN! APA SIH YANG TERJADI PADA MEREKA?!"

~EYES~

Awalnya Draco cukup antusias dengan pelajaran pagi ini, Herbologi bersama Ravenclaw. Apalagi ini juga kelas gabungan dengan tahun keenam. Jadi ada kemungkinan Blaise dan Luna sekelompok. Sungguh, Draco ingin menyaksikan interaksi mereka sebagai sesama pureblood tapi dari kedua kubu yang berbeda, dulu.

Tapi, tidak. Apalagi saat Cho Chang yang sejak tadi diam dengan mata bengkak mengeluarkan suara.

"Hey, Malfoy," panggil Cho. Draco hanya berdeham menanggapi, tangannya masih sibuk menimbun Mandrake dengan tanah, merutuki Cho yang kelihatannya tidak bersedia membantu. "Kau benar-benar tidak mempunyai hubungan dengan Hermione?"

Draco membatin sinis, bertanya-tanya dalam hati kenapa Cho mau tahu urusan pribadinya daripada membantunya mengatasi kerepotan disini. Namun sebagai jawaban, Draco hanya berucap singkat, "Tidak."

"Sayang sekali," ucap Cho dengan suara halusnya. Tangan lentiknya mengambil perkamen dan mulai menuliskan sesuatu. "Padahal kupikir aku menemukan sesama teman patah hati, karena kulihat kau cukup respek pada Hermione."

Mendengar nama Hermione, Draco kelihatan tertarik menimbrung. Tangannya kini sibuk menyiapkan ramuan untuk Mandrake agar berkembang dengan baik. "Ada apa dengan Granger?"

"Kau tidak tahu?" Draco membenci nada Cho saat mengatakannya, seolah berita tentang Hermione adalah berita buruk. "Hermione dikabarkan berpacaran dengan Harry Potter!"

Tangan Draco yang berniat menuangkan ramuan dengan perlahan terpaku, tanpa sadar menuangkan ramuan dengan dosis lebih rendah daripada rencananya. "Tidak mungkin. Mereka sahabat."

"Aku tidak mungkin salah mendengar ucapan Hermione pagi itu, Malfoy," Cho mulai terisak.

Sebenarnya Draco sama sekali tidak peduli bahkan jika Cho menangis terguling-guling, namun tangisan cewek itu juga membuktikan kalau gadis itu serius. Dia masih mencoba menyangkal jika yang mengatakan itu anak Gryffindor, tapi ini RAVENCLAW! Ayolah, Ravenclaw bodoh dalam bersandiwara, sehingga Cho tidak mungkin berbohong.

Mendadak Draco kesal, hal yang membuatnya menuangkan air ke Mandrake lebih banyak daripada seharusnya.

Apa-apaan Potter itu tiba-tiba memacari 'Mione'-nya?! Apa dia tidak cukup puas sudah memonopoli Hermione darinya selama kurang lebih ENAM TAHUN?! YA, Draco membenci Harry Potter karena dia selalu merebut perhatian Hermione dari Draco selama ini! Apa tidak cukup kebencian Draco padanya selama ini?! Lagipula, Hermione itu kan PACARnya!

Yah, walau hanya didepan Cedric sih.

Sebelum Draco menyobek kertas perkamen, Cho segera menaruh perkamen kecil berisi nama mereka didepan pot Mandrake. Saking kesalnya, Draco tidak sempat mendengar apa yang diucapkan Profesor Sprout.

Draco rasanya ingin bertemu Hermione secepatnya hanya untuk mengklarifikasi. Bahkan dia menyela Blaise yang kelihatannya ingin berbicara sesuatu pada Luna, dan menyeretnya pergi.

"Jangan bertanya apapun, Blaise. Perasaanku sedang tak enak sekarang," ucap Draco saat melihat Blaise sudah membuka mulutnya.

(===)

"Apa yang kau lakukan hanya berdiri didepan sini, 'Mate?" Suara Theo mengagetkan Draco yang sedang menunggu Hermione karena gadis itu tidak ada dimanapun dalam Asrama Khusus Ketua Murid.

"Sesuatu," Draco menyipit. "Dan pertanyaan yang sama juga patut kutanyakan padamu, Theo."

"Whoa, sabar sabar!" Theo tersenyum kecut. "Bisa dibilang, aku melakukan suatu investigasi rahasia."

"Apa itu?" sambar Draco cepat.

"Kau tahu arti rahasia kan, Draco?"

"Ah, sudahlah," Draco mengibaskan tangan dan Theo sangat peka bahwa itu berarti dirinya diusir. Dia pergi dengan cepat, tak ingin melihat Draco marah karena kelihatannya cowok itu sedang kehilangan mood.

~EYES~

Draco sedang mengamati Meja Gryffindor dengan cemas saat Blaise melangkah menuju tempat duduknya dan Theo. Dia tidak puas karena belum sempat menginterogasi Hermione malam itu, padahal dia menunggu di depan pintu Ruang Rekreasi Ketua Murid sampai jam 3 pagi! Apa ada cara lain masuk ke menara Ketua Murid selain melalui pintu?!

Ah, dibanding memikirkan Hermione yang saat ini sedang tertawa-tawa bersama Harry Potter disana, lebih baik dia sedikit memperhatikan Blaise. Sejujurnya Draco masih agak merasa bersalah karena mengganggu percakapan Blaise dan Luna setelah kelas gabungan itu.

"Kau bangun telat? Ada apa, 'mate?" tanya Draco, tak mengalihkan matanya dari Harry dan Hermione yang sedang mengobrol akrab.

"Surat mom," jawab Blaise singkat.

"Yah, apa yang bisa kau harapkan dari surat ibumu?" gumam Theo agak menggantung.

Sementara Draco menggeram karena saat ini Hermione sedang menggoda Harry dengan acar kodok.

"Jadi desas-desus itu benar?" tanya Blaise, sepertinya bermaksud iseng.

"Apa?" tanya Draco galak, apalagi saat melihat Harry yang sedang mengusap sudut bibir Hermione yang belepotan minyak.

Sementara Theo membuang korannya, kesal membaca berita pagi ini sambil menggumam dengan mulut penuh kentang, "Berita sampah."

Kalau saja keadaan sedang tidak seperti ini, mungkin Draco akan dengan senang hati melempar tatapan sinis dan cemoohan khas keluarga Darah Murni pada Theodore Nott, yang saat ini seolah melupakan tata krama-nya.

"Tentang Harry dan Hermione yang pacaran," lanjut Blaise sadis.

"Melihat kelakuan mereka, mungkin itu benar. Aku tak akan kaget jika di pekan Hogsmead kali ini mereka akan pergi bersama," Theo mengedikkan bahu, menelan kentang itu cepat-cepat dan mulai mengambil pasta.

"Tidak, itu tidak benar," desis Draco, menghantam Hermione —yang walaupun tidak menyadarinya— dengan tatapan tajam. "Aku yakin."

"Bagaimana kalau kita habiskan pekan Hogsmead hari ini dengan berjalan-jalan bersama? Sudah lama kan, sejak terakhir kali kita melakukan kunjungan Hogsmead bersama-sama?" Usulan Blaise terdengar cukup menyenangkan di telinga Draco.

Draco menatap Theo sebelum akhirnya berkata, "Tidak buruk. Kurasa boleh juga. Lagipula tugas Ketua Murid-ku sudah selesai."

Benar. Draco membatin sinis. Dia sengaja menyelesaikan semuanya lebih cepat karena ingin mengajak Hermione ke Hogsmeade minggu ini. Mana tahu kalau kondisi akan berubah seperti ini?!

Dan Theo menanggapinya dengan, "Ayo kita berburu permen dan coklat di Honeydukes!"

~oOo~

"Hei, dimana Blaise, 'mate?" tanya Draco sambil mengacak asal tumpukan coklat kodok.

"Dimana lagi? Dia pasti menemui ibunya. Mengajak kita kesini hanya sebagai pendamping," Theo terkekeh.

"Jahat sekali. Jadi dia memanfaatkan kegalauan kita," Draco ikut terkekeh.

Sejenak Theo menatap Draco tak percaya sebelum berjalan menuju tumpukan hiasan coklat natal yang bisa dimakan. "Jadi, kau galau?"

"Apa?" Draco menghentikan pencarian permen jelly-nya dan fokus pada Theo yang dengan ahli memilih hiasan coklat yang terbaik menurutnya.

"Kau galau karena Granger, kan?"

Pertanyaan Theo membuat Draco menggeleng sambil berkata, "Darimana kau menyimpulkan seperti itu?"

"Barusan," ucap Theo sambil mengambil sebungkus cookie coklat yang dihiasi pita. "Kau bilang tadi 'kegalauan kita', berarti kau memang galau."

"Jangan pikirkan kata-kataku," ucap Draco dengan ekspresi setengah termenung. "Lagipula, memangnya kau galau, apa?"

"Mmm, sedikit."

Mata Draco membelalak. "Siapa gadis itu?"

"Bukan seorang gadis," Theo menjawab santai. "Kita sebaiknya menunggu diluar. Blaise sebentar lagi datang."

Draco hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar, tidak sempat membeli apapun. Entah kenapa perasaan Draco tidak enak kali ini. Mungkin upaya menenangkan diri mereka di Honeydukes tidak berhasil.

"Ceritakan padaku gadis itu, Theo," pinta Draco.

"Sudah kukatakan bukan karena seorang gadis," Theo berdecak akan kelakuan sahabatnya.

"Dan kau pikir aku percaya?" balas Draco. "Kita sudah bersahabat sejak masih memakai popok."

Untuk sesaat, Draco dapat melihat Theo ragu-ragu. Tapi akhirnya dia berkata, "Aku tak pernah berani menyukainya, Draco. Bagiku dia hanya cukup untuk dikagumi, jadi aku mengaguminya. Mungkin karena terlalu kagum, aku dapat dengan mudah menebak dia menyukai seseorang. Agak sakit, memang. Tapi orang yang dia sukai malah tidak menyadarinya, bahkan tidak sadar bahwa orang itu juga menyukai orang yang kukagumi. Aku berusaha membuat orang itu berinisiatif menjalin hubungan dengan orang yang kukagumi, tidak bermaksud apa-apa. Tapi nihil. Tak ada kejadian spektakuler apapun. Tapi dengan kondisi saat ini... aku mempertimbangkan beberapa kemungkinan untuk menyatakan perasaanku padanya. Mungkin sekaligus untuk menyadarkan orang yang dia suka itu."

"Rumit sekali percintaanmu, 'mate."

Theo hanya terkekeh mendengar balasan Draco. "Tapi sepertinya cowok itu tidak sadar kalau dia juga menyukai orang yang kukagumi. Padahal aku selalu memperingatkannya."

Draco menatap Theo terang-terangan sambil menaikkan alis. "Hidup cowok itu pasti menyebalkan sekali ya, karena selalu diperingatkan olehmu yang cerewet. Kupikir hanya aku yang tahan dengan semua omongan tidak bermutu—"

Sejenak, Draco sadar.

Theo terkekeh lagi.

BRAK!

Dengan gerakan cepat, Draco menghantam tubuh Theo sehingga cowok itu terpental ke gang sempit disamping Honeydukes. Darah mengalir dari sudut bibir cowok itu.

"Katakan padaku, apakah kau menyukai Hermione?" desis Draco. Dia tiba-tiba baru menyadari semuanya terasa benar. Mengapa Theo bolak-balik di depan pintu masuk Menara Ketua Murid, sampai tingkah kesalnya saat memergoki Harry dan Hermione di Aula Besar.

"Sejak aku memperingatkanmu, 'mate," jawab Theo, menghindari pukulan Draco. "Kau tidak pernah sadar bahwa kau menyukainya. Dan aku ada di ujung kesabaranku saat ini."

"Begitu?" Draco bertanya dengan wajah paling angkuh yang dia miliki. "Hermione milikku. Dan dari deskripsi yang kau sebutkan, sepertinya Hermione hanya sudi dimiliki oleh diriku bukan kau."

Tangan Theo tak mau kalah, dia menarik kerah Draco. "Cinta itu dinamis, Malfoy. Kau tak bisa egois membiarkan Hermione menyakiti dirinya dengan mencintaimu."

Draco tertegun, sebelum dia sempat menjawab apapun, sebuah suara terdengar, "Hei! Draco Malfoy! Theodore Nott! What's going on?!"

Mereka menoleh. Tangan Blaise yang terangkat tiba-tiba saja terhenti dan dia segera mengambil tongkatnya, memisahkan mereka.

"Apa yang sebenarnya merasuki kalian?!" Blaise bertanya geram.

Theo membersihkan ujung bibirnya yang berdarah dibawah tatapan tajam Draco.

"Silahkan tanya pada sahabat kita, Blaise!" Draco berucap sinis dan langsung melangkah dengan tegas meninggalkan Honeydukes.

Mendengar itu, Blaise menaikkan alis dan menatap Theo menuntut. Namun Theo —yang masih berwajah keras— hanya menaikkan bahu dan ikut pergi, namun ke arah yang berlawanan dengan Draco.

~oOo~

"Er, Musang?" Hermione bertanya sambil melambai-lambaikan tangan didepan Draco.

Saat ini kedua murid paling pintar di angkatannya itu sedang mengadakan rapat internal untuk membahas Pesta Kelulusan.

"Hermione, jawab aku."

Mendengar jawaban tak mainstream Draco, Hermione agak bergidik. Pasalnya, Draco lebih sering memanggilnya dengan 'Semak' atau 'Granger'. Apalagi tatapan Draco yang seolah menghujam matanya.

"Apakah kau hanya menganggapku musang selama ini?"

"Hah?" Hermione melongo. Namun lidahnya berkata lebih dulu tanpa mengolah pertanyaan itu di otak brilian miliknya. "Itu kan kodratmu?"

Bukannya meledak, Draco hanya berdeham. "Apa yang kau rasakan padaku?"

"Maksudnya?" tanya Hermione sambil menaikkan alis. "Kalau bertanya yang jelas, Malfoy! Disaat begini yang kurasakan padamu adalah kesal."

"Apakah kau menyukaiku?" Draco bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada Hermione.

Sayangnya, wajah Hermione tetap datar. Tidak memerah seperti kebanyakan gadis jika dihadapkan pada situasi semacam ini. Hidung mereka yang kini saling bersentuhan membuat Hermione melakukan sesuatu.

Dan...

PLAK!

Wajah Draco menjauh dengan cepat karena terkena tamparan proposal Pesta Kelulusan yang akan mereka kerjakan.

"Tak usah bertanya macam-macam, kita kerjakan tugas saja. Heran, hal seperti ini kok dibuat sulit," gerutu Hermione. Dia menguncir rambutnya asal sebelum mulai mencermati proposal tahun lalu yang mereka jadikan sampel.

Namun Draco hanya terdiam.

Hermione membiarkannya. Berpikir bahwa mungkin syaraf otaknya sedang macet karena terkena tamparan dari tumpukan perkamen yang cukup tebal.

Sreek!

Terdengar bunyi pintu Ruang Rekreasi yang terbuka. Hermione menoleh dan dengan bingung mendapati Draco berdiri didepan pintu.

"Hei, Mal—"

"Kau tahu, Hermione? Kupikir kau menyukaiku, atau peduli padaku. Yah, aku sih tidak mempercayai bila hal-hal seperti itu akan terjadi. Kau menyukaiku. Er, mustahil kan? Bahkan semua uangku tidak akan dapat mewujudkan hal itu. Tapi aku mencobanya, karena ada beberapa orang yang mempercayai hal mustahil itu. Tapi sekarang, aku yakin 'suka' atau 'mencintai' tidak cocok untuk menggambarkan hubungan kita. Tapi kau harus tahu, bahwa aku selalu menganggapmu lebih dari sekedar teman. Maaf kalau aku terlalu egois. Aku mohon izin sebentar, Granger."

Setelah mengatakan hal itu, Draco berjalan keluar dan pintu tertutup dengan sendirinya. Meninggalkan Hermione yang melongo.

Wajah Hermione tertunduk. Lesu.

"Dasar bodoh. Memangnya kau tidak sadar?"

~oOo~

"Aku harus bagaimana, Harry?"

Harry menatap sahabat paling dekatnya dengan serba salah. "Sejujurnya aku sudah cukup pusing dengan masalah Ginny, Hermione. Tapi apa kau yakin hubungan pura-pura kita ini baik-baik saja? Masih perlu dilanjutkan?"

Yah, jangan bilang siapa-siapa.

Hermione Granger menyukai Draco Malfoy sejak tahun kelima mereka. Dimana saat itu Draco seperti orang yang sudah tak semangat hidup, justru terlihat kalem sekaligus mencurigakan dimata Hermione.

Sudah berhari-hari ini Hermione mendapati Draco Malfoy di sudut perpustakaan dengan setumpuk buku. Yah, Draco bukan orang yang anti-perpustakaan sih, mengingat dia murid terpintar kedua setelah Hermione. Namun wajah tertekuk dan tak ikhlasnya saat membuka buku masih terpatri jelas di ingatan Hermione.

Ini penghinaan bagi pecinta buku seperti Hermione!

Wajah sengsara Draco saat itu membuat Hermione berpikir bahwa Draco menganggap seolah buku itu menjijikkan dan membuatnya sedih. Jadi Hermione berniat meluruskan ini.

"Cara Memperbaiki Benda-benda Magis, huh?" Hermione membaca judul buku ditangan Draco dengan setengah mendengus. Dia menghampiri Draco dengan kesadaran penuh akan menerima resiko berupa respons negatif Draco.

Tak disangka, Draco malah menjawab dengan nada tenang. "Kalau kau tidak ada kepentingan disini, Granger, aku berharap kau menyingkir. Karena aku perlu berkonsentrasi saat ini."

Hermione memutar bolamatanya. "Tak perlu cara khusus untuk memperbaiki benda magis, Malfoy. Cukup dengan mantra."

"Bagaimana mantranya?"

"Itu sih kau cari saja sendiri," ketus Hermione sambil berlalu.

"Granger," Panggilan Draco membuat Hermione berbalik dan menatapnya bertanya. "Hati-hati."

"Bicara apa sih?" Hermione mengibaskan tangannya. "Ini kan di Hogwarts. Mana mungkin ada yang berani melakukan kejahatan disini. Apalagi ada Dumbledore."

"Terkadang kejahatan dilakukan bukan karena keinginan si penjahat itu sendiri. Jadi hati-hati."

Awalnya Hermione samasekali tidak mengerti analogi tersebut, namun dia tahu artinya setelah Voldemort bisa memasuki Hogwarts dari dalam dan membuat kerusakan, untungnya Harry bisa membunuhnya dan membuat dunia sihir kembali aman tanpa teror. Dan saat itu Hermione meyakini bahwa Draco tidak sejahat yang selama ini dia pikir, terbukti dengan sikap menyesal yang dia tunjukkan.

Terbukti dengan analogi yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Semenjak saat itu, Hermione mulai menatap Draco dengan pandangan berbeda. Sayangnya, dia tak punya cukup pengendalian diri dan terjatuh dalam pesona seorang musang bodoh menyebalkan yang tak punya otak.

(===)

"Colloportus!"

Pintu bergerak menutup dan terkunci tepat sebelum Draco keluar. Dia terkaget dan sadar terkunci bersama orang yang sedang dihindarinya mati-matian lalu menoleh pada pelaku, langsung bertatapan dengan Blaise yang segera melanjutkan aksinya.

Sebelum sempat berbicara, tubuh mereka sudah melayang dan terduduk di kursi terdekat.

"Petrificus Half-sense!" Dengan tidak tahu dirinya, Blaise mengayunkan tongkat bergantian pada Theo dan Draco yang menatapnya murka.

Dengan Mantra Pengadaan, Blaise memunculkan dua cangkir teh yang tidak diketahui apa isinya. Draco langsung merasa bahwa Blaise mempersiapkan detik ini dengan sangat baik.

"Sebelumnya, aku minta maaf Theo, Draco. Karena sudah memperlakukan kalian seperti ini. Tolong jangan membenciku, aku hanya ingin persahabatan lama kita kembali. Dengan kalian bersikap seperti ini, aku sama sekali merasa tidak nyaman."

Draco sama sekali belum melayangkan protes saat Blaise menerbangkan salahsatu cangkir dan menuangkannya ke mulut mereka. Dan ketika Draco merasakan pikirannya penuh kerlipan yang meringankan, dia tahu telah berada di bawah kekuasaan Veritasserum.

Blaise sialan!

"Jawab pertanyaanku sejujur-jujurnya," ucap Blaise.

Dengan otomatis, Theo dan Draco mengangguk agak antusias.

"Apakah kalian ingin menceritakan apa yang terjadi kemarin, padaku?" Begitu mendengar pertanyaan Blaise, kedua sahabatnya langsung menggeleng serempak.

Blaise menghela napas. Ternyata sampai kapanpun dia tak bisa membuat kedua sahabatnya membuka mulut selain dengan paksaan. Jadi Blaise berkata, "Ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin!"

"Menurutmu, apa yang akan kau lakukan saat Luna disukai orang lain, Blaise? Apalagi orang itu terang-terangan ingin merebut Luna?" Draco merutuki mulutnya yang asal berbicara.

"Tentu saja aku akan mencari tahu orangnya, dan menanyainya. Soal masalah merebut, kau tahu kan Luna bukan barang sehingga bisa direbut? Lagipula hubungan aku dan Luna saat ini juga tidak lebih dari kakak dan adik tingkat."

Draco agak terpana dengan jawaban Blaise. Kenapa selama ini dia tidak memikirkan hal itu ya?

Sementara Theo berkata dengan nada tegas, "Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang tidak peka dengan perasaannya sendiri, dan ketika temanmu mencoba untuk menggapai cinta dari Luna, sementara kau tidak berusaha apa-apa?"

Blaise mengusap wajahnya. Semua ini tambah sulit karena bukannya bercerita, Draco dan Theo malah memilih mengungkapkan dengan pengandaian. Blaise tak bisa membayangkan bila dia tidak menggunakan Veritasserum. Dasar dua orang yang keras kepala! "Aku tidak menyalahkan 'temanku' itu, karena sampai sekarang aku belum melakukan pergerakan apapun..."

Wajah Draco terlihat masam. Berbanding terbalik dengan Theo yang berbinar.

"...Tapi tentu saja wajar bagiku saat merasakan kesal pada temanku. Dan kurasa, jika kami benar-benar berteman, entah siapa yang akan mengalah atau kalah, seharusnya masalah 'cewek' tak akan pernah menjadi hal proper yang patut kami perdebatkan."

Saat ini Blaise melihat wajah mereka gamang.

"Aku... memang merasa kesal padamu, Theo. Tapi terimakasih, berkatmu aku menjadi lebih berani bereskpresi secara benar didepan Granger."

Untuk pertama kalinya, Theo menatap wajah Draco yang terlihat lesu. "Salah aku kalau aku menyukai Granger? Aku bahkan tak pernah mengharapkan hal itu, Draco. Tapi bahkan aku tak bisa mengendalikannya. Maaf bila kau pikir bahwa aku ingin mendekati Granger. Aku hanya ingin dia tahu, ada orang lain yang mencintainya. Karena selama ini aku melihat Granger tersiksa dengan perasaannya padamu!"

"Perasaannya... padaku? Bukankah sekarang dia bahagia bersama dengan Potter?"

Theo terlihat geram. "Andai saja tubuhku tidak dibekukan, aku pasti sudah meninjumu karena kau tidak pernah paham Draco. Granger itu, menyukaimu! Aku yakin berita dia berpacaran dengan Harry hanya rumor. Mungkin dia melakukan itu untuk mendorongmu agar menyatakan perasaanmu padanya!"

"Apa?!" Wajah Draco benar-benar cocok menjadi definisi 'bloon' di dunia sihir.

"Dasar bodoh," Blaise menggelengkan kepala. Dia menghentakkan tongkat shirnya, dan semua sihir yang dibuatnya menghilang, termasuk kutukan ikat tubuh dan juga efek ramuan. "Kurasa titik permasalahan sudah jelas. Aku tak mau ada pertengkaran seperti ini lagi. Kalian sudah dewasa untuk bisa menentukan bagaimana akhirnya."

Blaise melirik pintu keluar dan pergi lebih dulu.

"Kenapa kau bisa tahu bahwa Granger menyukaiku? Kupikir, itu mustahil," Draco membuka pembicaraan.

"Kau benar-benar bodoh, ya. Coba pikir ulang, jika Granger punya Potter untuk menjadi pacar pura-pura, lantas kenapa dia juga menerima tawaran pacaran pura-puramu? Dan lagi, mengakuinya didepan Cedric yang bisa dibilang adalah mantan terindah dia?"

Draco membisu. Dia tetap diam bahkan ketika Theo menghujamnya dengan tatapan tajam.

"Aku ingin kau segera mengambil keputusan sebelum aku yang mengambil pergerakan."

(===)

Selama seminggu mengurus persiapan Pesta Kelulusan, Draco dan Hermione jarang sekali bertemu. Selain karena mereka punya tugas masing-masing, kondisi mereka juga tidak memungkinkan untuk betah bertemu lama.

Draco yang akhir-akhir ini mulai menyadari perasaannya pada Hermione mulai melihat gadis itu dengan pandangan yang berbeda. Namun semakin hari, dia semakin tidak percaya bahwa cewek galak itu menyukainya.

Mudah saja. Sikap Hermione sama sekali tidak berubah padanya.

Gadis itu masih tetap galak dan bossy, juga tidak peka. Karena setelah pernyataan tidak langsung bahwa Draco menyukainya di Ruang Rekreasi Ketua Murid, Hermione tidak terlihat mengambil pusing karena itu masih bisa bersikap apa adanya.

Sementara Draco?

Jangan ditanya. Dia mudah sekali memerah dan gugup saat bicara dengan Hermione. Ternyata benar ya, ketika kau menyukai seseorang, kau akan melihatnya dengan cara yang berbeda.

Tepat dua hari sebelum Pesta Kelulusan, para murid dipulangkan kerumah masing-masing. Dan saat ini Draco sedang termangu didepan jendela Perpustakaan Malfoy.

"Son?"

Draco menoleh. Mendapati ayahnya dengan wajah datar menghampiri. "Yes, Father."

"Kudengar kau dan Miss Granger sudah mempersiapkan pesta ini dengan baik. Bagaimana dengan nilaimu?"

"Hmm, nilaiku terbaik di Hogwarts. Namun sayangnya, Berang—Granger maksudku, dia terbaik se-Britania Raya."

"Seperti yang diharapkan dari seorang Miss Granger," Lucius bergumam.

Beberapa bulan yang lalu, mungkin Draco akan terperangah dengan respon ayahnya. Namun mengingat beliau sudah banyak berubah semenjak keluar dari Azkaban beberapa bulan yang lalu, Draco semakin terbiasa. Jadi dia mencoba melontarkan pertanyaan yang tidak biasa.

"Father, apa kau pernah memikirkan sebuah gagasan bila aku tak menikahi sesama Darah Murni lagi?"

Lucius terdiam. Dia ikut duduk disamping Draco. "Maksudmu, kau punya gagasan menikahi Miss Granger?"

"Iya dan—APA?! Bukan begitu maksudku, Father!" Draco benar-benar tak habis pikir dengan perkataan Lucius. Bukan apa-apa, memikirkan Granger menjadi pacarnya saja membuatnya malu tidak karuan, apalagi memikirkan bahwa suatu hari mereka akan menikah?! Modar, Draco.

"Kurasa tak ada yang salah dengan gagasan itu," Lucius malah mengernyit. "Kulihat kalian cukup cocok, kok. Kecuali kalau Miss Granger yang menolakmu, aku tak akan memaksa. Lagipula aku pernah berjumpa secara pribadi dengan Miss Granger."

"Kapan?" Dahi Draco mengernyit mencoba mengingat. Bahkan saat ini ia mulai curiga, apa ayahnya dan Granger pernah bertemu secara diam-diam?

"Jangan curiga begitu," Lucius menjitak kepala pirang Draco dengan tongkatnya. "Dulu aku pernah bertemu dengannya saat kau sedang mempersiapkan barang-barang untuk ke Hogwarts.

FLASHBACK [ON]

Lucius memasuki Toko Ollivander dengan langkah pongah. Tanpa memedulikan ada antrian atau tidak, dia langsung menuju Mr. Ollivander.

"Berikan padaku tongkat terbaik yang kau jual disini. Anakku akan memasuki Hogwarts minggu depan."

Kontan saja, Mr. Ollivander bingung. Namun sebelum Lucius sempat memprotes kelemotannya, suara seseorang menginterupsi.

"Maaf, Mister. Aku yang datang lebih dulu kesini, jadi aku lebih berhak untuk dilayani duluan."

Lucius memutar kepalanya dan menatap rendah seorang gadis kecil yang bertampang biasa saja, walau sedikit imut. "Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Lucius Malfoy."

"Tidak. Jadi permisi, karena aku mau segera menemukan tongkat yang cocok untukku," Gadis itu menggeser tubuh Lucius dan tepat berada didepan Ollivander.

"Mana kesigapanmu?! Aku meminta tongkat terbaik sedari tadi," Lucius ingin sekali memantrai gadis kecil sok berani itu. Tapi sayangnya dia tidak ingin mencemarkan nama baiknya karena melakukan kekerasan pada seorang bocah.

"Maaf Mister Mallory—"

"Malfoy."

"—kurasa Anda salah tempat jika menginginkan tongkat terbaik disini. Karena yang kubaca di buku, toko ini menyediakan tongkat yang cocok untuk setiap orang. Lagipula menurutku, tongkat terbaik pun tidak serta merta membuat seorang penyihir menjadi kuat, melainkan tergantung kemampuan penyihir itu sendiri."

Lucius sama sekali tidak suka diceramahi oleh sotoy ini, apalagi dengan gaya bicara gadis itu yang seolah paling benar. "Kau tak usah banyak bicara. Ini tongkat untuk putraku, jelas aku harus memilihkan yang terbaik untuknya."

"Kalau begitu mengapa bukan putramu yang memilih sendiri? Saya tahu Anda mungkin amat menyayangi putra Anda, tapi kurasa putra Anda pasti tahu apa yang terbaik untuknya. Walau mungkin putra Anda terlalu manja dan malas, cobalah bicara bahwa ini adalah untuk kebaikannya sendiri. Kunci dari setiap hubungan adalah komunikasi. Bahkan saya menduga Anda tidak memberitahu putra Anda bahwa akan membelikan tongkatnya tanpa mengajaknya."

"Hei, kamu—"

"Ups, maaf. Saya sibuk memilih tongkat," Gadis itu langsung berbincang ramah dengan Ollivander. Sepenuhnya mengabaikan Lucius.

Lucius yang kesal menghentak keluar dan bersumpah dia tak akan melupakan apapun yang dilakukan gadis itu padanya.

FLASHBACK [OFF]

"Dan aku memang tak melupakan ucapannya," kata Lucius. "Aku mengingat itu saat mencoba menjodohkanmu dengan Miss Greengrass. Bahwa kau tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri. Karena sebenarnya bukan masalah terbaik, yang terpenting adalah cocok."

"J-Jadi, Father?"

"Aku tak akan mempermasalahkan dengan siapa kau akan menikah nanti."

Mendengar ucapan mantap Lucius, Draco mendadak pusing sendiri.

(===)

PESTA KELULUSAN

Setelah pidato Hermione sebagai peraih nilai terbaik, kini saatnya pesta dansa. Draco dan Hermione akan mengawalinya sebagai Ketua Murid —yang sebentar lagi lengser.

Namun Draco kini malah gugup. Bagaimana tidak? Hermione Granger sangat cantik malam ini, bahkan lebih cantik daripada pesta Yule Ball waktu itu. Draco tak bisa mendeskripsikan apa saja yang dipakainya, namun Draco yakin bukan hanya dia yang terpesona, menilik banyak laki-laki dari berbagai asrama yang terbengong saat Hermione membawakan pidato barusan.

"Malfoy?"

Draco nyaris terlonjak mengetahui objek pikirannya saat ini sudah berada di belakangnya. Dia menghela napas, mencoba menenangkan detak jantungnya. Sebagai seorang Malfoy dia tetap harus tenang.

Cowok itu berbalik dan tersenyum miring pada Hermione. "Maukah kau berdansa denganku, My Lady?"

Hermione mengernyit, dan Draco tak tahu kenapa. Untunglah gadis itu menerima uluran tangannya dan mereka mulai berdansa perlahan. Setelah beberapa gerakan, barulah semuanya ikut turun ke Aula Dansa.

"Ehm, Malfoy? Kau tak bisa memanggilku 'My Lady'."

"Hah?"

"Lupakan," Hermione memutar bolamata. "Kau tahu kan kita masih belum menyelesaikan masalah di Ruang Rekreasi Ketua Murid waktu itu?"

Draco hampir menghentikan gerakan dansanya bila dia tidak dapat mengendalikan diri dengan benar. "Kurasa itu bukanlah masalah. Kau sudah jelas menolakku."

"Itu jelas masalah. Sikapmu mendadak berubah padaku."

"Berubah?"

"Kau selalu beralasan ketika aku ingin mengadakan rapat berdua saja, biasanya kau oke saja."

"Itu..."

"Pokoknya kita harus bicara," Hermione menghela napas. "Setelah penyerahan lencana Ketua Murid, kita bertemu dibawah tangga Menara Astronomi."

Setelah mengatakan itu, Hermione menghentikan dansa mereka dan pamit. Sama sekali tak memedulikan wajah Draco yang penuh kontra.

Benar-benar bossy.

Tapi Draco suka.

~ EYES ~

Ketika sampai, Draco sudah menemukan Hermione yang bersandar disamping tangga.

"Oh. Kau datang," Wajah Hermione terlihat agak terkejut.

"Tentu saja. Aku kasihan pada seekor berang-berang yang akan merasa terlantar bila majikannya tidak datang kemari."

"Kata siapa? Musang bodoh itu juga bukan majikannya. Sejujurnya mereka bahkan bukan teman."

JLEB!

"Granger?"

"Dasar bodoh!" Hermione berkacak pinggang. "Bila kau ingin menyatakan perasaan pada seorang gadis, nyatakanlah dengan benar."

"Tapi bagaimana bila gadis itu tidak menerimanya? Itu hanya akan mempermalukanku."

"Kita tidak tahu sebelum mencoba."

Kata-kata klise memang. Namun tetap saja, Draco ingin mencoba. Dia tak ingin mempunyai hubungan penuh kesalahpahaman seperti kedua orangtuanya. "Musang dan berang-berang memang memiliki dunia yang berbeda. Namun, seekor musang dengan tidak tahu dirinya merasakan perasaan pada seekor berang-berang yang terkenal galak di hutan, bahkan saat pertama kali melihatnya. Musang bodoh itu tak pernah berani mendekati, malah melakukan hal-hal yang justru membuat berang-berang itu membencinya. Pada akhirnya, musang itu mencoba menyatakan perasaannya pada si berang-berang, dan masih menunggu keputusan dari sang berang-berang yang sangat pintar menggantung."

Hermione mengerjap. "Apa-apaan itu?"

Draco malah menatapnya intens. "Kau tak mau aku seperti musang bodoh yang masih menunggu jawaban si berang-berang kan, Hermione?"

Sejujurnya, Hermione merinding dengan suara Draco yang terlalu lembut. "Aku sih yakin berang-berang itu tidak akan menanggapi musang dengan kata-kata manis, namun aku yakin berang-berang itu tidak keberatan jika musang itu bersama dengannya."

"Dan bagaimana dengan nasibku?"

"Kurasa aku tak akan keberatan kau memanggilku My Lady saat ini dan seterusnya."

Draco masih terbengong.

"Kau selalu sebodoh ini ya?! Aku menerimamu, Musang bodoh!" Hermione yang berniat memukul Draco untuk menyadarkannya, malah terpeleset.

Untunglah Draco dengan refleks yang bagus segera menahannya.

Masalahnya, bibir mereka berdua bertautan saat ini.

Ketika Hermione ingin menariknya, Draco malah menahannya dan memperdalam ciuman itu. Setelah beberapa saat, barulah mereka melepaskan diri.

"Aku tak ingin ini menjadi insiden tidak sengaja lagi," ucap Draco, mengingatkan insiden yang sempat membuat mereka heboh di Aula Besar.

"Kurasa ini bukan insiden," jawab Hermione.

Dan mereka berdua tertawa kecil, masih dengan posisi berpelukan.

Pasangan bodoh memang.

From your eyes, your eyes

I start falling in love

I see, see

a shadow

From eyes, you make me fall...

Keep falling into the heart

~ FIN ~

.

.

.

Session Talkshow II

Author: Hayoooo ada yang bisa tebak itu lagu apaaaaa?! Aslinya lagu Indo, cuma aku translate ke Inggris XD

Hermione: Berani-beraninya kau membuat cerita aku dan Draco seperti itu, Mia! *asah tongkat

Author: Abis membayangkan kalian romantis itu agak-agak...

Draco: Dan bilang bahwa kami ini pasangan bodoh di akhir script. *melemparkanConfundus

Author: Gak kena, wleee! XP

Hermione: *melemparkanAvadaKedavra

Author: AAAAAAK! Intinya, selamat lebaran dan see you next chapter! *apparate

Draco: Itu pun kalo Mia masih hidup nanti *evillaugh