Peristiwa seperti malam saat itu terus berlanjut. Sepasang lengan yang ia tahu bukan milik istrinya selalu mendekapnya setelah jarum jam menandakan tengah malam telah terlewat dan matanya yang tak sanggup menahan kantuk memaksanya terlelap. Ia tahu.. dekapan itu, terasa seperti pria. Ia kenal namun tak dapat ia ingat saat desir angin malam membuainya dalam mimpi.

Yang ia tahu, nafas itu saat ia … ah, entahlah.

SLUMBER.

Malam itu begitu sepi. Semua shinobi dibawahnya sedang berjaga malam, tidak di dalam rumahnya tentu saja. Hanya saja, untuk tiga kali dalam satu minggu ini ia selalu menyempatkan diri untuk pulang, tidur di rumah, bukan di kantor Hokage yang dipenuhi tumpukan kertas using berbau debu setiap hari. Rutinitas dua puluh empat jam perhari itu terkadang benar-benar terasa menjemukan. Ia punya Hinata di rumah, bersama calon janin mereka yang baru dua bulan itu. Membuatnya tidak bisa meninggalkan istrinya sendiri, walaupun pengamanan Anbu sudah melingkupi kediamannya.

Ditatapnya penunjuk waktu di tembok seberangnya. Pukul sepuluh lewat lima puluh delapan menit. Pantas saja, angin malam terasa sangat mendesir. Matanya teralih dari tumpukan perjanjian dihadapannya, memandang lekat kea rah patuh Tujuh Hokage, termasuk dirinya.

Ia sudah sejauh ini. Semua orang mengakuinya, ia menggapai cita-citanya, kesuksesan, bahkan ia memiliki istri dan calon anggota keluarga baru yang ada di rahim Hinata. Calon anaknya, yang ia nanti-nantikan. Desa yang tenang, persahabatan yang erat ia peroleh, namun ada satu hal yang mengganjal.

Ada sesuatu yang penting, yang tertinggal. Lebih tepatnya, meninggalkan.

Ia ingat jelas perkataan dari mata yang menatapnya penuh arti, mengatakan ia tak ingin terikat lagi. Ingin bebas. Dan saat ia sudah merasa cukup atau dibutuhkan seseorang, ia aka nada. Mengenai siapa orang yang dimaksud…Sayangnya ia gagal mengartikan satu kalimat yang bahkan tidak ia dengar jelas apa itu saat deburan ombak menerpa kaki.

Tinta yang melekat dengan ujung bulu rubah kuasnya menari tak tentu arah. Sesadar kemudian, ia menatap coretan hasil alam bawah sadarnya.

Sebuah nama yang hanya tertulis 5 hurufnya saja. Tanpa sadar ia tak melanjutkan nama itu.

Pupil berkornea biru itu melebar, lalu menyempit. Ia tidak heran. Sejak mimpi beberapa hari lalu, ia sering membuang kertasnya. Bukan karena marah atas isi perjanjian, surat kaleng atau apa. Itu semua coretan sembarangnya seperti saat ini. 5 huruf tak terselesaikan.

Dirematnya kertas yang tertidur diatas meja kerjanya. Suara gesekan garistangannya dan permukaan kertas terdengar menggema dalam ruang kerjanya. Sejurus, ia hendak membuang kertas itu lagi ke ujung ruangan, namun pelipisnya menekannya dari dalam.

Tanda kurang istirahatnya dimulai.

Diletakkannya kembali remasan kertas itu ke atas meja, lantas memijat kedua pelipisnya. Nafasnya terasa memburu dan panas, tungkai kakinyaterasa melemas. Ia rasa pekerjaannya benar-benar mendorongnya ke batas dimana kondisi tubuhnya tak bisa ditolerir lagi, ia harus tidur.

Dengan berat, tanpa perhitungan ia benturkan lengannya sebagai alas dan kepalanya ke atas meja kerjanya, membuat tremor kecil di bagian bingkai fotonya dan Hinata yang terletak di ujung meja. Ditutupnya mata, sembari melemaskan semua ototnya yang tegang dan kelelahan forsir. Membiarkan angin malam masuk lewat jendelanya yang terbuka, dan sinar bulan purnama yang memantulkan cahaya keatas kulitnya.

Ia belum memasuki alam bawahnya, namun entahlan ia merasa sangat… mengantuk. Dan ia sudah merasa ganjil.

Sayup didengarnya angin kencang di depan jendelanya, sangat dekat namun sangat cepat menghilang. Lalu, angin semilir kembali terasa.

Ia tahu, ia dengar, ada suara langkah kaki yang sangat ringan dan hampir-hampir tak bersuara mendekatinya. Berdiri menghalangi cahaya rembulan. Ia bisa rasakan tekstur kain panjang yang membalut sosok didepannya. Kasar dan tebal. Menyentuh lengannya yang terjuntai dibawah meja.

Ia mendengar lagi, suara karet. Kali ini karet yang dilonggar lalu dilepaskan, suara yang khas. Mungkin sarung tangan.

Dan saat itu, sebuah telapak tangan sedingin malam menyentuh permukaan punggung tangan alas kepalanya. Sayup ia mendengar kata, "Tidurlah." Dan ia sudah sangat tidak sanggup menjaga inderanya untuk waspada, lalu terlelap dibelai mimpi.

Lengan berkulit pucat yang menyentuh permukaan tangan sang Hokage, berpindah menuju permukaan yang lebih intim. Membelai kulit wajah kecoklatan yang terbakar matahari. Rasa yang ia tahu tak pernah berubah. Sebanyak apapun luka, tapi kelembutannya tak berubah. Ditatapnya kelopak mata yang tertutup dengan 2 mata berbeda corak miliknya. Tetap tertegun walaupun kelopak itu menyembunyikan kelereng mata biru unik itu.

Tetap sama.

Segaris lengkung samar terlukis di wajah dinginnya. Ia lega.

Dengan perlahan, diselimutinya tubuh kelelahan itu dengan jubah yang ia bawa dalam pakaiannya. Tebal namun ringan, dan lembut. Dari tengkuknya diselimuti sampai ke bagian tubuh bawah. Sekali lagi digenggamnya jemari penahan jurus angin, merasakan panas demam tubuh itu, lalu mengalirkan sedikit cakra berunsur dingin, untuk mencegah suhu meningkat. Tanpa disengaja ia melihat kertas rematan, membukanya dan hanya terdiam.

Setelah dirasa aliran cakranya cukup, ia melepas genggamannya. Menuju kuas tergelinding diujung meja, mencelupkannya ke tinta pekat. Menggunakan ujung kuas tanpa penekanan.

Selesai menulis ia selipkan di jari sang Hokage. Ia tatap lagi untuk sebentar wajah itu.

Bingkai foto di ujung meja pun dibalik olehnya.

Menunduk, ia mendekatkan ujung bibirnya ke telinga pria yang tertidur, dan berbisik, "Aku kembali… untukmu, Naruto." Kelopak Naruto yang berkedut membuatnya siaga, langkahnya yang tak berjarak dari tubuh pria itu mulai perlahan mundur selangkah. Ekspresinya melembut dan melepas segala sentuhan. Lalu sejurus kemudian, ia menghilang dihembus angin malam setelah menulis pesan pada kertas itu dengan 2 kata yang berarti… pulang untukmu.

A/N : And this fluffy stop here. NO IDEAS COME OUT! Hahaha. Lanjut apa nggak, nggak tau juga, but kindly leave Review after you read this, tell me what you think! I wait your every single response for my fic! :) Bye!

End…?